My 500 Words

Minggu, 27 Februari 2011

Menggantung Lonceng di Leher Kucing


PDF Cetak Email
Oleh : Jannerson Girsang
Tak terasa kita sudah memasuki 13 tahun era reformasi di negeri ini.

Isu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), aturan yang lemah dan penegakan hukum yang mandul, tiadanya transparansi, akuntabilitas dan partisipasi dalam pengambilan keputusan publik, juga buruknya corporate governance, adalah inti perubahan yang dijanjikan di era reformasi saat menggulingkan Orde Baru.

Kamis, 27 Januari 2011

Belajar Bahasa Indonesia

Oleh : Jannerson Girsang

Belajar Bahasa Indonesia, lucu?. Tidak kawan!.

Banyak orang memandang sepele kalau kita bilang belajar Bahasa Indonesia. Padahal bahasa Indonesia harus dipelajari seumur hidup, sama dengan pengetahuan yang lain. Dia berkembang dan mempunyai aturan-aturan yang baku.

Raumanen: Novel yang Sangat Mengesankan

Oleh : Jannerson Girsang


Pernahkah anda terhipnotis oleh novel dan melupakan semua persoalan Anda?.


Saya bersyukur karena novel Raumanen bisa menjadikan pikiran saya jernih kembali dan menumbuhkan semangat belajar, keluar dari pikiran yang gundah dan sulit belajar. Sebagaimana anda tau, di awal 1980-an saya kuliah di Institut Pertanian Bogor yang menerapkan sistem SKS yang ketat. Anda menghadapi masalah, maka risikonya nilai jatuh dan bisa drop out. Kisahnya yang tidak dapat saya lupakan seumur hidup.

Awalnya, saya jalan-jalan ke sebuah toko Buku di perempatan depan kampus IPB menyeberang Jalan Pajajaran, Bogor. Di sana saya menemukan Novel Raumanen. Karena harganya tidak begitu mahal, dan bukunya tidak begitu tebal, maka saya pikir cocok sebagai bacaan selingan untuk mengusir pikiran yang tidak bisa berkonsentrasi belajar. .

Kata seorang teman, membaca novel adalah latihan memusatkan perhatian kita belajar pengetahuan. Dengan membaca novel kita dilatih untuk berminat memahami sesuatu secara utuh. Ada benarnya!. Bahkan bagi saya pendapat itu seratus persen betul.  Membaca Raumanen meluputkan saya dari pikiran yang kacau ketika itu. .

Hari itu adalah hari Sabtu. Jadi tidak ada perkuliahan. Sesampai di rumah, aku rebah di atas tempat tidur besi. Saya membaca novel itu sejak pagi hingga sore hari. Hanya istrahat untuk menerima tamu yang tak terjadwal, makan atau membersihkan kamar.

Saya tidak menghiraukan apapun di sekitarku. Bahkan bau kandang kambing yang selama ini mengganggu, tak berbau lagi. Saya terhipnotis. Lupa membaca buku lain, lupa PR, lupa kerumitan hidup. Novel itu berkisah seolah-olah terjadi di dunia nyata. Saya ditarik ke dalam alur pikiran atau ”ilusinya” Marianne Katoppo.

Mataku hanya tertuju pada kronologis cerita. Menghipnotis saya mengikuti alur cerita dari bab ke bab, mengundang emosi dan ingin melanjutkan membaca terus. Bahkan saya lupa membalik pendahuluan dan kisah akhir novel itu.

Novel itu berkisah tentang percintaan antara seorang gadis Manado dan Batak. Dekat sekali dengan latar belakang suku saya dan suku Manado merupakan lingkungan pergaulan di Bogor. Saat itu teman satu kos adalah mahasiswa asal Makassar. Jadi kisah pulau Celebes itu dekat denganku.  .

Kisah percintaan Raumanen si gadis Manado berusia 18 tahun dengan Monang, laki-laki (Batak) seorang insinyur muda begitu memukau. Raumanen patah hati dan akhirnya bunuh diri. Saya sangat sedih melihat nasib Raumanen yang cantik. Dia harus bunuh diri, setelah melalui pergulatan panjang. Kenapa harus bunuh diri? 

Hingga di akhir cerita, saya kaget!. Ternyata Raumanen—tokoh utama dalam novel itu, bercerita dari liang kubur, dan sudah lama meninggal.

Begitu melekatnya isi buku Raumanen, sama seperti mengingat khasnya bau kandang kambing di samping kamar kos. Mengingat Raumanen, saya teringat kepada kabaikan dan keramahan induk semang saya di Bogor, pak Maman. Pemilik rumah kos yang baik, keluarga tanpa anak yang rajin sembahyang, rukun dan suka memberi.

Novel Raumanen tidak terlalu tebal. Kalau tidak salah, paling 100 halaman lebih sedikit. Tapi novel itu benar-benar mengesankan sebagai sebuah pengalaman membaca yang mengasyikkan.

Sampai sekarang, kisah Novel Raumanen seperti baru saja saya baca seminggu yang lalu, padahal, itu sudah berlangsung lebih dari tigapuluh tahun.

Novel itu ditulis Mariane Katoppo, seorang penulis dan teolog, lulusan, STT, Jakarta (1977) dan Institut Oecumenique Bossey, Swiss (1979). Sebelumnya membaca novelnya, saya sudah membaca tulisan-tulisan Marianne Katoppo di Sinar Harapan. Walaupun saya sudah lupa isi artikel-artikelnya. Saya kagum atas wanita hebat itu, seperti saya juga mengagumi penulis Anne Bertha Simamora (Suara Pembaruan) dan Threes Nio (Wartawati Kompas).

Buat anda tau Novel Raumanen memenangkan sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta, 1975, lalu memperoleh hadiah Yayasan Buku Utama, 1977. Dan melalui novel itu pula, Marianne memenangkan SEA Write, hadiah sastra untuk sastrawan Asia Tenggara yang panitianya berpusat di Bangkok.

Mochtar Lubis, seperti dikutip Tempo, ''Penghargaan itu pantas dan tepat. Saya gembira, karena Marianne wanita Indonesia pertama, bahkan wanita ASEAN pertama, yang memenangkan hadiah tersebut.''

Membaca Novel memang sebuah pegalaman yang tak pernah terlupakan dan selalu mengundang inspirasi baru. Seperti kreatifnya penulis novel itu sendiri. .

Untuk lebih memudahkan anda memahami novel era 1970-an ini, bisa mendapatkan Sinopsisnya di : http://goesprih.blogspot.com/2008/02/sinopsis-raumanen-marianne-katoppo.html.


Jumat, 21 Januari 2011

Kampanye Minat Baca : Meneladani Pengalaman Membaca Para Tokoh

Oleh : Jannerson Girsang

 
Sumber foto: www.antaranews,com
 
Selama ini publikasi pengalaman membaca para pejabat dan tokoh kurang terpublikasi dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Padahal mereka adalah teladan atau panutan masyarakat, termasuk membaca. Kampanye meningkatkan minat baca tanpa menggali dan memasyarakatkan pengalaman mereka rasanya tidak lengkap.

Melirik sisi kecil pengalaman membaca Bung Hatta--Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, memberi kesan dalam pikiran kami betapa pentingnya pengalaman membaca seorang tokoh membantu meningkatkan motivasi minat baca masyarakat.. Beliau menjadikan membaca sebagai sebuah kegiatan penting dalam hidupnya, tidak sekedar menghimbau rakyatnya untuk membaca.

Membaca buku adalah segala-galanya, demikian pengalaman Bung Hatta!. Di dalam penjara yang sepi, buku menjadi pendamping setianya. Beliau memberi nilai yang tinggi terhadap buku. Buku hasil karyanya "Alam Pikiran Yunani" diberikan sebagai mahar ketika beliau meminang istrinya Ibu Rahmi..

Muhammad Hatta adalah mantan pejabat tinggi di negara ini. Kalau Muhammad Hatta adalah teladan dalam membaca, maka para pejabat, tokoh masyarakat di daerah juga seharusnya menjadi panutan dalam membaca buku, memiliki pengalaman yang memberi inspirasi mengundang masyarakat untuk membaca.

Artikel ini mencoba menggugah para pejabat dan tokoh, serta menghimbau lembaga berwenang memfasilitasi mereka dalam rangka mendukung kampanye meningkatkan minat baca melalui penggalian pengalaman membaca para pejabat, tokoh masyarakat yang menginspirasi.

***

Kalau kita melongok sekilas kebiasaan pemimpin dunia, maka dengan mudah kita mengetahui buku-buku yang dibacanya, kesaksian secara terbuka tentang buku-buku favorit mereka. Sebagai tokoh, mereka tidak terlepas dari kegiatan membaca buku. Mereka dikenal tidak hanya sebagai seorang pejabat, tetapi juga seorang yang gemar membaca buku dan memiliki kesaksian atas buku-buku yang mereka baca.

Bill Clinton dikenal sebagai seorang presiden yang mencantumkan buku favoritnya: One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marquez, Bill Gates dengan buku The Catcher in the Rye, karya JD Salinger, Laura Bush: The Brothers Karamazov, karya Fydodor Dostoyevsky, Oprah Winfrey: To Kill a Mockingbird, karya Harper Lee.

Sayangnya, dalam pengamatan kami para pejabat dan tokoh-tokoh di daerah ini belum banyak mengungkap pengalaman membaca mereka baik di media maupun dalam pidato-pidatonya. Seolah semua prestasinya diperoleh dengan mendengar atau praktek di lapangan. Tanpa membaca!.

Kenyataan ini kami temukan saat melakukan searching di mesin pencari Google atau Yahoo. Dengan menggunakan kata kunci "pengalaman membaca para pejabat dan tokoh di Sumatera Utara" dan "minat baca para pejabat atau tokoh di Sumatera Utara". Di dunia maya, belum pernah seorangpun pejabat atau tokohpun di daerah ini yang mengungkapkan pengalaman membaca dan manfaat membaca dalam karier dan hidupnya.

Sementara artikel-artikel yang membahas minat baca para siswa dan masyarakat cukup banyak diungkap. Dengan menggunakan kata kunci: "Minat baca siswa Sumatera Utara yang rendah", "Minat baca pelajar Sumatera Utara yang rendah". "Minat baca masyarakat Sumatera Utara", kami menemukan puluhan bahkan ratusan artikel. Artinya, selama ini sisi para siswa dan masyarakatlah yang banyak disorot soal minat baca.

Artinya, kampanye minat baca masyarakat tidaklah lengkap tanpa disertai pengalaman, sebagai teladan atau model membaca. Bukan berati para pejabat kita tidak punya pengalaman atau tidak memiliki minat baca. Kami yakin, seorang pejabat atau tokoh seyogianya adalah seorang pembaca yang baik. Bisa jadi inilah wujud kealpaan kita pentingnya keteladanan, termasuk dalam hal membaca. Peran pata pejabat dan tokoh meningkatkan minat baca adalah melalui pengisahan pengalaman membaca. Karena mereka adalah panutan siswa, pelajar maupun masyarakat pada umumnya. Dua sisi yang perlu mendapat perhatian yang seimbang dalam mendukung kampanye meningkatkan minat baca. Masyarakat bukan objek penderita, mereka memerlukan keteladanan dari para pejabat dan tokoh-tokoh di sekitarnya.

***

Bisa dibayangkan betapa gencarnya kampanye minat baca, kalau disertai dengan pengalaman membaca para pejabat dan tokoh-tokoh yang berkisah tentang pengaruh membaca dan kisah sukses yang mereka capai. Pidato-pidato mereka akan terdengar merdu dan mengasyikkan. Media menyebarkannya hingga dibaca penduduk desa yang terpencil sekalipun. Masyarakat luas akan mendengar dan melihat secara nyata manfaat membaca.

Pengalaman membaca seorang pejabat (apakah Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala-kepala Perpustakaan, Dinas Pendidikan dan pejabat lainnya), termasuk tokoh-tokoh terkenal di tengah masyarakat merupakan teladan yang sungguh-sungguh dan nyata. Mereka adalah teladan yang dengan mudah akan ditiru masyarakat. Saya ingat, ketika gerakan mengolah ragakan masyarakat di zaman Orde Baru juga disertai dengan gerakan yang juga dilakukan oleh kantor-kantor pemerintah, termasuk tokoh-tokohnya.

Sekali lagi, kita yakin, para pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat di daerah ini adalah mereka yang gemar membaca, memiliki pengalaman membaca yang mampu menginspirasi pembaca. Hanya saja belum di publikasikan secara meluas. Kisah-kisah atau pengalaman membaca para pejabat dan tokoh mampu memberi warna lain bacaan masyaakat. Untuk mewujudkan kisah pengalaman para pejabat dan tokoh dalam rangka turut mendukung dan menginspirasi minat baca masyarakat, maka pelaksanaannya bisa ditempuh secara bertahap.

Pertama, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah melakukan inventarisasi para pejabat dan tokoh yang menonjol pengalamannya dalam hal membaca dan memiliki kisah yang menginspirasi para pembaca. (Silakan dibuat sendiri. Misalnya pejabat atau tokoh yang paling banyak membeli buku, mengunjungi perpustakaan, membaca buku serta aplikasinya dalam pekerjaannya dan mencapai sukses seperti sekarang ini). Paling tidak dalam tahun pertama bisa menampilkan dua atau tiga kisah di setiap Kabupaten/Kota. Kisah ini akan dikomunikasikan dalam peristiwa-peristiwa penting, serta diliput secara luas oleh media.

Kedua, mendorong media dan para penulis menggali kisah sukses seorang pejabat atau tokoh dengan menyertakan pengalaman membaca buku, serta pengaruh buku tersebut dalam kariernya, menghadapi permasalahan hidupnya. Lembaga pemerintah, media, penerbit buku sudah saatnya mempubilkasi atau menerbitkan citra seorang pejabat atau tokoh sebagai pembaca buku. Profil seorang perjabat atau tokoh hendaknya tidak hanya memandangnya dari sisi pencapaian fisik, seperti seperti mobil yang dipakainya atau dimilikinya, olah raga yang diminatinya, jenis dan kualitas pakaian, rumahnya atau merk jam tangannya. Mereka juga adalah pembaca buku dan belajar dari buku. Tanpa membaca buku, mereka tidak seperti sekarang ini!

Pengalaman mereka merupakan khotbah jitu untuk mengalihkan perhatian 66 persen penduduk usia 10 tahun ke atas yang masih lebih menyukai menonton televisi dari pada membaca untuk mengisi waktu luangnya Pepatah lama mengatakan, "Kalau guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Kalau pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat tidak memiliki pengalaman membaca yang lebih menginspirasi dari masyarakat yang dibinanya, maka siapakah yang menjadi panutan?.

Para pejabat dan tokoh sudah saatnya bertanya sesama mereka, "Buku apa yang anda baca hari ini, mari kita beritahukan kepada masyarakat manfaat buku itu?". Mudah-mudahan ide ini semakin memperkuat strategi kampanye meningkatkan minat baca masyarakat kita. Hayo, siapa yang mau jadi modelnya?

Penulis adalah penulis Biografi, tinggal di Medan.

Dimuat di Harian Analisa 21 Januari 2011.

Bisa juga diakses ke http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=83220%3Akampanye-minat-baca--meneladani-pengalaman-membaca-para-tokoh-&catid=78%3Aumum&Itemid=131.

Rabu, 19 Januari 2011

Biografi: Menulis Fakta Mencari Makna: 10 Artikel Paling Diminati

Oleh; Jannerson Girsang

Sejak statistik counter dipasang pada Mei 2010, maka sampai hari ini (19 Januari 2011), artikel paling diminati (pageview tertinggi) adalah seperti urutan di bawah ini.

Sauria Sitanggang

Oleh : J Anto*)

Pengantar

Salah satu buku Biografi yang pernah kami tulis bersama J. Anto adalah "Perjuangan Tiada Akhir", biografi kecil dari Bidan Sauria Sitanggang. pendiri dan pemilik rumah sakit dan lembaga Pendidikan Sari Mutiara Medan dan Ibu dari Parlindungan Purba, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) Utusan Sumatera Utara (2009-2014). 

Artikel berikut ini adalah penggalan dari sebuah artikel yang pernah dimuat di Harian Analisa, 11 Desember 2008 dan dimuat atas izin lisan dari penulisnya, J.Anto.   

Bidan Sauria Sitanggang dilahirkan di Lumban Sibabiat, Samosir, pada 20 Juli 1938. Ia dipanggil Tuhan pada 23 Mei 2007 (69) karena komplikasi penyakit yang dideritanya. Almarhumah oleh masyarakat Sumut dikenal sebagai bidan langka, atau bidan bertangan dingin.

In Memoriam Setahun Meninggalnya Penabur Kebaikan

Oleh : Jannerson Girsang

Pagi ini kami teringat seorang wanita yang begitu mengesankan. Johanna br Marbun Banjarnahor (Ompu Ginagan Nainggolan). Penabur kasih dan kebaikan kepada anak-anaknya.

Cuplikan-cuplikan kebaikan dan perjuangannya, kami dokumentasikan atas dukungan keluarga dalam buku biografinya, Haholongon (2008), dua tahun sebelum dia pergi untuk selama-lamanya.

Rabu, 05 Januari 2011

Sepakbola, Persatuan dan Kesatuan

Oleh : Jannerson Girsang

Pertandingan akbar Timnas Indonesia melawan Malaysia sudah usai. Pembaca semua sudah tau hasilnya. Dengan skor agregat 4-2, untuk pertama kalinya Malaysia menjadi Juara AFF Cup, supremasi sepakbola negara-negara ASEAN yang sudah dimulai sejak 1996. Malaysia kini menyusul tiga negara lainnya yang pernah menjadi juara: Thailand, Singapura dan Vietnam. Sebuah posisi yang menjadi mimpi Indonesia pada AFF Cup 2012 mendatang.

Jumat, 24 Desember 2010

Natal, Tanpa Kartu Natal

Oleh : Jannerson Girsang

Dulu, ungkapan pribadi di Kartu Natal begitu ditunggu-tunggu. Tulisan tangan yang indah begitu bermakna di malam Natal. Bahkan sampai bolak balik dibaca hingga kumal. Kini, perkembangan teknologi membuat kita makin melupakan makna pribadi dalam Ucapan Natal. Hanya mengirimkan teks melalui sms atau mengkopi sebuah template (contoh) teks dan gambar dari sebuah website atau kiriman teman. Kirim sebanyak mungkin ke alamat e-mail teman. Selesai!

Di era sebelum mengenal dunia maya, saat-saat menjelang Natal seperti ini saya selalu sibuk mencari beragam jenis kartu Natal di toko-toko di sekitar Pasar Bogor atau toko-toko buku di Bogor yang dikenal kota hujan itu. Saat kuliah dan jauh dari orang tua, pulang kampung hanya sekali: sesudah lulus kuliah!. Rasa rindu kampung halaman bisa terobati dengan menerima atau mengirim Kartu Natal. Begitu bermaknanya Kartu Natal saat itu.

Sebagai seorang mahasiswa Kristen ketika itu, Natal tidak cukup hanya mengikuti perayaan-perayaan yang wah, tetapi menunggu ucapan pribadi melalui Kartu Natal. Secara historis Natal yang hanya dirayakan sekali setahun memberi makna khusus dalam hubungan antar pribadi. Tak berlebihan kalau salah satu peristiwa Natal yang sangat saya tunggu-tunggu ketika itu adalah menerima ucapan Natal dari keluarga atau teman melalui kartu Natal.

Makin banyak kartu Natal yang saya terima membuat kebahagiaan dan kesempurnaan merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.

Rasa bahagia tak terlukiskan saat menerima kartu Natal di kamar kos yang sepi, ketika seseorang mencurahkan isi hatinya yang sangat pribadi. Bahkan seorang teman saya ketika itu sampai nerjingkrak-jingkrak saat menerima ucapan Natal dari seorang gadis di seberang pulau. Ucapan cinta seorang teman di Hari Natal!.

Tapi, setelah Tim Bernes-Lee yang menemukan www (internet) pada sekitar 1991, kebiasaan kami berubah. Rasa itu makin lama makin hilang. Bahkan tahun ini, Kartu Natal paling-paling terbungkus di dalam parcel.

Seingat saya, dulu pohon terang dihiasi dengan banyak kartu Natal. Lama kelamaan hilang, dan bahkan tahun lalu, kami sama sekali tidak lagi menerima kartu Natal untuk ditempel di Pohon Natal. Pohon Natal tanpa kartu Natal!

Sejak sms melalui handphone dan internet dikenal masyarakat luas, kartu Natal berubah menjadi teks atau gambar digital yang bisa dikirim melalui email. Sentuhan pribadi melalui seni menulis yang mencerminkan perasaan dan karakter sudah terlupakan. Menulis indah yang pernah kami pelajari sudah lama tidak bernilai lagi. Tulisan dalam ucapan Natal hampir seragam. Hanya dibedakan oleh jenis huruf: Times New Roman, Century Gothic, Aerial, Garamond atau nama-nama huruf yang terdapat di komputer.

Tak ada lagi kenikmatan bau perangko yang khas saat membasahinya dengan lidah. Tak ada lagi canda tawa dengan pegawai pos yang dengan setia membubuhkan stempel jadwal pengiriman pakai alat berbentuk palu.

Semuanya menjadi serba praktis. Menuliskannya di komputer, membubuhkan kartu Natal digital yang sudah tersedia secara gratis. Mencantumkan sebanyak mungkin teman ke kolom alamat email yang dituju. Klik tombol send (kirim), lalu pesan Natal—dalam hitungan detik, sudah sampai ke sebanyak teman yang punya alamat e-mail. Ucapan selamat Natal selesai!.

Di e-mail, saya pernah menerima ucapan Natal yang dikirim oleh seorang teman bersama lebih dari seratus orang penerima lainnya. Isinya: "Merry Christmas. Sukses selalu". Ungkapan hati pengirimnya kepada setiap penerima pesannya sama. Tidak ada teman dekat atau jauh. Tidak ada kesan dan pesan yang berbeda kepada yang usianya lebih tua atau lebih muda.

Mungkin pembaca sama dengan perasaan saya. Rasanya seperti sayur tanpa garam bukan?. Kita hanya menerima kata-kata normatif. Nilai pesannya sama seperti ucapan selamat pagi atau selamat malam. Bedanya: disampaikan pada Hari Natal.

Mungkin Anda merasakan hal yang sama dengan saya. Perkembangan teknologi memang cenderung menyederhanakan tidak hanya dalam cara, bahkan melupakan aspek emosi pribadi. Itulah teknologi.

Kita tentu tidak mempersalahkan teknologi. Malah sebaliknya, kitalah sebagai pengguna yang salah, tidak mau lebih kreatif menggunakannya untuk tetap memelihara dan bahkan meningkatkan nilai emosi pribadi ke dalamnya.

Teknologi memang tidak mengenal emosi. Kita, manusialah yang sesungguhnya dengan kreatif dan sedikit meluangkan waktu untuk membubuhkan emosi di dalamnya. Mengetik ungkapan asli yang kreatif dan gambar-gambar pribadi yang lebih menarik—tidak sekedar copy paste.

Artikel ini tidak menawarkan tip khusus. Tetapi tidak ada salahnya kalau kita mengirim ucapan Selamat Natal dengan sedikit kreativitas yang mampu mempertahankan emosi pribadi seperti dulu.

Di era internet dan dukungan teknologi komputer kita bisa lebih mengungkapkan pesan-pesan Natal dengan tidak melupakan emosi pribadi. Perkembangan teknologi tidak harus membuat kita kehilangan emosi pribadi seperti ketika menggunakan kartu Natal konvensional seperti dulu. Using techmology, be creative!.

Selamat Hari Natal 25 Desember 2010. Mari mengungkapkan perasaan pribadi dengan mengirim ucapan Natal Digital secara kreatif dan memberi makna Natal yang lebih pribadi.

Penulis adalah penulis biografi tinggal di Medan
Artikel ini dimuat di Harian Analisa, 24 Desember 2010 Hal 25. Bisa juga diakses ke : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=80124:natal-tanpa-kartu-natal&catid=78:umum&Itemid=131

Jumat, 17 Desember 2010

Frederika Girsang: Mantan Pemegang Ranking 138 ITF

Oleh Jannerson Girsang

Nama Frederika Girsang tidak asing lagi di dunia tennis Indonesia. Mungkin anda bilang saya emosional. Itu benar. Bagi saya sendiri selama ini, Frederika Girsang mendapat tempat khusus karena dia boru Girsang--satu marga dengan saya.

Walau saya tidak pernah mengenalnya secara pribadi, tetapi dia adalah idola saya di olah raga tenis. Mantan pemegang ranking 138  International Tennis Federation (ITF) ini telah mengukir nama Indonesia di dunia internasional.

Setelah bertahun-tahun tidak melihatnya tampil, muncul kerinduan untuk sekedar mengetahui dimana dia sekarang. Mungkin saya bernasib  baik hari ini, karena secara kebetulan menemukannya di situs http://www2.owlsports.com/coaches.aspx?rc=560&path=wten.

Ternyata, sekarang dia menjadi Assistant Head Coach Temple, Amerika Serikat. Kerinduan saya sedikit terobati membaca kisahnya dan melihat gambarnya. Frederika, perempuan Indonesia berprestasi dan memberikan inspirasi. Selain sukses di Tennis, dia juga sukses dalam perkuliahannya. Bahkan sudah memegang gelar Master dari Ball State, USA.

Inilah kutipan lengkap, tentang kisahnya. Saya tidak menerjemahkannya, karena takut salah. Entah

Women's Tennis Coaching StaffFrederika Girsang
Frederika Girsang
Assistant Head Coach
fgirsang@temple.edu

Frederika Girsang is in her second season as an assistant men's and women's tennis coach at Temple.

She arrived on North Broad Street after two seasons as an assistant women's tennis coach at Ball State. At Ball State University, she assisted the head coach with on and off court duties, as well as working with the team. She also guided individual players through one-on-one sessions.

A four-year letterwinner in tennis at Western Michigan, Girsang was tabbed the 2003 Mid-American Conference Player of the Year, which was the first time a WMU player had received the award since its inauguration in 1998. During her career she also was named the 2001 MAC Newcomer of the Year and helped the Broncos to win the MAC championship. Girsang was ranked nationally and regionally over her tenure with the Broncos with her highest ranking being 62nd.

Girsang was the 2003 singles champion at the ITA National Summer Championships and was runner-up in doubles play. She competed in the Riviera All-American Championship in Pacific Palisades, Calif., also in 2003.

Prior coming to the United States, Girsang was the top Indonesian junior player with International Tennis Federation (ITF) ranked 138, where she also competed at the Australian Open Junior. She then continued her success by achieving her highest national ranking (#4) in Indonesia, and competed internationally at the ITF Women's Circuits.

In December 2008, she competed at the USTA National Championships at Flushing, NY, and captured the USTA gold ball at the Women's Doubles event.

A native of Jakarta, Indonesia, Girsang earned a bachelor's degree in recreation from Western Michigan in 2005 and a master's degree in sports management from Ball State in 2008.

Source: http://www2.owlsports.com/coaches.aspx?rc=560&path=wten

Terima kasih Frederika karena telah membalas email saya 17 Desember 2010. Semoga sukses selalu. Kami bangga punya Frederika.

Email Frederika Girsang, 18 Desember 2010

"Hallo Jannerson!

Salam kenal juga.

Terima kasih atas blog-nya. Saya sangat terkesan sewaktu membacanya dan bangga bisa membawa nama Girsang sampai dimana saya berada saat ini.

Semoga sukses selalu dan marga Girsang bisa membawa inspirasi buat rekan-rekan yang lain.

Terima kasih,

Frederika Girsang