My 500 Words

Senin, 03 September 2012

In Memoriam Neil Alden Armstrong (5 Agustus 1930-26 Agustus 2012) 
Orang Pertama Mendarat di Bulan


Oleh: Jannerson Girsang


Minggu, 26 Agustus 2012 yang lalu, orang yang pertama menginjakkan kakinya di bulan, telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya dalam usia 82 tahun. Neil Amstrong—nama lengkapnya  Neil Alden Armstrong, telah menginspirasi para pelajar dari berbagai generasi di seluruh dunia selama empat puluh tahun terakhir.  

The New York Times mengutip keluarganya mengatakan dalam sebuah pernyataan, penyebab kematiannya adalah  “complications resulting from cardiovascular procedures.”. Dia menjalani operasi bypass jantung bulan ini di Cincinnati, dekat tempat tinggalnya. Pemulihan sudah berjalan dengan baik, menurut orang-orang yang berbicara dengan dia setelah operasi. Kematiannya mengejutkan bagi banyak orang dekatnya, termasuk sesama astronot Apollo. Media di dalam negeri  dan luar negeri di seluruh dunia meliput kematian Neil Amstrong, orang pertama menginjakkan kaki di bulan, 20 Juli 1969..

Memutar Memori ke Belakang

Membaca media tentang kematian Neil Amstrong, memutar memori ke belakang 43 tahun yang lalu, 20 Juli 1969 adalah saat penulis masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar di kampung Nagasaribu, sekitar 100 kilometer kearah Selatan kota Medan.

Pergi dan pulang sekolah masih kaki ayam melintasi jalan berbatu, belum aspal.Belum mengenal pakaian seragam. Belum memiliki televisi, baru radio transistor 2 Band. Sepeda motorpun belum punya, baru memiliki sepeda ondel. Harian Sinar Indonesia Barupun belum lahir ketika itu.

Ayah saya bercerita peristiwa besar itu setelah mendengar Radio Malaysia, Kuala Lumpur yang ketika itu terdengar lebih terang dari radio-radio lainnya. Bahkan ketika itu, penduduk desa kami paling ada satu atau dua orang yang pernah naik pesawat.  Begitu jauhnya perbedaan kampung saya denan Amerika Serikat.

Sebuah  perstiwa besar terjadi di Amerika Serikat. Mereka berhasil mendaratkan Apollo 11 di bulan. Selama ribuan tahun mimpi menginjakkan kaki di bulan hanya terungkap dalam dongeng dan nyanyian.

Gambar dan Nama Neil  Armstrong yang memakai baju luar angkasa di samping pesawat laur angkasa sangat popular bagi para pelajar karena kemudian menghiasi buku buku-buku pelajaran Fisika atau ilmu Bumi. Dia  menjadi orang yang istimewa dan mengisnpirasi miliaran orang di dunia ini.

“Dengan mengembangkan teknologi, manusia mampu mewujudkan hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin, tetapi dengan teknologi, semuanya menjadi  mungkin”itulah petuah guru kami, saat mengajar di depan kelas.

Lahir di Perladangan, Mencintai Aeronautika

Menurut situs harian The Post and Courier, http://www.postandcourier.com, Armstrong dilahirkan pada 5 Agustus 1930, di sebuah perladangan dekat Wapakoneta di sebelah Barat Ohio, Amerika Serikat. Dia terbang pertama kali pada usia 6 tahun dan ketertarikannya pada penerbangan bertumbung, yang mendorongnya membangun model pesawat dan melakukan eksperimen di terowongan angin buatan sendiri.

Di masa kecilnya, Neil Armstrong bekerja di sebuah farmasi dan belajar mata pelajaran penerbangan. Dia memiliki izin terbang pada usia 16 tahun, sebelum memperoleh surat izin mengemudi. .

Armstrong memasuki Purdue University di negaranya dalam bidang teknik aeronautika (aeronautical engineering),pada 1947. Di sekolah tinggi dia unggul dalam ilmu pengetahuan dan matematika serta memenangkan beasiswa US Navy di Purdue University di Indiana, mendaftar pada tahun 1947. Dia meninggalkan kuliahnya, saat berusia 19 tahun, setelah dua tahun menjadi pilot Angkatan Laut, dan menerbangkan misi tempur di Perang Korea dan memenangkan tiga medali. Dia bertugas di Angkatan Laut (Navy)  pada 1949 dan menerbangkan 78 kali missi pasukan di Korea.

Sesudah perang, Armstrong menyelesaikan sarjananya dari Purdue University, kemudian memperoleh gelar master aerospace engineering dari University of Southern California.

Dia menjalani tes pilot  di lembaga yang kemudian berkembang berkembang menjadi National Aeronautics and Space Administration (NASA), menerbangkan lebih dari 200 jenis pesawat dari glider sampai jet. Dia bergabung dengan program astronot pada 1962. Kemudian, Neil Amstring terpilih menjadi komandan Apolli 11, missi pendaratan di bulan berawak yang pertama.

James Hansen, penulis "Orang Pertama: Kehidupan Neil Armstrong" mengatakan, "Hidupnya adalah tentang terbang. Hidupnya tentang menerbangkan pesawat," kata Hansen, kepada CBS, seperti dikutip situs http://www.france24.com. .

Neil Armstrong: Mewujudkan Pidato Visioner Jhon F Kennedy

Peristiwa bersejarah itu diawali dengan peluncuran pesawat Apollo 11  oleh  Roket Saturn V  dari  Launch Complex 39A di Pusat Ruang Angkasa Kennedy di  Florida. pukul  9:32 pagi tanggal 16 Juli, 1969. 

Di dalam pesawat terdapat Neil Armstrong yang menjadi komandan pesawat ruang angkasa itu. Di lapangan  pusat ruang angkasa itu, lebih dari 3.000 wartawan, 7.000 pejabat, dan sekitar setengah juta wisatawan menonton kesempatan penting ini.

20 Juli 1969, saat memasuki usia 39 tahun, Neil berhasil mendaratkan Apollo 11 di bulan, setelah menempuh jarak 380 ribu kilometer dalam waktu 3 hari , 3 jam dan 49 menit.  Sesaat setelah mendarat,para astronot menerima telepon dari Presiden Richard Nixon. 

"Halo, Neil dan Buzz saya berbicara dengan Anda melalui telepon dari Ruang Oval di Gedung Putih.. Dan ini pasti menjadi telepon paling bersejarah yang pernah dibuat. Saya hanya bisa memberitahu Anda bagaimana bangganya kami dari apa yang telah Anda lakukan ".

Pentingnya dukungan pejabat tertinggi Negara atas sebuah prestasi besar warganya yang  menciptakan sejarah baru yang sangat spektakuler bagi Amerika Serikat dan bagi umat manusia.

Setelah mendarat, Neil memimpin missi menginjakkkan  kaki di bulan, mengambil sample batuan bulan dan menancapkan bendera negaranya di sana, dan kembali ke bumi dan mendarat di Samudera Pasifik, sebelah barat daya Hawaii, hanya 13 mil laut dari USS Tawon yang dipersiapkan menjemput mereka.

Setibanya di bumi, mereka disambut sebagai pahlawan. Mereka diterima Presiden Nixon dan dihadiahi ticker-tape parade. Neil Armstrong telah mencapai apa yang pria selama ribuan tahun hanya dalam mimpi- berjalan di bulan.

Merunut ke belakang beberapa tahun, missi Apollo 11 berhasil mewujudkan mimpi Presiden John F Kennedy dan mimpi umat manusia, yang selama beribu tahun hanya berani berangan-angan ke bulan.  Mimpi John F Kennedy terinspirasi oleh ketertinggalan Negara itu, setelah Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1 pada 4 Oktober 1957.

Rasa ketertinggalan itu terungkap ke permukaan oleh seorang pemimpin tertinggi negeri itu dalam sebuah pidato empat tahun kemudian.  25 Mei 1961, Presiden John F. Kennedy memberi inspirasi dan harapan kepada rakyat Amerika dalam pidatonya di Kongres. "Saya percaya bahwa sebelum dekade ini berakhir bangsa ini harus memiliki komitmen untuk mencapai tujuan, pendaratan manusia di bulan dan kembali dengan selamat ke bumi”

Mimpi besar terwujud, hanya delapan tahun kemudian. Apollo 11 yang dikomandoi Neil Armstrong, diluncurkan dari Launch Complex 39A,  Pusat Pengendalian Ruang Angkasa Kennedy di Florida, dan mendarat di bulan 20 Juli 1961, melakukan pengumpulan sample batuan, mencapkan bendera Amerika Serikat, serta kembali dengan selamat di bumi pada 24 Juli tahun yang sama. .

Peristiwa empat puluh tiga tahun yang lalu itu, adalah titik balik kehidupan Nei Armstrong yang mnginspirasi dunia sepanjang masa, dimana perkembangan teknologi, keberanian  dan kecermatan untuk menerapkannya memungkinkan manusia mencapai hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.  Singkatnya, pengembangan dan penguasan teknologi mengubah dunia.    

Missi Apollo 11 ke bulan, ternyata menjadi penerbangan ruang angkasa terakhir bagi Armstrong. Tahun berikutnya dia diangkat menjadi wakil administrator asosiasi NASA untuk aeronautika di kantor penelitian lanjutan dan teknologi.

Penutup

Mengutip ucapan Neil Armstrong setelah menjadi orang pertama menginjakkan kaki di bulan, Neil Amstrong mengatakan: “Ini adalah satu langkah kecil bagi seorang laki-laki, tetapi langkah raksasa bagi umat manusia. That’s one small step for man, one giant leap for mankind,” kata Armstrong.

Tentu kita tidak mampu membuat Apollo 11 yang besar itu.  Bangsa ini mampu membuat langkah-langkah kecil yang terarah. Mimpi besar melalui langkah kecil tetapi terarah akan menjadi langkah raksasa, bila menjadi dasar atau hal baru bagi umat manusia di dunia

Salah satu kunci keberhasilan Apolo 11 ada di tangan Neil Amstrong. Dia adalah  komandan missi itu. Di belakang semuanya itu, tentu banyak pihak yang terlibat. Misalnya Lembaga Antariksa Amerika (NASA) melakukan studi, merancang pesawat serta berbagai studi lainnya.

Bangsa Indonesia mesti sadar akan ketertinggalannya dari bangsa lain, menyikapinya melalui instrospeksi diri dan membuat mimpi untuk mengejar ketertinggalan itu. Tapi, bukan sekedar mimpi kosong yang dilontarkan dalam kampanye.

Mimpi besar seorang pejabat, seperti John F Kennedy  mampu dijabarkan secara operasional. Melakukan identifikasi ketersediaan orang-orang, menguji teknologi yang dibutuhkan, serta mengembangkan organisasi yang kuat dan dinamis.

Selamat jalan Neil Amstrong dan semoga jejak Anda semasa hidup dapat menyadarkan kami semua bahwa penguasaan teknologi yang lebih modern akan membuat bangsa kami lebih maju. Kami akan belajar untuk tidak hanya asyik mengejar kekuasaan, membicarakan poliik, tetapi juga mengembangkan teknologi.

Kami mengakui tidak mampu mengulangi jejakmu, tetapi akan terinspirasi oleh keberanian serta dedikasimu untuk bangsa dan negaramu.

Note: Artikel ini diterbitkan pertama kali dalam blog ini dan belumditerbitkan di media manapun.

[1] Penulis Biografi, Tinggal di Medan
Catatan Kecil tentang Kathryn Stockett Penulis Novel The Help

Lima Tahun Menulis Novel, Enam Puluh Kali Ditolak

Oleh: Jannerson Girsang

Kisah penulisan, penerbitan sebuah buku dan penulisnya sendiri selalu memberi inspirasi tersendiri. Kisah Kathryn Stockett, yang menulis  novel The Help tidak kalah menariknya. 

Dia menulis novel itu selama lima tahun dan enam puluh kali ditolak penerbit. Padahal, The Help! kemudian menjadi sebuah novel yang menjadi best seller dunia. 

Saya tertarik dengan kisah ini, setelah membaca sepintas melalui internet. Hingga pertengahan Mei 2012 lalu, saya melintasi sebuah toko buku di Bandara Soekarno Hatta Jakarta saat menuju ruang tunggu penumpang menuju Medan.

Memasuki toko itu dan saya berharap menemukan buku yang dicari. Toko buku yang terletak di bandara internasional itu, menjual berbagai buku baik yang terbitan Indonesia maupun luar negeri.

Saya mendekati seorang penjaga toko dan menanyakan 
buku yang akan saya cari. The Help.  Saya senang, karena penjualnya sangat paham buku itu dan langsung membawa saya ke sebuah rak. Kalau selama itu, saya hanya melihat gambarnya di dunia maya, saat itu melihat pertama kali secara langsung buku novel The Help.

Senangnya saya ketika itu. “Inilah hasil karya yang ditulis selama lima tahun dan mendapat penolakan sebanyak enam puluh kali,”. Buku yang sudah diperbincangkan di berbagai media penting dunia, kini sudah ditangan saya. Saya membolak balik dan serasa bertemu penulisnya Kathry Stockett. Penulis  yang cantik, cerdas dan peka terhadap kehidupan orang kecil.

Saya menemukan tiga tipe cetakan buku  itu. Saya memilih yang harganya $ 7,99 (saya membarnya Rp 80 ribu). Website penerbit The Help (www.penguin.com), menawarkan buku itu dengan harga menurut kualitas bukunya.  Paperback: $16.00, Paperback: $16.00, Hardcover: $24.95, eBook - Adobe reader: $9.99, eBook - ePub eBook: $9.99. 

Tentu, lebih mahal dari novel “Amang Parsiunan” karya Lucya Chriz, penulis Sumut yang produktif yang harganya Cuma Rp 25.000. Terbersit kerinduan karyanya penulis Sumut dipajang di Toko Buku bergengsi itu. Begitu juga novel Pincalang—novel best seller yang akan segera terbit ulang yang ditulis Idris Pasaribu, sastrawan asal Sumut.  

Karena waktu keberangkatan masih tersisa sekitar 2 jam, saya memiliki banyak waktu untuk membaca buku yang baru dibeli. Saya memiliki waktu cukup untuk menikmati setidaknya pengantar dan daftar isi Novel The HELP.

Singgah dan ngopi sebentar di sebuah kafe bebas rokok—di sebelah kanan jalan menunju ruang tunggu pesawat. Sambil menikmati minuman dan snack, saya membaca The Help. Novel yang begitu gencar ditulis dan dibicarakan di berbagai media dunia. Hari itu, saya belum sempat membaca seluruh isi novel itu.

Lima Tahun Menulis Novel  

Saya mengamati dengan seksama buku berwarna dasar kuning setebal 464 halaman tersebut. Kagum juga karena penulisnya Kathryn Stockett, dengan novel pertamanya langsung mendapat gelar best selier di negeri Paman Sam itu.

Saya teringat Andrea Hirata yang juga sukses saat meluncurkan novel pertamanya, Lasykar Pelangi. 

Kathryn Stockett, dari pengalamannya di masa anak-anak di sekitarnya, menulis novel  dengan menarik dan mempengaruhi banyak orang di jagat raya ini.  Sebuah pelajaran berharga bagi setiap penulis. Peristiwa di sekitar kita tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mungkin itu salah satu keanehan dunia yang bisa menyumbangkan peradaban besar.

Kathryin yang lulusan Bahasa Inggeris dan Menulis Kreatif dari Universitas Alabama adalah seorang penulis yang memiliki cita-cita tinggi dan memutuskan menulis sebuah  buku kehidupan. Dia memilih sebuah sudut pandang berbeda dari sebelumnya.

Novel ini menceritakan  pengalaman hidup seorang pembantu Afro-Amerika  yang bekerja pada keluarga kulit putih, dan kesulitan yang mereka lalui  setiap hari. Kathryn menulisnya secara rinci dan sangat menyentuh.

Tokoh utamanya adalah Aibileen Clark, pembantu rumah tangga kulit  hitam yang menghabiskan hidupnya membesarkan anak-anak kulit putih. Kehidupan seorang pembantu kulit hitam adalah suara umat manusia yang penuh dengan aturan-aturan yang tidak manusiawi.

Proses penulisannya memakan waktu selama lima tahun. Lima tahun tidak menghasilkan apa-apa. Hanya menulis dan menulis. Bayangkan, dalam selang waktu tersebut, seorang lulusan SMA di Indonesia sudah menyelesaikan S1 (Strata 1).

Ditolak 60 Kali

Kesulitan Kathryn dalam mewujudkan idenya untuk bisa dibaca banyak orang ternyata memiliki kisah menarik.

Setelah selesai menulis novelnya, Kathryn mengaku ditolak penerbit sampai enampuluh kali. Tidak banyak penulis seperti Kathryn. Satu atau dua tahun saja sudah menyerah.  Menulis membutuhkan kesegaran pikiran, tenaga, biaya yang dikeluarkan, serta kesempatan lain yang hilang. Bisa dibayangkan kalau waktu lima tahun menulis dan buku dtiolak sampai enam puluh kali.

Sampai dirinya menemukan  Susan Ramer, seorang agen sastra (litetary agent) dan bersedia mewakili Stockett.  

Artinya, kalau setiap bulan dia menghadap penerbit, maka selama lima tahun mungkin Kathryn hanya menerima hadiah setiap bulan: “Maaf Novel Anda Kami Tolak”.

Ketika Andrea Hirata—penulis Tetralogi Lasykar Pelangi mengalami penolakan beberapa kali dari penerbit, saya sendiri langsung merasa “kok ya..tulisan yang bagus ditolak?”. Demikian juga  JK Rowling, penulis kisah terkenal Harry Potter pernah ditolak penerbit sampai lima belas kali.

Wawancara Katrhyn Stockett dengan mediaonline milik The Book Whispherer yang diposting  pada 11 June, 2010 lalu, menyebutkan bahwa novel The Help mengalami penolakan dari penerbit sebanyak 60 kali.

Katrhyin Sotckett adalah penulis yang tegar dan pantang menyerah. “Tidak ada yang mengatakan saya berhenti. Saya terus berjuang sampai seseorang mengatakan ya!,” ujarnya. Luar biasa!.

Menyumbang Ide Besar dan Membesarkan Banyak Orang

Sampai Agustus 2011, novel  The Help sudah terjual sebanak lima juta kopi dan bertengger selama lebih dari 100 minggu masuk dalam daftar best seller di  The New York Times. Bayangkan kalau komisi untuk penulis sebesar 10% saja, Anda bisa menghitung pendapatan Kathryn dari novel pertamanya The Help.   

Nama Kahtryn yang sebelumnya hanya seorang tidak dikenal dalam dunia tulis menulis diAmerika, tiba-tiba meroket tak terhempang, bagai panah menuju sasaran.

Media-media di Amerika menyambutnya dengan hangat. Sebuah artikel di  USA Today menyebutnya sebagai "summer sleeper hits" 2009. Tinjauan sebelumnya di  The New York Times mencatat Stockett's sebagai berikut: “kasih sayang dan keintiman terkubur di bawah bahkan hubungan rumah tangga yang tampaknya paling impersonal" dan mengatakan buku tersebut adalah sebuah "tombol-pendorong, segera menjadi novel baru yang sangat populer". Atlanta Journal-Constitution mengomentari The Help, "Kisah memilukan ini adalah debut yang menakjubkan dari orang yang berbakat ".

Kehidupan orang kecil, seorang pembantu kulit hitam ternyata begitu menarik bagi publik termasuk industri perfiliman. Para pengusaha film tertarik Selain mengangkat kehidupan di Missisippi era 60-an.

The Help diangkat ke layar perak pada 2011. Bintang-bintang film terkenal Amerika Serikat turut membintangi film itu dan menghadiahi mereka penghargaan dan menaikkan rangking mereka dalam bisnis perfiliman.

Pada Januari 2012, film The Help menerima empat penghargaan dalam Academy Award ke 84, 12 Pebruari (2012 lalu, serta penghargaan-penghargaan lainnya. Salah satu bintang yakni Viola Davis (pemeran  Aibileen Clark, seorang pembantu rumah tangga kulit hitam dan tokoh utama dalam novel The Help menjadi nominasi The Best Actress dan memberi hadiah bagi Olivia Spencer sebagai The Best Supporting Actress 12 Pebruari 2012.

Kathryn Stockett—kelahiran Missisippi 1969, memberi pelajaran bagi para penulis soal kesabaran, kerja sama, dan kegigihan mewujudkan sebuah ide. Lima tahun bersakit-sakit, lantas menerima hasil keringatnya, sebuah berkat yang luar biasa.

Melalui kehidupan seorang pembantu kulit hitam, Kathryn telah menyumbangkan kepada dunia soal hubungan sesama manusia, menyatukan dunia.

Penutup

Kisah sederhana yang menginspirasi di sekitar kita jangan diabaikan. Mungkin akan berdampak besar. Dibutuhkan penulis-penulis dengan kepekaan tinggi, ketulusan, kejujuran, kesabaran, ketekunan dan kegigihan untuk merekam dan mengemasnya dengan menjadi tulisan yang menarik dan berbobot.   

Membaca The Help yang terbit pertama kali pada 2009  dan sudah diterbitkan di 35 negara dan dalam tiga bahasa, menjadi pelajaran berharga dan mengiinspirasi kita, para penulis dan penerbit. Pengalaman Kathryn Stockett mengajarkan kita pentingnya kesabaran dan kegigihan menulis sebuah buku dan menunggu hingga sebuah karya diterbitkan secara meluas.

Penilaian penerbit atas sebuah karya tidak selalu tepat. Jadi jangan berkecil hati kalau sebuah penerbit menolak karya-karya anda. The Help membuktikannya. Setelah 59 penerbit mengatakan tidak (bermutu), ternyata penerbit ke-60 menjadikan buku itu best seller.

Maukah Anda menulis sebuah buku yang menginspirasi selama lima tahun terus menerus?. Sabarkah Anda menerima perlakukan penerbit yang menolak anda sebanyak enam puluh kali?. Mungkin lima tahun lagi Anda akan seperti Kathryn Stokett!.     

Dimuat di Harian Analisa, Halaman 9, Rubrik Rebana,  Minggu 9 September 2012. (Direvisi, 10 September 2012).

Penulis Biografi, Tinggal di Medan

Kamis, 30 Agustus 2012

Menyimak Pidato Kenegaraan Presiden SBY

“Hepeng do Namangatur Negara On”


Oleh: Jannerson Girsang

 
Sumber foto: www.hukum.kompasiana.com

Saya dan mungkin jutaan penduduk negeri ini sedikit merasa terkejut, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui hingga masa pemerintahannya saat ini, tindak pidana korupsi bukannya berkurang, tetapi justru cenderung meluas dan membesar. Padahal salah satu misi pemerintahannya adalah  pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Dalam pidatonya di sidang bersama DPR dan DPD RI di gedung kompleks DPR Senayan, Kamis, 16 Agustus 2012, Presiden SBY mengatakan: "Harus kita akui pula, dominasi tindak pidana korupsi cenderung meluas dan cenderung membesar ke daerah-daerah, mulai dari rekrutmen pegawai di kalangan birokrasi, proses pengadaan barang dan jasa, hingga di sejumlah pelayanan publik. Modusnya pun beragam, mulai dari yang sederhana berupa suap dan gratifikasi, hingga yang paling kompleks dan mengarah pada tindak pidana pencucian uang". Semakin parahnya korupsi, menurut Yudhoyono, sudah menjelma menjadi kejahatan luar biasa yang telah merusak sendi-sendi penopang pembangunan.

Pemberantasan korupsi ini menjadi perhatian utama artikel ini dari enam isu penting yang digarisbawahi secara khusus oleh Yudhoyono dalam pidato tersebut, disamping lima isu lainnya, reformasi birokrasi dan good governance, kekerasan dan benturan sosial, iklim investasi dan kepastian hukum, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan fiskal menghadapi krisis ekonomi 
global. Mari kita sejenak merenungkan poin yang menjadi perhatian Presiden.

Suara dari Kedai Kopi

Merenungkan pidato di atas, saya teringat kembali rekaman pembicaraan saya saat berkunjung ke sebuah kedai di pinggiran Selatan kota Medan beberapa waktu lalu. Waktu itu, kasus Nazaruddin, Angelina Sondakh sedang hangat-hangatnya.

Pendapat-pendapat mereka juga terkadang membuat lucu, karena dasar pemikirannya suka ngawur. Maklumlah mereka bukan orang-orang keren dan punya latar pendidikan yag baik seperti di Jakarta Lawyers Club di TVOne. Tapi, pendapat seperti ini tak gamang lagi dibicarakan orang dan sedikitnya mereka mewakili sebagian penduduk bangsa ini.

Di sebuah meja sedang berlangsung pembicaraan perilaku para koruptor muda yang sedang hangat di media. Mulai dari Gayus, pengadilan Nazaruddin dan Angelina Sondakh. Setelah menyimak pembicaraan mereka, saya terkesima mendengarkan percakapan demi percakapan mereka selanjutnya:   

”Ai nungnga hudok sian na jolo lae, ai hepeng do mangatur negara on. Saya sudah bilang sejak dulu kawan, uang yang mengatur negara ini!,” ujar salah seorang mengomentari acara yang membahas korupsi di sebuah stasiun televisi.

Toho do i lae, alai boha ma dohonon!—Betul itu lae, tetapi apa yang mau kita bilang!,” sambut yang lain di tengah hiruk pikuknya pembicaraan dan bercampur dengan lantuan lagu ”Parmitu” yang dinyanyikan beramai-ramai dari sudut lain kedai itu. 

”I do asa pamasuk ma gellengta gabe pegawai negeri, nang pe targade saba tading-tading ni amanta di huta, Itulah makanya masukkan anak kita jadi pegawai negeri, biarpun harus menggadaikan sawah warisan orang tua di kampung,” ujar yang lain.

Bereng ma si Gayus i puang, miliaran boi dibuat golonganna pe 3A do. Molo holan Rp 100 juta do manogok tole ma!.!. Lihatlah Gayus, miliaran padahal golongannya Cuma 3A, kalau Cuma Rp 100 jutanya untuk sogok biarlah” ujar mereka mengomentari hebatnya Gayus karena bisa menerapkan : ”Hepeng do Namangatur Negara on”.

Ai ho pe nian lae, mancalon ma gabe anggota DPR. Berengma si Angelina Sondah dohot si Nazaruddin i. Molo 1 miliar do gabe anggota DPR, kecil ma i. Sada proyek pe nungga 5 miliar. Lae juga mencalonlah jadi anggota DPR. Lihat itu si Angelina Sondakh dan Nazaruddin. Kalau Cuma Rp 1 miliarnya untuk anggota DPR, kecil kalilah itu. Satu proyek aja sudah Rp 5 miliar,”ujar yang lain bercanda. 

Meski omongan-omongan di atas tampaknya seperti “mimpi tukang cendol”, tapi mereka tentu tidak mampu mengkhayalkannya kalau tidak pernah mendengar omongan-omongan di luaran.      

Sungguh memprihatinkan. Perilaku buruk para pejabat begitu lancar dikisahkan dan dikhayalkan para pengunjung kedai kopi yang kebanyakan supir, tukang becak atau pegawai rendahan di pemerintahan.

Mereka yang memerankan prinsip ”Hepeng do Namangatur Negara on” membuat sebagian masyarakat berkeinginan atau berkhayal menyisihkan modal untuk menyogok agar anaknya bisa menjadi pejabat untuk mengangkat harkat dan martabat orang tuanya.  Bah! Nungga rusak,  sega muse, rusak deh!

Hepeng Do Mangatur Negara On

Saya kemudian merenungkan pidato SBY dan kata-kata ”Hepeng do Namangatur Negara On”. Judul ini malah pernah diterbitkan sebuah harian besar di Lampung.

Fenomena Gayus Tambunan menarik perhatian saya. Gayus hanya seorang pegawai Golongan III A—pangkat terendah seorang lulusan S1. Sehari-harinya, pria yang kini mendekam di penjara cuma menjadi penelaah keberatan pajak (banding) perorangan dan badan hukum di Kantor Pusat Direktorat Pajak.

Entah siluman mana yang bisa mengispirasinya, hanya dalam waktu kurang dari lima tahun, rekeningnya sudah penuh dengan duit sebesar Rp 25 miliar, belum lagi seperti dilansir banyak media, pecahan dollar dan perhiasan batangan senilai Rp 74 miliar yang disimpan di safety box yang ditemukan di Amerika Serikat.

Dengan uang sebesar itu, Gayus menjadi orang penting, bahkan lebih penting dari Sri Mulyani. Tak heran, kalau pejabat setingkat Dirjen saja, pasti tak berdaya menghadapi Gayus.

Meski di penjara, Gayus, masih menjadi orang penting. Dia bisa mengatur bisnisnya dari penjara, seperti diberitakan berbagai media beberapa bulan yang lalu. Bahkan bisa menonton permainan tennis di Bali.

Denny Tewu (Ketua Partai Damai Sejahtera) pernah menjuluki Gayus sebagai ”ahli sogok”. Dia bisa memperdaya petingi-petinggi kepolisian, petinggi kejaksaan, petinggi kehakiman, menyogok pengacara senior. Bahkan”nyanyian”nya bisa membuat ”keder” orang-orang penting di negeri ini!.

Dia bisa mengecoh pejabat yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Ilmu manajemen apapun yang dimiliki seorang atasan, tidak akan mampu mengatur, apalagi menegor Gayus. Bisa-bisa copot atau paling tidak dipindahkannya dengan  kekuatan ”Hepeng”nya.

Perilaku seperti Gayus menyebar kepada pegawai negeri Indonesia yang masih berusia muda yang menganut paham ”Hepeng do Namangatur Negara on”. Setelah Gayus masuk penjara, muncul Gayus, Gayus lain. Patah tumbuh hilang berganti!. Sayangnya yang tumbuh bukan Semangat 45. Bahkan belakangan muncul issu rekening gendut para PNS muda.  

“Much money, stronger power”!. Wibawa atasan  menjadi luntur bila paham “Hepeng Do Mangatur Negara on” sudah menjalar dalam organisasi atau instansi. Pejabat setinggi apapun akan keder kalau bawahannya sekaliber Gayus, Nazaruddin atau Angelina Sondakh yang punya banyak uang.  

Mereka merusak struktur organisasi di instansi, dan hasil kerja para pakar soal manajemen pemerintahan akan hancur lebur.  Dalam istilah SBY: korupsi sudah menjelma menjadi “kejahatan luar biasa yang telah merusak sendi-sendi penopang pembangunan”

Meski ditangkap atau di penjara, selama paham : Hepeng do Mangatur Negara on” berjalan, para koruptor dengan bangga berbicara kepada pers ”menembaki” orang-orang pernah diberinya uang, maju ke pengadilan dengan jas yang rapih, mobil mewah, pengacara kelas wahid dan pengawal yang kekar-kekar. Ada dugaan, dengan kekuatan uangnya, seperti diberitakan media, beberapa koruptor yang dijatuhi hukuman, malah mendapat grasi dari presiden dengan berbagai alasan.  

Renungan Bersama!

2012 adalah tahun ke tiga periode kedua pemerintahan SBY.  Kenyataannya, Presiden SBY sendiri mengatakan korupsi makin meluas. Pidatonya menyambut Kemerdekaan RI ke-67 membuat kita makin pesimis bahwa usaha pemberantasan korupsi bisa tercapai hingga periode Presiden berakhir pada 2014.

Korupsi menurut SBY adalah ”kejahatan luar biasa yang telah merusak sendi-sendi penopang pembangunan”.  Pemahaman inilah secara sistematis ditularkan kepada para pengunjung kedai di Selatan Medan, rakyat kebanyakan di negeri ini, serta di seluruh aras kepemimpinan.   

Paham ”Hepeng do Mangatur Negara On” mesti pupus dan tidak boleh diwariskan kepada generasi berikut.  ”Dalam bahasa terang dan gamblang pernah saya katakan, tidak boleh terjadi kongkalikong antara pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, aparat penegak hukum, dan dunia usaha yang menguras uang negara, baik APBN maupun APBD. Namun, harus saya akui, ternyata masih banyak pelaku tindak pidana korupsi, baik dari jajaran pemerintahan, pemerintah daerah, DPR dan DPRD, hingga aparat penegak hukum,”ujar SBY dalam pidato Kenegaraannya tahun ini.

Jika bangsa ini abai, maka beberapa tahun ke depan kita menuai pelayanan yang semakin buruk. Jalan-jalan desa yang sudah puluhan tahun rusak parah tak akan pernah terjamah. Listrik akan padam, air akan mati hidup, serta berbagai hal buruk lainnya akan terjadi. ”Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang seharusnya meningkat pesat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas, menjadi terhambat karena praktik yang tidak terpuji ini,”lanjut SBY.

Buruknya lagi, dengan paham :Hepeng Do Mangatur Negara On”, negeri ini tidak mampu lagi menghargai putra-putri terbaik bangsa yang memiliki intelektualitas, integritas dan kejujuran. Mereka makin lama akan makin tenggelam. Tak ada lagi gunanya anak-anak seperti Harta Dinata, mahasiswa Indonesia yang meraih GPA 4.0 di Amerika Serikat, kalau dia lulus dan ingin kembali ke Indonesia. 

Sekedar mengingatkan, menghapus paham ”Hepeng do Mangatur Negara on”, bukan hal mudah.  SBY mengatakan: ”Memberantas korupsi sebagai kejahatan luar biasa, harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa pula”. Oleh sebab itu, negeri ini membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, jujur, dapat dipercaya, memiliki karakter baik, dan pendirian yang tegas. Bukan justru melebarkan korupsi, seperti yang terjadi sekarang ini. Rakyat menunggu!

 (Dimuat di Harian Batak Pos, 29 dan 30 Agustus 2012)

Rabu, 29 Agustus 2012

Memaknai Sri Mulyani Peringkat 72 Orang Paling Berpengaruh di Dunia, Versi Forbes
(Foto/Int). Sri Mulyani
Oleh : Jannerson Girsang. 
Membaca laporan Majalah Forbes (http://www.forbes.com/profile/sri-mulyani-indrawati/), yang menempatkan Sri Mulyani—nama lengkap Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, di urutan 72 dari peringkat 65 tahun lalu, muncul rasa bangga, sekaligus rasa sedih di hati kami.
Peringkat yang disandang perempuan kelahiran Bandar Lampung 26 Agustus 1962 itu diumumkan dua hari sebelum usianya genap 50 tahun, membuatnya menjadi oase di tengah prestasi anak bangsa yang menurun di berbagai bidang, ditambah lagi korupsinya yang dalam Pidato menyambut Kemerdekaaanya, SBY mengatakan "sudah makin menyebar ke daerah-daerah".

Di sisi lain, muncul rasa sedih, mengapa perempuan yang sejak 1 Juni 2010 lalu menjadi Managing Director Bank Dunia itu harus angkat kaki dari bumi pertiwi ini. Terlepas dari semua kelemahan yang dituduhakan kepadanya, kemampuan Sri Mulyani, sebagai seorang ibu rumah tangga dengan tiga putra putri ini, mengemban tanggungjawab yang besar dalam pekerjaannya, perlu menjadi pelajaran bagi bangsa ini, khususnya kaum perempuan di Indonesia.

Berapa orang diantara ibu rumah tangga Indonesia yang cerdas, dan populer seperti dia?. Dia teladan sebagai seorang perempuan yang cerdas dan tegar, meski diobok-obokpun tetap bersinar, tidak merengek-rengek. "Emas dimasukkan ke dalam lumpur sekalipun, akan tetap jadi emas," mengutip pepatah populer yang tak terlalu jauh menggambarkan sosok Sri Mulyani.

Mengenang Air Mata Sri Mulyani

Secara langsung penulis hanya pernah sekali bertemu dan melihat wajahnya dari dekat. Saat itu Sri Mulyani bersama pakar Marketing Indonesia, Hendrawan Kartajaya, memberi ceramah kepada para staf TELKOM Sumatra, rekan-rekan penulis semasa masih bertugas di KSO TELKOM Sumatra, di sebuah Hotel di Medan pasca Krisis 1998.

Sri Mulyani masih berusia 36 tahun ketika itu. Tetapi cara bicaranya, pengetahuannya, penampilannya luar biasa. Di usia semuda itu, Sri Mulyani tampil dengan sangat berwibawa, menarik, jauh di atas penampilan seusianya.

Itulah pertemuan pertama dan terakhir penulis, tetapi telah menambah kekaguman kami dan terus mengamatinya melalui media. Tragisnya, dua tahun lalu, Sri Mulyani harus mengalami nasib sedih. Saya, dan mungkin jutaan rakyat Indonesia masih bertanya-tanya hingga sekarang, mengapa Sri Mulyani yang kami kenal selama ini seorang yang luar biasa, tiba-tiba terjungkal!.

Dua tahun lalu, saya menyaksikan melalui layar televisi, peristiwa yang tragis, saat Sri Mulyani tiba-tiba melepaskan jabatannya sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia. Konon, peristiwa itu merespon desakan para penentangnya berkaitan dengan dugaan keterlibatannya dalam kasus Century yang heboh itu.

Sri Mulyani menangis dan tak mampu melanjutkan pidatonya. "Saya bisa menangis, karena bukan Menteri Keuangan lagi. Kalau masih menjabat Menteri Keuangan tidak boleh menangis. Rupiah bisa....", ujar Sri Mulyani terbata-bata dalam pidato perpisahannya dengan jajaran Departemen Keuangan Kamis sore 20 Mei 2010, dan kemudian menyerahkan jabatannya kepada Agus Martowardojo.

Hal yang lebih mengharukan lagi adalah di saat Sri Mulyani menghapus air matanya, dan diam sejenak. Para hadirin bertepuk tangan, seolah berkata "Kami mengetahui apa yang ada dalam benakmu. Ayo teruskan berbicara, kami mendukungmu, kami berterima kasih atas karyamu selama ini". Lakon ini membuat kami bertanya-tanya. Begitu banyak pendukung Sri Mulyani, kok?.

Sayang, televisi swasta yang kami tonton tidak menyorot raut wajah para hadirin, sehingga tidak bisa melihat reaksi mereka kecuali suara tepuk tangan. Penulis menyaksikan suasana tepuk tangan simpatik terdengar berkali-kali, saat Sri Mulyani tidak mampu mengeluarkan suaranya karena masih menangis.

Mengamati peristiwa di televise itu, saya berkesimpulan bahwa di mata staf Departemen Keuangan yang dipimpinnya, Sri Mulyani adalah seorang pahlawan yang berhasil. Keluarga besar Departemen Keuangan memandang wanita lulusan doktor ekonomi dari Illinois Amerika Serikat (1992) itu sebagai seorang intelektual handal yang telah membuat perubahan di Departemen itu. Buktinya, semasa menjabat, Sri Mulyani pernah dinobatkan menjadi Menteri Keuangan Terbaik di Asia.

Hal menarik lainnya, suaminya Tonny Soemartono yang bagi orang yang tinggal di daerah seperti kami, hampir tak pernah terlihat tampil di media, sore itu bisa kami saksikan. Seorang pria berwibawa yang tampil dengan stelan jas, berambut putih, mendampingi ibu dari tiga anak-anak, Dewanta Illina, Adwin Haryo Indrawan dan Lukman Indra Pambudi ini.

Sebuah spanduk bertuliskan, "I’ll be Back", terpampang di salah satu sudut ruangan saat dia menyampaikan pidatonya. Entah apa maknanya hanya mereka yang memasangnya yang tau. Mungkinkah Sri Mulyani kembali ke tanah air, biarlah rumput yang bergoyang menjawabnya.

Wanita Pertama Indonesia Menjabat Managing Director World Bank

Sri Mulyani adalah salah satu tokoh terkemuka perempuan Indonesia yang mampu berkiprah dengan keahliannya dan dikenal luas di negerinya dan manca negara semasa usianya yang relatif muda. Kegiatannya mencakup dosen, peneliti, penulis kolom di berbagai media nasional maupun asing, bekerja di lembaga internasional, serta menjabat berbagai jabatan penting di pemerintahan.

Di usia tigapuluhan, lulusan Universitas Indonesia 1986 ini, diawali menjadi Dosen Asisten Pengajar Fakultas Ekonomi di almamaternya (1985-1986), Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA, (1990 – 1992), Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS (1994 – 1995), Anggota Kelompak Kerja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan – BKKBN (1995), Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk, Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN, (Mei – Desember 1995). Selain itu Sri Mulyani aktif dalam berbagai penelitian.

Dia kerap muncul di seminar-seminar. Di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001), Sri Mulyani menjadi penasehat pemerintah bersama sejumlah ekonom terkemuka dalam wadah Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Bahkan pada 2001 sempat disebut-sebut sebagai seorang yang akan duduk sebagai Menteri, karena dekat dengan Megawati. Tetapi, dia hijrah ke Atlanta Amerika dan bekerja di lembaga bantuan milik Pemerintah AS, USAid dengan program otonomi daerah untuk perkuatan institusi di daerah. Tadinya hanya untuk satu tahun, tetapi diperpanjang dua tahun karena tenaganya masih diperlukan untuk konsultasi pengelolaan program USAid dalam bidang desentralisasi.

"Ia primadona yang cerdas, jelita dan populer. Analisisinya kritis, lugas dan jernih. Kiprahnya sudah teruji di birokrasi dan lembaga internasional. Kurang dari empat tahun tiga jabatan menteri disandangnya, setelah sebelumnya menjadi konsultan di USAID dan Executive Director IMF" demikian situs www.tokohindonesia.com memberi penilaian bagi Sri Mulyani.

Situs terkemuka yang mempublikasikan tokoh Indonesia itu menyebutnya disenangi banyak orang di dalam dan di luar negeri. Tak heran bila pada Oktober 2002, saat dirinya berusia 40 tahun, Sri Mulyani terpilih menjadi Executive Director Dana Moneter Indonesia (IMF) mewakili 12 negara Asia Tenggara (South East Asia/ SEA Group), menggantikan Djojosubroto. ini menjadi perempuan pertama Indonesia yan menduduki jabatan itu.

Kiprahnya di Kabinet dimulai saat Soesilo Bambang Ydhoyono menjabat Presiden Republik Indonesia periode pertama (Kabinet Bersatu Jilid I). dalam usia 42 tahun, Sri Mulyani diangkat menjadi Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan cabinet Bersatu Jilid I, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, karena Boediono menjadi Direktur Bank Indonesia.

Masa jabatan Presiden SBY kedua, Sri Mulyani kembali ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, namun harus berhenti di tengah jalan.

Jangan Salah Menilai, dan Asal Membenci

 
Tahun lalu, saat merespons prestasi Sri Mulyani di peringkat 65 orang paling berpengaruh di dunia, Kompasiana menerbitkan artikel berjudul: "Sri Mulyani, di Dunia Dihargai di Indonesia Dikebiri".

Sejak 1 Juni 2012, Sri Mulyani, menjadi wanita pertama Indonesia yang menjabat Managing Director Bank Dunia. Sebagai Managing Director, dia mengawasi operasi Bang Dunia (World Bank) di Asia dan Afrika, Eropa, Amerika Latin dan Timur Tengah.

Tahun ini, Forbes memberi catatan tentang Sri Mulyani. "Sri Mulyani Indrawati has served as managing director and the most senior woman at the World Bank since May 2010, a constant in the organization’s leadership as Jim Young Kim assumed the presidency in July 2012. As managing director, she oversees the World Bank’s operations in Asia and Africa, Europe, Latin America and the Middle East. Indrawati’s ongoing attention at the World Bank to middle-income countries such as Indonesia and the BRIC nations as a source of power and needed reform draws from her experiences as the Indonesian Minister of Finance from 2005 to 2010. While minister, Indrawati cut Indonesia’s debt in half and helped the reserves reach an all time high of $50 billion".

Mari kita belajar berfikir jernih. Kalau Forbes memberikan Sri Mulyani ranking 72 manusia paling berpengaruh di dunia, bagaimana penilaian bangsanya sendiri? Bagi para penyelenggara negeri ini, tuntaskan segera kasus Century. Berikan penilain yang objektif kepada Sri Mulyani Kalau memang Sri Mulyani bersalah, silakan jatuhkan hukuman yang seberat-beratnya.

Sebagai rasa simpati, bagi Sri Mulyani, artikel ini menitipkan ungkapan Mother Theresia, wanita pekerja sosial yang terkenal di jagat ini. "Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud tersembunyi di balik perbuatan baik yang engkau lakukan itu. Tetapi tetaplah berbuat baik". Selamat buat Sri Mulyani dan teruslah berbuat baik.
Dimuat di Harian Analisa Cetak: 29 Agustus 2012 Halaman 25

Catatan: Artikel ini menjadi berita terpopuler di http://www.analisadaily.com. Kisah Sri Mulyani cukup menarik bagi pembaca Analisa Online. Berikut urutan ranking 15 berita terpopuler di situs itu. 


Artikel ini menjadi berita terpopuler di Analisa Online: (Selama kurang lebih 24 jam, sejak diposting menjelang tengah malam 28 Agustus, hingga pukul 23.48 WIB, 29 Agustus 2012):

Menpora Pastikan Tak Ada Penundaan PON (119)

Bacaan lanjutan:  http://www.dw.de/rahman-tolleng-menjadi-sosialis-dan-mendukung-sri-mulyani/a-16722666 (update 6 April 2013)

Selasa, 28 Agustus 2012

Menulis Kisah Masa Kecil
Mimpi Naik Kereta Api 

Oleh : Jannerson Girsang

 

Di sela-sela menulis artikel atau buku biografi orang lain, biasanya saya menulis hal-hal ringan. Kali ini kenangan-kenangan hidup saya di masa kecil soal naik kereta api.

Bagi saya, saat ini merangkai kisah masa kecil adalah latihan berkreasi untuk penulisan selepas berfikir tentang hal yang membosankan atau membahas  hal-hal yang berat.

Silakan dinikmati!

Rasa kecewa karena janji  naik kereta api tidak ditepati, masih membekas hingga sekarang. Pernahkah anda bermimpi naik kereta api, dan di usia berapa mimpi itu terwujud? Saya sudah bermimpi naik kereta api sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, tapi baru terwujud ketika saya berusia 17 tahun.

Guru Sekolah Dasar yang juga adalah ibu saya, mengajarkan Lagu ”Naik Kereta Api” di kelas 2 atau kelas 3, akhir 1960-an."Naik kereta api..tut...tut..tut. Siapa hendak turun. Ke Bandung Surabaya..".  

Syairnya sederhana, riang dan mudah dinyanyikan. Semua anak pasti mampu menyanyikan lagu itu. Bagi saya, lagu itu menginspirasi bermimpi naik kereta api.

Rasa penasaran naik kereta api begitu besar, setiap kali kami menyanyikan lagu berirama Andante itu. Maklum, Desa yang terletak 100 kilometer di Selatan Medan, hanya memiliki kereta yang ditarik lembu atau kerbau. Saya sendiri memiliki kereta kerbau. Setiap pagi saya gunakan mengangkut barang ke ladang, sebelum berangkat ke sekolah.

Bukan tidak pernah orang tuaku membawa jalan-jalan ke  Pematangsiantar atau Medan, dimana kereta api sudah beroperasi sejak abad ke-19, tetapi saya tidak pernah punya kesempatan naik kereta api. Paling-paling dari jauh melihat kereta api yang berhenti di stasion.

Mimpi naik kereta api hampir saja terwujud, ketika menginjak 12 tahun (1973), selepas ujian akhir dikelas  6 SD. Sekolah kami melakukan darma wisata dengan bus Simas, dari desa Nagasaribu berkeliling melintasi Brastagi-Medan-Pematangsiantar-kembali ke kampung kami, sejauh 300 kilometer lebih

Sebelum berangkat, guru kami menjanjikan akan mengusahakan agar kami bisa naik kereta api. Wow...!

Rasa kagum  muncul ketika pertama kali melhat kereta api berjalan di atas rel. Di beberapa ruas jalan Medan-Pematangsiantar, kami  menyaksikan kereta api melintas di atas rel yang kadang sejajar dengan bus yang kami tumpangi.  Suatu ketika kami harus berhenti saat kereta api lewat. Saat seperti itu kami bisa lebih dekat melihat kereta api, apalagi bus berhenti dekat palang kereta api.

Ingin rasanya berada di gerbong berbentuk kotak itu. Berjalan bersama ratusan penumpang.  Gerbongnya beberapa kali lebih besar dari gerobak kereta lembu/kerbau di kampung kami.

Puluhan gerbong  mengangkut ratusan  penumpang. Sesekali kami juga menyaksikan kereta barang yang mengangkut kelapa sawit. Pasti banyak sekali yang bisa diangkut. Jauh beda dengan di desa kami dimana hanya ada kereta ditarik dengan kerbau. Kapasitasnya paling-paling 300-400 kg barang. Hanya digunakan mengangkut keluarga 5-6 orang ketika pulang dari ladang.

Sama dengan perasaan saya, teman-teman juga kagum. ”Jam berapa kita naik kereta api,”ujar seorang teman menagih janji guru kami.

Tau nggak, janji guru membawa kami naik kereta api, ternyata tidak ditepati. Kita sangat kesal. Mungkin beliau hanya berjanji, tetapi bagi kami murid-murid sudah seperti mimpi. Bahkan hingga kami tiba di kampung malam hari, mimpi itu tidak pernah terwujud.

Sejak itu, guru kami diberi tambahan nama: Guru Janji Koling!.

Pelajaran bagi orang tua. Kita tidak boleh menjanjikan sesuatu kalau tidak ditepati. Rasa kesal itu membekas sampai waktu yang lama.

Buat anda tau mimpi itu baru terwujud, saat saya pindah sekolah ke SMA 22 Jakarta, sekitar 1978. Mimpi anak desa selama bertahun-tahun, ternyata sudah jadi kebiasaan bagi orang Jakarta.

Punya mimpi naik kereta api di masa kecil?. Masukkan dalam otobiografi anda!

Sabtu, 25 Agustus 2012

Lea Willsen: "Jangan Berdiri di Luar Pagar"


 
(Analisa/istimewa) Dari kiri ke kanan: Erlina Sari (istri penulis), penulis dan Lea Willsen.

Oleh: Jannerson Girsang. 

 "Selamat pagi, Pak. Saya Lea. Hari ini mau bertemu ya? Tapi sepertinya hari ini tidak bisa Pak. Hari Senin-Jumat biasanya keluarga kerja sampai malam dan tidak ada yang buka pintu. Bagaimana kalau hari Sabtu ini jam 10 pagi saja?". Itulah bunyi sms dari Lea Willsen saat memastikan pertemuan kami Sabtu 11 Agustus 2012.

Siapa tidak kenal laki-laki berusia 23 tahun itu. Seorang penulis buku Teknik Dasar Blogspot untuk Blogger Kreatif, menulis artikel, cerpen, membuat illustrasi gambar di berbagai media. Hati saya terharu karena Lea bukan orang seperti saya yang sehat walafiat. Dia adalah seorang yang memiliki keterbatasan fisik, tetapi memiliki prestasi luar biasa.

Dia tidak sempat mengenyam pendidikan formal walau di Sekolah Dasar sekalipun, apalagi lulusan perguruan tinggi. "Saya belajar dari kakak-kakak saya dan saudara-saudara dan selebihnya dengan membaca dan searching di internet," ujar Lea. Kisah Lea Willsen mengajarkan kita memaknai keterbatasan dengan bersyukur dan belajar terus menerus agar tidak berada di "luar pagar".

Illustrator, Desain Kaver dan Penulis


"Manusia dikenal bukan karena tubuhnya sehat atau sakit, cacat atau sempurna. Mereka dikenal dari karya-karya mereka yang bermanfaat bagi orang lain," kata Lea di awal pembicaraan kami di rumahnya di bilangan Jalan Duyung Medan.

Ungkapan di atas setidaknya memberi visi Lea yang sesungguhnya. Dia ingin dirinya dinilai dari karya-karyanya, bukan dikasihani karena kelemahan fisiknya. Dari ruang kerjanya di rumah Koppel, Lea bekerja dan meluncurkan pemikiran-pemikirannya kepada dunia sekelilingnya.

Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya Lea tidak mempunyai banyak pilihan pekerjaan. Tapi itu tidak membuatnya larut dalam kesedihan atau rasa putus asa akibat cacat yang dimilikinya.

Awalnya, Lea bekerja sebagai illustrator free lance berbagai media cetak dan desain kaver. Di luar pekerjaan sehari-harinya itu, saat memasuki usia enambelas tahun, yakni pada 2007, Lea menceburkan dirinya dalam dunia tulis menulis dan aktif menulis fiksi di berbagai media.

Karya-karyanya meluncur tahun demi tahun. Lea menerbitkan buku antologi puisi "Suara-suara Adam" bersama para sastrawan dari 4 negara Asia Tenggara (Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam), awal 2010. Kemudian menyusul antologi puisi "Simfoni Imaji" (12 Mei 2010) dan antologi prosa dan puisi "Imagine of Souls" bersama para sastrawan Sumatera Utara (27 Juli 2010), antologi puisi solo "Apollo’s Tears" (Maret 2011).

Pada 2011, Lea, meluncurkan buku Teknik Dasar Blogspot untuk Blogger Kreatif yang diterbitkan Elex Media Komputindo, Jakarta. Tak banyak lelaki normal seusianya di Medan menulis buku tutorial teknologi oleh penerbit terkenal dari Jakarta, Elex Media Komputindo. Lea bukan lulusan perguruan tinggi, padahal buku yang ditulisnya adalah pengetahuan baru di era internet. Tutorial Blogspot!.

Secara rutin, Lea juga diminta mengisi sebuah majalah agama Buddha dengan keahliannya membuat illustrasi gambar dari sebuah cerita. "Saya membuat gambar-gambar untuk sebuah cerita yang sudah ada," ujarnya. Selain itu Lea aktif mengisi kolom remaja di Harian Analisa, serta menulis artikel di rubrik Opini.

Catatan kami yang terakhir, dalam menyambut Hari Ulang Tahun RI ke-67, 17 Agustus 2012, Lea menulis sebuah artikel berjudul: "Bersatu untuk Satu Tujuan" (Analisa, 16 Agustus 2012). "Kita semua memiliki jiwa dan kekuatan masing-masing. Jangan hanya mau menggerutu dan bergantung kepada ‘lokomotif’. Satukanlah jiwa dan kekuatan kita untuk tiba pada satu tujuan!"

Lea juga mengelola blog:

http://myartdimension.blogspot.com,tempatnya menuangkan pikiran-pikirannya. Artikel-artikel yang ditulisnya seputar tutorial blog dan karya-karya sastranya.

Meski keluar rumah merupakan barang mahal bagi Lea, tetapi kemampuannya memonitor perkembangan sungguh mendapat acungan jempol. Dia rajin mengikuti perlombaan-perlombaan. Pada 2012 Lea memenangkan tempat kedua penulisan program Opera 12.

Jangan di Luar Pagar dan Belajar Bertahap


Secara kreatif, Lea menempatkan diri dengan tepat dan memanfaatkan bantuan orang-orang di sekelilingnya. Dia memanfaatkan peluang dari kemajuan teknologi yang dapat menghilangkan batas-batas yang menghalanginya berhubungan dengan dunia luar. Melalui internet—yang disebutnya sebagai "rumah mewah" Lea menemukan "kunci" dan membukanya menjadi sebuah sumber pengetahuan yang tak terbatas.

Kesabaran dan kejelian menilai potensi diri dan peluang yang ada merupakan kunci keberhasilan Lea. Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, dia tidak mungkin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan banyak perpindahan tubuh. Dia harus tinggal di rumah, tetapi bukan menjadi penonton di tengah kemajuan zaman.

Lea mengisahkan pengalamannya. "Jangan Berada di Luar Pagar dan Belajar Bertahap,"ujarnya

Lea menyebut berada di "luar pagar", ketika dirinya belum menguasai komputer dan internet. Kesadaran ini mendorongnya belajar secara bertahap hingga mampu berprestasi seperti sekarang ini.

Dia belajar dan menemukan talentanya, hal-hal yang bisa dikerjakannya. Awalnya dia membuat gambar atau ilustrasi secara manual. Itulah kondisnya sebelum 2007, saat dirinya belum menguasai teknologi komputer dan internet.

"2007 saya membeli sebuah komputer, 2008 belajar menggunakan apa yang disebut email, dan akhir 2010 coba belajar membuat blog, dan kemudian membuat tutorial tentang blog", ujarnya di buku Teknik Dasar Blogspot untuk Blogger Kreatif.

Tapi tunggu dulu. Lea punya pengalaman unik, ketika belajar komputer dan internet. Pengalaman yang mengajarkan kita bahwa belajar bukan instan, tetapi harus melalui tahap demi tahap.

Suatu ketika, saudara sepupunya dari Taiwan berkunjung ke rumahnya dengan mengajak seorang teman yang mahir menjalankan program Photoshop. Saat itu dirinya belum tau apa-apa tentang komputer, baru bisa menggambar secara manual.

"Dia mengajar saya untuk on-off komputer. Tapi baru belajar on-off, keinginan saya sudah mau buat desain gambar. Saat itu saya sampai tidak bisa tidur, ingin secepatnya mempraktekkan sesuatu. Padahal dasarnya saja saya belum tau"ujarnya.

Pengalaman itu memberinya pembelajaran bahwa belajar sesuatu harus tahap demi tahap. "Orang bisa belajar kalau melalui tahapan-tahapan yang benar. Kita semua mampu asal kita mau langsung memulai langkah-langkah pertama, kedua, dan seterusnya hingga tiba pada pencapaian yang diinginkan,"ujar Lea yang menyukai novel .

Kemauan kerasnya untuk mencapai sesuatu, belajar tahap demi tahap merupakan proses yang harus dijalaninya, sehingga Lea tidak menjadi penonton di tengah perkembangan zaman ini.

Kepahitan dan Rasa Syukur


Bagi Lea, pengalaman pahit akan menjadi indah, tergantung orang melihat kepahitan itu. "Semua orang punya pengalaman pahit.Hidup pasti ada yang pahit. Tetapi, tergantung kepada cara kita memaknai kepahitan itu. Orang yang pesimis akan melihat persoalan kecil sepertinya besar. Tetapi orang yang bersyukur selalu berdoa dan berserah kepada Tuhan," ujarnya.

Di balik sukses yang dicapainya, Lea mengalami sejumlah kisah pahit dalam hidupnya. Tak seorangpun menyangka kalau Lea harus mengalami cacat di tubuh bagian bawah. Pasalnya, sejak lahir sampai berusia beberapa bulan, Lea tumbuh sebagai anak yang normal.

"Awalnya, dia tumbuh sebagai bayi normal lainnya. Tapi setelah berusia beberapa bulan, kakinya tidak tumbuh normal dan kepalanya tidak bertenaga," ujar ibu Lea pagi itu.

Cobaan tidak berhenti pada kondisi kelainan fisik itu. Dalam keadaan butuh kasih sayang dari seorang ayah, justru Lea kehilangan lelaki yang sangat mencintainya itu dalam usia 49 tahun. Saat itu, usia Lea baru 10 tahun.

Dalam kondisi itu, Lea harus dirawat dan dididik seorang ibu yang single parent, disamping harus membesarkan kakak-kakaknya Lilys, Liwis dan Liven yang ketika itu masih dalam usia sekolah.

Bukan hal yang mudah merawat anak seperti Lea. "Kami harus terus menerus mengawasinya, memperhatikan waktu istirahat, dan merawat kesehatannya supaya tetap prima,"ujar Ibu Lea.

Di saat kariernya mulai bersinar, tragisnya, pada 2010 Lea jatuh sakit dan cukup parah. Padahal, saat itu dia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. "Saya berdoa dan berharap supaya bisa melakukan sesuatu. Setelah saya sembuh, saya kembali bisa melakukan banyak hal yang berguna bagi orang lain," ujar pencinta penulis novel Ilana Tan ini.

Dia tidak menutup diri, meski dalam keterbatasan. Secara tekun Lea belajar mengatasi persoalan akibat keterbatasan itu. "Saya punya sahabat-sahabat untuk berbagi. Saya punya hobbi yang sama dengan kakak saya Liven. Menulis dan membaca. Dia banyak mengajar saya. Sepupu-sepupu saya juga banyak berbagi pengetahuan," ujar Lea.

Lea beruntung karena ibunya dan ketiga kakaknya terus memberinya semangat dan bangga memiliki dirinya. "Saya bangga punya anak seperti Lea Willsen karena dia pintar. Saya tetap sabar, dan penuh harapan pada anak saya," ujarnya.

Sejak kecil Lea diasuh kakak-kakaknya Lilys, Liwis dan Liven. Mereka menjadi guru utama baginya. Mengingatkan kita pada guru Anne Sullivan yang mengajar Heller Keller yang buta dan tuli sejak usia 19 bulan, hingga akhirnya menjadi orang terkenal. Karena kondisi fisiknya, Lea tidak bisa mengikuti pendidikan formal dan hanya memperoleh pengetahuan dan bimbingan dari kakak-kakaknya atau saudara-saudaranya. "Kakak Liven adalah partner saya menulis. Dia juga banyak mengajar Matematika dan pengetahuan yang lain,"ujarnya. Liven Riawaty adalah seorang penulis yang karya-karyanya banyak dimuat di harian Analisa.

Bahkan sampai sekarang, kakaknya Liwis membuat agenda tersendiri untuk Lea. "Setiap minggu saya ke rumah mengunjunginya. Saya bangga punya adik seperti Lea. Dia pintar," ujar Liwis yang turut mendampingi Lea dalam pertemuan kami. Liwis adalah kakak Lea nomor dua, sudah berkeluarga dan tinggal di bilangan Gatot Subroto Medan.

Bersyukur adalah kata kunci bagi Lea untuk meraih prestasi dan rasa bahagia atas prestasinya. "Saya bersyukur karena mama saya dan ketiga kakak saya, keluarga dan teman-teman selalu memotivasi saya,"ujar Lea.

Di sebuah sudut blognya Lea menitip pesan dari kutipan Helen Keller: "Happiness cannot come from without. It must come from within. It is not what we see and touch or that which others do for us which makes us happy; it is that which we think and feel and do, first for the other fellow and then for ourselves. (Helen Keller)" Apa yang membuat kita bahagia adalah kalau kita melakukan sesuatu untuk orang lain lebih dahulu, baru untuk kita. Baca juga: Siapakah Lea Willsen? (Analisa, 21 Agustus 2011)***

1. Penulis Biografi, berdomisili di Medan
 (Dimuat di Harian Analisa, 25 Agustus 2012 Hal 26) 

Beberapa hari yang lalu di FB kakaknya Liven Rianawaty, saya membaca Lea Wilsen sakit. Semoga dia tetap bersemangat dan tegar menghadapi hidup. Teman-temanmu semua mendukungmu Lea. I pray for you tonight before I go to bed! 

"Tuhan saat ini Lea sedang berbaring lemah. Saya tidak tau keadaannya, tetapi Tuhan pasti akan tetap memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Ya Bapa, lindungilah temanku yang baik dan pintar ini. Dengan segala kelemahan yang Tuhan berikan kepadanya, dia mampu bersyukur. Hanya satu permintaannya. "Setelah saya sembuh, saya kembali bisa melakukan banyak hal yang berguna bagi orang lain,", seperti diucapkannya dalam pertemuan kami yang terakhir. Tuhan kami sangat membutuhkan dia sebagai teladan seorang yang senantiasa bersyukur, apapun yang Tuhan berikan kepadanya. Kami serahkan seluruh keberadaannya, kami memohon yang terbaik untuknya. Amen!".  (01.00 dinihari, 6 Peberuari 2014)