My 500 Words

Minggu, 16 Februari 2014

Raih Gelar Doktor di atas Usia 90.

Hermain Tjiknang (91) mengikuti prosesi wisuda menggunakan kursi roda di Graha Sanusi Unpad, Jalan Dipati Ukur, Bandung, Selasa (4/2/2014). Peraih gelar doktor Ilmu Hukum kelahiran Muntok, Bangka, 26 Juni 1922 ini tercatat sebagai wisudawan tertua. ( http://www.tribunnews.com/regional/2014/02/05/wisudawan-tertua-tetap-semangat-belajar-di-usia-91-tahun-7-bulan).


Wisudawan Tertua, Tetap Semangat Belajar di Usia 91 Tahun 7 Bulan


Sebelumnya, orang tertua di Indonesia yang meraih gelar doktor adalah Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, S.S., M. Hum, pendiri PT Mustika Ratu Tbk yang meraih gelar doktor pada usia 87 tahun di 2013. Mooryati Soedibyo sekaligus berhasil meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai peraih gelar doktor tertua di Indonesia. (http://www.rahardiansya.com/2013/12/inilah-manusia-tertua-peraih-gelar.html).



Seorang kakek yang ikut bertempur di Perang Dunia II akhirnya meraih gelar doktor ketika usianya menginjak 90 tahun. Eric Woolf, pria yang dulunya bekerja sebagai guru ini, kembali kuliah dan meraih gelar doktor di bidang pendidikan dari Lancaster University, Inggris, nyaris setelah 74 tahun meninggalkan bangku sekolah.(http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131214_pendidikan_kakek_lulus.shtml.)

fresh grad man



Selamat Hari Minggu. 

Luar biasa semangatnya. Mari, mari belajar, belajar tentang kehidupan. Tidak semua bisa meraih doktor, tapi tidak perlu gelar doktor untuk mampu menghargai sesama dan mencerdaskan sesama!.

16 Pebruari 2014.

Sabtu, 15 Februari 2014

SBY Terburu-buru Bilang Tidak Ada Korban Tewas di Kelud

TVOne (21.25) malam ini memberitakan korban meninggal akibat letusan Gunung Kelud berjumlah enam orang.

Hingga pukul 19.00 hari ini BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) masih mengklaim empat orang meninggal. Padahal, sehari sebelumnya, SBY dengan bangganya mengatakan tidak ada yang tewas.

Para staf Presiden SBY sangat lambat mengumpul informasi. Media malah lebih dahulu mengetahui apa yang terjadi. Kasihan Presiden SBY.

Menuruti Arahan Pemerintah, Nihil Korban Jiwa?

Orang nomor satu di Indonesia ini terlalu terburu-buru menyampaikan informasi bencana yang masih mentah ke media.

Inilah sebagian statemen SBY kemaren.

"....satu hal yang kita syukuri......bahwa tidak ada korban jiwa dari letusan yang berskala besar ini. Ini pelajaran berharga yang kita petik. Kalau saudara-saudara kita masyarakat lokal sungguh mematuhi apa yang disampaikan oleh pemerintah, maka sesungguhnya kita bisa mencegah jatuhya korban jiwa yang tidak perlu," kata SBY kemaren, dengan nada datar dan wajah serius di televisi.

Kalau saya Humas Presiden tidak akan membiarkan SBY terlalu cepat memberikan statemen "tidak ada yang meninggal". Kalau saya Presiden akan saya katakan: "Hingga saat ini belum diketahui jumlah korban tewas. Masih dalam penelitian di lapangan".

Maksudnya mungkin supaya dibilang hebat!. Memang hebat, kalau seandainya tidak ada korban jiwa di Kelud. Sinabung saja hanya skala jauh lebih kecil, jatuh korban 14-16 orang.

Tapi benarkan pernyataan itu hari ini?. Kalau ada rasa malu, harusnya hari ini Presiden membuat siaran pers lagi dan mengatakan:

"Kami salah dan meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga korban, karena terlanjur kemaren mengatakan tidak ada korban jiwa".

Tapi mungkin juga SBY yang terlalu bersemangat. Setelah merasa dirinya diobok-obok di Sinabung, kali ini mau menunjukkan kehebatannya.

Ini terlihat dari sikapnya yang bersykur dan mengatakan tidak ada yang tewas, dan memuji kinerja anak buahnya dalam bencana ini. Lihat pidatonya di video ini. http://www.youtube.com/watch?v=AGxpTNQBXXg.

Pernyataan yang fatal adalah bagian terakhir dari kutipan di atas .

Orang bisa menafsirkan kalau beliau secara tidak langsung menyindir penduduk Sinabung yang meninggal 14 orang, seolah karena tidak mematuhi arahan pemerintah. Mudah-mudahan penduduk Sinabung tidak protes!.

Pernyataan SBY Mentah Kurang dari 24 Jam

 
Pernyataannya seorang Presiden mentah hari ini!. Kasihan pak SBY. Jadi salah melulu.

Hari ini, menurut Sutopo, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, informasi yang menyebut ada 7 korban tewas akibat letusan Gunung Kelud tidak benar. BNPB telah melakukan pengecekan ke lapangan dan memastikan korban tewas hanya 4 orang. Tidak benar kalau erupsi Gunung Kelud tidak menelan korban jiwa. 

"Ada beberapa korban yang dihitung 2 kali dengan nama sebutan yang berbeda," ujar dia. 4 Korban tewas itu adalah Pontini atau dipanggil Mbok Nya (60) perempuan warga Dusun Plumbang, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Pontini mengalami sesak napas akibat abu vulkanik." kata Sutopo hari ini.

Sementara Republika.co.id memberitakan enam orang tewas. "The information board in Pujon Disaster Post of Malang District, East Java Province noted that six deaths have been reported in a number of villages in Ngantang Sub-district," (Posted, Saturday, 15 February 2014, 13:53 WIB)

Juru bicara dan pengumpul informasi harus jelas Pak Presiden. Jangan ngomong dulu sebelum validasi di lapangan.

Malu kan?. Mudah-mudahan masih ada rasa malu, supaya berubah. Semoga!


Medan, 15 Pebruari 2014 

Kelud Meletus!


22.50, tanggal 13 Pebruari 2014, bencana yang jauh lebih besar dari erupsi Gunung Sinabung terjadi di Gunung Kelud, Jawa Timur, Indonesia, dengan ketinggian muntahan 17 kilometer ke udara.

Menurut seorang ahli geologi, lebih dari 150 juta meter kubik abu vulkanik, kerikil dimuntahkan ke udara, menutupi sebagian wilayah Jawa Timur,Jawa Tengah dan Jawa Barat. 60 ribu orang mengungsi, 271 penerbangan ke berbagai bandara di Jawa ditutup.

 

Kita masih beruntung. Hingga malam ini, bencana besar ini tidak menimbulkan korban jiwa. (Sesuai dengan siaran pers Presiden SBY). Pelajaran berharga bagi bangsa ini, betapa pentingnya menuruti arahan pemerintah.

Seluruh masyarakat Indonesia turut bersimpati dan prihatin atas musibah yang menimpa sesama bangsa. Presiden mengajak agar mereka yang berlebih bantu korban bencana.

"Bantulah saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan," kata Presiden SBY saat menghadiri Perayaan Cap Go Meh Bersama ke-7 di JI Expo, Jakarta seperti dikutip dari situs Presiden, Jumat (14/2/2014) malam, kepada kompas.com.

Benar Pak SBY. Kaum berpunya khususnya caleg-caleg dan capres supaya memotong sebagian dana kampanyenya untuk membantu korban.

Para anggota DPR yang pernah bersumpah memotong "gaji"nya untuk Sinabung (saya tidak tau apakah sudah direalisasikan), juga melakukan hal yang sama kepada korban Kelud, Manado, Banjir Jakarta dan seluruh wilayah bencana. (http://www.tempo.co/read/news/2014/01/15/058545150/Bantu-Sinabung-Anggota-DPR-Potong-Gaji).

Tugas anggota DPR jangan dilupakan, membuat legislasi, bukan memberi bantuan. Mereka tidak sanggup melakukan itu. Perhatian kepada korban bencana tidak boleh diskriminatif.

Jadi, para anggota DPR-RI jangan anggar dengan uang pribadinya, hanya karena musim kampanye.

Duka Indonesia.

Tentu bukan orang yang "berpunya saja", tetapi semua masyarakat Indonesia dihimbau untuk mendoakan mereka, dan mengumpulkan bantuan apa saja yang diperlukan pengungsi, sesuai kemampuan masing-masing. Mereka tidak hanya butuh makanan fisik, tetapi juga rasa simpati dan penghiburan.

Bangsa ini memang sedang dirundung malang. Belum lagi korban Sinabung terselesaikan, muncul banjir bandang di Manado, banjir Jakarta dan wilayah lainnya di Jawa, tadi malam muncul lagi bencana baru yang lebih dahsyat.

Kita tidak perlu saling menyalahkan, apalagi menghujat. Bencana seperti ini tidak mudah mengelolanya. Kalau tidak bisa membantu secara fisik, kita mendoakan mereka dari tempat masing-masing.

Pemerintah harus belajar dari pengalaman bencana Aceh, Nias, Yogya, Sinabung, Banjir Jakarta, Manado. Semoga Tuhan memberkati pemerintah kita serta semua yang berkompeten dalam mengatasi kesulitan bangsa kita yang sedang menderita!

Medan, menjelang tengah malam, 14 Pebruari 2014.

Inspirasi Bagi Para Penulis: Kisah Andrea Hirata Sepanjang 2013 (Harian Analisa, 15 Pebruari 2014)


Oleh: Jannerson Girsang.

Andrea Hirata terus melanjutkan prestasi menulisnya di level internasional. Sepanjang tahun 2013, Andrea Hirata, penulis Tetralogi Lasykar Pelangi itu berkeliling menemui penggemarnya di Eropa, Australia dan negeri lain, serta meraih pemenang pertama di New York Book Festival 2013, AmerikaSerikat. Langkah-langkahnya menjadi inspirasi bagi para penulis, jerih payahnya membuat kebanggaan baru bangsa ini.

Dia tidak mengikuti irama para koruptor yang asyik mengelak bagaimana supaya hukumannya “bebas murni”, tidak turut kampanye memasang spnaduk dan “bagi-bagi duit” yang dilakonkan banyak caleg untuk menarik simpati menjelang Pemilu April 2014.

Andrea Hirata bekerja keras meraih prestasi. Prestasi yang meyakinkan penduduk Indonesia bahwa menulis sama seperti profesi lainnya, mampu berdiri sejajar, bahkan politikus ulung sekalipun. Andrea Hirata makin meyakinkan banyak penulis, khususnya penulis muda yang tertarik menulis untuk mengikuti jejaknya.

Laskar Pelangi: Menciptakan Kebanggaan Baru Indonesia

Andrea Hirata membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negeri yang menempati ranking pertama korupsi, gelar yang sangat memalukan dan merendahkan martabat bangsa. Melalui bukunya Laskar Pelangi, Andrea Hirata menciptakan kebanggaan baru Indonesia, setidaknya merehabilitasi gelar memalukan itu. Indonesia memiliki novelis kelas dunia.

Menurut harian Indonensia berbahasa Inggeris, The Jakarta Post (29 Oktober 2013), buku Laskar Pelangi sudah diterbitkan di 100 negara dan diterjemahkan ke dalam sekitar 30 bahasa selain bahasa aslinya, Indonesia. Betapa bangganya memiliki penulis Indonesia yang disambut semarak di luar negeri.

Bagi saya, setiap membaca buku Laskar Pelangi, tidak hanya menikmati buku yang sangat menginspirasi itu, tetapi memuncukkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Jutaan penduduk dunia mencintai buku itu, tidak hanya bangsa di negeriku sendiri. Dunia terhenyak, bahwa ada orang Indonesia yang mampu menulis autobiografi yang dirindukan dunia. Kisah sederhanya yang ditulis dengan hati dan pesan yang universal.

Setidaknya Andrea Hirata menutup aib Indonesia di media-media asin dengan berita koruptor yang masuk ke Pengadilan Tipikor. Berita Indonesia menjadi berbeda. The New York Times misalnya mengisi kisah Lasykar Pelangi yang diterjemahkan The Rainbow Troop di dalam pemberitaaannya. Penjelasan tentang pulau Belitung dirilis dalam harian dengan oplah jutaan eksemplar itu dengan kisah menginspirasi.

Penulis yang hebat mampu menjelaskan cerita menginspirasi dari negeri bernama Indonesia dengan sangat apik. HarianThe New York Times menulis LasykarPelangi (Rainbow Troop) sebagai berikut, “The island of Belitong, Indonesia. Two teachers, Muslimah and Harfan, eagerly await the beginning of the new school year and the arrival of their new pupils. At least ten pupils need to attend their Islamic primary school, otherwise the educational authority will close them down. No wonder they are both nervous. Fortunately, ten students end up registering for school—most of the children being from families of poor day laborers. Muslimah decides to call the group of first graders the “rainbow troops.” Following the children over a period of five years, we observe as these disadvantaged children struggle for the right to make their dreams reality”.

Kecintaan saya, mungkin para pembaca bukuitu, bukan hanya membaca bukunya, tetapi rindu melihatapa saja yang dilakukan penulisnya. Andrea Hirata menjadiidola.Tentu lebih positif, dari pada mengidolakan para “koruptor”, sebagaimana sudah merasuk pikiran para anak muda negeri ini.

Saya sangat senang menonton dialognya di televisi. Dialog Sarah Seehan di TV Net bulan Nopember 2013 merupakan tontonan yang menginspirasi, ketimbang menonton banyak dialog korupsi yang disiarkan berjam-jam, tanpa makna bahkan makin lama makin menyebalkan.

Di sela-sela acara dialog itu ditayangkan televise swasta Indonesia beberapa kegiatan Andrea Hirata sepanjang 2013: Peluncuran buku di Italia, Jerman dan menjadi dosen tamu di Adelaide Australia.

Andrea bekeliling ke Italia untuk menghadiri peluncuran novel Laskar Pelangi edisi Italia yang berjudul La Scuola Ai Confini Del Mondo yang diterbitkan Rizzoli. Usai acara, para pembeli berebut tandatangannya.

Selain menyaksikan orang-orang Italia yang sedang membaca bukunya, saya menyaksikan reaksi pembeli buku orang Jerman dalam bahasa local di Jerman dengan cetakan yang lebih mewah dari aslinya di Indonesia. Tidak hanya orang Italia, orang Spanyol, Jepang, Bulgaria, dan berbagai Negara yang menggunakan bahasa Inggeris.

Wajah mereka menunjukkan rasa kagum. Komentar-komentar mereka sangat membanggakan.“Bagus, bagus sekali bukunya” ujar seorang pembaca dalam bahasa Italia, karena hari itu berlangsung peluncuran buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa negeri seribu kanal itu.

Bangga dengan orang yang membuat dunia bangga. Bukan bangga dengan orang yang membuat rakyat menderita.

Terbaik di New York Book Festival

Hal yang paling mengesankan adalah Lasykar Pelangi, novel yang berlatar kehidupan anak sekolah di era 60-an di pulau Belitung, penghasil timah, mendapat penghargaan di Amerika Serikat. Negeri yang dikenal sangat menghargai prestasi tanpa membedakan latar belakang suku, agama dan ras.

Novel yang dalam edisi Amerika Serikatnya berjudul The Rainbow Troops tersebut terpilih menjadi pemenang pertama untuk kategori general fiction pada festival buku yang sangat bergengsi, yaitu New York Book Festival 2013 yang berlangsung di Hotel Radisson Martinique, 21 Juni2013. Tahun lalu (2012) pemenang kategori yang sama adalah buku Amerika, Patchwork of Me yang ditulis Gregory G. Allen.

Yang lebih membanggakan lagi, karya Andrea Hirata mengungguli penulis AS Samuel Finlay yang hanya terpilih sebagai runner up, dengan karyanya Breakfast with The Dirt Cult di tempat kedua, serta 20 penulis lainnya yang mendapat penghargaan dalam kategori general fiction. Bangga dong memiliki penulis Indonesia seperti Andrea Hirata!.

Prestasi itu sekaligus membuat penulisnya melakukan instropeksi diri, bukan menyombongkan diri..

”Mimpi lamaku agar novelku dapat diterbitkan oleh penerbit-penerbit ternama kelas dunia, seperti Hanser Berlin, Rizzoli, dan Mercure de France, akhirnya tercapai. Rasanya senang melihat novelku dipajang di toko-toko buku di Eropa. Kuharap penulis-penulis muda Indonesia terinspirasi dan tertantang untuk meraih pembaca di seluruh dunia,” kata Andrea.

Hal penting dan menjadi pelajaran bagi penulis di tanah air, adalah ungkapan Andrea Hirata berikut ini. “Ini memberi saya begitu banyak dorongan,”katanya. “Saya sadar bahwa saya sekarang menghadapi audiens internasional canggih, sehingga definisi tertulis saya budaya Indonesia harus diperluas.

Salah satu tantangan adalah menciptakan karakter. Saya mencoba untuk menulis kalimat saya untuk mengungkapkan peristiwa epic terjadi pada orang-orang biasa,” seperti dikutip The Jakarta Post.

Sebuah pemaknaan yang menunjukkan kerendahan hati seorang penulis. Andrea adalah seorang yang sederhana, tidak memoles-moles profilnya seperti banyak dilakukan para caleg menuju Pemilu 2014. Tidak langsung berbusung dada ketika mencapai puncak, tetapi terus menyempurnakan diri, belajar terus menerus memperbaiki kemampuannya.

Selain itu, menurut penulisnya sendiri, sebagian royalty tulisannya akan disumbangkan untuk kegiatan-kegiatan yang mencerdaskan bangsa. Mirip langkah yang dilakukan James Patterson, penulis dengan pendapatan paling tinggi di Amerika Serikat yang banyak membantu masyarakat dunia dari hasil tulisan-tulisannya.

Andrea Hirata pantas menjadi icon penulis Indonesia abad ke 21. Kisahnya menginspirasi para penulis untuk terus mengembangkan diri, belajar tidak henti. Dia telah membuktikan kemampuan penulis Indonesia. Penulis Indonesia itu hebat!. Kuncinya, bekerja keras, belajar dan jangan terus merengek dan mengeluh!. ***

Penulis adalah penulis biofrafi, berdomisili di Medan.

Jumat, 14 Februari 2014

Bertemu Setelah Sekian Tahun Bersahabat di FB

Oleh Jannerson Girsang

Bertemu muka dengan sahabat FB setelah sekian lama bercengkerama di dunia maya membawa kebahagiaan tersendiri. Itulah yang kualami hari ini. Ibarat pacaran dan sudah lama surat-suratan, tanpa diduga bersua di Pelabuhan Belawan.

Hari ini (13 Pebruari 2014) saya bertemu dengan sahabatku di FB Prof Dr Posman Sibuea dan Dr Tiur Gultom dalam sebuah acara seminar proposal penelitiannya Dr Sabam Malau, di gedung Justin, Universitas HKBP Nommensen Medan. Padahal kami sudah sekian tahun akrab di FB.

Setelah lama berbincang-bincang sebelum acara, tiba acara martarombo. Saya sebut marga saya Girsang. Dr Tiur Gultom langsung menyebut nama lengkap saya, : "Pak Jannerson Girsang ya,", katanya.

Ternyata ibu doktor pemuliaan tanaman dari UGM ini pernah menasehati saya jalan keluar saat FB saya dihack orang usil dua tahun lalu. Seperti orang Samaria yang menolong orang yang luka-luka karena kena rampok, padahal belum dikenalnya. Pertolongan yang tulus di dunia maya.

Sementara, dalam waktu berbeda,saat acara berlangsung, saya duduk berhadapan dengan Prof Dr Posman--salah seorang guru besar Sumut paling produktif menulis di berbagai media nasional, berjarak kira-kira 10 meter dan di batasi dua meja dan ruang yang agak luas. Artikel-artikel beliaulah salah satu yang turut mengiinspirasi  terus menulis.
 

 Suatu saat kami beradu pandang. "Pak Jannerson ya", katanya dengan mengacungkan tangan.

Saya mengangguk-angguk, sambil tersenyum. "Prof Posman," kata saya dan kami tertawa dalam hati masing-masing. Sukacita!

Itulah luar biasanya alat komunikasi FB. Jadi, peliharalah dan manfaatkanlah teknologi ini untuk kebaikan.

Saya kira itulah salah satu pemikiran Zuckerberg--pendiri Facebook sepuluh tahun lalu, yang brilian!.

Menjalin persahabatan dengan sebanyak mungkin orang dengan kata-kata yang menginspirasi, kebaikan. Siapa saja bisa melanggengkan persahabatan seolah kita sudah menjadi sebuah keluarga. Dunia akan semakin damai dan penuh cuka cita.

Coba bayangkan kalau FB tidak ada!.

Selamat ber FB ria!.

Terima kasih Dr Ir Sabam Malau yang telah mengundang orang-orang cerdas dan menularkan kecerdasan dan sukacita hari ini. Karyamu akan memberi sukacita dan menyinari banyak orang. Semoga cepat-cepat menjadi professor!

Senin, 10 Februari 2014

Karya-karya Penulis Sumut: LIm Rosni

Arsip Judul-judul Cerpen, Artikel, Puisi, dan Cerbung yang Telah Dimuat di Koran/Majalah.

CERPEN:
  1. Salamah (Analisa, 27-07-1990).
  2. Pak Bun (Analisa, 12-10-1990).
  3. Menggapai Prestrasi (Analisa, 27-11-1990).
  4. Mama (Analisa, 25-01-1991).
  5. Sahabat Tujuh Jam (Analisa, 15-02-1991).
  6. Buku Harian Rindi (Analisa, 02-04-1991).
  7. Tia (Analisa, 14-05-1991).
  8. Kembali Teguh (Analisa, 11-06-1991).
  9. Di Antara Dua (Analisa, 16-07-1991).
10. Putusan (Analisa, 12-08-1991).
11. Lukisan Terakhir (Analisa, 30-09-1991).
12. Krisis Telah Berlalu (Analisa, 11-10-1991).
13. Nyontek (Analisa, 18-10-1991).
14. Kontra si Bengal (Analisa, 25-10-1991).
15. Fiorentina dan Sepakbola (Analisa, 25-11-1991).
16. Gelang (Analisa, 03-12-1991).
17. Cinta yang Dalam (Analisa, 06-12-1991).
18. Kompensasi Diriku (Analisa, 24-12-1991).
19. Kebersamaan Ini (Analisa, 30-12-1991).
20. Sebuah Langkah Awal (Analisa, 13-01-1992).
21. Gagal (Analisa, 04-02-1992).
22. Jangan Ucapkan Selamat Tinggal (Analisa, 07-02-1992).
23. Elegi November (Analisa, 11-02-1992).
24. Dalam Kegersangan Jiwa (Analisa, 09-03-1992).
25. Suatu Hari Antara Aku dan Sam (Analisa, 01-05-1992).
26. Resah Hari Ini (Analisa, 29-05-1992).
27. Kompetisi (Analisa, 02-06-1992).
28. Biarkan Seseorang Tahu (Analisa, 19-06-1992).
29. Memori dan Lakon (Analisa, 07-07-1992).
30. Seindah Persahabatan Kita (Analisa, 21-07-1992).
31. Sandiwara Satu Babak (Analisa, 07-08-1992).
32. Lagu Pilu (Analisa, 02-10-1992).
33. Disibak Debur-debur Ombak (Analisa, 20-10-1992).
34. Hari Ini Kukenal Dian (Analisa, 01-12-1992).
35. Menunggu Sang Elang (Analisa, 05-01-1993).
36. Nopember Membawa Kisah (Analisa, 12-01-1993).
37. Percakapan (Analisa, 29-01-1993).
38. Suatu Malam di Kampus (Analisa, 09-03-1993).
39. Keluarga (Analisa, 30-03-1993).
40. Rick, Tentang Kemarin... (Analisa, 04-06-1993).
41. Jangan Pergi Kasih (Analisa, 08-06-1993).
42. Menanti Bayangan Semu (Analisa, 13-07-1993).
43. Akhir Sebuah Kisah (Analisa, 31-08-1993).
44. Wajah Lugu Bermata Polos (Analisa, 28-09-1993).
45. Gara-gara si Poni Panjang (Analisa, 26-10-1993).
46. Jurang Pemisah (Analisa, 26-04-1994).
47. Janji untuk Lungka (Analisa, 17-05-1994).
48. Mimpi Buruk Telah Berlalu (Analisa, 05-08-1994).
49. Al (Analisa, 09-08-1994).
50. Sebuah Rumah di Tepi Pantai (Analisa, 16-08-1994).
51. Kisah Agustus (Analisa, 20-09-1994).
52. Kembalinya si Anak Hilang (Analisa, 20-12-1994).
53. Pada Malam Bulan Purnama (Analisa, 17-01-1995).
54. Pulang (Analisa, 24-01-1995).
55. Wajah dalam Bingkai (Analisa, 09-1995)
56. Kenangan yang Tertinggal (Analisa, 28-05-1997).
57. Sesuatu yang Hilang (Analisa, 28-02-2002).
58. Ayah (Analisa, 11-04-2002)
59. Kisah di Pulau Pinang (Analisa, 07-11-2002).
60. Penantian Panjang (Analisa, 13-05-2004).
61. Kepergian Sahabatku (Analisa, 15-11-2006).
62. Cheng Beng Tahun Ini (Analisa, 25-04-2007).
63. Mimpi (Analisa, 06-06-2012).
64. Janji di Masa Depan (Analisa, 31-10-2012).
65. Deringan Itu (Analisa, 27-02-2013).
66. Dia yang Hilang (Analisa, 19-06-2013).
67. Tengah Bulan Ketujuh (Analisa, 21-08-2013).
68. Genset (Analisa,16-10-2013).
69. THR (Analisa, 15-01-2014).
70. Cintaku Belum Dikembalikan (WKR Analisa, 09-09-1990).
71. Enam Kosong untuk Arca (WKR Analisa, 21-09-1991).
72. Tina (WKR Analisa, 19-10-1991).
73. Tamu Tahun Baru (TRP Analisa, 15-03-2000).
74. Pecundang (TRP Analisa, 15-12-2001).
75. Ini Angpau atau... (TRP Analisa, 09-06-2002).
76. Cerita si Minah (TRP Analisa, 08-09-2002).
77. Api (TRP Analisa, 21-10-2012).
78. Tiga Puluh Menit (TRP Analisa, 31-03-2013).
79. Siasat Tiga Sekawan (Taman Riang Analisa, 30-08-1992).
80. Tiga Putra Petani (Taman Riang Analisa, 17-11-2013).
81. Anak yang Menyesal (Taman Riang Analisa, 15-12-2013).
82. Warisan (Cerpen Minggu/Rebana Analisa, 28-07-1991).
83. Akhir dari Sebuah Kesetiaan (Cerpen Minggu/Rebana Analisa, 15-01-1995).
84. Kesempatan Kedua (Cerpen Rebana, 24-03-2013).
85. Ironis (Cerpen Rebana, 20-10-2013).
86. Kabut Menjelang Kepergian (Majalah Ria Film, 22/28-08-1990).
87. Gadis Kecil Ridwan (Majalah Ria Film, 06/12-02-1991).
88. Susani (Majalah Ria Film, 03/09-07-1991).
89. Sahabat Kecil (Majalah Ria Film, 25-09/01-10-1991).
90. Sepotong Cinta untuk Rick (Majalah Ria Film, 24/30-06-1992).
91. Masih Seperti Dulukah? (Majalah Ria Film, 15/21-07-1992).
92. Titip Rindu Buat yang Terkasih (Majalah Ria Film, 16/22-09-1992).
93. Lagu Sendu untuk Sam (Majalah Ria Film, 14/20-10-1992).
94. Hujan di Kota Sepi (Majalah Ria Film, 28-04/04-05-1993).

ARTIKEL/OPINI/RESENSI/PROFIL:
  1. Resensi Cerpen "Tembang Tanpa Nada" karya Kwa Tjen Siung (Analisa, 09-11-1991).
  2. Bagaimana Cara Belajar yang Tepat? (Analisa, 29-02-1992).
  3. SMAK Budi Murni-1 Mengadakan Perpisahan (WKR Analisa, 06-06-1992).
  4. Buku Harianku, Buku Harianmu (Analisa, 26-09-1992).
  5. Profil Erni Suriana (WKR Analisa, 07-11-1992).
  6. Profil Tanita Liasna, Mutiara dari Binjai (TRP Analisa, 16-12-2012).
  7. Biarkan Anak Anda Mandiri (Analisa, 03-05-2013).
  8. Profil David Tandri, Penyair dengan Sejuta Isyarat Cinta (TRP Analisa, 9-06-2013).
  9. Mengupas Watak Tokoh Cerpen "Kafe Oriental" (Rebana Analisa, 21-07- 2013).
10. Dimensi Lain (TRP Analisa, 25-08-2013).
11. Waspadai Modus Penipuan (Opini Analisa, 13-11-2013).
12. Kelembutan nan Memukau dalam Shine on Me (Rebana Analisa, 17-11-2013).
13. Guru, Pahlawan dalam Hatiku (TRP Analisa, 24-11-2013).
14. Ada Apa dengan Pengobatan Dalam Negeri? (Opini Analisa, 23-12-2013).
15. Mengenal Hari-hari Besar dalam Budaya Tionghoa (TRP Analisa, 12-01-2014).
16. Legenda Hakim Bao dan Kisah si Kembar dalam Pedang Bao Zheng (Rebana Analisa, 02-02-2014).

PUISI:
 1. Hidup (Analisa, 17-06-1990).
 2. Ballada Anak Gelandangan (Analisa, 05-08-1990).
 3. Pesta Bernoda (Analisa, 07-09-1991).
 4. Chris (TRP Analisa, 08-10-2006).
 5. Seseorang (TRP Analisa, 08-10-2006).
 6. Sayang (TRP Analisa, 15-04-2007).
 7. Kau (TRP Analisa, 22-04-2007).
 8. Bohong (TRP Analisa, 22-04-2007).
 9. Adam dari Kesepian (Medan Bisnis, 27-10-2013).
10. Luka (Medan Bisnis, 27-10-2013).

CERBUNG:
 1. Liku-liku Aline Kecilku (10 episode, TRP Analisa, Nopember 2004 s/d Februari 2005).
 2. Pisau Hati (25 episode, TRP Analisa, Februari 2009 s/d Agustus 2009).
 3. Sebuah Kisah Memori (12 episode, TRP Analisa, September 2011 s/d Januari 2012).

NOVEL:
 1. Sebuah Pembalasan (267 halaman, Penerbit Leutika Prio, terbit Oktober 2011).

Sumber:  https://www.facebook.com/notes/lim-rosni/arsip-judul-judul-cerpen-artikel-puisi-dan-cerbung-yang-telah-dimuat-di-koranmaj/379104348835873?comment_id=65986695&offset=0&total_comments=48&notif_t=note_reply.

Rabu, 05 Februari 2014

Ruliah Haloho: Perempuan Menginspirasi dari Simalungun


Desember 2013 lalu, saya menerima telepon dari Ruliah Haloho. Kaget, karena dipesan menuliskan kesan dalam buku otobiografinya. “Siapa ini,” saya bertanya, karena nomor teleponnya tidak kukenal, tetapi samar-samar ingat suaranya. 

Ternyata yang memanggil adalah Ruliah Haloho. Seorang perempuan Simalungun yang paling kukagumi. Saya sangat senang menuliskannya, walau terasa buru-buru dan saat yang sama saya menulis buku otobiografi seorang tokoh dari Jakarta. 

Usia saya dan Ruliah terpaut sekitar 27 tahun. Perkenalan pertama kami adalah sekitar 1986, saat saya menjadi dosen dan kemudian Rektor di Universitas Simalungun (USI) 1988-1990. Saat itu beliau menjadi anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Simalungun. 

Pertemuan pertama itu membuat kami seolah tiada batas usia dan senantiasa setara membicarakan apapun. Dalam setiap pertemuan dengan beliau, baik di pesta atau acara perayaan gereja, saya selalu mendapat inspirasi dan semangat baru. Beliau adalah seorang perempuan yang bersemangat dan berfikir positif, kreatif dan peduli. Pertemuan terakhir saya adalah Desember 2012, saat putri pertama saya Clara Girsang menikah di Jakarta. Bertemu dengan Ruliah adalah mendapat inspirasi dan semangat baru!. 

Beliau begitu perhatian kepada ketiga putri kami dari almarhum Parker Girsang, dan saudara-saudara saya di Bekasi, tempatnya bermukim sekarang ini. Kepedulian ini juga menular kepada putranya Chrismas Haloho dan putrinya Triana Haloho. Kami jadi seperti saudara. 

Kesan saya  yang paling mendalam adalah ketika kami mengumpulkan dana untuk sebuah perayaan Natal, keluar masuk PTP menemui para pejabat Simalungun yang ada di PTP, bersama inang Damertina Saragih (juga seorang aktivis perempuan Simalungun yang banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial). Saat itu kami pulang sudah malam hari. Tetapi beliau tidak pernah kelihatan lesu. Selalu bersemangat dan membicarakan hal-hal yang bervisi jauh ke depan.

Tahun 1990, saya meninggalkan Pematangsiantar dan bermukim di Medan. Kontak hamper terputus dan saya memang kehilangan inspirasi dari seorang guru dan inspirator. Lama sekali kami tidak bertemu, dan suatu ketika saya memerlukan beliau. Ketika itu, 2004, saya menulis buku “Anugerah Tuhan yang Tak Terhingga” buku biografi Pdt Armencius Munthe, MTh (mantan Ephorus GKPS). 

Ketika diinformasikan beliau salah satu yang ditunjuk Pdt A Munthe mengisi kesan dan pesan dalam buku itu, saya makin meyakini bahwa inang ini adalah orang yang istimewa di GKPS. Saya memiliki kesan lebih mendalam tentang kiprahnya di GKPS. Seorang yang mampu belajar cepat dan memiliki kemauan maju yang luar biasa. Kesan saya, beliau mengerjakan sesuatu tuntas dan tepat waktu. Kata-katanya menginspirasi dan tidak pernah meremehkan orang lain.

Ruliah adalah contoh perempuan desa Simalungun yang dengan kegigihannya telah menempatkan dirinya unggul di zamannya. Dari seorang guru menjadi anggota DPRD, serta peduli kepada perkembangan Simalungun. 

Semoga buku ini menjadi inspirasi bagi perempuan Simalungun, dan masyarakat Simalungun pada umumnya. 

Selamat Ulang Tahun ke 79 dan semoga sehat selalu dan tetap berkiprah sebagai inspirator di tengah keluarga, gereja dan masyarakat.  

Medan, Januari 2014.
St Ir Jannerson Girsang

Selasa, 04 Februari 2014

Syamas Inah Br Sembiring: Empat Belas Tahun Merawat Suami dan Menjadi Tiang Ekonomi Keluarga

Oleh: Jannerson Girsang

Bagi seorang ibu muda, empat belas tahun merawat suami yang sakit, dan menjadi tiang ekonomi keluarga beranak dua, bukan hal yang mudah. Membutuhkan kesabaran, ketekunan, pengharapan dan pemaknaan hidup yang positif.

Kisah dibalik meninggalnya Daulat Sitopu—salah seorang jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simalingkar, Medan,  menjadi teladan berharga bagi para jemaat yang menghadiri acara pangapohon (penghiburan) malam ini (27 Mei 2013).

Rumahnya  tipe 21 di Jalan Jahe, Perumnas Simalingkar malam ini (27 Mei 2013) menjadi saksi betapa Tuhan senantiasa menguatkan dan memberkati umatNya yang setia di jalanNya dan mengerjakan pekerjaan secara benar.

Disaksikan kedua putra putrinya, serta sekitar 30-an jemaat, Inah berkisah dengan bersemangat, walau sesekali tak dapat menahan harunya dengan meneteskan air mata.

Begitu memilukan bagi Inah, pagi 15 Mei 2013. “Saya ketika itu pergi ke pajak membeli sarapan suami saya . Tetapi, setibanya di rumah, saya menemukan suami saya tidak bernyawa lagi. Saya menangis sejadi-jadinya dan kemudian memanggil teman-teman saya,” ujarnya.  

Setelah sakit sekian lama, suami Inah br Sembiring, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, di usia 49 tahun, tanpa disaksikan anak-anaknya. Beberapa tahun terakhir kedua anaknya tinggal terpisah dengan keluarga karena mengikut suami dan putranya yang tinggal dan bekerja di  Jakarta.  

Dua hari, suasana duka melingkupi seluruh keluarga dan jemaat Simalingkar hingga suaminya dikebumikan 17 Mei 2013 lalu. Dua hari, ratusan jemaat GKPS Simalingkar, keluarga dan tetangga memenuhi halaman beberapa rumah didepan dan disamping rumah duka.

Pengalaman pahit Inang  selama empat belas tahun begitu menyentuh dan mengharukan. “Saya menerima keadaan suami saya apa adanya. Kesulitan saya hadapi dengan tetap berdoa, meminta pertolongan Tuhan dan bekerja dengan benar”  

Suaminya  mulai sakit di usia 35 tahun, dan bahkan terkena stroke pada 2006. Dulunya, suaminya adalah seorang supir angkot milik sendiri. Selama empat belas tahun itu, Inah br Sembiring menghadapi pergumulan yang berat. Mulai dari kesulitan ekonomi—karena harus mencari nafkah, merawat suami, serta membelanjai anak-anaknya yang sekolah dan kuliah.

Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai dari berdagang sayuran yang dibelinya di gunung dan dijual di Sambu, menjual buah di Simpang Simalingkar, bekerja sebagai juru masak di sebuah perusahaan catering. Dalam keadaan suaminya sakit, bahkan Inah br Sembiring, bersama seorang temannya membuka catering sendiri.

“Praktis, sejak 2006, aku yang harus mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak-anak dan biaya perawatan suamiku. Tuhan begitu baik,” katanya.

Kesulitan keuangan memang bisa diatasinya dan mampu memberinya kebutuhan keluarga. Tetapi bukan itu saja masalah terberat yang dihadapinya.

“Saat suami saya mulai sakit, usia saya masih muda. Setiap pagi saya selalu meminta pertolongan dari Tuhan agar  terhindar dari godaan yang bisa merusak rumah tanggaku, anak-anakku  Aku selalu berdoa agar Tuhan, jangan sampai karena kemiskinan keluargaku aku  jatuh ke dalam dosa,” ujar lulusan D3 Pendidikan dari salah sebuah perguruan tinggi di Medan ini mantap,.

Nama baik keluarga, masa depan anak-anaknya menjadi motivasi baginya untuk selalu hidup di jalan yang benar. “Sebagai seorang ibu bagi anak-anakku, aku tidak mau mereka malu. Aku tidak mau anakku tidak laku, karena kelakuan mamanya tidak baik,” ujarnya mengungkap energi yang memberinya semangat.

Dia berbaur dengan jemaat. Inah tidak lupa mar ari Selasa (kebaktian ibu-ibu) dan menghadiri pesta-pesta atau ke tempat orang yang kemalangan. "Saya sangat berterima kasih atas dukungan dan bantuan gereja GKPS Simalingkar. Beban berat,terasa ringan, kalau kita bersatu."ujarnya. 

Dalam penderitaan yang demikian berat, Inah  justru mampu menikahkan Putrinya Melda. Menantunya adalah seorang polisi yang kini bertugas di Tarutung, dan sudah dikaruniai seorang cucu. Sementara anaknya laki-laki kini bekerja dan tinggal di Jakarta.

Tiga hari sebelum suaminya meninggal, Inah br Sembiring, terpilih sebagai Syamas di gereja GKPS Simalingkar. Syamas dipilih oleh anggota jemaat, yang berarti dia dikenal betul oleh jemaat GKPS Simalingkar yang berjumlah 180 KK tersebut.

“Pada periode sebelumnya, saya sudah mengajukan inang boru Sembiring, sebagai syamas, tetapi dia menolak dengan alasan masih mengurus suami yang sakit dan anak-anak. Tetapi, inilah mungkin saatnya. Ketika saya calonkan, dia menerima,”ujar St Weldy Saragih, SP Ketua Sektor III GKPS Simalingkar.

Para jemaat yang hadir malam ini menghiburnya, “Kalau dulu inang boru Sembiring hanya melayani suami dan anak-anak, sekarang harus melayani banyak orang. Semoga inang sehat dan tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan senantiasa melindungi dan menguatkan inang”.

Khotbah Wakil Pengantar Jemaat GKPS Simalingkar, St Japorman Saragih, SE yang diambil dari Jeremia 31:13b: ".. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka," menguatkan keluarga dan menutup acara malam ini.

Kami semua berdoa, kiranya Tuhan menjadikanmu sebagai teladan seorang ibu di gereja dan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang banyak kawin cerai, bahkan hanya karena masalah sepele.

Inah br Sembiring telah membuktikan dirinya setia sampai akhir. Yang dipertemukan Tuhan hanya dapat dipisahkan kematian!.

"Just do what must be done. This may not be happiness, but it is greatness". George Bernard Shaw

Tukang Becak dan Penjual Tempe: Persoalan Besok, Punya Solusi Besok

Oleh: Jannerson Girsang

Hari sudah agak larut malam, sepi, gerimis. Seorang ibu dengan baju sedikit kuyup baru saja tiba di depan rumahnya. Badannya mengigil kedinginan dan buru-buru membuka pintu rumahnya. Mudah saja, karena memang rumah itu tanpa kunci.

Rumah itu terbuka sepanjang zaman, karena tidak ada harta berharga di dalamnya. Di rumah gubuk berusia 15 tahun berdiam pasangan tukang becak dan penjual tempe. Rumah yang terbuat dari kayu sisa bangunan beratap rumbia, terletak di atas tanah garapan di pinggiran kota Medan di bilangan Sunggal. Tak ada listrik, meski PLN sudah berusia puluhan tahun. Lampu teplok menjadi penerangan rumah pasangan yang tinggal di kota terbesar di Sumatra itu. 

Sambil memperbaiki sal putih yang terlilit di lehernya, sang ibu melangkah menuju ruang peraduan yang terbuat dari kotak kabel listrik yang dipungut suaminya di jalanan.

Tertegun sejenak, sang ibu mengamati wajah suaminya berotot kekar itu. Trenyuh  melihat suaminya yang terbaring kelelahan setelah sejak pagi menarik becak hingga malam. Lelaki setia yang dikenalnya sejak masa anak-anak itu, sudah mendampingi dan melindunginya, temannya berbagi sepanjang 25 tahun pernikahannya.

Sang ibu baru saja gagal memperoleh pinjaman setelah bertandang ke tetangga-tetangganya. Dia membayangkan nasib anaknya di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Besok dia harus mengirim uang kuliahnya.

Kalau tidak dapat uang,  anaknya akan menghadapi masalah, karena sudah menghadapi penundaan yang terakhir. Anak yang sudah berada di tingkat akhir itu terancam drop out.

Sang ibu teringat kembali pengalaman pahit bersama suaminya, gagal kuliah, karena kawin lari saat perkuliahan masih di semester 5. Dia tidak ingin kepahitan itu terulang pada anaknya.

Melangkah beberapa langkah dia menuju tempat peraduan. Lalu menggoyang-goyang tubuh suaminya, ingin berbagi kerisauannya dengan pria, temannya sejak sekolah Dasar itu.

"Pak, apa yang harus kita lakukan ketika kita tidak punya apa-apa lagi?. Besok, kita harus kirim belanja anak-anak," ujarnya sedih, karena gagal meraih pinjaman dari tetangganya.

"Yah, bu...bu. Kita kan sudah berpuluh kali mengalami seperti ini?. Tetap ada solusinya. Anak kita kan kuliah di semester akhir. Setiap bulan kita mengalami seperti ini. Tenang saja bu,"ujar suaminya menenangkan istrinya. Dia tidak ingin melanjutkan diskusi lagi.

Sepanjang perkuliahan anak semata wayang mereka, pasangan ini setiap bulan selalu sport jantung. Maklum, pasangan yang sehari-hari berjualan tempe di daerah Pringgan dan suami penarik becak itu hanya memperoleh penghasilan pas-pasan. Untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka sering kewalahan.

Ditambah lagi kemampuan negeri yang hanya mampu mengimpor kedelai. Harganya terus naik turut mendongkrak harga tempe yang membuat orang kurang menyukai tempe. Kala hujan, suaminya kadang hanya  mampu membayar setoran becak sewaannya, tanpa membawa uang sepeserpun, karena sisanya habis untuk rokoknya. 

Sang ibupun termenung sendirian, mencoba merenungkan pengalaman-pengalaman kritisnya beberapa tahun sebelumnya. Dia sudah acapkali bergulat atas deadline pengiriman belanja anak. Malam itu memang tak ada yang bisa dilakukannya.

Lalu, sang ibu  di tengah dengkuran suaminya menyusul tidur tanpa membiarkan diri larut dalam persoalan yang dihadapinya.

Sebelum tidur dia melipat tangannya dan menengadah ke atas. Mulutnya komat kamit, air matanya meleleh.

"Tuhan, jangan permalukan kami hambaMu. Berikan jalan agar anak kami bisa menyelesaikan kuliahnya. Agar anak kami bisa membedakan yang salah dan yang benar. ".

Malam menelan kesulitan kedua pasangan itu. Persoalan besok menanti solusi besok hari!.

Mary Girsang Recognized by Worldwide Who's Who for Excellence in Legal Services

Mary Girsang named a Worldwide Who's Who Professional of the Year for 2013

Recognized as one of the top lawyers is Indonesia, with a Katini rating, Ms. Girsang has received various acclaim throughout her career
JAKARTA, INDONESIA, September 26, 2013 /24-7PressRelease/ -- Mary Girsang, Director of Mary Girsang & Associates, has been recognized by Worldwide Who's Who for showing dedication, leadership and excellence in legal services.

Upon completion of a master's degree in law and business at the University of North Sumatera, Indonesia, Ms. Girsang embarked on a career in legal services which has spanned the past two decades. Shortly after completing the degree, she began working with high profile Indonesian lawyers. Having gained a breadth of experience and industry know-how, Ms. Girsang opened her own law firm, Mary Girsang & Associates, in 2002.

The legal services firm specialized in foreign investments, management, human resources, recruitment, research, mergers, and corporate governance. The staff at Mary Girsang & Associates works with international clients who are unfamiliar with Indonesian law and its local policies. They are skilled in handling licensing matters, contracts, property arbitration, and litigation.

As the executive leader of the company, Ms. Girsang manages all aspects of business operations including overseeing more than 1,300 personnel and 200 expatriates. An expert in mining sector and corporate law, she ensures reports and documents are accurate, reviews all cases, meets with clients to discuss their investments, and conducts due diligence for licenses with the government and contracts with laborers. Drawing on her educational background and extensive work experience, Ms. Girsang has become an expert in foreign investments. Ever eager to keep current in her field, and with policy and laws in her area, she plans to network and consult with professionals internationally.

In addition to working as an Indonesian lawyer, Ms. Girsang is the director of PT. Prima Traktor Indonesia (subsidiary of Emeco Ltd), PT. Pontil Indonesia (subsidiary of Major Drilling Pty Ltd), PT. Byrnecut Indonesia (subsidiary of Byrnecut Mining Pty Ltd), PT. AsiaRep (US-Indonesia-Singapore-Australia), PT. Narva Indonesia, and CV. AsiaRep. Within five years, she plans to increase her understanding of Indonesian law when she enrolls in a Ph.D. law degree program.

Recognized as one of the top lawyers is Indonesia, with a Katini rating, Ms. Girsang has received various acclaim throughout her career. In 2012, she was inducted into Worldwide Who's Who as a lifetime member. Later that year, she was selected as a Professional of the Year, representing the legal service industry. In 2013, Ms. Girsang was interviewed for the Elite Radio Network. She feels her success can be most aptly attributed to tirelessly ensuring a win-win outcome for foreign investments in her country, a supreme knowledge of mining and Indonesian culture, and an unwavering desire to make the transition into her country a smooth and well-run operation for foreigners.

Ms. Girsang is an executive member of the Indonesian Bar Association and an executive member of the Indonesian Lawyers Club. In her free time, she enjoys snow skiing, swimming, and traveling.
For more information about Mary Girsang & Associates, visit http://www.marygirsang.com/index.htm.

About Worldwide Who's Who

With over 500,000 members representing every major industry, Worldwide Who's Who is a powerful networking resource that enables professionals to outshine their competition, in part through effective branding and marketing. Worldwide Who's Who employs similar public relations techniques to those utilized by Fortune 500 companies, making them cost-effective for members who seek to take advantage of its career enhancement and business advancement services.

Worldwide Who's Who membership provides individuals with a valuable third-party endorsement of their accomplishments, and gives them the tools needed to brand themselves and their businesses effectively. In addition to publishing biographies in print and electronic form, it offers an online networking platform where members can establish new professional relationships.

For more information, please visit http://www.worldwidewhoswho.com.

Contact:
Ellen Campbell
Director, Media Relations
pressrelease@worldwidebranding.com

Note:

Mary Girsang, SH is the founder of MARY GIRSANG & ASSOCIATES. She obtained her law degree from University of North Sumatera. She commenced her career in YAN APUL & FOUNNERS and then moved to OTTO HASIBUAN & ASSOCIATES. Both are high profile Indonesian lawyers. In 2002, she founded her law office "MARY GIRSANG & ASSOCIATES". Mary was voted one of the 6 most successful women lawyers in Indonesia.