My 500 Words

Kamis, 18 Juni 2015

Mencari Salah, Bukan Solusi


Oleh: Jannerson Girsang

Sesak nafas!. Itulah sering dihadapi para pejabat atau manajer sekarang ini.

Anak buah hanya mengetahui setengah-setengah tentang sesuatu persoalan yang menjadi tanggungjawabnya. Sang bos juga kadang tidak sempat memberi bimbingan kepada anak buahnya, sibuk kampanye Pilkada.

Para pegawai banyak menempati posnya karena KKN, kedekatan hubungan dengan bos, sogok menyogok, tanpa memperhatikan kemampuan dan integritas.

Semua terdemotivasi, biaya yang dikeluarkan tidak mencapai sasaran, bahkan banyak proyek tidak dikerjakan, sehingga serapan anggarannya rendah.

Padahal, seorang penanggung jawab sebuah kegiatan mesti menguasai analisa masalah sederhana, dan mampu merencanakan kegiatan untuk mencapai rencana itu.

Pagi itu seorang bos sebuah instansi sedang pusing di meja kerjanya, karena proyek penggalian parit tidak kunjung selesai, padahal deadline pekerjaan sudah lebih dari lima bulan.

Lalu dia memanggil anak buahnya penanggungjawab proyek itu.

Si anak buah datang dengan bundel yang cukup tebal. Dia dipersilakan duduk menghadap bosnya, seraya menundukkan kepala. .Menaruh bundelnya di atas kursi di samping tempat duduknya.

"Bagaimana penyelesaian proyek yang menjadi tanggungjawabmu?" kata bosnya memulai pembicaraan.

"Anu Pak!. Kami sudah bekerja keras siang dan malam, bahkan saya sendiri tidak pulang-pulang ke rumah"

"Kerja keras itu harus punya target. Apakah yang kalian lakukan, sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan?".

"Itulah Pak yang jadi masalah. Anggaran yang kita buat dulu tidak memperkirakan biaya pembebasan tanahnya, lembur untuk pegawai yang mengawasi demo. Jadi kami hanya menunggu dan menunggu"

"Anda ikut rapat kan kemaren, kenapa tidak dilaporkan".

"Itulah Pak, laporannya baru selesai pagi ini, karena saya dipanggil bapak"

"Makanya, kamu harus selalu membuat laporan fakta di lapangan. Bukan asal ngomong. Kemaren kamu asyik mengomentari pekerjaan orang lain. Saya pikir proyekmu tidak ada masalah"

"Soalnya, anak buah saya pada absen semua Pak. Jadi saya hanya kerja sendiri. Kalau boleh, Bapaklah yang menangani proyeknya, Saya sudah tidak sanggup"kata anak buahnya itu.

"Oh Tuhan. Untuk apa saya angkat kamu di sana kalau tokh sayajuga yang harus mengerjakannya?. Sudah, tunggu besok dan kamu akan menerima perintah saya selanjutnya"

Mendengar teguran bosnya si anak buah bukannya mengaku salah.

"Bapakpun terlalu sibuk kampanye, jadi kami susah melapor"

"He. Kau anak buahku. Kamu tidak berhak mengatur. Saya yang berkuasa di sini"

Sang anak buah yang merasa punya kartu as itu meninggalkan ruangan dan membawa bundel tebal yang sebenarnya hanya berkas-berkas pengaduan masyarakat, dan tak ada kaitannya dengan keinginan bosnya.

Sang bos, kemudian memerintahkan personalia mengganti sang anak buah.

Si anak buahpun, sibuk mencari "deking", supaya ditempatkan di proyek yang lebih "basah", karena kemaren dia ikut kampanye bupati di kabupaten lain.

Begitu banyak kasus seperti ini dijumpai di mana-mana. Sang bos juga kurang perhatian karena sibuk dengan pencalonannya menjadi Calon Bupati yang gagal tempo hari. Anak buah yang diberhentikan tadi sibuk cari "deking".

Sayangnya semua hanya mencari salah dan bukan solusi. Pecat memecat, deking mendeking, tanpa bimbingan yang memadai.

Karena kemampuan yang rendah, ketidakjujuran dan ketidakpedulian pada tanggungjawab.

Tak heran kalau Jokowi mengeluh karena serapan anggaran yang rendah!. Mungkin banyak pejabat sibuk kampanye, anak buah cari deking; pekerjaan terbengkalai.

Medan,  21 Mei 2015

Ciptakan Banyak Pak Sabar dan Kurangi "Pelacur" dan Koruptor

Oleh: Jannerson Girsang

Di akhir acara Life Time Achievmentnya SCTV, ada sebuah acara menarik. Lelang hasil lukisan Pak Sabar, seorang cacat tanpa tangan melukis dengan kaki. Luar biasa!

Hasil lukisannya dilelang. Lukisan pertama Rp 15 Juta, dimenangkan Hendri Josodiningrat (pengacara beken ibu kota). Lukisan kedua Rp 9 juta dimenangkan Dedy (Bupati Purwakarta) dan Lukisan ketiganya Rp 8 juta dimenangkan Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah).
Sabar menjadikan keterbatasannya menjadi kekuatannya. Nilai lelang tiga lukisannya berjumlah Rp 32 juta.

"Sebagian saya mau kontribusi ke Yayasan Fajar, sebagian ke jembatan Asa SCTV," kata Pak Sabar tentang uang hasil lelang lukisannya.

Bandingkan dengan model yang baru-baru ini digrebek Polres Jakarta Selatan, wanita cantik, dengan segala kelebihannya, tetapi hanya mampu menjual tubuhnya: Rp 80 juta per sekali booking.
Sabar tidak menggunakan kekurangannya untuk mengemis, bahkan menjadikan kekurangannya menjadi keunggulan, membantu sesama, tidak seperti para pelacur yang bekerja hanya untuk dirinya sendiri.

Indonesia harus menciptakan banyak Pak Sabar, bukan banyak "pelacur" atau koruptor!

Medan, 21 Mei 2015

"Urang Oge Bisa":

Oleh: Jannerson Girsang

Saya begitu terharu dan terinspirasi oleh dua orang penyandang cacat yang berprestasi, Saprina dan Mulyana.

Saprina adalah siswa SLB yang sudah meraih S2. Padahal mengucapkan satu paragraf aja dia sangat bersusah payah. Saya aja yang sehat hanya meraih S1.

"Saya ingin lebih bermanfaat lagi". Saprina sudah meraih S2 dan ingin meningkatkan pendidikannya ke S3. Dia juga sudah menulis berbagai artikel dan buku.

"Sayangnya, saya masih tetap dianggap anak kecil. Bagaimana dengan teman-teman saya SLB itu?. Kami selalu mendapat diskriminasi," katanya.

Tokoh lainnya Mulyana, seorang laki-laki yang cacad tangan dan kaki, Dia telah memenangi berbagai lomba Olimpiade Renang Dunia.

Mulyana mengisahkan awal dirinya memilih olah raga renang. "Awalnya saya dilemparkan bapak saya ke Danau. Dia membiarkan saya berenang. Kalau mau sela,at, selamatkanlah dirimu".
Seseorang memang harus praktek, tidak cukup teori saja. Seorang perenang, tidak cukup belajar dari teori: gaya dada, punggung, tetapi harus masuk ke danau atau kolam.

"Bagi saudara saya penyandang cacat. Jadikanlah diri sendiri, jjujurlah. Tekunilah sesuatu kelebihan diri sendiri. Galilah kelebihan untuk menjadikan kita bermanfaat," pesan Mulyana.
.
Dalam kehidupan ini Mulyana memiliki prinsip "Urang Oge Bisa", kita juga bisa.

"Urang oge bisa. (Kita juga bisa). Yakin, percaya, pasti bisa," katanya dalam logat Sunda.

Makanan rohani yang membuat kenyang!

Medan, 21 Mei 2015

In Memoriam Jhon Lenon Sipayung (1976-2015)


Pagi ini, 21 Mei 2015, saya sangat terkejut membaca status Paulus Sinaga, seorang staf Pelpem GKPS.

"Selamat jalan abangku........Jhon Lenon Sipayung," tulis Paulus Sinaga.
Kaget dan sedih!

Lalu, saya mengamati foto-foto yang diposting dan ternyata yang meninggal adalah Jhon Lenon Sipayung, staf Bidang Penyuluhan, Pelpem GKPS Pematangsiantar.

Jhon Lenon Sipayung. Masih muda, energik, harapan pemimpin Pelpem ke depan, sudah tiada. Orang yang selalu menyapaku ramah, membesarkan hatiku, tak akan kutemui lagi untuk selama-lamanya.

Direktur Pelpem GKPS juga mengirim kabar duka melalui sms : "Selamat siang Pak. Kabar duka cita. Telah meninggal dunia Bapak John Lenon Sipayung (staf Pelpem GKPS) tadi pagi pukul 01, dikebumikan besok".

John Lenon Sipayung meninggal karena sakit dan dirawat beberapa hari di rumah sakit.

"Kamipun sangat terkejut kepergiannya. Selama ini dia tidak pernah sakit dan selalu bersemangat," kata Direktur Pelpem, Juniamer Purba.

Memori  kuputar ke peristiwa 8 April 2015, saat peluncuran buku: "Refleksi Melayani di Tengah-tengah Masyarakat: Lima Puluh Tahun Pelpem GKPS". Itulah pertemuan terakhir kami.

Saat itu John Lenon adalah mengurusi undangan.Dengan baju warna cokelat, dan mirip dengan salah satu kemeja saya.

"Horas kela, sehat do ham torus," sapanya ramah. (Hotras. kela sehat aja terus)

"Ai mase ipakei ho bajungku ambia," kataku berseloroh. (Kenapa kau pakai bajuku, John)

"Yah ase tambah ganteng songon ham,  Kela"katanya. (Biar tambah ganteng, seperti Kela)

John Lenon kebetulan marga Sipayung dan lahir 1976 di Bandar Maruhur, Negeri Dolok, satu kampung dengan mertua saya dan semarga dengan istri saya. Kami begitu dekat dan akrab.

Lulusan Fakultas Ekonomi USU Medan ini mulai bekerja di Pelpem GKPS pada tahun 2000. Selama 15 tahun dia banyak di lapangan, bertemu dengan para petani. Pekerjaan yang kurang mendapat perhatian para sarjana di era hedonisme ini.

Dalam memori saya terakhir, pada tanggal 8 April itu John Lenon  aktif di pentas, ketika acara Peresmian Tiga Pilar Organisasi Rakyat bersama Herman Sipayung, staf Pelpem.

Ketika pulang ke Medan, dari jalan raya saya mendengar sayup-sayup suara mereka. Dan itulah kenangan terakhir saya tentang pria yang suka menulis ini. John Lenon rajin menulis artikel tentang pelayanan masyarakat di buletin AB mapun media-media cetak lainnya.

Sekali-sekali dia berbicara menyuarakan suara kritis ketergantungan petani kepada pestisida. Kepedulianmu kepada kepentingan petani tidak akan pernah sia-sia. (Medan Bisnis, 23 Nopember, 2011). http://medanbisnisdaily.com/news/arsip/read/2011/11/23/60075/ketergantungan_petani_pada_pupuk_dan_pestisida_sangat_tinggi/#.VV4D30Bbg24.

John Lenon meninggalkan seorang istri Arny Hastuty Damanik, dan dua orang anak yang masih kecil-kecil.

"Yang tertua baru duduk di kelas 3 SD" ujar Direktur Pelpem yang saya hubungi sore ini.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Jalan Rakutta Sembiring, Pematangsiantar.

Besok, wakil ketua bidang hukum HAM dan pemberdayaan perempuan perempuan, DPC GAMKI Simalungun ini akan dimakamkan.

Selamat jalan kawan!

Saya yakin Jhon tidak hanya mati untuk dirimu saja. Kau banyak meninggalkan sesuatu yang bernilai buat banyak orang.  "What we have done for ourselves alone dies with us; what we have done for others and the world remains and is immortal" (Albert Pike).

Hasil karyamu di lapangan akan diingat ribuan petani. Kela akan selalu ingat sapaanmu yang ramah, rasa humormu. Iide-idemu dan karyamu tentang publikasi Pelpem, pengabdianmu selama 15 tahun di tengah-tengah masyarakat akan berbuah.

Selamat Jalan John Lenon, kela sedih. Begitu cepat kau pergi meninggalkan kami. Berkurang temanku chating di Facebook, berkurang teman diskusi yang kritis dan smart!

Turut Berduka

Kela dan Namborumu  

Medan, 21 Mei 2015

Kamis, 21 Mei 2015

JANGAN MEMBIARKAN, APALAGI MEMBIMBING SISWA NYONTEK

Oleh: Jannerson Girsang

Suatu saat, 90% dari kita akan mengatakan "BOHONG ITU BENAR"!

Di masa pengumuman kelulusan siswa sekolah (SD-SMP-SMA) seperti sekarang ini, masalah klise selalu muncul.

Terungkap di berbagai tempat, sebagian guru yang takut sekolahnya turun ranking, membiarkan anak didiknya menyontek ketika Ujian Akhir Nasional.

Mereka tidak sadar tindakannya memberi dampak yang sungguh sangat berbahaya.

Guru-guru seperti ini bukan menghasilkan siswa yang gemar mencari kebenaran. Siswa-siswa seperti ini tentu tidak mungkin menghasilkan hadiah Nobel yang sangat diimpikan negeri ini.

Lulus dari perguruan tinggi dengan menjiplak skripsi. Skripsi bohong, IP bohong!. Masuk kerja dengan menggadaikan kerbau dan sawah orang tuanya. Tidak mungkin membangun negeri ini menjadi lebih baik.

Sepuluh atau lima belas tahun kemudian, mereka menghasilkan pasangan-pasangan pembohong, orang tua pembohong, pejabat pembohong, pekerja pembohong.

Mereka suka berbohong. Tanpa kerja keras: Rp 80 juta per jam!. Pejabat, pengusaha pembohong. Tanpa kerja keras: bisa menimbun Rp triliunan untuk kantong sendiri dan kelompknya dari uang negara. Bisa membayar PSK high class.

Suka tertawa di atas penderitaan orang lain. Senang melihat orang lain susah!

Mengaku mengabdi, padahal tiap hari hanya memperkaya diri sendiri. Memutasi pejabat sekali tiga bulan dengan aroma "sogok", mencari komisi proyek-proyek yang berada di bawah kontrolnya.

Berpura-pura seperti dermawan, tetapi semua sumbangannya adalah hasil tipuan, keringat atau hak orang lain yang ditilepnya menjadi sumbangan pribadi.

Jangan heran, kalau tahun demi tahun, kita menghasilkan semakin banyak pembohong, bangsa makin terpuruk.

Jangan-jangan sistem ujian kita ini tidak mendidik. Baiklah kita belajar dari negara yang sudah maju.

Finlandia sebagai negara dengan systempendidikan termaju di dunia tidak mengenal yang namanya Ujian Nasional.Evaluasi mutu pendidikan sepenuhnya dipercayakan kepada para guru sehingganegara berkewajiban melatih dan mendidik guru guru agar bisa melaksanakanevaluasi yang berkualitas. https://adeslpunderground.wordpress.com/5-negara-maju-tanp…/

Setiap akhir semester siswa menerima laporan pendidikan berdasarkan evaluasi yang sifatnya personal dengan tidak membandingkan atau melabel para siswa dengan peringkat juara seperti yang telah menjadi tradisi pendidikan kita. Mereka sangat meyakini bahwa setiap individu adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda beda.

Dulu (saya lulus SD 1973). Seingat saya kita mirip dengan negara di atas. Tidak ada ujian-ujian seperti sekarang ini. Lulus SD, nilai hanya diserahkan kepada guru. Lulus SMP dan SMA juga begitu. Bahkan hingga saya masuk ke IPB tidak pernah mengenal ada sogok menyogok, atau bocoran soal.

Apa yang terjadi dengan pendidikan kita selama 40 tahun terakhir?. Tiap tahun polemik terjadi, tetapi kita makin banyak menghasilkan pembohong, bukan pencari kebenaran!

Kalau kita terus membiarkan keadaan ini maka suatu ketika 90% orang akan mengatakan bohong itu benar.

Medan, 16 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Sukses dan Bermakna

Oleh: Jannerson Girsang

Tak semua pemimpin terkenang di hati kita. Apakah itu pemimpin gereja, Ketua RT, bahkan Presiden sekalipun, kalau mereka hanya berbuat untuk dirinya sendiri, tidak membuat perubahan hidup yang lebih baik, tidak meninggalkan sesuatu cara baru, tindakan heroik yang menginspirasi. ..

Segala perbuatan yang pamrih, menyumbang uang untuk menang menjadi DPR, Bupati, Walikota. terlihat gagah sebentar, kenangan itu kemudian hilang ibarat bunga layu dihembus angin.

Mahatma Gandhi, Bung Karno dikenang orang karena mereka bekerja tanpa pamrih, kita melihat para pewaris karya-karya mereka memberi makna atas hidup mereka. . .

Orang di masa sekarang senantiasa membicarakan apa yang mereka pikirkan, lakukan dan makna dari pekerjaan mereka yang bermanfaat menginspirasi orang-orang berubah ke arah yang lebih baik.

James Kouzes dan Harry Posner dalam buku yang mereka tulis yang berjudul
A Legacy Leader mengatakan,: "Ketika kita hidup, orang tidak mengingat kita lantaran apa yang telah kita lakukan untuk diri kita sendiri. Mereka mengenang kita untuk apa yang kita perbuat bagi mereka. Merekalah pewaris karya-karya kita".

Lebih lanjut lagi mereka mengatakan! ,"Salah satu yang menjadi kebahagiaan terbesar dan tanggung jawab dasar para pemimpin adalah memastikan bahwa orang-orang yang mereka perhatikan selama ini menjalani hidup tidak hanya sekedar sukses melainkan juga bermakna"

Medan, 17 Mei 2015

Bayi dan Pewarisan Cinta Kasih (2)

Oleh: Jannerson Girsang

Surat untuk cucuku, putriku dan menantuku di Hari Kenaikan Yesus Kristus 14 Mei 2015. Berbahagialah keluarga kalian yang sudah dianugerahi bayi. Tempat mewariskan kasih sayang untuk generasi mendatang!

Setiap pasangan pasti mengharap seorang bayi ada di tengah-tengah keluarga. Tidak ada keluarga yang tidak mengharapkan seorang bayi, meski ada keluarga yang belum memperolehnya.
Setiap pasangan pasti akan berkata:

"Before you were conceived, I wanted you. Before you were here an hour, I would Die for you. This is the mirace of Love"

Mengapa? "Seorang bayi adalah berkat dari surga, sang malaikat kecil, menghargai dan mencintai". "A baby is a blessing from heaven above, a precious little Angle, to cherish and to love".

Bahkan Jhonny Depp mengatakan "The only creatures that are evolved enough to convey pure love are dogs and infants”. "Satu-satunya ciptaan yang berkembang mengalirkan cinta adalah anjing dan bayi"

Saya pernah memelihara anjing!. Dia membela saya mati-matian, tanpa cela, tanpa pamrih. Dia mengasihi saya, sepenuh hati.

Demikianlah gambaran cinta seorang bayi kepada kita. Dia bahkan lebih dari anjing yang digambarkan sangat setia kepada majikannya. Bayi memancarkan cinta kepada siapa saja, tanpa pamrih.

Makanya, kalau ada orang tidak senang kepada bayi, mereka tidak bisa memberikan apresiasi kepada apapun.

Hanya, saya sering heran. Mereka memiliki kasih yang istimewa kepada ibunya. Sama seperti kasih sayang saya kepada ibu dan ayah saya. Mereka selalu memanggil: mana mama?. Jarang bertanya mana Bapak?

Wajar saja mengapa hari demi hari bayi berkata: "The more I grow, the more I realize that my mom is the best friend that I ever had"

Ketika aku dewasa, dan menjadi kakek-kakek sekarang ini, aku selalu berkata: "I love my mom more than words can say, my best friend and my protector in life. praying the doctors give us good news, because I don't know what I will do".

Itu mungkin sebabnya, mengapa orang mengatakan "Surga di telapak kaki Ibu!". Dunia tidak pernah mengatakan surga di telapak kaki Bapak.

Sebuah ungkapan yang sering membuat kami para bapak iri. Tapi kami tidak sakit hati. Karena memang ibukulah yang paling dekat kepadaku, istrikulah yang paling dekat kepada anak-anakku.
Sama seperti aku, Yuandra Jason adalah anak pertama, cucu pertamaku dari pasangan Clara Mariana Girsang dan Anja Novalianto
 
“A first child is your own best foot forward, and how you do cheer those little feet as they strike out. You examine every turn of flesh for precocity, and crow it to the world. But the last one: the baby who trails her scent like a flag of surrender through your life when there will be no more coming after--oh, that' s love by a different name.” (Barbara Kingsolver, The Poisonwood Bible)

Ada anekdot, kalau anak pertama sukses maka adik-adiknya akan mengikut. Entah itu berlaku umum atau tidak, tetapi saya percaya itu.

Rawatlah dia dengan kasih sayang, maka dia akan sepanjang hidupnya mengasihi orang lain seperti bayi!.

Semoga cucuku semakin hari semakin bertumbuh dan semakin menjadi sumber inspirasi kasih yang menginspirasi bagi ibunya, ayahnya dan semua orang di sekelilingnya.

Sama seperti Yesus telah mewariskan kasih yang besar kepada Dunia, kita semua berharap Yuandra akan menjadi tempat kita mewariskan kasih itu, dan dia akan mewariskannya kepada generasi kita berikutnya..

Cherio

Kakek Yuandra Jason.

Medan, 14 Mei 2015 

Bayi dan Pewarisan Cinta Kasih (1)

Oleh: Jannerson Girsang

Surat untuk cucuku, putriku dan menantuku di Hari Kenaikan Yesus Kristus, 14 Mei 2015.
Berbahagialah keluarga kalian yang sudah dianugerahi bayi. Tempat mewariskan kasih sayang untuk generasi mendatang!

Setiap pasangan pasti mengharap seorang bayi ada di tengah-tengah keluarga. Tidak ada keluarga yang tidak mengharapkan seorang bayi, meski ada keluarga yang belum memperolehnya.
Setiap pasangan pasti akan berkata:

"Before you were conceived, I wanted you. Before you were here an hour, I would Die for you. This is the mirace of Love"

Mengapa? "Seorang bayi adalah berkat dari surga, sang malaikat kecil, menghargai dan mencintai". "A baby is a blessing from heaven above, a precious little Angle, to cherish and to love".
Bahkan Jhonny Depp mengatakan "The only creatures that are evolved enough to convey pure love are dogs and infants”. "Satu-satunya ciptaan yang berkembang mengalirkan cinta adalah anjing dan bayi"

Saya pernah memelihara anjing!. Dia membela saya mati-matian, tanpa cela, tanpa pamrih. Dia mengasihi saya, sepenuh hati.

Demikianlah gambaran cinta seorang bayi kepada kita. Dia bahkan lebih dari anjing yang digambarkan sangat setia kepada majikannya. Bayi memancarkan cinta kepada siapa saja, tanpa pamrih.

Makanya, kalau ada orang tidak senang kepada bayi, mereka tidak bisa memberikan apresiasi kepada apapun.

Hanya, saya sering heran. Mereka memiliki kasih yang istimewa kepada ibunya. Sama seperti kasih sayang saya kepada ibu dan ayah saya. Mereka selalu memanggil: mana mama?. Jarang bertanya mana Bapak?

Wajar saja mengapa hari demi hari bayi berkata: "The more I grow, the more I realize that my mom is the best friend that I ever had"

Ketika aku dewasa, dan menjadi kakek-kakek sekarang ini, aku selalu berkata: "I love my mom more than words can say, my best friend and my protector in life. praying the doctors give us good news, because I don't know what I will do". 

Itu mungkin sebabnya, mengapa orang mengatakan "Surga di telapak kaki Ibu!". Dunia tidak pernah mengatakan surga di telapak kaki Bapak.

Sebuah ungkapan yang sering membuat kami para bapak iri. Tapi kami tidak sakit hati. Karena memang ibukulah yang paling dekat kepadaku, istrikulah yang paling dekat kepada anak-anakku.
Sama seperti aku, Javier Marck Simanjuntak adalah anak pertama, cucu pertamaku dari pasangan Patricia Marcelina Girsang dan Frederick Simanjuntak.

  “A first child is your own best foot forward, and how you do cheer those little feet as they strike out. You examine every turn of flesh for precocity, and crow it to the world. But the last one: the baby who trails her scent like a flag of surrender through your life when there will be no more coming after--oh, that' s love by a different name.” (Barbara Kingsolver, The Poisonwood Bible)

Ada anekdot, kalau anak pertama sukses maka adik-adiknya akan mengikut. Entah itu berlaku umum atau tidak, tetapi saya percaya itu.

Rawatlah dia dengan kasih sayang, maka dia akan sepanjang hidupnya mengasihi orang lain seperti bayi!.

Semoga cucuku semakin hari semakin bertumbuh dan semakin menjadi sumber inspirasi bagi ibunya, bapaknya, serta orang di sekelilingnya.

Sama seperti Yesus telah mewariskan kasih yang besar kepada Dunia, kita semua berharap Yuandra akan menjadi tempat kita mewariskan kasih itu, dan dia akan mewariskannya kepada generasi kita berikutnya.


Cherio

Kakek Javier. .

Medan, 14 Mei 2015

Sharing Kebanggaan Menulis

Oleh: Jannerson Girsang

Dari kemaren saya beberapa kali membuka dan sangat terhibur dengan postingannya Maruntung Sihombing berjudul "JURUSAN PP-Kn UNIMED BERPOTENSI MELAHIRKAN PENULIS BESAR".

Artikel ini mengundang diskusi yang sangat menyejukkan dan membesarkan hati. Mereka kompak dan saling menghargai. Saya sendiri memberi komentar salut atas kreativitas dan kekompakan mereka.

Andaikata budaya diskusi seperti ini masuk di Parlemen, alangkah hebatnya Indonesia ini.

Artikel yang ditulis seorang guru SD di Papua ini mengisahkan kebanggan seorang alumni atas jurusannya, kebanggan mereka atas jurusan mereka yang melahirkan banyak penulis aktif di media.

Satu hal yang sangat menarik, kisah bagaimana mereka terinspirasi dari dosen mereka bernama Majda El Muhtaj, penulis buku terutama buku-buku yang menyangkut masalah Hak Asasi Manusia (HAM), dosen dan sekarang sebagai Kepala Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Unimed.

Seorang dosen, tidak hanya memberi mata kuliah di ruang kuliah, tetapi juga memperhatikan dan menginspirasi mahasiswanya untuk menulis.

Hingga keluarlah nama-nama penulis beken. Kalau Anda rajin mengikuti artikel-artikel Opini di Harian Analisa, Medan Bisnis dan juga harian-harian daerah dan nasional lain, Anda pasti tidak asing dengan nama-nama Eka Azwin Lubis, Darwin Putra Sitepu, Iis Hernisyah Ginting, Aprianus Nadeak, Roy Martin Simamora, Partahanan Simbolon, Firman Pahala Siringo-ringo, Dewi Nurita Piliang, Ganda Christian Panggabean, Toba Sastrawan Manik, Ryka Meliana Turnip , Muhamad Nashry, Fazli Rachman, Yoga Didier Pratama, Mince Wastina Sihombing serta nama-nama lain.

Semuanya adalah dari Jurusan PPKn, Unimed, Medan. Eka Aswin misalnya sudah mampu menulis di harian-harian nasional, Roy Martin pernah saya baca artikelnya di Harian Kompas.

Membaca artikel di atas sangat membanggakan hati orang tua seperti saya, menyaksikan anak-anak yang pintar dan memiliki karakter saling menghargai sesama teman, melakukan diskusi yang saling menguatkan.

Saya pernah bertemu muka dengan beberapa dari mereka, seperti Maruntung Sihombing (kini jadi guru di Papua) dan Roy Martin Simamora (kini studi S2 di salah satu Universitas di Taiwan), dan juga dosen mereka yang hebat itu: bung Majda El Mujtad.

Saya juga berhubungan melalui chating dengan Ganda, Eka Aswin dan Yoga.

"Mereka semua pintar, kreatif dan rendah hati".Sangat menyenangkan dan menginspirasi. .

Saya berfikir, Andaikata menulis adalah salah satu cara mendidik siswa atau mahasiswa berfikir kritis dan memiliki karakter yang baik, mengapa sekolah-sekolah, perguruan tinggi kita tidak meniru cara anak-anak Jurusan PPKn, menjadikan mata kuliah menulis dalam mendidik karakter?.

Mengapa kita masih menjadikan "menulis" hanya sekedar mampu menyelesaikan tugas skripsi?. Mengapa menulis bukan sebuah kebanggaan seperti para mahasiswa dan alumni jurusan PPKn Unimed ini?.

Mengapa tidak banyak dosen yang memperhatikan dan menginspirasi anak-anak didiknya untuk menulis?. .

Jurusan PPKn Unimed adalah salah satu contoh keteladanan mendidik mahasiswanya menulis di Media. Terima kasih anak-anak muda, terima kasih juga buat pak dosen yang menginspirasi anak didiknya untuk menulis.

Medan, 12 Mei 2015

ALLAH TIDAK MELIHAT RUPA (Kisah Rasul: 10:44-48)

Dikisahkan Kembali Oleh: Jannerson Girsang

Hari ini kami jemaat GKPS Simalingkar dicerahkan oleh khotbah Pendeta Herna Yanti br Purba, STh, pendeta di GKPS Resort Medan Utara.

"Kita sering menemukan dalam kehidupan ini, dimana sang pemilik, Tuhan tidak melihat rupa, tidak melihat perbedaan diantara manusia, memperlakukan umatnya sama, memberi matahari yang sama, bulan yang sama kepada semua orang di muka bumi. Sebaliknya, anak-anak Tuhan atau manusia, senantiasa membeda-bedakan dirinya dengan 'orang lain' ".

Pendeta Herna Yanti memberi ilustrasi tentang pengalamannya, bagaimana manusia memandang manusia.

Suatu ketika, saat pendeta itu masih vicar pendeta, Herna Yanti br Purba dan temannya seorang penginjil wanita berjanji akan bertemu dengan seorang pejabat. Waktunya tidak ditentukan, tetapi pejabat itu bersedia menerima mereka kapan saja.

Hingga tiba waktunya mereka memenuhi janjinya. Berkunjung ke rumah pejabat itu, meski tidak memberitahunya sebelumnya.

Rumah pejabat itu dipagar dan memiliki beberapa pengawal. Setiap orang harus permisi dan mendaftar sebelum bertemu dengan sang pejabat.

“Kami datang dari gunung, jalan kaki, keringatpun sudah bercucuran,”. ujar Pdt Herna Yanti.

Hingga satpam sendiri dengan rasa heran menyapa mereka.

"Anda dari mana?. Sudah ada janji belum?,” kata satpam itu dengan angkuhnya.

"Mungkin karena yang datang bukan pakai Alphard, serta baju necis. Seolah kami tidak layak menjadi tamu pejabat, bosnya.Mungkin karena kami tidak pakai mobil dan tidak keren, jadi pegawai satpam itu tidak percaya kalau kami memang sudah ada janji dengan pemilik rumah,” lanjut Herna Yanti.

Satpam membedakan tamu berdasarkan penampakan, aturan dan pengetahuannya. Sama seperti manusia pada umumnya.

Kemudian satpam melaporkan ke bosnya, serta menyebut nama tamu.

“Oh ya. Suruh masuk..suruh masuk. Mereka adalah tamu terhormat saya,” kata sang bos.

Pemilik rumah melihat tamunya dengan kasih sayang, bukan pakaian yang dikenakan atau kenderaan yang dibawanya. Cara memandangnya berbeda dengan satpam. . .

Yang ingin disampaikan pendeta adalah: "Manusia sering membedakan rupa, terikat aturan yang dibuat manusia, sesuai latar belakang pengetahuan dan kepentingannya. Padahal, Tuhan tidak pernah membedakan umatNya. Dia mengasihi semua umat manusia, tanpa membedakan latar belakang".

"Kita sering menemukan hal yang sama dalam kehidupan ini. Sang pemilik, Tuhan sendiri tidak melihat rupa, tidak melihat perbedaan diantara manusia. Tuhan memperlakukan umatnya sama, memberi matahari yang sama, bulan yang sama kepada semua orang di muka bumi".

Yang sering membeda-bedakan adalah “umatNya” . Mengaku anak-anak Allah tetapi membeda-bedakan manusia berdasarkan suku, ras, status sosial.

"Di dalam kehidupan gereja juga, umatnya sering “selektif” melihat siapa yang boleh dan tidak boleh masuk dalam lingkungannya, siapa yang perlu dan tidak perlu mendapat perhatian".

Di dalam Kisah Rasul, dikisahkan Petrus seorang Jahudi dikungkung oleh aturan Jahudi-buatan manusia, di masa lalunya, sejak lahir. Aturan yang mengikat dia harus eksklusif. Dia hanya boleh bergaul, berbicara dengan orang Jahudi.

Kali ini, Petrus disuruh Allah melalui malaikat mengunjungi Kornelius, seorang perwira tentara Roma. Kornelius tidak mengenal Petrus, tapi ia diperintahkan untuk mengundang Petrus datang ke rumahnya.

Sebagai anak Allah, dia dimampukan oleh Roh untuk menembus aturan-aturan dunia . “Kalau aku anak Tuhan, mengapa aku harus diskriminatif?,” demikian Petrus.

Cornelius, sang pejabat yang warga Italia juga berhak mendapat pelayanannya. Bukan hanya orang Jahudi saja.

“Tugas Petrus adalah melaksanakan pelayanan, tetapi yang merubah pikiran orang lain bukan pekerjaannya. Roh Kuduslah yang melakukan perubahan dalam diri orang yang dilayani,” ujar Pdt Herna Yanti.

Sebagai orang yang telah diangkat menjadi anak Allah, tugas kita adalah melaksanakan perintahnya dengan sungguh-sungguh. Urusan kita adalah memberitakan kabar baik. Jadi tidak perduli apakah orang itu menerima atau tidak.

Yang penting kita melakukannya dengan sungguh dan Tuhan berkenan melihatnya.

“Berhentilah mencari simpati manusia……maningon balosan do hubani Naibata, kita harus lebih taat kepada Tuhan”. (Kis 10:30)

Pendeta, pelayan tentu tidak boleh membedakan jemaatnya juga. Janganlah berbeda perhatian kepada jemaat yang punya Alphard dan yang tak punya. Yang bisa memberi amplop dan yang tidak mampu memberi amplop tebal.

Khotbah hari ini sangat sederhana perintahnya, tetapi manusia tidak banyak yang berani menembus tembok pemisah mereka dengan yang lain. Tidak mudah.

Oleh sebab itu pendeta Ernawati menghimbau jemaat: “Berdoalah (Rogate), mintalah kekuatan kepadaNya. Sediakan waktu untuk berdoa, sediakan ruang bagi Roh untuk bekerja. Roh akan mengajar apa yang kita minta. Berdoalah meminta kemampuan untuk tidak melihat rupa," kata Pdt Herna Yanti, menutup khotbahnya.

Selamat hari Minggu

Medan, 10 Mei 2015