Jumat, 17 April 2009

Drs. RUDOLF M. PARDEDE PENGABDIAN TIADA AKHIR


Buku “ Berkarya Di Tengah Gelombang” 

Pengabdian tiada akhir, kalimat sederhana penuh makna. Itulah motto Drs. Rudolf M. Pardede, putra terbaik Sumatera Utara yang kini mencurahkan seluruh perhatian dan pengabdiannya bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara. 


Senin, 3 Desember 2007, Rudolf M. Pardede, yang sudah teruji kepemimpinannya, meluncurkan buku biografi diawali dengan bedah buku “Berkarya di Tengah Gelombang”. Buku biografi Rudolf M Pardede tersebut merupakan hasil karya tulisan Ir Jannerson Girsang dan kawan-kawan. Peluncuran buku ini diselenggarakan di Convetion Hall Hotel Danau Toba International, Jalan Imam Bonjol, Medan. 

Yang menarik dari isi buku tersebut, tidak sedikit pun ditemukan kata-kata yang menyakiti orang lain. Sehingga buku ini menarik untuk dibaca. Perjalanan sekaligus pengalaman hidup dari seorang anak pengusaha kaya, namun tak ingin terlihat kaya, sungguh merupakan contoh yang patut ditiru dan dipedomi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Rudolf Matzuoka Pardede dilahirkan di Sakkar ni Huta, Balige, Sumatera Utara pada tanggal 4 April 1942. Anak ke tiga dari Sembilan bersaudara buah hati perkawinan Prof. DR Tumpal Dorianus Pardede dan Hermina boru Napitupulu. Pasangan ini mewariskan kekayaan yang sangat besar seperti perhotelan, rumah sakit, lembaga pendidikan, serta berbagai bidang usaha kepada keturunannya, termasuk Rudolf M Pardede. Meskipun kemudian orangtuanya menjadi pengusaha yang sangat kaya, masa kecil Rudolf sebenarnya ditandai dengan kejadian seputar penjajahan Jepang dan perang Kemerdekaan antara tentara RI dan Sekutu, yang berdampak pada kesulitan yang dihadapi masyarakat. 

Di saat perusahaan keluarga T D Pardede sedang dalam puncak kejayaannya, ayahnya mengirim Rudolf belajar pertekstilan dan ekonomi perdagangan ke University of Kinki di Osaka City, Jepang. Tidak seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia saat itu yang mendapatkan beasiswa dari Yayasan Pampasan Perang, sebagai orang kaya – Rudolf kuliah di sana atas biaya orangtuanya. Itu terjadi tahun 1960 saat Rudolf berusia 18 tahun. 

Rudolf adalah suami kebanggaan dan penuh perhatian, tempat perlindungan dan meminta nasihat bagi anak-anaknya serta mengayomi saudara-saudaranya. Meskipun wajahnya terlihat keras, di mata Vera, Rudolf adalah orang yang sabar dan tidak suka marah. “Tidak pernah marah, dan kalau marah paling sebentar lagi juga sudah reda”, kata peraih Kartini Award 2007 ini menggambarkan suaminya. Rudolf-Vera adalah pasangan harmonis yang menempatkan keluarga sebagai prioritas hidup. Dalam pengakuan Vera, Rudolf sangat dekat dan selalu ingin berjalan bersama. Pasangan ini dikarunai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Yohana Pardede, Beby Fedy Camelia Pardede, Salomo Tabah Ronald Pardede, dan Josua Andreas Pardede. Tiga di antaranya sudah berkeluarga, yakni Yohana yang menikah dengan Rahmat Kasih Larosa, Beby menikah dengan Taufan Djuara Partigor Tampubolon, dan Salomo menikah dengan Yohana Ester Priska Simanjuntak. Sedangkan si bungsu, Josua Andreas sudah lebih dari sepuluh tahun bermukim di Australia dan saat ini belum berkeluarga. 

Dari ketiga anaknya yang sudah berkeluarga, pasangan Rudolf dan Vera dikaruniai tiga orang cucu, yakni Yekesia, Kevin, dan Manuel Rafael Moses Pardede. Ada satu kebahagiaan tersendiri bagi Rudolf pada tanggal 8 Agustus 2007 lalu. Cucunya yang ketiga, T D Manuel Rafael Moses Pardede, anak pertama Salomo Pardede lahir saat Rudolf menjabat gubernur. Cucu laki-lakinya yang lahir pada tanggal delapan, jam delapan pagi tahun 2007 itu memberikan dia kebahagiaan yang sempurna. 

“Dia menjadi generasi ke-4 dari TD Pardede. Saya sudah lama menunggu kelahiran cucu saya. Ini merupakan salah satu anugerah Tuhan yang besar bagi kami selama menjabat gubernur, “ ujar Rudolf Pardede. 

Memasuki usianya yang ke-66 tahun, Rudolf Pardede masih tegar dan energik. Tidak ada tanda-tanda kelesuan di wajahnya, setelah menjalankan tugas beratnya dalam memperjuangkan peningkatan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan mengentaskan kemiskinan di Sumatera Utara. Suaranya tetap lantang dan tegar bisa berkelakar, ditengah-tengah tekanan politik maupun tugas-tugasnya yang berat. 

Tiada akhir dari pengabdian.!!!

(Dikutip dari www.pustakasumut.com/buku_gubsu.php) 



Tidak ada komentar: