Selasa, 23 September 2014

Pisang Ambon, Kenangan Masa Kecilku

Oleh: Jannerson Girsang

Makanan "enak" di masa kecil tak akan pernah terlupakan sepanjang masa. Pisang Ambon, itulah salah satu makanan paling enak di masa kecilku, dan hingga kini menjadi buah yang selalu kurindukan. Rasanya, baunya dan suasana ketika memakannya di masa lalu, menjadi kenangan yang khas.

Suatu ketika, dalam perjalanan menuju Sibolga, rombingan kami makan di sebuah kedai nasi di Prapat. Saya melihat pisang Ambon dijual di sebelah kedai yang persis di pertigaan jalan ke Hotel Niagara.

Siang itu, saya membeli sesiir karena teringat masa kecilku. Tidak sempurna rasanya habis makan siang tidak makan pisang ukuran "jumbo" itu.

Pisang itu jadi sarapan sore di mobil, ketika melintasi kelokan-kelokan tajam Tarutung-Sibolga. Saya benar-benar puas makan pisang itu, entah hingga beberapa buah,.

Waktu saya masih anak-anak di kampung, pisang ini hanya bisa kumakan sekali seminggu, saat hari Pekan di Saribudolok, hari Rabu.

Menunggu ibu saya pulang dari pekan, rasanya sangat lama. Kadang orang tua temanku sudah datang, tapi ibu belum muncul. Sedih dan ngiler rasanya membayangkan teman-teman makan pisang Ambon.

Pemberhentian bus kebetulan tidak jauh dari rumah kami. Dari pintu rumah, saya dan adik-adikku semua mengamati apakah ibu kami sudah ada di dalam bus.

Kalau ibu datang, semua bersorak kegirangan dan langsung menjemputnya, membantu mengangkat barang bawaannya.

Bayangkan, berjam-jam menunggu di rumah merindukan pisang Ambon. Buahnya besar, manis dan bagi kami penduduk desa, tak terkatakan enaknya.

Di kampung kami di dataran tinggi 1400 meter di atas permukaan laut, pisang Ambon pernah dicoba ditanam, tapi tidak berbuah. Pisang Ambon cocok ditanam di pinggiran pantai Danau Toba, seperti Haranggaol, Tongging, dan daerah peisir pantai lainnya di Danau terbesar di Asia Tenggara itu.

Sayangnya, karena kami keluarga besar, setiap prang paling bisa dapat satu buah. Begitu ibu sampai, setiap orang mendapat satu. Pastilah kurang, Kadang kalau kebetulan tidak ada orang di rumah, saya sering mencuri, dari para-para tempat ibu menyimpannya.

Selain Pisang Ambon, mama saya juga membawa "rondang jagung" dan kembang gula. Kembang gula menjadi makanan favorit, selain Pisang Ambon.

Rabu malam merupakan malam "lezat" karena ada ikan mujahir yang diarsik, sehingga nasinyapun 3 piring. Sehabis makan malam kami mendapat pisang Ambon, satu seorang. Habis makan, dilanjut dengan makan pisang Ambon

Anak-anak makan tiga piring nasi "sigambiri", ditambah lagi pisang Ambon, perut jadi buncit, dan susah bermanfaat.

Sekarang saja, saya hanya mampu menghabiskan satu piring, untuk ukuran dulu.


Waktu kecil saya memang jago makan, karena pulang sekolah, harus ke ladang. Apalagi hari libur, pukul enam sudah berangkat dan bawa bekal seukuran tiga piring nasi merah "sigambiri". Kalau hari-hari biasa tidak akan ada lagi pisang Ambon, karena saat malam Rabu itu semua sudah habis.

Sedih juga ya kalau diingat-ingat. Sulitnya kehidupan masa lalu.

Puluhan tahun kemudian, ketika kami tinggal di Pematangsiantar, putri tertua saya Clara Girsangg, waktu kecil diberi pisang Ambon. Setelah dikuliti, dagingnya dikikis dengan sendok.
Ternyata pisang Ambon sangat cocok untuk bayi. Apalagi buburnya nasi "sigambiri:. Mungkin itu sebabnya Clara jadi gemuk, he..he..he

Pisang Ambon, kenangan manis masa kecilku.

Hayo, silakan dimakan!

Pagi yang Bersemangat

Oleh: Jannerson Girsang

Pagi ini sekitar pukul 05.30, saya dan anak laki-laki saya Bernard berdoa berdua di kamar sebelum dia berangkat ke Pangkalan Susu, tempatnya bekerja.

Terima kasih Tuhan, betapa Tuhan sangat berkuasa dan memberi kami kekuatan dalam mengarungi kehidupan ini.

"Saya berangkat ya Pak,sendiri lagi nih" katanya.

Saya terharu mendengarnya, karena kebersamaan kami selama dua hari ini berdua di rumah, harus kembali lagi ke kesendirian masing-masing.

"Selamat jalan ya Pa, Bernard. Hati-hati di jalan," kataku dan memeluknya, melepasnya pergi dengan sepeda motornya yang akan menempuh jarak 120 kilometer.

"Semangat ya Pak. Nanti kalau saya udah sampai, langsung sms." katanya.

Ucapan yang sudah puluhan kali membesarkan hatiku, setiap memberangkatkannya sekali seminggu ke tempat kerjanya.

Saya memang beruntung, karena meski sendiri, saya merasa rame dengan kesibukan sehari-hari, di luar kantor. Banyak teman-teman yang bekerja sama sepanjang hari bahkan sepanjang Minggu,".

Pulang kantor, latihan koor dua kali seminggu, sermon, kebaktian di rumah-rumah kadang saya hadiri dua kali seminggu, menghadiri pertemuan-pertemuan, pesta atau kadang memberi pembekalan bagi para penulis, seperti yang kulakukan minggu lalu dan minggu ini..

Kembali ke rumah sebagai istanaku, mencicil pekerjaan menulis yang sudah menanti. Rumah sebagai tempat bekerja, sekaligus berteduh, mencari kekuatan baru untuk hari berikutnya.

Pagi-pagi membuat sarapan sendiri, makan siang dan malam selalu di luar dan kadang di rumah jemaat.
Semoga semua anak-anak, putriku bersuka cita di manapun mereka berada.

Salam buat istri tercinta, yang menemani anak-anak di Depok, dan semua anak-anakku, . Clara Girsang, Patricia Girsang, Devee Girsang, Bernard Patralison Girsang, Yani Christin Girsang, Hilda Valeria Girsang, Trisha Melanie Girsang. Menantu-menantuku yang baik : Anja Novalianto dan Frederick Simanjuntak.

Have a nice day. Clara, selamat menjalankan tugas besok ke Sumbawa, menantuku Erick, selamat bertugas hari ini ke Duri. Hadapi semua tugas dengan suka cita.

Medan, 23 September 2014

Senin, 22 September 2014

Cucuku Andra


Oleh: Jannerson Girsang


Cucu!. Terbayang sesuatu yang indah, suka cita, dan penuh harapan,
membuat impian jadi kenyataan, tersenyum lebih banyak dari sebelumnya.

Melihat foto Andra, cucu pertamaku berusia satu tahun  di tengah tante, ompungnya, udanya dan mama papanya, membuatku sukacita di pagi ini.

Benarlah kutipan yang kubaca, "No joy on earth brings greater pleasure than a grandchild to love and treasure".

Saya teringat ketika Ayah saya dulu suka memukul saya dan melarang banyak hal yang saya lakukan. Tetapi kepada cucunya--anak-anak dan putriku, dia tidak pernah memukul, bahkan kalau saya memarahi anak saya saja, dia pasti marah.

Kini saya paham!. Sikap kita berbeda kepada anak dan kepada cucu. Cucu adalah segalanya. Mereka adala cinta dan harta paling berharga. Sesuatu yang indah, suka cita, dan penuh harapan!

Pagi ini saya melihat gambarnya yang ceria dan serasa hadir dalam gambar itu, berada di sampingnya. Rinduku tak terhankan. Ingin menggendongnya, membawanya jalan-jalan di lapangan dekat rumahnya.

Sebuah berkat Tuhan bagi saya, meski saat ini sendiri di rumah. Wajah cucuku, setiap pagi memberiku kesejukan. Video dan gambar-gambarnya senantiasa menghibur, lebih dari suka cita yang lain.

Selamat pagi cucuku, Andra sampai jumpa!.

Terima kasih untuk menantuku Anja Novalianto, yang tela memberiku Andra dan Frederick Simanjuntak yang sedang menunggu kelahiran cucuku. You are great son in law!. Keep peace!

Salam untuk mama yang makin cantik..bersama cucunya .he..he. Tante kecilnya Andra, putri bungsuku Devi yang sedang mempersiapkan skripsinya..God Bless All.






Foto kiriman putriku Clara Girsang pagi ini.  Andra sedang makan malam bersama mama, papanya, udanya Frederick Simanjuntak, istriku, dan Devi (Putri bungsuku), di daerah Depok, Jakarta, 21 September 2014

Minggu, 21 September 2014

Sapangambei Manoktok Hite

Oleh: Jannerson Girsang

Rumor (kabar burung), sms gelap akan mendatangkan kecurigaan, keresahan, bahkan berujung pada permusuhan.

Nilai-nilai yang baik mungkin akan terkubur. Orang yang menangguk di air keruh akan diuntungkan untuk sementara. .

Ujung-ujungnya tak ada yang bernilai, sebab semua akan hancur berantakan.Semua jadi hitam.

Rumor biasanya muncul karena kepentingan sesaat yang ingin dipaksakan oleh individu atau kelompok, bukan kepentingan bersama.

Marilah memberitakan yang benar untuk kepentingan bersama, jangan tebar kabar burung, apalagi pencitraan yang jelek bagi sesama untuk mencapai kemenangan sesaat. .

Menanam kebencian akan menuai kehancuran, menanam kebaikan akan menuai kedamaian, suka cita.

Marilah, "Sapangambei manoktok hitei: marsiurupan (saling bertolongtolongan), marsitogu-toguan (saling menopang), marsiarahan (saling mengajak ke kebaikan), sapangahapan (seperasaan)".

Terima kasih untuk Pdt YR Saragih yang telah menciptakan lagu yang sangat indah bagi kami.

Selamat Pagi! .

SUKSES: Haruskah Menghilangkan Hal yang Paling Hakiki?


Sebuah keluarga mendapat pujian di sebuah kampung karena ke delapan anaknya sukses. Ada yang menjadi doktor, master dan sedikitnya sarjana.

Pekerjaannyapun relatif bagus dan semua menghasilkan pendapatan yang memungkinkan mereka berwisata kemana saja di seantero dunia ini. Semua tinggal dengan jarak minimal dua jam, atau ada yang lebih dari 10 jam pesawat, dan lima jam perjalanan darat dari rumah orang tuanya.

Di masa tuanya, bertahun-tahun orang tua mereka di kampung hanya hidup berdua, setelah sekian tahun menyekolahkan, menikahkan dan juga mengunjungi cucu-cucunya baik yang berada di ibu kota maupun di luar negeri. Meski anak-anak sudah sukses, tetapi orang tua ini selalu memilih hidup di desanya.

Kalau dilihat dari kemampuan financial orang tuanya dulu, tidak ada orang di kampung itu yang menduga keadaan mereka seperti sekarang ini. Orang tua ini hanyalah seorang petani. Memang berada di atas rata-rata yang dicapai penduduk desa itu. Tapi sehebat-hebat orang kampung, bisa dihitung kemampuannya kalau kemudian mereka bisa berlibur ke Amerika. Semua karena "sukses" tadi.

Suatu ketika, sang ayah sakit keras. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan dan merindukan anak-anaknya bisa kumpul, layaknya Yakub yang ingin memberikan petuah-petuah dan ingin petuah terakhirnya itu disaksikan semua anak-anaknya.

"Saya rindu seperti kalian anak-anak dulu. Kita makan dan berdoa bersama saat makan malam. Itulah kerinduanku yang terakhir," demikian sang ayah berpesan kepada semua anak-anaknya.

Saat itu, hanya dua dari delapan orang anaknya yang bisa memenuhi keinginan sang ayah. Berbagai macam alasan mengejar sukses itu, menyebabkan mereka tidak bisa hadir. Kalau soal uang, semua anak-anaknya mampu menyediakan berapapun yang dibutuhkan ayahnya yang sedang sakit itu.

Ayahnya tidak membutuhkan materi. Semua sudah dia miliki. Dia hanya membutuhkan kehadiran anak-anaknya, dia ingin menumpahkan kasih sayangnya yang terakhir yang tak bisa dinilai dengan apapun. .

Sayangnya, untuk memenuhi permintaan sang ayah, keenam anak yang berada di luar negeri dan memiliki jadwal yang cukup padat itu, tidak bisa hadir.

Sang ayah kemudian meninggal dunia. Dengan terpaksa semua anak-anak datang dan menghadiri pemakaman sang ayah yang dilaksanakan secara besar-besaran. Maklum, mereka adalah orang yang terpandang.

Seorang anaknya menangis. "Ayah, ketika kami meminta belanja kuliah dahulu, ayah tidak pernah memiliki alasan untuk tidak memenuhi belanjaku. Ketika aku sakit waktu kuliah, ayah langsung meminjam uang untuk ongkos Tapi, cuma satu permintaanmu hadir beberapa hari sebelum ayah meninggal, saya tidak bisa. Ayaah..untuk apa semua ini kulakukan?. Maafkan aku ayah,"

Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya juga tidak mau meninggalkan kampungnya. Rasa sedihnya ditinggal suami membuatnya kadang sekali seminggu harus berziarah. Alasan yang masuk akal.

Usianya yang makin tua, dalam kesendiriannya di kampung, meski didampingi seorang baby sitter perawat, tak mampu menahan ketuaan dan daya tahan tubu yang makin melemah. Akhirnya suatu hari, dia jatuh sakit, dan sakitnya sangat serius

Mungkin instict seorang yang sudah uzur, seolah dia mengetahui ajalnya sudah dekat, dia kembali berpesan agar anak-anaknya kumpul. Sama seperti permintaan suaminya yang beberapa tahun sudah mendahuluinya, permintaan ibu inipun tidak dapat dipenuhi anak-anaknya.

Sibuk, dan tidak memiliki waktu kembali ke kampung adalah alasan dari anak-anaknya yang tidak bisa hadir. Ibunya ingin mengingat masa lalu mereka dimana makan malam adalah sebuah suasana paling indah. Dima kecil anak-anaknya, sang ibu sudah menyiapkan semua makanan dan minuman dan semuanya makan dan berdoa bersama.

Akhirnya sang ibu meninggal dunia. Dengan "terpaksa", semua harus hadir, termasuk cucu-cucunya. Putri bungsunya yang bekerja di Amerika menangis dan sedih bukan main.

"Mama.....aku tidak bisa memenuhi permintaanmu yang terakhir. Padahal Mama selalu siap sedia, bahkan ketika cucumu lahir, Mama kupaksa tinggal di rumahku sebulan lebih, sampai aku sehat betul. Semua permintaanku dipenuhi Mama. Untuk apa semua ini Mama. Maafkan aku mama, maafkan aku"

Semua pelayat yang disampingnya terharu dan tak sadar harus menghapus air matanya dengan Ulos Batak Berwarna Hitam itu.

Salah seorang pelayat berkata: "Sebenarnya apa yang kita cari di dunia ini yah?".

Sukses, apakah harus mengorbankan hal yang lebih penting?

Orang tua selalu memegang prinsip: Kasih sayangku jangan kau sangsikan!

Tapi, alasan-alasan sibuk, tidak bisa meninggalkan tugas, mengejar sukses, untuk memenuhi permintaan terakhir orang tua, sering dimaafkan.

(Terinspirasi dari Ceramah Prof Dr Belferik Manullang hari ini).

Medan, Malam Minggu 20 September 2014

Jumat, 19 September 2014

KARAKTER: Berapa Orang yang Merindukan Kita?

Oleh: Jannerson Girsang

“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved.” (Helen Keller)

Ketika saya menulis biografi atau otobiografi, karakter tokoh sangat penting. Nilai seseorang terletak pada karakternya.

Salah satu cara menentukan karakter adalah dengan mengamati dan mencatat ucapan-ucapannya, ketika merespons sesuatu: tantangan, keberhasilannya, tanggapan orang lain terhadapnya.

Di FB semua orang yang memiliki akun, menuliskan responnya terhadap keadaan sekelilingnya, responsnya terhadap teman, dan responnya terhadap dirinya sendiri. Mereka menunjukkan karakternya masing-masing dan tentunya menerima upah dari karakternya sendiri, karena karakter itu berkekuatan mempengaruhi dan menimbulkan respon dari orang lain.

Ada yang merespon positif, karena dia merasa terinspirasi, termotivasi dll, atau ada juga merespon negatif karena merasa tersakiti, terlecehkan dll.

Karakter bisa menimbulkan dampak orang lain merasa senang, terinspirasi, mendapat pelajaran, tertawa karena lucu. Hidupnya menjadi lebih berharga, termotivasi.

Karakter yang muncul bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman, tersakiti, terlecehkan atau bahkan menangis karena sedih. Hidupnya menjadi demotivasi.

Pengalaman saya dari sekian banyak tokoh yang saya amati, menunjukkan bahwa seseorang berkarakter baik mampu : "menangis dengan orang yang menangis, tertawa dengan orang yang tertawa".

Dia memaknai orang lain sebagai penolong bagi dirinya dan memahami cara bertindak bagaimana orang lain merasa agar hidupnya LEBIH berharga.

Tugas kita adalah mencari dan menjadikan sebanyak mungkin manusia dimana kita bisa sama-sama tertawa dalam kebahagiaan dan sama-sama menangis dalam kedukaan menuju "Long Life Friendship", bukan persahabatan hanya karena kepentingan sesaat, b
ukan, "kalau menguntungkan lanjut besahabat, kalau tidak pisah saja"

Sudah berapa orangkah kita memiliki teman yang bisa berbagi seperti itu?. Sebab hidup di dunia ini adalah menjadi berbuah bagi orang lain. 

Buahnya, "Berapa orangkah yang kita doakan, dan sebaliknya mendoakan kita setiap hari". Berapa orang yang merindukan kita, atau lebih jauh, seorang ahli motivasi berkata:  "How many people will cry when you die?"

Sesuatu yang perlu menjadi perenungan setiapsaat, tidak mudah, karena harus melintasi berbagai pengalaman ujian dan penderitaan.

Pengalaman Helen Keller, buta dan tuli sejak usia 19 bulan, tapi mampu menjadi pembicara, politisi dan 18 orang berpengaruh dunia, perlu kita simak.

"Karakter tidak dapat dikembangkan dengan mudah dan suasana tenang. Hanya melalui pengalaman ujian dan penderitaan jiwa karakter dapat semakin diperkuat, visi dibersihkan, ambisi diilhami, dan keberhasilan dicapai"

Karakter dapat dibentuk, tapi ada prosesnya!  Mari kita bersama-sama berproses. Kita semua tidak sempuna. Proses perjalanan hidup akan menyempurnakannya.

Selamat Pagi!


Medan, 19 September 2014 

Kamis, 18 September 2014

Pengalaman Bahasa Oral dan Tulisan

Oleh: Jannerson Girsang


Pengalaman menggunakan bahasa Indonesia, menulis dalam bahasa Indonesia saya cukup unik.
Sampai usia 16 tahun saya belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia secara oral, karena tinggal di desa dan hampir tidak ada lawan bicara.

Kalau sekali-sekali orang-orang kota datang, kami hanya diam-diam saja. Pernah saudara saya datang, selama tiga hari, tidak berkomunikasi. Bersama tapi tidak bicara. Baru dua hari, dia belajar bahasa di kampung dan kami berkomunikasi dalam bahasa kampung kami .

Kadang kami pergi kalau disapa dengan bahasa Indonesia. Mungkin malu

Kadang pakai bahasa tubuh, atau sekali-sekali menggunakan bahasa Indonesia yang "menggelikan". "Sudah rata semua", maksudnya, "Sudah hijau semua". Bahasa Simalungun "rata" artinya hijau.

Mirip, ketika saya berkunjung ke desa di pedalaman Nias pada 2005-2006, bahkan 2011. Lucu sekali kalau mengingatnya.

"Berapa anaknya Ibu," saya sapa seorang ibu di desa padalaman Nias.

"Ha..ha..ha..," katanya sambil memilin-milin sirihnya dan tidak ada jawaban atas pertanyaan saya. .

Saya baru menggunakan bahasa Indonesia saat sekolah di SMA. Setahun lebih, saya bergaul dengan teman-teman SMA di SMA 2 Pematangsiantar. Bahasa Indonesianya masih "berpasir-pasir".

Dengan bermodalkan kemampuan berbahasa seperti itu, belum fasih benar berbahasa Indonesia, kemudian tahun kedua saya hijrah ke SMA 22 Jakarta.

Pasti kang Ahmad Hilmi, teman satu kelas saya di SMA tersebut ketawa-ketawa kalau mengingat saat ketika pertama kali saya sapa di SMA 22 Jakarta..he..he.

Seorang siswa perempuan orang yang pertama saya temui dalam perjalanan dari halte Bea Cukai ke SMA 22 di Utankayu, langsung mengejek saya: "Orang Medan ya". Walau kemudian dia sangat suka menyapa saya di hari-hari berikutnya dan menjadi teman akrab selama SMA .

Awalnya sekolah di Jakarta, saya seringkali bingung mendengar teman-teman yang bicaranya cepat sekali. Layaknya saya mendengar percakapan bahasa Inggeris seorang Amerika sedang berbincang.

Lama-lama, telinga terbiasa dan otomatis memahaminya.

Belajar bahasa Inggeris juga saya peroleh dengan bekerja dan berpartner dengan orang asing. Saya pernah menjadi kontributor media asing, pernah bekerja di perusahaan-perusahaan asing.
Saya punya pengalaman berbicara dan menulis dalam bahasa Inggeris meski hanya untuk dimuat di mediaonline asing atau lembaga asing saja(dengan sedikit edit tentunya). Belum media cetak terkenal.

Belajar bahasa itu harus terjun dan berenang di kolam. Harus mengalami bagaimana rasanya tenggelam, kemasukan air (diejek, khususnya ketika SMA di Jakarta--dibilang BTL), baru kemudian memperbaikinya terus menerus.

Belajar bahasa Sunda saya memperolehnya ketika tinggal di rumah seorang Sunda di Bogor dan tinggal tiga bulan di desa Jasinga, dan selama dua tahun bertugas di Ciamis.

Bahasa Batak Toba juga saya kuasai ketika duduk di bangku SMA di Pematangsiantar, Jakarta dan ketika kuliah di IPB, dari teman-teman Batak Toba.

Belajar bahasa melalui teori tidak banyak menyelesaikan kemampuan berbahasa, juga kemampuan menulis. Belajar bahasa, menulis adalah sebuah ketrampilan, hanya bisa dikuasai dengan praktek, banyak latihan.

Sama dengan menulis biografi atau otobiografi, atau artikel. Saya belajar dengan metode "terjun ke kolam".

Tulis, tulis, tulis dulu, kemudian perbaiki di buku kedua, ketiga, ke empat dan seterusnya.
Sekarang saya mau tanya, apakah bahasa Indonesia saya sudah cukup baik, secara oral dan tulisan?


Mari sharing pengalaman berbahasa oral dan lisan kita, mungkin ada gunanya buat anak cucu kita.

Medan, 18 September 2014

Menulis di FB

Oleh: Jannerson Girsang

Menulis di FB berarti kita "HADIR DIMANA-MANA, DIBACA SIAPA SAJA, DAN TEREKAM DALAM WAKTU YANG LAMA"

Menulis adalah pekerjaan merangkai kata-kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf, membuatnya menjadi pesan yang bermakna, berguna bagi pembacanya.

Tau nggak kalau Anda menulis di Facebook?.

Tulisan Anda dibaca di mana-mana, oleh siapa saja, dan akan terekam lama oleh dunia ini. Sebab FB adalah jejaring sosial yang memiliki anggota miliaran orang.

Kalau Anda marah, mengumpat, mencaci maki di FB, seluruh dunia akan tau karakter Anda.
Ingat, dunia tidak suka orang yang marah-marah, mencaci maki, melecehkan. Anda juga sama dengan dunia ini, tidak suka juga kan dilecehkan, disakiti.

Sama dengan mahluk hidup yang lain, kita semua suka kebaikan, saling menghargai dan saling menyenangkan satu dengan yang lain.

Karena menulis di FB membuat kita hadir dimana-mana, kapan saja, maka mulailah belajar menuliskan hal-hal yang menyenangkan teman-teman yang lain, membuat hidup mereka terasa lebih hidup. Bukan membuat mereka yang sudah merasa hidup, terus terasa seolah terbunuh (karakternya).

Buahnya, Anda juga akan mendapatkan kesenangan dari mereka. Dengan demikian dunia ini akan semakin damai, hidup kita semakin bermakna.

Kitab Perjanjian Baru berkata: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Selamat pagi semua!.

Medan 18 September 2014

Rabu, 17 September 2014

Anggota DPRD Ramai-ramai Gadaikan SK

Oleh: Jannerson Girsang

Isu terhangat dua hari terakhir adalah berita tentang anggota DPRD yang baru dilantik menggadaikan SK, untuk meminjam uang ke bank. "Ini tidak etis", kata seorang pengamat di Metro TV.

60 persen anggota DPRD Bandung, misalnya, sudah menggadaikan SKnya untuk mendapat pinjaman dari bank, dengan nilai antara Rp 100 hingga Rp 250 juta. . "Untuk mencicil per bulannya tinggal memotong gaji setiap bulannya. Untuk cicilan saya hampir Rp 7 juta per bulan dengan masa peminjaman sekitar 50 bulan," kata kader Partai Gerindra, seraya mengaku mendapatkan gaji per bulan sekitar Rp 13 juta.

Artinya, separuh gajinya selama lima tahun sudah dipotong bayar utang. Aneh juga yah, kalau dengan gaji Rp 6 juta sisanya, seorang anggota DPRD hafus membiayai hidupnya yang cukup mewah. Mereka harus menyumbang partainya, menyumbang konstituen: memasang bunga papan pada pesta-pesta, menyumbang rumah-rumah ibadah.

Barangkali kita bisa pro dan kontra. Seseorang memang berhak meminjam uang ke bank sejauh dia memiliki agunan dan bank itu percaya. Boleh kita katakan tidak etis atau etis.

Kita juga tidak perlu menaruh curiga atas tingkah para anggota legislatif itu. Barangkai, kita hanya perlu mengingatkan agar mereka peduli juga nantinya memfasilitas rakyat yang berhak dan layak meminjam dari bank.

Masih banyak rakyat yang berhak dan layak meminjam belum difasilitasi dengan baik. Andai rakyat bisa seperti anggota DPRD, yang seolah secara otomatis memiliki hak memperoleh pinjaman begitu mereka dilantik. Bahkan pihak bank yang datang kepada mereka. Anggota DPRDnya tinggal meminta persetujuan Pimpinan, uang cair!.

Selamat buat anggota DPRD yang sudah dilantik dan mendapat pinjaman dari bank. Semoga kita rakyat ini juga bisa difasilitasi yah!

Medan, 17 September 2014

SIMON SARAGIH: Merampungkan Biografi Taralamsyah Saragih

Oleh: Jannerson Girsang

Pagi ini saya mengintip kegiatannya Simon Saragih, seorang wartawan senior harian Kompas.

Setelah berbulan-bulan mengikutinya menulis, dan pernah beberapa kali berdiskusi secara langsung, baik melalui telepon dan chating di FB, pagi ini saya menyaksikan sampul buku Biografi Taralamsyah Saragih, sudah mencapai draft akhir.

Ingat Taralamsyah Saragih, ingat "Eta Mangalop Boru", sebuah lagu Simalungun yang dipopulerkan penyanyi terkenal Eddy Silitonga di era 1970-an.

Tentu, Taralamsyah bukan sekedar mencipta lagu, tetapi dia adalah tokoh besar budaya Simalungun

"Saya terpikir bahwa terbitnya buku ini tidak semata-mata menuliskan kebesaran nama Taralamsyah. Buku ini juga sekaligus mengingatkan secara implisit kesadaran akan identitas Simalungun," demikian komentar Prof Dr Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian RI, dalam pengantar buku seperti dilansir dalam website Berita Simalungun

(http://www.beritasimalungun.com/2014/09/kata-sambutan-prof-dr-bungaran-saragih.html).

Semoga bukunya cepat diluncurkan dan kita semua dapat membaca isinya, sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Saya sangat terkesan dengan kegigihan dan kesungguhan penulis buku biografi Taralamsyah. Saya menyaksikan sebuah metode baru penulisan biografi yang memanfaatkan Facebook sebagai sarana diskusi.

Simon secara khusus membuka sebuah akun khusus Penyusunan Buku Ttg Taralamsyah Saragih untuk mendukung informasi yang diperolehnya baik melalui wawancara maupun observasi lapangan dan riset,

Cara ini belum banyak dilakukan para penulis biografi di Indonesia. Simon mungkin salah seorang pelopornya. Tidak mudah melakukan tugas seperti ini, dibutuhkan waktu dan energi melayani diskusi-diskusi yang kadang "panas" hingga memerahkan kuping.

"Lang pala ikkon sempurna, roh sandiri do kin penyempurnaan ai ge" (Nggak usah harus sempurna, penyempurnaan akan datang sendiri")

"Tulis apa yang diketahui, selalu dengan asumsi (ai pe pambotoh sanggah manulis), lanjut ma proses dialektika,' katanya. .

Itulah kelebihannya sebagai seorang penulis yang sudah puluhan tahun bergelut dalam dunia tulis menulis. Mampu menanggapi kritik dengan menahan diri, berfikir positif, mengucapkan terima kasih, dan mengakui kekurangannya. Sesuatu yang hanya dimiliki penulis tangguh seperti Simon. .

Sebelumnya, Simon telah menulis sebuah buku biografi. Buku berjudul: Elpidius Van Duijnhoven: Rasul Dari Simalungun Atas, Sungguh Mati Dia MencintaiNya" mengisahkan seorang pastor yang melayani selama 34 tahun di daerah Saribudolok dan sekitarnya.

Buku setebal 480 halaman itu telah kunikmati dan memberi cakrawala baru tentang tugas dan missi seorang pelayan. Bekerja tanpa pamrih, mengejar sesuatu yang tak terlihat mata, tak teraba tangan, memakai akal budi yang telah diberikan Tuhan.

Simon telah memberi pelajaran baru bagi para penulis biografi. Mengawali pekerjaan dengan sebuah kepedulian, merancangnya dengan matang, melakukannya dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia, dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Terima kasih panggi Simon, telah memberi kami pelajaran baru.

Selamat panggi Simon. Semoga pekerjaannya mendapat berkat dan menjadi berkat bagi kami semua pembacanya.

(Terima kasih kepada Berita Simalungun. Saya kopi sampulnya yah!)

Medan, 17 September 2014.



Photo: SIMON SARAGIH: MERAMPUNGKAN BIOGRAFI TARALAMSYAH SARAGIH

Pagi ini saya mengintip kegiatannya  Simon Saragih, seorang wartawan senior harian Kompas. 

Setelah berbulan-bulan mengikutinya menulis, dan pernah beberapa kali berdiskusi secara langsung, baik melalui telepon dan chating di FB,  pagi ini saya menyaksikan sampul buku  Biografi Taralamsyah Saragih, sudah mencapai draft akhir.

Ingat Taralamsyah Saragih, ingat "Eta Mangalop Boru", sebuah lagu Simalungun yang dipopulerkan penyanyi terkenal Eddy Silitonga di era 1970-an. 

Tentu, Taralamsyah bukan sekedar mencipta lagu, tetapi dia adalah tokoh besar budaya Simalungun

"Saya terpikir bahwa terbitnya buku ini tidak semata-mata menuliskan kebesaran nama Taralamsyah. Buku ini juga sekaligus mengingatkan secara implisit kesadaran akan identitas Simalungun," demikian komentar Prof Dr Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian RI, dalam pengantar buku seperti dilansir dalam website Berita Simalungun 

(http://www.beritasimalungun.com/2014/09/kata-sambutan-prof-dr-bungaran-saragih.html). 

Semoga bukunya cepat diluncurkan dan kita semua dapat membaca isinya, sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 

Saya sangat terkesan dengan kegigihan dan kesungguhan penulis buku biografi Taralamsyah. Saya menyaksikan sebuah metode baru penulisan biografi yang memanfaatkan Facebook sebagai sarana diskusi. 

Simon secara khusus membuka sebuah akun khusus Penyusunan Buku Ttg Taralamsyah Saragih untuk mendukung informasi yang diperolehnya baik melalui wawancara maupun observasi lapangan dan riset, 

Cara ini belum banyak dilakukan para penulis biografi di Indonesia. Simon mungkin salah seorang pelopornya. Tidak mudah melakukan tugas seperti ini, dibutuhkan waktu dan energi melayani diskusi-diskusi yang kadang "panas" hingga memerahkan kuping. 

"Lang pala ikkon sempurna, roh sandiri do kin penyempurnaan ai ge" (Nggak usah harus sempurna, penyempurnaan akan datang sendiri")

"Tulis apa yang diketahui, selalu dengan asumsi (ai pe pambotoh sanggah manulis), lanjut ma proses dialektika,' katanya. .

Itulah kelebihannya sebagai seorang penulis yang sudah puluhan tahun bergelut dalam dunia tulis menulis. Mampu menanggapi kritik dengan menahan diri, berfikir positif, mengucapkan terima kasih, dan mengakui kekurangannya. Sesuatu yang hanya dimiliki penulis tangguh seperti Simon. . 

Sebelumnya, Simon telah menulis sebuah buku biografi yang ditulisnya. Buku berjudul: Elpidius Van Duijnhoven: Rasul Dari Simalungun Atas, Sungguh Mati Dia MencintaiNya" mengisahkan seorang pastor yang melayani selama 34 tahun di daerah Saribudolok dan sekitarnya.

Buku itu setebal 480 halaman itu telah kunikmati dan memberi cakrawala baru tentang tugas dan missi seorang pelayan. Bekerja tanpa pamrih, mengejar sesuatu yang tak terlihat mata, tak teraba tangan, memakai akal budi yang telah diberikan Tuhan.  

Simon telah memberi pelajaran baru bagi para penulis biografi. Mengawali pekerjaan dengan sebuah kepedulian, merancangnya dengan matang, melakukannya dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia, dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Terima kasih panggi Simon, telah memberi kami pelajaran baru.  

Selamat panggi Simon. Semoga pekerjaannya mendapat berkat dan menjadi berkat bagi kami semua pembacanya. 

(Terima kasih kepada Berita Simalungun. Saya kopi sampulnya yah!) 

Medan, 17 September 2014.
Sumber foto:  (http://www.beritasimalungun.com)