Minggu, 26 Juli 2015

Rumah Bolon Pematang Purba: Benteng Terakhir Pelestarian Rumah Adat Simalungun (2). (Dimuat di Harian Analisa, Minggu 26 Juli 2015)

Oleh: Jannerson Girsang

Setelah mengunjungi kompleks ini, saya berkesimpulan bahwa rumah adat dan berbagai bangunan lainnya di tempat itu adalah benteng terakhir pelestarian istana raja Simalungun, serta bangunan-bangunan adat Simalungun. Oleh sebab itu, pemerintah, masyarakat perlu memberi perhatian yang serirus.

Rumah Bolon Pematang Purba (istana raja Purba bermarga Purba Pakpak) adalah salah satu warisan bangunan bersejarah dari tujuh kerajaan yang pernah memerintah di Simalungun, Sumatra Utara. Ketujuh kerajaan itu adalah Siantar (Damanik), Tanoh Jawa (Sinaga), Pane (Purba Dasuha), Dolog Silau (Purba Tambak), Purba (Purba Pak-pak), Raya (Saragih Garingging) dan Silimakuta (Girsang),

Istana-istana raja di atas sudah rusak dan tidak selengkap dan seutuh istana Raja Purba.

Salah seorang pengurus Penyelamat Rumah Bolon Purba, Edysman Purba mengatakan istana Raja Purba adalah satu-satunya istana peninggalan raja-raja di Simalungun yang masih utuh.


Peninggalan Raja Silimakuta misalnya!. Istana raja yang terletak di Tigaraja, Kecamatan Silima Kuta Barat, Kabupaten Simalungun kini sudah tidak berwujud lagi. Bangunan-bangunan bersejarah di sana, sama sekali tidak bisa disaksikan lagi karena sudah berubah menjadi perladangan dan bangunan rumah.

“Bangunan istana Raja Silima Kuta sudah ada lagi,”ujar St Drs SN Girsang, salah seorang putra Raja Silima Kita, Padi Raja Girsang. Dia melanjutkan, “Mungkin istana raja-raja yang lain juga sudah tidak ada lagi. Saya kira hanya istana Raja Purba yang masih utuh,” katanya.

Istana ini saksi bisu betapa ratusan tahun yang lalu, nenek moyang kita sudah memiliki kemampuan membangun, peradaban masa lalu yang perlu diketahui dan dipelajari setiap generasi bangsa ini.

Mengunjungi Rumah Bolon sekaligus melepas kerinduan menyaksikan bangunan adat Simalungun yang dulunya banyak di desa-desa Simalungun, tetapi kini sudah hampir seluruhnya rusak dan tidak dapat disaksikan generasi sekarang ini.

Orang Simalungun, bangsa Indonesia pantas bersyukur karena masih memiliki bangunan istana Raja Purba, yang merupakan simbol rumah adat Simalungun. Barangkali anak-anak sekarang ini tidak menyaksikan lagu rumah-rumah adat di pedesaan yang hampir semuanya punah ditelan zaman.

Dimana lagi kita menyaksikan rumah Adat Simalungun berusia 250 tahun kalau bukan di Istana Raja Purba?

Rumah Bolon di Pematang Purba: Menelisik Kisah Unik Raja (1). (Dimuat di Harian Analisa, Minggu 26 Juli 2015)

Oleh: Jannerson Girsang

Mungkin Anda sudah berkali-kali melintasi jalan arah Pematangsiantar-Saribudolok atau sebaliknya. Di kilometer 54 dari arah Pematangsiantar atau sekitar 10 kilometer dari arah Saribudolok terdapat Desa Pematang Purba, Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun.

Dari persimpangan itu Anda hanya masuk sekitar 200 meter dan tiba di sebuah kompleks istana Raja yang monumental. Itulah Istana Raja Purba atau dikenal dengan Rumah Bolon Pematang Purba





 Di dalam istana Raja Purba yang dibangun pada abad ke 19 itu tersimpan sejumlah keunikan baik dari keunikan bangunan, maupun keunikan kehidupan raja di dalamnya. Mengunjungi istana, seseorang mampu menyerap sebagian keunikan itu.

Setelah membayar Rp 2500 per orang kepada petugas di sebuah ruang di areal perparkiran. Dengan menyusuri sebuah tangga yang baru direnovasi, kami menyusuri jalan setapak menuju sebuah terowongan.

Pengunjung memasuki istana melalui sebuah terowongan sepanjang 10 meter. Inilah satu-satunya jalan masuk ke kompleks istana. Terowongan yang tampaknya baru ditata terlihat bersih dan rapi, dan pengunjung merasa nyaman, menyenangkan dan tidak terkesan seram.

Dari tempat kami berdiri, setelah melintasi terowongan, memandang ke sekeliling istana ternyata kompleks ini dikelilingi lembah. Konon lokasi seperti ini memiliki tingkat keamanan yang baik, karena hanya perlu pengawalan dari lokasi tertentu. Dari segi keamanan, lokasi ini memang cocok untuk sebuah istana raja.

Istana yang terletak jauh dari kebisingan ini memberi kesan menambah sejuknya hati berada di daerah berketinggian 1400 meter di atas permukaan laut itu. Angin sepoi yang berhembus membuat tubuh terasa segar. Pohon-pohon besar tumbuh di sekeliling istana membuat rasa sejuk dan nyaman mengitarinya.

Pengunjung nyaman berjalan kaki melalui jalan setapak yang dilapisi beton menyaksikan bangunan-bangunan yang menjadi saksi kehidupan masa lalu di istana..

Di sudut sebelah kiri menuju bangunan utama Rumah Bolon—tempat tinggal raja dan permisurinya, terdapat bangunan Uttei Jungga--tempat tinggal panglima dan keluarganya, disebelahnya terdapat bangunan losung adalah tempat wanita menumbuk padi.

Bangunan yang pertama kali kami masuki adalah Rumah Bolon. Sebuah bangunan dengan penyangga yang terbuat dari kayu keras dengan dinding papan yang unik. Rumah ini ditopang oleh 20 tiang kayu penyangga bergaris tengah 40 cm dan lantai dengan papan setebal 15 cm.

Ornamen khas Simalungun dengan warna hitam, merah dan putih. Sebuah simbol kepercayaan nenek moyang yang dahulu percaya kepada dewa Naibata. Mereka percaya dunia ini terbagi tiga: Nagori Atas, Nagori Tongah dan Nagori Toru.

Tidak Menggunakan Paku

Sungguh mengagumkan. Bangunan sebesar itu tidak menggunakan paku sama sekali. Lantai tinggi (1,75 meter) seperti rumah panggung “Konstruksi kayu bulat sebagai penopang lantai menjadi ciri khas rumah adat Simalungun,” kata seorang pengamat di blognya. Atap terbuat dari ijuk dan kayu-kayu untuk bangunannya khas kayu hutan yang kuat.

Lantas, sejenak mata dialihkan ke bangunan tertinggi rumah bolon. Di puncak bangunan terdapat kepala kerbau dengan tanduk yang terpasang di atap rumah bagian depan. Tanduk kerbau melambangkan “keberanian dan kebenaran”.

Satu lagi yang menarik adalah, dari puncak rumah, tergantung dua utas tali sepanjang dua sampai tiga meter, yang disebut pinar tanjung bara. Masyarakat Simalungun meyakini tali ini sebagai penangkal petir.

Memasuki Rumah Bolon—tempat tinggal raja, kami menaiki beberapa tangga mencapai lantai yang cukup tinggi. Tidak ada pagar pengaman di kiri kanan, tetapi tangan bisa bertumpu pada seutas tali yang terbuat dari rotan menjuntai dari atas ke bawah. Pengunjung aman naik tangga dengan tangan berpegang pada tali tersebut.

Pintu rumah yang terbuat dari kayu keras dan cukup tebal itu terbuka. Melangkah pertama kali ke dalam rumah pengunjung akan menyaksikan berbagai hal menarik di bagian depan rumah. Di sebelah kiri terdapat lopou (ruang depan) tempat puang pardahan (istri raja pemasak makanan tamu), dan puang poso (tempat pemasak nasi raja).

Di sebelah kanan ruang puang poso terdapat kamar tidur raja—rumah kecil dengan atap, dinding dan pintu. Di kolong ruang tidur raja terdapat ruang kecil tempat ajudan raja yang sudah dikebiri (ikasih).

Di Rumah Bolon itu kami mendengar dari penjaga istana Jaipin Purba, sebuah kisah menarik dari raja Purba. Dia bercerita bahwa Raja ke-12 memiliki 24 istri. Wow!. Para istri itu bertempat tinggal di Rumah Bolon, dan sebagian ditempatkan di kampung-kampun, karena ruang yang tersedia hanya 12.

Konon sang raja perkasa itu memiliki cara unik untuk berhubungan intim dengan istri-istrinya. Menurut penjaga istana itu, jika raja ingin berhubungan intim dengan salah selir atau permaisuri, ajudannya disuruh mengantar bajut (tempat sirih) kepada yang dikehendakinya. Ajudan itu akan mengatakan kepada yang ditunjuk raja : “Raja Sihol Mardemban” (Raja ingin makan sirih). Usai menerima sirih dan sang istri yang ditunjuk bersiap merias diri supaya menarik.

Kisah menarik itu tidak menghentikan langkah kami untuk mengetahui lebih banyak misteri di dalam istana itu.

Di dinding sebelah kanan terdapat dua ogung (gong) yang berfungsi sebagai pengumuman kelahiran anak raja yang perempuan, dan di dalam tersimpan bedil untuk pengumuman kelahiran anak raja laki-laki.

Kalau anak raja yang lahir perempuan maka gong dipukul dengan jumlah pukulan genap, dan jika yang lahir adalah lak-laki, maka jumlah pukulan gong adalah bilangan ganjil.

Setelah mengitari ruang depan, pengunjung memasuki ruangan Rumah Bolon yang terdiri dari 12 ruang. Di sanalah para istri raja tinggal. Sebelum menelisik lebih jauh ke dalam, mata sedikit menoleh ke kanan. Di dekat pintu rumah bolon terdapat tiang pan raja tempat peletakan tanduk kerbau tanda penabalan raja. Di sana tergantung secara berlapis tiga belas tanduk kerbau menandakan banyaknya raja yang sudah memerintah.

 Tabel

Kemudian, kami menelisik Rumah Bolon yang memiliki 12 ruang. Saat itu, ruangan gelap, sedikit seram, karena tidak ada penerangan listrik. Susah melihat apa saja yang terdapat di dalam.

Para istri raja tidak tinggal di ruang mewah seperti istri raja pada umumnya. Setiap istri disediakan ruang tidur di atas tikar, sebuah tataring (tempat memasak), peralatan dapur dan lain-lain. Ruang-ruang itu tidak disekat, tetapi bisa tembus pandang antara satu dengan yang lain.

Ruang inilah tempat para istri raja dengan fungsinya masing-masing. Misalnya, ada puang parorot (istri raja penjaga anak), puang paninggiran (istri raja pimpinan upacara kesurupan), puang parnokkot (istri raja pimpinan upacara memasuki rumah baru), puang siampar apei (istri raja mengatur ruangan dan memasang tikar), puang siombah bajut (pimpinan peralatan pembawa sirih), puang bona/puang bolon (permaisuri), puang panakkut (istri raja bertugas di rumah bolon), puang juma bolak (istri raja memimpin perladangan).

Dengan bantuan lampu kamera, saya melihat sebuah peti mati di sebuah ruangan dekat pintu sebelah kiri. Peti mati itu adalah tempat raja meninggal. “Kalau penggantinya belum ada, maka raja akan tetap berada dalam peti dan tidak dikuburkan sampai ada pengganti,” kata Jaipin Purba

Lantas, kami meninggalkan Rumah Bolon dan berkeliling di pekarangan istana yang asri dan banyak ditanami bunga dan rumput yang hijau.

Di sebelah Selatan Rumah Bolon terdapat Balei Bolon, tempat mengadakan rapat, Jambur sebagai para tamu menginap; Patanggan Sada, bangunan tempat permaisuri bertenun dan Balei Buttu, tempat para penjaga istana.

Kami bisa mengamati makam keturunan raja di dalam kompleks istana, tidak jauh dari Rumah Bolon.




Raja Purba yang terakhir adalah Tuan Mogang yang meninggal dalam masa Revolusi 1947. Beliau adalah seorang terpelajar dan menurut Jaipin Purba raja terakhir ini pernah belajar di Leiden, Jerman. Konon, sang raja meninggal saat revolusi dan mayatnya tidak ditemukan. Jadi monumen itu hanya sebagai tanda peringatan, mirip dengan Raja Silimakuta yang mayatnya tidak ditemukan, tetapi monumennya dibangun di desa Nagasaribu, Kabupaten Simalungun.

Di kompleks makam keluarga ini terdapat makam raja dan keturunannya. Di sana kami menyaksikan makam beberapa Raja Purba, Tuan Medan Purba, serta beberapa Puang Bolon (istri-istri Raja Purba)

Semoga seluruh bangsa ini makin mencintai peninggalan nenek moyangnya. Belajar dari apa yang baik dari mereka dan menghindari hal-hal yang buruk. “A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots”. (Marcus Garvey). ***

14 Raja yang Pernah Memerintah
Pangultopultop     (1624-1648)
Ranjinman     (1648-1649)
Nanggaraja    (1670-1692)
Butiran    (1692-1717)
Bakkararaja     (1738-1738)
Baringin    (1738-1769)
Bonabatu     (1769-1780)
Raja Ulan    (1781-1769)
Atian    (1800-1825)
Horma Bulan     (1826-1856)
Raondop    (1856-1886)
Rahalim    (1886-1921)
Karel Tanjung     (1821-1931)
Mogang (raja terakhir)    (1933-1947)

Sabtu, 11 Juli 2015

Revolusi Mental di Kepolisian

Oleh: Jannerson Girsang

Pelayanan umum STNK dan Perpanjangan SIM sudah semakin baik. Mari kita syukuri dan terus mengawalnya, agar semakin hari semakin baik. Terima kasih Kepolisian!.

Setelah mengurus STNK di Sun Plaza, Medan beberapa hari lalu, saya mengurus perpanjangan SIM hari ini di Poltabes Medan, Jalan Adinegoro.

Ngurus STNK tak sampai sepuluh menit. Semua sudah otomatis. Ambil kartu daftar`tunggu, kemudian dipanggil, serahkan KTP dan STNK. Bayar sesuai dengan angka yang tertera di kwitansi yang keluar dari komputer. Tak lebih dan tak ada tips..

Selesai!.

Kita dilayani dengan ramah dan hangat. Wajah yang senyum, tidak seperti dulu, wajah polisi yang seram dan tidak ramah.

Pagi ini saya di Jalan Adinegoro, Poltabes Medan, mengurus perpanjangan SIM.

Selang beberapa menit, saya terus menerus mendengar dari pengeras suara rekaman yang mengingatkan pemilik SIM dan yang mengurus SIM.

"Masyarakat yang mengurus SIM jangan menggunakan calo. Sudah banyak penipuan yang dilakukan para calo. Kami menghimbau agar Anda mengurus SIM sendiri".

Saya masuk ke ruang tunggu foto. Beberapa menit kemudian saya sudah dipanggil.

Jepret! Selesai,

Saya akan mengambilnya hari Senin depan. Bayar, sesuai dengan yang tertera.

Apa yang saya alami adalah perubahan selama sepuluh tahun terakhir di tubuh Kepolisian. Revolusi Mental telah terjadi.

Selamat buat Kepolisian. Semoga Revolusi Mental akan terjadi dalam bidang bidang yang lain, sehingga korupsi dapat kita turunkan. Mari sama-sama mempertahankan PENGURUSAN SIM DAN STNK bebas calo, bebas dari korupsi.

Kuncinya:

"Pelayan yang berdedikasi, jujur, didukung IT yang canggih, serta rakyat yang mau mengikuti prosedur".

Jangan berteriak-teriak hapus korupsi, kalau rakyatnya juga tidak disiplin.

Mari kita apresiasi hal-hal baik yang sudah dilakukan aparatur pemerintah dan teriakkan apa yang belum beres. Jangan hanya menceritakan yang nggak beresnya aja, seolah tidak ada perubahan.

Medan, 11 Juli 2015

Susah Senyum

Oleh: Jannerson Girsang

"A warm smile is the universal language of kindness" (William Arthur Ward)

Sebelum keluar rumah hari ini saya teringat ceramah Pdt Dr Victor Tinambunan, dosen STT Theologia Pematangsiantar, dalam Pembinaan Para Pelayan di Universtas HKBP Nommensen, kemaren.

Dalam menjelaskan beban yang dipikul manusia zaman sekarang ini, beliau menunjukkan gambar monyet yang tersenyum, ceria, giginya bersih, tanpa beban.

Melihat gambar itu, semua jadi tersenyum, bahkan sebagian tertawa terbahak-bahak. Begitu mudahnya pendeta itu membuat kami tersenyum, ketika hati kami siap diisi pencerahannya!

"Ini (senyuman) seharusnya milik manusia," katanya menunjuk gambar itu.

"Senyum adalah warisan Tuhan kepada manusia. Karena manusialah ciptaan Allah yang paling mulia,dan diberi karunia menguasai dunia, dan kemampuan bersyukur" katanya

"Sayangnya, saya mengamati kita sekarang susah senyum. Baik orang kaya, miskin, pejabat rendah atau pejabat tinggi, kini semakin susah senyum".

"Kita menyimpan terlalu banyak beban. Kemajuan yang dicapai tidak berbanding lurus dengan menurunnya beban. Beban masa lalu, beban masa kini, beban masa depan. Tiga-tiganya selalu melekat dan tidak mau melepasnya".

"Ketika kita masih terus memikul beban itu dan tidak mampu melihat sesuatu yang indah di dalamnya, Tidak mampu melihat berkat!. Wajah kita susah senyum"

"Seseorang sudah sukses menghantarkan 6 anak dari tujuh anaknya sukses. Tapi terus memikirkan kegagalan satu orang anaknya. Padahal, dia lupa, kalau sudah memperoleh enam berkat yang luar biasa"

Fokuslah pada berkat, bukan pada beban!.

Sebelum kita keluar rumah, kosongkan jiwa, undang kebaikan mengisi hati, baca Firman, dengar lagu-lagu, baca buku motivasi,

Sampai kita mampu berucap: "Aku memuji kebesaranMu"

Sharinglah dan tataplah orang-orang terdekat kita. Bercengkeramalah sebentar dengan keluarga kecil.

Senyumlah!. Senyum yang tulus, cerminan hati yang suka cita dan memberi berkat bagi sekitar.

Semoga hari ini, kita makin mudah senyum dan menjadi berkat bagi yang lain.

Medan, 11 Juli 2015

Lebih Baik Kembali Miskin

(Jeritan Istri Orang Kaya)
Oleh: Jannerson Girsang

Banyak istri bercita-cita memiliki suami orang kaya, Mewah, disanjung orang di pesta, nyetir mobil mewah sendiri kemana-mana. Bisa berlibur kemana dia suka.

Tapi seorang istri dalam lagu Tumagon Mulak Pogos (Lebih Baik Kembali Miskin), justru dirinya lebih suka keluarganya kembali miskin.

Heran yah, Kenapa?

Ternyata tidak semua istri orang kaya itu bahagia. Inilah salah satu jeritan seorang istri yang memiliki suami kaya.

Perubahan status, dulunya miskin, tetapi jadi orang kaya baru (OKB), bisa merubah suasana rumah tangga.

Salah satunya, suami lupa diri, lupa kebutuhan istri yang hakiki, seperti kata syair lagu ini

Suami yang sibuk, karena kekayaannya, kadang melupakan kebutuhan istri. Istri butuh waktu, cinta, kehangatan dan perhatian dari suami.

Sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan uang, salon, mobil, piknik ke Makao atau hiburan lainnya!.

Sang istri terkenang saat mereka miskin, belum punya fasilitas.

Saat itu, dia merasakan rumah tangga yang begitu bahagia. Waktu, cinta, kehangatan dan perhatian suami masih penuh.

Suami setia. Pergi kemana-mana selalu sama, karena istri selalu nempel dengan suami di atas sepeda motor.

Setelah punya mobil masing-masing, dan bisa setir sendiri-sendiri, suasananya berubah. .

Belanja ke tempat mewah, sekali seminggu cuci muka ke salon, sendiri-sendiri..

Memang, dari luar orang melihatnya bahagia, hebat! Banyak orang yang salut (mangapian). .

Bertahun-tahun, sang istri penuh sandiwara kepada teman-temannya.

Senyum simpulnya, wajah dengan polesan salon, baju baru, sepatu baru, setiap tampil di pesta, tidak ada yang menyangka kalau hatinya hancur.

Apalagi mendengar kisahnya sekali setahun liburan ke Makao, sendiri, ke Hongkong sendiri!

Dia dipandang sebagai ibu yang bahagia.

Tapi, sebenarnya.....!. Setiap dia pulang ke rumah.....

Seringkali, sehari semalam suaminya tidak pulang. Istri sendirian menunggu di rumah, suami entah dimana.

Kalau pulang dan si istri bertanya, "Dari mana, Pak?"

"Kau nggak ngerti itu!" kata sang suami.

Aduhhhhh, "Sakitnya Tuh di Sini......di dalam hatiku!" seperti syair lagunya Citata.

Ketika istri tidak lagi memperoleh waktu, cinta, kehangatan dan perhatian dari suami, dia tidak berarti apa-apa lagi. Hidupnya hampa!

Akhirnya......!

"Aduh.....kalau begitu lebih baik kita kembali miskin Pak!" Tumagon ma hita mulak pogos.

Lagu Batak "Tumagon ma Hita Mulak Pogos" (Lebih baik kita kembali miskin) karya Buntora Situmorang yang dilantunkan penyanyi populer di era 80-an, Rita butar-butar, begitu menyentuh hati

Jeritan seorang istri yang mendapatkan harta dunia, tetapi kehilangan waktu, cinta, kehangatan dan perhatian suami.

Simak deh syair lagunya!.

TUMAGON MA HITA MULAK POGOS
(Lebih Baik Kembali Miskin)

Dongan hi ale amang (Teman-temanku Pak!)
Godang do mangapian (Banyak orang yang salut)
Dongan hi ale amang (Teman-temanku, Pak)
Didok do au na sonang (Bilang aku bahagia)

Sonang do au (Aku bahagia)
Sonang do au (Aku bahagia)
Anggo pamereng ni halak (Kalau dilihat orang)
Anggo pamerengan (Hanya dilihat dari luar)

Alus hi tu dongan hi (Aku menjawab teman-temanku)
Hubahen ma mengkel sumbing (Kubuat tertawa terbahak-bahak)
Molo dung dipuji au (Kalau saya disanjung)
Ina-ina na sonang (Ibu-ibu yang bahagia)
Alai hassit (Tapi sakit...)
Malala rohanki di bagasan (Tapi dalam hatiku yang terdalam, hancur)

Aha so dongan mangapian da amang (Kenapa mereka tidak salut?)
Marnida au na boi tu dolok tu toruan (Melihatku bisa ke sana kemari)
Balanja siap ari (Setiap hari belanja)
Tu Hero Pasar Swalayan (Ke Hero Pasar Swalayan)
Marsahali saminggu paias bohi ro tu Salon (Sekali seminggu cuci muka ke Salon)

Molo lao mardalani setir sendiri do nian (Kalau jalan-jalan setir sendiri)
Alai so ada umbotosa da amang (Tapi tidak ada yang tau, Pak)
Manang boha do bagas ni parsorion (Bagaimana dalamnya pendritaanku)

Marsadari saborngin (Sehari semalam)
Jumotjotan ma au dang mardongan (Aku lebih sering sendiri)
Paima-ima ho na sai lalap di parlalapan (Menunggumu entah kemana)
Molo tar sor husungkun (Kalau aku bertanya)
Sian dia do ho amang (Dari mana kau Pak?)

Aha ma alusmu tu au da amang (Apa jawabmu, Pak?)
Dang diattusi ho be i (Kau tidak mengerti apa yang kulakukan)
I do alus Mi (Itulah jawabmu)

Molo songoni nama hatam tu au amang (Kalau jawabmu begitu, Pak)
Umbulusan ma hita on mulak pogos (Lebih baiklah kita kembali miskin)

Medan, 8 Juli 2015

Jangankan Presiden, Manusia Biasapun Tidak Boleh Dihina

Oleh: Jannerson Girsang

Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang memberikan kebebasan berbicara kepada rakyatnya. Mengritik, mengoreksi kesalahan boleh-boleh saja.

Tetapi "menghina" orang, siapapun dia, termasuk menghina agama, suku, adalah pekerjaan yang tidak diizinkan dalam demokrasi, dimanapun di dunia ini.

Barangkali banyak yang belum mengerti apa artinya menghina, sehingga terus melakukannya!.

Di alam demokrasi Indonesia sekarang ini, kita menyaksikan begitu bebasnya orang melontarkan komentar-komentar atau pernyataan yang kebablasan, bernada menghina, tetapi tidak terjerat oleh hukum.

Tak peduli apakah yang diungkapkannya sudah berada pada tahap menghina. Tanpa pernah memikirkan kalau hal yang sama terjadi pada dirinya. "Seenak udelnya aja," kata orang Jawa.

Dalam kamus KBBI, menghina artinya merendahkan; memandang rendah (hina, tidak penting), memburukkan nama baik orang; menyinggung perasaan orang (spt memaki-maki, menistakan)

"Menghina" adalah perbuatan melanggar hukum.

Orang yang menghina jelas tidak berniat baik, tidak memiliki peri kemanusiaan, menganggab manusia sebagai mahluk yang lebih rendah dari dirinya.

Kata orang sih, umumnya, orang yang suka menghina adalah orang yang tidak benar kerjanya, tidak beres dengan dirinya sendiri, kurang kreatif, orang yang sering tersakiti, dan tidak memiliki pertemanan yang baik, berkarakter buruk. .

Kalau dia menghargai manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan, maka dia tidak sampai hati menghina, mempermalukan orang lain di depan publik atau orang banyak.

Dia akan mengajak bicara empat mata dan mengutarakan solusi.

Orang yang menempuh jalan menghina orang lain untuk menyatakan eksistensinya adalah pengecut. Seringkali menaikkan statusnya melebihi atasannya, menjadikan kelasnya di atas orang yang dihinanya.

Parahnya, orang yang suka menghina, biasanya mencari pengikutnya yang tidak tau permasalahan, jadi ikut bersalah. Pengikut orang yang suka menghina orang lain adalah para "pesakitan" yang tidak berfikir rasional.

Belakangan ini penghinaan bawahan terhadap Pimpinan tak jarang terjadi. Bahkan isu hangat saat ini adalah Menteri yang menghina Presiden.

"Ada menteri yang menghina Presiden. Pembantu Presiden malah menghina," kata Tjahjo Kumolo, mendagri, di Jalan Denpasar Raya, akhir Juni lalu.

Inilah jawaban Iwan Falls, seorang musisi terkenal di negeri ini, soal hina menghina ini. Iwan Falls, musisi yang selalu melakukan sindiran-sindiran sosial lewat lirik lagunya itu pun mengingatkan bahwa siapa-pun yang menghina Presiden berarti menghina rakyat.

"Presiden ..............dipilih rakyat, berarti kalau ada yang hina presiden ya menghina rakyat dong," tulis Iwan Fals di akun Twitternya @Iwanfals, seperti dikutip Rimanews..

Jangankan Presiden, manusia biasapun tidak boleh dihina!

Iwan Falls mengingatkan, seorang Menteri harusnya membantu atasannya, bukan malah menghina presiden. Sebab, menghina Presiden sama saja dengan menghina rakyat.

Apalagi menghina rakyat biasa, lebih berat lagi!. Menghina sang pencipta, menghina Tuhan!

"Yakinlah,bahwa si tukang menghina sedang bermasalah dengan dirinya sendiri,si tukang menghina hidupnya tidak bahagia dan akan terus mendapat masalah," ujar seorang motivator.

Benar sekali. Yang dihina belum tentu merasa terhina, tetapi orang yang suka menghina sudah pasti orang-orang yang terhina!

Ayat emas memangatakan: "Sebagaimana kamu menginginkan orang lain berbuat kepadamu, perbuatlah demikan kepada mereka.....".

Anda mau jadi orang terhina, hinalah orang lain!

Medan, 6 Juli 2015


Ulang Tahun Ayah Saya ke-78

Terusik Abu Sinabung

Oleh: Jannerson Girsang

Abu vulkanik Sinabung, tidak hanya membuat perasaan tidak nyaman di luar rumah, tetapi akan berpotensi merusak produksi tanaman, serta kenyamanan para wisatawan berkunjung ke daerah ini. Sebuah kejadian alam yang perlu mendapat perhatian: pelajari dan cari cara pemecahan yang serius.

Perjalanan dua hari dari Medan ke kampung orang tuaku di Nagasaribu--sekitar 107 km sebelah Selatan kota tempat  tinggalku ini, bersama keluarga adikku Henri Girsang, melintasi Sibolangit, Brastagi, benar-benar terusik oleh abu vulkanik Gunung Sinabung.

Sejak keluar dari  Medan, kemaren, abu tipis sudah mulai terasa mulai dari Medan. Makin parah ketika kami tiba di daerah Sibolangit. Daun-daun pohon dan tanaman sudah memutih oleh Abu Sinabung.

Di daerah Suka Makmur, persisnya daerah perumahan dan Wisata Green Hill, saya mengamati sebuah tanaman hias.Seluruh daunnya putih tertutup abu.

Ketika kami melintasi kelokan-kelokan di atas Bandar Baru, memandang ke sebelah kiri, lembah yang dalam ditumbuhi pepohonan, yang sebelumnya berwarna hijau menyegarkan mata, kemaren seperti hamparan abu putih menutup dedaunan.

Sesampai di Panatapan--kira-kira 5-6 km menjelang Brastagi, dekat pabrik air mineral Aqua Daulu, sebuah tempat istirahat bagi para pelintas jalan, untuk istirahat dan biasanya minum kopi atau meniuman segar lainnya di siang hari (tentu bagi yang tidak puasa), saya menatap ke sebuah jurang.

Pepohonan tertutup oleh abu dan berwana putih-abu-abu. Saya tidak melihat hutan yang menghijau, tetapi hutan yang memutih. Di sana biasanya saya melihat monyet-monyet bermain dan kadang datang ke tempat kami minum, tak satupun yang kelihatan. Mungkinkah mereka juga terusik abu vulkanik Sinabung?. Entahlah. Yang jelas saya tidak melihat seekor monyetpun di sana, sore kemaren.

Kita sempat bercanda, "Kalau daun tertutup oleh abu dan tidak terkena sinar matahari dalam enam bulan, apa akibatnya?". Saya bertanya kepada putri adik saya yang baru masuk kelas 6 SD tahun ini. Dia hanya tertawa!.

Canda ini tidak sepele. Ketika abu menutup daun dan menghalangi sinar matahari, maka peristiwa fotosintesa akan terganggu. Pembentukan hijau daun dan seluruh pertumbuhan tanaman akan tergaggu. Kalau itu terjadi pada tanaman sayur mayur atau buah, maka dia tidak akan menghasilkan buah. Lalu?

Seorang ahli pertanian dari Universitas Gajah Mada, Azwar,  mengatakan abu vulkanik hasil letusan Gunung Kelud yang berukuran kecil dan tampak lembut bisa menutupi stomata daun sehingga mengganggu proses fotosintesis.Tentu tidak berbeda dengan apa yang sedang terjadi di sekitar letusan Gunung Sinabung.

Menurut dia, yang paling terganggu akibat daunnya tertutupi abu vulkanik ialah tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran. Tanaman hortikultura di daeah sepanjang jalan Brastagi, tertutup abu yang cukup tebal.  Semoga hujan lekas turun, sehingga tanaman itu bersih dari abu dan dapat bertumbuh normal dan tidak menambah derita penduduk di sana. a

Abu juga menutupi atap-atap rumah sepanjang jalan hingga kami keluar dari Brastagi. Syukur, karena ke arah Kabanjahe, abu sudah mulai berkurang.

Taman-taman dan halaman di depan hotel-hotel berbintang di daerah Brastagi terutup abu. Angin senantiasa berhembus dan menerbangkan abu yang membuat udara tidak nyaman untuk dihirup. Sebagian memakai masker, dan memang mereka harus memakainya. Kenikmatan merasakan alam segar di luar rumah memang sudah terganggu. Sebuah anugerah Tuhan yang selama ini dinikmati para pengunjung/turis di daerah ini.

Hari ini, kami kesal, karena Vihara Budha yang ada di Tahura, tutup. Kami tidak bisa menikmati kemewahan gedung tempat pemujaan umatt Budha itu. "Closed" semikian tulisan di gerbang vihara yang cukup banyak dikunjungi orang. Di lokasi itu, beberapa staf sedang menyiram abu dengan air.

Di jalan raja memasuki vihara itu, saya menyaksikan tempat pengungsi Sinabung. Banyak mobil parkir mengantar bahan makanan dan kebutuhan mereka. Mereka yang biasanya nyaman di kampungnya di sekitar kaki Gunung Sinabung, kini mereka harus berdesak-desakan di tenda-tenda dan ruangan-ruangan terbuka. Terusik bukan dua atau tiga hari, tetapi belum dapat ditentukan waktunya

Kalau kami hanya kesal karena terganggu abu, saudara-saudaraku ini mengalami kesedihan yang luar biasa.

Semoga Tuhan bermurah hati untuk meringankan penderitaan saudaraku yang tertimpa musibah Sinabung.   

Medan, 5 Juli 2015

Pohon Hias tetutup abu vulkanik Sinabung di kawasan Gerbang Green Hill, Sukamakmur, Jalan Medan-Brastagi. (photo: Jannerson Girsang)

 Pohon Hias tetutup abu vulkanik Sinabung di kawasan Gerbang Green Hill, Sukamakmur, Jalan Medan-Brastagi. (photo: Jannerson Girsang

Serah Terima Pimpinan Pusat GKPS

Oleh: Jannerson Girsang

Suasana damai, harmonis, semangat kebersamaan, itulah yang kusaksikan mengawali tugas Pimpinan Pusat GKPS lima tahun ke depan dalam acara Serah Terima Jabatan Pimpinan Pusat GKPS yang baru, kemaren. Semoga suasana ini, juga dirasakan seluruh anggota jemaat GKPS ke depan.

Jumat 3 Juli 2015, dari pukul 11.00 WIB-14.00 WIB, saya berkesempatan menyaksikan Serah Terima Pimpinan Pusat GKPS (Ephorus dan Sekjen) dari Pimpinan Pusat yang lama Pdt Jaharianson Saragih dan Pdt El Imanson Sumbayak kepada Pimpinan Pusat yang baru Pdt Rumanja Purba dan Pdt Paul Munthe.

Setelah berusia 54 tahun, baru inilah pertama kalinya saya dan istriku Erlina Sipayung, diberi kesempatan oleh Tuhan menyaksikan acara Serah Terima Jabatan Pimpinan Pusat GKPS. Pengalaman berkesan yang tidak mungkin saya lupakan sepanjang hidupku. Puji Tuhan!.

Acara berlangsung di ruang rapat Kantor Pusat GKPS di Pematangsiantar, kompleks yang dikelilingi kebun kelapa sawit. Wajah-wajah cerah hadirin secerah cuaca siang itu.

Sebuah lagu yang mengungkap rasa syukur dari Haleluya No 411.dinyanyikan dalam acara pembuka.

Diatei tupa ma Bamu Ham Naibata, membahen tupa humpulan nami on
Igomgom Ham do horja nami on torsa, gok malas uhur do hanai ijon
Ibere Ham do damei na tarsulur, sanggah manranggi horja haganup
Nuan hanami rap marmalas uhur, mardingat haganup pambahenanMu


.......................................

Saya menyaksikan Pimpinan Pusat yang lama mempersiapkan dengan baik acara tersebut, suasana akrab, harmonis dan diselingi ceria dan tawa.

Seperti yang diungkapkan Sekjen yang Baru, Pdt Paul Munthe, "Kami berterima kasih kepada Pimpinan Pusat yang lama, yang telah mempersiapkan acara ini dengan baik"

Sekjen lama Pdt El Imanson secara sepintas menjelaskan hal-hal yang sudah dilakukan Pimpinan Pusat GKPS (2010-2015) dan hal-hal yang masih harus dilanjutkan Pimpinan Pusat yang baru.

Beliau meringkasnya dari Memori yang disusun dalam bentuk laporan tertulis. Tanggapan-tanggapan, dan koreksi kemudian dilanjutkan dengan acara serah terima jabatan dan aset.

Saya menyaksikan Ephorus lama menyerahkan seluruh aset GKPS yang digunakannya selama ini kepada Ephorus baru. HP, I-Pad, Laptop, kunci mobil, kunci rumah. "Kalau masih ada yang tersisa, nanti akan saya serahkan kemudian" ujar Pdt Jaharianson Saragih.

Sekjen lama, Pdt El Imanson Sumbayak menyerahkan dokumen dan berita acara yang ditandatangani kedua belah pihak.

Senang dan bahagia sekali sebagai jemaat, kalau para pimpinan, pendeta, penginjil, para pelayan (sintua, syamas, guru sekolah Minggu), juga mampu mempertontonkan keharmonisan dan kekompakan.

Dalam acara itu saya menyaksikan masing-masing menggunakan bahasa yang sopan, berlomba saling menghormati, melakukan yang terbaik dari apa yang mereka miliki untuk kemuliaan Tuhan, saling menyemangati dan menguatkan satu dengan yang lain, tidak dendam, tidak melukai sesama, tidak saling mempermalukan.

Hanya dengan sikap yang demikianlah jemaat percaya bahwa mereka adalah pimpinan, pendeta, penginjil dan pelayan Tuhan. .

Semoga peristiwa serah terima yang berlangsung dalam suasana kompak dan harmonis ini menyebar dan hidup di tengah-tengah seluruh jemaat GKPS.

Pimpinan Pusat, hingga pimpinan di Jemaat, para pelayan dan seluruh jemaat akan memulai kehidupan baru, menyongsong lembaran baru GKPS.

Dalam sambutannya, Pimpinan Pusat yang baru mengingatkan agar ke depan tidak ada lagi waktu kita tersisa membicarakan proses (peristiwa) Synode Bolon.

"Itu sudah selesai. Tidak ada ruang lagi dalam periode ini membicarakan proses Synode ke 42. Ke depan kita bersama-sama membicarakan, melaksanakan amanat Synode Bolon".kata Ephorus baru Pdt Rumanja Purba, MSi.

GKPS dan para pendeta, penginjil kiranya mampu mempertahankan harmoni yang sudah ditunjukkan para pemimpinnya. Kasih, kebersamaan melanjutkan dan meningkatkan program ke depan adalah fokus kita.

Mari meninggalkan kepentingan pribadi, sentimen pribadi dan kelompok, serta mari kita mengejar tujuan utama, "GKPS menjadi berkat" bagi Simalungun, bagi bangsa Indonesia.

"Mulai hari ini, saya akan menjadi Ephorus yang baru. Saya berharap saudara-saudara semua menerima saya sebagai partner kerja melayani Tuhan. Mari sama-sama membangun GKPS lebih baik. GKPS adalah institusi, bukan pribadi-pribadi. Tugas ini berat dan marilah kita semua bekerja bersama-sama" kata Ephorus Pdt Rumanja Purba.
,
Acara yang berlangsung hampir tiga jam tersebut diawali dengan Kebaktian dan Doa Pembuka darii Anggota Majelis Gereja Pdt Jan Jonner Sinaga, MTh, dilanjutkan dengan acara Serah Terima, serta ucapan terima kasih, pesan dan kesan dari Pimpinan Pusat Periode (2010-2015), Pimpinan Pusat Periode (2015-2020), mewakli Majelis Gereja (St Jumpatuah Saragih), mewakili Praeses (Pdt Yusni Saragih, Prases GKPS Distrik III Saribudolok), Mewakili Kepala Biro (Pdt Safril Sitopu)

Acara ditutup dengan Doding HaleluyaL No 7: 4+8

Tarima kasih ma uhurhu, Bamu O Naibata tongtong,
Ibahen dear ni layakMu, binereMu bangku on
Ai ipatudu Ham tongtong ganup na porlu bangku on

Sai layakMu do pujionku sadokah na ma nggoluh au
Sai goranMu pasanganponku sadokah na marhosah au
Ronsi rotapni hosahkin, sai pujionku Ham ijin.

Acara serah terima ditutup dengan doa oleh Pdt Enida Girsang MTh, Anggota Majelis Gereja GKPS.

Awal yang baik sudah dimulai, mari kita pelihara dan tingkatkan ke depan! I love GKPS. Setiap hari, setiap saat!

Medan, 4 Juli 2015
MENGASIHI ORANG YANG TIDAK PERNAH BERTEMU

"How do you explain love for someone you;ve never met? Not Simphaty, not compassion, But love. A deep and inexplicable love It was beyond me, I knew that. It was beyond human, I knew that"
(Capt Dale Black, Flight to Heaven: A Plane Crash.........).

Saya banyak berteman di FBku ini dengan teman-teman yang sama sekali belum pernah bertemu. Tentu demikian sebaliknya.

Mengapa bisa saling mengasihi?.

Capten Dale mengungkapkan itu bukan hanya sekedar simpati, atau gairah.

Itulah kasih yang mendalam dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Di luar akal saya dan kita semua, kata Dale Black..

Medan, 4 Juli 2015