Senin, 20 Oktober 2014

Presiden baru Jokowi melepas mantan Presiden SBY. "Semoga Bapak diberi Barokah, kesehatan dan umur yang panjang," katanya. SBY menyambut dengan tepuk tangan dan diikuti para hadirin.

Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Damai Indonesia (8)

Oleh: Jannerson Girsang

"Bubarkan," kata Presiden Baru, Jokowi. Masih terasa kaku. Baru pertama kali mengucapkannya sebagai Presiden yang baru dilantik beberapa jam yang lalu. Upacara penyambutan hanya berlangsung 1-2 menit. Cepat sekali.






Presiden baru Jokowi berbincang dengan mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Tidak terdengar suara apa yang mereka bicarakan.
Saya menyarankan : Pak Jokowi nggak usah tiru deh SBY yang membiarkan pengusutan Soeharto berjalan, padahal hasilnya tidak ada bagi rakyat.

Maafkan semuanya, seperti Anda memaafkan Prabowo yang sudah mengobok-obok Anda di masa lalu. Dendam hanya akan menghasilkan kesusahan bagi diri Bapak dan kami rakyat bapak.

Kalaupun SBY memiliki kesalahan biarlah beliau bertanggungjawab kepada Tuhan. Nggak usah capek deh mengutak-atik kesalahan Presiden lama. Capek, dan pendukungnya kan banyak juga. Lima tahun ke depan kerjakan tugas-tugas yang langsung dirasakan rakyat Indonesia.
Mulai era baru, pemikiran baru dan tindakan-tindakan baru.
 
 
 
Upacara Pelepasan SBY. Terharu....."..pemimpin itu datang dan pergi" kata SBY.

Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Damai di Indonesia (7)

Upacara penyambutan Presiden baru berlangsung di Istana Merdeka
Upacara penyambutan Presiden baru sudah berlangsung

Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Damai di Indonesia (6)

Presiden baru Indonesia, Jokowi tiba di istana

Mantan Presiden SBY menyambut Presiden Baru Jokowi di Istana Merdeka

Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Damai di Indonesia (5)

Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Damai di Indonesia (3)

Oleh: Jannerson Girsang

Presiden baru Republik Indonesia berfoto bersama Ketua MPR RI
































Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Damai di Indonesia (2)

Oleh: Jannerson Girsang 

Joko Widodo menyampaikan pidato pertama sebagai Presiden RI ke-7. Joko Widodo (Jokowi), setelah menyapa dan menyebut nama mantan Presiden dan Wakil Presiden yang sempat memimpin Indonesia, Jokowi tak lupa menyapa Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
"Yang saya hormati rekan dan sahabat saya Bapak Prabowo Subianto," kata Jokowi saat membuka pidato pertamanya di gedung MPR/DPR Jakarta, Senin (20/10/2014). Prabowo langsung berdiri di tempatnya dan memberi hormat dengan tangan kanan di keningnya. Merinding...terharu melihatnya!. 

Oh Jokowi, oh Prabowo, berdamailah untuk Indonesia Raya!

"Kita tidak bisa besar dalam keterbelahan dan perpecahan. Pemerintahan saya akan memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok tanah air merasalan pelayanan pemerintahan".

"Inilah momen sejarah kita bergerak bersama".
Amin Pak Jokowi!. Kami semua berharap niat bapak akan terwujud lima tahun ke depan. "Revolusi Mental"
Doa untuk Presiden Baru oleh Lukman Hakim Saefuddin, Menteri Agama RI masa Pemerintahan SBY
Doa untuk Presiden Baru oleh Lukman Hakim Saefuddin, Menteri Agama RI masa Pemerintahan SBY

Sidang Parpurna selesai dan ditutup pukul 11.10, Presidenku sekarang Ir H. Joko Widodo. Semua meninggalkan ruang Sidang. Era Baru Indonesia

 Sidang Parpurna selesai dan ditutup pukul 11.10, Presidenku sekarang Ir H. Joko Widodo. Semua meninggalkan ruang Sidang. Era Baru Indonesia

Menyaksikan Peralihan Pemerintahan Indonesia yang Damai (1)

Oleh: Jannerson Girsang

Pagi hari Senin, 20 Oktober 2014 merupakan hari bersejarah bagi Indonesia. Sebuah acara penting berlangsung di Gedung DPR/MPR RI, Senayan Jakarta.

Bagi saya rakyat Indonesia yang tinggal dengan jarak udara sekitar 1300 km dari Ibu Kota Republik Indonesia, Jakarta, televisi merupakan media yang paling tepat menyaksikan even bersejarah ini secara langsung (real time).

Untuk mengabadikan peristiwa penting ini saya membuat foto-foto  momen-momen yang menurutku penting dari televisi favoritku Metro TV.

Foto-foto kupetik melalui black barry dan kuposting ke FB agar lebih banyak teman-teman setanah air, baik yang berada di Indonesia dan luar negeri yang menyaksikannya.

Foto-foto yang anda nikmati beserta cerita ringkasnya saya ambil dari FB saya untuk dokumentasi ke depan. Hal ini cukup penting, karena saya baru menyaksikan kejadian seperti ini untuk pertama kali sepanjang sejarah Indonesia.

Presiden yang digantikan hadir dan menandatangani berita acara serah terima jabatan Presiden. Ini tidak terjadi di masa pemerintahan mantan Presiden Megawati, maupun mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Inilah transisi pemerintahan yang damai, dan harus menjadi teladan bagi para presiden Indonesia di masa-masa mendatang.

Belum pernah terjadi. Jokowi Presiden Baru dan SBY presiden yang akan menyerahkan jabatan berjalan bersama memasuki ruangan Sidang Paripurna Pelantikan Presiden Baru Indonesia, Joko Widodo (Jokowi)


Ketua MPR RI menilai peristiwa pelantikan Jokowi menjadi Presiden ke 7 Republik Indonesia sebagai sebuah "tinta emas" sejarah bangsa ini "Hari ini kita menorehkan tinta emas perjalanan sejarah bangsa ini. Kita mampu melaksanakan peralihan kekuasaan secara damai dan bermartabat" ujar Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI, sesaat setelah membuka Sidang Paripurna Pelantikan Presiden Baru Indonesia, Joko Widodo.
"Hari ini kita menorehkan tinta emas perjalanan sejarah bangsa ini. Kita mampu melaksanakan peralihan kekuasaan secara damai dan bermartabat" ujar Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI,  sesaat setelah membuka Sidang Paripurna Pelantikan Presiden Baru Indonesia, Joko Widodo.


SBY dan JOKOWI. Masa lalu dan Masa depan Indonesia! Masa lalu sebagai pelajaran.

Jangan ulangi kesalahan masa lalu, lanjutkan hal-hal yang sudah baik. Mencari-cari kesalahan pemimpin yang lama hanya buang-buang energi.

Bertahun-tahun kita membuang energi, waktu dan dana membuktikan Presiden Soeharto adalah seorang koruptor, tetapi semua sia-sia. Bekerjalah membangun rakyat, jangan buang waktu dan energi mencari-cari kesalahan. Kita bukan manusia yang sempurna, mari kita maafkan kesalahan menatap masa depan yang baru.   

Hilangkan kebiasaan mencaci maki pemimpin lama dan memuja-muja pemimpin baru. SBY adalah mantan Presiden yang harus dihormat.  

Sabtu, 04 Oktober 2014

KECEWA DENGAN DPR-RI?

Oleh: Jannerson Girsang

Kalau sangat kecewa melihat tingkah DPR-RI kita sekarang ini, Anda masih normal. Kalau Anda senang, berarti Anda sudah abnormal. Mari kita sama-sama belajar dari pengalaman pahit ini.


Siang ini saya membaca sebuah Media lokal dengan Tajuk berjudul: "Tak Perlu Takut dengan 
Anggota DPR".

Begitu seramkah rakyat Indonesia sekarang, memilih wakilnya yang seram, dan membuat dirinya takut dengan wakil-wakilnya sendiri?.

Anggota DPR-RI model begini kerjanya cuma menakut-nakuti, menghalang-halangi pekerjaan pemerintah yang tidak sesuai dengan keinginan kelompoknya, memaksakan kehendak, "asbun"

Kita juga punya DPR-RI yang belum "ngeh" jadi anggota DPR. Saya tadi sangat kecewa ketika sebuah stasiun televisi mewawancarai dua orang artis yang terpilih menjadi anggota DPR-RI. Untuk memahami apa hak dan kewajiban DPR saja tidak tau.

"Hak dan Kewajiban DPR?. Oh ya ada tertulis di buku panduan DPR yang kami pelajari di Lemhanas. Ada..ada," katanya tertawa, tanpa merasa malu. Anang Hermansyah, pencipta lagu dan penyanyi terkenal, ketika ditanya hak dan kewajibannya sebagai anggota DPR, cuma mampu menjawab: "Maksudnya apa?"

Saya kahwatir, anggota DPR begini nantinya akan jadi pengarang lagu, penyanyi dan berbisnis hiburan. Stress pekerjaan, stress jadi anggota DPR, akhirnya keanggotaan DPRnya hanya "sampingan".

Pengamatan saya, pernah ada seorang pembawa acara yang jadi anggota DPR-RI periode (2009-2014), kerjanya terus aja menjadi MC dimana-mana. Tak sadar dia sudah menduduki jabatan terhormat. Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya tentang suara rakyat. Untungnya dia tidak terpilih lagi. Dia terhindar dari stress.


Lainnya, ada anggota DPR-RI yang membuat keanggotaannya menjadi alat, status, alat korupsi.
Ada pula anggota DPR-RI yang ngomong, setelah koalisinya gagal menempatkan anggotanya merebut pimpinan. "Kita serahkan rakyat untuk protes".

Wah, udah rakyat susah memilihnya, susah pula lagi setelah terpilih. Apa kerjanya di Senayan, kalau tugasnya gagal, suruh rakyat yang menyelesaikan?

Kecewa!. Kata pendetaku, Rajinlah Beribadah. Hikmah sebuah kesalahan bersama. Mari perbaiki bersama, jangan jatuh ke lobang yang sama!.

Lima tahun ke depan menjadi pelajaran penting bagi rakyat Indonesia dalam memilih wakil-wakilnya. Jangan sampai memilih Monster-monster yang menakutkan, orang menjadi anggota DPR sebagai sampingan, atau mereka yang tidak mengerti tugasnya!

Medan, 4 Oktober 2014

Sabtu, 27 September 2014

Pertemuan Pembaca dan Penulis Sumatera Utara Tahun 2014 Menciptakan Masyarakat Pembaca (Reading Society) Menuju Masyarakat Pembelajar (Learning Society)

Oleh: Yunita Ramadayanti Saragi, S. Pd

Pada hari Kamis, 25 September 2014 kemarin, telah diselenggarakan sebuah acara yang bertajuk Pertemuan Penulis dan Pembaca Sumatera Utara tahun 2014. Acara yang bertempat di hotel Soechi Medan ini, diprakarsai oleh Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD) provinsi Sumatera Utara. Sekitar lima puluh undangan yang berasal dari kalangan penulis dan pembaca di wilayah Sumut memenuhi sebuah ruang pertemuan di lantai dua hotel yang terletak di jalan Cirebon tersebut. Baik penulis yang sudah terbilang cukup senior dan penulis pemula, bergabung tanpa ada sekat yang memisahkan. Sekedar sharing info atau pengalaman di bidang tulis menulis.

Saya sendiri hadir sekitar pukul 14.00 WIB. Setengah jam lebih cepat sebelum acara pembukaan dimulai. Begitu memasuki ruangan, saya langsung menemukan tiga orang pria berbagai usia sedang berbincang serius. Tanpa malu-malu saya mendekati mereka dan berlagak ‘Sok Kenal Sok Dekat’, mendengarkan perbincangan dengan seksama. Ikut nimbrung sekali-sekali tanpa diminta. Dari curi-dengar pembicaraan tersebut, saya ketahui bahwa salah satu dari tiga pria yang mengaku telah berusia tujuh puluh tahun itu adalah penulis. Saya tidak menanyakan banyak mengenai tulisan-tulisannya, sebab saya takut, jangan-jangan ia orang hebat di Medan. Sehingga, tidak mengetahui siapa dirinya adalah sebuah kesalahan. Maka daripada malu, saya hanya mendengarkan ceritanya saja.
Beliau mengatakan bahwa Medan dulu, sarangnya penulis hebat. Saya tak menyangkal sebab memang pernah membaca nama-nama penulis tersohor dengan karya melegenda, banyak yang berasal dari Medan atau wilayah Sumatera Utara. Sebut saja Chairil Anwar, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana (pelopor pujangga baru), Merari Siregar serta segudang nama-nama lain yang akrab di telinga masyarakat bahkan dalam skala nasional dan internasional. Karya-karya mereka yang bombastis telah mampu mewarnai bahkan sebagian memutar-mutar ‘kompas’ dunia sastra.

Bapak berumur tujuh puluh yang tak saya ketahui namanya tersebut—karena terlalu segan untuk bertanya—menyayangkan betapa prestasi itu sekarang hampir sirna. Banyak yang beranggapan, penulis merupakan kalangan marginal yang hanya dilakukan orang-orang tak punya pekerjaan. Atau yang lebih menyedihkan lagi ada yang menganggap bahwa penulis BUKAN pekerjaan—kecuali kalau anda sudah punya sebuah buku bestseller tentunya. Dan betapa ia menginginkan bahwa penulis-penulis lokal nun jauh di pelosok Sumut turut jua dihadirkan dalam acara serupa ini untuk membagikan pengalamannya. Sebab katanya ia kenal dengan banyak penulis hebat yang ‘tenggelam’ dalam dunianya sendiri dan tak diberi kesempatan untuk berbagi.

Perbincangan kami lerai saat undangan yang datang semakin ramai. Bapak yang bahkan hingga detik terakhir tak saya ketahui namanya tersebut—terkutuklah saya—bergabung dengan para penulis ‘senior’ lainnya. Sedangkan saya duduk dengan ‘teman baru’, beberapa mahasiswa IAIN yang juga merupakan peserta pertemuan.

Acara pun dimulai. Jangan ditanya, molor dari waktu yang tertera di undangan itu sudah pasti. Kata sambutan dari ketua panitia mengawali semuanya dengan beberapa laporan mengenai kegiatan tersebut. Segera saja acara dibuka secara resmi oleh yang mewakili Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumen Sumatera Utara. Ibu Suryanti, S. E, Kabag Layanan dan Teknologi BPAD Sumut selaku perwakilan memulai dengan pesan-pesan yang amat jelas. Bahwa penulis sebagai agent of knowledge adalah mitra perpustakaan. Ia mengajak agar penulis menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua. Baginya, tak ada penulis, maka tak ada perpustakaan.

Setelah rehat sejenak untuk sholat ashar dan coffee break, sesi pertama pun dimulai. Sesi ini memaparkan tema Peran Perpustakaan Daerah Sebagai Pusat Deposit. Yang menjadi pembicaranya tak lain tak bukan adalah Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumen Sumut, Bapak Hasangapan Tambunan, S. Pd, M. Si. Beliau mensosialisasikan Undang-undang nomor 4 tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam. Salah satu butir dari undang-undang itu adalah ‘Setiap penerbit yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia, wajib menyerahkan 2 (dua) buah cetakan dari setiap judul karya cetak yang dihasilkan kepada Perpustakaan Daerah di ibukota provinsi yang bersangkutan selambat-lambatnya tiga bulan setelah diterbitkan.’ Selain untuk menambah koleksi dan khasanah perpustakaan juga untuk barang bukti jika di belakangan hari terjadi plagiasi pada karya tersebut. Bapak Tambunan menambahkan bahwa dalam hal ini penerbit lah yang berkewajiban menyerahkan karya cetak tersebut, akan tetapi ia meminta agar penulis mengerti akan adanya UU tersebut dan membantu mensosialisasikannya. Karena tujuan sebenarnya adalah melindungi ‘karya’ para penulis itu sendiri.

Sesi pertama berakhir setelah pembicara menjawab pertanyaan dari beberapa peserta. Tanpa jeda, tepat pada pukul 17.30 WIB, sesi kedua pun dimulai. Dan pada hari itu juga saya baru tahu, bahwa Medan memiliki seorang penulis khusus biografi yang cukup produktif. Mulai tahun 2002 hingga sekarang, ia sudah menulis setidaknya lima belas buku biografi tentang beberapa tokoh-tokoh nasional maupun lokal. Artikelnya juga sudah sering bertengger di koran-koran lokal Medan, salah satunya koran Analisa. Mungkin namanya sudah tak asing bagi pembaca Analisa, beliau bernama Bapak Ir. Jannerson Girsang. Pria berusia 53 tahun ini, bercita-cita akan menggenapkan buku biografinya menjadi dua puluh. Dan buku ke-dua puluh yang ingin ditulisnya adalah tentang perjalanan hidupnya sendiri sebagai seorang penulis biografi. Beliau memiliki sebuah quote yang menarik “Jika seseorang meninggal, dan kisahnya belum dituliskan, maka itu artinya sebuah perpustakaan telah terbakar.” Ia mengatakan bahwa semua orang harus menulis dan pasti bisa menulis. Beliau tidak percaya bahwa menulis itu bakat, menulis itu keterampilan yang bisa diasah. Kuncinya hanya tekun dan fokus. Setidaknya pasti bisa menuliskan tentang kejadian dalam hidupnya sendiri. Jika ternyata tulisan kita bisa menginspirasi kehidupan orang lain, tentu itu menjadi sebuah nilai tambah yang positif.

Tepat saat adzan maghrib berkumandang, pertanyaan terakhir dari peserta tuntas dijawab pembicara yang baru saya sadari blog-nya pernah saya buka sehari sebelumnya. Ketika itu saya ingin mencari informasi tentang Pertemuan Pembaca dan Penulis yang akan saya ikuti. Saya membaca artikel tentang pengalamannya bertemu penulis senior di ajang serupa empat tahun yang lalu. Di akhir sesi, saya mengikat banyak inspirasi dari orang hebat yang rendah hati ini. Salah satunya, pekerjaan yang tak pernah bisa dipecat dan tak memiliki masa pensiun adalah PENULIS. Maka, menulislah.

Selepas maghrib dan makan malam, sesi ketiga pun dimulai. Tanpa terlihat lelah dan tetap bersemangat para peserta antusias menyambut pembicara yang akan menyampaikan tema Gemar Membaca: Cikal Bakal Hasrat Menulis. Moderator memperkenalkannya dengan nama DR. Azhari Akmal Tarigan, M. A. Dan kembali saya tertegun, bahwa banyak penulis lokal yang namanya bahkan baru saya dengar hari ini. Tidak sefamiliar nama Andrea Hirata atau J. K. Rowling nun jauh di England sana memang. Akan tetapi kemampuannya dalam menulis mungkin bisa jadi sekaliber penulis-penulis terkenal itu, bahkan mungkin melampaui. Dengan rendah hati ia memperkenalkan buku-buku yang pernah ditulisnya. Hampir semua diterbitkan oleh penerbit lokal dan kebanyakan adalah buku mengenai Ekonomi Islam yang menjadi subjeknya saat mengajar mahasiswanya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan. Namun ada juga buku-buku bertema lain yang masih tak jauh dari dunianya. Yakni dunia pendidikan.

Sambil berkelakar pria berkumis yang tulisannya sering wara-wiri di koran Waspada ini menyampaikan, bahwa salah satu bukunya sudah ada yang terjual sebanyak empat ribu eksamplar lebih tapi tak jua menuai cap ‘bestseller’. Itu terjadi karena buku tersebut 'wajib' dibeli untuk pegangan santri di sebuah Pondok Pesantren. Semua orang tertawa. Dan saya berpikir, bahwa beginilah seyogianya pendidik itu. Bisa menulis buku sendiri sebagai buah pikirannya untuk dijadikan bahan mengajar.

Beliau menyampaikan banyak motivasi-motivasi agar menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya orang Indonesia. Meski perut t’lah kekenyangan dan malam semakin menua, namun tak ada peserta yang mengantuk. Semuanya larut dalam suasana penuh motivasi yang dikemas apik dalam canda oleh Pak Tarigan. Banyak hal kecil yang bisa dilakukan untuk membuat Negara dengan budaya ‘oral’ ini menjadi Negara berbudaya membaca dan menulis. Salah satunya, jangan malu untuk membaca di tempat-tempat umum. Dalam sebuah antrian di negara-negara maju, orang-orang akan menghabiskan waktunya dengan membaca. Di Indonesia orang lebih senang mengobrol ngalor ngidul atau mungkin memainkan gadget-nya daripada membaca. Mulailah dari orang-orang yang ngakunya komunitas pembaca atau penulis, kutipnya dari salah seorang peneliti.

Di akhir sesi tak ada lagi yang bisa beliau katakan selain membaca lalu menulis lah! Membaca lalu menulis lah! Jika anda datang ke toko buku, mulailah buat perhitungan. Seperti yang telah dilakukannya. Misalnya saat menemukan buku bagus seharga enam puluh ribu rupiah, mulailah membuat perhitungan. Dari buku ini kita bisa menuliskan review-nya, itu bernilai sekian. Dari buku ini kita bisa menuliskan sebuah artikel, itu bernilai sekian. Jika balik modal bahkan untung, maka beli! Itulah enaknya jadi PENULIS, tandasnya sambil tertawa. Memang kata-kata itu terlihat ringan dan bagi sebagian pandangan tendensius terkesan materialistik. Tapi ini bermakna sangat dalam bagi jiwa yang berpikir. Bahwa membaca itu bukan hanya menakluklan ejaan-ejaan aksara lalu memahami makna. Membaca itu adalah proses berpikir yang darinya kita bisa menemukan pemikiran-pemikiran baru. Budayakanlah Membaca dan Menulis, hai orang Medan pada khususnya dan orang Indonesia pada umumnya. Jadikan masyarakat kita ini menjadi Reading Society, masyarakat pembaca untuk menuju Learning Society, masyarakat pembelajar. HORAS.

Medan, 26 September 2014
Yunita Ramadayanti Saragi, S. Pd
Peserta Pertemuan Pembaca dan Penulis Sumut ‘14

Sumber:  http://m.kompasiana.com/post/read/676614/3/pertemuan-pembaca-dan-penulis-sumatera-utara-tahun-2014-menciptakan-masyarakat-pembaca-reading-society-menuju-masyarakat-pembelajar-learning-society.html,