Kamis, 30 Mei 2013

Pohon Beringin: Menahan Longsoran Tanah di Tepi Sungai (Analisa, 30 Mei 2013)

Oleh: Jannerson Girsang. 

 Pohon beringin (ficus benjamina) dalam literatur-literatur kuno sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Puluhan tahun yang lalu, saat masih anak-anak, kami sering menemukan sesaji di bawah pohon beringin yang telah tua dan berukuran besar. Katanya pohon seperti itu dianggap sebagai tempat kekuatan magis berkumpul. 

Tak heran kalau anak-anak takut berada dekat pohon beringin karena orang-orang tua mengisahkan bahwa tempat di sekitar pohon beringin adalah tempat yang “angker” dan perlu dijauhi. 

Belakangan manusia lebih berfikir secara ilmiah dan banyak orang menjadikannya sebagai tumbuhan pekarangan dan tumbuhan hias pot. Bahkan pemulia tanaman telah mengembangkan beringin berdaun loreng (variegata) yang populer sebagai tanaman hias ruangan, bonsai dan lain-lain. Akarnya yang kuat, ternyata juga mampu menjaga pinggiran sungai tidak longsor. 

****

Saat menyusuri Sungai Bah Bolon Mei 2013 lalu, saya mengamati tiga pohon beringin yang ditanam di pinggir sungai Bah Bolon. Tentunya, setelah belajar ilmu pertanian selama beberapa tahun di Institut Pertanian Bogor di era 80-an, pandangan saya tentang pohon ini sudah berubah. 

Bahkan pohon ini merupakan penyelamat longsoran di pinggir sungai. Di sepanjang sungai itu saya menemukan penduduk menanami pohon beringin untuk menahan longsoran tanah ke sungai. Selain itu, sama seperti yang pernah saya pelajari, pohon dapat melindungi penduduk dari abu, asap serta kotoran yang ditimbukan industri, rumah tangga dan proses pembangunan lainnya. 

Sangat mengesankan!. Di satu lokasi, saya mengamati sebuah pohon beringin yang tumbuh di beton penahan longsor di pinggir sungai. Akarnya tumbuh menempel di beton, melebar di sepanjang tepi sungai. Pohon ini ibarat perekat dan memperkuat beton, tanah aman dari lonsor dan pinggiran sungai terbebas dari pendangkalan akibat erosi tanah.

 

Di satu lokasi saya melihat sebuah pohon sawit yang tumbuh di pinggir sungai dan hanyut oleh kikiran arus sungai. Akar-akar pohon seperti sawit tidak cukup kuat untuk bertahan dari hempasan arus sungai. Pohon sawit tidak cocok untuk menahan longsoran tanah di pinggir sungai. Setelah pohon sawitnya hanyut, maka tanah akan masuk ke sungai dan sawit yang hanyut akan mengurangi kapasitas sungai menampung air. 

Arus air Bah Bolon yang deras menghanyutkan pohon kelapa sawit, karena akar-akarnya tidak cukup kuat untuk menahan kikisan air (Photo Jannerson Girsang).JPG

** 

Pohon beringin, sebagaimana pohon lainnya, mempunyai banyak manfaat yaitu menahan laju air sehingga akan lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah. Selain itu akar pohonnya akan menahan tanah yang terkikis agar tidak masuk ke aliran sungai/saluran air yang akan menimbulkan endapan. 

Beringin mampu memasok kebutuhan oksigen (O2), menyaring kotoran (debu jalanan, abu pabrik/rumah tangga), mereduksi beberapa zat pencemar udara dan meningkatkan kenyamanan lingkungan. 

Pohon beringin mempunyai banyak manfaat yaitu menahan laju air sehingga akan lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah. Selain itu akarnya akan menahan tanah yang terkikis agar tidak masuk ke aliran sungai/saluran air yang akan menimbulkan endapan. 

Pohon ini juga bermanfaat memasok kebutuhan oksigen (O2), menyaring kotoran (debu jalanan, abu pabrik/rumah tangga), mereduksi beberapa zat pencemar udara dan meningkatkan kenyamanan lingkungan.

**

Daerah di sekitar Bah Bolon telah tumbuh bangunan-bangunan dan sudah sering mengalami banjir, karena berkurangnya pohon. Beringin dengan akar-akarnya yang mampu menahan laju air sehingga akan lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah. Pohon ini dapat mengimbangi pengurangan resapan air karena bangunan-bangunan tinggi. 

Di sepanjang Sungai Bah Bolon banyak terjadi erosi air yang menghanyutkan pohon-pohon kelapa sawit. Pohon-pohon yang tidak memiliki akar yang kuat tidak dapat menahan struktur tanah. Sehingga, jangankan menahan, pohonnya sendiri akan hanyut oleh air. 

Sungai Bah Bolon juga dikelilingi oleh industri yang mengeluarkan asap, debu. Pohon ini mampu menyaring debu, abu pabrik maupun rumah tangga. Daun-daunnya mampu menampung debu dan zat-zat pengotor tersebut dan akan tersaring dengan menempel pada daun-daun dari pohon. Pada saat musim hujan maka kotoran yang menempel tadi akan meluruh seolah-olah dicuci oleh air hujan. Polusi ini sangat berpengaruh pada kesehatan tubuh.***

Penulis adalah alumni Institut Pertanian Bogor (1985)


Tidak ada komentar: