My 500 Words

Senin, 26 Mei 2014

Jokowi adalah Kita

Oleh: Jannerson Girsang

Menjelang Pilgub DKI 2012 lalu, dukungan ke saingan Jokowi--ketika itu Foke, petahana gubernur, begitu besar. Didukung banyak partai, elit-elit di ibu kota Indonesia itu, dan termasuk pendanaan tentu saja. 

Belum lagi black campaign (kampanye hitam) yang diarahkan kepada Jokowi. Kadang mengundang "ketakutan". Seram akh!. 


Tapi, black campaign tak begitu berpengaruh. Ini perlu menjadi pelajaran. Rakyat sudah pintar!

Memang banyak orang yang panik, dengan naiknya Jokowi.   Pertarungan ibarat "kancil" dan "gajah". Tapi kancilnya ternyata sangat kuat dan cerdas. Hingga gajahnya sulit bergerak, akhirnya mengaku kalah.

Hingga hasilnya mengejutkan. Jokowi menang telak. Semua pada kaget!. Orang "miskin" harta, penampilan kayak orang kampung, "kurus", tidak punya pengalaman di Jakarta, belum mengenal Jakarta, kok bisa menang? 

Karakter, sekali lagi karakternya baik!. Bangsa ini butuh pemimpin yang berkarakter, bukan yang banyak duit, dan merasa punya "pengalaman" atau pencitraan bohong-bohongan.

Ketika menjadi Gubernur DKI, Jokowi mendapat serangan luar biasa, tetapi Jokowi mampu menangkis semuanya dengan kerendahan hati, kelembutan. Pemda DKI bekerja di seluruh lini. Semua berjalan baik.

Preman ditutup mulutnya dengan kelembutan, pedagang kecil dibujuk pindah ke tempat yang lebih baik.

Yang sering tidak muncul ke permukaan, karena dianggap bukan kelebihan adalah kemampuan Jokowi menggerakkan orang lain secara sukarela (tanpa dibayar, tanpa dipaksa, bukan seperti kebanyakan tokoh saat ini), karena sadar gerakannya akan membawa mereka ke arah yang lebih baik. Kemampuan yang sudah jarang dimiliki pemimpin negeri ini.

Jokowi mampu menggerakkan semua elemen masyarakat untuk bekerja. Rakyat, polisi, tentara, satpol PP semua bekerja sama. Menteri-menteri bahkan Presiden seolah berada dalam "arus" pikiran Jokowi.

Untuk mengusir preman dia mengatakan: "Kita punya ribuan polisi, tentara, satpol PP, masak negara kalah dengan preman?". Polisi, tentara, satpol PP secara sukarela bergerak. Kata "blusukan" menjadi populer di tangan Jokowi.

Pemikiran-pemikiran sederhana yang belum pernah muncul dari tokoh manapun. Jokowi adalah tokoh pembaharu.

Jokowi dicintai rakyat dan dinilai hebat oleh media nasional dan asing. Dalam waktu singkat Majalah bergengsi dunia, Fortune memilihnya menduduki ranking 37, Pemimpin Terhebat di Dunia (The Greatest World Leader's), bahkan mengalahkan Obama, presiden Amerika Serikat.

Tak ada tokoh sehebat dia saat ini di Indonesia. Coba cek di Fortune, The New York Times, The Economist, media-media terbesar dunia!

Kerendahan hati, ketulusan bekerja, tidak melawan kekerasan dengan kekerasan, itulah senjata Jokowi. Itulah pemimpin yang dirindukan masyarakat Indonesia dan dunia yang sebenarnya.

Para pendukung JOKOWI, tidak butuh apapun (uang, jabatan menteri) untuk mendukung Jokowi. Dia akan mengulangi suksesnya di Pilpres, dan yakin akan memenangkan Pilpres, sama ketika beliau memenangkan gubernur DKI.


JOKOWI ADALAH KITA.

Medan, 26 Mei 2014

Tidak ada komentar: