My 500 Words

Minggu, 27 Februari 2011

Menggantung Lonceng di Leher Kucing


PDF Cetak Email
Oleh : Jannerson Girsang
Tak terasa kita sudah memasuki 13 tahun era reformasi di negeri ini.

Isu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), aturan yang lemah dan penegakan hukum yang mandul, tiadanya transparansi, akuntabilitas dan partisipasi dalam pengambilan keputusan publik, juga buruknya corporate governance, adalah inti perubahan yang dijanjikan di era reformasi saat menggulingkan Orde Baru.



Akan tetapi, fakta di lapangan korupsi masih merajalela. Bahkan baru-baru ini diberitakan 17 dari 33 Gubernur dinyatakan terdakwa. Belum lagi oknum bupati/walikota, serta korupsi para oknum pejabat pajak, pengusaha, dan penegakan hukum yang belum sepenuhnya berjalan.

Para ahli dari berbagai bidang membahas persoalan ini dengan berbagai metoda, tetapi barangkali, kita butuh cerita yang menginspirasi untuk menambah energi agar cita-cita tersebut tidak cukup hanya dirumuskan, tetapi melupakan pelaksanaan di lapangan.

Anda pasti pernah membaca kisahnya, "Rapat Tikus, Menggantung Lonceng di Leher Kucing" yang kami artikan: Mengucap, Merumuskan berbeda dengan Melaksanakan secara konsisten!".

***

Alkisah, dalam suatu masa sekumpulan tikus merasa terancam karena belakangan semakin banyak tikus yang korban akibat serangan kucing yang meningkat tajam. Serangannyapun datang tiba-tiba, tanpa bisa diantisipasi.

Karena itu para tikus memutuskan agar masalah mereka di bawa ke dalam rapat. Topik utamanya adalah mencari rumusan bagaimana cara agar para tikus itu mampu mengantisipasi serangan kucing sejak dini.
Melihat topik yang demikian penting dan menyangkut kepentingan bersama, ratusan tikus-tikus menghadiri rapat itu dengan penuh semangat, antusiasme yang tinggi. Layaknya Satgas Mafia Hukum saat menemukan kasus korupsi atau mafia hukum.

Awalnya mereka sangat menggebu-gebu, seolah-olah mencegah serangan kucing itu bisa diselesaikan dengan mudah, seperti dugaan Satgas Mafia Hukum, mafia hukum selesai, seperti Sangkuriang dalam legenda Sunda yang mampu membendung sungai Citarum dan membuat perahu besar dalam semalam

Di dalam ruang rapat ber AC, ratusan tikus dengan tekun membahas satu demi satu satu solusi yang diusulkan. Tiap solusi dibahas secara cermat, dan mereka tidak peduli capek dan stress. Hingga di akhir rapat yang berlangsung berhari-hari itu, mereka tiba pada satu kesimpulan.

"Kalau di leher kucing dipasang lonceng, maka dengan mudah kita akan mengetahui posisi kucing. Sejak kucing bergerak kita sudah mampu mengantisipasi serangan".

Lalu rumusan ini diterjemahkan ke dalam rencana kerja (action plan). Semua setuju dengan rumusan dan action plan tersebut. Semua peserta menandatangani dokumen dan mengakhirinya dengan tepuk tangan yang meriah. Tapi, semangat itu adalah di ruang rapat perumus.

Lalu, hari berikutnya, para tikus membahas soal jadwal pelaksana, dan yang terpenting para pelaksana setiap kegiatan.

Anehnya, yang paling cepat bertindak adalah para tikus yang menangani akomodasi dan perlengkapan. Bahkan belum putus dalam rapat, mereka sudah bekerja, sudah menghubungi suppliernya.
Tapi, untuk tugas utama: "Menggantung Lonceng di Leher Kucing" masih terus menggantung. "Siapa yang berani memasang Lonceng di Leher Kucing?", kata ketua Sidang.

Mendengar itu, suasana rapat berubah menjadi senyap. Mereka saling memandang satu sama lain, tanpa banyak bicara seperi vokalnya mereka merumuskan cara menggantung lonceng. Para tikus-tikus itu keder!. "Malu, Aku Malu" seperti lagunya Obbie Messakh. Sampai sidang berakhir, tidak ada yang berani.

Memang, kata seekor tikus yang selama ini vokal dan dialah yang menjadi inisiator ide menggantungkan lonceng tadi. "Merumuskan cara menggantung lonceng dari ruang rapat, kita berada di ruang dingin ber-AC, mendapat honor, uang transport, uang makan, dan lain-lain. Tidak ada risiko. Mengucap dan merumuskan, apalagi membeli peralatan, tidak punya risiko. Saya sebelumnya hanya mengajukan rumusan, tapi bukan melaksanakannya " katanya.

***

Kisah di atas memberi inspirasi yang menyadarkan kita semua bahwa mengucap, merumuskan sesuatu untuk pemecahan masalah, termasuk memberantas korupsi, memberantas mafia hukum, mengentaskan kemiskinan, menyejahterakan rakyat bukan hal mudah dalam pelaksanaannya.

Rumusan yang baik bagi kepentingan rakyat banyak menghadapi banyak konflik kepentingan. Mewujudkannya butuh keberanian, kreativitas, outbox thinking. Jika tidak, maka ucapan atau rumusan itu hanyalah hasil "rapat tikus".

Ucapan, rumusan memerlukan pemimpin leader yang berani mengeksekusi hingga tuntas, bukan setengah-setengah, atau istilah Gayus Tambunan, "mencicil-cicil kasus".

Para pejabat adalah leader yang harus memahami risiko mewujudkan sesuatu konsep, apalagi menyangkut masalah korupsi. Rumusan dari ruang ber-AC, tidak serta merta dapat dilaksanakan di lapangan semudah membalik telapak tangan, apalagi rumusan itu ingin berhasil dan dirasakan masyarakat. Pemimpin harus bertanggungjawab,kalau sasaran dalam tanggungjawabnya tidak beres. Bukan "Mencari Alasan", seperti lagu populer Exist asal Malaysia di era 1990-an, apalagi hanya peduli pencitraan.

Pemimpin tidak hanya menunjukkan sikap optimis ketika konferensi pers ketika menemukan kasus. Seperti Deny Indrayana, Ketua Satgas Mafia Hukum yang begitu optimis ketika mengungkap Gayus - yang sebelumnya bebas, kemudian dinyatakan tersangka. Sikap optimis para pejabat ketika menggelar konferensi pers tentang rumusan pemberantasan korupsi, bukan seperti tukang koyok, yang begitu saja bisa dilupakan.
Padahal, seperti diberitakan televisi, menjaga Gayus bertahan di penjarapun oknum-oknum keamanan kita tidak mampu. Sebagai orang tahanan, Gayus bisa keluar masuk 68 kali-pergi ke Bali, ke luar negeri tanpa mampu di monitor. Malah ada yang mengatur dan melibatkan pejabat-pejabat Imigrasi.

Aktor-aktor yang menamakan dirinya pemberantas korupsi menghindar dari tugas "Menggantung Lonceng di Leher Kucing".

Sudah saatnya menghentikan rakyat menonton penuntasan korupsi di televisi, seperti menonton bola yang tidak memiliki stiker yang jitu. Hanya menggoreng-goreng di depan gawang, tanpa pernah mencetak gol. Bahkan bolanya sering ditendang ke luar, tanpa peduli waktu permainan akan habis.

Buktikan sasaran ucapan, rumusan dilaksanakan secara konsisten di lapangan, mencapai rumusan rapat tikus: menggantungkan lonceng di leher kucing. Memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.

Jangan tunggu rakyat menjadi pemain. Itu namanya mereka tidak percaya kepada para penegak hukum, akibatnya, juga kepada pemerintah. Kalau ini berlangsung terus, dan rakyat makin bosan, maka mereka akan mengambil alih semuanya. Cukup banyak pelajaran dari para pemimpin terdahulu. Saat kekuasaan melupakan rakyat, kekuasaan tak akan berarti apa-apa.

***

Mengakhiri artikel ini, kami mengingatkan bahwa leader yang memimpin pelaksanaan rumusan penanganan korupsi dan berbagai tugas penting untuk tujuan kepentingan masyarakat menghadapi resiko. Dalam pelaksanaannya terdapat "kucing-kucing" yang sangat berbahaya, dan siap menerkam. Mereka adalah orang yang mementingkan diri sendiri, dan kelompoknya, dan melupakan kepentingan bangsa secara keseluruhan.

Artikel ini sekali lagi mengingatkan kita semua, "Mengucap, merumuskan tidak sama dengan melaksanakan, dan mewujudkannya di lapangan". Kita butuh eksekutor : "Menggantungkan Lonceng di Leher Kucing!". Marilah kita berdoa, semoga di Indonesia muncul orang yang berani, outbox thinking, dan tidak suka pencitraan!. ***

Dimuat di Harian Analisa 22  Pebruari 2011 Hal 25
Bisa juga diakses ke: http://www.analisadaily.com/index.php?searchword=jannerson+girsang&ordering=&searchphrase=all&option=com_search

Tidak ada komentar: