My 500 Words

Rabu, 20 Agustus 2014

Doa Seorang Janda

Oleh: Jannerson Girsang

"Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam". (1 Tim 4-6).

Malam ini, saya menerima telepon dari ayah saya yang mengabarkan kabar duka cita, dari kampung yang berjarak sekitar 106 kilometer dari tempat saya menulis kisah ini.

Ompung Morlinim br Sinaga meninggal dunia dalam usia 93 tahun, malam ini. Beliau adalah adik dari ibu ayah saya.

Sebuah renungan kutuliskan sebagai wujud kekaguman dan sayangku untuk Ompung, sebelum aku bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Jarak dan pekerjan membuatku belum bisa melayatmu saat ini.

Ompung Morlinim yang tidak lulus SD adalah potret seorang perempuan yang tangguh tetapi lembut, tak berpendidikan tapi cerdas dan bijak.

Seorang ibu yang selalu memberi rasa optimis, penebar kasih sayang. Saya jadi sadar, menebar kebaikan memang tidak harus memiliki ijazah S1, S2, S3, atau Professor. Cukup menguasai satu satu bahasa: "Bahasa Kasih".

Penderitaan adalah jalan Tuhan mendekatkan umatNya diri kepadaNya. Itulah yang kuyakini berlaku bagi almarhumah. Almarhumah sudah menjanda setelah suaminya Ompung Benyamin Girsang meninggal dunia pada 1967.

Sepeninggal ompung laki-laki, putrinya, si Bungsu, Reny Girsang, SH masih dalam gendongan. Anak tertuanya Ruslan Girsang saat itu berusia sekitar 20 tahun dan belum menikah.

Kehidupan pahit seorang ibu dengan sepuluh anak tanpa suami mampu dilaluinya dengan penuh pengharapan dan suka cita. Misalnya, Lermianna yang sempat putus sekolah setelah lulus SMP karena ketiadan biaya, akhirnya menjadi seorang Penginjil Wanita di GKPS, si Bungsu, Reny Girsang,lulus dari Fakultas Hukum, Universitas Lampung. Almarhum Pdt Josep Girsang, STh, pendeta GKPS yang meninggal pada 1988.

Cucunya Shemaria EvhIta Girsang berhasil meraih gelar S2 dari Universitas HKBP Nommensen tahun ini.

Ompung ini tidak pernah sakit, meski hampir "tidak pernah berhenti bekerja". Beberapa tahun terakhir, karena usia tuanya mengharuskannya hanya tinggal di rumah.

Penampilannya selalu ceria, tampak lebih muda dari usianya dan memberi inspirasi bagi kami cucu-cucunya. Tak pernah marah dan penuh kasih sayang.

Beliau adalah pemersatu keluarga kami, rajin mengunjungi famili. Ayah saya yang bersaudara ibu, seperti bersaudara kandung dengan anak-anaknya. Orang selalu salah mengira bahwa ayahku dengan Lermianna saudara ayah, padahal sebenarnya saudara ibu.

Beliau berhasil mewariskan kebaikan kepada keturunannya, sehingga kami merasa satu sama lain dekat, dan hidup saling merindukan satu dengan yang lain.

Sebuah misi yang tak sepenuhnya bisa dilakukan semua orang tua. Mewariskan "damai" bagi keturunannya.

Peristiwa paling berkesan bagiku dengan almarhum adalah ketika beliau bisa mengikuti acara wisudaku sebagai Sarjana Pertanian dari IPB, pada Mei 1985. Tanpa sebuah rencana, dia memiliki kesempatan yang langka bagi seorang janda, petani kampung, menikmati Jagorawi dan bisa bertemu tokoh pertanian negeri ini.

Entah bagimana saat itu, beliau bersama dua orang "ompung" lain kebetulan berada di Jakarta. Mereka bertiga begitu bersemangat dan suka cita bisa berada di auditorium salah satu Universitas terkemuka di negeri ini. Kesempatan yang tidak pernah dimimpikanya sebelumnya.

"Aih, jenges tumang dalan i Jawa on (Bagus sekali Jalan di Jawa ini" katanya, menggambarkan Jagorawi yang mereka lintasi dari Jakarta ke Bogor. Dia terkesan sekali jalan itu dibandingkanya dengan jalan Mardingding-Pematangsiantar yang ketika itu masih berlubang-lubang.

"Sonang tumang au. Boi dihut bani wisuda ni pahompungku (aku sangat senang bisa menghadiri wisuda cucuku)," katanya ketika itu.

Saat itu Ompung Morlinim, seorang janda, petani miskin merasa bangga bisa bersalaman dengan almarhum Prof Dr Andi Hakim Nasution, Rektor Institut Pertanian Bogor.

Dia juga senang karena saat itu cicitnya, putri pertamaku Clara Girsang sudah berusia 3 bulan. (29 tahun sesudah peristiwa itu, kini Clara sudah memberiku seorang cucu berusia 1 tahun)

Ompung yang saya kasihi. Malam ini saya teringat saat aku membawa semua cicitmu Clara, Patricia Girsang , Bernard Patralison Girsang Devee Girsang di Pematangsiantar beberapa tahun lalu. Kita bercanda bersama. Ompung membuat semangat cicit-cicitnya.

Mungkin itulah pertemuan kita yang terakhir secara lengkap bersama keluarga cucumu ini, karena kemudian cicit-cicitmu berangkat ke kota tempat studi mereka, bahkan menikah tanpa Ompung saksikan lagi.

Semua memang berakhir. Usia tuamu melemahkan tubuhmu. Tubuhmu yang lemah dan hanya tinggal di rumah beberapa tahun terakhir. Tapi kuyakin lemahnya tubuhmu masih memiliki kekuatan melalui doa-doamu.

Cucu-cucu dan cicit-cicitmu meraih cita-cita mereka, buah kekuatan doa-doamu.

Malam ini aku terkenang saat perayaan Ulang Tahun Putrimu Lermianna Girsang ke-60, di Balei Bolon, Desember 2009, saat dia memasuki pensiun. Aku menuliskan cukilan kisah putrimu dan tentunya kisahmu juga. Begitu menginspirasi kami semua.

Membaca artikel yang kutuilis pada 2009, mengingatkanku pada ketegaranmu, kesabaranmu, kelembutan dan halusnya tutur bahasamu. Bertemu Ompung terasa damai, tenang, merasa dihargai!

Aku senantiasa terharu dan terinspirasi setiap kali membaca kisah putrimu Lermianna dan kisahmu: "Apa di Balik Gunung", sebuah perjalanan hidup yang memberi keyakinan bahwa masa depan kita ada di tanganNya. Kita hanya perlu percaya dan lakukan perintah-perintahNya.

Kini semuanya hanya kenangan. Keteladanan yang tak akan pernah sirna dari kehidupanku. Ompung dan namboru Lermianna, dua wanita yang sungguh menginspirasi hidupku.

You are the great peace maker, great inspirator!

http://www.harangan-sitora.blogspot.com/2009/12/apa-di-balik-gunung.html

Selamat Jalan Ompung. Hidupmu adalah Imanmu. Doa seorang janda memang luar biasa!



Medan, 19 Agustus 2014

Tidak ada komentar: