My 500 Words

Rabu, 08 Agustus 2012


Daur Ulang Senilai Manusia dari Tong Sampah
Oleh: Jannerson Girsang
  "Jika kita punya tenaga untuk mengumpulkan sampah, mengapa kita juga tidak mendaur ulang sesuatu yang seberharga manusia," (Lou Xiaoying, seorang pemulung di Cina yang berusia 88 tahun).
(foto/int)
 
Minggu-minggu ini nama Lou Xiaoying—seorang pemulung di jalanan kota Jinghua, Cina menghiasi media-media terkenal di duna maupun di tanah air, layaknya selebiriti terkenal. Media-media membahas kisahnya karena memenolong orang lain meskipun kemampuannya terbatas dan miskin, bukan karena dirinya selebriti atau penguasa besar.
 
Detik.com menulisnya dengan judul: Pemulung Tua Penyelamat Puluhan Bayi, Kompasiana.com dengan artikel berjudul:  Pemulung Mulia bernama Lou Xiao Ying, dan berbagai media cetak yang terbit di tanah air.

Bertahun-tahun bekerja di tempat yang kumuh, minggu-minggu terakhir ini Lou muncul di media-media terkenal di dunia dengan foto-foto dirinya yang terbaring di rumah sakit dalam berbagai pose. Profesi wanita yang kini tergeletak di sebuah rumah sakit di negeri Tirai Besi itu, adalah pemulung, Pekerjaan yang tidak pernah masuk daftar cita-cita siapapun, karena tidak memberi kehidupan yang layak atau menjanjikan. Lou bekerja di tempat kotor, bau menyengat, jauh dari ruang AC yang mewarh. Namun,  dari sanalah dirinya memancarkan kasih dan perhatian kepada sesamanya.


Lou—yang oleh sebuah mediaonline disebut sebagai  “a guardian angel that saved the lives of many”, membantu tanpa pamrih, kesabaran dan konsiten membantu bayi-bayi yang ditelantarkan karena hilangnya penghargaan manusia atas bayi yang seharusnya menjadi berkat, justru ditemukannya terlantar di tong sampah.

Dia tidak mengeluh dan meratapi nasibnya, bahkan sebaliknya, sepanjang melakoni profesinya sebagai pemulung, Lou membuka panggilan jiwanya menyikapi persoalan yang muncul di sekitarnya dengan tulus dan tanpa pamrih. .

Menolong Bayi-bayi Terlantar

Lou mengerjakan sesuatu di saat negerinya mengalami banyak kemajuan. Anehnya, dia sendiri tidak pernah menikmati kemajuan itu, tetapi justru menyelamatkan orang-orang tertindas akibat dampak kemajuan itu sendiri, tanpa pamrih, tanpa peduli dia akan dihargai atau tidak.

Menggambarkan keadaan bayi yang ditelantarkan itu, dalam postingannya 3 Agustus 2012, Daily Mail mengisahkan sebuah pemandangan yang menyedihkan di Cina. “Seorang bayi ditaruh di tas plastik dan dilemparkan ke tempat sampah di kota Anshan, provinsi  Liaoning, setelah tenggorokannya terpotong. Dia terlihat dan diselamatkan oleh seorang pria yang melemparkan sampah ke tempat sampah”. Bayi itu selamat, kehidupan baru tercipta. .

Sejak 1978, pemerintah Cina mulai menerapkan  kebijakan menekan pertumbuhan penduduk dengan mewajibkan warganya membolehkan setiap keluarga hanya punya seorang anak. “Bayi perempuan yang selamat itu, diperkirakan menjadi korban dari kebijakan satu anak Cina,” tulis Daily Mail

Itulah kejadian di tong-tong sampah di Cina. Di balik gemerlapnya pembangunan ekonomi,teknologi dan berbagai prestasi lain yang dicapai negeri Cina  ternyata kisah-kisah bayi terlantar di tong sampah masih ditemukan.

Lou mulai menyelematkan bayi-bayi yang terlantar di tong sampah bersamaan dengan kebijakan itu. Bertahun-tahun Lou Xiaojing, disamping pekerjaannya sebagai pemulung, menyelamatkan 30 bayi yang dibuang ke tempat sampah di jalanan kota Jianhua, Cina.

Lou Xiaojing: Menolong Sesama dengan Panggilan Jiwa

Kisah Lou mengajarkan kita betapa setiap manusia memiliki kemampuan membantu sesamanya bagaimanapun kondisi ekonominya., sekaligus menepis hanya orang kaya dan berkuasa  dan memiliki uang untuk dibagi-bagi yang bisa menolong umat manusia. Orang miskin dan tidak punya kuasapun mampu menolong sesama

Lou Xiaoying (88 tahun) bukanlah seorang pengusaha kaya, atau seorang koruptor yang memiliki triliunan uang dan tiba-tiba menjadi seorang dermawan. Lou hanyalah seorang pemulung!.

Pemulung sama seperti yang saya temukan di bawah jembatan atau di pinggir rel kereta api di Jakarta. Hidupnya susah dan tinggal di tempat yang bau. Pasti keadaannya tidak lebih dari para pemulung yang tinggal di tempat sampah di Perumnas Simalingkar Medan dan hidup di pinggiran kota yang sepi, jauh dari segala kemewahan.

Dia menggunakan talentanya dan memaknai tindakannya menolong sesama sebagai sebuah panggilan jiwa. Tentu tindakannya itu berbeda dengan motivasi seorang koruptor yang membantu masyarakat untuk mencuci “pekerjaan kotornya” menjadi  “citra yang baik” di mata masyarakat. 

Dalam keadaan serba terbatas, Lou berhasil menyelamatkan 30 bayi, sejak pertama kali menyelamatkan bayi pertamanya pada 1978. Bersama suaminya (meninggal 17 tahun lalu), Lou membesarkan 4 orang bayi itu, disamping seorang bayi biologis mereka. Sedangkan 26 bayi lainnya diambil kemudian oleh rekan atau keluarga asuh untuk memulai hidup barunya.

Tindakan Lou didasarkan pada cinta dan kasih yang tulus, bahwa setiap orang berhak mendapat kasih dan perhatian.  "Anak-anak membutuhkan cinta dan perhatian. Mereka semua adalah nyawa yang berharga. Saya tidak mengerti mengapa orang tega meninggalkan bayi yang rentan dan tak berdaya di jalanan".

Lou tidak peduli dengan kemampuannya sebagai pemulung dan tidak menunggu kelebihan pendapatannya baru bisa membantu sesamanya.

Kemampuannya mengumpul sampah menjadi motivasi bagi dirinya untuk melakukan sesuatu yang baik: menolong sesamanya. "Jika kita punya tenaga untuk mengumpulkan sampah, mengapa kita juga tidak mendaur ulang sesuatu yang seberharga manusia,"ujarnya, seperti dikutip Daily Mail, 3 Agustus 2012.

Baginya membantu sesama adalah panggilan jiwa, segenap jiwa dan raganya untuk menyelamatkan bayi-bayi yang ditelantarkan pasangan-pasangan yang tidak memiliki nurani.

Pekerjaan baik itu dilakukannya hingga di usia diatas delapan puluh tahun. Bahkan sampai berusia 82 tahun, Lou masih melakukan pekerjaan mulia ini.
 
Anaknya paling muda, berusia tujuh tahun,  Zhang Qilin, ditemukan ditempat sampah saat Lou berusia 82 tahun. Dia membawa anak itu ke rumahnya- sebuah rumah kecil  di wilayan pedesaan, dan merawatnya kembali sehat. "Walaupun saya sudah tua  saya tidak bisa begitu saja menelantarkan bayi itu dan meninggalkannya mati di tempat sampah. Dia tampak manis dan montok. Saya harus membawanya ke rumah" ujarnya, seperti dikutip berbagai media.
 
Lou Xiaojing   telah membuat kehidupan melalui daur ulang dari tong sampah!.

Orang Kecil dengan Kisah Besar

"Masyarakat sekitarnya mengenalnya dengan baik dan menghormatinya karena pekerjaanya dengan bayi yang terlantar itu.Dia melakukan yang terbaik. Dia adalah pahlawan lokal. Tetapi sayang, terlalu banyak bayi ditelantarkan di Cina yang tidak memiliki harapan untuk bertahan hidup,” tulis Daily Mail.

Kisah orang kecil seperti Lou Xiaoyiang memberi teladan kepada kita bahwa memberi tidak harus menunggu seseorang memiliki segalanya, dan lantas member sisanya kepada yang lain. Lou memberikan seluruh miliknya untuk menolong sesama. 

“Nah, Lou Xiaoying tidak menunggu kesempatan yang sempurna untuk menyelamatkan lebih dari 30 anak yang menghadapi kematian. Dia mengambil bagian bagi lebih dari 30 anak-anak yang dibiarkan mati dan mengangkat mereka sendiririan, meskipun dia memiliki sumber daya yang sangat terbatas dan miskin,” ujar mediaonline http://miakouna.hubpages.com.
 
Ia tidak berpikir tentang sumber daya yang terbatas, tidak berpikir tentang masa depan atau apa yang akan lakukan setelah ia menyelamatkan anak-anak yang dibuang di tempat sampah. Fokus satu-satunya adalah untuk menyelamatkan anak-anak bahwa ia menemukan sementara ia mencari uang untuk makanan dan memberi mereka cinta dan pengabdian.

Perbuatan mulia itu membuka mata dunia betapa sebuah kebijakan perlu memperhitungkan ekses  negatif dimana rasa kemanusiaan tersingkirkan. Setiap kebijakan membutuhkan orang-orang yang bijak juga dalam pelaksanaannya. 

Lou menjadi begitu kuat, terkenal,  menginspirasi penduduk dunia untuk sebuah kebaikan. Menurut berbagai media, kisah Lou mampu mengungkap kenyataan di Cina dimana begitu banyak bayi yang ditelantarkan. "Dia mempermalukan pemerintah, sekolah dan orang-orang yang berdiam diri dan tidak melakukan apapun," kata salah seorang  pendukung Lou.

Kini, di usia 88 tahun, Lou Xiaoying menderita gagal ginjal, terbaring lemah di rumah sakit.

Untungnya, tindakan kemurahan hati, bekerja sendirian dengan cinta dan tanpa pamrih, akan berlanjut kepada keluarganya dan teman-temannya. “Mudah-mudahan, masyarakat akan melihat bahwa membantu seseorang tidak berarti bahwa Anda perlu uang untuk membantu orang lain. Yang Anda butuhkan adalah kasih sayang. Kasih sayang bisa membuat perbedaan bagi kehidupan orang lain,” kata mediaonline http://miakouna.hubpages.com..

Lalu, mengapa kita harus menunggu kesempatan yang tepat, menjadi kaya baru bisa memberi? Lou mengajarkan kita melakukan hal kecil di sekitar kita. Tidak perlu terlihat wah, tetapi dirasakan orang lain dan membuatnya berubah menjadi lebih baik.

Terima kasih Mother Lou!. Anda telah membuka mata dunia bahwa setiap orang wajib menolong sesamanya, tanpa memperdulikan statusnya.  (Diolah dari Berbagai Sumber)

Harian Analisa, 8 Agustus 2012, Halaman 25 (Opini). Bisa juga diakses di:  
http://www.analisadaily.com/news/read/2012/08/08/67587/daur_ulang_senilai_manusia_dari_tong_sampah/.

Koreksi: Kesalahan penulisan 24 bayi seharusnya 26 bayi.

Tidak ada komentar: