My 500 Words

Kamis, 14 Maret 2013

Kampanye Membaca 2013 Hanna Latuputty: Targetkan Buku yang Dibaca! (Harian Analisa, 1 Pebruari 2013)



Oleh: Jannerson Girsang. 


Kampanye membaca memerlukan sebuah teladan. Tidak hanya mengajak membaca dengan teori-teori membaca. Artikel ini mengisahkan pengalaman Hanna Latuputty seorang pustakawan yang menargetkan jumlah buku yang akan dibaca dalam satu tahun, dan mampu mencatat dan mengikat makna isi buku yang dibacanya.

Hanna Latuputty, SS menggeluti dunia kepustakawan sekolah sejak ia lulus S1 tahun 1995 dari Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra [kini Fakultas Ilmu Budaya], Universitas Indonesia. Hanna adalah salah satu pendiri Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia dan menjabat sebagai Ketua. Saat ini ia bekerja sebagai Senior Librarian di Dickens Library, The British International School, Jakarta. (http://apisi.org/profil-trainer).

Hanna juga berperan dalam menopang kegiatan pembelajaran siswa yang mengambil program IB Diploma. Hanna aktif mempromosikan literasi informasi dan kegiatan serta pelatihan kepustakawanan sekolah ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Hanna juga menjabat sebagai salah satu pengurus Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia [ATPUSI] dan co-chair Special Interest Group-International Focus di International Association of School Librarianship [IASL].

Melalui blognya http://rakbukukathy.blogspot.com, Hanna Latuputty, seorang pustakawan memaparkan pengalamannya membaca dan menargetkan bacaannya pada 2010.

Menelusuri blog itu saya merasa ibarat rusa masuk kampung. Selama ini, saya membaca apa adanya, sesuka hati, tergantung mood. Tentu masih banyak orang seperti saya. Saya tidak perlu berkecil hati, karena Hanna sendiri baru memulainya 2010.

Dari blog ini, saya belajar membaca dengan membuat target buku-buku yang dibaca. Saya belum pernah menargetkan jumlah buku yang saya baca dalam satu tahun dan belum secara teratur mencatat isi buku sesuai dengan kalimat-kalimat saya sendiri dan merekamnya dalam blog. Barangkali Anda termasuk seperti saya. Inilah blog yang menginspirasi saya dan Anda menargetkan topic bacaan 2013 ini.

Hanna menuangkan pengalaman pertamanya menargetkan bacaan satu tahun dalam sebuah artikel yang dipostingnya tanggal 25 Maret 2010 berjudul "Tantangan Membaca buku 50 Judul Setahun".

Artikel ini mengisahkan awal Hanna menargetkan membaca buku. Dia juga belajar dari orang lain yang menuangkan pengalamannya di internet. "Beberapa waktu lalu saat saya browsing laman tentang dunia perpustakaan sempat terlihat beberapa slogan tentang tantangan membaca. Salah satunya adalah 75 Books Challenge for 2010. Menarik, karena banyak pustakawan yang kemudian mengikuti kampanye ini dan mulai mendaftar buku-buku yang ingin mereka baca. Entah mengapa, setelah itu saya mulai menimbang-nimbang ide menarik ini".

Hanna kemudian membuat target bagi dirinya sendiri. Reading Challenge: 50 books I wish to read in 2010 (Tantangan Membaca: 50 Buku yang Ingin Saya Baca sepanjang 2010).

Sebuah target yang benar-benar menantang. Satu minggu menyelesaikan satu buku. Sebuah target yang ketat dan memotivasinya sepanjang 2010.

Pengalaman Hanna benar-benar membuat saya terbangun dari tidur, setelah berusia 52 tahun. Bagi Anda yang berusia di bawah saya, atau di atasnya, dan belum memulai merupakan sebuah tantangan di 2013 ini.

Daftar target buku-buku yang akan dibacanya dijejerkan di sebelah kanan, dari atas ke bawah. Kalau Anda mengunjungi blog ini, maka terpampang buku-buku yang dibacanya. Antara lain Bartlett, Allison Hoover. The man who loved books too much, Coelho, Paulo. Alchemist, Byrne, Rhonda (The Secret), Li, Yiyun (A thousand years of good prayersm), Wood, John (Leaving Microsoft to change the World), Asura, E. Rokajat (Wangsit Siliwangi, Bk 2), Albom, Mitch (For one more day), Blume, Judy (It’s not the end of the world), Asura, E. Rokajat (Prabu Siliwangi Bk 1), Hemingway, Ernest (The short stories), Berger, John (To the wedding), Ayu, Djenar Maesa. (Jangan main main dengan kelaminmu), Bartlett, Allison Hoover (The man who loved books too much).

Setiap selesai membaca buku, sebagi bukti dirinya membaca, maka Hanna membuat catatan dan mempostingnya di blog itu. Di sebelah kanan blognya, misalnya saya menemukan ringkasan "A thousand years of good prayers" yang ditulis Yiyun Li. Dia menyarikan hasil kegiatannya membaca dan menilai buku yang dibacanya. Di akhir ringkasan itu dia menuliskan rekomendasi: "Buku yang layak untuk dibaca".

Selain menjadi pengetahuan bagi dirinya, Hanna telah menyumbangkan hasil pekerjaannya secara gratis kepada setiap orang yang membaca blognya. Sebuah kampanye membaca dalam praktek, tidak hanya menghimbau membaca, tanpa contoh-contoh yang aktual yang bisa diteladani.

Sebuah kesaksian menarik dari pemilik blog ini adalah pendapatnya tentang target membacanya itu.

"Bagi saya tantangan membaca 50 judul sama seperti sebuah perencanaan perjalanan menikmati keanekaragaman dan kekayaan beragam petualangan dunia yang diangkat oleh para penulis buku-buku itu. Membaca adalah perjalanan mengarungi suatu dunia baru, yang mungkin belum pernah kita temui sebelumnya. Membaca adalah berpetualang. Mengalami sebuah pengalaman batin yang saya yakin akan memperkaya dunia batiniah pembaca. Membaca itu sangat subyektif. Ada kala kita suka, ada kala kita tidak suka, ada kala kita hanya ingin melihat tanpa memegang, ada kala kita ingin ikut masuk berpetualang ke dalamnya atau sekadar mendengar pengalaman penulisnya. Buat saya, tantangan membaca ini adalah petualangan-petualangan yang selalu saya nantikan. Apakah saya bisa melaluinya selama tahun 2010? Saya tidak dapat memastikannya. Namun hal yang pasti, saya akan mengalami keragaman petualangan melalui buku-buku yang akan saya baca"

Pembaca yang ingin meniru cara Hanna membaca dan membuat target bacaan, silakan kunjung blognya. Dia memiliki dua blog lain yang bercerita tentang pengalamannya sebagai pustakawan, perjalanannya ke berbagai tempat di dalam dan di luar negeri (Australia, Jaimaica dan berbagai Negara lain) dan kegiatannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Inilah salah satu dampak positif kehadiran internet. Pengetahuan dan pengalaman orang lain yang dituliskan dalam blog, memberikan kesempatan para pengakses belajar hal-hal yang baru.

Pelajaran dari kisah Hanna di atas adalah seorang pembaca perlu menargetkan dan memiliki buku-buku yang dibacanya dalam rentang waktu tertentu. Para pustakawan kita tidak hanya mengajak para warga untuk membaca, tetapi juga memberi contoh pengalaman-pengalaman membaca. Baperasda mungkin sudah saatnya membuat perlombaan blog yang memuat kisah pengalaman membaca, sehingga kampanye membaca dapat dilakukan melalui inspirasi membaca.

Mari terus meningkatkan kampanye membaca dan meneladani para pembaca dengan kisah-kisah nyata yang membuat warga kita makin mengapresiasi buku, karya cipta di 2013. Semoga!.***

Dimuat di Rubrik Opini Harian Analisa,  Jumat, 01 Feb 2013

Tidak ada komentar: