My 500 Words

Rabu, 10 April 2013

Selamat Jalan Bapa Sita Damanik “Kami Rindu Mengenang Komentarmu yang Menginspirasi”


Oleh: Jannerson Girsang

 
Sita Damanik (Sumber: FB Sita Damanik)

Melalui Facebook (FB), hari ini saya mendapat berita duka dari Nantulang Sally Pardede yang tinggal di Negeri Belanda.  

Sita Damanik, laki-laki yang sangat simpatik dan saya kenal melalui Facebook, dan sudah puluhan tahun bertempat tinggal di Dusseldorf, Jerman, meninggal dunia Selasa 9 April 2013, dalam usia 75 tahun.

Saya mengenal keduanya melalui FB. Saling bertutur dan sharing, hingga memiliki hubungan emosional, layaknya bersaudara.  
Sally Pardede adalah putri Batak  asal kota turis Prapat,Simalungun, Sumatera Utara yang menikah dengan orang Belanda. Kini mereka bemukim di  Negeri Kincir Angin itu. 

Saya belum pernah bertemu muka dengan Sally dan Sita, tetapi selalu berkomunikasi lewat FB.   Kita bertemu  melalui hati. Benar yang dikatakan Hellen Keller, “Sesuatu yang terindah adalah hal-hal yang tak bisa dilihat mata, diraba dengan tangan dan didengar oleh telinga”. Begitulah pergaulan kami selama ini, hanya melalui ungkapan hati.

Ungkapan-ungkapan dan komentar Sita Damanik yang senantiasa membangun semangat. "Kita suka ini". "Kita semua senang". "Malas uhur". "Jenges tumang pandapotmu Tuan Girsang". Sangat menyejukkan dan menyemangati.

Anak Sinaman, Simalungun ini, seringkali memberi “like” atau komentar pada status saya, khususnya yang menyangkut keadaan di Simalungun. Bahkan tanggal 1 April 2013, dia masih membuat komentar di statusnya soal kejadian di Dolok Pardamean (pembunuhan Kapolsek Dolok Pardamean Andar Siahaan) : “KAMI MERASA SEDIH DENGAR BERITA2 jg TERJADI di KAMPUNG DOLOK SARIBU ITU”. Meski tinggal di negeri yang jauh, beliau masih peduli daerah asalnya.

Dia selalu memanggil saya Tuan Girsang. Saya juga tidak mengerti. Mungkin karena sudah lama bermukim di luar, atau ada kisahnya yang lain tentang marga Girsang.

Hal yang membuat saya cukup berkesan adalah kesannya tentang kampung saya di Nagasaribu, minatnya kepada Simalungun tempat kelahirannya, serta sambutannya yang sangat positif setelah membaca buku yang saya edit, otobiografi Pdt HM Girsang. “Saya sudah membaca bukunya dan bagus sekali Tuan Girsang,” demikian komentarnya dua tahun lalu di status FB saya.    

Saya tambah terharu membaca berita si status FB dari teman saya di Siantar Damertina Saragih. Beliau adalah mantan Ketua Umum Wanita GKPS dan anggora DPRD Simalungun, yang turut mengucapkan duka atas kejadian ini di FB saya.  

Ternyata istri Bapa Sita Damanik sedang berada di Siantar pula, saat suaminya meninggal. Mereka baru saja kembali liburan dari Bali. 



“Turut berduka cita,....kita kehilangan sorang Simalungun yg sdh mnetap d Dusseldorf berpuluh thn tp tetap peduli dgn Simalungun/GKPS .Tadi pagi kakak Ny Sita Damanik boru Saragih sdh brkt dr Siantar k Medan(lg kunj kluarga ) u kembali k Dusseldorf bersm putrinya Evy n suaminya yg lg liburan k Bali.Smoga perjlnn mrk lancr dan Tuhan mmbri penghiburan n kekuatan bg kluarga yg dtinggal”. (Damertina Saragih)

Sebuah pelajaran berharga bagi facebookers. Kesan sangat kuat tentang seseorang adalah ucapan-ucapannya. Pemaknaan seseorang atas diri kita. Kalau seseorang senantiasa memberi hormat, pujian ataupun kritik yang membangun, kesannya akan sangat kuat dan diingat dalam waktu yang lama.

Mari kita bangun komunikasi dengan baik dan benar. “"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,  perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 12:7).

Facebook telah menghubungkan kita dengan seluruh dunia dan bisa berteman dan berbagi tanpa dibatasi jarak.   Gunakanlah dengan baik, sehingga menambah saudara di seluruh dunia. 

Selamat jalan Bapa Sita Damanik. Kita tidak sempat bertemu di Nagasaribu ya.Semoga perkenalan ini menjadi sesuatu kenangan yang tak terlupakan. 

Medan, 10 April 2013



Tidak ada komentar: