My 500 Words

Jumat, 27 Februari 2015

Mengenang 70 Tahun Kematian Anne Frank (1929-1945): Catatan Harian Berdampak Mendunia (Rubrik Opini Analisa, 27 Pebruari 2015)

Oleh: Jannerson Girsang.

Anne Frank (1929-1945) 
            Anne Frank (1929-1945)

Usianya cukup pendek!. Hanya lima belas tahun. Kalaupun dia hidup sekarang usianya baru memasuki 86 tahun. Dia me­ning­gal secara menge­naskan di kamp konsentrasi Nazi, 70 tahun lalu.

Tidak ada catatan yang mengata­kan bahwa dia penulis hebat. Sama seperti kebanyakan orang pada umumnya. Lagi pula saat itu adalah masa sulit bagi keluarganya turunan Jahudi di Jerman. Peluangnya menulis di media tentu sangat terbatas. Tetapi tulisan tangannya menjadi inspirasi bagi dunia.

Penderitaan Mendatangkan Hikmat

Namanya Annelies Marie atau dikenal luas di seluruh dunia dengan Anne Frank. Lahir di Frankfurt, Jerman pada 12 Juni 1929 dan meninggal dalam kamp konsentrasi tentara Nazi, awal Maret 1945.

Gadis yang meninggal di usia belia itu ada­lah orang yang paling banyak didiskusi­kan sebagai korban kekeja­man nazi di kamp kon­sentrasi, holocaust. Kehebatan Anne Frank yang membuatnya dikenang sepan­jang zaman oleh dunia adalah catatan harian­­nya.

Tidak banyak orang seperti Anne Frank. Di dalam penderitaan dia memilih menulis pen­deritaan itu. Kebanyakan orang hanya termenung, sakit dan meninggal, tanpa mewa­ris­kan apa-apa.

Selama di kamp konsentrasi itu Anne Frank menulis catatan harian tentang apa yang dilihat, dirasakan dan dimaknainya tentang peristiwa kekejaman kekejaman Nazi.

“Anne’s diary begins on her thirteenth birthday, June 12, 1942, and ends shortly after her fifteenth. At the start of her diary, Anne describes fairly typical girlhood experiences, writing about her friendships with other girls, her crushes on boys, and her academic performance at school. Because anti-Semitic laws forced Jews into separate schools, Anne and her older sister, Margot, attended the Jewish Lyceum in Amsterdam.” Demikian sebuah catatan yang ditulis seorang periview biografinya

Dia juga menuliskan pe­nin­dasan yang dialminya dan keluarganya. Sebuah catatan yang menjadi saksi kekeja­man suatu rezim—pelajaran bagi dunia yang dituntut untuk selalu menciptakan damai. Tidak enak hidup dalam keadan menderita dan teriso­lasi.

“Selama dua tahun men­catat dalam buku hariannya, Anne berkaitan dengan kuru­ngan dan kekurangan, serta isu-isu yang rumit dan sulit tumbuh dalam keadaan brutal Holocaust. Buku hariannya menjelaskan perjuangan untuk mendefinisi­kan dirinya dalam iklim penindasan . Buku harian Anne berakhir tanpa komentar pada tanggal 1 Agustus 1944. …..Namun, keluarga Frank dikhianati oleh Nazi dan ditangkap pada tanggal 4 Agustus 1944,” lanjut periview yang dikutip dari http://www.sparknotes.com/lit/annefrank/summary.html

Tulislah Maka Kamu Abadi

Kisah lengkap kehidupan Anne Frank bisa dibaca dalam buku The Diary of Young Girl atau menyak­sikan video tentang kehidupannya di youtube. Menggunakan kata kunci Anne Frank, Anda akan menemukan beberapa video yang berisi kisah tentang gadis yang malang itu. .

Di masa Perang Dunia Kedua, Anne Frank, remaja Jahudi yang men­jadi tawanan tentara Nazi menulis dalam buku hariannya apa yang dilihatnya, diala­minya atau dirasakan­nya, serta dimaknai­nya

 Di luar dugaannya tentunya, kalau kemu­dian goresan tangannya itu menjadi sesuatu yang berharga bagi dunia. Itulah hebatnya sebuah tulisan yang didokumentasikan.

 Beberapa tahun kemudian setelah Anne Frank meninggal, satu-satunya orang yang selamat dari anggota keluarga Anne Frank dari kekejaman Nazi di kamp konsentrasi, Otto Frank—seorang pebisnis Jerman dan juga ayah Anne Frank sendiri, membawa buku harian tersebut kepada beberapa penerbit.

Hingga pada pada tahun 1947 catatan hariannya diterbitkan dengan judul Het Achterhuis (The Secret of Annex). Buku itu juga ditulis dalam edisi bahasa Inggeris dengan judul The Diary of Young Girls. (Otto Frank sendiri meninggal pada 19 Agustus 1980 di Basel, Swiss).

 Pada tahun 1955, buku tersebut diadaptasi ke panggung teater Amerika dan membuat buku harian Anne terkenal ke seluruh dunia.

 Nama Anne Frank mencuat ke permukaan setelah catatan hariannya diterbitkan, sebuah kisah yang sungguh-sungguh menggugah pera­saan di masa pendudukan. Catatan hariannya semasa Perang Dunia ke-2 kemu­dian ditulis menjadi sebuah buku The Diary of a Young Girl. Buku itu menjadi inspirasi bagi para pembuat drama dan film.

Menulislah maka kamu akan abadi. Tujuh puluh tahun lalu Anne Frank telah tiada, namun danamnya terus didengungkan hingga sekarang ini. Menjadi inspirasi bagi dunia.

Menulislah Walau Hanya Untuk Dirimu Saja!

Apakah Anda termasuk orang yang merasa diri gagal menulis?. Berkali-kali memasuk­kan arti­kelnya ke media tidak kunjung dimuat. Ber­kali-kali menulis buku tetapi tidak pernah terbit.

Atau bertahun-tahun menulis tidak juga “ngetop”, tidak berhasil menulis buku seperti Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata?.

Jangan menyerah. Teruslah menu­lis!. Me­nulis adalah merekam perada­ban,me­ngung­kap perasaan yang menginspirasi, meng­hasilkan kekua­tan bagi yang lain, paling tidak anda seperti Anne Frank, menulis untuk diri­nya sendiri.

“Any man who keeps working is not a failure. He may not be a great writer, but if he applies the old-fashioned virtues of hard, constant labor, he’ll eventually make some kind of career for himself as writer” (Ray Bradbury).

Apa yang ditulis?. Bagi saya, meniru Anne Frank, saya menulis apa saja yang membuat perasaan tersentuh, terinspi­rasi dan membagikannya kepada kha­laya, baik melalui artikel, buku, atau bahkan hanya saya publikasikan di akun facebook atau blog pribadi saya.

Menulis adalah sebuah ketram­pilan, memerlukan latihan. Latihan menulis dan kepekaan terhadap lingkungan, mem­perkaya tulisan dengan pengala­man interaksi lingkungan, keluarga, teman, atau hasil kerja yang meng­ins­pirasi dan menyemangati diri kita. Menulis fakta yang memberi makna!.

Seperti pengalaman David Brin. “If you have other things in your life—family, friends, good productive day work—these can interact with your writing and the sum will be all the richer”.

Mungkin saya atau Anda belum men­jadi seorang penulis hebat. Namun, tak tertutup kemungkinan dalam diri kita terdapat pengalaman luar biasa dan berguna di masa yang akan datang. Jadi jangan lewatkan peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita. Tuliskan saja!.

Anne Frank telah menginspirasi se­mua orang, terutama para penulis di dunia ini pentingnya peristiwa dicatat menjadi sebuah catatan dalam dokumen tertulis. Kita diingatkan kembali kekuatan sebuah tulisan.

Mari kita semua sadar pentingnya menulis dan menulis, walau tulisan itu barangkali hanya mampu memuaskan diri sendiri. Syukur kalau bisa diterbit­kan di media atau menjadi buku.

Menulis adalah ketrampilan dan harus terus menerus dilatih. Menulis tidak hanya untuk dipublikasikan di koran, atau menjadi buku!

Jangan bebani diri Anda, kalau tulisan belum mampu menembus media. Tidak semua artikel yang ditulis ditujukan untuk diterbitkan di media. Meski saya sudah menulis ratusan artikel di berbagai media, saya tidak selalu membuat artikel hanya untuk media, bisa untuk renungan sendiri, atau dibaca oleh orang yang terbatas.

Ketika Anda bosan menulis, ada baiknya renungkanlah pengalaman Anne Frank!. Dia tidak pernah menulis di media, tetapi catatan pribadinya tidak kalah dengan karya para penulis hebat masa kini. ***

Penulis adalah penulis Biografi, berdomisili di Medan. Email: girsangjannerson@gmail.com. blog: http:www.harangan-sitora.blogspot.com

Bisa diakses di website harian Analisa: http://analisadaily.com/opini/news/catatan-harian-berdampak-mendunia/111854/2015/02/27



Tidak ada komentar: