My 500 Words

Senin, 16 Desember 2013

Pelajaran dari Musibah Bintaro (Dimuat di Harian Sinar Indonesia Baru, 16 Desember 2013)



Oleh: Jannerson Girsang

Displin masyarakat pelintas rel kereta api dan penanganan keamanan di perlintasan kereta api di Indonesia sungguh memprihatinkan. 

Yang membuat lebih memprihatinkan lagi, ternyata,  Jawa dan Sumatera, dua wilayah yang memiliki jalur kereta api, masih memiliki ratusan perlintasan tidak resmi. Karena tidak resmi, perlintasan itu tidak dijaga atau disediakan rambu-rambu. Sudah ada palangpun, masih dilabrak, apalagi tidak ada sama sekali.

Bangsa ini perlu belajar dari tragedi-tragedi yang sudah terjadi.. Tragedi yang sama terulang lagi. Nyawa berjatuhan, isak tangis dan air mata tumpah!. Kehilangan ratusan nyawa setiap tahun, kerugian miliaran rupiah, seharusnya mampu mengundang rasa peduli.

Ironisnya, kalau kecelakaan di perlintasan kereta api-jalan raya, yang terjadi adalah silang pendapat, tentang siapa yang bertanggungjawab? Pemda, PT KAI, Kepolisian, atau masyarakat pengguna jalan?. Sibuk mencari “Kambing Hitam.

Sialnya, palang pintu rel kereta tetap tidak terpasang, jalan di atas rel (fly over) atau jalan di bawah rel (under pass) hanya ada dalam khayalan! 

Isak Tangis Kesekian Kali

Rachmawati Soekarnoputri—Ketua Yayasan Universitas Bung Karno tak mampu menahan air matanya saat pemakaman Natalia Naibaho, mahasiswi universitas tersebut dan menjadi korban tabrakan kereta KRL dengan truk tangki di persimpangan rel Bintaro, Jakarta, 9 Desember 2013 lalu. .

Rasa sedih mendalam dialami ibu kandung Natalia, keluarga masinis kereta api dan dua rekannya, serta keluarga korban tewas dan keluarga yang anggota keluarganya yang mengalami luka-luka. Seluruh bangsa ini berduka atas kealpaan kita semua menyikapi keamanan di perlintasan kereta api.

Disamping kesedihan mendalam, gerbong kereta api rusak, dan bahkan gerbong bagian depan hangus terbakar, beserta kenderaan yang berada di sekitarnya. Artinya semua mengalami kerugian, termasuk pihak perusahaan kereta api sendiri—perusahaan milik negeri ini, milik rakyat.

Isak tangis kesekian kalinya akibat kecelakaan kereta api bukan hanya terjadi di Jakarta, Jawa Timur,  juga di Sumatera Utara, cuma gaungnya tidak sebesar Bintaro. Simaklah ungkapan jeritan rakyat  yang disampaikan seorang aktivis berikut ini. 

“Nyawa warga sering menjadi tumbal kereta api. Sering kali pada malam hari warga tertabrak kereta karena tidak ada penjaga perlintasan, tidak ada portal keamanan dan penerangan sekitar perlintasan rel juga tidak ada," kata Farid Abdillah, Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Pusat Demokrasi dan Kemanusiaan (LSM PuDaK), ketika memimpin rakyat dari beberapa desa di Kecamatan Duduksampean, Gresik yang dilewati rel kereta api, yaitu Desa Sumari, Setrohadi, Tambakrejo dan Tumapel, meminta palang perlintasan KA untuk menjaga keselamatan kepada PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Daops VIII Surabaya, Sabtu 9 September 2013. Disebutkan warga yang melintas dan menjadi korban kereta api setiap tahunnya rata-rata 10 orang lebih. (Harian Tribun News, 12 Desember 2013).

Jeritan seperti ini mengancam provinsi ini juga. Di wilayah layanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre I Sumut,  sampai saat ini masih ada 136 titik perlintasan kereta api resmi di Sumut rawan dengan kecelakaan. Hal itu dikarenakan 39 titik perlintasan tersebut belum memiliki penjaga.(Tribun News, Rabu 12/12).Sepanjang tahun 2013 jumlah kecelakaan yang terjadi di perlintasan kereta api sebanyak 34 kasus.
Catatan kecelakaan tabrakan kereta api dengan kenderaan bermotor, masih jelas dalam ingatan kita. Hari Minggu, 1 Desember 2013, beberapa hari sebelum tragedy Bintaro, sekitar pukul 08.30 WIB sebuah mobil Kijang biru yang bernomor polisi BK 1306 VG ditabrak kereta api di Deli Serdang, Sumatera Utara. Dua orang tewas dan tiga orang lainnya mengalami luka-luka. http://kereta-api.info.
Nyawa itu mahal bro!. Jangan disia-siakan!.

Tidak Lagi Mencari “Kambing Hitam”

UU 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian telah mengatur semua hal yang berkaitan dengan perkeretaapian. UU ini seharusnya menjadi acuan dalam penyelenggaraan transportasi kereta api, khususnya penanggungjawab persimpangan kereta api dengan jalan raya. Semua pihak harus mematuhinya.

Dalam sebuah ulasan di kolom Tajuk Rencana harian Padang Ekspress (12 Desember 2013) dengan judul  “Anomali Perlintasan Kereta Api” cukup menarik disimak. Tajuk itu membahas tentang banyaknya  kesalahpahaman dalam perkeretaapian di Indonesia.

“Kereta api bukan milik PT Ke­reta Api Indonesia. PT KAI hanyalah operator ke­reta. Di luar itu, tanggung jawab pemerintah untuk me­nye­diakan stasiun, jalur perjalanan kereta, per­si­nyalan, pengamanan, hingga mengurusi per­lintasan ke­reta yang sebidang dengan jalan. Untuk tugas ter­akhir, UU Perkeretaapian telah mengatur hal tersebut me­rupakan kewajiban pemerintah daerah, termasuk di antaranya menertibkan pintu perlintasan liar”.

Namun sangat disayangkan, anomali kerap terjadi. Persinyalan yang se­harusnya menjadi tanggung jawab negara dalam prak­tiknya dibebankan kepada operator kereta api. Ne­gara kerap alpa memberi public service obligation (PSO) untuk memperbaiki persinyalan, apalagi me­ngu­rusi perlintasan sebidang. Di wilayah per­lin­ta­san ker­eta api ini, PT KAI dan pemda kerap silang pen­da­pat. Satu sama lain saling melempar tanggung ja­wab.

Belajar dari Pengalaman

Negeri ini sudah memiliki pengalaman lebih dari 100 tahun mengelola kereta api. Kita bangga dengan prestasi yang diraih, khususnya PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Perusahaan ini bukanlah perusahaan kacangan..   

Membaca berita yang dilansir website BUMN, : http://www.bumn.go.id, kita bisa optimis.  5 Desember lalu, beberapa hari sebelum peristiwa Bintaro yang sangat memilukan itu terjadi, perusahaan ini meraih Juara II BUMN Jasa Non Keuangan Berdaya Saing Terbaik, Anugerah BUMN 2013, sebelumnya Dirut PT KAI Raih Penghargaan The Best In Leading Change, CEO Pilihan SPS 2013 dan Direktur Logistik dan Railway Aset PT KAI, menerima penghargaan Korporasi Pilhan SPS 2013. Perusahaan ini pasti mampu bekerja sama dengan pemerintah memberi solusi!. Kejarlah penghargaan baru: Zero Accident 2014!

Rakyat saatnya juga belajar berdisiplin. Menurut data Mabes POLRI, lebih dari 65 % penyebab kecelakaan lalu lintas adalah karena kelalaian manusia. Masyarakat masih perlu terus menerus diberi penyuluhan kesadaran berlalulintas. Kita melihat bagaimana orang berkendara seenaknya menerobos, tidak mengindahkan palang, mengabaikan pengguna jalan lain, dan berbagai perilaku tidak aman.

Kepolisian yang bertanggungjawab soal keamanan lalu lintas, tentu juga harus berfikir agar para pengendara bisa mematuhi rambu-rambu dan memberi perhatian atau membantu penjagaan pada perlintasan-perlintasan kereta api. Selain itu, polisi jangan bosan-bosan terus meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya tentang kereta api yang jelas belum seintensif seperti penyuluhan lalulintas kenderaan bermotor lainnya.  

Pemda, khususnya Pemprovsu tentu tidak boleh lagi mengabaikan begitu saja jeritan rakyatnya soal kereta api. Sebagai provinsi satu-satunya di luar Jawa yang memiliki transportasi penumpang kereta api, Gubernur sudah saatnya membuat kebijakan yang operasional untuk membantu keamanan jalur kereta api.

Sudahkah Pemprovsu atau Pemda Deli Serdang belajar dari peristiwa kecelakaan 1 Desember 2013 di Deli Serang. Bagaimana dengan persimpangan-persimpangan jalur kereta api-Jalan raya yang belum memiliki palang? Kapan Sumatera Utara memiliki jalan di atas rel (fly over) atau  jalan di bawah rel (under pass)?.

Saatnya Gubernur atau Bupati yang wilayahnya dilintasi kereta api, peka dan paling tidak membawanya dalam rapat atau hanya sekedar memasukkannya dalam otak, sehingga lima atau sepuluh tahun mendatang bisa diwujudkan dan korban bisa ditekan!

Peristiwa Bintaro mengingatkan kita semua agar tidak lagi belajar mencari “kambing hitam”, tetapi belajar menemukan solusi sehingga korban-korban kecelakaan seperti Bintaro dan baru-baru ini di Deli Serdang tidak terulang lagi. Rakyat tidak sanggup lagi protes, tetapi hanya berharap!.

Penulis adalah pengamat sosial dan pengguna kereta api, Tinggal di Medan.

Beban Orang Tua Makin Berat Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (Dimuat di Harian Analisa, 14 Desember 2013)

Oleh: Jannerson Girsang. 

Memutar memori pengalaman membiayai kuliah anak-anak di Perguruan Tinggi Negeri sejak 2003, ternyata dari tahun ke tahun, beban orang tua makin berat. Perubahan demi perubahan kebijakan saringan masuk perguruan tinggi di negeri ini, membuat orang tua hanya menikmati rasa gembira diterima di PTN hanya berlangsung sesaat.

Pengalaman kami menyekolahkan tiga mahasiswa di PTN ini mungkin berguna bagi orang tua lain serta bahan bagi pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan pendidikan sejak sepuluh tahun terakhir ini.

Tiga Anak, Tiga Perlakuan

Saya memiliki empat orang anak. Tiga diantaranya menjalani pendidikan dan sudah lulus dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ”terbaik” di Indonesia yang berlokasi di Depok. 

Perkembangan sejak 2003, saat anak pertama saya masuk di Universitas Indonesia ternyata hingga anak saya yang ketiga, pertambahan beban itu cukup signifikan. Saat anak pertama saya masuk, saya hanya membayar uang kuliah, sebesar Rp 1.250.000, serta membayar uang asrama Rp 100 ribu per bulan. Tidak ada yang namannya uang ”pembangunan” atau ”sumbangan”.

Tapi saya merasa aneh, karena anak teman saya di USU dengan jurusan yang sama, uang kuliahnya lebih rendah. Apa bedanya ya USU dengan UI, tokh sama-sama PTN. Tiap PTN memiliki kebijakan yang berbeda soal uang kuliah. 

Tiga tahun kemudian (2006), putri kedua saya lolos ujian masuk di UI di kelompok sosial. Sama dengan anak saya yang pertama. Kita senang dan memperhitungkan belanja yang relatif sama dengan anak pertama.

Ternyata, setelah pengumuman keluar, selain membayar uang kuliah yang naik menjadi Rp 1.350.000 per semester (naik Rp 100 ribu), saya harus menanggung uang ”pembangunan”. sebesar Rp 9 juta. Meski akhirnya, dapat keringanan membayarnya dengan tiga kali cicilan.  

Artinya, hanya berselang tiga tahun dari anak pertama, saya harus menanggung beban yang naik hingga 800 persen. Logikanya, pemerintah seharusnya memberi keringanan kepada biaya anak kedua, tetapi justru sebaliknya, malah semakin besar. Logikanya, uang sudah terkuras membiayai anak pertama.

Jujur saja, karena kesulitan keuangan, putri saya kedua ini harus rela bekerja di tata usaha perpustakaan Indonesia untuk melepaskan sebagian beban berat itu. Kasihan benar dia!. (Untungnya, dia sudah lulus dan bekerja di Jakarta).

Pada 2008, lima tahun setelah anak saya pertama menginjak PTN, putra saya (anak kami yang ke tiga) masuk di Politeknik Negeri Jakarta. Lokasinya masih satu kompleks dengan Universitas Indonesia di Depok.

Saat pengumuman, banyak orang mengatakan saya beruntung. Tapi, jangan salah. Uang kuliah di Politeknik, hampir dua kali lipat besarnya dari yang kuliah di kelompok sosial di UI. Besarnya tidak mungkin dijangkau oleh orang tua yang bekerja hanya sebagai penulis, yang masih dihargai dengan pekerja ”upahan” di pabrik.

Di saat kemampuan ekonomi menurun, justru saya harus menanggung beban yang lebih berat. Saat itu saya harus menjual aset yang paling saya butuhkan. Mobil terjual. Demi ”Anakkon hi do hamoraon di ahu, anakku harta paling berharga”. Anak-anak harus memperoleh pendidikan agar masa depannya lebih cerah.   

Syukur ketiga-tiganya bisa lulus tepat waktu, meski dengan kehidupan yang pas-pasan. Belakangan, informasi yang saya peroleh dari teman-teman anak saya yang masuk sesudah mereka, ternyata terus meroket. Uang kuliah dan pembangunan terus merangkak naik. Semoga rekan-rekan orang tua berikutnya mampu membiayai anak-anaknya dengan beban yang makin meningkat itu. 

Anak Keempat Masuk Swasta

Pada 2011, anak saya keempat tidak lolos ke PTN. Tidak ada perasaan yang mengganjal meski dia tidak masuk PTN.”Masuk Perguruan Tinggi Swasta aja nak, karena di negeripun biayanya mahal,” demikian saya menghiburnya. Kebetulan, bulan Maret tahun itu anak saya sudah lulus pada sebuah perguruan tinggi swasta yang pengantar kuliahnya berbahasa Inggeris di Cikarang, Jakarta.

Ungkapan seperti ini mungkin belum pernah saya dengar dari orang tua saya, yang di masa saya mahasiswa. Mereka selalu berusaha agar anaknya masuk PTN, walau harus berkorban setahun menunggu UMPTN berikutnya.

Uang kuliahnya memang tiga kali lipat dari uang kuliah anak saya yang di Politeknik. Meski saya menjerit, masih bersyukur karena tidak perlu membayar uang pembangunan. Dengan membayar Rp 10 juta di semester pertama, ditambah uang asrama Rp 3 juta per 4 bulan (mahasiswa bebas mengambil kos di luar asrama setelah setahun kuliah). Dengan uang Rp 13 juta dia bisa kuliah.

Tapi saya hitung-hitung, masih rasional, ketimbang beberapa teman yang anaknya masuk ke PTN melalui jalur Mandiri. Uang kuliah dan uang pembangunannya cukup mencekik juga. Saya punya keluarga yang masuk melalui jalur Mandiri di program Diploma Universitas Indonesia pada tahun yang sama, membayar uang kuliah Rp 5 juta per semester dan uang pembangunannya di atas Rp 20 juta.   

Kebanggaan masuk PTN, jauh dari kebanggaan saya ketika masuk di IPB pada 1980. Saat itu tidak ada uang yang namanya uang pembangunan, bahkan uang kuliahpun relatif rendah. Ayah saya yang hanya guru SD tidak begitu sulit membiayai saya di perguruan tinggi, biayanya sangat murah, hanya Rp 12 ribu per semester. Padahal, honor saya saja sebagai asisten dosen mata kuliah Foto Udara ketika itu, Rp 18 ribu per semester. Saya masih beruntung Rp 6000 per semester. Dan, selama empat tahun saya kuliah, tidak pernah ada kenaikan uang kuliah.

Saya kira kisah di atas adalah sebuah ironi. Saat kita menjalani abad ke-21, abad informasi dan ilmu pengetahuan, ketika negeri ini sedang membutuhkan orang-orang terdidik, masyarakat semakin sulit membiayai anaknya kuliah di perguruan tinggi.

Ironisnya lagi, justru di tengah-tengah beban seperti ini, muncul pula berita para pejabat di Perguruan Tinggi Negeri diperiksa KPK karena dugaan korupsi. Lha, bagaimana kita percaya uang kuliah yang terus meningkat, bisa dinikmati mahasiswa? ***

Jumat, 22 November 2013

Maksud Baik, Harus Dikomunikasikan Baik

Oleh: Jannerson Girsang

Maksud baik yang tidak terkomunikasi dan dipahami dengan baik oleh dua pihak, maka hasilnya bisa membuat dua pihak kecewa. Tapi, meski kesalahan pahaman terjadi bisa diatasi bila masing-masing pihak memahami titik persoalan dan memaknai dengan positif.

Kemaren saya berjanji dengan teman, akan bertemu di depan Carfour. Kemudian saya ingin memperjelas Carfour yang mana?. Ketika saya ingin memperjelas, teman saya tidak mengangkat HPnya.

Lalu, saya menuju Carfour dekat Sekip. Saya ingin menolongnya, karena rumahnya dekat ke Carfour Sekip.  Teman saya memacu kenderaannya ke Carfour Padang Bulan (Di Kompleks Citra Garden). Dia juga berniat baik, karena Carfour Padang Bulan lebih dekat ke rumah saya di Simalingkar.

Setelah sama-sama tiba di tempat tujuan, saya meneleponnya. "Wah saya sudah di Carfour dekat Sekip,". Betapa kagetnya saya ketika dia mengatakan : "Saya sudah menunggu beberapa menit di Carfour Citra  Garden,"katanya.

Kalau ada yang merekam dalam kamera video, betapa lucunya,  ketika kami saling berpapasan di  satu titik antara Carfour Citra Garden dengan Carfour dekat Sekip. 


Win win Solution

Solusinya, teman saya akhirnya menemui saya di Carfour dekat Sekip, karena rumahnya tidak jauh dari sana. Sayapun tidak merasa keberatan karena pagi itu mau menuju kantor di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Untungnya, kami tidak saling menyalahkan, tetapi mencari solusi sehingga kesalahan pahaman diterima dengan "senyum dan bahkan membuat kami tertawa, ketika bertemu"

Kami kehilangan waktu sekitar 20-30 menit. Jarak antara kedua lokasi itu mungkin sekitar 3-4 kilometer, dalam keadaan jam macet di pagi hari sekitar 06.30

Saya menyerahkan sebuah draft  sebuah buku untuk dibawa ke sebuah temapat yang akan berangkat pukul delapan pagi itu. Draft tidak terlambat dibawa, dan semua suka cita.

Maksud yang baik harus dikomunikasikan dengan baik dan benar, dipahami dengan benar. Komunikasi yang tidak baik, bisa membuat maksud baik tidak dinikmati kedua belah pihak.

Cukup banyak kasus yang lebih besar terjadi, masalahnya solusi dilakukan dengan ego masing-masing dan cenderung memenangkan pihak tertentu.

Rabu, 16 Oktober 2013

Tak Berbuat Apa-apa.

 
 
Kau seorang yang pandai membual
bahwa sesuatu yang hebat kan kau capai,
pada suatu saat nanti.

Tapi sebenarnya kau hanya mau pamer,
betapa luas pengetahuanmu,
betapa jauh jalan yang mau kau tempuh

Setahun sudah kita lewatkan,
Adakah gagasan baru keluar dari otakmu?
Dua belas bulan waktu telah kau genggam,
Adakah hal nyata yang telah kau lakukan?

Kuperiksa daftar orang berhasil; namamu tidak tercatat,
Jelaskan mengapa?
Bukan peluang yang tak kau punya!
Seperti biasa: Kau tidak berbuat apa-apa.

(Herbert Kauffman)
Dikopi dari : facebook Guru Etos Jansen Sinamo

Sabtu, 12 Oktober 2013

Cerita Rakyat dari Simalungun Sarioto: Tidak Patuh Aturan Ibunya, Jadi Kera (4)


Sambungan dari Bagian 3
“Tadi malam juga saya susah tidur,”katanya berbohong.

Ibunya percaya saja kepada kisah bohong anaknya.Dia masih yakin anaknya tidak akan melanggar aturannya. “Tidak boleh makan ikan lebih dari satu potong”.

Selesai memasak,  ibunya menyiapkan makanan siang untuk  Sarioto.  Nasi, sayur dan sepotong ikan mujahir.

Pagi itu, mereka berdua tetap sarapan dengan ubi jalar yang direbus.Minumnya air putih yang dimasak sendiri oleh ibunya.

Ibu Sarioto berangkat menuju ladang tempatnya memburuh berjalan kaki selama setengah jam. 

Ia bekerja seharian untuk mempertahankan hidupnya dan anaknya semata wayang itu dan meninggalkan Sarioto sendirian di rumah.

Melanggar Aturan Ibu, Jadi Kera

Sepeninggal ibunya, Sarioto berpikir keras cara melaksanakan niat jahatnya melanggar aturan ibunya demi memenuhi nafsunya: makan sepuasnya ikan yang di dalam periuk tanah.

Dengan wajah lemas, dia mengamati piring berisi nasi, sayur dan ikan sepotong.Dia teringat ketika ayahnya masih hidup.

“Waktu ayahku hidup, saya pernah memakan daging hingga berhari-hari, kini ibu hanya mampu menyediakan sepotong ikan setiap kali makan,” keluhnya dalam hati.

Jam demi jam berlalu. Angin berhembus menerpa pohon beringin di atas rumahnya membuat hatinya bukannya tambah lembut melainkan makin gusar.Pikirannya hanya tertuju pada nafsunya melahap ikan simpanan ibunya.

Dia mondar mandir di rumah kecil itu, sesekali melihat tempat ikan dimana ibunya menyimpanya dengan rapi.Para-para itu cukup jauh dari jangkauannya.

Tengah hari menjelang waktu makan siang tiba, Sarioto  baru mendapatkan ilham bagaimana caranya mengambil periuk tanah yang berisi penuh  ikan mujahir itu.

Dia mencuri sebuah tangga bambu milik tetangganya.Tidak terlalu panjang, sehingga bisa memasukkannya dari pintu rumahnya dan tidak sampai menyentuh langit-langit yang kurang dari empat meter itu.

Syarat lainnya, tidak boleh ada orang lain yang tau. Sarioto menunggu hingga anak-anak tidak ada yang bermain di pekarangannya.

Saat anak-anak yang lain diam di rumahya makan siang, perlahan-lahan Sarioto menyeret tangga dan memasukkannya ke rumah. Dia berhasil meletakkan tangga ke salah satu kayu penahan para-para.Tangga sudah siap!

Kemudian Sarioto menaiki tangga hingga mencapai para-para dan mengambil periuk itu dengan susah payah. Maklum masih anak kecil.

Hampir saja dia terjatuh.Karena kakinya tiba-tiba menginjak penahan yang tangga sudah lapuk.

Setelah semua aman dia mengembalikan tangga tetangganya dengan cara mengendap endap.Setelah berhasil mengembalikan tangga, dia kembali ke rumah dengan senyum-senyum seperti orang gila.Tanggannya gemetar, jantungnya berdegup cepat.Sarioto bersiap-siap melanggar aturan ibunya.

Satu gangguan lagi, seekor kucing tiba-tiba masuk dan ingin mencicipi ikan itu, sesaat setelah Sarioto meletakkannya di lantai. Dia buru-buru mengusirnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Kembali Sarioto ke tempat makanan siang yang disediakan ibunya. Dia mulai melahapnya. Sepotong ikan mujahir tidak cukup untuk menghabiskan nasi dan sayur dan membuka periuk tanah yang berisi ikan mujahir yang bagi Sarioto sangat lezat rasanya.

Saqrioto mengambil satu potong. Ternyata tidak cukup. Potongan yang kedua dilahap, nafsunya makin bertambah. Tiga sampai empat potong, ternyata membuat dirinya makin merasa ketagihan meski ada rasa takut dimarahi ibunya.

Hingga sore hari, Sarioto sendirian di rumah dan terus melahap ikan-ikan di dalam periuk itu, hingga kosong.

Bahkan sisa berupa kuahpun masih ingin dicicipinya. Hingga kepalanya dimasukkannya ke lobang periuk untuk menjilatinya hingga tidak bersisa lagi.

Saat kepalanya masih dalam periuk tanah, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu sambil memanggilnya.

“Sarioto…Sarioto….buka Nak. Ibu sudah pulang,”dengan teriakan  lemah ibunya menyapanya dari luar rumahdengan beban kayu api di kepalanya.

Dia kenal betul suara itu suara ibunya.Mendengar suara ibunya, Sarioto terkejut dan ketakutan.

Sarioto tidak tau berbuat apa-apa.Dia mencoba mengeluarkan kepalanya, tetapi tidak bisa.Dia hanya mampu memasukkan, tetapi tidak bisa mengeluarkan kepalanya.Dia menyerah.Hanya berdiam diri di tepi tungku di bawah para-para rumahnya.

“Sarioto…Sarioto…..buka pintunya Nak!. Ibu sudah capek,”kembali ibunya yang sudah lelah seharian bekerja di ladang memanggil Sarioto.

Sarioto kemudian membalas dari dalam dengan suara yang agak aneh.“Uuuuuuuum,”suara Sarioto dari dalam periuk tanah.

Ibunya memanggil Sarioto beberapa kali, tetapi balasan suara yang aneh itu membuat dirinya merasa ada sesuatu yang terjadi pada anak semata wayangnya itu.

Dia menurunkan beban kayu api dikepalanya, cangkul yang berada di pundaknya serta sayur mayur hasil petikannya dari ladang dan berada dalam gendongannya.

Tanpa pikir panjang ibunya mendobrak pintu.Alangkah terkejut ibu Sarioto melihat kepala anaknya dibungkus periuk tanah itu.

Lantas rasa geram dan marah yang memuncak menghinggapi perasaannya mengingat ikan yang disimpannya dengan rapi  untuk persiapan seminggu itu, ludes dimakan anaknya.

Ibunya kemudian lari ke samping tunggu. Melihat sendok nasi yang terbuat dari bambu dan memungutnya.Dia memegang ujungnya yang runcing dan memukul kepala anaknya dengan pangkal sendok yang tumpul itu.

Setelah memukul kepala anaknya yang terbungkus periuk tanah itu, ibunya Sarioto kaget  bukan main!. Kepala anaknya berubah jadi kepala kera.

Tapi bukan menghentikan aksinya, malah karena geramnya dia menusukkan ujung sendok yang tajam ke pantat anaknya.Anehnya, ujung sendok itupun berubah berubah menjadi ekor kera.

Sarioto yang telah menjadi kera itu meloncat melalui jendela rumahnya yang sempit ke luar rumah.

Ibunya tersadar dan mengejar Sarioto yang sudah jadi kera dan menyaksikannya memanjat dengan lincahnya diantara cabang pohon beringin di samping rumahya.

Sarioto terus memanjat hingga ke puncak pohon dan berpindah ke pohon yang lain, lantas menghilang.

Menyaksikan apa yang terjadi, ibu Sarioto menangis terisak-isak. Badannya terasa lemas,  kelelahan karena seharian bekerja di ladang. Lapar dan tak memiliki lauk untuk seminggu ke depan.
Dia sadarkan diri dan kemudian menyesali perbuatannya.

Ibu Sarioto tinggal sebatang kara. Dia ditinggal  suami dan anak semata wayangnya yang sudah menjadi kera.

Sejak itu, para anak di desa itu mematuhi perintah orang tua dan orang tua dilarang memukul kepala anaknya. (Habis)

(Artikel ini adalah asli tulisan saya dan belum pernah dimuat di media manapun. Saya menawarkan artikel ini untuk dijadikan buku. Bagi penerbit yang berminat, silakan menghubungi saya melalui email: girsangjannerson@gmail.com. Dilarang mengkopi artikel ini tanpa izin tertulis daripenulis melalui email tersebut).