My 500 Words

Kamis, 14 Maret 2013

Inspirasi untuk Pasangan Calon Gubsu Siapkan Plan Menang dan Kalah



Oleh: Jannerson Girsang.

Berbagai media melaporkan bahwa menjadi calon yang kalah dalam pilkada akan menghadapi sebuah situasi yang bisa mengundang gangguan keseimbangan fisik dan mental. Bayangkan, sebanyak 11.215 orang memperebutkan 560 kursi DPR dan 1.109 orang bersaing mendapatkan 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah. 5 pasangan Calon Gubernur Sumatera Utara bersaing menjadi pemenang. Empat pasangan akan kalah, padahal miliaran rupiah sudah ditabur.
Pesta demokrasi memang mahal dan setiap calon harus mengantisipasi dirinya berpeluang kalah dan memiliki rencana kalah (paling tidak dalam hati atau di dalam lingkungkan kecil internal tim). Pilgubsu 7 Maret 2013 mendatang, kisah ini mungkin bisa menginspirasi para pasangan Calon Gubernur Sumatera Utara pentingnya memiliki plan B, yakni rencana kalah sesudah pesta demokrasi Pilgubsu berakhir.

Artikel ini terinspirasi dari pengalaman penerbangan dari Jakarta ke Medan awal bulan Desember lalu. Saya begitu terkesima membaca Cerpen berjudul "Akhir Sebuah Pesta" karya Jemy Confido, yang dimuat di majalah perusahaan pesawat yang saya tumpangi. Kebetulan, saya baru saja menikahkan putri saya dan kisahnya benar-benar menyentuh diri saya sendiri.

Rasa penyesalan usai pesta. Mengeluarkan uang demikian banyak untuk sesuatu kehormatan sesaat. Rasa itu bisa menghinggapi Anda, para calon gubernur, dan juga para pembaca dalam kasus yang berbeda. Tentu tidak untuk menakut-nakuti, tapi hanya mengingatkan.

Berikut kisahnya..

Alkisah, Pak Tua baru saja melaksanakan pesta yang menghabiskan kerbau, lembu miliknya, uang yang tidak sedikit dan kelelahan anggota keluarga yang dikerahkan mensukseskan pesta. Pestanyapun luar biasa. Bayangkan, perencanaannyapun memakan waktu setahun.

Pesta berlangsung meriah. Pak Tua mendapat pujian dan sanjungan. Dia menjadi orang nomor satu, "Raja Sehari" atau orang terhormat di mata 1000 undangannya. Pengorbanan yang begitu besar, berubah menjadi kebahagiaan dalam beberapa jam.

Rasa bahagia itu kemudian berangsur surut ke sore harinya. Satu demi satu undangan pulang. Hanya tersisa Pak Tua bersama istrinya, serta beberapa petugas kebersihan gedung tempatnya berpesta. . Mengambil tempat di sebuah pojok, Pak Tua merenung.

Teringat habis sudah ternak dan lembu. Belum lagi sepenggal tanah yang sempat digadai lima ratus ribu. Ditambah sisa-sisa hutang yang harus dibayar dan mungkin Pak Tua tidak mampu. Semua hanya untuk tujuan satu, menyelenggarakan pesta paling meriah untuk sang putri bungsu.

Pak Tua terlalu bernafsu, demikian kisah di Cerpen itu menilai. Pesta itu dijadikan alasan untuk menjadi orang nomor satu, mimpi bagai raja dan ratu. Keterbatasan kemampuan ekonomi tertutup oleh gengsi dan malu.

Sementara, keadaan keluarga yang akan semakin morat marit tidak dipandang perlu. Bagaimana anak menantu akan mendapat nafkah masih belum tentu. Satu atap saja dirasa sudah cukup walau harus tidur di kursi tamu.

Sedihnya, "Pak Tua sadar bahwa dirinya bukan orang nomor satu. Dia hanya salah satu pengguna gedung itu. Dari tempat ia berdiri, lelaki tua dan istrinya terlihat tertawa penuh keinginan menderu. Tiba-tiba saja Pak Tua seperti melihat dirinya sendiri berbulan yang lalu. Dan ingin rasanya memundurkan waktu untuk mengubah keputusannya kala itu".

Ada penyesalan diakhir pesta!.

Hanya Satu Pasangan Pemenang

Pesta demokrasi Pilgubsu akan berlangsung tiga bulan lagi. Lima pasangan calon Gubernur Sumatera Utara akan mengundang para pemilih yang masuk di Tempat Pemungutan Suara (TPS) memilih dirinya. Untuk menarik perhatian para pemilihnya, para calon sudah mengadakan berbagai pesta dalam masa kampanye bahkan jauh sebelum masa kampanye. Menghabiskan miliaran rupiah, menyedot waktu, tenaga ribuan relawan dan tim suksesnya.

Semua calon pasti memiliki mimpi. Sederhananya, mimpinya bisa membayangkan suasana beberapa saat setelah pemilihan berlangsung. Quick count (hitung cepat) mengumumkan dirinya sebagai pemenang dan tampil bersemangat. Sang calon akan menyapa wartawan dengan senyum sumringah. Bersama pasangannya, dia saling memuji dan menjawab wartawan dengan ramah. Ingin seperti pasangan Jokowi dan Ahok ketika diumumkan menang dalam Pilkada Gubernur DKI. Dielu-elukan masyarakat sebagai pemenang.

Selain itu, sang calon mungkin juga membayangkan dirinya memasuki ruangan DPRD yang megah. Disaksikan anak dan istri, dan sebagian keluarganya yang duduk di bangku terhormat di ruang sidang. Televisi menayangkan peristiwa bersejarah itu melalui siaran langsung. Pasanan yang gagah dengan seragam gubernur dan wakil gubernur berwarna putih, tampil di depan pesawat televisi dan disaksikan jutaan pemirsa.

Terbayang suara hiruk pikuk para pendukungnya. Media meliput, menyiarkan atau menerbitkan acara pelantikan tersebut dengan foto berwarna, gambar-gambar yang menarik, komentar-komentar yang menyanjung dan kiat-kiat sukses kampanye.

Tak perlu sibuk lagi memikirkan biaya kampanye, karena sudah rahasia umum, pemenang akan menjadi sang raja dan ratu yang memiliki banyak pendukung yang sudi membantu melunasinya kelak. Baru kemudian akan mewujudkan cita-cita yang tertuang dalam program-program yang dijanjikannya di masa kampanye. Membuat perubahan bagi masyarakat ke arah yang lebih baik!

Tapi jangan salah. Yang menikmati itu hanya satu pasangan saja. Sekali lagi, satu pasangan saja. Pasalnya, Undang-undang menetapkan hanya satu pasang pemenang, tidak mungkin dua atau tiga pasang.

Bagaimana dengan 4 pasangan lainnya?. Mereka akan mengalami pengalaman para calon gubernur yang kalah. Mereka akan mengalami pengalaman Foke misalnya. Media akan memberitakan mereka dengan berita yang kadang menyakitkan. Lihat saja judul berita kekalahan Foke. "Fauzi Bowo: Kokong Kalah, Ini Saat Menyedihkan", "Mengapa Foke-Nara Kalah", bahkan berita yang membenarkan prediksi yang tidak masuk akal. "Adik Ipar Sudah Prediksi Foke Bakal Kalah"

Miliki Plan Kalah

Fakta menunjukkan bahwa suara rakyat susah diprediksi dan para calon hendaknya tidak lantas percaya seratus persen perkiraan survey, sebelum mengujinya dengan baik. Walau hasil survey penting untuk perencanaan kampanye pencitraan. Pengalaman kesalahan prediksi survey sudah terjadi di DKI dan beberapa Pilkada di provinsi Sumatera Utara. Petugas survey juga manusia kok!.

Tidak ada yang jamin lolos. Pasti menang. Suara nurani rakyat yang sangat dinamis itulah yang menentukan di tempat pemungutan suara. Selain percaya hasil survey, para calon tetaplah tawakkal, berdoa kepada Tuhan. Jangan gegabah.

Tim sukses boleh membantu tetapi bukan segalanya. Para calon harus benar-benar mengenal para anggota tim sukses dan para pembisiknya. Tetap waspada kata-kata "beres bos", "suara sudah untuk kita semua". "tenang sajalah", "siram bos". Kata-kata itu mengandung makna udang di balik batu. Kata-kata sanjungan dan Anda harus menyaringnya sebelum mengambil keputusan setuju. Tim sukses akan menasehatkan Anda, pasti menang, kalau sarannya diikuti. Tapi itu belum tentu sarannya benar. Gunakan juga nurani dan pertimbangan Anda.

Setiap pasangan calon gubernur mestinya memiliki Plan A menang dan Plan B kalah. Boleh optimis, tetapi tidak boleh bersikap gegabah: pasti menang. Setiap orang harus memiliki dalam hati kecil posisi "kalah". Dari awal, seluruh tim sukses dan relawan harus memperhitungkannya. Kalau tidak, maka di akhir "pesta" kemungkinan akan terjadi kesedihan yang luar biasa.

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana seorang bupati yang kalah di sebuah provinsi di Jawa Timur mencoba bunuh diri. Mantan pengusaha itu mengalami gangguan jiwa karena kalah dalam pilihan bupati Ponorogo 2 tahun lalu dan terlilit hutang sebesar 3 milyar rupiah. Mirip dengan Pak Tua, uang dan harta ludes. Simaklah sebuah artikel berjudul: Rumah Sakit Khusus untuk Pasien Gila Kalah Pilkada di Palembang" yang diposting 30 Nopember 2012 lalu.

"Sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Selatan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mulai tahun 2012 dan 2013. Dalam pertarungan tersebut banyak hal yang harus dicurahkan, tak hanya materi tapi juga pikiran dan fisik. Bila gagal pada sebagian individu yang tidak resisten akan beresiko mengalami gangguan keseimbangan dalam fisik dan mentalnya". (http://www.obornews.com). Bahkan Rumah Sakit Jiwa khususpun sudah disiapkan. Doa kita semua, semoga tidak satupun calon Gubernur yang kalah menjadi pasiennya. ,

Menjadi calon gubernur, sebagai sebuah pengabdian, bukan pengorbanan. Kalau kalah tetap menjadi pemenang, dan bukan orang-orang yang korban. Kuncinya, Anda menerima kekalahan kalau terjadi dan memiliki plan B, yakni rencana kalau Anda kalah. Rencana ini akan sangat membantu Anda terhindar dari rasa kecewa.

Pasangan bersama tim suksesnya harus mendefinsikan rencana kalah sejak awal. Walau ini kedengarannya "konyol". Rencana kalah dari Romney, kandidat Presiden yang kalah di Amerika Serikat baru-baru ini adalah bersedia bekerja sama dengan pemenang Obama.

Ini yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tim sukses dan relawan tidak lantas terbuang begitu saja. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dalam pelaksanaan demokrasi dan harus mendapat tempat yang layak, meskipun timnya kalah.

Kalah bukan berarti Tamat!***

Dimuat di Rubrik Opini, Harian Analisa,  Jumat, 21 Sep 2012


Belajar dari Pilkada DKI (Harian Analisa, 21 September 2012).


Oleh : Jannerson Girsang.

Pilkada DKI berlangsung aman dan memberikan pelajaran berhara bagi Indonesia. Pasangan Jokowi dan Ahok memenangi pertarungan dan Pasangan Fauzi Wibowo dan Nahrowi memberi kita teladan yang perlu dipedomani.

20 September 2012 warga DKI Jakarta sudah menentukan gubernurnya periode lima tahun ke depan. Beradasarkan Quick Count (perhitungan cepat), dari Indobarometer , 54.11 persen bagi Jokowi-Ahok dan 45.89 persen bagi Foke-Nara. (Metro TV pukul 16.44). Hasil yang tidak terlalu berbeda juga dihasilkan berbagai berbagai lembaga survey lainnya yang diumumkan di berbagai media.

Kemenangan berdasarkan hitung cepat ini, (meski masih melalui proses hingga pengumuman oleh KPUD DKI yang diperkirakan akhir September 2012), membuyarkan ambisi Foke-Nara yang secara sesumbar sebelum Pilkada DKI 11 Juli 2012 lalu, mengatakan mampu memenangkan Pilkada DKI dengan satu putaran.

Fauzi Wibowo sendiri dalam wawancaranya dengan sebuah stasion televisi beberapa saat sesudah hasil quick count diumumkan, mengakui pelaksanaan Pilkada DKI menjadi barometer dan teladan di seluruh tanah Air.

Pasangan ini pantas diacungi jempol karena meski dalam kampanye sebelumnya, suasana layaknya seperti "perang", tetapi ketika pemenang sudah diumumkan, setiap orang menerima kekalahannya dan memaknai kemenangan sebagai kemenangan bersama.

Pilkada DKI merupakan pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya bagi mereka yang ingin menjadi calon gubernur di Sumatera Utara, yang akan menuju Pilgubsu Maret 2013 mendatang.

Melirik Pilkada dari Siaran Langsung Televisi

Perkembangan teknologi dan metoda survey quick count sekarang ini, memungkinkan rakyat di sleuruh Indonesia mampu mengikuti Pilkada Gubernur DKI secara langsung. Daerah yang melaksanakan Pilkadanyapun tak sembarang. Pilkada DKI, ibu kota Negara, barometer penting dalam Pilkada -pilkada Gubernur di 33 Gubernur di seluruh Indonesia.

Itulah yang mendorong kami membagikan pengalaman berharga ini untuk pembaca. Sayang sekali rasanya kalau rekaman dan analisis singkat ini dilewatkan begitu saja. Menyaksikan Pilkada DKI yang baru saja berlangsung, tidak hanya sekedar hiburan kayak nonton lawakan, tetapi memberi sensasi dan member pelajaran penting.

Pagi, 20 September, sudah mulai rasa ingin tau itu muncul, layaknya penyakit internet addiction, yang rasanya tidak plong kalau tidak melihat internet. Rasanya tidak plong kalau tidak mengikuti hasil akhir.

Tapi saya berfikir, seandainya tidak ada televisi, maka semua kisah yang saya tulis ini tidak akan dapat Anda nikmati. Saat-saat seperti ini televisi menjadi media yan tak ternilai harganya. Dua stasiun televisi berita Metro TV dan TVOne, menjadi andalan sumber informasi, baik secara langsung maupun hasil rekaman di lapangan. Bersykurlah kita memiliki televisi, rakyat kecil seperti saya, bisa berkisah pelajaran besar

Sekitar pukul satu sore setelah mengikuti televisi sejak pukul 10.00 pagi, suara mulai masuk ke perhitungan Quick Count. Perbandingan suara peroleh antar calonpun tampak. Sejak awal, memang pasangan Jokowi-Ahok sudah unggul.

Beberapa menit kemudian, angkanya sudah muncul. Jokowi-Ahok unggul 58.98%: 41.02 Persen. Tapi itu baru dari satu TPS, dari 15.059 TPS di DKI Jakarta. Menit-demi menit, televisi memunculkan, hasil quick count, komentar-komentar dana ulasan para pengamat, yang membuat angka-angka yang dimunculkan terasa lebih hidup.

Sensasi denyut perkembangan penghitungan quick count membuat kami dan berjuta-jiuta penduduk tidak merasa rugi membuang waktu berjam-jam. Rasa ingin tau terus menaik. Beberapa menit kemudian, suara masuk 12 persen perolehan suara 54 koma sekian.

Hasil Quick Count membuat sensasi sambil menunggu respons para petarung. Itulah hal yang penting kami kisahkan disini. Mengapa, karena miskinnya budaya mengakui kekalahan di negeri ini. Buktinya masih sering munculkan konflik usai pengumuman hasil Pilkada di berbagai daerah.

Setiap menyaksikan pengumuman hasil Pemilihan (Pemilu, Pilkada) muncul rasa was-was. Tidak ada seorangpun yang mampu menjamin siapa yang menang. Jujur saja, ada rasa was-was siapapun yang menang bisa jadi menimbulkan masalah, karena sebelumnya melalui prioses kampanye yang sempat "memanaskan" suasana politik di Jakarta.

Pemimpin yang Menenangkan

Hati lega, karena ketka suara yang masuk ke Quick Count mencapai 75%, Metro TV menyiarkan suara Jokowi melalui telepon. Jokowi mengatakan bahwa Foke sudah meneleponnya dan mengucapkan selamat.

Jiwa besar dan sportivitas para petarung terlihat dalam Pilkada DKI. Melalui televisi pemirsa televisi dapat mengikuti penuturan Jokowi bahwa Fauzi Wibowo sekitar jam 15.00, saat suara quick count masih 75 persen dengan perolehan suara 54 koma sekian untuk Joowi.

"Jam tiga beliau menelepon memberikan ucapan selamat. Ini bentuk kenegawaranan Mas Wibowo. Saya juga minta maaf, ada yang kurang berkenan, merepotkan dan menyindir. Saya juga mohon dibantu mengenai informasi. Mas Wibowolah senior saya, saya menghargai beliau," kata Jokowi dengan nada datar. Luar biasa kalau kita mengingat saat mereka berkampanye yang penuh dengan intrik dan bahkan saling menjatuhkan.

Pemimpinlah yang menenangkan, pemimpin pulalah yang bisa membuat rusuh.

Jokowi dan Fauzi Wibowo adalah pemimpin yang sejati hari ini. Mereka telah mempertontonkan keteladanan yang pantas ditiru.

Keyakinan Fauzi terhadap Qick Count dan kecanggihan teknologi pantas dijadikan teladan yang perlu ditiru para elit kita. Tidak lagi berfikir macam-macam atas hasil teknologi dan metode penghitungan ilmiah. Tidak percaya lagi wangsit atau hal-hal gaib, atau curiga.

Simaklah apa yang dikatakan Fauzi, ketika dia mengetahui hasil Qick Count. "Quick cunt adalah metode ilmiah yang digunakan dimana saja, patut kita respek. Hasil quick count inipun kami respek dengan baik. Oleh karena itu sambil menunggu proses penghitungan final oleh KPU, kami menyampaikan penghargaan kepada pasangan no 3 sebagai pemenang. Tentu saya mengucapkan selamat, kiranya amanah warga Jakarta dapat dilaksanakan dengan baik. Setiap kompteisi harus ada yang menang dan kalah, Yang terpilih dan tidak terpilih"ujar Fauzi Wibowo dalam sebuah wawancara dengan televisi swasta.

Kedua pemimpin telah mempertontonkan bagaimana sebuah proses demokrasi berjalan dengan aman dan tertib. Sebuah pelajaran berharga menonton Pilkada DKI di televisi.

Pelajaran Lain dari Pilkada DKI

Pilkada DKI menjadi barometer penting bagi Pilkada-Pilkada Gubernur di seluruh Indonesia, termasuk di Sumatera Utara.

Seorang Jokowi, barangkali jutaan rakyat Indonesia sama dengan saya, baru mengenalnya dari mobil SMK yang gagal lolos uji emisi karena di atas ambang batas. yang ditetapkan Kementerian Lingkungan, 1 Maret lalu. (tempo.co.id).

Pantas, kalau lembaga-lembaga survey di Jakarta tersesat memperhitungkan potensinya. Jokowi di putaran perama Pilkada DKI melampaui prediksi sejumlah lembaga survei, kandindat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jokowo Widodo alias Jokowi dan pasangannya Basuki Tjahaya alias Ahok berhasil mengungguli incumbent (petahana) Fauzi Bowo alias Foke-Nachrowi Ramli (Nara) dalam Pemilukada DKI yang berlangsung Rabu, 11 Juli 2012.

Sebelumnya, survei dari Jaringan Suara Indonesia menyatakan 49,6 persen warga Jakarta bakal memilih pasangan Foke-Nara dalam pemilukada DKI 2012. Sedangkan Lingkaran Survei Indonesia pada 1 Juli lalu menyatakan dari 450 respondennya sebanyak 43,7 persen bakal memilih cagub incumbent.

Bahkan Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan, Tjipta Lesmana, seperti dikutip Kompas.com, 6 Juli 2012 memperkirakan 90 persen Fauzi Bowo akan menang lagi. Alasannya dia incumbent, memiliki banyak kelebihan dan keuntungan. Foke bisa menggerakkan birokrasi, pendidikan, dan juga negara.

Berbagai pelajaran penting kita petik dari kemenangan Jokowi dalam Pilkada DKI 20 September 2012.

Pertama, membangun basis politik. "Belajar dari kasus pilkada Jakarta dan beberapa daerah lainya di Indonesia, sudah waktu nya setiap tokoh politik atau mereka yang ingin terjun menjadi kandidat kepala daerah mulai serius untuk membangun basis politik dengan jalan merebut hati rakyat. Antara lain dengan mendatangi pemilih secara langsung dari kampung ke kampung, tentu saja didukung track record yang bersih, " seperti dikutip dari Tribune News.

Kisah pengalaman bersama rakyat di Solo dan Belitung Timur begitu menarik masyarakat DKI Jakarta. Jokowi dan Ahok, diyakini penduduk Jakarta mampu menerapkan hal-hal yang mereka pernah mereka perbuat di tengah-tengah masyarakat dan menjadi teladan, dari kota kecil di Belitung Timur dan kota kecil di Solo.

Meskipun hal itu banyak diremehkan para saingannya untuk diterapkan di DKI. Jokowi adalah salah seorang Walikota terbaik di tingkat dunia, dia mendorong produk anak-anak muda di Solo yakni mobil SMK, serta berbagai prestasinya yang cocok bagi harapan penduduk DKI untuk merubahnya ke arah lebih baik. Dia memiliki sesuatu yang bisa dilihat hasilnya. Bukan hanya "akan berbuat ini,akan berbuat itu"

Masa kampanye selama berbulan-bulan, mereka membangun basis politik dan mengambil hati rakyat dengan cara-cara yang elegan. Kita bisa melihat Jokowi dan Ahok berhasil mengkomunikasikan dengan baik melalui jaringannya (partai, relawan dll), menarik perhartian pemilihnya, dan meyakinkan mereka.

Intinya adalah mereka mampu meyakinkan rakyat, bahwa apa yang pernah mereka perbuat, akan membawa pemilihnya menjadi lebih baik.

Kedua. Dukungan partai politik yang besar, belum tentu mencerminkan dukungan rakyat.dalam Pilkada Gubernur. Partai PDI-Perjuangan dan Gerindra adalah partai mintoritas pendukung Jokowi. Dukungan partai yang memiliki mayoritas suara pada Pemilu lalu, bukan merupakan jaminan mereka menang mendukung Foke-Nara.

Soliditas partai pendukung, tulah yang paling penting. Tak lama sesudah acara quick count dimulai, Megawati Soekarno Putri memberi komentar: "Pada putaran pertama soliditas partai baik, dengan menggunakan mesin partai akan mudah, ditambah tokohnya tepat--menjadi bagian dari masyarakat, maka dari pengalaman saya, bisa menang," .

Ketiga. Pidato kemenangan sederhana yang disampaikan Jokowi adalah teladan berharga bagi seorang pemenang. . "Saya menghimbau kepada seluruh pendukung saya tidak usah konvoi, hura-hura. Semuanya syukuran di lingkungan masing-masing dengan kerendahan hati kita masing-masing. Kalau tiba saatnya dan sudah dilantik mari kita bersama-sama mewujudkan Jakarta yang lebih baik"

Semoga kemenangan Jokowi memberi pelajaran bagi Indonesia, khususnya Sumatera Utara dan kita mendoakan semoga Jakarta di bawah Jokowi menjadi Jakarta yang baru: bersatu dan semakin sejahtera.

Dimuat di Rubrik Opini, Harian Analisa, 21 September 2012. 


















Rabu, 12 September 2012

The Local Singer at a Glance TRIO Assisi: New Group Singer of Simalungun


By: Jannerson Girsang


  TRIO Assisi. Martua Purba (right), Dongsen T Girsang (center) Robeldi Sinaga (left) in
Christianity Pulpit TVRI Medan, last July 2012.


Longing for new Simalungun songs. fulfilled by the emergence of groups of singers with new songs, aimed at increasing people's love of Simalungun songs.

The presence of Assisi Trio, a trio of new songs of Simalungun, either in embellishing the songs Simalungun, also catching the number and popularity of its songs,  compared to songs Tapanuli or Karo ethnics, for example.

(Simalungun is one ethnic groups in Indonesia with a total population of approximately less than 500 thousand from more than 230 million of Indonesian inhabitants. Most Simalungun people live in North Sumatra (Simalungun, Deli Serdang, Serdang Bedagai Districts)  and some have spread in cities (Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya etc) and other areas in most 33 provinves of Indonesia).  

The presence of this new trio deserved thumbs up. In the midst of the challenges of maintaining the integrity and sinking-arising of Simalungun Group Singers, Trio Simalungun, do not make the artists stop working.

Three Simalungun artists and singers, Beldi Sinaga, Dongsen T Girsang and Martua Purba spawned a new trio, called TRIO Assisi. Then in August 2012, the Trio—founded in December 2011, launched its first album of "Album sweetest Simalungun" .

"We have the intention of creating new color of Simalungun songs, as well as improving the public love of the songs," said Beldi Sinaga in a conversation in the church of GKPS Simalingkar yard recently.

The presence of Assisi Trio the groups will enliven Trio Simalungun songs that had already been present such as Simalungun Trio, Trio Asima, Sinarta Trio, Trio Simas, Bayu Trio and others. "We want everything to be able to enrich the music and songs Pop Simalungun," said Beldi Sinaga.

Starting from the Church’s Seksi Bapa (Father Group) Activities

"Orange in the mountain, fish in the sea, met the cauldron”, “Asam di Gunung, ikan di laut, bertemu dalam kuali”, said Martua Purba, a trio of Assisi personnel told to the story of how meeting of the three members. Several years ago, the three did not know each other and lived in different cities. Dongsen Girsang worked and lived in Batam, Martua Purba Martua worked in a company and lived in Riau, while Beldi Sinaga has been living in Medan and managing music groups entertain at parties.

In early meeting was in the activities Father Section  (Seksi Bapa) of GKPS Simalingkar Church. Exercises and Vocal Group performing, choir, as well as other church activities, such as KKR to villages, "The Father Section is very active in various activities such as Vocal Group, Choir and often featuring KKR to the remote areas”.

Because of their often gathering in training and performing at various events, the trio began to be familiar and knew the potential of each others.  Apparently, they have enough requirements to establish a Trio.  Dongsen has potential to be tenor, Beldi Sound bass, Martua sopran.  They began performing in various events, organized by the GKPS Simalingkar church, both in Birthday  party, Christmas Eve, or family parties. .

Since August 2011, three diligently talk about the plan in a variety of events. The meeting eventually led to the intention to form a trio. They do not simply sing in church, but also record songs of Pop Simalungun and sell them to fans. "We also intend to record religious songs of Simalungun," said Beldi.

December 2011, Trio's first performance was in a Christmas Eve. Since the appearance, the three round intentions went on into the recording studio. Certainly it did not go smoothly for granted. "Three personnel, three characters and three wishes," said Beldi Sinaga, personnel Trio of Assisi.

According Beldi Sinaga, one difficulty is uniting to form Trio’s perception. Starting from system problems of financing, training and internal rules of their own. "Making a solid and loyal group to the rule. It was the most difficult, "he added.

The intention was eventually rounded, and realized when they entered a studio in Medan, February 2011. For two whole months they were in and out of the studio.

Finishing song recording, work is done? 

Of course not, they have to choose the system of duplication and distribution of the tape. "We chose our own finance and marketing. That choice makes more sense of responsibility from all members. We will use producer when we has been popular,” said Dongsen.

First Album with 8 New Songs

The emergence of Trio Assisi will add new songs of Simalungun. Nine of the songs featured in this album, 8 of them are new songs and one song that previously had been recorded and featured. Nine songs Simalungun themed Simalungun social conditions.

"Of the nine songs, except for Adat ni Namanggoluh (The Customs of People”, created by late AK Saragih, are all new songs," said Beldi Sinaga.

The CD hot songs is Angan-angan ni Jalotuk (A Delusion of Jalotuk), created by Janampe Purba, one Simalungun songwriter who has been popular. Other song, entitled  Jenges ni Ham (You Are So Beatiful), created by Janampe Purba, can also be enjoyed on this CD. 

Lamser Girsang, a very famous Simalungun singer and songwriter, a writer of pupolar Simalungun songs of among others, Tolu Sahundulan, Lima Saodoran, Sandiwara (Pretending), and others, also contributed some songs for this album, Kopi Pakon Teh Manis (Coffee and Sweet Tea) and Malas Ma Uhurta (Let’s be Happy).

The creation of the late St AK Saragih, a writer of hundreds of hymns and Pop Simalungun, included in one of the nominated songs, Adat ni Na Manggoluh (Custom of People), and other Simalungun songwriter, Dody Purba S, Sn contributes: Demi Cinta Kin (For my Love). 

The trio of Assisi personnel contributed two songs to this album. One less common genital, song called CWS, Cemburu Wajar Saja (Jealous is Fair) tells about the relationship of men and women in Simalungun, composed by Beldi Sinaga, a TRIO ASISI personnel. One song entitled, Boruni Simalungun (Simalungun Girl), created by Dongsen Girsang, one of the trio of Assisi other personnel.

Starting August 2102

The process of CD production took time, because it was not as simple as one might imagine. "We have to collect the money first, and work in their respective places in order to finance it," said Dongsen.

In addition to singing, the Trio Assisi personnel also do other job. Dongsen manages a small company of fishery, Purba Martua works in a company in Medan, while Robeldi manage his singing and music group at parties.

Having accumulated capital, multiplication song-processed and completed around the end of July 2012. "We printed 5,000 copies and within a month, now only 300 pieces," said Dongsen.

Since the first album launching last August, Simalungun Song lovers welcome Assisi Trio debut album. The album is sold in Jakarta, Medan, Batam, Simalungun, as well as various regions in North Sumatra.

Can they live from the income of recording singer?

"As a singer of Simalungun songs, we can not expect to live only from recordings. We have to work, and singing, "said Beldi. 

Beldi Sinaga still manage music business, Purba Martua working in a company and Dongsen Girsang manages his fishery small business.

All three hope that the local singers get attention from the government or local leaders, so that they can work and produce new songs. 

"We hope that the attention of the parties to encourage the emergence of competent singer and creator of the new songs of Simalungun," said Beldi Sinaga.

Welcome to Trio ASISI!. Do not be indefatigable and repertoire in promoting music and songs of Simalungun. Hopefully Simalungun Songs get success and well appreciation from ​​public in this country.

Note: The article was published on Sinar Indonesia Baru Daily, September 9, 2012. 

Selasa, 11 September 2012

Melongok Penyanyi Daerah TRIO ASISI: Grup Baru Penyanyi Lagu Simalungun


Oleh:  Jannerson Girsang

 TRIO ASISI. Martua Purba (kanan), Dongsen T Girsang (tengah) Robeldi Sinaga (Kiri) dalam  
Acara Mimbar Agama Kristen di TVRI Medan, Juli 2012 lalu. 

Kerinduan akan lagu-lagu baru Simalungun makin terpenuhi dengan munculnya grup-grup penyanyi dengan lagu-lagu  baru yang  mendorong meningkatnya rasa cinta masyarakat terhadap lagu-lagu Simalungun.

Kehadiran Trio ASISI,sebuah Trio baru Lagu-lagu Simalungun, selain menyemarakkan lagu-lagu Simalungun, juga mengejar ketertinggalan jumlah dan popularitas lagu-lagunya bila dibanding dengan Lagu-lagu Tapanuli atau Karo misalnya.   

Kehadiran Trio Baru ini pantas diacungi jempol. Di tengah tantangan menjaga keutuhan dan timbul tenggelamnya grup-grup Trio Penyanyi Lagu Lagu Simalungun, tidak membuat para seniman terus berkarya.

Tiga seniman dan penyanyi Simalungun, Beldi Sinaga, Dongsen T Girsang dan Martua Purba melahirkan sebuah Trio Baru yang mereka namakan TRIO ASISI. Agustus 2012 lalu, Trio yang dibentuk Desember 2011 itu meluncurkan Album perdananya “Album Termanis Simalungun”.  .

“Kami memiliki niat memberi warna baru lagu-lagu Simalungun, serta meningkatkan rasa cinta masyarakat kepada lagu-lagu Simalungun,”ujar Beldi Sinaga dalam sebuah perbincangan di halaman gereja GKPS Simalingkar baru-baru ini.

Hadirnya Trio Asisi akan meramaikan Grup-grup Trio lagu-lagu Simalungun yang sudah lebih dulu hadir seperti Trio Simalungun, Trio Asima, Trio Sinarta, Trio Simas, Bayu Trio dan lain-lain. “Kami ingin semuanya bisa memperkaya khasanah musik dan lagu-lagu Pop Simalungun,”kata Beldi Sinaga. 

Berawal dari Kegiatan Seksi Bapa di Gereja

“Asam di Gunung, Ikan di Laut Bertemu dalam Kuali,”ujar Martua Sinaga, salah seorang personil Trio ASISI mengisahkan pertemuan mereka bertiga. Beberapa tahun yang lalu, ketiganya tidak saling kenal dan tinggal di kota yang berbeda. Dongsen Girsang bekerja dan tinggal di Batam, Martua Purba bekerja di sebuah perusahaan di Riau, sementara Beldi Sinaga selama ini tinggal di Medan dan mengelola grup musik yang menghibur di pesta-pesta..

Awal perkenalan mereka adalah dalam kegiatan Seksi Bapa GKPS Simalingkar. Latihan-latihan dan tampil bersama dalam Vokal Group Bapa, Koor, serta kegiatan-kegiatan gereja lainnya, seperti KKR ke desa-desa, “Seksi bapa di sana aktif dalam berbagai kegiatan seperti Vokal Group, Koor dan sering menampilkan KKR ke daerah-daerah. Terpencil”.

Seringnya bersama dalam latihan dan tampil di berbagai acara, ketiganya mulai akrab dan saling melirik potensi masing-masing. Ternyata mereka memiliki persyaratan yang cukup mebentuk sebuah Trio. Dongsen suara satu, Beldi suara 2 dan Martua Suara 5. Mereka mulai tampil bertiga, dalam berbagai acara yang diselenggarakan GKPS Simalingkar, baik dalam acara pesta Ulang Tahun, pesta Natal atau pesta-pesta keluarga.   . 

Sejak Agustus 2011, dalam berbagai even, ketiganya rajin  membicarakan rencana itu. Pertemuan itu akhirnya membuahkan niat untuk membentuk sebuah Trio. Mereka tidak hanya sekedar menyanyi di gereja, tetapi juga merekam lagu-lagu Pop  Simalungun dan memasarkannya ke penggemarnya.  “Kami juga berniat merekam lagu-lagu rohani Simalungun,”ujar Beldi.

Desember 2011, Trio ini tampil pertama kali dalam sebuah acara Natal. Dalam penampilan itu, ketiganya membulatkan niatnya masuk ke studio rekaman.  Tentu tidak berjalan mulus begitu saja. “Tiga personil, tiga karakter dan tiga keinginan,” ujar Beldi Sinaga, personil Trio Asisi.  

Menurut Beldi Sinaga, salah satu kesulitan membentuk Trio adalah menyatukan persepsi. Mulai dari soal system pembiayaan, latihan, serta aturan-aturan internal mereka  sendiri. “Membuat grup menjadi solid dan setia kepada aturan. Itu yang paling sulit,”tambahnya.

Niat itu akhirnya bulat, dan  terwujud ketika mereka sudah memasuki dapur rekaman sejak Februari 2011 yang lalu di sebuah studio di Medan.  Selama dua bulan penuh mereka keluar masuk dapur rekaman.

Selesai merekam lagu, Selesai urusan? Tentu tidak, Mereka harus memilih system penggandaan dan distribusi kasetnya. “Kami memilih, kami sendiri yang membiayai dan memasarkannya. Pilihan Itu lebih membuat rasa tanggungjawab dari kami semua anggota. Mungkin nanti kalau sudah besar baru memakai produser,”kata Dongsen.

Album Perdana dengan 8 Lagu Baru

Munculnya Trio Asisi akan menambah khasanah lagu-lagu baru Simalungun. Dari Sembilan lagu yang tampil dalam album perdana ini, 8 diantaranya adalah lagu baru dan satu lagu yang sebelumnya sudah pernah direkam dan menampilkan sembilan lagu-lagu Simalungun bertema kondisi sosial masyarakat Simalungun.

“Dari Sembilan lagu itu, kecuali Adat ni Namanggoluh ciptaan AK Saragih, semuanya adalah lagu-lagu baru,”ujar Beldi Sinaga.

Lagu unggulan CD Perdana ini adalah Angan-angan ni Jalotuk yang diciptakan oleh Janampe Purba, salah seorang pencipta lagu Simalungun yang sedang ngetop. Selain itu lagu berjudul Jenges ni Ham, juga dapat dinikmati dalam CD ini yang juga diciptakan oleh Janampe Purba.

Lamser Girsang, penyanyi dan pencipta lagu Simalungun yang sangat terkenal dengan lagunya Tolu Sahundulan, Liam Saodoran, Sandiwara dan lain-lain, turut menyumbangkan beberapa buah ciptaannya yakni: Kopi Pakon Teh Manis dan  Malas Ma Uhurta.

Karya Almarhum St AK Saragih, pencipta ratusan lagu-lagu rohani dan Pop Simalungun termasuk dalam salah satu lagu yang diunggulkan, Adat ni Simalungun, serta pencipta lagu Simalungun yang lain, Dody Purba S,Sn dengan judul: Demi Cinta Kin.

Para personil Trio Asisi menyumbangkan dua lagu dalam album perdana ini.  Satu dantaranya, lagu berjudul CWS (Cemburu Wajar Saja) berkisah tentang hubungan pria dan wanita di Simalungun, adalah gubahan Beldi Sinaga, salah seorang personil TRIO ASISI. Satu lagi lagu berjudul, Boruni Simalungun, diciptakan oleh Dongsen Girsang, salah seorang personil Trio Asisi lainnya. 

Mulai Dipasarkan Agustus 2102

Proses pencetakan kasetnya memakan waktu panjang, karena ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. “Kami harus mengumpulkan uang dulu, dan bekerja di tempat masing-masing agar bisa membiayainya,”ujar Dongsen.

Ketiga personil Trio ASISI selain menyanyi, juga bekerja di tempat lain. Dongsen membuka usaha perikanan, Martua Purba bekerja di sebuah perusahaan di Medan, sedangkan Robeldi sendiri adalah pengisi acara nyanyi dan musik di pesta-pesta.

Setelah modal terkumpul, perbanyakan lagu-lagupun diproses dan baru selesai sekitar akhir Juli 2012.  “Kami mencetaknya sebanyak 5000 keping dan dalam waktu satu bulan, kini hanya tersisa 300 keping,” ujar Dongsen.

Sejak diluncurkan Agustus lalu, Album perdana Trio ASISI mendapat sambutan hangat masyarakat pencinta lagu-lagu Simalungun. Album ini dipasarkan di Jakarta, Medan, Batam, Simalungun, serta berbagai daerah di Sumatera Utara.

Penghasilan dari penyanyi rekaman bisa jadi andalan?. 

“Sebagai penyanyi lagu-lagu Simalungun, kami tidak bisa berharap hidup dari hanya dari rekaman. Kami harus bekerja, sambil menyanyi,”ujar Beldi. Beldi Sinaga masih mengelola bisnis musiknya, Martua Purba bekerja di sebuah perusahaan dan Dongsen Girsang mengelola usaha perikanannya.   

Ketiganya  berharap agar para penyanyi daerah mendapat perhatian dari pemerintah atau tokoh-tokoh daerah ini, sehingga mereka bisa berkarya dan menghasilkan lagu-lagu baru. “Kita berharap perhatian dari pihak berkompeten untuk mendorong munculnya penyanyi dan pencipta lagu-lagu baru Simalungun,”ujar Beldi Sinaga.

Selamat datang Trio Asisi, jangan  kenal lelah meramaikan khasanah musik dan lagu Simalungun. Semoga Lagu-lagu Simalungun makin Berjaya dan diterima masyarakat luas di negeri ini.  

Dimuat di Harian Sinar Indonesia Baru, 9 September 2012.

Sabtu, 08 September 2012

Renungan saat Meninggalnya Soeharto “Tidak Ada Manusia yang Sempurna"


Oleh: Jannerson Girsang
 http://seputarnusantara.com/?p=4621
Catatan tercecer ini saya share untuk para pembaca.Catatan ini saya tulis, 27 Januari 2012, malam hari. Sudah lama tersimpan di komputer saya. Dulunya ingin dikirim ke media, tetapi tidak jadi-jadi. Anggaplah ini sebagai pandangan mata. Namanya pandangan mata, bisa salah lihat, bisa salah dengar. Tapi setidaknya, ini bisa menggugah ingatan kita hampir lima tahun lalu, saat-saat penting ketika beliau meninggal. Belajar dari kesalahan, itulah yang bisa saya sampaikan dalam artikel ini. Semoga bermanfaat. 


                                        **** 


”Presiden Suharto menghembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul 13.10, karena seluruh sistem organnya tidak berfungsi”, demikian pengumuman mengejutkan kami di sore hari Minggu 27 Januari 2008, melalui siaran televisi, selepas acara Kebaktian Minggu.   

Ayah enam anak, kelahiran desa Kemusuk, Jawa Tengah, 8 Juni 1921 itu, menghembusan nafasnya yang terakhir 27 Januari 2008, setelah 24 hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. 

Terus terang, saya pribadi tak begitu banyak kepentingan dengan Suharto. Karena saya bukan penguasa, pengusaha atau tokoh politik. Saya hanya rakyat biasa dan lebih objektif tentunya.  Sok kali ya. 

Jujur saja, sosoknya memberi rasa kagum saya atas beberapa hal. Walau sebagaimana banyak orang, saya juga melihat kelemahannya. 

Didorong rasa kagum dan keingintahuan besar, beberapa hari sebelum beliau meninggal, saya sempat menaruh perhatian khusus ketika ”Bapak Pembangunan Nasional” di masa Orde Baru itu dilaporkan kritis, 9 Januari 2008.  

Saat itu, saya mengikuti berita televisi sampai sekitar jam 02 dini hari. Begadang, hanya untuk memenuhi keingintahuan bagaimana perjalanan akhir seorang Suharto yang begitu banyak mempengaruhi kehidupan politik dan ekonomi Indonesia. 

Tak salah saya kira kalau saya kagum melihat Soeharto, manakala saya melihat presiden-presiden di belakangnya, yang membuat saya kecewa. Mereka seolah malaikat yang tak punya salah, padahal tak berbuat banyak seperti Soeharto. Mereka takut bertindak, dan lebih ingin populer, supaya seolah tidak salah.     
****

Sore hingga malam, saya dan jutaan penduduk Indonesia menyaksikan secara langsung berita kematiannya di rumah sakit, kemudian disusul pemberangkatan dari rumah sakit dan setibanya di rumahnya di Jalan Cendana Jakarta.

Melalui kecanggihan teknologi komunikasi yang turut diprakarsainya dulu, seluruh jaringan televisi berhasil menghantarkan detik-detik perjalanannya sesudah menjadi mayat, menembus dinding-dinding rumah-rumah jutaan penduduk mulai dari  desa-desa terpencil sampai ke kota-kota besar.

Sebuah peristiwa yang secara transparan dan langsung disiarkan dari ibu kota Jakarta. Melalui televisi, kami melihat dengan jelas situasi rumahnya di Jalan Cendana—yang mungkin bagi orang Medan selama ini hanya dapat dibayangkan melalui cerita dan berita di koran-koran.

Dalam peristiwa biasa, tentu televisi atau media lainnya tidak akan diperbolehkan menyorot rumah itu sedemikian bebasnya. Apalagi di masa Orde Baru. 

Televisi kadang menayangkan Astana Giri Bangun—tempat pemakaman Suharto, menyusul istrinya yang sudah mendahuluinya 12 tahun sebelumnya. 

Ada pemandangan unik. Rumah  tempat kelahirannya di desa Kemusuk, ternyata hanya tinggal puing-puing. Makam keluarga orang tuanya, serta rumah kelahirannya sendiri terkesan tidak menarik perhatiannya, dibanding dia memperhatikan nasib sejarah keluarga istrinya. Menyaksikan  siaran televisi, saya terkesan bahwa Soeharto jauh lebih memperhatikan peninggalan  keluarga istrinya Tien Soeharto, ketimbang sejarah orang tua yang melahirkannya. Suharto lupa kacang akan kulitnya, entahlah!.

Saya dan jutaan pemirsa televisi secara langsung melihat betapa sedih seorang Probo Sutejo, yang harus minta ijin dari penjara Penjara Sukamiskin untuk melihat abang tirinya untuk terakhir kali.

Terlihat di televisi, bagaimana Probosutejo keluar dari penjara Sukamiskin dengan kawalan petugas tidak berseragam naik ke atas mobil. Tragis, nasib seorang Probo yang selama pemerintahan Soeharto dikenal pengusaha besar dan orang kuat. Sedih juga!. Hanya diizinkan keluar penjara untuk sementara, hanya dengan alasan yang sangat kuat : melayat  ”abangnya”, seorang mantan Presiden.

Sesudah itu, dia harus kembali lagi ke penjara walau masih dalam dukacita.

Rakyat secara langsung bisa melihat putra-putri Suharto. Tidak selengkap ketika pak Harto dan ibu Tien masih hidup. Bisa melihat siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir di malam pertama kematiannya. Tampak jelas tingkah laku dan ekspresi wajah-wajah mereka. Pasangan mana yang tidak menampakkan batang hidungnya.

Pendek kata, selama beberapa jam itu, semua yang terjadi pada diri Suharto, bisa terlihat secara langsung dan transparan.

Sikap para pemimpin juga terlihat jelas. Saya bisa mendengar dan melihat pengumuman resmi  pemerintah atas meninggalnya Suharto yang disampaikan Mensesneg Hatta Rajasa, beberapa saat setelah tim dokter kepresidenan dan Mbak Tutut mewakili keluarga menggelar jumpa pers.

Begitu cepatnya penjelasan rinci, sehingga meninggalnya Suharto tidak mengundang misteri, dan tidak ada berita yang dualisme dan membingungkan rakyat.

Hanya ada pertanyaan wartawan yang agak menggelikan saat Menseskab Sudi Silalahi memberi penjelasan. Seorang wartawan bertanya: ”Apakah ini ditanggung negara pak!”. 

Pertanyaan konyol dan tidak prinsipil saat orang-orang sedang terfokus pada  rasa simpati atas meninggalnya seorang kepala Negara.    

****

Andaikata transparansi, kualitas pemberitaan dan etika pers kita ditampilkan saat meninggalnya Soeharto, sama seperti ini selama tigapuluh dua tahun berkuasa sebagai RI 1 di negara yang kita cintai ini, barangkali negeri ini  tidak begitu sulit menerima Suharto sebagaimana Suharto adanya.

Sebaliknya, begitu banyak kontroversi yang terjadi, karena kegagalan kita mewujudkan ketiga hal di atas. Informasi yang tidak konvergen sesuai dengan kepentingan bangsa secara utuh telah menimbulkan begitu banyak awan-awan yang saling menyelimuti satu informasi dengan informasi lain.  

Ada banyak hal yang masih ”misterius” dan mungkin akan lenyap dengan kematiannya pada sore hari Minggu itu.

Transparansi pemberitaan terjadi, justru hanya soal  kematian Soeharto dan penghormatan terakhir melalui layar kaca. Saat dia tidak punya perasaan lagi, tidak punya ambisi dan kepentingan.

Berani terbuka, saat dia tidak takut dihukum atau masuk penjara. Soeharto saat itu sudah memiliki tempat yang tidak dapat dijangkau dunia lagi. Surga atau neraka, yang hanya bisa diketahui dan ditentukan oleh Tuhan,  sang PenciptaNya.  

Peristiwa meninggalnya Suharto memberikan pelajaran bagi kita pentingnya transparansi, kualitas dan etika pemberitaan. Rakyat menerima informasi yang tidak membingungkan.

****
Jalan hidup Suharto memang sesuatu yang misterius dan tidak pernah bisa diprediksi orang. Tidak pernah ada orang yang menyangka, kalau proses akhir kejatuhannya justru terjadi saat kunjungannya ke Mesir pada bulan Mei 1998.

Situasi di Tanah Air memaksanya memperpendek kunjungan resmi terakhirnya sebagai Kepala Negara, setelah 32 tahun berkuasa. Saya ketika itu masih berfikiran Soeharto kembali dari Mesir--tempat berkuasanya Raja Firaun yang sangat kejam itu, masih mampu mengamankan negeri ini. Dugaan itu ternyata terlalu berharap. Itulah detik-detik akhir kejayaan dari seorang Suharto.

Setibanya di Indonesia, dia berhadapan dengan kerusuhan hampir menyebar di seluruh Indonesia. Jakarta, ibu kota dilanda pembakaran dan penjarahan. 

Tidak ada angka yang pasti : Yang jelas banyak manusia tak berdosa tewas, luka-luka dan bahkan hilang tak kembali ke rumah dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. 

Perubahan luar biasa cepat terjadi di Indonesia dan melucuti kekuatan Suharto. Hampir tak percaya, beberapa hari sebelum kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, di pintu Sudako yang saya tumpangi sepulang kantor di Medan terpampang tulisan-tulisan “Turunkan Soeharto”. 

"Beraninya mereka ya," demikian pendapat saya dan tak menyangka sama sekali, kejatuhan Soeharto hanya beberapa hari sesudahnya.  

Informasi dan pemaknaan informasi memang dituntut bagi seorang pemimpin. Dalam pandangan saya, Soeharto tidak dengan seksama mengikuti langkah-langkah anak buahnya. Akbar Tanjung dan Ginanjar Kartasasmita justru mensponsori 12 menteri untuk menolak duduk dalam kabinet bentukannya atas tuntutan reformasi yang akhirnya gagal dibentuknya.

Harmoko, sebagai Ketua MPR ketika itu, secara terbuka melalui konferensi pers meminta pak Harto mundur dari jabatannya sebagai presiden. 

Walaupun kemudian pembelaan dari Jenderal Wiranto, yang ketika itu menjabat Panglima ABRI muncul kemudian.  Bahkan dia menyelenggarakan konperensi pers tandingan. Wiranto mengumumkan melalui media elektonik dan cetak bahwa pernyataan Ketua MPR itu sifatnya  individual, walaupun disampaikan secara kolektif. Sayapun tidak mengerti apa maksudnya.

**** 

Di sini, Suharto harus diacungi jempol. Melihat dirinya sudah tak memiliki kekuatan lagi mengendalikan situasi, sebuah keputusan yang luar biasa kami saksikan di televisi.  

Dengan langkah pasti dan perhitungan matang, Kamis,  21 Mei 1998 pagi sekitar jam 10.00, melalui media cetak dan elektronik, Suharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden.

Ketika itu kami sedang berada di sebuah desa kira-kira 100 kilometer di sebelah Selatan kota Medan. Habibie yang saat itu menjadi Wakil Presiden  kemudian secara otomatis menggantikannya menjadi Presiden Republik Indonesia. Rasanya ketika itu tak yakin Indonesia akan lebih baik. Entahlah!.  

Pelajaran ke depan, seorang pemimpin perlu berfikir realistis, jangan terus menganggap dirinya besar padahal sudah tidak ada apa-apanya. Tak punya persiapan pengganti, lalu lengser tanpa persiapan. Kepemimpinan ke depan akan rapuh. 


****

Langkah misterius Suharto ini, dan salah satu tuntutan reformasi: adili Soeharto dan kroni-kroninya, tak bisa direspons dengan baik oleh empat presiden selama 10 tahun terakhir ini, hingga saat meninggalnya.

Selama itu pula takaran atas sisi gelap dan terang Suharto kabur, atau mungkin berhasil dikaburkannya. Sebuah strategi yang mantap telah dipersiapkan Suharto untuk menghempang usaha pemimpin sesudahnya mengadili dirinya dan kroni-kroninya, yang ternyata jauh ”dibawah kualitas kepemimpinannya”.

Tak mengherankan sebenarnya. Bagi yang masih ingat strategi Suharto di awal kepemimpinannya, dia sudah teruji dengan baik. Bagaimana hebatnya Suharto pada saat awal kepemimpinannya. Dia bukan presiden, tetapi mampu bertindak sebagai presiden.

Pelan tapi pasti, selama dua tahun dualisme kepemimpinannya dengan Sukarno yang ketika itu masih dicintai rakyatnya, Suharto dapat mengubahnya dengan strategi yang luar biasa jitunya, hingga terbit Supersemar dan dirinya akhirnya menjadi Presiden. 

Jangan-jangan presiden-presiden sesudahnya hanya jabatannya saja presiden tetapi pola pikirnya masih pola pikir prajurit. Mentok dan tak mampu melakukan  terobosan-terobosan strategis, dan banyak menutupi kelemahannya dengan pencitraan-pencitraan, bukan menuntaskan persoalan bangsa yang mendasar.

Empat presiden penggantinya hanya mampu mengutak atik Yayasan yang dipimpinnya dengan hasil yang masih misterius.

Belakangan, malah pemerintah berhasil dipermalukan oleh strategi Suharto yang sungguh-sungguh mempertontonkan betapa tololnya pemerintah sesudah beliau.

Secara hukum, ketika beliau masih sehat walafiat, Suharto dengan sukarela menghadiri pemeriksaan oleh Kejaksaan. Tapi, akhirnya, kesehatan Pak Harto, kemudian menjadi alasan persidangan tidak bisa dilanjutkan dan kemudian dikeluarkan SP-3. Artinya secara pidana hal tersebut sudah selesai. 

Merespons keinginan berbagai pihak untuk menggugatnya secara perdata, pihak kejaksaan kemudian menjeratnya dengan hukum-hukum perdata. 

Langkah inipun, mentok, karena kemudian beliau meninggal. 

**** 

Memang, sama seperti manusia lainnya, Soeharto juga manusia, memiliki sisi terang dan gelap semasa hidupnya.

Sampai sekarang kita tidak bisa memperkirakan korban jiwa maupun kerugian materi akibat kebijakan politik pasca 1965 yang menyebabkan ratusan ribu tewas dan jutaan orang menderita. Korban di Papua, Aceh, Kasus Tanjung Priok dan lain-lain. Kebijakan politiknya membesarkan Golongan Karya sebagai mayoritas tunggal dengan segala fasilitasnya, berbeda dengan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia yang terkesan di "kebiri". Kebebasan Pers yang dikebiri dengan UU Kode Etik Pers No 12 Tahun 1982. Kasus korupsinya sendiri masih misteri dan tak seorangpun mampu mengungkapnya, apalagi mengadilinya sampai tuntas.

Tentu, sisi terangnyapun patut diapresiasi. Dunia mengakui Suharto telah mampu mengangkat negara ini secara ekonomi. Dari pengimpor beras terbesar, Suharto  pernah mengangkat bangsa ini menjadi swasembada pangan, yang mendapat penghargaan dari FAO. Kalau di awal pemerintahannya, investasi sangat langka, beliau mendatangkan investor dari luar negeri untuk turut berpartisipasi membangun ekonomi negeri ini. Ketimbang sekarang ini, untuk mendatangkan investasi saja tidak mampu. Lihat saja, laju pertumbuhan investasi kita. Suharto  menyediakan jutaan tenaga kerja setiap tahunnya yang mampu menahan laju pengangguran dan kemiskinan di negeri ini.

Penutup

Baiklah kita komit  dalam pemberitaan sesuatu yang baik dan buruk, salah dan benar secara transparan. Barangkali pak Harto menyesal dalam hal kekurang terbukaannya selama ini. Mari kita tidak mengulangi, agar kita jangan menyesal di kemudian hari. Inilah pelajaran yang bisa dipetik dari kematian Suharto.   

Seperti kata  Suryo Paloh di Metro TV, beberapa jam sesudah Suharto tutup usia di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta.

”Tidak ada manusia yang sempurna, semua memiliki kesalahan,” ujar Suryo Paloh seraya menghimbau seluruh bangsa ini belajar semua kelebihan dan kekurangan para pendahulu kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.  

We can't be as good as we'd want to, so the question then becomes, how do we cope with our own badness?. (Nick Hornby). Kita tidak mampu sebaik yang kita inginkan, lalu pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita mengatasi keburukan atau kejahatan kita sendiri?