My 500 Words

Sabtu, 07 Februari 2015

Bayi Kecil itu Sudah Berusia 54 Tahun


Oleh: Jannerson Girsang

Merayakan Ulang Tahun, tanpa mengisahkan bagaimana proses kelahiran diri, rasanya tidak afdol. Bagaimana penderitaan ibunya, siapa saja yang hadir mendampingi saat  ibu melahirkannya.

Mengapa kita bersyukur atas hari lahir kita?. Salah satunya adalah memperingati keberhasilan ibu kita melahirkan kita, menghirup udara bebas untuk pertama kalinya. Inilah yang menjadi topik artikel saya di ulang tahun kali ini.

Saya termasuk bernasib mujur. Pasalnya,  hingga  usia 54 tahun ini, ayah dan ibu saya masih sehat walafiat, sehingga bisa mengetahui sekilas kisah kelahiran saya dari saksi pertama.

Pengalaman saya menulis biografi beberapa tokoh, mereka kurang memberikan perhatian atas peristiwa proses kelahirannya sendiri. Padahal peristiwa seperti ini cukup menarik untuk diketahui orang lain.

Peristiwa kelahiran terlalu sayang untuk tidak dikisahkan. Bagi saya, setidaknya sebuah refleksi bagi diri sendiri, dan mungkin bisa jadi pelajaran bagi anak-anak saya.

Memang, kelahiran bukan sesuatu yang menentukan masa depan seseorang. Chanakya, seorang guru, ahli filsafat dan penasehat kerajaan di India, yang hidup tiga ratus tahun Sebelum Masehi mengatakan “A man is great by deeds, not by birth”. 

Bukan hanya yang sudah uzur, teman-teman seusia saya banyak yang tidak sempat bertanya kepada orang tua mereka soal kelahirannya. Bisa karena tidak tertarik, atau terlambat karena orang tuanya sudah meninggal.

“Kelahiran dan kematian adalah pintu lewat  dimana anda lulus dari satu mimpi ke mimpi lain,”  kata Paramhansa Yogandanda.

Dalam berbagai kesempatan, saya mendengar ayah dan ibu bercerita tentang peristiwa kelahiran saya. Merekapun senang menceritakannya, kembali mengingat masa-masa indah menanti seorang buah hati untuk pertama kali. Ada kisah menggembirakan, sekaligus membuat hati terharu.

Anak pertama seperti saya pada umumnya, lahir saat orang tuanya belum mapan. Orang tua baru memulai karier dan belum banyak duit atau mapan.

Ketika saya lahir, ayah dan ibu saya sendiri masih menumpang di rumah kakek saya. Kedua orangtua saya adalah guru Sekolah Dasar. Mereka lulus Sekolah Guru Bawah (SGB) di era limapuluhan. Usai menyelesaikan sekolahnya, mereka menjadi guru. Ayah saya sudah menjadi guru Sekolah Dasar sejak 1954, dan ibu saya 1957.

Mereka bukan guru yang memiliki gaji besar. Tidak seperti sekarang, sebagian guru yang memiliki sertifikasi dan menerima insentif.  Mereka sungguh-sungguh guru yang hanya mengabdi, dengan gaji yang sangat kecil.

Selain mengajar di sekolah yang berjarak 1 kilometer dari desa kami, ibu dan ayah saya juga nyambi ke ladang setelah pulang sekolah. Karena gaji mereka berdua hanya bisa membeli 2 kaleng beras. Waktu itu gaji guru masih rendah. Menurut ibuku, mereka kadang bekerja di ladang yang disewa atau memburuh. Konon ekonomi terus memburuk  hingga meletus Pemberontakan G 30 S PKI 1965.  Ketika itu menurut ibu saya, banyak guru yang beralih profesi jadi pedagang atau petani.

“Kami sangat susah ketika itu,”ujar ibu suatu ketika mengenang kehidupan mereka menjelang hari kelahiran saya.

Sejak menikah, Maret 1960, mereka tinggal di rumah kakek saya di desa Nagasaribu, sekitar 100 kilometer ke arah Selatan Kota Medan atau sekitar 70 kilometer dari kota Pematangsiantar.

Desa Nagasaribu terletak di Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Desa ini memiliki geografi yang berbukit  dan sebuah jalan utama yang membelah kampung dari  uruk (bagian atas) ke toruan (bagian hilir).

Rumah kakek saya terletak di bagian hilir dan menghadap jalan yang membelah desa tadi. Beberapa puluh meter ke sebelah Timur rumah itu terletak makam Raja Kerajaan Silima Kuta.

Sebelah Timur diapit satu rumah (milik Nan Salomo Sipayung) dan di sebelah Barat diapit rumah (Nan Saludin Simaringga dan di sebelahnya rumah Jonni Purba).

Berbentuk rumah petak (dinding papan membatasi setiap rumah dan merupakan batas langsung dengan tetangga),  memiliki satu kamar tidur,ruang tamu dan dapur yang kecil, lebar 5 meter dan panjang 6 meter.

Uniknya, terdapat empat rumah dempet dengan tipe yang sama, berbeda dengan model rumah yang lainnya di desa itu.

Saat itu, semua rumah memiliki kolong dan belum ada rumah yang terbuat dari beton.

Saya belum pernah bertanya mengapa hanya empat rumah itu memiliki model seperti itu. (Pasti ada sejarahnya mengapa empat keluarga membangun satu tipe yang sama, berbeda dengan yang lain. Mudah-mudahan masih bisa ditanyakan ke orang tua saya).

Keunikan lain, rumah yang terbuat dari kayu dan beratap seng itu memiliki tangga dengan tinggi sekitar dua meter. Tangganya lebih tinggi dari hampir semua rumah di desa itu, kecuali jabu bolon (rumah adat besar) yang ketika itu masih ada beberapa buah.

(Sayangnya semua rumah itu sudah terbakar pada kebakaran desa Nagasaribu yang menghabiskan separuh desa yang berpenduduk sekitar 200 Kepala Keluarga itu pada 1972).

Di rumah seperti itulah ayah dan ibu  tinggal bersama kakek saya, dan lima orang adik ayah yang masih anak-anak atau menjelang remaja atau dewasa.

Adik ayah kedua Lortina baru lulus  Sekolah Dasar dari Perdagangan (28 kilomter dari Pematangsiantar kearah Kabupaten Asahan) dan Arlina  tammat SD dari Nagasaribu. Bismar anak keempat dan Jasman anak kelima masih duduk  di Sekolah Dasar dan Sarmelina anak paling bungsu masih belum sekolah.

(Saya sedih hari ini, bertepatan dengan hari Ulang Tahun saya,  karena dinihari tadi adik ayah saya Jasman Girsang meninggal dunia di Rumah Sakit Djasamen Saragih di Pematangsiantar,.Kebahagiaan dan kesedihan bisa datang bersamaan, itulah hidup)

Kakek saya sudah menduda sejak 1958, dan ayah dan ibulah yang turut bertanggungjawab dalam keluarga besar Meski hidup serba kekurangan, mereka turut memikul   tanggungjawab yang besar.

Seminggu sebelum ibuku melahirkan, beliau mengambil hak cuti hamil selama tiga bulan. Meski cuti mengajar, alih-alih istirahat, ibuku malah setiap hari ke ladang dari pagi hingga sore, sama seperti kebanyakan profesi penduduk desa itu.

Seperti biasa, sehari sebelum saya lahir, 13 Januari 1961, pagi hari,  ibuku berangkat ke ladang sewaan mereka di Paya (ladang Jasiap Sipayung). Saat itu mereka menanam cabe hijau dan diantara tanaman itu terdapat juga daun sup. Hari itu ibuku menyiangi tanaman liar (gulma) dan pulang ke rumah seperti biasanya jam 5 sore.

Sesampainya di rumah dari ladang, dalam keadaan hamil tua, ibu mandi dan mengambil air sendiri ke pancuran yang terletak di sebuah lembah berjarak sekitar 200 meter dari rumah. Pulang dari pancuran, tidak langsung beristirahat, tetapi harus  memasak makan malam--dibantu adik-adik ayah, untuk keluarga besar.

Sesudah makan malam, adik-adik ayah saya yang sudah remaja atau gadis, meninggalkan rumah dan tidur di rumah orang lain atau tetangga. Hanya anak-anak yang masih kecil yang tidur di rumah.

Di desa itu, biasanya anak-anak remaja atau dewasa yang rumahnya kecil, menumpang tidur di rumah yang penghuninya sedikit (janda atau keluarga yang anak-anaknya sudah berkeluarga). Pagi-pagi mereka kembali ke rumah masing-masing. 

Alkisah, saat semua penduduk desa sedang tidur nyenyak, ibuku merasakan sesuatu yang aneh dan  sekitar pukul 02 dinihari, ibuku merasakan pengalamannya yang pertama seorang  wanita hamil tua.

Beliau merasakan pegal di pinggangnya dan perutnya mulas-mulas. "Saya yakin akan segera melahirkan,sakit sekali"ujarnya suatu ketika. Saya terharu bercampur bangga mendengarnya. Terbayang ibuku yang meringis kesakitan dan tentunya bingung karena baru pertama kali mengalaminya.

Mungkin memiliki instink (atau sudah pernah belajar soal cirri-ciri melahirkan), merasakan sesuatu yang tidak biasa, ibuku memberitahu ayah. Ayah  kemudian memberitahu tetangga kami sebelah Barat (ompung Nan Saludin Simaringga). Beliau kemudian memanggil seorang paraji, Nan Loyar br Payung ke rumahnya di Ruma Parik, kira-kira 300 meter.

Menunggu proses kelahiranku, ibuku ditemani para ibu-ibu yang usianya lebih tua (Nan Saludin, Nan Salomo, Nan Lena, Nan Josep, ompung si Letnan), ayahku dan kakek (ompung) saya sendiri.

Kecuali ayah saya semua nama-nama ini sudah meninggal. Betapa besar jasa mereka untuk saya.

Tiga jam kemudian, sejak ibu mulai merasakan ciri-ciri mau melahirkan (kontraksi), dengan pertolongan paraji nan Loyar boru Payung, menggunakan peralatan medis yang sangat  sederhana,  berhasil menolong proses kelahiranku.

Bisa dibayangkan, andai kata ada kelainan, pasti saya tidak bisa tertolong. Rumah sakit jauh dan angkutan belum sebaik sekarang.

Membandingkan proses kelahiran saya dengan beberapa kisah yang pernah saya dengar,  ternyata sedikitnya selangkah lebih maju.

Pengalaman ibunya RE Nanggolan—calon gubernur Sumatera Utara 2013-2018), saat saya menulis biografinya: Haholongon, beliau mengaku pernah melahirkan sendiri beberapa anaknya, dan memotong-ari-ari sendiri. Ngeri ah!.


Yang lebih ngeri lagi, di abad modern sekarang ini, Ines Ramirez, seorang penduduk yang hidup di pedesaan Mexico, menjadi satu-satunya wanita yang diketahui melakukan operasi caesar sendiri pada proses melahirkan anaknya, tengah malam 5 Maret 2000. Saat itu, paraji (midwife)  terdekat berjarak 50 mil (80 km) dari rumahnya. Sementara, suaminya sedang berada di kantin dan tidak ada telepon untuk menghubunginya.

Karena waktunya sudah tiba, Inez Ramirez melakukan operasi sesar sendiri. Oh.....betapa beraninya!. (Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/In%C3%A9s_Ram%C3%ADrez).

Akh tak bisa bayangkan, kalau saya lahir seperti itu. Syukur kepada Tuhan, proses kelahiran saya berjalan normal. Saya menghirup udara luar untuk pertama kalinya, 14 Januari 1961, sekitar pukul lima pagi.

Kata ibuku saya lahir sehat dan gemuk. Ayah dan ibuku, termasuk kakekku bangga punya anak pertama atau cucu pertama yang sehat.

(Aku belum banyak bertanya tentang hal-hal menarik lainnya. Saya berdoa agar ayahku panjang umur dan masih ada waktu bertanya).

Penduduk desa kami dan desa-desa di Simalungun pada umumnya, memiliki pemahaman waktu kelahiran dengan makna yang berkaitan dengan masa depan anak itu. Saya lahir menjelang mata hari terbit, mereka menyebutnya "gok hudon” (periuk yang penuh, artinya rezeki melimpah).

Dalam Kalender Jawa kelahiran saya adalah  26 Rejeb 1892, Setu Kliwon dan Kalender Islam  26 Rajab 1380 H.

Saya memiliki bintang Capricorn. Dalam astrologi, Capricorn dianggap sebagai tanda introvert, tanda bumi, dan salah satu dari empat tanda kardinal. Capricorn kadang-kadang digambarkan sebagai kambing laut. Alasan untuk ini tidak diketahui, tetapi citra kambing laut kembali setidaknya ke masanya Babel. Kata sebuah lagu Capricorn adalah orang yang sederhana tapi pendendam. Entahlah!.

Di kemudian hari, saya mengetahui bahwa 14 Januari  1961 adalah hari kelahiran Pramuka di Indonesia, kelahiran Robert Edwin Hall, seorang pengusaha dan pendaki gunung (meninggal pada 1996 di Mount Everest) dan seorang penyanyi  Denmark, Mike Tramp.

(Ibu dan ayah saya masih hidup berbahagia menikmati masa-masa pensiun mereka berdua di desa. yang berada di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut itu. Keduanya  sudah berusia 77 tahun dan kemanapun mereka pergi selalu berdua, ke ladang  atau berkunjung ke rumah saya di Medan, ayah saya masih mampu menyetir mobil kijangnya.

Kisah perjuangan dan tantangan yang mereka hadapi menjelang kelahiran saya senantiasa membuat saya tegar menghadapi berbagai masalah. Ayah dan ibu saya menjadi inspirasi.

"Your birth is a mistake you'll spend your whole life trying to correct," demikian kata Chuck Palahniuk, seorang penulis novel dan penuls bebas berkebangsaan Amerika.

Medan, 14 Januari 2015 

Aku akan terus menulis hingga akhir khayatku

Ketika Kanker Ganas Menggeogoti Anggota Keluarga

Oleh: Jannerson Girsang

Menantu meninggal tiga bulan yang lalu, kini menyaksikan putranya--ayah dari dua cucunya, berjuang melawan kanker ganas. Sebuah perenungan makna hidup diperlukan menghadapi situasi semacam ini.

Beberapa menit yang lalu, saya mendapat berita (melalui inbox) dari temanku Idris Pasaribu-redaktur harian Analisa, Medan.

Isi beritanya sangat menyentuh dan membuatku teringat sebuah peristiwa sedih menimpa keluargaku empat tahun lalu.

"Kanker Ganas menggerogoti tubuh anakku. Dua cucuku akan jadi Yatim Piatu, karena mamanya, (menantuku) sudah berpulang 3 bulan lalu. Anakku harus dioperasi. Namun risiko operasi sangat besar. Bisa gagal operasi, bisa pendarahan dan bisa koma seumur hidup, jika operasi berhasil. Dia harus kemo terus menerus. Kegagalan operasi meliputi 68 Persen. Sisa hidup anakku tinggal 28 Persen. Sesuai sumpah, kondisi ini harus diberitahunakn kepada patien. Jangankan anakku, aku sendiri sangat down mendengar keterangan itu. Harapan satu-satunya, hanya Mukzijat dari Allah.
Mohon doa teman2 sekalian". (Idris Pasaribu di dalam inbox)

Saya minta izin dari lae Idris untuk menuliskannya di satusku dan beliau setuju.
Mengapa saya menuliskannya?

Manusia setinggi apapun imannya, akan shock dan terguncang menghadapi situasi semacam ini. Baru tiga bulan lalu laeku Idris Pasaribu kehilangan menantunya, kehilangan ibu dari dua cucunya yang masih kecil itu, kini harus menyaksikan laki-laki kesayangan mereka berjuang melawan kanker.

Di dalam hidup ini, kita menemukan persoalan yang tidak mampu dijawab dengan pikiran, tetapi dengan iman percaya kita kepada Tuhan.

Bagi pembaca setiaku, mari bersama-sama memberi dukungan kepada beliau, seluruh keluarganya. Saya pernah mengalami hal yang hal seperti itu, jiwa saya kosong, perlu diisi makanan rohani. Bagi teman-teman memiliki persoalan yang sama saat ini, semoga memberi inspirasi baru. Meski Anda menderita sekarang, Anda tidak sendirian.

Pak Idris Pasaribu (63 tahun) adalah penulis novel Acek Botak, Pincalang dan beberapa novel lainnya, serta mengasuh rubrik budaya di Harian Analisa, Medan. Sepanjang hidupnya beliau mengabdikan diri menulis dan menginspirasi kami terus menulis. Beliau dikenal sebagai budayawan, seniman, wartawan, sutradara film, penulis novel. (http://harangan-sitora.blogspot.com/…/bincang-bincang-denga…).

Mungkin pengalaman keluarga kami bisa menjadi inspirasi baginya.

Kebetulan saya memiliki pengalaman yang sama pada Maret 2010, saat adik saya (persis) di bawah saya, diserang kanker nasopharing dan divonis dokter hanya punya masa hidup 15 bulan.
Saat itu semua berdoa agar adikku mendapat muzizat: dia sehat dan dapat membimbing dan membesarkan ketiga putri kami. Yang terjadi justru sebaliknya. Tiga bulan kemudian, 17 Juni 2010, adikku meninggalkan kami untuk selama-lamanya di usia 49 tahun. "

Terbayang dalam pikiran saya nasib ketiga putri kami yang saat itu tertua Yani Christin baru duduk di kelas III SMA, dan si bungsu, Tri Melani baru duduk di kelas I SMP. Istrinya sudah empat tahun mendahuluinya.

"Bagaimana nanti ketiga putri kami, tanpa ayah dan mama?". Sedih sekali. dan kadang gelap rasanya.
Buat laeku Idris Pasaribu, muzizat Tuhan kumaknai bukan supaya adikku hidup terus, tetapi hanya berserah kepadaNya agar seandainya keadaan terburuk akan terjadi, keluarga kami, teman-teman kami diberi kebijakan untuk selalu memaknainya secara positif.

Firman Tuhan memiliki kekuatan memberi pemahaman bila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran kita, keinginan dan cita-cita kita.

Saya teringat suatu hari ketika mendampingi adik saya dirawat di RS Cikini, Jakarta, karena kanker. Pagi hari kami berdua membaca ayat harian dari kitab Perjanjian Lama. Saat itu almarhum adikku usai mengalami kemo yang kedua dan kondisinya sedang prima.

(Buat info teman-teman. Orang penderita kanker, beberapa hari setelah kemo, fisiknya sehat, tetapi beberapa hari kemudian lemas, tak bertenaga).

Yeremia 33:3. "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui".

Kami berdua dengan almarhum adik saya membacanya dan saya menjelaskannya menurut pemahaman saya. Sesudah itu kami berdoa meminta Tuhan menguatkan kami dan memberi pemahaman atas situasi yang kami hadapi.

Saya tidak tau apa artinya ayat itu bagi almarhum adik saya. Sepintas saya melihat dia bersemangat. Bagi saya, ayat itu memberi kekuatan.

Saya memahami hidup ini penuh rahasia yang tak bisa dijawab dengan pikiran manusia, dan hanya Dia yang bisa menjawabnya. Awalnya saya tidak mampu memahami rencana besarNya, tetapi kemudian diberi pemahaman melalui Firman itu. "Peristiwa terburuk di mata manusia, bisa menjadi terbaik dibuat Tuhan"

Hidup dan kehidupan kita ada di tanganNya. Tuhan tidak pernah salah, Tuhan tidak pernah memberikan yang buruk untuk umatNya. Dia selalu memelihara umatNya, dan tidak akan membiarkannya menderita.

Empat tahun berlalu!. Kekhawatiran itu tidak pernah terjadi.

Si sulung--lulus UMPTN saat ayahnya sakit, sudah menyelesaikan D3 Sekretaris dari UI, pada 2013, dan kini bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris, dan akan wisuda S1 dari Extension UI Agustus mendatang. Yang kedua sudah memasuki semester 5 di Unibraw Malang, dan si bungsu kelas II SMA Negeri I Bekasi.


Saya dan teman-teman, mari kita doakan semoga keluarga ini kuat menghadapi situasi yang berat ini. Semoga laeku Idris Pasaribu dan keluarga tetap yakin, bahwa semua kejadian ini ada dalam RencanaNya.

Dia peduli, Dia mengerti segala persoalan kita. Berserulah kepadaNya.

Medan 13 Januari 2015

Berbahagia: Melakukan yang Terbaik Bagi Orang Lain


Oleh: Jannerson Girsang

Ketika menyaksikan proses penemuan dan evakuasi korban pesawat AirAsia, saya terkesima akan heroiknya para pilot yang berani terbang rendah hingga menemukan lokasi jatuhnya pesawat.

Saya terpana akan keberanian para penyelam hingga di kedalaman 30 meter lebih mengevakuasi para korban tanpa peduli dengan segala risiko yang ditanggungnya. Mereka tentu bukan orang-orang yang memiliki segalanya. Tetapi dari apa yang mereka miliki, mereka membuat yang terbaik. Mereka bekerja untuk orang lain, seperti bekerja untuk Tuhan, bekerja sebagai ucapan syukur, karena mereka merasa sudah mendapatkan upahnya terlebih dahulu.

Ketika menghadapi kesulitan, mereka senang karena mampu menambah bab baru ke dalam kisah kehidupannya bahwa mereka mampu menyelesaikan persoalan dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.

Mereka adalah "terang" bagi sekelilingnya, memberi inspirasi bahkan solusi bagi sebuah kesulitan yang dialaminya dan orang-orang di sekitarnya, bekerja dengan rasa syukur. Mereka puas, kalau yang lain senang, bahagia.

 Mereka bagaikan "berlian" di lumpur yang dalam dan ketika kita menemukannya, dan masuk dalam tim, maka segala yang terbaik akan muncul.

Orang-orang seperti mereka ada di tengah-tengah kita. Temukan mereka, motivasi mereka, buatlah mereka menjadi pemimpin tim Anda, komunikasikan kepada staf yang lain.

Ketika hal ini dilakukan, maka tim Anda tidak akan kehilangan kesempatan apapun. Anda akan memperoleh segalanya, membuat sesuatu yang baru dan terbaik.

Sebaliknya, di tengah-tengah kita juga penuh dengan orang yang terus menerus mengeluh, menyesali hidupnya, menyalahkan keadaan, mengkhawatirkan segala sesuatu, sebagai pembelaan dirinya untuk tidak bekerja, tidak melakukan apapun.

Mereka suka melempar batu di tempat orang memancing. Senang kalau melihat ikannya lari, orang lain kecewa. Senang melihat orang lain susah.

Bekerja hanya kalau dapat keuntungan, pujian, meski pekerjaannya hanya mendatangkan keresahan bagi yang lain. Mereka senang kalau masalah menjadi semakin rumit, karena hanya mampu mendapatkan keuntungan di air keruh.

Susah, meski sudah memiliki segalanya, karena semua miliknya bukan anugerah Tuhan, hanya untuk dinikmati sendiri--membedakan statusnya dari orang lain, bukan berkat untuk orang lain. Merasa benar sendiri, menyalahkan yang lain dan merupakan bagian dari masalah, bukan menyelesaikan masalah.

Tugas pemimpin adalah mengubah sikap sekelilingnya dari pesimis menjadi optimis, mengubah perilaku "menjilat"--bekerja hanya untuk dirinya sendiri, menjadi perilaku bekerja untuk orang lain, untuk Tuhan, membuat mereka berbahagia, mampu melakukan yang terbaik bagi sekelilingnya dari apa yang dimilikinya.

Selamat Pagi rekan-rekan. Medan 12 Januari 2015

Ciater: Memaknai Hidup

Ciater, sekitar 48 kilometer dari Bandung tempat keluarga kami merayakan Tahun Baru 2015. Sebuah penginapan di daerah Jawa Barat yang nyaman dan bersih. Memiliki kolam air panas serta hawa pegunungan yang sejuk.   Berbagai pemandangan alam, perjalanan, dan ciptaan Tuhan merupakan sumber inspirasi untuk memaknai hidup 



Terbang di atas 11.600 km

Ada dua ikap memaknai situasi ketika kita terbang dengan pesawat di ketinggian 11.600 meter.

Pertama, berfikir hal-hal negatif, yang kita sendiri tidak tau cara mengatasinya dan membuat kita ketakutan sepanjang perjalanan hingga pesawat mendarat.

Kedua, menikmati alam ciptaan Tuhan sepanjang perjalanan, mempercayakan semua kepada pilot dan crew atas keselamatan kita.

Sama dengan memasuki 2015, kita tidak perlu memikirkan hal hal yang membuat diri khawatir dan ketakutan, percayalah pada sang Pencipta.


Hidup Ibarat Mematuhi Aturan di Pesawat

Hidup ibarat kita menaiki pesawat yang terbang di udara, hidup di bawah aturan.

Ketika kita melanggar aturan, maka kita akan menerima hukuman. Kita tidak bisa keluar dari pesawat. 

Tetaplah hidup di dalam Dia yang menciptakan kita, turuti aturannya, sehingga kita beroleh kedamauan hidup.
Landed at Husein Sastranegara Airport, Bandung
 (Landed at Hussein Sastranegara Airport, Bandung, 1 January 20015


Jalan jalan sore di kawasan perkebunan teh Subang-Ciater sungguh nyaman dan menyejukkan.

Suka cita memasuki 2015.

Naik kuda dengan cucu Andra. Keliling-keliling di perbukitan di sekitar kebun teh Lembang, Jaw Barat. Cuaca dingin pagi buat semangat.

Ompung dan Cucu 2015 di Ciater SPA, Jawa Barat.
Bercerita cara berfikir positif dari Ompung.

Saling merindukan, menimbulkan suka cita ketika bertemu. Tuhan dipermuliakan. Selamat Tahun Baru. Bandung 1Januari 2015,

Minggu, 28 Desember 2014

FB Mengajarkan Kita Keterbukaan dan Kejujuran


Oleh: Jannerson GIrsang

Dulu, kita bisa banyak berbohong, karena teknologi tidak mampu menunjukkan kebohongan kita. Face Book (FB) mengurangi niat dan kesempatan kita berbohong, dan mendorong kita berlatih berfikir lebih logis, lebih kritis.

FB adalah catatan peristiwa di sekitar Kita, kegiatan Kita, pikiran-pikiran Kita, karakter Kita.
Masuk di FB berarti berhadapan dengan ribuan pembaca atau orang yang mengamati tulisan kita. Ada FB yang memiliki anggota lebih dari lima ribu orang dan dibaca ratusan ribu orang. Kita berbicara kepada semua orang dari berbagai latar belakang berbagai profesi, status, usia, suku dan agama.

Bohong identitas untuk menipu? Mudah sekali terlihat.

Coba Anda tidak mencantumkan istri kedua Anda di FB, dan sebaliknya justru mengaku lajang, orang yang mengenal Anda, atau istri Anda pasti akan langsung mencibir. Tidak menyertakan istri atau suami Anda dalam status, sehingga orang terpancing menggoda, karena dikira single. Anda secara sengaja mengundang orang tidak jujur.

Masuk FB, memasukkan gambar palsu, tidak menyertakan status yang jujur, berniat tidak jujur, cepat atau lambat Anda akan teridentifikasi.

Saya sering memblock permintaan pertemanan dari orang yang statusnya hanya menampilkan gambar wanita cantik. Gambarnya cuma satu dan tidak mencantumkan satu gambarpun teman atau sahabatnya. Dia berbohong tentang statusnya. Bicaranyapun tak sedap. Berbicara hanya soal seks, mengumbar nafsu, tak menarik sama sekali. Lebih banyak mudaratnya.

Jangan biarkan diri Anda terjebak dengan orang seperti ini! Pengalaman beberapa teman, orang seperti ini bukan hanya membuat Anda merasa tidak nyaman, Anda juga bisa jadi korban pemerasan. Karena memang niatnya tidak baik.

Mau berselingkuh, mencerca orang di FB melalui inbox? Hati-hati aja. FB Anda bisa kena hack dan kebohongan akan terbongkar. Seseorang yang tidak jujur akan menghabisi nama baik Anda.
Tidak logis kan? Gunakan ratio!. Seseorang yang baru meng-add FB Anda, mau menyatakan "mencintai" Anda, mengajak Anda kencan, padahal tidak kenal muka, tidak kenal keseharian kita. Kalau Anda mau, maka Anda juga tidak jujur. Orang-orang yang tidak jujur, menjadi sasaran orang yang tidak jujur. Benar nggak?

Sama saja kasusnya dengan penipuan online. Penipu melalui online di FB, tidak akan menjadikan sasarannya orang jujur dan cermat. Tidak logis dong, seseorang mau memberikan atau meminta Anda sesuatu, padahal sebelumnya tidak kenal sama sekali.

Ketika sistem komunikasi belum secanggih ini, kita bisa katakan sedang berada di Kabanjahe, padahal sedang berada di Medan. Sekarang Anda tidak bisa berbohong lagi sebebas dulu, apalagi Anda menggunakan black berry dan dilengkapi GPS. Posisi Anda saat mengirimkan status akan terlihat. Dengan sistem yang canggih, banyak lagi kebohongan yang bebas dilakukan dulu, kini terang benderang di FB.

Tuliskan kata-kata yang menginspirasi diri orang lain. Menuliskan kata-kata dengan niat tidak baik, tidak sopan, maka dengan cepat ratusan orang akan membully, mencibir Anda.

Kehadiran FB membuat kita semua belajar jujur, belajar menuliskan kata-kata yang menginspirasi, tidak menyinggung, apalagi sampai menyakiti orang lain, serta belajar kritis.

FB yang tidak jujur, lambat laun akan terlihat dan mendapat hukumannya secara otomatis. Kena block atau apa saja. Orang yang jujur tidak akan berteman di FB dengan teman yang tidak diketahui statusnya dengan jelas. Sebab dia sadar itu akan membahayakan dirinya dan temannya yang lain.
Berusahalah mengenal secara benar teman-teman FB Anda. Lakukan koreksi secara berkala. Orang yang tidak jujur berteman dengan Anda akan membahayakan teman Anda yang lain.

Mari ber-FB, mari bersikap lebih jujur, lebih terbuka dan lebih mampu menghargai satu sama lain.
Tidak mudah tentunya, butuh proses saling menasehati, saling menginspirasi satu dengan yang lain, proses pembelajaran bersama. Kita adalah manusia lemah, dan butuh dukungan dari sesama.
Mari berbuat sekecil apapun yang baik, kita turut menciptakan dunia kecil kita di FB ini lebih nyaman, damai dan saling menghargai.

Kalau Anda tidak ingin dibohongi orang, jangan berbohong kepada mereka!.

Semoga bermanfaat.

Medan, 27 Desember 2014

Masuk Depkeu: "Hanya Butuh Kemampuan, Tak Perlu Uang Pelicin"

Oleh: Jannerson Girsang


Siapa bilang kalau masuk Depkeu perlu sogok. Jangan percaya, kalau ada yang mau mengageni!. Kini kita berada di era revolusi mental.

Pemuda gereja kami membuktikannya. Dua pemuda Gereja GKPS Simalingkar masuk Depkeu tanpa membayar sepeserpun.

Orang tua mereka berkisah tentang perjuangan hingga kedua putri kesayangan mereka berhasil lolos sebagai pegawai Ditjen Pajak Dep Keuangan.

Mereka mempersiapkan anak-anak dengan motivasi dan karakter yang baik, daya juang yang tinggi, tidak mudah menyerah serta rendah hati.
.
"Semua aktivitas mereka kami apresiasi dan mereka bebas menggunakan kemampuannya memilih. Kami menasehatkan jangan bangga kalau hanya ranking di kelas. Di luar persaingan lebih keras. Sebelum keduanya lolos ke Depkeu, lamaran mereka beberapa kali gagal ke perusahaan dan instansi lain. Kuncinya berdoa dan bekerja keras," ujar sang ayah berkisah, di sela acaran Syukuran di Gedung Sekolah Minggu GKPS Simalingkar, usai Kebaktian hari ini, 25 Desember 2014.

Dua putri mereka diterima sebagai pegawai Ditjen Pajak. Tahun lalu Yun Mariance Purba , SE, lulusan Universitas HKBP Nommensen 2013, diterima menjadi pegawai Ditjen Pajak, dan kini bekerja di KPP Pratama Batam. Adiknya Lydia Purba SH, lulusan Fakultas Hukum USU 2014, lolos penyaringan Pegawai Ditjen Pajak Desember 2014.
.
Orang tua akan sangat berbahagia menyaksikan anak-anaknya mencintai kebenaran dan berjalan di jalan yang benar.

"Masuk di Departemen Keuangan, hanya menggunakan internet, ujian, dan tidak perlu sepeserpun uang pelicin. Tidak ada biayanya, hanya kemampuan,"ujar orang tua kedua gadis itu, St Daud Purba, SH, yang juga Wakil Ketua Pengurus GKPS Resort Medan Selatan.


Membanggakan dan menginspirasi. Dua-duanya adalah pemuda yang sangat rajin dan aktif sejak sekolah Minggu, hingga sekarang aktif dalam kegiatan Pemuda. Mereka tidak hanya pintar, tapi juga ramah, rendah hati dan berperangai baik.

Lidya adalah dirigen koor Pemuda di gereja kami, Iyun, kakaknya meski sekarang bekerja di Batam, setiap libur menyempatkan diri hadir di gereja kami dan menjadi inspirator Pemuda. Di masa SMA, Iyun tergabung dalam Paduan Suara Sola Gratia SMA Negeri I Medan.

Semoga kisah mereka menjadi teladan bagi orang tua dan para pemuda kami di gereja.
Mari kita bersama-sama mendoakan agar kelak dua-duanya menjadi pegawai pajak teladan di negeri ini.

Kamis, 25 Desember 2014

"Tuhan, Aku Tak Sanggup Lagi....."

Oleh: Jannerson Girsang

Masa-masa libur akhir tahun begini, mari gunakan waktu untuk kembali merenungkan dan belajar dari hari-hari yang sudah kita lewati. Jangan sampai semua berlalu tanpa makna, tanpa pelajaran. Apalagi sampai mengatakan: "Oh Tuhan aku tak sanggup lagi.."

Einstein berkata, "Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning".

Penemu bom nuklir itu mengingatkan kita supaya jangan lupa bertanya dan menjawab tentang apa saja yang sudah terjadi, sedang terjadi untuk memasuki masa depan yang sudah terpampang di depan. Masalahnya, kita sering tidak menyadari itulah kelemahan kita. Kita tidak mampu melakukan sendiri tanpa pertolonganNya.

Apa saja yang sudah kita lakukan, bagaimana hasilnya, bagaimana kita memaknainya dari sudut pandang bersyukur, dari sudut pandang positif, sehingga kesalahan bisa menjadi pelajaran dan secara kreatif mencari jalan keluar dengan cara yang berbeda dan hasil yang lebih baik.

Bukan sebaliknya kesalahan tinggal menjadi kesalahan dan terus menerus berputar-putar dalam masalah yang sama. Bahkan hanya sibuk mencari siapa yang salah, membela kesalahan dengan mengungkap kesalahan yang ada pada orang lain. Pusing di setiap tempat dan setiap waktu!.

Jangankan menjawab persoalan hidup, mempertanyakannya saja seringkali kita lupa. Akibatnya, setelah melakukan sesuatu kita tidak mendapatkan makna, padahal, kegiatan itu sudah dilakukan berulang-ulang. Cara berfikir kita tidak tercerahkan.

Natal dirayakan setiap tahun. Sudah merayakan Natal, tetap tidak pernah bertanya apa makna Natal, sehingga berkali-kali merayakannya, hanya mampu mempengaruhi luarnya saja. Tidak mampu menjawabnya dengan kata-kata, belum lagi dalam tindakan, apalagi memaknainya.

Tak jarang Natal hanya bermakna baju baru, sepatu baru. mobil baru, asessoris gereja baru, makan-makan enak, tidak merubah pikiran atau "mindset" yang baru, menjadi lebih baik. Jadi persoalan Natal hanya menyediakan fisik yang baru.

Bahkan kepanitiaan tak jarang tidak siap, kadang seperti memulai yang baru, seolah baru merayakan Natal untuk pertama kali.

Usai merayakan Natal, dendam tetap terpelihara dengan baik, tetap memikirkan diri sendiri, tetap berbicara keburukan orang lain. Pulang Natal, panitia susah mempertanggungjawabkan biaya Natal. Saling tuduh, saling menonjolkan siapa yang terbesar, akhirnya makna Natal menjadi hilang.

Natal memberi makna kita mengakui kelemahan bertanya, apalagi menjawab semua persoalan hidup. Kita bersuka cita di Hari Natal, karena kekuatan dan kemapuan bertanya dan menjawab persoalan hidup sudah datang.

Yesus Kristus yang difirmankan itu telah ada di tengah-tengah kita, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kita.

Kita tidak hanya capek bekerja, capek hidup, yang ujung-ujungnya hanya bisa berkata: "Oh Tuhan, aku tak sanggup lagi. Mengapa Tuhan mengirim saya ke dunia ini. Mengapa sekitarku terasa mengganggu terus, bukan sebagai penolong. Panggil saja saya Tuhan, aku tidak tahan hidup lagi".

Kita menyesali hidup, meninggalkan dunia ini dengan banyak musuh, menyianyiakan berkat Tuhan yang sudah kita diterima. Semua sia-sia. Turunan kita mewarisi permusuhan, bukan perdamaian. 
Keturunan  tidak bisa hidup rukun dan damai.

Bertanya dan bertanyalah setiap hari, berlatih bahwa kita memang tidak mampu sendiri. Hingga setiap saat dan hingga di akhir hidup kita nantinya bisa mengucap syukur. Natal, kelahiran Yesus memampukan kita untuk terus bertanya dan mengakui kelemahan kita.

"Untunglah Tuhan mengirim saya ke dunia ini. Untunglah Yesus datang sebagai penolongku. Begitu indah dunia yang Tuhan ciptakan, begitu baik semua manusia yang Engkau kirimkan. Berikan waktu bagiku untuk melayani mereka. ".

Salam Natal. Medan, 25 Desember 2014

Rabu, 24 Desember 2014

Natal, Pesta dan Duka Cita

Oleh: Jannerson Girsang

Menjelang malam Natal ini dunia menghadapi suka dan duka. Tetapi semua harus mampu memaknainya sebagai sebuah berkat. Di dalam suka dan duka kita harus mampu bersyukur, setelah bertemu Tuhan.

Pagi ini saya kedatangan anggota keluarga yang akan mengadakan pesta hari Sabtu 27 Desember 2014. Sebelumnya ada keluarga yang mengundang pesta 26 Desember.

Tadi malam saya menjenguk keluarga yang sudah dirawat sebulan lebih. Malam-malam sebelumnya melayat sebuah keluarga-istri dan tiga orang anak yang belum berkeluarga, kehilangan ayah yang sangat mereka cintai. Ada beberapa keluarga yang saya kenal anggota keluarga mereka sakit menahun. Mereka tentu khawatir akan kesehatannya.

Beberapa menit yang lalu, saya mendapat sms dari teman saya Murni Sianipar memberitakan bahwa teman kami Alrida Lumbantoruan (Pegawai Sekretariat Kantor Rektor Universitas HKBP Nommensen) meninggal dunia dini hari tadi. Betapa sedih keluarga yang ditinggalkan, hanya beberapa jam menjelang acara Kebaktian Natal. 

Dimanapun Anda merayakan Natal malam ini, di rumah sakit, di rumah duka, di ruang-ruang ber-ac, semuanya akan mendapat lawatan Tuhan. Semua orang yang percaya kepadaNya dimampukan untuk memahami apapun yang kita alami saat ini adalah sebuah rencana yang indah.

Di tempat duka, di tempat suka, Natal akan berjalan. Tuhan melayat semua orang dan orang percaya kepadaNya akan merasakannya.

Selamat mempersiapkan diri merayakan Natal, menerima lawatan Tuhan atas semua persoalan hidup. Pergilah ke Perayaan Natal apa adanya. Jangan repotkan diri dengan hal-hal yang tak prinsip.

Gembala di padang menerima Yesus dalam kesederhanaannya. Tidak pakai baju baru, perhiasan-perhiasan baru, mobil baru. Tapi mereka mampu bersuka cita.

Orang majus yang kaya membawa mas dan mur untuk dipersembahkan kepada Tuhan, bukan untuk dipamerkan kepada umum.

Raja Herodes yang takut kekuasaannya hancur karena kedatangan Yesus, berpura-pura "kirim salam". Padahal dalam hatinya dia ingin membunuhnya. Orang yang gila kekuasaan, suka pamer adalah orang paling sedih di hari Natal.

"Lalu gembala-gembala itu pulang sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu jang dilihat dan didengarnya: semuanya tepat seperti sudah dikabarkan kepadanya". (Lukas 2:20).

Lewatkan malam Natal, rayakanlah Natal dengan suka cita, dan kembalilah dari perayaan itu dengan memuji dan memuliakan Tuhan karena kita bertemu Dia sumber penghiburan, damai sejahtera serta keadilan.

Hanya Dia yang memahami keberadaan dan kesulitan kita.
Medan, 24 Desember 2014

Jumat, 12 Desember 2014

Berbagi, Mengundang Kerendahan Hati


Oleh: Jannerson Girsang

Setiap orang memiliki persoalan masing-masing. Jangan merasa masalah kita yang paling pelik atau sebaliknya, jangan pula bersikap seolah kita paling tidak bermasalah.

Bagaimanapun hebatnya kita, tidak mungkin mampu menyelesaikan diri kita sendiri, apalagi persoalan orang lain. Kita hanya mampu berbagi. Tuhanlah yang menguatkan pekerjaan kita sehingga berbuah dan memberi kekuatan bagi yang lain.

Saling berbagi adalah sikap yang benar. Seberat apapun masalah hidup yang kita jalani, semiskin apapun kita, Tuhan tetap menyisakan kekuatan bagi kita membantu yang lain. Sebaliknya, sehebat apapun kita, kita masih perlu ditolong orang lain.

Hidup saling tergantung satu dengan yang lain adalah perintah tertinggi dari hukum taurat dan kitab para nabi. Orang tidak ingin dirinya terhina, sehina apapun dia, semiskin apapun kehidupannya.

Bahkan kehidupan orang-orang yang menjelang ajalpun bisa menjadi kekuatan bagi kita. Mereka memiliki pengalaman hidup yang mungkin menyadarkan kita bahwa Tuhanlah sumber segalanya.

Setiap orang butuh pengakuan bahwa mereka juga mahluk Tuhan yang masih memiliki kekuatan berbuat sekecil apapun kebaikan untuk orang lain.

Sehebat apapun kita, kita tidak diperkenankan menganggap yang lain lemah, apalagi kita merasa berhak berkuasa atas mereka.

Memandang kekuatan dari sudut pandang dunia dan melupakan sumber kekuatan itu, di sanalah kelemahan kita. Sebaliknya menyadari kelemahan disertai iman dan pengharapan kepada Dia yang Maha Kuasa, di sanalah kekuatan kita.

Marilah sama-sama berbagi, karena di sanalah kekuatan yang abadi. Kerendahan hati akan muncul ketika kita mau berbagi. Kita akan menyadari bahwa kita sama-sama memiliki kelemahan dan kekuatan sekaligus.

Semoga kita semua mendapat lawatan Tuhan di masa-masa Adven ini, dan menyadarkan kita bahwa Dialah sumber kekuatan kita dalam memelihara kedamaian, keadilan dan memberi rasa peduli sesama. Kita hanya mampu berbagi, memancarkan kekuatan itu ke sekeliling kita.


Selamat Pagi.Medan, 12 Desember 2014

4,5 Tahun Cuci Darah: Tetap Menjadi Berkat


Oleh: Jannerson Girsang

Sudah menjadi kegiatan rutin, setiap acara Ulang Tahun Gereja atau menjelang Natal, gereja GKPS Simalingkar melakukan aksi sosial dengan kunjungan ke rumah-rumah oleh tim yang terdiri dari Panitia, Pengurus Sektor serta Pimpinan Majelis.

Salah seorang anggota jemaat GKPS Simalingkar yang kami kunjungi tadi malam adalah seorang ayah dari dua anak--yang tertua SD, dan yang bungsu masih TK, sudah 4,5 tahun menjalani cuci darah dua kali seminggu di RS Adam Malik.

Sudah empat Natal berjalan, keluarga St Mangasi Girsang menjadi salah satu sasaran aksi sosial gereja kami.

Selain St Mangasi tim yang lain juga mengunjungi beberapa keluarga lain yang juga mengalami sakit menahun. (Saya menunggu kisah jemaat yang mengalami nasib yang sama).

Menoleh ke Belakang

Sang ayah, St Mangasi Girsang adalah seorang petani kecil di sebuah desa di Simalungun. Di masa mudanya, Mangasi pernah jadi dirigen Koor Pemuda GKPS Tangerang.

Kemudian dia kembali ke kampung halamannya di Situri-turi dan setelah berkeluarga dia diangkat menjadi seorang sintua di GKPS. Dia aktif menjadi dirigen di gerejanya, dan dirigen Tim Koor GKPS Resort Tugarunggu dalam Pesparawi Bapa GKPS di Balei Bolon, Pematangsiantar, 2007.

Empat setengah tahun yang lalu, keluarga ini menghadapi masalah berat. Dokter memvonisnya harus mengalami cuci darah. Sayang negeri ini belum menjangkau pelayanan cuci darah hingga ke desa-desa. Rumah sakit yang mampu menolongnya hanya ada di Medan.

Semua kalang kabut. Keluarga ini beruntung karena setelah berhasil mendapat "surat miskin" mendapat pelayanan gratis dari pemerintah. Sebelumnya sekali cuci darah, mereka harus membayar Rp 600.000.

Mereka harus pindah ke kota terbesar di Sumatera Itu dan mendaftar sebagai anggota Jemaat GKPS Simalingkar. Dua anaknya ketika itu masih kecil-kecil. Putri bungsunya baru berusia delapan bulan dan sempat dititip beberapa lama di kampung

Menjelang Natal 2014

Empat setengah tahun kemudian, istrinya yang dulu seorang petani, kini sudah memiliki sebuah kios di Pajak Jahe dan menjadi pedagang kecil sayur mayur.

Padahal, awalnya sang ayah sudah mulai frustrasi. "Ketika mulai cuci darah, saya hanya bisa berdoa. Tuhan, tolonglah saya, hingga putri bungsu saya bisa memanggil saya "ayah", baru Tuhan memanggil saya,"ujarnya mengenang peristiwa empat setengah tahun lalu itu.

Kami mendengarkan pengalaman sang ayah yang kini berusia 46 tahun itu selama setahun ini dan dengan lancar sang ayah bercerita.

"Setelah empat setengah tahun menjalani cuci darah tubuh saya terasa semakin melemah dan aktivitas yang bisa saya lakukan makin berkurang. Nafsu makan sudah menurun. Kalau sebelumnya saya masih bisa memasak, sekarang tidak lagi. Saya kadang terpikir, terserah Tuhan kapan saya akan dipanggil, saya sudah siap," ujarnya pasrah.

"Cuma, kadang muncul juga rasa khawatir tentang masa depan kedua anak saya," lanjutnya dengan wajah sedikit menunduk dan kemudian menerawang ke atas atap rumah kontrakannya yang terletak di pinggir sungai.

Semua anggota tim terharu mendengarnya!. Saya, istriku, St Weldy Saragih dan istrinya, Sy Asima br Lubis, Mama Vika br Siregar hanyut dalam pikiran kami masing-masing. Andai saya seperti dia!

Bersyukur dan Berharap,  Mengarungi Gelombang

Tahun ini, mereka sempat menghadapi masalah besar. Istri yang kini jadi penopang kehidupan mereka dengan berjualan di Pajak Jahe, Simalingkar, sempat berhenti berjualan selama dua minggu, karena "lumpuh". Konon sejenis nyamuk Cikungunya.

"Saya tidak mampu menggerakkan kaki saya, tidak bisa melakukan apa-apa. Wah, inilah akhir kehidupan keluarga kami. Bapak kami sakit, saya juga sakit," kata sang istri.

Kemudian dia melanjutkan "Kami sangat bersyukur, karena menjelang Hari Natal ini saya sudah sehat kembali dan bisa berjualan lagi,"

Dulu sang ibu br Saragih yang hebat ini adalah petani di kampung, tak memiliki sedikitpun pengalaman berdagang. Namun sejak suaminya sakit 4,5 tahun lalu harus berubah haluan menjual sayur mayur dan buah di Pajak Jahe Simalingkar.

Meski dalam penderitaan yang berat, keluarga ini tetap menunjukkan sikap bersyukur. Kami masih disuguhi teh manis serta kue-kue yang dipersiapkan.

"Maaflah saya baru pulang dan hanya bisa menyuguhkan ala kadarnya," ujar sang istri yang baru saja kembali dari berjualan di Pajak Jahe, yang berjarak satu kilometer dari rumah mereka.

Setiap hari, sang istri harus keluar rumah sekitar pukul 03.00 pagi, membeli bahan jualannya ke Pajak Sambu naik angkot, dan berjualan seharian penuh, sementara suami dan anak-anaknya ditinggal di rumah. Sang suami dua kali seminggu harus cuci darah ke rumah sakit yang berjarak 3 kilometer dari rumah mereka.

"Saya kadang merasa kurang berbuat kepada Tuhan, karena sibuk bekerja memikirkan kebutuhkan keluarga. Saya kadang tidak ke pertonggoan, karena pulang bekerja sudah jam 19.00 dan harus menyiapkan semuanya bagi keluarga," ujar istrinya senyum tanpa kesan mengeluh.

"Dulu, ketika saya mulai cuci darah, putri saya masih berusia delapan bulan, dan saya berdoa kepada Tuhan agar diberi umur agar` putri saya bisa memanggil ayah kepada saya sebelum dipanggil Tuhan. Kini putri saya sudah TK, puji Tuhan" kata sang ayah.

Saat kondisi tubuh yang melemah, Mangasi masih menjadi berkat bagi para pasien yang menjalani cuci darah, khususnya mereka yang baru saja memulainya. "Satu hari, kami ada sekitar 20 orang yang cuci darah. Mereka yang baru memulainya banyak bertanya pengalaman kami, Saya menceritakan pengalaman saya dan mereka tambah semangat,"katanya.

Dia juga berdoa agar negeri ini aman dan pelayanan kesehatan tidak pernah terganggu. "Orang seperti kamilah yang paling menderita kalau negara tidak aman. Satu kali saja kami tidak mendapat pelayanan cuci darah, kami gamelah (tamat)," katanya.

Peneguh dan Perhatian

Kami hanya bisa mengatakan bahwa tim kami tidak mampu berkhotbah untuk mereka. Merekalah khotbah yang hidup. Dalam penderitaan yang beratpun mereka tetap rukun di rumah tangga, anak-anak sehat dan masih terus bersekolah.

Kami menitipkan ayat Alkitab dari Panitia sebagai bahan renungan bagi mereka. Yakobus 5:15-16.
"Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya"

Ketika tim kami memberikan bantuan ala kadarnya, sang ayah berujar:

"Saya sebenarnya berat sekali menerimanya, karena setiap tahun gereja tetap menjenguk kami, memperhatikan kami, dan memberi bantuan. Keluarga kami belum berbuat apa-apa. Saya banyak berhutang kepada gereja. Kami akan berusaha datang ke Natal Bapa/Inang," katanya terharu.

Semoga keluarga ini mendapat lawatan Tuhan di hari Natal ini. Mereka mendapat keluatan baru!.

Kami semua berdoa kiranya Tuhan tetap menguatkan mereka dan memberi kesehatan dan ketabahan kepada ibu yang kini menjadi tulang punggung keluarga.

Medan, 11 Desember 2014