My 500 Words

Sabtu, 11 Juli 2015

Bahagia: Perasaan Beruntung Melakukan Sesuatu yang Berguna

Oleh: Jannerson Girsang

Pagi hingga siang ini, saya melakukan beberapa kegiatan, selesai menuliskan beberapa lembar tambahan mengisi sebuah buku yang sedang saya tulis.

Melakukan pekerjaan kantor yang belum beres, sesuai dengan beban yang diberikan.

Dan waktunya makan siang!.

Tiba-tiba saya teringat banyaknya keluhan jemaat karena bertahun-tahun tidak memperoleh materi yang banyak, sukses seperti orang lain. Ada yang belum punya anak, ada yang belum punya rumah, ada yang belum punya mobil..

"Gimana yah, kok teman-teman saya kelihatannya kerja santai saja, tetapi memiliki apa yang mereka inginkan," kata seorang. Dan "Saya selalu berdoa tetapi yang saya doakan tidak juga terwujud," kata yang lain.

Saya balik bertanya: "Apakah mereka yang sudah punya semua itu bahagia?"

"Kayaknya ya Pak"

""Belum tentu kan?"

Kebahagiaan bukan terletak pada apakah kita menerima hasil doa kita, tetapi terletak pada pemaknaan kita atas apa yang kita miliki sekarang.

Seorang teman pernah saya tanyakan: "Berapa lama Anda bahagia, senang, ketika memiliki mobil baru".

"Hanya beberapa saat saja. Saya kemudian mengeluh karena harus membayar pajak, keserempet becak dan harus mencat kembali mobil itu,.Yang membuat saya tidak bahagia, mobil itu dipinjam teman dan dikembalikan dengan sompelan-sompelan dimana-mana. Yang membuat pusing, adalah ketika muncul mobil model baru, sementara untuk beli mobil baru tidak cukup uang"

Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya hasil yang kita peroleh. Jangan pernah berkecil hati akan harta atau talenta yang kita miliki sekarang.

Kalau memang kekayaan, ketenaran bisa membuat bahagia, maka Whitney Houston--pelantun lagu the Power of Love, yang terkenal di seluruh dunia itu. tidak akan mati karena kelebihan dosis obat penenang.

Bersyukurlah dan lakukan sesuatu dengan apa yang kita miliki, sekecil apapun itu, untuk sesuatu yang berguna.

Saya kerjanya cuma menulis, ngobrol (wawancara). Itulah talenta yang saya miliki dan saya lakukan setiap hari.

Apakah kegiatan yang saya lakukan bisa menghasilkan sesuatu seperti yang lain, tidak menjadi soal. Yang penting saya masih bisa melakukan sesuatu yang berguna.

Dan, ketika saya melakukannya, saya bahagia dan mungkin satu dua orang juga turut merasakannya. Tidak perlu mengeluh, orang-orang tidak memperdulikan pekerjaan saya. . .

Kebahagiaan manusia terletak pada perasaan beruntung ketika Tuhan masih memberi kesempatan baginya melakukan sesuatu yang berguna, membahagiakan orang lain.

Sekali lagi, jangan kecil hati atas apa yang kita miliki sekarang, sejauh kita masih bisa melakukan seuatu yang berguna. Di sanalah letak kebahagiaan itu.

Selamat siang, dan selamat beraktivitas untuk teman-temanku semua.

Medan, 23 Juli 2015

Kasih dan Kebersamaan

Oleh: Jannerson Girsang

Ketika orang tua mengajarkan sukses kepada anak-anak hanya sekedar pintar, memiliki jabatan, uang, mampu memanfaatkan peluang bisnis, lupa menebar benih kasih dan persatuan, maka kita sebenarnya bersiap-siap menerima anak-anak kita, keturunan kita tercerai berai. .

Orang tua yang mengajarkan "sukses" di atas, tanpa membekali anak-anak dengan cinta kasih dan pentingnya persatuan, merupakan akar pemisahan, dan sebagian anak-anak kita akan merasa terbuang!.

Orang tua seperti itu menghargai anak-anaknya hanya senilai "tebu giling". Menilai sukses hanya dari sisi kepemilikan "material" hal-hal yang terlihat, melupakan kasih, mengabaikan pewarisan benih persatuan diantara anak-anak. .

Tiap hari orang tua sibuk dengan anak-anak yang hanya menguntungkannya saja, anak yang membuatnya senang, membuatnya dipuji orang. Menebar benih persaingan tidak sehat, karena tidak semua anak-anak akan memperoleh sukses seperti itu.

Parahnya, sebagian orang tua mengabaikan anak-anaknya sendiri, yang tidak "beruntung" tadi.

Bukannya memberi semangat, malah menjadikannya bahan olok-olokan. Kejam sekali!

Anehnya, tidak jarang orang tua membanggakan-anak-anak orang lain dan menyayangi mereka yang hanya menguntungkannya saja, punya jabatan, banyak uang dan pandai memanfaatkan peluang bisnis.

Bahkan "mengangkat" anak orang lain yang "sukses" sebagai anaknya sendiri, tetapi melupakan anaknya sendiri yang tidak "sukses".

Mengunjungi anak orang lain yang "sukses", tetapi "lupa" alamat rumah anak sendiri.

Sikap seperti ini akan menimbulkan anak-anak yang "hilang", merasa tidak diperhatikan, menjadi masalah keluarga yang serius di masa depan.

Anak-anak akan tercerai berai.

Hati-hati!. "Orang tua harus dapat menetralisir perasaan anak yang merasa diperlakukan berbeda oleh orang tuanya. Orang tua harus cepat tanggap sebelum anak menjadi resisten terhadap orang tuanya sendiri".

Tidak jarang, orang tua menderita di masa tuanya, karena anak-anaknya tidak bersatu.

Bukankah mimpi setiap orang tua mempersiapkan sebuah keluarga besar yang tugasnya menerbar benih-benih kasih dan persatuan diantara anak-anaknya?

Sukses anak-anak adalah kalau mereka bisa merubah perangainya menjadi lebih baik dan lebih baik. Bersatu dan saling mengasihi.

Sukses adalah ketika anak-anak berusaha saling mengasihi, saling membantu dan menempatkan kebersamaan di dalam keluarga kecil, besar dan masyarakat sebagai "prestasi tertinggi".

"Molo sada hamu, sude do boi ulaonmu". Kalau kalian bersatu semua akan bisa kalian kerjakan. Benih unggul, ajaran yang seharusnya tidak dilupakan setiap orang tua!

Medan, 22 Juni 2015

Verba Volan, Scripta Manen

Oleh: Jannerson Girsang

Menulis adalah mengabadikan peristiwa, opini atau ungkapan orang-orang, dan alam sekitar dalam bentuk rangkaian kata-kata bermakna yang tertulis.

Manusia memiliki daya ingat yang terbatas. Ketika orang-orang sudah lupa, dokumen tertulis akan mengingatkan mereka.

Verba volan srcipta manen, demikian pepatah Romawi, yang artinya kira-kira" yang terucap lenyap dan yang tertulis tetap.

Apalagi kini, kita berada di abad internet. Tulisan bisa disimpan di berbagai media sosial, dan website.

Saya sendiri sadar menulis juga mengabadikan diri saya sendiri, mengenalkan diri ke dunia luar.

Selain mendapat sedikit uang, saya mendapat banyak sekali teman, keluarga baru karena menulis.

Setiap buku biografi yang saya tulis akan menambah ratusan keluarga baru, setiap menulis opini di media, saya dikenang ribuan orang yang membacanya.

Semoga mereka menikmati sesuatu hal baru yang saya dengar, lihat dan saya beri makna, sehingga mampu menginspirasi mereka, membuat pikiran lebih jernih.

Itulah upah terbesar seorang penulis!

Seorang penulis akan abadi, dan dikenang karena kekuatan peristiwa, opini atau ungkapan orang, serta daya tarik alam yang ditulisnya dan memberi manfaat, pembelajaran bagi orang lain.

Kalau saya tidak menulis, maka setengah teman saya sudah melupakan saya.

Saya merasa beruntunglah karena diberi sedikut kemampuan menulis!.

Saya percaya, "Menulislah maka kamu akan abadi," seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer.

Itu sebabnya, saya terus menulis, memberi makna sebuah peristiwa! Membuat teman-teman selalu ingat padaku.

Menulis juga membuat pikiranku jernih. Itu sebabnya, setiap pagi sebelum kemana-mana saya tetap menulis.

Jangan bosan yah membaca tulisanku! Meski belum sehebat para penulis beken, tetapi saya akan terus menulis.

Jangan lupa kunjungi blog saya. Kumpulan sekitar 500-an artikel sejak 2009, baik itu berupa renungan, opini, profil orang-orang, baik sudah diterbitkan di media maupun yang hanya terbit di FB ini.

Semoga bermanfaat!

Medan, 19 Juni 2015

Kamis, 18 Juni 2015

Orang Tua adalah Guru, Pendidik Bagi Anak-anak

Oleh: Jannerson Girsang

Orang tua adalah pewaris kebaikan bagi anak-anaknya, dan anak-anak adalah penerus keturunan.yang lebih baik.

Orang tua adalah seorang pendidik, mereka bukan hanya pencari nafkah fisik, bukan hanya pemberi "uang". Jangan puas hanya mampu memberi kebutuhan fisik, kebutuhan rohani-teladan kasih, kebaikan, jauh lebih penting!.

"Let us not be satisfied with just giving money. Money is not enough, money can be got, but they need your hearts to love them" (Mother Theresia).

Bersyukurlah kita ada orang yang masih rela menjadi orangtua tua, pasangan suami istri. Jika tidak, maka dunia ini hanya tinggal satu generasi lagi.

Orang tua, ayah dan ibu adalah seorang pendidik. Seorang pendidik ibarat seorang penabur, yang setiap hari menaburkan rupa-rupa benih : benih kepribadian, benih kedisiplinan, benih perilaku, benih iman, benih ilmu, benih pengharapan, benih pelayanan, benih kejujuran, benih keuletan, benih kemandirian, benih moral, benih kasih, dan hal positif lainnya, supaya keturunannya menerimanya, dapat belajar darinya dan mengalami pertumbuhan.

Orang tua bukan pendidik otoriter: hanya mengatakan: "kerjakan apa yang saya perintahkan, tetapi tidak berani mengatakan kerjakan apa yang saya lakukan, kembangkan dengan kebenaran yang sudah kamu pelajari!".

JANGAN DIPIKIR MUDAH MENJADI ORANG TUA!.

Tidak ada orang tua yang mampu mendidik anak dengan sempurna, tanpa mengalami pergulatan: gagal berkali-kali, mengakui kegagalan dan sharing dengan anak-anak.

Tidak ada kata tamat mendidik anak. Semua dalam proses belajar dan belajar hingga akhir khayat.
Tugas orang tua sebagai pendidik adalah berlaku baik, menabur kebaikan, berserah dan berdoa, setiap hari, setiap saat!.

Optimisme seorang orang tua tentunya didasari sikap yang realistis. Mereka harus belajar realita.
Tidak semua benih yang kita tabur sebagai pendidik dapat bertumbuh dengan subur, karena pastinya ada benih yang jatuh di pinggir jalan, jatuh di tanah berbatuan, dan juga jatuh di antara semak duri, sehingga akan menghambat pertumbuhan dari benih-benih tersebut.

Kita harus sadar, bahwa setiap anak memiliki daya tangkap yang berbeda dan memiliki cara yang berbeda mendidiknya. Ada yang harus mendapat perlakuan ekstra. Ibarat menaburkan benih di tanah yang subur atau mempersiapkan lahan yang kondusif terlebih dahulu.

Menabur benih pun memerlukan banyak tindak lanjutnya. Tanahnya digemburkan supaya menjadi subur, setiap hari tanaman disiram dengan air, rumput liar disekitarnya dicabut, hama pengganggu disingkirkan, dan secara periodik diberi pupuk.

Demikian halnya bagi orang tua!. Semua itu perlu dilakukan dengan teliti, tekun, terus-menerus, serta dituangan penuh kesabaran dan ketabahan.

Kita bersyukur menjadi orang tua, tetapi jangan lupa: tugasnya adalah pewaris keturunan dan kebaikan.

Dunia harus bersyukur masih ada orang tua. Keturunan yang baik bagi dunia ini terletak di tangan orang tua!

Medan, 16 Juni 2015

Hari Pertama Bekerja Putri Bontotku

Oleh: Jannerson Girsang

"Selamat sore Father!. Enak banget  di kantor ini. Lawyernya ramah. Smua baik. Terus makan siang disediakan ternyata...he..he,",

Demikian bunyi sms dari putri bontotku, Devee Girsang​, sore ini sesaat menjelang pulang kantor,

Kesan  dari bontotku yang menyenangkan bekerja di hari pertama   di sebuah kantor Lawyer di bilangan  CBD Kuningan, Jakarta, setelah wisuda dari President University, 6 Juni 2015 lalu.

Sebagai orang tua, mendengar kesan pertama hari pertama anak bekerja, khususnya si bontot, memupus semua kekhawatiran,  kesusahan dan penderitaan selama ini.

Ibarat kata pepatah: "Kemarau setahun, pupus oleh hujan sehari"

Terharu, bangga dan bersyukur. Anak bontot yang kebanyakan manja ternyata tidak dengan putriku yang satu ini.

Teringat beberapa tahun lalu.  Bontotku selalu ingin melakukan sesuatu sendiri.

Mencari kampusnya sendiri. Bahkan sebelum lulus SMA Methodis di Medan, diam-diam dia sudah mengikuti testing di President University, sebuah ampus yang relatif sangat mahal di bilangan Cikarang, Jakarta.

"Nanti kalau tidak lulus di SNMPTN, saya sudah punya tempat kuliah," katanya tiga setengah tahun yang lalu.

Memang, perkiraannya benar. Dia tidak lulus SNMPTN, tidak mengikuti  kakak-kakak dan abangnya yang masuk PTN di Jakarta. Sempat sedih sebentar!

Lalu, dia akhirnya memutuskan kuliah di President University, sebuah kampus  dengan pengantar bahasa Inggeris, padahal dia adalah BTL, Batak Tembak Langsung dari Medan! .

Tak pernah saya bermimpi mengirim anak-anak saya kuliah di kampus ini.  Bukan hanya karena saya ragu kemampuan bahasa Inggeris putriku, tetapi karena mahalnya uang kuliah.

Kalau saya jumlah: jumlah uang kuliah ketiga kakak-kakak dan abangnya, 2 kali lipat dari uang kuliahnya sendirian. .

Ternyata President University adalah sebuah kampus bernuansa "asing" di sebuah kompleks industri di bawah asuhan Kawasan Industri Jababeka, sekitar 50-an kilometer sebelah Timur Jakarta. (Nuansa asing itu terasa saat wisuda, pidato, sambutan semuanya disampaikan dalam bahasa Inggeris).

Saya sering mengatakan kepada teman-teman, "Anak-anak kita sekarang ini jauh lebih pintar dan lebih berani dari kita. Mereka hidup di dekade yang jauh berbeda dari kita, Kita tak berhak menggurui mereka".

Saya selalu yakin itu. Makanya tidak pernah meragukan pilihan mereka!

Saya yang lulusan IPB Bogor tahun 80-an, dan sudah tinggal di Medan sejak 1990, sebelumnya tidak pernah tau dimana dan bagaimana itu President University.

Mencari pekerjaan juga dia melakukannya sendiri. Dia tidak pernah mau menggunakan dukungan orangtuanya. Padahal, saya punya banyak keluarga dan teman lawyer. '

 "Tidak usah bapak yang mencari pekerjaanku, biarkan putrimu mandiri Pak. I love you Father. You are my hero," katanya suatu ketika, saat saya menawarkan bantuan untuk membantunya mencari pekerjaan.

Saya menurutinya. Ternyata dia bisa!

Seperti menabur benih, kami sebagai orang tua tidak pernah mengetahui bagaimana prosesnya putriku ini menjadi Sarjana Hukum, kapan dia akan memperoleh pekerjaan.

Kami tidak pernah khawatir seorang gadis harus kos sendiri di tempat yang jauh. Dari jauh saya hanya berdoa, memberi arahan.

Tuhanlah yang menumbuhkan benih yang kutabur itu dan kini sudah mampu mandiri, dalam usianya menjelang 22 tahun (bontotku lahir 19 Oktober 1993).

Perkuliahan bontotku adalah sebuah perjalanan iman saya dan istri  yang luar biasa,

Dia kuliah di kampus yang mahal, saat tenaga sudah lemah, di saat persediaan sudah menipis, setelah tiga kakak dan abangnya menyelesaikan perkuliahannya.

Awalnya saya ragu dan tidak mampu membayar uang kuliahnya. Saya bukanlah orang yang berkelebihan. Tetapi semua cukup dan tersedia saat dibutuhkan.

Kami hanya bermodal prinsip. "Kuliah adalah investasi prioritas! Apapun dikorbankan demi kuliah anak-anak".

Itulah terjemahan kami: "Anakkon hi do hamoraon di ahu"--anak-anak harus mendapatkan pendidikan terbaik, tanpa membedakan perempuan atau laki-laki.

Menjelang perkuliahannya selesai tak ada lagi barang berharga yang bisa dijual. Bahkan belakangan ini, saya harus menahan diri tidak pergi ke restoran bayar sendiri!. Pesan saya selalu:"Usahakan jangan terlambat lulusnya ya sayang" .

Doa dan air mata, itulah senantiasa membuat saya dan istri bersemangat dalam keadaan yang sangat terbatas.

Ibarat bermimpi, ternyata tak terasa, kami sudah tiba di "ujung"!.

"Saya sudah lulus meja hijau, Pak. Wisuda nanti Juni, "katanya beberapa bulan lalu. Lega. Tetapi sedih karena tidak ada hadiah yang bisa kuberikan, kecuali doa dan kata-kata yang membesarkan hatinya..

Semangat dan doa membuat kita kuat menghadapi apapun persoalan dan tantangan hidup. Kita diberi kebijaksanaan melakukan yang terbaik bagi anak-anak!

Terima kasih Tuhan, semua Engkau buat indah pada waktunya.

Buat putriku Devee: orang tuamu akan selalu mendoakanmu dari jauh sayang!.

Kejujuran, ketekunan, kerendahan hati, kerja keras dan doa adalah kunci sukses. Semoga Devee tetap berada di jalur yang selama ini kita tempuh, di tempat kerja!

Ingat ya sayang: "Sukses bukan karena kamu menjadi orang kaya, berkuasa, tetapi karena kamu berhasil menjadi orang yang baik!". Orang tua akan bangga kalau anak-anaknya disenangi banyak orang, karena kebaikannya, bukan karena kekayaannya atau kekuasaannya..

Terima kasih buat bere kami Grace Sibarani​, yang beberapa bulan terakhir membuat tulang yakin, karena tinggal dekat dengan bontotku!. Grace menjadi tempatku bertanya, orang yang kupercaya dan paling tau tentang keberadaan bontotku ini.

Teman sejati adalah teman yang hadir pada saat kita susah. Grace; Kau baik sekali nang, Tuhan akan membalas kebaikanmu!. Tuhan memberkati kalian ya nang:

Terima kasih untuk kedua kakak bontotku,  Clara, dan Patricia, putri adikku Christin serta kedua menantuku yang senantiasa memonitor keadaan bontotku, memberi bantuan moril bahkan material dan tempatku bertanya selama dia kuliah jauh di luar Jakarta.

Medan, 15 Juli 2015.

Menyambut Pelantikan Pimpinan Pusat GKPS 2015-2020

Oleh: St Ir Jannerson Girsang

Seluruh warga GKPS bersyukur karena Synode Bolon GKPS ke 42 berakhir dengan baik. Kita menghargai lelah 450 orang perutusan, serta panitia Synode yang bekerja keras menyelesaikan seluruh agenda dan tugas-tugas mereka sejak 9 Juni 2015 lalu.
.
Synode telah pula mensyahkan Program GKPS Lima Tahun ke depan, serta memilih Pimpinan Pusat GKPS 2015-2020 yang pelantikannya akan diselenggarkan hari ini, Minggu 14 Juni 2015.

Dilantik Pendeta Tertua

Sesuai dengan tradisi di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), pendeta aktif tertua--Pdt Saur Pardomuan Saragih, STh akan melantik Pdt M Rumanja Purba MSI dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe sebagai Ephorus dan Sekjen GKPS periode 2015-2020, di gereja GKPS Sudirman, Pematangsiantar, hari ini 14 Juni 2015.

Pria yang mulai bertugas sebagai pendeta di GKPS 12 April 1982 ini, sudah berusia hampir 60 tahun ini. Jabatannya saat ini di GKPS adalah Sekretaris Distrik IV Medan dan merupakan pendeta aktif tertua di GKPS.

“Benar saya akan melantik Pimpinan Pusat GKPS periode 2015-2020 pada Minggu (14/6) di GKPS Sudirman. Penunjukan itu merupakan persyaratan di GKPS, yakni pendeta aktif tertua yang melantik,” ujar Pdt Saur Pardomuan Saragih, seperti dikutip harian METRO Siantar.

Beberapa Catatan

Pergantian kepemimpinan di GKPS merupakan sebuah agenda yang paling banyak menyedot perhatian dari agenda-agenda yang lain dalam pelaksanaan 42 kali Synode, sejak GKPS mandiri dari HKBP, 1 September 1963.

Perhatian jemaat yang cukup besar terhadap agenda pergantian kepemimpinan di GKPS cukup beralasan karena lima tahun kedepan, kedua Pimpinan tersebut akan memimpin amanah Synode Bolon ke -42  untuk memimpin lebih dari 200 ribu jemaat dan tersebar di lebih dari 20 provinsi di Indonesia.

Mengamati Synode Bolon GKPS ke 42 ini, saya memiliki beberapa catatan sebagai berikut:

Pertama, GKPS menunjukkan sikap yang semakin dewasa dalam memilih pemimpin. Pemilihan Pimpinan Pusat GKPS berlangsung lancar, dan berakhir damai, indikator gereja yang diamanatkan Yesus Kristus saat bangkit ke surga. “Aku mewariskan damai”.

Usai pemilihan, pengakuan tanpa syarat dari calon yang belum mendapat kesempatan menjadi Pimpinan Pusat, menjadi catatan dan pelajaran berharga bagi para pemimpin gereja, mulai dari yang tertinggi hingga terendah di jemaat. Setelah pemilihan tidak justru menambah beban yang harus dihadapi Pemimpin berikutnya.

Pergantian kepemimpinan bukan soal kalah menang, tetapi adalah sebuah amanah Tuhan sebagai Kepala Gereja.  Dalam Synode sikap menghargai keputusan, khususnya Pemilihan Pimpinan Pusat, cukup melegakan dan membesarkan hati. Beberapa saat setelah pemilihan berlangsung,  Pimpinan Pusat yang lama--kebetulan menjadi salah satu calon Ephorus, dalam hal ini Pdt Dr Jaharianson Sumbayak secara spontan memberikan dukungan dan ucapan selamat. Calon Pimpinan Pusat GKPS yang bersaing  harus menghormati keputusan Synode Bolon.

Kedua, kita berharap ke depan, Pimpinan Pusat yang baru menghargai, mempelajari dan mampu mengoreksi karya-karya mereka, serta menjadikan para pimpinan terdahulu sebagai partner, bukan sebagai oposisi (di gereja tidak dikenal oposisi) dalam menjalankan roda kepemimpinan ke depan.

Sikap seperti ini penting untuk menjaga keutuhan dan kesatuan langkah ke depan, sehingga GKPS mampu memelihara  kesinambungan program dan mengembangkan program-program baru, membawa jemaat  sesuai dengan amanat Synode Bolon, menghadapi berbagai tantangan kehidupan mereka di era globalisasi ini.

Menggalang persatuan dan kesatuan tindak adalah tugas Pimpinan Pusat yang baru dalam memanfaatkan seluruh potensi yang ada di GKPS. Pengelompokan pihak menang dengan yang kalah adalah tradisi dunia yang sama sekali bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Ketiga, sebuah peristiwa unik dan belum pernah terjadi di GKPS, dan bahkan mungkin di gereja lain  anggota LWF. Synode Bolon GKPS ke-42 memilih Pimpinan Pusat GKPS (Ephorus dan Sekjen) secara kebetulan adalah putra Mantan pasangan Pimpinan Pusat hasil Synode Bolon GKPS 1970.

Terpilihnya Pdt Marthin Rumanja Purba sebagai Ephorus dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe sebagai Sekjen GKPS 2015-2020 mengingatkan kita pada Synode Bolon GKPS 1970.  Saat itu Pdt Lesman Purba, STh ayah Pdt Rumanja Purba terpilih sebagai Ephorus GKPS, dan Pdt Armencius Munthe, ayah Pdt Paul Munthe terpilih sebagai Sekjen.

45 tahun kemudian, putra kedua Pimpinan Pusat tersebut menjadi pasangan Pimpinan Pusat GKPS. Sebelumnya, putra Pdt Samuel P Dasuha, mantan Ephorus GKPS (1972-1977). almarhum Pdt Belman Purba Dasuha STh, menjadi Ephorus GKPS (2005-2010)

Keempat, lima tahun ke depan, GKPS akan melaksanakan tahapan Visi GKPS 2030. Tahap dimana GKPS menekankan pengembangan sumberdaya manusia dan kepemimpinan, di tengah gereja yang pada umumnya yang menghadapi tantangan dan permasalahan khususnya masalah moral, kerohanian, teologia, organisasi dan keuangan gereja, politik, sosial, ekonomi, budaya,  dan lain-lain.

Menghadapi permasalahan-permasalahan ini GKPS membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh melayani, memiliki kemampuan kemepimpinan dan manajerial yang baik, mampu bersinergi dengan seluruh elemen yang ada.

Jemaat GKPS, berharap agar Pimpinan Pusat periode 2015-2020 senantiasa  memiliki keinginan untuk terus belajar (mampu), takut akan Allah--menghormati hukum-hukum Allah, dapat dipercaya--yakni melaksanakan amanat Synode Bolon ke 42, dan benci pada pengejaran suap, dan anti korupsi.  Hal yang seperti diamanatkan oleh Keluaran 18:21 sebagai persyaratan pemimpin yang baik. 

Jemaat juga berharap agar Pimpinan Pusat yang baru tidak terlalu lama menoleh ke belakang, tetapi langsung memandang jauh ke depan, melihat persoalan serta mencari solusinya.    

Keduanya pernah bersama-sama bekerja di kantor pusat, sewaktu Pdt Rumanja menjabat sekjen, Paul adalah Kepala Litbang mulai tahun 2000-2005.  “Jadi kita terus bersama-sama. Artinya, kita sudah saling kenal dan kita sudah saling tahu yang mau kita lakukan bersama-sama. Tentu akan kita tingkatkan lagi,” ujar Paul, seperti dikutip harian Metro Siantar.

Jika didasari dengan niat baik, didukung kemampuan dan pengalaman di atas,  doa seluruh jemaat, Pimpinan Pusat yang baru ini tentu akan mampu mengemban amanah Synode  Bolon 2015 dan membawa GKPS lima tahun ke depan menjadi lebih baik.

Selamat kepada Pdt Rumanja Purba, MSi sebagai Ephorus dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe sebagai Sekjen GKPS periode 2015-2020.

Profil Pimpinan Pusat GKPS 2015-2020.

Ephorus GKPS. Pdt Martin Rumanja Purba, MSi telah berkarier selama 26 tahun sebagai pendeta di GKPS. Selama keriernya, ayah tiga orang Anak-- Andro Purba, Nia br Purba, Nisura Purba  mendapat beragam penugasan seperti Pendeta Resort, dan terakhir adalah Pendeta Resort Cempaka Putih, Jakarta. Sebelumnya suami dari Leoni br Silalahi ini pernah menjadi Sekjen GKPS selama 2000-2010 pada masa kepemimpinan Ephorus Pdt Dr Edison Munthe, MTh dan Pdt Belman Purba Dasuha STh. Pdt Martin Rumanja Purba adalah  Alumnus STT Jakarta dan memperoleh gelar Magister dari Program Pasca Sarjana Universitas Duta Wacana Salatiga.

Sekjen GKPS. Pdt Dr Paul Ulrich Munthe telah berkarier di GKPS sejak 1996 dan pernah melayani di Resort Gloria Haranggaol,  kemudian menjadi Kepala Litbang di Kantor Pusat sampai 2006. Sejak 2010,  suami dari Darty br Purba ini menjabat Kepala Biro Administrasi di Kantor Pusat GKPS, dan terakhir sejak 2013 pendeta Resort Polonia Medan. Pdt Paul pernah megikuti studi di Korea Selatan program Master Theologia Tahun 2000-2001. Pada 2006, ayah Steven Munthe ini menempuh  studi doktor di Singapura.

Jannerson Girsang—mantan Perutusan Synode Bolon GKPS (2000—2005) dan Pengantar Jemaat GKPS Simalingkar (2010-2015)

Medan, 14 Juni 2015
Pimpinan Pusat GKPS yang Baru: Pdt Paul Ulrich Munthe (kiri), Pdt Martin Rumanja Purba (dua dari Kiri). 
Pimpinan Pusat GKPS Lama: Pdt Dr Jaharianson Saragih (tiga dari kiri) dan Pdt El Imanson Sumbayak MTh (paling kanan)Pimpinan Pusat GKPS yang Baru: Pdt Paul Ulrich Munthe (kiri), Pdt Martin Rumanja Purba (dua dari Kiri). Pimpinan Pusat GKPS Lama: Pdt Dr Jaharianson Saragih (tiga dari kiri) dan Pdt El Imanson Sumbayak MTh (paling kanan)
Pdt Rumanja Purba MSi, Ephorus dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe, Sekjen GKPS 2015-2020 memasuki gereja GKPS Sudirman Pematangsiantar, 14 Juni 2015. (Photo: Emmi Saragih, Yayasan Pendidikan GKPS)Pdt Rumanja Purba MSi, Ephorus dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe, Sekjen GKPS 2015-2020 memasuki gereja GKPS Sudirman Pematangsiantar, 14 Juni 2015. (Photo: Emmi Saragih, Yayasan Pendidikan GKPS)
Pasangan Pimpinan Pusat GKPS  Pdt Rumanja Purba MSi, Lioni br Silalahi, Pdt Dr Paul Ulrich Munthe, Darty br Purba. Photo: Meirice Delpita SipayungPasangan Pimpinan Pusat GKPS Pdt Rumanja Purba MSi, Lioni br Silalahi, Pdt Dr Paul Ulrich Munthe, Darty br Purba. Photo: Meirice Delpita Sipayung

Khotbah Pertama Ephorus GKPS 2015-2020 di gereja GKPS Sudirman Pematangsiantar, 14 Juni 2015. Photo: Dr Sarmedi Purba. "Tidak histeris, tapi historis" kata Dr SarmediKhotbah Pertama Ephorus GKPS 2015-2020 di gereja GKPS Sudirman Pematangsiantar, 14 Juni 2015. Photo: Dr Sarmedi Purba. "Tidak histeris, tapi historis" kata Dr Sarmedi
Semua ceria menyambut Pimpinan Pusat GKPS 2015-2020. Terlihat di belakang Pdt Saur Pardomuan Saragih (Pdt Tertua yang melantik Pimpinan Pusat). Photo: Eva GirsangSemua ceria menyambut Pimpinan Pusat GKPS 2015-2020. Terlihat di belakang Pdt Saur Pardomuan Saragih (Pdt Tertua yang melantik Pimpinan Pusat). Photo: Eva Girsang

Kumpul Keluarga

Kesibukan dan jarak kadang membatasi keluarga bisa kumpul.
Malam Minggu bersama keluarga paribanku St Ir Badiman Purba. Pertemuan begini membuat anak-anak semakin kompak dan saling mengasihi dan merindukan satu sama lain.
Terima kasih untuk adik kami yang baik, mama Tamara and Bapak Tamara.

Medan, 13 Juni 2015 


Kita dan Orang Lain

Oleh: Jannerson Girsang

Cara berfikir kita tidak sama dengan orang lain, keinginan kita tidak sama dengan siapapun, termasuk pasangan kita, anak-anak kita, tetapi kita dituntut harus mampu hidup berdampingan dengan mereka.
Sebab mereka adalah ciptaan Allah yang paling tinggi.

Kita sering memaksakan orang lain berfikir seperti kita, memiliki keinginan seperti kita: Saat itulah kita menjadi susah, tetapi sering tidak menyadarinya dan kadang enggan menyadarinya.

Hidup adalah mewujudkan pikiran, keinginan, tanpa mengorbankan pemikiran dan keinginan orang lain. Tidak memaksakan pemikiran dan keinginannya harus dipenuhi orang lain.

"Berkorban terlebih dahulu". Ayat emasnya adalah : sebagaimana kamu menginginkan orang lain berbuat kepadamu, perbuatlah demikian kepada mereka. Perintah yang mutlak dilakukan oleh manusia kalau dia mau hidup bahagia. Sebuah keteladanan!

Buah yang mereka kejar adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Bukan sebaliknya, kuasa, kehormatan, serta penghormatan dunia lainnya.

Suatu pekerjaan yang seorangpun tidak mampu mewujudkannya dengan kekuatan manusia sendirian. Dia harus masuk dalam komunitas dan mampu hidup berdampingan dengan yang lain, dipersekutukan dalam Roh!.

Jadi, tidak mudah memahami keinginan dan pemikiran orang lain, menyeleraskan pemikiran dan keinginan seseorang dengan pemikiran dan keinginan orang lain.

Prosesnya berjalan seumur hidup, jatuh dan bangun, berhasil dan gagal, penuh pengorban dan penyangkalan diri,

Orang-orang yang berbahagia tidak akan pernah merasa tamat melakukannya, sampai dia menghadap sang Kuasa. Tidak pernah menghitung apa yang sudah diperbuatnya, tetapi melakukan apa yang belum bisa dilakukannya untuk pasangannya, anak-anaknya, untuk orang lain..

Mereka merasa berhutang atas buah-buah Roh, dan tidak pernah merasa berjasa atau perlu dihargai, tetapi bersyukur ketika masih diberi kesempatan berbuat baik dan melayani yang lain semampunya.
Mereka terlihat seperti orang bodoh. lemah, miskin. Tetapi merekalah sesungguhnya yang paling bijak, kuat dan kaya!.

Selamat Malam Minggu dan mempersiapkan diri melayani dan mengikuti kebaktian Minggu besok!

Medan, 13 Juni 2015

Nias-Bangkit.com Tutup Sejak 12 Juni 2015

Oleh: Jannerson Girsang

NBC Tutup!. Malam ini saya membaca artikel Reny (Ketjel Zagoto) dan samar-samar sepertinya NBC Tutup.

Lalu, setelah konfirmasi Apolonius Lase, salah seorang manajemen mediaonline terkemuka di Nias itu, ternyata benar.

Saya ,mengunjungi website NBC. Sebuah artikel yang kubaca malam ini membuatku sedih. Surat kepada pembaca NBC. .

"Sebuah keputusan telah kami ambil. NBC akan berhenti menjalankan aktivitas peliputan berita terhitung pengumuman ini kami tayangkan," demikain isi surat itu yang lengkapnya ada di bawah ini.
Sejak

Di awal penerbitan mediaonline yang mulai tayang 5 Oktober 2010 ini, Tony Jans (Managing Director NBC) meminta saya untuk turut membantu mendidik para wartawan baru di sana selama tiga bulan.

Sedih!

Saya teringat teman-teman: Onlyhu Ndraha, Ni Mend, Iman Lase, Jonifati Gulo, Ketjel Zagoto, (Reni), Anoverlis Hulu Irwanto Hulu dan teman-temanku yang lain yang tak dapat kusebut satu persatu.

Kenangan indah di Bawomataluo, perjalanan ke Sirombu, Sorake, dan berbagai tempat di Nias Utara, membuatku sedih. Kenangan itu tidak akan pernah kulupakan. Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih untuk dikenang.

NBC tinggal kenangan. "Sudah diputuskan Pak, kemaren ditutup,"ujar Apolonius Lase, salah satu jajaran manajemen NBC di Jakarta malam ini.

Ano salah seorang wartawannya beberapa hari yang lalu mengatakan pindah ke RRI Gunung Sitoli. Bagaimana dengan teman-teman saya yang lain? .

Berikut lengkapnya surat Perpisahan itu!

Pembaca NBC yang budiman.

Sebuah keputusan telah kami ambil. NBC akan berhenti menjalankan aktivitas peliputan berita terhitung pengumuman ini kami tayangkan.

Tentu Anda semua terkejut dengan kabar ini. Namun, bagaimanapun itulah keputusan yang telah kami ambil setelah mempertimbangan berbagai hal. Untuk selanjutnya, artikel dan berita yang pernah ditayangkan, demikian pula dengan foto dan video, masih akan dapat diakses pembaca. Namun, tidak akan ada lagi naskah dan artikel baru.

NBC hadir terhitung 5 Oktober 2010. Kehadirannya berbarengan dengan pemilihan kepala-kepala daerah di lima wilayah Nias. Selanjutnya berita-berita dan artikel yang hadir terkait dengan apa saja yang terjadi di kelima daerah otonomi baru tersebut.

Kami bertiga: Tony Fransiscus Jans, Donny Iswandono, dan Apolonius Lase, sebagai pendiri NBC, yakin apa yang kami lakukan sedikit banyak telah berkontribusi bagi perkembangan masyarakat Nias.

Gaya jurnalisme yang kami usung melalui NBC mendapat simpati berbagai kalangan. Tentu kami mensyukuri atas sambutan itu, meskipun segelintir orang menyatakan juga tidak suka. Kami menghormati mereka yang berpandangan beda itu.

Kami bukanlah sebuah lembaga berorientasi bisnis. Apa yang telah kami lakukan semata-mata adalah sumbangsih kami kepada Nias yang tengah mencoba bangkit.

Demikian kabar atas keputusan kami untuk menghentikan aktivitas jurnalistik NBC. Selanjutnya kami yakin putra-putri Nias bakal mampu mengisi kekosongan ruang yang telah kami tinggalkan.
Selamat berpisah kami ucapkan. Terima kasih atas segala apresiasi dan kerja sama yang terjalin selama ini. Tak ada gading yang tak retak. Jika ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan.

Salam Perpisahan.

Bekasi, 12-6-2015.

Mengulang Synode GKPS 1970

Anak Ephorus Jadi Ephorus, Anak Sekjen Jadi Sekjen GKPS

Oleh: Jannerson Girsang

Setelah Ephorus GKPS yang baru Pdt Martin Rumanja Purba, MSi terpilih tadi siang, sore ini Synode Bolon GKPS ke-42 memilih Pdt Dr Paul Ulrich Munthe, sebagai Sekjen GKPS periode 2015-2020.. Sejarah yang berulang!.

Terpilihnya kedua Pimpinan Pusat GKPS 2015-2020 mengingatkan kita pada Synode Bolon GKPS 1970.

Saat itu Pdt Lesman Purba, ayah Pdt Rumanja Purba terpilih sebagai Ephorus GKPS, dan Pdt Armencius Munthe, ayah Pdt Paul Munthe terpilih sebagai Sekjen.

45 tahun kemudian, hari ini anak-anak mereka terpilih menjadi pasangan Pimpinan Pusat GKPS.
Sebuah peristiwa yang tak seorangpun dapat menduga. Sebuah rencana Tuhan yang kita yakini akan baik bagi GKPS lima tahun ke depan.

Lebih berbahagia lagi ketika mantan Ephorus Pdt Dr Jaharinson Saragih langsung mengucapkan selamat kepada Pimpinan Pusat GKPS yang baru di statusnya.

"Selamat kepada abang Pdt Rumanja Purba sebagai Ephorus dan kepada Adik Pdt Paul Munthe sebagai sekjend GKPS periode 2015-2020. Makin diberkatilah GKPS.Amen,"ujar Pdt Jaharianson Saragih, mantan Ephorus GKPS di status FBnya. .

Medan, 12 Juni 2015