My 500 Words

Jumat, 24 Februari 2012

Bincang-bincang dengan Idris Pasaribu: "Mengenal Idris Pasaribu dan Mimpinya"

Oleh Jannerson Girsang

novel pincalang 
Sumber foto: http://www.antarafoto.com. 
 
Lelaki yang memasuki 61 tahun itu sedang menikmati rokok kreteknya, memandang kopi hitam di meja, berlipat tangan dengan mata memandang ke jalan raya yang membatasi dirinya dengan kantor Harian Analisa Medan.

Dia adalah Idris Pasaribu, yang dikenal luas sebagai seorang budayawan, seniman, wartawan, sutradara film, penulis novel. 

Kamis 23 Pebruari 2012, saat sarapan pagi dan minum kopi dan kue seadanya membawa kami ke dalam perbincangan yang berlangsung selama kurang lebih dari dua jam, seputar film yang sedang digarapnya, Amang Parsinuan, serta berbagai hal seputar issu sastra, budaya, pariwisata, serta persoalan lain di Sumatera Utara.

Untuk melihat sejauh mana kiprah dan mimpi penulis novel Acek Botak ini, hasil perbincangan itu diterbitkan berseri di harian ini. Kami awali dengan menyajikan profilnya.

Hari-hari selanjutnya anda akan menikmati pengalamannya yang menarik, komentar dan kritikannya seputar budaya, sastra, pariwisata, teater, film.

****

Idris Pasaribu lahir di Deli Tua 5 Oktober 1952. Masa kecil hingga remajanya berlangsung di Sibolga, kota pelabuhan terbesar di pantai Barat Sumatera.

“Tugas saya sehari-hari sebenarnya adalah seorang wartawan,”ujarnya membuka pembicaraan. “Cuma sebutan wartawannya hilang, karena saya lebih dikenal sebagai seniman dan budayawan,”tambahnya sambil tertawa.

Melihat usianya, pria ini seharusnya menjalani masa pensiun. Namun, tidak begitu saja tempatnya bekerja, Harian Analisa melepas dirinya dari redaktur Budaya. Jabatan itu sudah dipegangnya sejak 21 tahun lalu. Kini dirinya masih mengasuh Rubrik Sastra dan Budaya “Rebana” di Harian Analisa, Medan.

“Saya masih diminta memegang jabatan itu, meski usia saya sebenarnya sudah pantas pension,”ujarnya. Tentu, bisa ditebak!. Tak banyak orang yang berkompeten di dunia sastra, bidang yang sudah digelutinya sejak usia 16 tahun itu..

Nama Idris tidak asing lagi bagi para pegiat sastra di daerah ini. Dia telah menulis sedikitnya tiga novel, membina penulis-penulis muda, serta aktif di berbagai organisasi sastra.

Mimpinya: Mengembalikan Ibukota Sastra Indonesia ke Medan. “Saya ingin mengembalikan ibu kota Sastra Indonesia ke Medan”ujarnya mantap.

****

Ayah dari tiga orang anak laki-laki ini menapaki kisahnya di dunia penulisan dari bawah dengan penuh liku.

Kisahnya berawal dari minatnya menulis yang didukung oleh berbagai perlombaan yang dilaksanakan di sekolahnya.”Sedikitnya dua bulan sekali Pastor Hugo—salah seorang guru kami mengadakan lomba mengarang,” ujarnya mengenang awal ketertarikannya menggeluti dunia sastra.

Dalam setiap perlombaan,  karya-karyanya ternyata mendapat penilaian di peringkat atas Karya-karyanya menghiasi majalah dinding sekolahnya, membuatnya merasakan kebanggaan tersendiri sebagai seorang penulis remaja.  “Saya selalu mendapat juara satu dan ini membuat saya selalu bersemangat,”ujarnya.

Idris kemudian mengirimkan karya-karyanya ke Harian Suluh Marhaen. Pasalnya, ketika itu dia diangkat menjadi Ketua Suluh Marhaen Youth Club. ”Saat itu setiap partai memiliki kelompok pemuda dan surat kabar sendiri,”ujarnya.  Menurutnya, cerpennya cukup menarik bagi para pengelola harian itu.

Masuknya Idris ke dunia jurnalistik di usia mudanya, memiliki kisah yang unik. Sambil menghirup kopi dan menikmati rokok kreteknya, dirinya mengisahkan sebuah peristiwa menyedihkan. ”Waktu itu wartawan Harian Suluh Marhaen di Sibolga  bermarga Simamora meninggal dunia”ujarnya.   

Lantas, saat upacara penguburannya Idris hadir. Para petinggi harian dari Medan juga hadir. Dalam sebuah pembicaraan, mereka (pemimpin redaksi dan staff) berbincang tentang pengganti Simamora. Di daerah pekuburan yang terletak di pinggir laut itu mereka menyebut nama Idris Pasaribu. Bak gayung bersambut, Idris secara proaktif memperkenalkan dirinya. Dialah lelaki yang dibicarakan itu. Karena selama ini mereka sudah mengenalnya dari tulisan-tulisan Idris, maka tak menunggu proses lama, mereka sepakat mengangkatnya menggantikan  Simamora.

“Saya difoto saat di pekuburan itu, berlatar pantai Sibolga. Beberapa hari kemudian, saya menerima kartu pers, sebagai wartawan perwakilan Sibolga,”ujar lelaki yang semasa SMA aktif sebagai Ketua DPC GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) itu mengenang peristiwa empat puluh tahun yang lalu itu.

Suasana awal terjun ke dunia jurnalistik, Idris mengalami masa tak menyenangkan. Tak lama menjadi wartawan di Suluh Marean, pada 1970 koran itu dibredel. Kemudian reinkarnasi koran itu terbit dengan nama Patriot. Koran inipun hanya berusia 4 bulan. Idris kemudian menjadi wartawan Koran Pos Utara (Selekta Group). 

****

Pada 1971, Idris hijrah ke Medan dan kuliah di Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara, dan lulus pada 1979.

Semasa menjalani kuliah di Medan, dirinya menulis di berbagai koran di Medan, Bandung, Jawa Tengah, dan Jakarta (Suara Karya, Pikiran Rakyat dan Suara Merdeka). Juga menulis di Majalah Kartini, Sarinah dan Pertiwi serta media massa lainnya di Jakarta.

Tahun 1977 puisi-puisinya mulai dimasukkan dalam antologi sastrawan Sumatera Utara. Antologi puisi bersamanya terbit di Aceh (tiga judul), Jakarta dan Yogyakarta. Antologi cerpen bersama diikutkan di berbagai antologi yang terbit di Medan, Aceh, Jakarta bersama Hamsad Rangkuti dan penulis lainnya (Aisyah, Di balik Tirai Jendela) serta antologi cerpen bersama cerpenis Malaysia-Indonesia di Muara I dan Muara III.

Cerpen-cerpen Idris mengambil tema-tema sejarah,  budaya, kritik sosial. Seorang pengamat sastra Martin Alaeda, menilai cerpen-cerpennya memiliki gaya sastra reportatif. “Dia yang pertama kali mengatakan ada sastra reportatif, yaitu saya sendiri, Idris Pasaribu,”ujarnya.

Idris berpendapat bahwa menulis cerpen atau novel sebaiknya didahului dengan sebuah reset. Tujuannya agar cerpen tersebut membumi. Dia mencontohkan saat menulis Acek Botak (2009), sebuah novel yang becerita tentang masuknya orang-orang Cina, Jawa, Tamil ke Sumatera Utara. “Ketika saya menulis Acek Botak, saya melakukan riset yang panjang. Membaca novel saya pembaca seolah-olah pandangan mata atas kejadian 1927-1971 itu”ujar, pria yang  semasa mahasiswa dirinya aktif sebagai Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI) di Medan.

Sejak tujuhpuluhan Idris aktif dalam dunia teater. Sejak 1974. Idris bersama Burhan Piliang, Zakaria M. Passe, dan Darwin Rifai Harahap aktif di Tater Nasional di Medan mendirikan Teater Anak Negeri (TAN) dan pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dan Gedung Kesenian Banten di Tangerang.

Aktifitasnya yang intens di dunia sastera nasional semakin meningkat karena saat dia  menjadi Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Medan.

****

Memasuki usianya yang bagi kebanyakan orang digunakan bersantai, Idris masih terus bergelut dengan impiannya.

Selain menggarap film Amang Pasinuan, dia masih mempersiapkan novel. “Saya merencanakan meluncurkan dua novel tahun ini,”ujarnya.

Idris Pasaribu mudah ditemui di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) persis “Di Bawah Pohon Asam” setiap Sabtu pukul 15.00 WIB. Tempat Idris dan para muridnya berdiskusi dan menularkan pengalaman yang dimilikinya. 

“Orang yang berhasil harus membuat orang lain lebih besar dari dirinya”ujarnya. Melalui Komunitas Sastra yang dikelolanya sekarang, Idris berniat menciptakan para penulis-penulis muda yang lebih besar dari dirinya. Ratusan penulis dibina dan digodok untuk menggantikan dirinya.    

Di luar semua kegiatannya itu, akhir-akhir ini Idris Pasaribu, sibuk menggarap sebuah film kisah lokalitas Batak, Amang Pasinuan. Sebuah film yang diangkat dari novel Amang Parsinuan karya Lucya Chriz.

Menurut Idris shooting filmnya dijadwalkan 5 Maret 2012 mendatang. “Kini kami sedang persiapan-persiapan dan latihan,”ujar suami RAY Srigusti Yuliana Hutauruk itu. . Latihannya dilaksanakan di sebuah lokasi di sebuah rumah di bilangan Medan Baru.

Dia menjadi sutradara film yang dimainkan oleh sekitar 25 orang pemain. “Amang Parsinuan adalah usaha memperkenalkan adat Batak, serta kritik lembut kepada adat  Batak itu sendiri”ujarnya. 

“Apa yang telah dibuat oleh anak-anak Medan dalam dunia filem ini cukup membuka mata kita. Meski dengan keterbatasan alat produksi tapi filem yang kita tonton ini cukup bagus, bahkan lebih baik dari filem sinetron yang banyak bergentayangan di televisi saat ini. Pesannya juga tersampaikan kepada audiennya, itu yang paling penting” kata Idris dalam situs pribadinya. Semoga sukses!

[1] Batak Pos, Hal 10, 23 Pebruari 2012.

Tidak ada komentar: