My 500 Words

Selasa, 23 Agustus 2011

Cara Adikku Mengatasi Single Parent

Menjadi single parent ternyata tidak menyenangkan dan tidak mudah menghadapi masalahnya. Hampir empat tahun adikku Parker menjalani hidupnya dengan single parent, selama itu dia mempertimbangkan memiliki istri, tetapi bukannya memperoleh pengganti istrinya yang sudah meninggal, malah menyusul istrinya tinggal bersama di Taman Pekuburan Umum Perwira Bekasi.

Sekitar April 2009, di rumahnya di Kompleks Perumahan Permata, Bekasi, saya berbicara dengan almarhum adikku Parker Girsang yang ketika itu sudah ditinggal istrinya sejak  Februari 2006. Tiga tahun sudah, dirinya mengurus tiga putri kami yang masih kecil-kecil, Christin, Hilary Valeria dan Trisha Melani.

Pembicaraan kami begitu serius dan berlangsung lebih dari tiga jam. Topiknya adalah seputar masalah yang dihadapinya sebagai single parent. Ketika itu, keluarga berniat membujuk agar dirinya menikah kembali. Mengingat tiga putri kami saat itu masih membutuhkan perhatian dari seorang ibu, meskipun pengganti.

Dari pembicaraan itu, saya sedikit memahami masalah yang dihadapi seorang laki-laki menjadi single parent. "Semua harus diputuskan sendiri, tidak ada teman curhat dan diskusi. Susah mengusir kesepian" ujarnya ketika itu.

Dia sendiri merangkap sebagai tulang punggung ekonomi—saat itu dia memiliki perusahaan ekspedisi yang mengirim barang ke berbagai tempat di Jawa. Dia mengendalikan bisnisnya dari rumah dan hanya waktu-waktu tertentu saja ke luar rumah. Sehingga dia masih bisa mengurus anak-anak berangkat ke sekolah atau pulang sekolah. Mengantarnya ke less atau ke tempat latihan menyanyi. Kebetulan ketiga putri kami itu punya bakat menyanyi.

Usaha ekspedisi itu tak selamanya berjalan lancar. Kadang berbulan-bulan tidak memperoleh orderan. Ini yang membuatnya sering mengeluh. Sebaliknya suatu ketika banyak orderan sehingga menguras tenaga untuk memenuhinya. Kondisi seperti ini juga membuat tubuhnya capek dan lemah.

Masalah yang paling pelik dihadapinya adalah kalau ada urusan di luar rumah yang berhubungan dengan bisnisnya. Misalnya, godaan dari para gadis, apalagi mengetahui dirinya sudah duda. Menurutnya, ada yang bersedia menjadi istri, ada juga hanya sekedar sebagai teman curhat.

Selain itu, dia juga menghadapi masalah kalau bertamu ke rumah orang sendirian, apalagi yang di rumah hanya tinggal ibu rumah tangga. “Banyak gossip bisa berseliweran,”ujarnya.

Sementara bisnisnya memerlukannya melakukan lobby ke luar, di lain pihak anak-anaknya membutuhkannya berada di rumah, di saat anak-anaknya pulang sekolah. “Saya tidak bisa sebebas kalian yang memiliki istri,”katanya.

“Saya juga punya keinginan untuk menikah, tetapi pertimbangannya banyak. Tidak mudah mencari wanita yang saya dan anak-anak mencintainya,”ujarnya ketika itu. Terus terang, katanya, ada beberapa orang yang mau menjadi istrinya, bahkan rela membantu keuangan keluarga.

Masalahnya, ternyata tidak semudah itu. Uang atau materi dalam perkawinan bukan hal utama. Tetapi kasih sayang dan perhatian. “Saya takut menikah, karena takut anak-anak tidak mendapat kasih sayang seperti yang sekarang saya berikan,”ujarnya

Ketika itu saya mencoba agar dirinya tidak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya. Tetapi lebih berani menghadapi tantangan dan mengambil keputusan. Jawaban terakhirnya: “Ya saya akan menikah, tetapi bukan sekarang”.

Suatu ketika dia memberitahukan kepada kami keluarga bahwa dirinya sudah memiliki seorang pendamping, yang baik dan menurut anak-anaknya sudah cocok. Mereka sudah sering pergi bersama-sama dan tampaknya hanya soal waktu.

Akan tetapi, rencana manusia berbeda dengan rencanaNya. Sekitar Maret 2010, adik saya dinyatakan dokter terserang kanker nasofaring. Kata dokter penyakit itu merupakan tumor ganas berada di daerah belakang hidung dan esofagus. (http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/12/kanker-nasofaring-kenali-hindari-dan-obati).

Tiga bulan berikutnya, setelah dirawat di Rumah Sakit Cikini, dia tidak bisa bertahan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya 17 Juni 2010, beberapa bulan menjelang usianya genap 48 tahun. Dia lahir 16 Agustus 1962. Sedihnya luar biasa.  Gelap sekali rasanya.

Inilah cara adikku mengatasi masalahnya sebagai seorang single parent. Kesulitannya berakhir dengan sendirinya. Masalahnya, tiga putri kami yang cantik-cantik Christin (kini kuliah di Universitas Indonesia, Hilari Valeria (SMA), Trischia Melani (SMP). Adikku menyerahkan Tuhan mengatasi masalahnya. Anak-anaknya kini memiliki ayah dan ibu mereka yang baru, dan lebih lengkap. Saya dan istri saya. Adik-adik saya dan beberapa keluarga turut membantu mereka. Kini mereka tinggal bersama namborunya Masdalinda Girsang di Bekasi.

Mereka juga mendapat dukungan finansial dari keluarga Juniverts Girsang, Junimart Girsang SH dan Dr Waldensius Girsang. Keluarga yang penuh perhatian.

Semoga kisah ini menginspirasi rekan-rekan saya yang kini sedang memilih atau terpaksa menjadi  single parent, baik sebagai ibu dan ayah, berjuanglah untuk anak-anak. Anda  sangat penting bagi mereka. Mereka tidak hanya membutuhkan materi, tetapi lebih dari itu. Tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang anda bagi mereka anak-anak anda!.

Kiranya teman-teman tidak lupa mendoakan kami, seluruh keluarga berjuang bagi mereka. Kami yakin, Tuhan tidak akan memberikan beban di luar kemampuan kami.

Bagi rekan-rekan yang masih memiliki pasangan yang utuh, sayangilah pasangan anda segenap hati. "Hanya berfungsi sebagai patung sekalipun istri anda, itu sangat berarti,"ujar adikku ketika itu.

Ketika mereka tidak ada, maka anda akan mengalami kesulitan yang luar biasa. Tidak mudah menggantikan  pasangan yang anda miliki sekarang.

Kepada anak-anakku Christin, Hilda Valeria, Trisha Melani, tetap semangat dan belajar dengan tekun. Christin akan menjadi sekretaris, Hilda bercita-cita jadi psikolog dan Trisha akan menjadi seorang dokter. Pertemuan kita 16-17 Agustus lalu di Jakarta membuatku bertambah semangat melihat kalian semua tegar.

"Kita sudah melewati masa-masa tersulit".  Mari terus saling menguatkan dan berkomunikasi dengan baik. It will be great when the time comes!. Salam manis dari bapatua di Medan.

Selasa, 02 Agustus 2011

Pelangkah



Pengantar dari Admin. 

Bagi masyarakat Batak, orang yang menikah mendahului kakak atau abangnya wajib membayar "uang pelangkah". Cerpen ini mengisahkan nasib seorang perempuan yang sudah tiga kali menerima "uang pelangkah". Artinya, sudah tiga kali adiknya menikah melangkahinya, sementara dirinya yang sudah berusia 33 tahun belum mau menikah. Dia tidak peduli dengan kondisi yang tidak membanggakan orang tuanya itu. Dengan sedikit imaginasi penulisnya, cerpen ini begitu menyentuh, ketika dirinya harus berbuat nekat. Kisahnya sangat menarik. Penulisnya Lucya Chriz berhasil meangkhiri cerita klimaksnya dengan imaginasi yang menyentuh. Silakan menikmatinya!

Oleh : Lucya Chriz


Entah sudah berapa menit waktu yang dibuang Martha hanya untuk mengamati ponsel di tangannya. Benda pintar itu telah terdiam sejak tadi, namun ucapan Mamaknya terasa masih berhamburan di sekelilingnya. Mamak memintanya untuk pulang lebih cepat hari ini. Hari ini saja.

Sudah tiga tahun belakangan Martha memang selalu pulang larut malam. Dokter berpostur tubuh mungil itu, lebih memilih untuk menunggui tempat praktek daripada harus menceburkan diri di tengah keluarganya. Tempat prakteknya hanya melayani pasien hingga pukul 21.00WIB, tapi Martha selalu punya alasan untuk pulang ke rumah ketika jarum jam telah beranjak dari angka tertinggi.

Telinga Martha sudah terlalu tebal untuk mendengarkan teriakan Mamaknya yang menohok, pun saat tetangga-tetangga mulai melihatnya dengan sorot mata penuh tuduhan. Mereka terang-terangan menyiratkan tanya "Dokter apa yang buka praktek hingga subuh?" Martha tak pernah perduli dengan penilaian orang lain. Dia lebih mengerti dengan dirinya sendiri.

Kebiasaan Martha yang selalu pulang larut malam sesungguhnya bukan tanpa alasan. Tidak ada yang gratis di muka bumi ini dan dia pun menyadarinya. Mau tidak mau dia harus berkorban. Membayar mahal demi sekelumit kebahagiaan, sekalipun kebahagiaan yang diperolehnya itu semu.

Malam ini, Mamak memintanya untuk pulang lebih awal. Menghindar selama tiga tahun, ternyata tak ada gunanya. Sekarang, dia harus berhadapan dengan kenyataan yang seolah menyongsongnya pulang untuk segera dipasung dan dikungkung dalam sebuah penjara bernama: adat-istiadat.

Martha melangkah gontai memasuki rumah. Seperti sudah diduganya sejak tadi, di ruang keluarga telah didapatinya Mamak, Ros adik perempuannya yang duduk berdempetan bersama suaminya, serta ito-nya, adik laki-lakinya yang bernama Ranto. Tanpa berucap sepatah kata pun Martha menghempaskan tubuh ringkihnya di atas sofa tepat di samping Mamak. Samar, diliriknya keempat wajah yang tengah mengamatinya.

"Martha, si Ranto mau kawin," tanpa basa-basi Mamak membuka pembicaraan. "Rencananya bulan depan," Martha tak menjawab. "Bagaimana denganmu?" tanya Mamak lagi karena Martha tak kunjung bersuara.

"Apa hubungannya denganku? Yang mau kawin itu, kan Ranto," suara Martha acuh.

"Apa hubungannya denganmu? Martha, si Ranto itu mau kawin bulan depan. Kau mau dilangkahi untuk kedua kalinya?" suara Mamak meninggi, marah. Tiga tahun yang lalu kejadian seperti ini telah pernah berlangsung. Ros menikah lebih dulu, melangkahi Martha kakaknya yang usianya lebih tua dua tahun.

"Enggak ada salahnya. Kalau Ranto memang mau kawin, ya kawin saja. Aku enggak ada masalah kok," Marta bersikukuh.

"Iya, kau enggak ada masalah. Tapi pernah kau pikirkan perasaan Mamakmu ini? Kau itu boru panggoaran, anak Mamak yang sulung. Apa kata orang melihat kau enggak kawin-kawin sampai umur 33 tahun, sampai-sampai dilangkahi dua orang adikmu?"

"Mamak jangan dengar semua apa kata inang-inang itu. Paling mengerti tentang diriku itu aku, bukan orang lain," Martha terus membantah.

"Kau itu boru panggoaran, Martha. Kau jangan egois cuma mikirin perasaanmu aja. Sesekali kau pikirkan jugalah rasa malu yang Mamak derita. Kalau bisa jangan sampai si Ranto melangkahimu. Kawinlah kau secepatnya."

"Mamak pikir kawin itu gampang? Ini menyangkut prinsip, Mak. Lagipula aku belum punya pacar."

"Jadi maksudmu harus berapa tahun lagi Mamak tunggu biar kau kawin?"

"Kalau mau, besok pun aku bisa kawin sama laki-laki yang pertama kutemui di jalan raya sana. Apa Mamak bisa kasih garansi kalau suamiku itu laki-laki yang baik? Banyak yang harus dipertimbangkan, Mak. Bukan cuma sekedar beranak-pinak saja," Suara Martha ikut meninggi. Dirasakannya darah mulai bermuara ke ubun-ubunnya.

"Aku enggak mau salah pilih suami kayak Mamak," Mendengar kalimat terakhir Martha, airmata mulai menetes dari pelupuk Mamak. Sebelum anak-anaknya sadar, wanita berusia 60 tahun itu berlari ke dalam kamar tidurnya.

"Apa-apaan kakak membuat Mamak menangis?" Ros mulai berang. "Kalau memang kakak enggak mau kawin, terserah. Jangan sakiti Mamak dengan mengungkit-ungkit perkawinannya." Ros beranjak dan menyelinap ke dalam kamar tidur Mamak.

"Martha ito-ku, lama-lama aku jadi curiga jangan-jangan ito enggak suka laki-laki ya?" kali ini Ranto bersuara. Martha terkesiap. Ditusuknya bola mata adik bungsunya itu dengan pandangan dingin. Tanpa berucap apa-apa lagi, Martha menghela langkah menuju kamar tidurnya.

Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi, Martha belum bisa memicingkan mata sedetikpun. Kejadian malam tadi masih berputar jelas di benaknya, layaknya video disc yang tak memiliki tombol off.

Gadis manis berkulit putih bersih itu bolak-balik gelisah di atas kasurnya. Mungkin Ros memang benar, dia terlalu kasar pada Mamak dan tak sepantasnya mengungkit tentang perkawinan wanita itu. Mamak sudah cukup sakit dan terluka dengan sikap Bapak yang mudah meninggalkan Mamak dan ketiga anak-anaknya yang masih kecil-kecil, untuk pindah ke dalam kehidupan seorang janda kaya raya. Sejak itu Mamak harus banting tulang untuk bisa menghidupi anak-anaknya dan menyekolahkan mereka bertiga hingga ke jenjang yang paling tinggi.

Martha sebenarnya sama sekali tak berniat untuk membuat Mamak menangis. Sikapnya kemarin, wujud dari kekesalannya. Rasa marah yang telah membukit sejak tiga tahun, tepatnya ketika Ros memutuskan untuk menikah dan melangkahinya. Sebuah prosesi pelangkah diselenggarakan sebelum acara pemberkatan pernikahan. Martha diulosi sebelum kemudian sebuah cincin seberat 5 gram disematkan Ros di jarinya sebagai tanda melangkahi, permisi karena dirinya lebih dulu menikah dari sang kakak.

Menurut adat Batak, pelangkah itu merupakan usaha untuk manyonggoti tondi, yaitu membuang hangalan. Dimaksudkan dengan mangulosi seseorang yang dilangkahi, dirinya akan terbuang dari segala hangalan dan rintangan, sehingga ke depannya akan ringan dalam mendapatkan jodoh. Berhubung Martha perempuan, pada saat prosesi pelangkah, harus dihadiri dan disaksikan langsung oleh Tulang-saudara laki-laki Ibunya, Namboru-saudara perempuan Ayahnya, juga pariban-yaitu anak laki-laki dari Namboru. Kehadiran pariban ini bertujuan, apabila mereka saling suka, mereka bisa segera dinikahkan.

Bagi Martha, ini merupakan bara menyulut rasa malu. Bagaimana tidak? Ketika prosesi itu, Martha bisa merasakan dan mendengar kasak-kusuk tetangga dan kerabat yang berpendapat semaunya saja. Mulai dari orang memandangnya dengan penuh rasa iba karena mengganggapnya perawan tua tak laku-laku, hingga tatapan penuh tuduhan yang dilapisi dengan tawa cemooh.

Dalam hati Martha menghujat habis-habisan adat-istiadat. Kenapa harus ada prosesi pemberian pelangkah dalam etnik Batak? Tidak ada tujuan di baliknya selain untuk mempermalukan orang yang dilangkahi. Setelah mencoba menyembuhkan luka hati selama tiga tahun, bulan depan dirinya harus siap dipermalukan untuk kedua kalinya. Ini pasti akan jauh lebih menyakitkan dan memuakkan, karena Martha berusia 33 tahun. Hujatan orang-orang pasti lebih tak berperikemanusiaan. Ranto, ito-nya sendiri pun mencap dia sebagai seseorang yang tidak menyukai laki-laki.

Martha mengusap wajahnya yang kusut masai. Siapa yang harus disalahkan dalam situasi ini? Apakah sikap Bapaknya yang tak terpuji, menumbuhkan rasa sakit dan memberinya gambaran sosok tidak ideal dari seorang suami? Ataukah Martha harus menyalahkan Parlin, kekasih yang didampinginya merajut hari-hari indah selama tujuh tahun, tanpa aba-aba mengangsurkan ke depan hidung Martha sehelai kartu undangan pernikahannya dengan mantan kekasihnya yang tiba-tiba muncul? Dua lelaki yang sangat dicintai sekaligus sangat dibencinya itu, menabur benih kemarahan di dalam hatinya, membiarkan akar pahit tumbuh, hingga kemudian tersemai buah-buah traumatik yang ranum.

Rasa kecewa berhasil membekukan hati Martha yang lembut. Memaksa wanita itu harus pura-pura kuat dan bisa berdiri sendiri tanpa membutuhkan uluran lengan dan bahu kokoh untuk tempatnya menyandarkan lelah. Sosok baru Martha menjelma menjadi wanita berhati baja, ternyata hanya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dia tak pernah lagi merasakan jatuh cinta. Pintu hatinya terkunci rapat dan anak kuncinya ditelan dan dibiarkan berkarat di dalam perutnya. Sudah terkikis segala angannya untuk memiliki pendamping hidup.

Merasa belum cukup, Martha harus membayar lebih mahal lagi. Demi menghindari tanya Mamak yang tak kunjung ada habisnya mengenai status lajangnya, Martha rela menghabiskan hari-harinya di tempat praktek. Acap kali Martha merasa sedih dan kesepian karena tak lagi mendengar canda tawa maupun gosip-gosip terhangat tentang tetangga yang mengalir dari bibir tipis Mamak. Martha menguatkan hati, demi memperoleh sekelumit ketenangan bathin. Dia tak ingin membiarkan daun telinganya semakin menebal mendengar tanya orang-orang kapan dirinya akan menikah. Kalau saja dirinya tidak dilahirkan dalam keluarga Batak yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat, mungkin semua akan jauh lebih mudah.

"Kau mau dikasih pelangkah apa?" suara Mamak lirih, bertanya pada Martha tanpa memandang wajahnya.

"Terserah," jawab Martha cepat. "Kalau enggak dikasih, justru lebih bagus."

"Enggak mungkinlah enggak dikasih. Nanti apa kata natua-tua ni huta?" sela Mamak. Martha menghela nafas. Lagi-lagi harus memikirkan apa kata natua-tua ni huta, para tetua adat. Apa urusannya masalah ini dengan mereka? Mereka hanya sekumpulan orang yang bersekongkol untuk menertawakannya yang berat jodoh.

"Kau kasih cincin sajalah, Ranto. Sama seperti Ros dulu," kata Mamak.

"Wah, harga emas lagi mahal, Mak. Aku kasih tiga gram saja ya?" Ranto memandang Mamak, meminta pendapat. Martha pura-pura sibuk dengan ponselnya. Ekor matanya sempat menangkap Mamak yang melotot pada Ranto.

"Lima gram," Mamak bertitah.

"Pengeluaran untuk pesta perkawinan banyak, Mak. Nanti uangnya enggak cukup. Tiga gram saja ya? Atau gimana kalau bukan cincin? Hmm, mungkin sesuatu yang lebih murah?" Ranto menatap Martha, mencoba melakukan penawaran. Melihat Martha yang terus diam, Ranto tiba-tiba menghela nafas. "Coba kalau ito sudah kawin, enggak perlu aku mengeluarkan uang untuk beli pelangkah lagi."

"Siapa yang butuh pelangkah darimu? Kalau mau kawin, kawin saja sana," Martha meradang mendengar ucapan Ranto. Dengan penuh kemarahan Martha beranjak ke dalam kamar tidur dan membanting pintu hingga bergetar.

* * *

Ada sebaris senyum samar tergantung di bibir Martha yang ranum. Senyuman entah ditujukannya buat siapa. Pastinya, dia tengah merasakan kebahagiaan dan kelegaan. Bertahun-tahun tak pernah lagi hinggap di hatinya. Seusai prosesi hari ini, dirinya akan aman dari teror ‘pelangkah.’

Gaunnya yang hitam berkibar tertiup angin sepoi yang berhembus dari jendela. Dengan langkah anggun dan tenang, dihampirinya Ranto. Ito-nya yang terlihat tampan dalam balutan jas berwarna hitam, lengkap dengan dasi beraksen garis. Martha mengamati tiap inchi wajah Ranto. Tampak bersih, terlihat matang dan dewasa dengan segaris kumis tipis yang baru tumbuh dan semakin tampan dengan sebuah senyum yang tak lupa dihadiahkannya. Di sampingnya, Mamak dan Ros menitikkan airmata.

Martha terjaga dari lamunan ketika telinganya diterpa suara pendeta yang lembut dan berwibawa. Setelah dengan khusuk menyanyikan sebuah lagu yang dipimpin seorang penatua, Martha melihat beberapa pemuda berjalan ke arah Ranto membawa sesuatu yang sejak tadi disandarkan di dinding. Sekali lagi, Martha menyentuh bibir Ranto yang dingin sebelum dia beringsut dan memberikan ruang kepada sekelompok pemuda itu untuk menutup peti jenazah Ranto.

Martha memeluk Mamak dan Ros yang masih menangis histeris. Peti tempat peristirahatan Ranto aman di bawah tanah. Martha masih berdiri di ujung pusara Ranto ketika Mamak dan Ros dituntun para kerabat menuju mobil. Perlahan, Martha merogoh tas tangannya dan jemarinya mengelus lembut sebuah botol kecil yang telah kosong. Botol itu dibawanya dari tempat prakteknya beberapa hari lalu. Semua cairan arsenik di dalamnya telah habis dituangkan Martha ke dalam mangkuk soto yang dilahap Ranto hingga tandas kemarin sore.

"Selamat beristirahat, ito-ku. Mulai sekarang kau tak perlu pusing lagi memikirkan pelangkah untukku," Martha tersenyum, sembari melangkah ringan menyusul Mamak dan Ros yang berada di dalam mobil. Tak lupa, Martha melemparkan botol kosong itu ke dalam sebuah tong sampah yang menganga.

Medan, 03 Mei 2011
Sumber: Harian Analisa, 31 Juli 2011

Senin, 18 Juli 2011

PM Perempuan Pertama di Thailand Yingluck Shinawatra

Oleh : Jannerson Girsang

 
 Sumber foto: www.analisadaily.com


Sejak memenangkan pemilu 3 Juli 2011 lalu, sosok Yingluck Shinawatra—perempuan Thailand berusia 44 tahun itu sontak menjadi pusat perhatian dunia. Kemenangannya dalam pemilu tersebut menghantarnya menjadi perdana menteri perempuan pertama di negeri Gajah Putih itu.

Yingluck Shinawatra sebelumnya hanya dikenal dalam dunia bisnis. Kini dia berhasil menambah panjang daftar perempuan ASEAN menjabat kepala negara, dan mengisi kekosongan setelah masa jabatan presiden Arroyo, presiden pilipina berakhir 2010 lalu.

Dari Bisnis ke Politik

Hingga awal tahun ini, nama Yingluck Shinawatra tidak begitu dikenal bahkan di dunia politik Thailand sendiri. Namanya merebak ketika Partai Pheu Thailand (Pheu Thai Party) mencalonkannya menjadi Perdana Menteri Mei 2011 lalu.

Perempuan berwajah menarik ini memperoleh pendidikan di bidang Administrasi Publik yang diperolehnya di dua univeritas: gelar sarjana muda dari Chiang Mai University pada 1988 dan master dari Kentucky State University, Amerika Serikat pada 1991. Dia mengawali kariernya sebagai seorang sales dan marketing di Shinawatra Directories Co., Ltd., sebuah perusahaan direktori telepon yang didirikan AT&T International. Catatan lengkap kariernya bisnisnya bisa dilihat di http://investing.businessweek.com.

Pada 1994, Yingluck menjabat general manager Rainbow Media, anak perusahaan International Broadcasting Corporation (yang di kemudian hari menjadi TrueVisions).

Tangungjawab Yingluck lebih besar lagi dalam perusahaan keluarga setelah abangnya Thaksin terjun ke politik, setelah terpilih menjadi anggota parlemen pada 1994. Pada 2001, Thaksin terpilih menjadi perdana menteri Thailand. Yingluck meninggalkan jabatannya sebagai Deputy CEO IBC pada 2002, dan menjabat CEO Advanced Info Service (AIS), operator telepon genggam terbesar di Thailand. Sesudah penjualan Shin Corporation (induk perusahaan AIS) ke Temasek Holdings, Yingluck mengundurkan diri dari AIS, tetapi masih menjabat Managing Director SC Asset Co Ltd, perusahaan pengembangan property keluarga Shinawatra.

Pada 2006, krisis politik melanda negaranya. Abangnya Taksin Shinawatra diadili secara in absentia dengan tuduhan korupsi. Thaksin melarikan diri ke luar negeri (Kini berdiam di Abu Dhabi). Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party)—partai pendukung Taksin, dibubarkan dan dewan eksekutif dilarang dari kegiatan politik oleh Mahkamah Konstitusi, pada 2 Desember 2008.

Lantas, mantan mayoritas anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat bergabung dengan Pheu Thai Party yang didirikan pada 20 September 2008, beberapa bulan sebelum pelarangan itu dikeluarkan pemerintah yang berkuasa.
Sebelumnya, Yingluck tidak berminat terjun di politik, terutama karena kasus abangnya Thaksin. Tak heran, ketika Pheu Thai Party memintanya memimpin partai dia menolak, menyatakan bahwa ia tidak ingin menjadi Perdana Menteri dan ingin fokus pada bisnis Akhirnya Yongyuth Wichaidit, mantan anggota parlemen Thailand, memimpin partai baru itu.

Menurut situs http://www.cbc.ca/new, pada 2009, Yingluck sudah disebut-sebut sebagai pewaris politik Thaksin abangnya kandungnya itu. Namun, situs itu mencatat: "Dia menunggu sampai Mei tahun ini untuk membuat lompatan ke dalam politik, dengan sasaran jabatan perdana menteri". Gayung bersambut!. Pada bulan Mei 2011, Pheu Thai Party, partai yang dekat dengan Thaksin, mencalonkan Yingluck sebagai calon Perdana Menteri dalam pemilu 2011.

Yingluck maju bertarung dalam Pemilu negeri itu pada 3 Juli 2011 dan memenangkan 265 kursi dari 500 kursi parlemen. Sementara, Partai Demokrat yang berkuasa hanya mampu merebut 160 suara. Dengan tingkat partisipasi 65,99% (hampir 31 juta pemilih), partainya memenangkan lebih dari setengah. kursi di parlemen.

Prestasi seperti ini adalah kejadian kedua, setelah pada tahun 2005 kemenangan lebih dari separuh kursi di parlemen oleh Partai Thaksin Thai Rak Thai. Berbagai komentar muncul ke permukaan.Mulai dari kedekatannya dengan abangnya Thaksin dan juga kemampuan dirinya. "There is no doubt that Yingluck Shinawatra won this election because she is Thaksin’s sister," kata Andrew Walker, pengamat politik Thailand dari Australian National University Canberra kepada ABC News.

Faktor kedekatannya dengan abang kandungnya tanpa didukung kemampuannya sendiri kemenangan mustahil diperoleh. Yingluck menawarkan rekonsiliasi dan tema-tema kerakyatan dengan cara yang sederhana saja dan tidak muluk-muluk. Targetnya realistis dan terukur, mudah ditangkap masyarakat banyak.

Yingluck menggambarkan visi 2020 untuk pengentasan kemiskinan di negeri berpenduduk 60 juta lebih dengan GDP lebih 122 milIar dolar AS itu. Di antaranya, dia berjanji mengurangi pajak pendapatan perusahaan dari 30% menjadi 23% dan kemudian 20% pada tahun 2013 dan menaikkan upah minimum 300 baht per hari dan upah minimum untuk lulusan universitas menjadi 15.000 baht per bulan.

Kebijakan pertaniannya diantaranya meningkatkan arus kas operasi dan menyediakan pinjaman kepada petani sampai 70% dari pendapatan yang diharapkan, berdasarkan jaminan harga beras 15.000 baht/ton. Rencananya juga akan menyediakan gratis Wi-Fi dan sebuah PC tablet untuk setiap anak sekolah. (Thai Rak Thai Partai pernah merencanakan menyediakan satu laptop per anak, tetapi dibatalkan setelah kudeta militer tahun 2006).

Tema kampanye yang sederhana dan penampilan Yingluck yang menarik (good feeling), sikapnya yang santai, panggung tempat kampanye yang ditata dengan baik menjadi perpaduan yang mendekatkan pesannya dekat dengan rakyat.
"Tidak diragukan lagi dia mendapatkan sambutan kegembiraan atas gagasan Thailand memiliki seorang perdana menteri perempuan, calon dengan hal-hal yang baru, cukup muda dan menarik, dan karena Demokrat menjalankan kampanye yang loyo," kata pengamat Thailand, Michael Montesano yang dimuat dalam The Bangkok Post, 4 Juli 2011.

Sementara, Perdana Menteri sebelumnya Abhisit Vejjajiva, menurut Pattnapong Chantranontwong, Editor the Bangkok Post, seperti dikutip Harian Sidney Morning Herald, tidak berhasil mengesankan para pemilih karena kegagalan mereka menangani masalah kekurangan bahan-bahan pokok dan kesulitan yang dihadapi rakyat di tingkat grass roots. Sebuah pelajaran bagi pemerintahan yang fokus pada pencitraan!.

Good Feeling, Orientasi Visi, Kerja Keras

Ibu satu anak laki-laki bernama Supasek ini lahir Chiang Mai, Thailand, 21 Juni 1967. Dia merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara dalam sebuah keluarga turunan China di Chiang Mai bagian Utara. Kakeknya Seng Sae Khu berasal dari Guangdong yang tiba di Thailand pada 1860 dan kemudian bertempat tinggal di Chiang Mai sejak 1908. Salah seorang di antara saudaranya, adalah Thaksin Shinawatra, Perdana Menteri Thailand yang digulingkan lewat sebuah kudeta militer lima tahun silam.

Yingluck menggambarkan hubungannya dengan abang kandungnya itu dalam hubungan pengalaman bersama dalam mengelola perusahaan. "Kami sama dalam arti bahwa saya telah belajar dari dia dalam bisnis dan saya memahami visi, bagaimana dia memecahkan masalah dan caranya membangun semuanya dari awal," ujar Yingluck kepada AFP pada kampanye, seperti dikutip China Post.

Pengalaman politiknya yang masih seumur jagung memang masih perlu diuji. Yingluck harus mampu menepis anggapan bahwa kemenangan Yingluck karena kedekatannya dengan abang kandungnya Thaksin Shinawatra dan dia hanya sebagai boneka.

"Ms Yingluck is a new face in politics and this is her first time running in an election, but because it looks as if she will become prime minister, she will have to prove herself as a capable leader of the new government and not just a puppet with her elder brother Thaksin pulling the strings," komentar sebuah artikel berjudul Yingluck Must Keep Promises di Harian The Bangkok Post yang dipublikasikan sehari setelah pemilu digelar

Yingluck menggambarkan hubungannya dengan abang kandungnya itu dalam hubungan abang adik secara professional. "Kami sama dalam arti bahwa saya telah belajar dari dia dalam bisnis dan saya memahami visi, bagaimana dia memecahkan masalah dan caranya membangun semuanya dari awal," ujar ibu dari satu anak laki-laki ini, kepada AFP pada kampanye, seperti dikutip China Post.

Di mata Yinglick, keraguan orang atas pengalaman politiknya yang masih seumur jagung, bukan hal yang mengganggu. "Baik, kami sudah memerankan banyak politik sejak lama, sehingga saya tidak berfikir orang Thai memerlukan saya hanya bergabung dengan politik dan memainkan politik dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan saya melaksanakan dan memecahkan persoalan negara, mencari solusi masalah,"ujarnya kepada Australian Broadcasting Coorporation, semasa kampanye.

Memiliki pengalaman manajemen dan sedikit pengalaman politik, Yingluck memiliki kecantikan dan karisma. Menurut beberapa pengamat hal ini sanggup menampilkan good feeling, memunculkan perasaan positif dalam hati rakyat Thailand. Dan ini jauh lebih penting ketimbang kepintaran intelektual atau kepandaian berdebat sang kandidat.

Selain itu, Yingluck, didampingi suaminya Anusorn Amornchat. Dia adalah adik kandung dari Yaowapa Wongsawat, istri Somchai Wongsawat, mantan Perdana Menteri Thailand. Anusorn adalah mantan President and Executive Director M-Link Asia Corp. Public Co. Ltd. M-Link Asia Corporation Public Company Limited adalah perusahaan yang berbasis di Thailand yang melakukan distribusi peralatan telekomunikasi dan telepon mobile. Yingluck dan Anusorn adalah pasangan berbahagia yang dikarunia seorang anak bernama Supasek Amornchat berusia 9 tahun. Sebuah modal besar bagi Yingluck menjalankan tugasnya sebagai Perdana Menteri.

Terpilihnya Yingluck mengisi kekosongan perempuan dalam tampuk kekuasaan tertinggi di Negara anggota ASEAN, setelah Arroyo mengakhiri masa jabatan presidennya 2010 lalu. Dia menjadi perempuan yang menjadi kepala pemerintahan ke empat di wilayah ini, setelah Presiden Filippina Corazon Aquino pada (1986), Gloria Arroyo Macapagal 20 Januari 2001, dan Megawati Soekarno dari Indonesia (20 Juli 2001). Meski fakta menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin di atas berasal dari keluarga pemimpin terkenal, bukan berarti, para perempuan dari rakyat biasa tidak punya peluang.

Semoga kemenangan Yingluck kiranya menjadi inspirasi bagi kaum perempuan di Indonesia.

Penulis Biografi, Tinggal di Medan.

Dimuat di Harian Analisa, 18 Juli 2011

Rabu, 13 Juli 2011

Dua Tahun Meraup Jutaan Dolar ; Amanda Hocking, Sukses Penulis Self Publishing


Cetak Email


Jannerson Girsang


Karya-karya Anda masih menghadapi masalah untuk dipublikasikan karena ditolak penerbit-penerbit besar?. Jangan putus asa! Pengalaman yang sama juga dialami para penulis sukses.

Salah seorang di antaranya adalah Amanda Hocking, seorang penulis fiksi paranormal best seller Amerika yang meraup jutaan dolar dari penjualan buku-bukunya. Padahal, sampai Februari 2010, Amanda masih menerima surat penolakan dari penerbit.

Bosan menghadapi reaksi para penerbit-penerbit itu, penulis kelahiran Minnesota, Amerika Serikat 12 Juli 1984 ini memilih menerbitkan sendiri (self-publishing) buku-bukunya. Self-publishing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri.

Kaya Hanya dalam Dua Tahun

Memasuki usianya 26 tahun, Amanda melejit menjadi seorang penulis Amerika yang kaya. Status penulis buku best seller itu dicapainya hanya dalam kurun dua tahun. Seperti ditulis Wikipedia, pada 24 Maret 2011 Amanda menerima US$2 juta, dari 4 buku yang diterbitkan oleh St. Martin's Press untuk sebuah seri paranormal muda-dewasa yang dikenal dengan Watersong.

Hingga Maret 2011, sebelum memperoleh "durian runtuh" dari St Martin’s Press itu, Amanda Hocking telah menjual sekitar satu juta kopi dari sembilan bukunya, novel bertema fiksi dewasa-muda paranormal. Novelnya yang diterbitkan sendiri diantaranya: My Blood Approves series (My Blood Approves, 2010, Flutter, 2010, Wisdom, 2010, Letters to Elise (novella, 2010), Trylle Trilogy (Switched (2010), Torn (2010), Ascend (2011), Hollowland (2010). Pada bulan Pebruari 2011, Trylle Trilogy ditawarkan untuk dijadikan film, yang dikerjakan Terri Tatchell sebagai penulis screenplaynya.

The New York Times edisi 17 Juni 2011 mencatat bahwa prestasi Amanda ini adalah sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dialami penulis yang menerbitkan sendiri tulisannya. Anda bisa bayangkan penghasilan seorang penulis yang professional seperti Amanda dan masa depannya sebagai penulis. Bisa menyamai pendapatan para atlet atau artis film tenar.

Jangan Bangga Hanya Pintar Menulis

Sebelum mencapai puncak ketenarannya, Amanda mengalami pahitnya seorang penulis. Menapaki tangga menuju sukses sebagai penulis, Amanda mengawali reputasinya sebagai penulis dengan novel pertamanya Dreams I Can’t Remember, yang ditulisnya pada saat dia masih berusia 17 tahun.

Sesudah itu dia terus menulis dan karya-karyanya terus bergulir. Sayangnya tidak sebuah penerbitpun mampu melihat potensi karyanya itu, alias tidak mau menerbitkan atau mencetaknya.

Kepada The New York Times Amanda mengatakan dia pernah mengirimkan karya-karyanya ke sekitar 50 agen penerbitan melalui Google dan "Writer’s Market". Tetapi semua menolaknya.

Menulis tanpa mendapat penghasilan yang memadai, tentu tidak akan mampu melanggengkan keinginannya menjadi penulis besar. Untuk berjuang mempertahankan hidupnya, anak dari keluarga broken home ini, sempat bekerja di sebuah perusahaan. Di tempat pekerjaannya dia berkenalan dengan seorang pria, yang kemudian meninggalkannya. Lalu, Amanda berhenti bekerja.

Lantas, Amanda belajar topik-topik yang dibutuhkan pembaca dengan mengunjungi rak-rak buku di toko-toko buku. Menulis buku kembali menjadi fokus kegiatannya, bahkan kalau sebelumnya kegiatan menulis hanya sebagai hobby, kemudian dia menjadikan menulis sebagai kegiatan utama dan menghasilkan karya-karya yang siap menjadi best seller di pasaran.

Hingga di kemudian hari sebuah inspirasi muncul. Peristiwa itu terjadi pada bulan Januari 2009. Saat itu Amanda mengamati klip di YouTube Blink-182 Mark Hoppus yang bercerita tentang Fall Out Boy Pete Wentz. Meski klipnya cukup pendek dan sederhana, Hoppus yang kisahnya mampu mendorong semua anak-anak di luar sana untuk membuat impian mereka menjadi kenyataan. Itu jugalah yang merubah kehidupan Amanda.

Dalam kisahnya, Amanda pernah mengalami rasa putus asa, karena tak menerima apa-apa selain penolakan dari penerbit. "Ada beberapa hari dimana saya sudah seperti: menyerah. Ini mengerikan. Aku tidak akan pernah mampu melakukannya. Saya mengirim surat terakhir saya kepada mereka pada akhir tahun itu (2009)" ujarnya kepada Strawberry Saroyan yang menulis kisah Amanda dalam artikel berjudul Story Seller (Penjual Cerita) yang dimuat di The New York Times edisi 17 Juni 2011. Terakhir karyanya ditolak penerbit pada bulan Februari 2010.

Jangan hanya pintar menulis, terbitkan tulisan Anda!. Jangan menyerah hanya karena ditolak penerbit. Bukan hanya satu jalan ke Roma. Begitulah kira-kira nasehat dari Amanda.

Dua bulan kemudian, Amanda mulai menerbitkan sendiri (self-publishing) novel-novelnya sebagai e-books, persisnya April 2010. Saat itu Hocking mengunggah (upload) novelnya berjudul "My Blood Approves" ke Amazon—toko online terbesar di dunia. Bulan berikutnya, Amanda mengunggahnya ke Smashwords, yakni layanan yang membuat buku-bukunya tidak hanya cocok (kompatibel) dengan Nook tetapi juga dengan perangkat yang kurang populer seperti BeBook dan Kobo.

Hari pertama, Amanda berhasil menjual lima buku dan hari-hari berikutnya jumlahnya sama. "Saya membuang waktu terlalu lama," katanya.

Untuk meningkatkan penjualannya, kemudian dia mengunggah novelnya yang lain dan berhasil menjual sebanyak 36 buku setiap hari pada bulan Mei. "Ini mengejutkan. Aku mengambil alih dunia." ujarnya
Hari-hari berikutnya penjualannya terus meningkat menjadi seratusan buku sehari. Pada bulan Juni tahun 2010, Amanda menjual sebanyak 6.000 buku; Juli 10,000. Penjualan mulai meledak Januari 2011, saat penjualannya melebihi 100,000 eksemplar. Saat ini dia menjual 9,000 buku sehari.

Kisah sukses Amanda mengingatkan bahwa penulis tidak cukup hanya memiliki kelihaian mengolah kata-kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi artikel atau buku yang utuh.

Lebih dari itu, penulis harus mampu menulis topik yang diminati serta melakukan pemasaran sendiri tulisannya. Tentunya, penulis harus memiliki kreativitas serta semangat baja. Kalau Amanda Hocking bisa, kenapa kita juga bisa!. Para penulis sudah di daerah sudah saatnya memulainya dan saling bertukar pengalaman.

Untuk lebih memahami penerbitan sendiri, anda bisa mengakses Amanda Hocking melalui:http://amandahock ing.blogspot.com/, langkah-langkah self-publishing: : http://iwananashaya. multiply.com/journal/item/842 dan kisah sukses penerbit mandiri di Indonesia, Jed Revolutia dapat dilihat dalam: http://www.revolutia. info/. Di Indonesia, para penulis self publishing sudah mulai muncul: di antaranya: Jed Revolutia memanfaatkan jasa perusahaan online http://www.nulisbuku.com untuk memasarkan bukunya You Are LikeAble.***

Penulis adalah penulis Biografi, Tinggal di Medan.

Dimuat di Harian Analisa Cetak, 13 Juli 2011. 

Selasa, 05 Juli 2011

Christine Lagarde, Perempuan Pertama Direktur IMF

Cetak Email
Oleh : Jannerson Girsang *)

Makin terbukti bahwa batas prestasi perempuan adalah ruang antara langit dan bumi. Dalam mencapai jabatan puncak, perempuan memang butuh kerja keras, waktu dan tentunya dukungan system.

28 Juni lalu, Christine Lagarde—perempuan Prancis terpilih menjadi Direktur—jabatan puncak di organisasi internasional itu, setelah 66 tahun posisi puncak lembaga yang beranggotakan lebih dari 180 negara itu dipegang kaum laki-laki.

IMF adalah lembaga dunia yang bertanggungjawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah keseimbangan neraca keuangan masing-masing negara

Menarik menyimak kesan Christine Lagarde saat diwawancarai untuk menetapkan dirinya terpilih sebagai Direktur IMF. Dia diwawancarai 24 orang laki-laki anggota Board lembaga itu, melawan saingannya seorang bankir laki-laki dari Meksiko.

"Saat saya diwawancara selama tiga jam oleh 24 orang laki-laki, saya pikir baik dimana sesuatu sedang berubah sedikit," ujarnya kepada para wartawan yang mengerubutinya, usai dirinya terpilih sebagai Direktur IMF.

Di tengah-tengah pewawancara—yang semuanya laki-laki, Christine berhasil menyisikan saingan tunggalnya Agustin Carstens, Gubernur Bank of Mexico, dengan dukungan negara-negara ekonomi yang baru bangkit. Ibu dua anak itu menggantikan Direktur IMF sebelumnya, Dominique Strauss-Kahn, yang mengundurkan diri. Dominique Strauss-Kahn ditahan di Amerika karena terkait kasus seksual. Walau kemudian dia menyanggah semua tuduhan atas dirinya.

Kombinasi Hati dan Profesionalisme

Schwab, pendiri dan eksekutif Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) dalam mediaonline www. time.com: April 29, 2010, mengungkapkan bahwa Christine Lagarde memiliki pengalaman internasional yang luar biasa dan keberhasilan tertinggi di bidang profesi hukum, ditambah dengan masuknya dirinya ke panggung politik, membekalinya sebagai seorang menteri keuangan perempuan yang paling berbakat-reputasi diperkuat oleh nilai-nilai dan keyakinan personal yang kuat. "Kombinasi hati dan profesionalisme membuat dia seorang pemimpin yang luar biasa," ujar Schwab.

Perjalanan karier Christine memang cukup menarik. Christine Lagarde yang memiliki nama lengkap Christinee Madeleine Odette Lagarde, dilahirkan di Paris pada 1 Januari 1956. Lulus dari Le Havre and Bethesda (Md USA) di Holton Arms School. Kemudian dia memperoleh gelar Master of Arts dan sarjana di bidang Hukum dan Sosial.

Jauh dari keahlian sebagai ekonom yang biasa bagi para pejabat IMF, Christine Lagarde di awal kariernya pernah menekuni pekerjaan sebaga pengajar, kemudian bergabung dengan biro hukum internasional Baker & McKenzie yang berbasis di Chicago. Pada 1995, dia diangkat menjadi anggota Komite Eksekutif biro hukum tersebut. Lantas, pada 1999 menjadi Komite Eksekutif.

Pada 2004 dia menjadi Ketua Global Strategy (Chairman of the Global Strategic Committee). Karier gemilangnya tercipta saat dia memimpin Baker & McKenzie. Pada 2004 dia berhasil meningkatkan pendapatan kotor sebesar 50%, membukukan pendapatan US$ 1.3 miliar.

Pada 2005, Perdana Menteri Prancis Dominique de VILLEPIN mengundangnya bergabung dengan pemerintahannya pada Juni 2005. Christine Lagarde menyumbangkan keahliannya untuk mengabdi pada negaranya, sebagai Menteri Perdagangan.

Lantas, di masa pemerintahan Nicolas Sarkozy, dia diangkat sebagai Menteri Pertanian, dan kemudian menjadi Menteri Keuangan pada reshuffle kabinet Prancis pada Juni 2007dan menjadi Menteri Keuangan Perempuan Pertama di Prancis, dan dikenal sebagai perempuan pertama yang pernah menjabat menteri Urusan Ekonomi dalam kelompok ekonomi G8—Prancis, Jerman, Italia, Inggeris, Jepang, Amerika Serikat, Kanada dan Russia.

Menarik Perhatian Media

Kemampuannya sebagai negosiator ulung dan kelihaiannya sebagai tokoh perempuan yang menonjol, menarik perhatian media. Itulah salah satu keunggulan orang yang dianggap mewakili elit Eropa ini, sehingga Christine dikenal secara luas.

Terpilihnya Christin menarik perhatian media di dalam dan di luar negeri. Harian yang terbit di Medan, seperti Harian Analisa (30 Juni 2011) dan media lainnya menempatkan berita terpilihnya Christine Lagarde dalam ruang yang cukup strategis.

Harian The New York Times menggambarkan Christine Lagarde sebagai orang terdepan dalam penyelesaian krisis di Junani, Irlandia dan Portugal. "As the finance minister of one of Europe’s most powerful economies, Ms. Lagarde has been at the forefront of efforts to contain the European debt crisis, which has led Greece, then Ireland and Portugal, to seek bailouts to help them pay their huge sovereign debts,"demikian dikutip dari harian yang berbasis di New York itu dalam edisi online 28 Juni 2011.

Beberapa penghargaan media diperolehnya dari hasil jerih payahnya. Pada 16 November 2009, The Financial Times memilihnya sebagai menteri keuangan terbaik di kalangan negara-negara yang menggunakan mata uang Euro Pada 2009, majalah Forbes menempatkan Lagarde di tempat ke-17 sebagai perempuan yang paling berkuasa di dunia.

Renungan

Bagi perempuan Indonesia, prestasi Christine Lagarde setidaknya menjadi sebuah pelajaran betapa sebuah kedudukan memerlukan profesionalisme, kerja keras dan kemampuan mendulang dukungan semua pihak. Tidak saja untuk jabatan tingkat dunia, juga di tingkat nasional maupun daerah.

Christine menapaki kariernya dari bawah. Mulai dari seorang pengacara, pemimpin perusahaan yang sukses, kemudian memasuki birokrasi dan prestasinya dikenal dunia internasional.

Sekedar informasi, dalam bursa pencalonan Direktur IMF, berbagai media sempat menyebut nama seorang tokoh perempuan Indonesia, mantan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani sebagai salah seorang calon kuat Direktur IMF dari Asia.

"Dua kandidat yang potensial adalah Menteri Keuangan Singapura Tharman Shanmugaratnam dan Sri Mulyani Indrawati," katan Korn Chatikavanij, Menteri Keuangan Thailand, seperti dikutip Asia Wall Street Journal 19 Mei 2011.

Semoga dalam pertaruang jabatan inernasional ke depan—tidak saja dalam IMF tentunya, para wanita Indonesia tidak tinggal diam. Mereka harus bersuara tentang rekan-rekannya yang menonjol. Nama Sri Mulyani, meski hanya turut meramaikan bursa calon, tetapi setidaknya sudah diperhitungkan dalam kancah perebutan kepemimpinan skala dunia. Ini hanya sebuah contoh di IMF. Banyak lagi bidang lain yang perlu mendapat perhatian kaum perempuan Indonesia.***

Penulis Biografi, tinggal di Medan

Sumber: www.analisadaily.com, Analisa Cetak: 5 Juli 2011 hal 25.

Minggu, 03 Juli 2011

Tinjau Biografi: Panangian pun; Berjuang di Alam Otoriter


PDF Cetak Email
Oleh: Ris Pasha
Judul : Berjuang di Alam Otoriter
Editor : Idris Pasaribu
Co. Editor : M. Djadijono
Tebal : xxii + 263 hlm
Ukuran : 15 mm × 21 mm
Penerbit : KSI medan publishing
Designe Grafis : Heri Suherman
Cetakan : Pertama, Medan Juni 2011
Kategori Buku : Biografi
ISBN : 978-602-99375-0-3




KERJA KERAS, jujur dan tulus serta memiliki eksistensi yang kuat, rasanya sangat jarang ditemui bagi kebanyakan masyarakat Indoensia. Tidak demikian halnya dengan Dokter Panangian Siregar, yang sejak kecil mempunyai dua cita-cita sekaligus, yakni menjadi Perwira Angkatan Laut dan menjadi dokter, apakah itu dokter ahli kandungan (obesteri dan ginekologi) atau ahli bedah.

Banyak hal memnnarik yang dikemukakan dalam buku ini. Sejak kecil Panangian sudah dihadapkan pilihan yang sulit. Sebagai anak guru tamatan kolonial Belanda, berkeinginan keras untuk sekolah dan belajar. Ibunya selalu ketat dalam disiplin belajar, hingga Panangian selalu tampil sebagai anak pintar di kelasnya.

Ketika kelas empat SR, dia ikut jual asongan di Tarutung. Karena pakaiannya yang selalu bersih dan rapi, dagangannya selalu laris, sebab banyak yang simpati padanya. Dia dagang asongan untuk iseng saja, sementara teman-temannya untuk mendapatkan uang agar bisa sekolah. Jika temjannya tidak sekolah, maka dia kehilangan teman akrab. Akhirnya dia memilih berhenti asongan untuk dirinya, tapi secara bergiliran dioa asong jualan teman-temannya, agar mnereka bisa bayar uang sekolah dan mereka tetap akrab.

Pilihan kedua, ketika masih SMA di Balige, dia sejak SR, SMP dan SMA tetap anak termuda di sekolahnya. Kawan-kawannya ada bahkan empat tahu di atasnya. Saat dia mau ikut berkelahi membela teman-temannya, teman-temannya mengatakan, biar kami saja, sebab kau anak guru. Nanti apa kata orang, seorang anak guru berkelahi. Panangian pun diam, padahal dia ingin membantu teman-temannya.

Demikian halnya ketika dia masuk Fakultas Kedokteran USU dia juga termuda, hingga banyak yang menganggap dia masih SMA. Di saat ini dia dihadapkan lagi dengan pilihan berat. Dia mendapat bea siswa dari pemerintah. Di tingkat IV dia melamar Angkatan Laut dan dites, kemudian diterima. Dua cita-cita, jadi dokter dan Angkatan Laut, sudah di pelupuk mata. Karena jujurnya, dalam lamarannya Panangian menyatakan dia sedang ikatan Dinas di Fakultas Kedokteran USU, hingga pihak Angkatan Laut mengatakan, agar Panangian mencabut ikatan dinasnya dari Departemen Pendidikan Pengajaran & Kebudajaan (PP&K), sebab Angkatan Laut tidak mau merampas anak negara dari departemen lain. Ketkika itu, Ikatan dinas dianggap sebagai anak negara.

Panangian berpikir, dia harus mundur, agar ranking yang dibawahnya bisa naik ke atas, sebab Panangian melihat ranking yang dibawahnya, sangat membutuhkan ikatan dinas itu.

Begitu tamat menjadi dokter, Panangian langsung masuk ke organisasi Ikatan Sarjana Rakyatr (ISRI) di bawah onderbouw Partai Nasional Indonesia. Kemudian dia ditempatkan di Sidikalang sebagai dokter kabupaten (Dokabu) di kabupaten yang baru dimekarkan dari Tapanuli Utara. Sekaligus dia diangkat pula menjadi direktur RSU Sidikalang. Dia dokter tunggal di sana. Panangian harus meminjamkan uang hasil prakteknya kepada RSU, agar pasien yang dirawat bisa makan.

Huru-hara politik pun terjadi. G.30.s/PKI terjadi. Sebelumnya dia sudah menajdi anggota PNI yang juga menjadi Ketua Cabang Kesatuan BHuruh Kesehatan - Buruh Marhaenis (KB.Kes-BM) Cabang Dairi. Saat itu pemerintah Orde Baru berupaya keras menghabisi PNI yang nota bene membawa ajaran Marhaenisme sebagai ideologi politiknya.

Panangian pun diangkat menjadi Ketua Tjabang (DPTj) PNI Dairi. Tentu dengan pergulatan yang hebat. Semua keluarga besar Panangian menentangnya. Kenapa harus masuk PNI yang akan dimusnahkan oleh pemerintah Orde Baru. Kenapa tidak memilih SOKSI, Gosgoro atau MKGR kemudian berada dalam satu kekuatan Sekber Golkar. Hanya kepada ayahnya yang juga kader militan PNI Panangian memberikan penjelasan. Jikka dia tidak berada di PNI, maka Marhaenisme akan punah. Ayahnya pun memberikan kekuatan padanya.

Saat ASU dan Osa-Usep bertikai, lagi-lagi Panangian berada pada pilihan berat. Naluri politiknya mengatakan, dia harus berada pada barian Osa-Usep, kalau Marhaenisme mau dipertahankan. Bukankah Bung Karno mengatakan: Supel dalam taktis, teguh dalam prinsip?.

Dalam kepemimpinannya, Panangian tidak mau membedakan mana ASU mana Osa-Usep. Kembali dia berpegang kepada apa yang diucapkan oleh Bung Karno; siapa yang berprestasi berhak maju.
Dari sanalah Panangian menjadi anggota DPRD-GR Tingkat-I Sumatera Utara. Kemudian menjadi anggota DPRD Sumut setelah Pemilu 1971. Tahu 1973, dia kembali lagi dihadapkan pada pilihan. Harus,kah dia ikut dalam Fusi PDI atau tidak? Kembali naluri politiknya dan logikanya bermain. Akhirnya Panangian memutuskan untuk ikut berfusi. Lagi-lagi dengan alasan, jika semua orang PNI menentang fusi, maka unsur PNI dalam PDI tidak ada lagi. Hanya ada Parkindo, IKPI, Parttai Katolik dan Murba. Dengan demikian habislah sudah Marhaenisme di bumi Indonesia.

Panangian pun menjadi salah seorang tokoh fusi PDI di Sumatera Utara. Dia mengajak kawan-kawannya di PNI untuk ikut Fusi. Kalau sudah fusi tidak ada lagi perbedaan Asu dan Osa-Usep. PNI akan kokoh dalam PDI. Saat itu orang-orang PNI sendiri yang mengisyukan, kalau Panangian dan kawan-kawannya termasuk Abdullah Eteng, kaki tangan orde baru dan menerima banyak uang dari Orde Baru.

Tahun 1981, lagi-lagi Panangian dihadapkan pada dua pilihan berat. Ayah angkatnya Abdullah Eteng yang keras dalam berbagai statemen politiknya harus direcall. Tak ada orang Sumatera Utara yang berani menggantikan Abdullah Eteng, karena rakyat akan marah. DPP PDI sendiri tak mampu mengatasinya. Akhirnya Panangian dimintakan untuk menggantikan Abdullah Eteng. Banyak yang memberikan masukan kepada DPP, kalau Panangian yang menggantikan ayah angkat, maka Abdullah Eteng tidak akan marah.
Panangian datang ke rumah dinas DPR-RI menjenguk ayahandanya sembari ingin menyampaikan pesan DPP PDI. Begitu Panangian berada di ambang pintu, langsung Abdullah Eteng mengatakan: "Untung kau datang. Kau harus menggantikan aku di DPR-RI. Lusa aku mau berangkat pulang ke Medan, Panangian meneteskan airmata saat dilantik jadi anggota DPR-RI. Dalam benaknhya terbayang, bagaimana kejamnya penguassa menghancurkan karier ayah angkatnya itu. Ketika itu, Panangian terpikir, penguasa merasa menang atas PAW itu.

Apa yang terjadi? Empat hari Panangian dilantik menggantikan Abdullah Eteng, dengan diplomasi blak-blakan, Panangian empat kali lebih keras mengeluarkan statemen politiknya di DPR-RI. Panangian menyoroti tajam soal kesehatan di Indonesia. Soal obat-obatan dan soal honor dan kesejahteraan medis dan paramedis.

Pada saat orang sangat takut menyoroti pemerintahan orde baru, terlebih pada Pemilu 19 87, Panangian dimana-mana berbicara lantang, agar kekuasaan orde baru harus direbut. PDI harus berkuasa. Sayang tak ada media yangberani menuliskan pidato Panangian yang selalu blak-blakan itu.

Sejak tahun 1987, Panangian sjudah menyoroti PT. Inti Indorayon Utama, dikmana saat itu tak satu LSM pun berani menyorotinya. Saat Panangian dilantiok jadi Menteri Lingkungan hdiup seperti apa yang dikatakan oleh Drs. Soerjadi Ketua Umum DPP PDI, Habibir Presiden RI saat itu yang memberikan penguatan untuk PT IIU selaku Ketua BPPI, justru Panangian menentangnya. Banyak Departemen terkait meminta agar Meneg Lingkungan Hidup memberikan reklomendasi, agar PT IIU aktif kembali. Panangian bertahan tidak akan memberikan rekomendasi untuk PT IIU.

Demikian juga dalam peristiwa 27 Julki 1996 perebutan kantor DPP-PDI, Panangian menyatakan tidak ada seorang pun kader PDI hasil Kongres Medan yang terlibat dalam peristiwa itu. Untuk itu, Panangian menentang pemerintah, agar kasus itu harus sampai ke pengadilan, agar duduk persoalannya bisa jelas. Jangan maling teriak maling, kata Panangian.

Panangian terkenal sebagai seorang politisi yang blak-blakan, tidak mau tedeng aling-aling. Keras seperti guru tunggalnya Abdullah Eteng.

Kini Panangian sudah 75 tahun dan dia pensiun dari panggung politik, namun analisa politiknya masih tetap tajam. Panangian seorang yang rakus akan buku-buku. Perpustakaan pribadinya penuh dengan buku.

(Sumber:Harian Analisa, Cetak Edisi Minggu 3 Juli 2011)

Rabu, 01 Juni 2011

Hikayat Manao: Beban Moral Menurunkan Nilai Budaya

| |
 

NBC — Hikayat Manao yang di kalangan masyarakat Bawomataluo dikenal sebagai Panglima Kafalo Zaluya—jabatan yang diberikan para tetua adat di desanya, benar-benar menjadi bintang lapangan dalam Pagelaran Budaya Bawomataluo 2011.

Selama pagelaran berlangsung, Hikayat tampil siang, sore dan malam hari. Ia memimpin Tari Kolosal yang terkenal itu di acara pembukaan, bermain dalam berbagai atraksi pada acara lain. Usai tampil, para wartawan selalu mengerubutinya untuk meminta penjelasan tentang apa saja di balik sebuah pertunjukan yang baru dilakoninya. Malam hari, ia tampil dalam acara hiburan, bernyanyi  bersama penduduk dan para tamu. “Praktis saya hanya tidur hanya beberapa jam sehari,” ujarnya kepada NBC di sela-sela pagelaran yang mempromosikan budaya dan hasil kerajinan Nias Selatan tersebut.
Tapi Hikayat senantiasa terlihat segar dan sangat hangat menerima siapa saja. Salah satu cara yang ditempuh anak ketiga dari 7 bersaudara pasangan T Ana Tona Manao dan Ibu Kaena Wau ini agar terus bersemangat adalah menjaga suasana tetap riang. “Hati yang riang adalah obat,” ujarnya. Untuk memberi semangat anak-anak buahnya, ia mengajarkan hal-hal besar yang akan dicapai dengan suka cita, lucu dan membangun semangat.

Menangani budaya adalah kehidupannya sejak kembali ke desanya sejak 1986. Kegiatan yang membuatnya bahagia dan mampu mendefinisikan kebahagiaan. “Ukuran kebahagiaan bukan karena title, harta, tapi berakar dari hati,” ujarnya.

Menurutnya banyak tarian sakral sudah tidak lagi dipertontonkan, seperti Fadolohia, sebuah tarian ucapan syukur yang di masa kecilnya sering digelar usai panen. “Itu sebabnya, setiap penampilan kami mengikutsertakan tarian ini,”ujarnya.

Hikayat juga merasa terbeban untuk terus melestarikan dan mengembangkan tari dan budaya Nias. “Saya mempunyai beban moral untuk menurunkan nilai-nilai budaya agar generasi muda memiliki jati diri sebagai orang Nias,”ujarnya kepada NBC, usai menggelar tari kreasi gerakan Faluya Zanokhe di depan Omo Sebua 15 Mei 2011.

Tarian kreasi dari gerakan Faluya Zanokhe ini dimainkan 20 orang pemuda, 6 orang remaja  dan sekitar 98 anak-anak yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Di dalam tarian itu Hikayat menyelipkan dua buah lagu ciptaaannya sendiri yakni Famaedo Dano (julukan kebesaran Bawomataluo) dan Mameasu yang berarti berburu. Dua lagu itu masing-masing menggambarkan nilai-nilai persatuan sebagai sebuah kekuatan. “Bersatu mengepung musuh, bersatu dalam berburu,”ujarnya

Hikayat tidak hanya dikenal di desanya, tetapi aktivitasnya sudah merambah jauh ke luar dari pulau Nias. Dia akrab dengan para wartawan. Ayah empat orang anak ini dikenal sebagai orang yang mudah diajak diskusi dan selalu bersemangat saat berbicara tentang budaya Nias. Siap memberi penjelasan, kapan saja diperlukan, apakah bertemu langsung atau melalui telepon. Tak heran kalau komentar-komentarnya tentang budaya Nias senantiasa menghiasi media cetak atau televisi.

Untuk mengenal sisi lain kehidupan laki-laki gagah perkasa dengan pakaian kebesaran adat saat tampil di lapangan ini, NBC dalam berbagai kesempatan melakukan wawancara khusus di rumahnya, maupun mengamatinya selama beraksi di lapangan

Masa Kecil:  Cabut Melihat Pesawat Capung


Masa-masa SD hingga SMA nya adalah periode dimana Nias masih terbelakang. Di sekitar desanya belum ada SMP, sehingga setelah lulus SD Katolik Bawomataluo, Hikayat melanjutkan ke SMP Bintang Laut di Teluk Dalam dan tinggal di asrama sekolah itu. “Pekerjaan saya di asrama adalah membunyikan lonceng. Habis itu saya dikasih hadiah sepotong ikan kecil oleh Zr Lumbertin,”ujarnya tertawa.

Melanjut setelah lulus SMP, Hikayat belum punya pilihan di Telukdalam yang saat itu belum memiliki Sekolah Lanjutan Atas. “Saat itu, lulusan SMP dari Telukdalam harus melanjutkan  sekolah ke STM, SPG atau SMA di Gunungsitoli,”ujarnya. Hikayat sendiri memilih SMA Negeri Gunung Sitoli. Dengan harapan bisa menjadi seorang arsitek, walau hingga sekarang cita-citanya itu tak pernah terwujud.

Saat itu, bepergian ke Gunungsitoli, menurutnya layaknya berangkat ke luar negeri. Transportasi masih sulit. “Kami menumpang kapal laut Rotella melalui Telukdalam. Kapal itu memuat 60 penumpang dan barang,”ujarnya dengan mimik serius mengenang masa sulit itu. Lama perjalanan bisa mencapai  9 jam.
Gunungsitoli bukanlah kota yang bisa dinikmatinya dengan santai. Di sana Hikayat harus memasak sendiri dan kos di rumah sebuah keluarga. Berbekal beras dari Bawomataluo, untuk membeli kecap penyedap nasi putihnya  Hikayat harus bekerja membuat batu-bata dengan upah Rp. 3 per buah. Jangankan untuk mengikuti tren saat itu, bahkan karena hanya memiliki sepasang pakaian seragam, ia jarang ke Gereja.

Selain itu, komunikasinya dengan orang tua di Bawomataluo juga sulit. “Surat baru bisa mendapat balasan setelah tiga minggu. Jadi sulit sekali mengetahui berita. Kadang saya tidak punya uang membeli makan sekalipun,”ujarnya dengan suara melemah. Akhirnya, ia memutuskan berhenti sekolah saat memasuki kelas II SMA.

Satu hal yang tak bisa dilupakannya selama sekolah di Gunungsitoli adalah pembukaan penerbangan ke pulau yang terletak 125 kilometer dari garis pantai Sumatera itu. “Kami pernah cabut (bolos-red) dari sekolah berjalan kaki dari Gunungsitoli hanya untuk melihat pesawat Capung di Bandara Binaka,”ujarnya geli mengenang peristiwa 35 tahun lalu itu.

Merantau ke Daratan Sumatera

Setelah drop out dari SMA Negeri Gunungsitoli, Hikayat merantau ke daratan Sumatera. Menggapai harapan baru!. Hikayat menumpang KM Agape—semalaman mengarungi Samudera Hindia menuju Sibolga, kemudian menumpang Bus Opranto ke Balige. Tinggal di Balige dan bekerja selama dua bulan di sawah penduduk (mangombak), menggembalakan kerbau (marmahan). “Nebeng-nebenglah dengan orang-orang Batak di sana,”ujarnya. Atas bantuan beberapa temannya sesama orang Nias, Hikayat mendapat pekerjaan baru di Pematangsiantar—kota terbesar kedua terbesar di Sumatera Utara, berjarak seratus kilometer lebih dari Balige.


Hikayat Manao

Di Pematangsiantar Hikayat menjadi pelayan toko di Toko Sepatu 1001 dan berharap bisa melanjutkan sekolahnya. Tidak jauh dari toko tempatnya bekerja di Jalan Merdeka di kota itu, terdapat SMA Universitas Simalungun (USI). Mudah mendaftarnya, tetapi seminggu kemudian dia berhenti lagi. Pasalnya, “Saya tidak berhasil mendapatkan surat pindah,”ujarnya dengan raut muka sedih.

Sebuah peristiwa kemudian mengubah jalan hidupnya. Sedang asyik menjual sepatu, beberapa pembeli masuk ke tokonya. Mereka adalah Kepala Sekolah SMA Gunungsitoli, Pak Sitompul dan beberapa gurunya. Hikayat masih mengenal mereka dengan baik, demikian juga para tamunya. Sang Kepala Sekolahpun menaruh iba padanya. “Kau pulang saja ke Gunungsitoli dan mengikuti ujian di sana. Ada ujian Extraner,”ujarnya menirukan ucapan Kepala Sekolahnya itu.

Akhirnya dia kembali ke Bawomataluo dan mengurus administrasi persiapan ujian extraner ke Gunungsitoli. Hikayat harus menunggu enam bulan hingga tiba masa ujian. Masa menunggu itu, Hikayat bekerja pada Kosasih, seorang turunan Tionghoa di Jalan Ayam Teluk “Pagi membuka pintu, menyapu, mencas baterai, menimbang beras, membantu jual obat di apotik”ujarnya sambil menggigit afo, sirih yang baru diramu salah seorang anaknya..

Kosasih adalah orang yang baik di mata Hikayat. Setiap Sabtu ia diijinkan pulang ke Bawomataluo dan selalu dibekali kopi atau kebutuhan pokok yang langka di kampungnya. Hingga tiba masa ujian yang dijanjikan Pak Sitompul, kepala sekolahnya. Upah yang diterimanya tidaklah cukup membayar biaya ujian yang lumayan besar. “Kosasih memberi lebih dari apa yang seharusnya saya terima, dan ini tidak bisa saya lupakan,” katanya.  Hikayat menyelesaikan ujian extranernya dan lulus!.

Pengunjung: Merubah Kehidupan

Bagi Hikayat, kunjungan tamu ke Bawomataluo berarti menjanjikan perubahan. Awal 1980-an, tak lama berselang setelah Hikayat lulus dari SMA, Pangdam II Bukit Barisan, Soesilo Soedarman berkunjung ke desanya di Bawomataluo.

Peristiwa ini merubah hidupnya seratus delapan puluh derajat. “Dalam hati saya, saya harus ikut menjadi pelompat batu dan menunjukkan kehebatan saya di depan Panglima,”ujarnya mengenang peristiwa istimewa itu.

Ternyata lompat batu itu mengundang rasa kagum Panglima melihat anak-anak muda seperti Hikayat. “Orang-orang Nias banyak yang hebat-hebat, ada ON Harefa di Bimas Kristen. Tapi di ABRI belum ada. Saya mau ada 3 orang dari desa ini yang mau dididik menjadi tentara,” demikianlah pidato Panglima yang membesarkan hati Hikayat dan dua orang temannya, Hadirat Manao dan Fanahatodo Manao.

Janji Panglima benar-benar memberi inpirasi baru bagi ketiga pemuda itu. Mereka bertiga berangkat dan melapor ke Asrama Kowilhan di Medan. “Saya  tinggal di rumah pak Soeripto, Asintel Kodam,”ujarnya.
Sayang, niatnya menjadi tentara itu urung terwujud. Majalah yang memberitakan nasib para tentara di Timor Timor membuatnya kecut dan memberitahu pembatalan dirinya menjadi tentara kepada pak Soeripto dan Agus. “Saya permisi, lantas diberi ongkos,” ujarnya.

Hikayat tidak kembali ke Nias, tetapi memilih berangkat ke Jakarta. Beruntung di Jakarta ia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan. Dari segi pendapatan yang lumayan dirinya bisa membelanjai kebutuhan sehari-hari dan  menutupi biaya kuliah. Sambil  bekerja dia mengikuti kuliah di Akademi Teknik Komputer di Matraman Jakarta. Menurutnya, sekolah itu adalah idola pemuda saat itu, karena  pengetahuan tentang komputer masih merupakan hal baru. “Tetapi beberapa bulan kuliah, saya tidak pernah memegang komputer, hanya teori melulu, akhirnya saya berhenti” ujarnya mengenang kuliahnya.

Perusahaannya tempat bekerjapun akhirnya tidak menjanjikan banyak bagi pemuda ini . Dia hanya sebagai pegawai honorer dan bekerja atas pengaruh seorang keluarga yang kebetulan menjadi pejabat senior di sana.


Pulang Kampung: Menjadi Panglima “Kafalo Zaluya”

Di perantauan, bakat seni Hikayat yang sudah muncul sejak kecil tidak bertumbuh sebagaimana layaknya. “Sewaktu masih di SD, saya sudah sering memimpin lagu, sebagai dirigen,” ujarnya. Ingin mengembangkan bakat seninya dan mengembangkan budaya desanya  membawanya kembali ke Bawomataluo pada 1986.



Setelah beberapa tahun menggeluti hidup di Bawomataluo, pada 1992, Hikayat dinobatkan sebagai ‘Kafalo Zaluaya’, sebuah jabatan yang dipilih para tetua adat dan kaum bangsawan di desanya. Dia dipilih tidak mengacu pada pola sejarah keluarga, melainkan pada aura dan karisma yang dimilikinya. Tingkah laku dan tindak-tanduk Hikayat dalam menggeluti hidup bersama warga desa menjadi parameter penting penunjukannya itu. “Kalau saya tidak memiliki karisma itu, ya tidak mungkin terpilih,” tegasnya, seperti dikutip Warisan Indonesia (Desember, 2010).

Sang panglima, harus memiliki kemampuan menjadi mediator dan sekaligus eksekutor yang baik, untuk menyelesaikan persoalan yang timbul di lingkungannya, seperti pengembangan seni budaya, mempertahankan adat istiadat, juga mengatasi konflik diantara warga.

Hikayat mengemban tugas berat ke depan. Ia harus mampu memerankan dirinya sebagai seorang tokoh pembaharu, sekaligus pelestari budaya yang tentunya tidak mudah! [Jannerson Girsang / Ketjel Zagoto]


Tempat, tanggal lahir: Bawomataluo, 12 Juni 1958
  • Nama panggilan: Ama Gibson
  • Pendidikan terakhir: Akademi Teknik Komputer Jakarta (Tidak Tamat)
  • Pekerjaan: Koregrafer, Konduktor, Penyanyi dan Pencipta Lagu-lagu Nias
  • Prestasi/Penghargaan yang pernah diraih : Juara II Konduktor Pesparawi se-Kabupaten Nias Selatan. Memimpin delegasi budaya ke berbagai even.
  • Nama anak: Rael Gibsonard Manao (semester 4 di salah satu PT di Medan), sementara tiga lainnya Bon Haston Manao (SMA Bintang Laut, Teluk Dalam), Meta Manao dan Lobtar Manao masing-masing duduk di kelas III dan kelas II SMP Bintang Laut di teluk Dalam
  • Nama istri: Munihati Manao [JG]
 Artikel ini juga dimuat di  http://oase.kompas.com/read/2011/06/01/18280116/Hikayat.Manao.Sang.Panglima.Bawomataluodan beberapa website lainnya.  
  •  

Kamis, 26 Mei 2011

Pembaca Meminati Kisah-kisah Motivasi

Sepuluh besar pembaca blog saya http://www.harangan-sitora.blogspot.com/ meminati artikel-artikel tentang  kisah orang-orang berpretasi. Orbituari, Kisah Para Orang-orang Terkenal menempati 10 besar teratas. Artikel-artikel politk dan budaya tidak ada yang mencapai sepuluh besar.
Blog ini berisi 127 artikel yang ditulis sejak 2007, baik yang pernah dimuat di media, maupun yang belum. Bagi anda yang berminat silakan mengunjunginya.  Blog ini bebas dari iklan dan hanya ditujukan untuk menyebarkan nilai-nilai yang bisa memotivasi pembaca.

Tertarik software counter pageviews, maka sejak Mei 2010, saya memasang pageviews.  Counter itu menghitungnya untuk setiap artikel dengan total  20,528 pageviews.

Berikut adalah 10 besar pilihan para pengunjung.

1. Selamat Jalan SK Trimurti, posting Mar 17, 2009 (1,047 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/03/selamat-jalan-sk-trimurti.html.

2. Belajar Biografi Para Penulis Terkenal Dunia. Posting  Jan 18, 2010 (432 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2010/01/belajar-biografi-para-penulis-terkenal.html

3.  Kisah Menulis Buku Biografi. Posting Apr 26, 2009 (354 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/04/kisah-menulis-buku-biografi.html

4. Menyimak Prestasi Andrea Hirata, Nov 26, 2010 (292 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2010/11/menyimak-prestasi-andrea-hirata.html

5. Helen Keller “Buta dan Tuli, Jadi Penulis dan Politisi, Sep 15, 2010 (206 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2010/09/helen-keller-buta-dan-tuli-jadi-penulis.html

6. Keong Racun" dan Maknanya bagi Kita, Aug 11, 2010 (186 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2010/08/keong-racun-dan-maknanya-bagi-kita.html

7. Anda Ingin Membuat Otobiografi Sendiri!, Oct 13, 2009 (186 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/10/anda-ingin-membuat-otobiografi-sendiri.html8.

8. Buku Favorit 10 Pemimpin Terkenal yang Inspiratif, Nov 23, 2010, (175 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2010/11/buku-favorit-10-pemimpin-terkenal-yang.html

9. TD Pardede Foundation Luncurkan Biografi Rudolf.  Apr 17, 2009 (171 Pageviews). http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/04/td-pardede-foundation-luncurkan.html

10.Menonton Ebit G. Ade di Metro TV, diposting  Aug 15, 2010 (159 Pageviews).http://harangan-sitora.blogspot.com/2010/08/menonton-ebit-g-ade-di-metro-tv.html

Mendokumentasikan artikel ke dalam  blog selain mampu menyimpan artikel anda dalam waktu yang lama, juga memberi kesempatan luas bagi orang lain untuk membacanya secara online.

Artikel-artikel dalam blog ini sudah dikutip oleh media cetak, website di Indonesia. Artinya, blog kecil bisa bergaung sama seperti media cetak yang besar.

Dari pada menyimpan file dalam komputer, ada baiknya anda menyebarkan pikiran anda melalui blog. Pikiran-pikiran anda akan digunakan oleh banyak orang dan anda merasa terhibur serta turut menyumbang peradaban bagi dunia ini.

Medan, 25 Mei 2011.