My 500 Words

Kamis, 11 Juni 2009

Renungan Pribadi Menjelang Pilpres Juli 2009




Pemilu dalam Persaudaraan

Oleh Jannerson Girsang



Angin lembut dan segar berhembus dari Jakarta 9 Juni 2009. Melalui media elektronik  saya dan berjuta-juta penduduk Indonesia lainnya menyaksikan Pasangan Calon presiden-calon wakil presiden Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subianto, Soesilo Bambang Yudhoyono-Budiono, dan Yusuf Kalla-Wiranto bergandengan tangan usai mengucapkan Deklarasi Pemilu Damai 2009. Tak ada alasan bagi kami menolak bahwa merekalah putra-putra bangsa ”terpilih” dan memiliki catatan perjalanan hidup ”terunggul”. Karena alasan itulah mereka ditetapkan KPU sebagai kandidat presiden memimpin lebih dari 200 juta penduduk Indonesia lima tahun ke depan. KPU kami percayai menetapkan mereka sebagai calon pemimpin ke depan.

”Dengan semangat persatuan dan persaudaraan menyatakan siap menciptakan pemilu yang aman, tertib dan damai semi terwujudnya kemajuan dan kesejahteraan bangsa serta terpeliharanya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, demikian bunyi Deklarasi Pemilu Damai 2009 yang diucapkan dengan semangat oleh seluruh Capres dan Cawapres Disaksikan ratusan pengunjung pada acara yang diselenggarakan KPU itu, tentunya deklarasi ini tidak hanya diucapkan sebagai sebuah kewajiban, atau hanya lip service, tetapi sebuah tanggungjawab yang memiliki konsekensi-konsekwensi.

Bagi warga negara seperti saya, yang tak masuk hitungan dalam pertarungan kepemimpinan nasional (kecuali terdaftar di DPT), deklarasi yang berbunyi sangat indah itu bak air yang disiram kepada penonton yang kepanasan di tengah pertunjukan band Peterpan di lapangan terbuka. Sebuah siraman segar atas panasnya ”suhu” politik sejak Pemilu Legislatif dan Pencalonan Capres dan Cawapres periode 2009-2014.

Tekad persaudaraan dan menciptakan damai sebelum masuk ke gelanggang pertarungan Capres dan Cawapres meemberikan harapan bagi rakyat pemilih tidak terulang lagi cara-cara tidak sehat dalam persaingan merebut kepemimpinan nasional. Sudah cukup banyak waktu, pikiran dan tenaga yang tersita percuma karena dagelan para pemimpin yang tidak cukup dewasa memahami kondisi rakyatnya.

Para pemimpin hendaknya menyadari kalau sebuah keluarga, ayah dan ibunya tidak rukun, maka anak-anaknya akan terpengaruh. Pada pemilu legislatif lalu rakyat seperti kami sering terganggu pikirannya, pekerjaannya dan bahkan ekonominya, demi mensukseskan pemilu. Berbulan-bulan kecewa, bahkan ketika para pemimpin ramai-ramai mengatakan  boikot Pilpres, ditambah lagi dengan pernyataan-pernyataan atau melegalkan cara-cara yang tidak etis menjatuhkan lawannya. Dengan deklarasi ini, rakyat berharap saling ”caci maki” atau saling cerca diantara para pemenang tidak terjadi lagi. Hingga pemerintahan yang terbentuk akan kuat dan mampu membawa bangsa ini keluar dari krisis.

Deklarasi ini  tidak memiliki kekuatan kalau para pengucapnya tidak melaksanakannya dengan konsisten. Dia harus disemaikan di hati rakyat serta seluruh pimpinan partai pendukung, penyelenggara pemilu serta aparat keamanan. Deklarasi ini menuntut para pemimpin memiliki jiwa besar dan menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan.

Semua harus menyadari bahwa Pilpres membutuhkan pengorbanan yang besar. Selain biaya yang sangat mahal  saya dan jutaan rakyat lainnya harus berkorban meluangkan waktu ke TPS. Harus meninggalkan kegiatan  memenuhi nafkah keluarga untuk hadir saat hari pemilihan ataupun menyaksikan penghitungan suara.

Untuk itu, rakyat berharap usai  Pilpres  tidak lagi menghadapi kekhawatiran baru.  Perlu diingatkan, tidak mungkin tiga calon menang. Yang pasti harus ada yang kalah. Masing-masing harus siap menang dan siap kalah. Yang kalah mengakui dan mendukung yang menang secara tulus. Tidak lagi mempersoalkan apakah sistem kita ini sudah jujur atau tidak. Bagaimana kalau rakyat ikut-ikutan menyatakan sistem kita tidak bagus. Mereka tidak mau memilih. Apakah mungkin para calon presiden terpilih jadi presiden?

Kita memiliki DPR,  KPU, MK yang seluruhnya dibiayai rakyat. Kita serahkan mereka menetapkan dan mengawasi proses berlangsung sesuai dengan aturan. Susahnya, para calon-calon pemimpin kami sering tidak jujur. Ketika "kalah" mencari alasan, tetapi kalau menang diam saja.

Semua telah sepakat melalui pemimpin-pemimpin, para founding father bahwa negara ini Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) dan hidup damai dibawah Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila, menuju masyarakat yang adil, makmur dan demokratis. Kita tentunya dihimbau jangan lagi mempertentangkan perbedan suku, agama, warna kulit. Justru itulah kekayaan kita dan para pemimpin hendaknya mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan.

Deklarasi pemilu damai ini, bermakna lebih luas. Tidak hanya mewujudkan perdamaian dan persatuan dalam suasana menuju Pilpres saja, tetapi hendaknya dijadikan momentum untuk tidak mengulangi lagi kemunafikan kita. Bangsa dengan toleransi yang tinggi, ramah tamah, gotong royong, tentunya kami berharap rasa permusuhan di kalangan elit, konflik, kerusuhan dan serta berbagai pengalaman pahit lainnya tidak terjadi lagi.

Sebagai rakyat biasa kami sering merenung-renungkan kutipan yang pernah diucapkan mantan presiden Amerika Serikat, Benyamin Franklin lebih dari seratus tahun yang lalu. ”Hal terbaik diberikan kepada musuhmu adalah pengampunan, kepada penentangmu, toleransi, kepada sahabatmu, hatimu yang tulus, kepada anak-anakmu, keteladanan, kepada seorang ayah, rasa hormat, kepada ibumu, melakukan hal yang membuatnya bangga denganmu, kepadamu sendiri, rasa hormat, kepada semua orang, kemurahan hati. “The best thing to give to your enemy is forgiveness; to an opponent, tolerance; to a friend, your heart; to your child, a good example; to a father, deference; to your mother, conduct that will make her proud of you; to yourself, respect; to all men, charity”.

Ketertinggalan bangsa ini, menurut kami salah satunya adalah karena belum berhasil mewujudlan identitas bangsa kita yang cinta damai, kerukunan dalam praktek politik dan kehidupan sehari-hari. Bukan isapan jempol, kalau para pendiri negara ini menekankan persatuan dan kesatuan bangsa. Ingat, berkat tidak mengalir kepada bangsa  yang warganya atau pemimpinnya tidak rukun. ”Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!.....Sebab kesanalah Tuhan akan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”. Semoga!.

Medan 9 Juni 2009

Jumat, 29 Mei 2009

Richest Man Who Ever Lived

“Perjalanan Hidup Yang Menakjubkan”

  
Jannerson Girsang

Pengalaman hidup seorang bijak memiliki kekuatan yang luar biasa. Steve Scott telah membuktikannya. Dia adalah salah seorang pendiri American Telecast Corporation--satu dari selusin lebih perusahaan multimillion dollar miliknya. Steven dan rekan-rekannya membangun perusahaan-perusahaan itu dari nol, dari sebuah kegagalan.

Anda mau tau kunci suksesnya?. Steve Scott menuangkannya dalam buku ”Richest Man Who Ever Lived”--sebuah pengalaman mempraktekkan Amsal Sulaiman (Proverbs)--salah satu buku dalam Perjanjian Baru (New Testament) ke dalam bisnis di zaman modern sekarang ini.

Bagi anda yang pernah membaca kitab Amsal Sulaiman (Proverbs) atau dalam Bibel Bahasa Simalungun disebut Podah, buku ini sangat membantu menjelaskan bagaimana praktek strategi Salomo dalam bisnis modern dan kehidupan sehari-hari. Barangkali selama ini anda membaca kitab setebal 31 pasal ini hanya berkekekuatan biasa-biasa saja, tidak ada salahnya anda bertukar pengalaman dengan Steven.

Dalam Kitab Amsal disebutkan bahwa strategi Salomo tidak hanya membuat Raja Israel yang terkenal itu memiliki reputasi, sebagai orang paling bijak sepanjang sejarah umat manusia, tetapi juga memberinya nilai kekayaan yang legendaris, sebagai orang terkaya sepanjang sejarah. Nilai emas yang dimilikinya saja, kalau dikonversi dengan nilai dollar saat ini, mencapai triliunan dollar.

Steve mengaku menerapkan strategi ini setelah terinspirasi dengan beberapa tokoh-tokoh besar Amerika yang menerapkan strategi Salomo dalam kehidupannya. Terukti mereka sukses dalam karier dan kehidupannya. Buku ”Richest Man Who Ever Lived” menyebut beberapa presiden Amerika seperti Abraham Lincoln, Thomas Jefferson dan tokoh-tokoh penting di negara Paman Sam itu umumnya menerapkan strategi Salomo.

Awalnya Steve sama seperti para pekerja biasa di Amerika Serikat sana. Dalam waktu enam tahun pertama kariernya, Steve mengalami sembilan kali berganti pekerjaan. Dalam buku yang diberi pengantar oleh Gary Smaley--penulis buku laris The Hidden Value of Man, disebutkan bahwa pengalaman Steve menerapkan strategi Salomo sungguh-sungguh luar biasa. Setelah terpuruk dalam kegagalan, dengan modal awal kurang dari $5,000, Steve dan rekannya memulai sebuah bisnis dengan menerapkan strategi Salomo. Kurang dari enam bulan Steve dan rekan-rekannya telah menghasilkan penjualan lebih dari satu juta dollar per minggu. Dari sebuah kehancuran, sukses kemudian menyusul dengan terbangunnya lebih dari selusin perusahaan multi-jutaan dollar dan mencapai penjualan miliaran dollar.

Selama 28 tahun terakhir menerapkan strategi Salomo, Steve mengakui tidak hanya mengalami perubahan hidup—merubah keuntungan menggunakan strategi Salomo dalam kehidupannya, tetapi mampu meraih kebahagiaan pribadi.

Buku “Richest Man Who Ever Lived” mejelaskan strategi Salomo dipraktekkan oleh Steve. Strategi itu diantaranya: Mencapai keberhasilan maksimum dalam waktu minimum, Menguasai keahlian penting kehidupan, Mengambil langkah-langkah paling kritis ke keberhasilan yang luar biasa, Menghindari penyebab utama kerugian keuangan, Merubah impian menjadi kenyataan, Memenangkan dan menyelesaikan setiap konflik, Menghindari jebakan yang selalu membuat jatuh, Memaksimumkan Persahabatan, Menaklukkan kekuatan perusak nomor satu persahabatan dan banyak lagi strategi jitu lainnya.

Satu catatan penting dari pengalaman Steve adalah bahwa saat menjalankan hal-hal yang bertentangan dengan strategi Salomo, dia mengakui kehilangan hampir seluruh nilai, keluarganya, kebahagiaannya, dan jutaan dollar miliknya. Dengan menerapkan kebijaksanaan Strategi Salomo secara penuh, dia memperoleh kembali hal-hal yang selama ini hilang.

Selain membaca buku ini, Steve menyarankan anda membaca kitab Amsal yang berisi 31 pasal itu, satu pasal satu hari. Kalau kebetulan satu bulan--seperti Mei atau Juli berisi tiga puluh satu hari, maka selama satu bulan penuh kitab ini akan rampung. Dengan membaca kitab ini secara teratur, maka anda akan memperoleh sesuatu yang luar biasa. Silakan mencoba!.

Buku ”Richest Man Who Ever Lived”, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Steven K. Scott (2006). The Richest Man Who Ever Lived : Menyingkap Rahasia Orang Terkaya yang Pernah Hidup di Muka Bumi. Think, Yogyakarta. Buku ini layak dibaca oleh para pemimpin dan pengusaha, demikian juga setiap pribadi yang meinginginkan sukses dan kebahagiaan.

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Untuk mengetahui lebih jauh, anda bisa mengunjungi website-website. http://www.stevenkscott.com. Perjalanan kehidupan yang menakjubkan!

Medan, Mei 2009.


Selasa, 28 April 2009

Menyambut Hari Kartini 2009

”Kartini Baru dan Keterwakilan Perempuan”

Oleh : Jannerson Girsang

Raden Ayu Kartini 

Sumber Foto: en.wikipedia.org

Menjelang Hari Kartini kami mengetengahkan kekaguman kami atas dua peristiwa keberhasilan perempuan. Pertama, mengikuti wawancara Kapolda perempuan pertama, Brigadir Jenderal Pol Rumiah, Kapolda Banten sejak 15 Januari 2008. Beliau disertai seorang Laksamana Pertama perempuan dan beberapa tokoh-tokoh perempuan lainnya pada acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV beberapa waktu lalu.
”Di Banten, kebetulan Kapoldanya perempuan, Gubernurnya perempuan. Kami tidak menghadapi masalah berarti dalam melaksanakan tugas. Kuncinya, kami bekerja sama dengan semua pihak,” kata Rumiah yang disambut tepuk tangan para penonton di studio.

Kedua, 15 April lalu, Sumatera Utara berhasil menempatkan Drs Hj Darmaksiah sebagai Ketua DPRD perempuan pertama di Sumatera Utara. Apresiasi mestilah kita alamatkan kepadanya, mengingat jabatan itu dicapai bukan dengan mudah. Bersaing dengan puluhan laki-laki anggota DPRD provinsi ini.
Mereka berhasil menembus tembok pembatas, di tengah persaingan dengan kaum lelaki!. Secara kebetulan peristiwa ini terjadi di tengah-tengah maraknya gugatan keterwakilan perempuan di legislatif, eksekutif, judukatif dan berbagai jabatan strategis lainnya. Secara kebetulan pula, peristiwa ini muncul di media tidak lama menjelang Hari Kartini. Peristiwa-peristiwa semacam ini seyogianya memberi energi baru para aktivis dan pejuang perempuan yang sedang memperjuangkan emansipasi kaum perempuan.
Apa yang ingin kami kemukakan adalah bahwa dengan kemajuan yang kita capai sekarang di bidang teknologi komunikasi dan perbaikan sistem perpolitikan kita, tidak tertutup kemungkinan perempuan memasuki impian ke jabatan apapun. Sikap, kemampuan, keahlian dan pengetahuan menjadi kunci utama. Pemilu legislatif yang baru akan diumumkan akhir bulan ini jelas bisa ditebak tidak akan mencapai 30% keterwakilan perempuan. Seharusnya bisa, mengapa tidak!
Topik seputar pencapaian keterwakilan perempuan di legislatif menjadi menarik kita kemukakan memperingati hari Kartini karena suasana sehabis pemilu legislatif yang berangsung awal bulan ini. Pentingnya agen-agen perubahan yang berperan dalam mewujudkan peningkatan keterwakilan perempuan di legislatif merefleksikan kembali semangat Kartini.

Keterwakilan 30% dan Pergerakan Perempuan

Berbagai perubahan sistem dan berbagai usaha pemberdayaan perempuan untuk mengisi 30% keterwakilan perempuan di partai politik legislatif ternyata belum membuahkan hasil yang berarti. Perubahan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2002 diluncurkan akhir tahun 2007 lalu, menegaskan secara konkrit porsi 30 persen perempuan dalam pendirian dan kepengurusan partai. Sebuah revisi atas Undang-undang tentang Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, yang sebelumnya baru mengatur soal keterwakilan perempuan di parlemen sekurang-kurangnya 30 persen. Keluarnya undang-undang tersebut merupakan angin segar bahwa peluang perempuan duduk di legislatif akan semakin mulus. Artinya, porsi perempuan di partai sebagai syarat untuk meraih peluang di legislatif
Sistem politik yang sudah memberikan peluang lebih terbuka, didukung teknologi informasi sedemikian canggih, jauh berbeda ketika Kartini menulis surat-suratnya lebih dari seratus tahun yang lalu. Jalur independen terbuka bak jalan bebas hambatan. Kini, siapapun bisa mendaftar, maju sebagai calon legislatif. Baik melalui jalur non-partai (DPD) maupun melalui partai. Menjadi Kepala Daerah bisa masuk melalui jalur independen (DPD). Caleg Partai untuk menjadi anggota legislatif, tidak lagi menekankan nomor urut, tetapi sudah suara terbanyak. Artinya, kalau memang ada di hati rakyat, seharusnya jalannya sudah lempang!.
Tetapi apa yang terjadi?. fakta menunjukkan bahwa lebih 50 persen dari 9 juta pemilih di Sumatera Utara adalah perempuan. Namaun, keterwakilan perempuan di legislatif masih jauh dari angka 30%. Sebut salah satu contoh saja. Dalam pemilihan anggota DPD 2004, prestasi Rohani Darus (mantan Walikota Tebing Tinggi) yang menempati urutan ke tujuh, mungkin akan menjadi legendaris lima tahun mendatang, andaikata prestasi itu tidak dilewati para Caleg unggulan perempuan legislatif DPD, seperti Prof DR Ir Damayanti dan calon perempuan lainnya pada Pemilu 2009. Tak berbeda dengan capaian di legislatif lan seperti DPR-RI, DPRD I dan DPRD II. Memang, minat perempuan dibanding laki-laki untuk maju sebagai calon juga sangat rendah dibanding laki-laki.
Usaha-usaha untuk mendorong perempuan maju ke legislatif bukan tidak banyak dilakukan. Bebeberapa tahun belakangan fasilitasi mendorong peremepuan berperan di politik sudah cukup banyak. Mulai dari program pemberdayaan perempuan, sampai pada pertumbuhan organisasi gerakan perempuan yang sedemikian pesat. Pertanyaannya, apakah arahnya sudah dipahami semua orang yang bergerak.
Jelas, dalam mengejar target 30% keterwakilan di legislatif, perempuan berhadapan dengan fakta laki-laki yang sudah berlari jauh di depan. Ibarat sama-sama berjalan di atas tol, kualitas kenderaannya berbeda. Jadi, harus disadari sejak awal bahwa pencapaian keterwakilan 30% bukan sesuatu yang given, tetapi sesuatu yang harus dicapai dengan perjuangan berat. .
Sedikit kritik menggelitik kami arahkan kepada gerakan perempuan di daerah ini. Kami sering diundang ke pertemuan-pertemuan gerakan perempuan dan senantiasa menemukan puluhan kali pertanyaan : kemana sebenarnya arah gerakan kita?. Ada baiknya kita selami sebuah dialog sebagai penyegar renungan kita. Dialog ini terdapat dalam buku Alice in a Wonderland (Alice di negeri ajaib), yakni antara Alice dan kucing. Suatu hari Alice sampai di jalan bercabang dan melihat kucing di Cheshire di sebuah pohon. ”Aku harus lewat jalan mana,” tanyanya. Jawabannya adalah pertanyaan : ”Kau pergi kemana?”. ”Aku tidak tau,”. ”Kalau begitu,” kata kucing itu, ”jalan manapun tidak ada bedanya”.
Untuk mencapai sesuatu, seharusnya memiliki tujuan yang jelas, yang didasarkan pada analisis akar masalah. Mencari ”kambing hitam” bukan solusi, tapi mulailah terbiasa dengan mencari ”kotak hitam”nya—kotak yang merekam akar masalah yang sebenarnya. ”Kotak hitam” ini memang sangat mahal, oleh sebab itu sering dilupakan. Karena siapa yang menegetahuinya, langsung jadi. Sayangnya orang banyak berkutat pada mencari kambing hitam, karena lebih mudah dan lebih murah biayanya. Jujur saja, bukan hnaya soal perempuan, soal-soal lain kehidupan ini orang cenderung tidak mau mencari ”kotak hitam”. Suara rakyat yang sebenarnya, sehingga mampu memberi tindakan atau respons yang tepat.
Mari sejenak merefleksikannya dengan pengalaman Kartini dibawah ini.

Kartini : Ide Besar dari Ruang Kecil

Suasana kemajuan yang kita capai sejak Kartini menuliskan surat-suratnya tentang persamaan hak laki-laki dan perempuan lebih dari sertaus tahun yang lalu. Kini semua sudah tersedia. Tidak seperti kondisi tatkala RA Kartini hidup, kini perempuan di Sumatera Utara menikmati suasana berbeda. Akses tidak terbatas oleh ruang dan waktu seperti e-mail, mesin pencari yang canggih seperti google, yahoo, media sosial global seperti facebook, akses membaca berbagai jenis buku, kebebasan berorganisasi dan lain-lain kebebasan sudah dimiliki perempuan. .
Akses kepada pejabat juga sudah mampu ditembus tanpa melalui jalur protokoler. Banyak penguasa sekarang sudah membuka akses langsung. Bebas menulis surat kepada presiden secara teratur. Apalagi kini banyak petinggi yang masuk di Facebook. Suara perempuan Sumatera Utara sudah bisa diakses langsung kepada presiden Obama sekalipun. Menyampaikan ide dan melaporkan kondisi perempuan dan strategi pemberdayaan perempuan. Bahkan, kini sudah bebas membuka medua, tanpa SIUPP seperti di zaman Orde lama. Bebas menciptakan website sendiri atau setidaknya blog mengkomunikasikan visi—yang mampu merubah paradigma bangsa Indonesia atas perlakuan diskriminasi terhadap perempuan.
Barangkali, spirit yang dimiliki Kartini yang membedakannya. Kartini mengungkapkan jeritan perempuan dengan tulisan tangan--menggoreskannya di atas kertas. Dari sebuah kamar ”pingitannya: di rumah keluarganya di Jepara, Jawa Tengah. Tanpa fasilitas, aturan dan kemewahan seperti yang kita miliki sekarang. Harus memasukkannya dalam amplop, sembunyi-sembunyi mengantarkannya ke kantor pos atau melalui kurir. Kartini mampu menembus dinding pembatas untuk menyampaikan suara kaumnya. Ide-idenya diakui brilian oleh bangsa Indonesia, kemudian membangkitkan spirit yang hidup di hati masyarakat dan merubah paradigma para pemimpin.
Surat-surat Kartini kemudian dirangkum dalam sebuah buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Sebuah adalah cita-cita, visi yang terkomunikasi kepada orang-orang yang seharusnya bertindak. Surat-surat itu unggul karena pesannya yang menyentuh kepentingan mendasar perempuan Indonesia saat itu. Meskipun komunikasi idenya belum melalui sebuah teknologi “internet” atau animasi canggih seperti sekarang ini, namun pesannya sangat jelas.
Kartini kemudian menjadi sebuah simbol “Putri Sejati, Pendekar Kaumnya untuk Merdeka”, seperti dilukiskan dengan indah dalam penggalan lagu yang diciptakan WR Soepratman. Buku yang berisikan keluhan akan “pingitan” yang membelenggunya dan cita-citanya ingin bertumbuh dan memiliki kesempatan seperti kaum lelaki adalah tuntutan perempuan yang seharusnya diberikan, kalau tidak negara akan terbelakang.
Visi seorang Kartini menjadi sebuah nilai yang lebih menonjol ketimbang aktivitasnya di masyarakat. Kartini meninggal diusia 25 tahun, saat melahirkan anaknya, demikian menurut sejarah yang kita pelajari sewaktu di Sekolah Dasar. Kartini tidak memanggul senjata atau memimpin gerakan. Bahkan tidak pernah memimpin demo, seperti gerakan perempuan sekarang ini. Kekuatan Renungan pribadinya, kemudian menjadi spirit yang menyentuh seluruh bangsa Indonesia merupakan keunggulan Kartini dari tokoh perempuan lainnya. Seorang perempuan yang tidak lahir melalui “dropping” dari atas. Ketokohannya lahir dari pergumulan, pemaknaan serta perumusan kondisi yang mewakili masyarakat perempuan saat itu. Hingga menciptakan visi yang lahir dari konteks jamannya. Melahirkan isi pesan dan strategi komunikasinya.
Kemampuannya membuat konten atau pesan yang disampaikan kepada masyarakat luas tidak dilahirkan dalam hitungan bulan seperti banyak caleg kita sekarang ini. Dia lahir dari sebuah pergulatan panjang. Semangat Kartini ketika menelorkan ide-idenya, seharusnya perempuan menjadi renungan bagi perempuan menembus hambatan-hambatan masih dirasakan saat ini. Satu lagi ”Kuncinya, kami bekerja sama dengan semua pihak,” seperti diungkapkan Brigjen Rumiah di atas. Tidak eksklusif!
”Jika wanita pertama seperti Evepun bisa menciptakan sejarah baru peradaban dunia hanya dengan sebuah gigitan jari dari Taman Eden, apa yang membuat anda berfikir, Anda tidak bisa?” Women Weekly # Best Recommendation dalam buku 100 Wanita yang Mengguncang Dunia. Selamat Berjuang!

Selamat Hari Kartini 21 April 2009!

Dimuat di Harian Analisa 21 April 2009
harangansitora@gmail.com. Website : www.harangan-sitora.blogspot.com

Minggu, 26 April 2009

Kisah Menulis Buku Biografi



Secara formal saya tidak pernah belajar menulis biografi, apalagi belajar sastra. Cuma dulu Sejarahku di SMA 9 terus. Saya suka sejarah, juga biografi cerita tentang perjalanan hidup.

Melewati rentang waktu, sejak 2002 saya menulis lebih dari 10 buku biografi dan otobiografi. Belajar menulis biografi layaknya seorang anak masuk kolam renang sendirian. Memainkan gaya batu, kemudian tenggelam. Bangkit ke permukaan. Ganti gaya dada, gaya punggung, gaya bebas, hingga akhirnya bisa menuliskan pengalaman baru tentang berenang.

Pengalaman saya tentu berbeda dengan mereka yang pintar teori berenang, tetapi tidak pernah terjun ke kolam renang. Atau mereka yang belajar banyak teori kemudian menulis biografi atau otobiografi. Saya tumbuh sendiri dari lapangan. Belajar dari nol dengan mengacu pada pengalaman-pengalaman orang yang lebih dulu menulis biografi dan otobiografi.

Langkah demi langkah saya  lalui dengan semangat, ketekunan dan fokus. Kekurangan saya sempurnakan dengan buku-buku teori. Kritik serta masukan dari pembaca kujadikan sebagai penjaga roh. Enam tahun kemudian, ribuan pembaca buku biografi di daerah Sumatera Utara dan daerah-daerah lainnya sudah menikmati hasil tulisan saya.

Bagi rekan kami di Sumatera Utara atau di provinsi lain yang ingin megikuti jejak kami, khususnya yang ingin terjun memberikan sumbangan bagi daerahnya melalui penulisan otobiografi atau biografi silakan ikuti sekilas kisah saya dibawah ini. Kalau tidak menarik, saya mohon maaf!

Memulai : Talenta, Ketekunan dan Keinginan Belajar!

Menurut banyak orang, pengalaman saya cukup unik. Saya bangga dengan itu. Tak berbeda dengan kisah yang kutulis dalam 10 buku biografi yang mungkin sudah ada di tangan anda. 

Memasuki dunia kerja sejak 1985, saya mengalami beberapa kali alih profesi. Setelah bekerja di berbagai bidang mulai dari survey tanah, dosen, wartawan, asisten ekonomi, kemudian demand forcaster di perusahaan telekomunikasi. November 2001, PRAMINDO--KSO Telkom di Sumatra melakukan PHK besar-besaran akibat kebijakan pemerintah Indonesia memutuskan 5 kontrak KSO di seluruh Indonesia, yang seharusnya berakhir 2010. Saya kembali menghadapi PHK untuk kesekian kalinya.

Berbagai pilihan terbuka. Tapi, saat itu tidak ada niat memburuh lagi—bahasa kerennya jadi karyawan lagi. Saya mau usaha sendiri. Tidak diatur-atur, saya bisa berkreasi. (Meskipun niat ini tidak pernah tercapai sepenuhnya). 

Pernah dalam sebuah training manajemen, sang trainer berkata ”Kerjakanlah apa yang anda sukai, membuat anda terkenal, meski tak digaji anda mau mengerjakannya. Itulah talenta anda”. 

Wah, wah, wah. Bagiku, yang memenuhi kriteria di atas hanya menulis. Sebelumnya saya senang menulis, membuat laporan. Orang-orang disekitarku bilang aku penulis. Walau sebenarnya tulisanku tak sebagus karya temanku Bersihar Lubis atau J. Anto, apalagi Dee si penulis Supernova. Jauhlah!.

Tapi, mungkin dasar talenta ya. Apa yang terjadi kemudian memang saya memilih menulis. Saya bercerita panjang lebar dengan saudara-saudaraku, teman-temanku di Jakarta tentang rencanaku. 

Ada yang bilang bagus, ada yang kaget tertawa. ”Mana mungkin,” katanya. Bagiku sendiri ada sedikit pergulatan. Masa itu, penulis belum merupakan profesi yang menjanjikan. 

Sekarang memang sudah makin baik dan makin terbuka kesempatan lho!. Dalam kondisi seperti ini, banyak bisikan yang mengganggu. Layaknya Alice in a Wonderland. Berada di persimpangan jalan dengan banyak arah atau keinginan. 

Mau menulis tapi tidak yakin, uangnya ada. Tapi mau jadi apa?

Dalam kondisi di persimpangan seperti itu, akhirnya saya tetap memilih talenta saya. Menulis masuk dalam prioritas teratas pilihan sebagai profesi. 

Kebiasan belajar dari buku, sudah lama kualami. Apabila belajar sesuatu yang baru saya lari ke toko buku. Saya percaya buku, kemudian saya kunyah sendiri. 

Buku karya Herman Holtz (2000) benar-benar mengilhami saya. How to Start and Run a Writing Business : Memulai dan Mengelola Bisnis Penulisan dan Penyuntingan,demikian judul buku itu. Writing business!. 

Sayangnya, buku itu seolah membisikkan sesuatu hal yang mustahil saya kerjakan. “Memasuki bisnis penulisan anda harus menulis sebuah buku”!, demikian kira-kira konklusinya. Menulis buku,…menulis buku….?. 

Beberapa kali saya harus bertanya dalam hati. Sebuah pekerjan yang tak mungkin kulakukan, walau pernah kuimpikan sebelumnya. Saya gagal mendaftar masuk S2 di IPB tahun 1990, karena belum ada karya saya dipublikasi oleh majalah yang memiliki ISBN. 

Walau pernah menulis laporan, profil atau berita, tetapi saya tidak pernah memiliki keahlian yang mendalam dalam satu bidang. Jadi wartawan, analis ekonomi, politik, bahasa Inggeris dan lain-lain. Tapi, semuanya otodidak, bukan melalui pendidikan formal, jadi bukan ahli—dugaan salah yang sering dijuluki orang terhadap diriku. 

Dulunya pekerjaan itu saya terima karena harus membiayai anak-anak!. Meski terasa berat, saya harus lakukan, walau kadang tidak kunikmati. Tetapi, penderitaan membuahkan pengetahuan dan hikmat.
Buat anda tau, salah satu kegemaranku adalah membaca buku-buku biografi. Mungkin pernah baca ”Siapa menabur angin akan menuari badai”?. Kulahap sampai beberapa kali. Kalau sudah membaca buku seperti ini, lupa deh segalanya, kecuali merokok, he..he.he!.

Oh, mengapa tidak saya coba dengan biografi, ya!. Aku bolak-balik buku biografi Muhammad Hatta, Mahatma Gandhi, Jenderal Nasution, Yoga Sugama, Soekarno. Tidak begitu sulit. apakah benar talentaku menulis melalui biografi?. ”Bisa,” aku berteriak dalam hati, karena tidak ada orang di sekitarku.

Memang, awalnya ide masih samar-samar, karena saya belum pernah melakukannya. Makin jelas kemudian setelah mempelajari berbagai buku teori-teori yang ada di internet. Biografi merupakan pilihan yang realistik bagiku. Dalam pengertian saya ketika itu, biografi tidak lebih dari pengembangan profil. Ternyata, sebenarnya tidak sesederhana itu.

Nikmatnya Buku Pertama!

Meluncurkan buku pertama memberikan kenikmatan yang luar biasa. Tapi tunggu dulu! Membuatnya membumi, bisa dilaksanakan dan menguntungkan, bukan hal yang gampang. Tak semudah membalik telapak tangan!

Membuat proposal, itu hal yang mudah, itu pekerjaan saya sejak dulu. Dari buku dan contoh-contoh dari buku-buku biografi, saya mampu. Banyak teman yang bisa membuat proposal yang berapi-api, tapi tak pernah dapat proyek.

Menjual proposal, tidak semudah menyusun proposal. Berbulan-bulan saya menawarkan proposal kepada calon klien. Hasilnya nihil!. Tidak ada yang tertarik. Namun, keyakinan saya pasti ada sekelompok orang yang membutuhkannya. Tapi belum tau siapa. Dalam analisisku ketika itu, mereka adalah orang-orang yang ingin sebuah proses kehidupan tidak ingin mereka lewatkan hilang begitu saja, tanpa berbagi dengan orang lain.

Keyakinanku terbukti kemudian. Sekitar April 2002, usulan penulisan buku biografi pertama saya mendapat persetujuan. Tokohnya adalah Jahodim Saragih, ayah kandung Prof Dr Bungaran Saragih yang saat itu menjabat Menteri Pertanian Republik Indonesia. 

Keluarganya menugaskan kami membantu menuliskan kisah orang tua ini dalam buku. Targetnya sekitar 4 bulan, karena akan diluncurkan 9 Agustus, saat Ulang Tahunnya ke-88. Artinya saya butuh empat bulan untuk mempersiapkannya.

Tanpa gangguan berarti saya melakukan wawancara dan riset. Meski usianya sudah uzur, namun orangnya sangat mengesankan. Dari sebuah desa di tahun 50-an, Jahodim sudah berlangganan majalah luar negeri untuk dibaca anaknya. Pantas aja pak Bungaran bisa jadi orang pintar,jadi Menteri. Dia rendah hati. Meski anaknya sudah Menteri, tetapi pola pikir dan hidupnya sangat sederhana. Bukan kampanye lho!.

Akan tetapi, suasana membingungkan kemudian muncul setelah penulisan buku berlangsung hampir separuh jalan. Rekanku seorang dosen, mengatakan bahwa biografi harus ditulis seperti karya orang-orang luar negeri. 

Dia menyebut Mahatma Gandhi, Soeharto dan Shoe Hok Gie. Ketiga buku itu memang bagus. Tetapi apakah aku mampu, apakah waktunya cukup, apakah uangnya cukup? Tidak mungkin menulis biografi sekualitas itu dengan kondisi seperti itu. Memang, dia asbun saja. Ternyata saya ketahui di kemudian hari, dia belum pernah buat biografi. Saya kemudian harus memeras keringat.!

Tapi, saya bukan orang bodoh yang mudah saja dipengaruhi. Memang, saya juga ingin suatu saat seperti para penulis unauthorized biography-melakukan pendekatan akademik dalam menulis biografi. Sebut saja John Maxwel yang menulis biografi Shoe Hok Gie : A Biography of a Young Indonesian Intellectual : Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, 2001. 

Mereka memiliki anggaran yang besar dan kemampuan intelektual yang tinggi serta jaringan pemasaran yang sangat canggih. 

Meski sudah menulis 10 buku biografi saya masih memilih kelompok authorized otobiography dan biography. Mengandalkan anggaran yang disediakan pemilik biografi. Setahu kami, dari berbagai referensi, Indonesia sendiri belum banyak melakukan penulisan seperti dilakukan John Maxwell. 

Yah ”tak ada rotan, akarpun bergunalah!”. Lakukan perbaikan, perbaikan dan perbaikan.

Singkat cerita, buku tersebut selesai tepat beberapa hari sebelum perayaan Hari Ulang Tahunnya. Buku yang diberi judul ”Bukan Harta Duniawi” itu dicetak 1000 eksemplar dan diperuntukkan bagi kalangan sendiri.

Kalau mau nulis biografi, anda akan rasakan nikmatnya peluncuran buku pertama. 

Sebuah pengalaman baru, mulai dari persiapan sampai pelaksanaan acaranya sendiri. Bangga, terharu dan khawatir (atas isi buku) berbaur menjadi satu. Puncaknya adalah saat memberikan kesan tentang proses penulisannya sendiri. Anda bisa bayangkan, kalau berjalan tanpa menyentuh tanah. Demikianlah perasaan saya saat menaiki panggung menyampaikan sambutan di depan ribuan tamu-tamu terhormat.

Peluncuran buku pertama memberi modal yang sangat mahal bagi perjalanan karier menulis selanjutnya. 

Penulisan sebuah buku otobiografi atau biografi, ternyata memerlukan perencanaan yang matang. Menulis biografi harus mempertimbangkan kemampuan, waktu dan biaya yang tersedia. Terima kasih untuk pak Bungaran dan Keluarga!. Sekaligus rasa kagumku pada bapak Jahodim. (Saya turut berduka atas meninggalnya beliau Januari 2009 lalu).

Selain itu, saya melihat betapa sebuah buku seperti ini mampu menumbuhkan minat baca, khususnya bagi keluarga dan mereka yang terlibat langsung dalam cerita. Tak ketinggalan, mereka yang pernah mengetahui sang tokoh.

”Banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui tentang bapak saya selama ini mampu diungkapkan dalam buku ini,” demikian Prof Dr Bungaran saat menyampaikan sambutannya. Memang itulah uniknya biografi.

Tidak seperti saya bayangkan sebelumnya, media lokal meliput pristiwa ini dengan porsi halaman yang cukup menggembirakan. Media tertarik pada biografi. Nama penulisnya ikut terkenal, hebat kan!

Ketagihan Buat Buku

Sama dengan membaca, kalau sudah menulis biografi, rasanya lupa segalanya. Bahkan kadang-kadang saya lupa apakah saya punya uang atau tidak. 

Wawancara dengan berbagai ragam manusia, cukup mengasyikkan, observasi ke lokasi yang belum pernah kukunjungi sungguh memberiku pengetahuan baru, meperkaya wawasanku tentang daerahku, orang-orang di sekitarku, tentang bangsaku. 

Pembaca buku yang saya tulis acapkali bercerita tentang nikmatnya mereka membaca buku yang pernah kutulis, terbukanya pikiran mereka atas pentingnya perjuangan dalam sebuah kesuksesan. Ucapan syukur mereka yang tulus padaku. Minat baca mereka tumbuh!. 

Itulah keindahan-keindahan yang kubayangkan setiap ada tawaran penulisan biografi. Tidak terasa capek.

Selama enam tahun sejak 2002, saya telah menghasilkan sepuluh buku biografi. Buku ”Berkarya di Tengah Gelombang” yang diterbitkan TD Pardede Foundation dicetak lux sebanyak 2500 eksemplar. Selain dibagikan pada acara peluncuran 3 Desember 2007, juga dijual di toko-toko buku. Beberapa toko buku di Medan sudah kehabisan stok. Demikian juga buku ”Anugerah Tuhan Yang Tak Terhingga” yang diterbitkan WEB dicetak sebanyak 3500 eksemplar sudah habis di pasar.

Melihat minat baca masyarakat terhadap jenis buku seperti ini, saya yakin profesi menulis biografi menjanjikan di masa mendatang. Bukan hanya dari sisi financial, tetapi upaya meningkatkan minat baca rakyat. Tentunya harus dengan usaha-usaha perbaikan terus menerus. 

Pengamatan kami khususnya di Sumatera Utara, meningkatkan kualitas penulisan dan strategi pemasaran yang lebih baik. Buku-buku yang kami tulis baru dalam taraf pemikiran penulisan, belum sampai pada strategi pemasaran. Ada beberapa buku sebenarnya memiliki nilai jual besar. Ini merupakan tantangan baru ke depan.

Saat ini, saya sedang mempersiapkan sebuah buku biografi baru. Nanti dikasi tau kalau sudah selesai.

Sayangnya menulis biografi saat ini baru taraf nama tenar. Belum menjanjikan seperti di Negara-negara maju. Bayangkan, seorang penulis memasang tarif Rp 0.35 dollar per kata, hebat kan!. D Sumatera Utara, seorang penulis biografi seperti saya, harus berjuang setengah mati mencari tambahan penghasilan—memenuhi kebutuhan anak-anak yang kuliah dan sekolah. Sejak menulis biografi enam tahun yang lalu, kami harus nyambi bekerja di berbagai lembaga seperti Manajer Kampanye, Konsultan PR, ataupun terlibat dalam program lembaga NGO, menulis artikel di media cetak.

Proses dan Tim di Balik Penulisan Biografi

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, saya tergolong kepada penulis authorized otobiography dan biography yang masuk dalam authorized (diketahui sekaligus dibiayai pemiliknya). Menulis biografi jenis ini, selain proses panjang, juga melibatkan orang-orang. Disamping menulis, juga dituntut kemampuan manajerial atas sebuah tim yang terdiri dari penulis, editor, fotografer, disainer, logistik dan keuangan.

Tau nggak anda, saya tidak sendiri. Di belakang penulisan sebuah biografi berdiri pribadi-pribadi yang berdedikasi dari berbagai keahlian. Mereka adalah J. Anto (editor), Bersihar Lubis (editor), Pittauli br Purba (editor), Eduard Sinaga (fotografer), Rupinus Tarigan (pewawancara), Kennedy Hutasoit (pewawancara) Herdy Tampubolon (supporting), Sijo Sudarsono (desain grafis), Erwin Saragih (percetakan dan desain grafis), Japorman Saragih (keuangan), Boy Sembiring (dokumentasi dan riset), Erna Sinulingga (administrasi), Hans Immanuel Girsang (asisten dokumentasi dan riset). Tetapi mereka adalah free lance dan hanya bekerja sesuai order saya. Wawamcara dengan sang tokoh dan beberapa sumber dan penulisannya berada di bawah tanggungjawab saya. Beberapa diantaranya sudah tidak terlibat aktif lagi dalam tim, karena full time bekerja di tempat lain. Beberapa hanya bekerja ditempatnya sesuai keahliannya. Jangan lakukan sendiri, terlalu capek!.

Salah satu keunikan pengalaman kami dalam penulisan biografi, faktor anggota keluarga ternyata harus menjadi bahan pertimbangan. Mereka memiliki aspirasi dan kadang sangat menentukan lancar tidaknya pekerjaan. 

Sejak awal, tim harus melibatkan para anggota keluarga yang berpengaruh pada penulisan. Penulis harus memiliki kemampuan mengakomodasi aspirasi anggota-anggota keluarga inti dan sumber-sumber informasi yang berkaitan dengan penulisan. 

Ingat ”tetaplah pada prinsip-prinsip penulisan yang sedapat mungkin tidak bias, tidak membuat orang lain teraniaya dan tidak mengandung unsur SARA”. Ada ketentuan yang harus dipatuhi, ikutilah.



Jumat, 17 April 2009

THE RT. REV. DR. ARMENCIUS MUNTHE BIOGRAPHY


“The Unlimited Mercy of God”

As told to :  St. Ir. Jannerson Girsang

Reverend Armencius Munthe was a former bishop of GKPS (Simalungun Christian Protestan Church) who passed away in July 25, 2009. This is his English version short biography, translated by Cross Way Intenational, USA. In addition to his service among various different churches in Indonesia, Munthe has written tens of books. He left his wife Floriana Tobing and four children. One of his son is studying for his doctoral in teology in a university in Singapore. 

CHILDHOOD


Separated from Parents

I was born on February 12, 1934 – on Monday – in the village of Pangambatan, in Karo District. It is a small village located in the tourism area of Sipiso-Piso Waterfall – a beautiful tourism spot in Northern Sumatra. Aek Bolon, a small river that flows through the village is the source of water for the famous waterfall. This village is located at the border of Simalungun and Karo District. Although this place is in the administration area of the Karo Districts Government, most of the Pangambatan villagers are from Simalungun tribe. Simalungun is the commonly spoken language and most of the villagers – who are mostly farmers - can also speak the languages of Karo and Tapanuli.
My father was Djalias Munthe, and my mother, Honim Girsang (she passed away in September 2006). I am the eldest of six children (five sons and one daughter). According to my mother, when I was one year old my grandfather (my father’s father) took me from Pangambatan to his village in Lingga Tonga in Dairi District. The reason was because he needed a companion in at home. I was reared by him until I was seven years old. When it was time for me to attend school, I returned to my parents’ house in Pangambatan.

Father Died and We were Refugees for Six Months
I completed the Elementary School (SR) until the third grade because in our village the school was provided only up to the third grade. Then I moved to Saribudolok which was about 10 miles away to continue on to fourth grade. Some friends and I had to stay with relatives. We brought our supplies from our village and cooked for ourselves. For the first year I stayed with an older cousin, Mora Saragih who was still single at that time.
We would visit home once every six months to replenish our supplies. The first time we went home, my friends didn’t want to go back to school anymore. I was tempted not to go back, I stayed three days longer than I should. My father was curious, but I lied by telling him that we still had three more days off from school. My father understood. But when I still didn’t want to back to Seribudolok until the third day, he became very angry. He took a broom and said he would hit me if I didn’t want to go to school anymore. He was very different with my friends’ fathers who didn’t care whether their children went back to school or not. This scared me, so I changed my mind and decided to return to school. (“Not until later in my life that I thanked my father for his insistence. If he had not been so strong, I would have probably be a farmer still living in that village like my other friends”).

The second Aggression with the Dutch in 1947 brought us much sorrow. My father was shot to death by the colonialist. He was the head of the village and a mayor sergeant in the Civil Army. This unfortunate incidence started when the villagers started a fire to burn the village. To help the situation, my father went around and called out to the villagers not to burn their own villages. It was November 27, 1947. My father was on his way to call out people who were in their hiding places when he was caught by the Dutch. They killed him. Since the situation was not safe yet, he was buried in the field in a hurry with no casket or any funeral ceremony. Meanwhile, the Pangambatan villagers were ready to flee. My family went to Lingga Tonga, in Pakpak Dairi. We walked on foot for two days through the Sibuatan mountains. We stayed in Lingga Tonga for six months.
When the situation was safe again, we returned to Pangambatan. The district government of Karo moved my father’s tomb to a special cemetery near our village. I then became like my friends who had quit school earlier, worked in the field.

There was a time when I felt the desire to go back to school again. When I told my mother about it, she agreed. The reason I thought I wanted to go back to school was my weak physical condition preventing me working physically. Before long I was encouraged to go back to school since I was no longer expected to help in the field.
I became very motivated to study after those few years out of school. I stayed with Teacher Dj. Petrus Purba (later became Pastor Dj. Petrus Purba). He used to be a teacher in our village before he moved to Seribudolok after the refuge. There were about 15 students from Pangambatan and Purba Saribu who stayed at his house. We listened to his sermons every night. Finally I “marguru tardidi” (Baptism class) and received my baptism and confirmation at the church, Huria Batak Kristen Protestan (the Protestant Church of Batak) in Seribudolok on June 11, 1950. My mother didn’t know I was baptized. Otherwise she would have prepared a big meal for the occassion. I recall after the church service my friends and I went for a walk on the main road – Sutomo road today. At that time, all of my family hadn’t been baptized and still believed in pelbegu religion (heathen).

I graduated from the Elementary School in 1950. It took me eight years to complete instead of the usual six years. This was because of the aggression, the death of my father and living in a refuge.

TO THEOLOGICAL SCHOOL

No Hindrance for God’s Plan
After graduating from elementary school, I registered at a Junior High School, SMP 1 in Pematangsiantar and graduated in 1953. During my SMP, I liked to read ‘Immanuel’ – the monthly magazine of HKBP (Batak Lutheran Church). I learned about the Good News, the Church and the Theol. School from that magazine.

After my graduation from SMP, I read an advertisement in the magazine about the registration for new students in Sipoholon Seminary. I submitted my application and reported to Pastor A. Wilmar (who was the General Secretary of HKBPSimalungun at that time) only to be told that the allocation from the HKBPS was only for two people and they were already decided, Umbersius H. Simbayak and Gustaf Saragih. When I left the office I met Gustaf Saragih who mentioned that he was not interested in going to the Seminary.
With a little hope, I returned to the General Secretary’s office and reported that Gustaf didn’t want to go to Sipoholon Seminary although he was already registered as a candidate. The Secretary did not seem to believe me and asked to send for Gustaf. I was then asked to bring a letter to Gustaf. When I met him, he insisted on not going to the Seminary. It was his family who later came and reported formally that Gustaf was more interested to go to a Nursery School.

That was my chance to study at the Seminary, replacing Gustaf. I went home to Pangambatan and told my mother about it. A Theological School was a strange thing for my family since they were not Christians yet.

(Considering our family’s finances, I had never thought of continuing my study until college, much less studying in Germany. I also enjoyed traveling to several countries, as well as being one of the Church Leaders of GKPS.)

Some of our relatives even despised me and accused me of being presumptuous. “Na so mambotoh dirini do ambia on, bapana pe lang adong be, lao homa hu sikola pandita. Lang anggo ibuat sikkola na martulahe”, (“This person is being presumptuous, his father has died. Why doesn’t he just attend a school that would grant him a scholarship”) they said. There was a scholarship or ‘tulahe’ if you entered into the Teacher Training School for Higher Education at that time. My mother was the only person who told me “Goodbye” when I left for Sipoholon.
I left for Sipoholon on September 27, 1953 even though the school already started on September 15, so I was late. Before leaving, I talked to my uncle, Iskander Simanjorang, a son of my great aunt’s. He was the one who always encouraged me to enter Theological School. He himself had continued his study to the Teacher Training School for Elementary Education in Pematangsiantar and received a scholarship. “I will contribute some of my scholarship to you only if your study goes well,” he said. His words really encouraged me.

(He kept his promises and sent me some money for two months. God’s blessings came later and I received my scholarship from the Seminary in my second year. What I learned was, even if our good help for others seems small, it could encourage them to move forward).

The night before I left, my uncle offered to conduct a service for me. He preached from Ephesians 3:20. (…Him –God- who is able to do immeasurably more than all we ask or imagine)
I left for Sipoholon on a horse-drawn carriage from Sirongit market, near Tarutung carrying a suitcase and other supplies. Riding on a horse carriage was a luxurious thing at that time. I was met by my friend, Umbersius H. Sumbayak who was already there in Sipoholon and also was welcomed warmly by a professor, Rev. F. Siregar, who spoke Simalungun fluently because he once taught at the Pastoral School in Pematang Raya. I was so happy to meet them.
When I started to study, I realized I had missed some of the lessons. Some friends helped by giving me their notes so I could catch up. (Sipoholon Seminary was an institution that managed some education fields. One of them was a course of study for Theology for graduates of middle schools (year 10), which required a five year course of study. The graduates would be Junior Theology Bachelors who could be ordained as pastors. That was the school I attended).

I studied in Sipoholon for just one year. In 1954, my Theological School moved to Pematangsiantar because the University of HKBP Nommensen had just opened and included of a Faculty of Theology.
The professors at the Faculty of Theology were mostly Germans and Indonesians who graduated from Germany. There were also some from the USA, India and Norway. Their culture had changed our way of studying and discipline. Besides, I was encouraged to study hard. I graduated from my Theological School in 1958.


To be a Pastor: For Money?
I was ordained as a HKBPS pastor on June 15, 1958 and started to work as a Junior Pastor in a parish in HKBPS (Huria Kristen Batak Protestan Simalungun) Medan. I only worked in this situation for two months because the council of professors of the Theological Faculty had asked the Leaders of HKBPS to send me to continue my study at the Nommensen Faculty of Theology in Pematangsiantar in order for me to get my full Bachelor degree. The Church Leaders agreed through an Executive meeting.

This new assignment shocked me. I intended to decline by meeting Pastor J. Wismar Saragih, the Vice Ephorus of HKBPS in Pematangsiantar. I planned for my strategy and argument to decline the assignment on the way to his house. My main reason was our family’s financial situation. My father had died, my mother was just a farmer and my younger siblings still needed financial help.
When I met the pastor at his home, I tried hard to persuade him not to ask me to continue my study. While I was speaking, he allowed me to give my arguments until I had no more word left to say. After that he prayed. Finally I got his advice. He sent me to the door and reminded me that continuing my study was for the progress of Simalungun. Later I admired him as a person who had encouraged me. I owe him much.

After completing my study in 1961, the Church Leader of HKBPS appointed me as a Parish Pastor in Saribudolok HKBPS. I enjoyed the job and started to mingle with the congregation. Unfortunately, it was only for six months because the Church Leader of HKBPS asked me to continue my study in Germany, as recommended by the Council of the Theological Faculty’s Professors of Nommensen.
This time I didn’t decline the assignment as I had done before. I remembered Pastor J. Wismar Saragih’s words that to study was surely for my own progress and for Simalungun’s future.


STUDY IN GERMANY

Belawan – Bremen: Five weeks
I went to Bremen (Germany) with Umbersius Sumbayak. We departed through Belawan by a trade ship, Hoescht. It took us five weeks through the Suez Canal. I remember that for some days all we could see were just the ocean and sky. I experienced the fierce waves of the Pacific Ocean which until that time I only heard it from my history lessons. The waves rocked the ship from side to side although they weren’t dangerous. Finally, we arrived in Bremen safe and sound. Entering one of the big harbor cities in Germany was a strange experience for me. Everything was new for me. We were met by a Mission’s car and then headed for Wuppertal, Barmen.

STUDY IN GERMAN

Belawan-Bremen : 35 Days
Although we had studied German in Indonesia, we had to attend an intensive course in German for several months in Wuppertal – Barmen. It was the center of RMG. We lived in the Missionshaus. After the study, I moved to Hamburg where the State University of Hamburg was located, it was about 400 kilometers away.

During my college years I lived in the Missionsacademy dorm with some other foreign students. Each of us had our own room. Breakfast and dinner were provided for and we all ate together in a room while we all ate lunch at the university canteen.

Hamburg University: For knowledge not degree
Studying at the Theological Faculty of Hamburg University opened my mind to new things. The professors, study facilities and discipline of study were very good. One subject was taught by two professors and assisted by four assistants who held Theology Doctorate degrees. The library was fully equipped with all the books that we needed.

During my study in Germany, the students who had a scholarship were given chances to visit the churches there. During our long vacation, RMG assigned us to go to churches that held mission festivals. Besides preaching, we also talked to the congregations about the mission activities in Indonesia to the congregation.
Finally I completed my study in Hamburg University in 1965, exactly according to the time decided. After intensive research in libraries I wrote my theses entitled “Die Deutung des Christenleidens im Ersten Petrusbrief (The Meaning of Christianity’s Sufferings in 1 Peter).” The title was inspired from the lectures of Prof. Dr. Leonhard Goppelt about the interpretation of the Epistle of Peter. The main point was, even though we had sufferings in our lives, we shouldn’t lose faith. God provides in many ways which we never think of.

From Prof. Leonhard, I learned about the philosophy of simplicity and philosophy of studying at school. He always stressed the important of “Back to the Bible”. Besides, he was always an efficient person (went to work by train, never used a car). He also taught us about studying for knowledge so that we could solve problems and not for getting degrees. I have always admired him that every time I travel abroad, I always look for his books. In the USA, some of his books have been translated into English. A strong discipline made me pass. I could defend my thesis and graduated well. In Germany, before having our thesis examination, we had to have some written tests from subjects such as Old Testament, Church History, Practical Works and Oikumene and it took three hours for each of them.
Before returning to Indonesia, RMG asked me to teach Indonesian to Pastor Dr. Ulrich Beyer who would be a professor at the Theological Faculty of HKBP Nommensen in Pematangsiantar. Later Dr. Beyer was sent to London to study English.

So I was assigned to accompany him, to teach Indonesian and also to learn English at the place where he studied for two months. Dr. Beyer left to Indonesia while I was in London. RMG gave me another month to study English.
In a short time of two months Dr. Beyer had mastered the English language well. I heard that when he first gave his lecture, he gave it in Indonesian which had surprised everybody since it was his first time he had ever visited Indonesia. He mastered the language quickly with perseverance and discipline.


Longing for ministry
After completing my English course in London for three months, I returned to Indonesia by Hoescht, the same trade ship that I took when I left, also the same route we took. I longed to go back to serve the congregation in Simalungun which I had not seen in four years. I missed my mother, a strong woman who struggled alone after our father’s death when my youngest sibling was still in her womb. She worked hard for her children, including me until I completed my Magister Theologiae. I missed my fiancée, Floriana Tobing. We had been engaged before I left for Germany. I missed my dead father who was shot dead by the Dutch in 1947 when he was fighting for his countrymen. I missed my siblings who always prayed and encouraged me. I missed my uncle, Iskander Simanjorang, Tigaraja Nagasaribu who encouraged me to study at Theological School.

My longings grew more when the ship was closer to Belawan. By the last days on board I was so bored. I could not wait to disembark. I praised God when we finally we arrived at Belawan.
I was met by my relatives from Medan who came with some people from our village, including my mother. My fiancée, Floriana Tobing was waiting for me at GKPS Hang Tuah. They were all so happy to see me and welcomed me with tears in their eyes.

MINISTERING A CHURCH

A Short Ministry
When I came from Germany, the Church Leader of GKPS appointed me as the Evangelist Pastor – the one to do all evangelizing work in GKPS and had to live in Hang Tuah, Medan. Pastor Umbersius H. Sumbayak was the Parish Pastor at that time.

Our country’s economic situation was not good. The value of money was declining, inflation was high and the social condition at that time was very much adversely affected by the September communist uprising. Some in the congregation were suspicious of one another. They needed a more intensive teaching of faith. Not long after, I noticed that the number of church members who longed to go to church increased.
Although ministering to a church had been my longing, my ministry in that position only lasted a short time. I was an evangelist pastor for only six months. The Church Leader of GKPS – per request of RMG - assigned me to Banua Niha Keriso Protestant (BNKP) to be a teacher in Ombolata Seminary in Gunung Sitoli, Nias.

Hang Tuah was a historical place for me. I married Floriana Tobing there on June 15, 1966. Floriana was one of the first nurses from Batak who was sent to Germany in the 1950s. She was working as a nurse at Bethesda Hospital Seribudolok when we got married. We were married by Pastor Lesman Purba, the former General Secretary of GKPS.
Three months after we got married I was assigned to the island of Nias. The congregation of GKPS did not want me to leave them, in fact some of them planned to make a petition to the head office of GKPS. They might have thought that after studying abroad why should I minister in another church. I tried to explain to them when we met that my assignment was a response to a request by RMG and that I was glad to go there. They understood and cancelled their plan to petition the head office.


OMBOLATA SEMINARY

On foot for one and a half days
Our assignment to Nias was like a ‘honeymoon’ gift, within the providence of God’s plan. He was preparing something good for me. We left by ship from Sibolga to Nias, a place I had never been to and only heard in stories. We were accompanied by Pastor C. Sipayung to Ombolata. Ombolata Seminary was an education center like Sipoholon Seminary in HKBP. I was to teach the pastors, overseers, elders and deacons. The materials to be taught were related to the Bible, church and Christian Education (PAK).

Dr Toepperwein – a staff of RMG was already working there as the Seminary Director. There were also some pastors from Nias who worked there as well as some staff.
The traditional kings of Nias welcomed us with open hands and really appreciated our work. They often sent us fruit during the crops and also “jambar” – the gift of meat at a party. Those were signs of their welcome to us.
While working at the Seminary, I used to visit and preach at the services among the churches there. Once we visited a congregation in Sirombu, west of Nias by walking for one and a half days. We were sending vicar pastors for their internships at that time.

During my three years assignment in Nias, I became n HKBP pastor unofficially in Gunung Sitoli. At that time Nias was under the resort ministry of HKBP Sibolga. Due to transportation problems, the pastor of HKBP Sibolga often assigned me to minister to their congregation in Gunung Sitoli. I used to conduct the marriages, sacrament ceremonies and Sunday services there.
Nias was still underdeveloped at that time. There was only one car owned by Dr Topperwein at the Seminary. It was our only transportation to and from Gunung Sitoli. The roads were still stony and I had to ride a bicycle for nine kilometers to Gunung Sitoli to buy groceries.

Our working contract ended in August 1968 when our second child was born. But due to the strong seas and danger to our ship, it was extended for another three months. Besides precious experiences we had at Nias, it had also become the place of birth for my two sons, John Elisa and Markus Leonard. We left Nias in November 1968. Before leaving I suggested Pastor Waldemar Hasugian, S. Th. from HKBP to be my successor.

MANAGING EDUCATION

Utilizing the Dormitory and the SPW
I did not know where I would be assigned after Nias. My motto was “Wherever I am assigned, God is preparing something good”. After retuning from the GKPS head office, I received my new assignment from the Church Leader as the Director of GKPS Education Center in Sondiraya.

There was already a High School in the education complex equipped with a dormitory. The Evangelist School for Women (SPW) had got its facilities as well. Sr. Elisabeth Steinhard was the dorm head and the SPW Director was Sr. Ursula Woermann.
The urgent concern was to utilize the GKPS dorm and operate the SPW. It was difficult in the beginning to find students who wanted to stay at the school dorm and to find female students for the SPW. Sr. Elisabeth once came and asked us to accommodate a girl in our house since she was the only student at the female dorm. There was also very little interest among the Junior High School graduates to become evangelists.

I had to speak directly to the congregations and explained to them about utilizing the facilities. Praise God, after our visit to GKPS Purba Tongah for a service, some female students were encouraged to be women evangelists. That is why many first women evangelists come from the village.
We didn’t do many things during our two year stay there. I had to move back to the head office and received my new duty in 1970.


A MERCY TO LEAD GKPS

To be one of the leaders in the Church Leader of GKPS was not my dream at that time. I was so young, 36 years old. It seemed impossible since most of my predecessors had much more experiences and knowledge than I did.
I was appointed to be General Secretary of GKPS at the Synode Bolon (General Synod) in 1970. I really did not understand why they chose me. I was young and never worked at the head office. Before that, my carear was in the field of education as a teacher.

I was so touched, confused and thankful to God for His blessing for me. Touched, because of how the synod participants trusted me with the job. Confused, because I had never held such a position before. I had been teaching, but not working in administration. I was thankful because I believed it was the grace of God – He was planning something good for me.
My first years as the General Secretary were difficult since I had no prior experience at all. The difference of opinions among the seniors in the Church Leadership really bothered me. In two years we hardly smiled in our meetings. It was even impossible to discuss about my pay rise. Thank God, that situation did not last long. God always has many ways to help us in the midst of our troubles.

I held the position as the General Secretary of GKPS for seven years. I worked with Ephorus Pastor Lesman Purba for two years and with Ephorus Pastor SP Dasuha for five years. Pastor Lesman died at his young age when he was attending meeting in Hungary in 1972. As a general secretary I learned a lot about secretarial jobs in the head office as well as church management from him.
I was then appointed as Ephorus of GKPS at the 1977 Synod. It was not an easy work. There were so many problems faced by GKPS at that time and I was only able to solve some of them.

There is no space here to mention the many aspects of my twenty-five years’ work as one of the GKPS’ Church Leaders. Among many others there was our work in social development which was acknowledged by national government with a Kalpataru award. The service of our hospital, Bethesda Hospital, had reached the rural areas, especially in the prevention field, which was a very strong policy for us at that time. It was obvious that our social development programs had not reached the point of what we desired. That was the reason why they needed to be improved.
In the eccumenal area, we developed relationships with other churches and partners, both domestic and foreign, on a broad scale. We were involved in the leadership of the Lutheran
World Federation (LWF) and World Churches Association.

At least there was some fruit of what I had worked for although I did not regard them as my rewards. I often referred to Martin Luther and William Loehe (German). Martin Luther said, “Good works have no name.” William Loehe, an outstanding Director of Missions who lived two centuries ago said, “My reward is that I am allowed to serve.”

BECOMING AN ORDINARY STAFF IN GKPS

“Power and Money are not everything”
I thanked God that I could accomplish my twenty-five years’ duty as a decision maker in GKPS. Then I became just an ordinary staff who had to submit to the new leader. The GKPS Church Leader appointed me as a professor at the Abdi Sabda Theology School in Medan. Becoming a professor was the best assignment for me since I could serve by preparing qualified ministers.

Being on the staff as an ordinary professor of theology in Medan, I automatically had to return everything that had to return everything that had previously been provided for me like house, car, driver and others which were always supposed to be the symbol of power. After that I had to use public transportation ‘sudako’ and we moved to a small house. I used to have people who made drafts of my letters, now I had to write them on my own.
I had to be able to do things on my own. The lesson for me was: I learned more things that I didn’t know before. Operating a computer was one of them. I just realized that operating a computer was the main requirement to enter into global communication. Without computer knowledge I would not be able to use the internet, a global communication media that connected me to my friends wherever they were.

To become ourselves is difficult. Everyone has to undergo it, not to avoid it. The key is, “My reward is that I am allowed to serve,” a saying of Wilhelm Loehe which I always model after.
One thing that made me more enthusiastic after I no longer had the ‘power’ was an opportunity to write and deliver the Word of God to all levels of people. I preached at government offices, private, social and political organizations and churches directly or through the media. My opportunity to serve became broader than the time I was just one of the leaders.
I was awarded a Honoris Causa Doctorate title when I was just an ordinary staff member. The Academy of Ecumenical Indian Theology, an educational institution in Chennai, Madras India awarded me the title in 1997. This institution awards doctorate titles to some church figures in the world. Bishop Christian Krause (The President of the Lutheran Church), Bishop Horst Hirschler (Germany) and Dr Ishmael Noko (The Secretary General of Lutheran World Federation) were also awarded the same title by the institution.

It took me some time to think and write my speech for the inauguration ceremony. I finally found it, ‘The unlimited mercy of God’. The content of the speech was about my way of life which I presented based on Ephesians 3:20.
Unfortunately, I was not able to attend the inauguration ceremony. There was a fire in the jungle of Medan which had covered the sky. I was already in the waiting room of Polonia Airport when it was announced that the flight had been cancelled because the thick smoke endangered the flight. I then sent my speech through the internet and had one of the academy staff there read it for me. The institution then sent me a record of the ceremony on a CD by mail. I received the unlimited mercy of God even though I had no power and money.


ENTERING RETIREMENT PERIOD

“The unlimited mercy of God”
After serving in GKPS for 41 years, I retired in February 12, 1999. This was an unlimited mercy of God. I received my notification letter from the Church Leader sent by mail.

During my retirement, I received greater mercy. I became one of the editors of the World Bible Translation Center (WBTC) in Fort Worth, Texas, US in 2000. In the following year I became the Representative of Crossways International, Minneapolis, USA for Indonesia.
We have translated so many English books into Indonesian that churches now have more choices of reading in order to improve their knowledge and faith.
Although I am retired, I still have some ministry in my own ways and styles. I have a very busy schedule. I had been teaching at Abdi Sabda Theological Seminary (Medan) as a part-timer until May 2007.
The people that God has given me have been special blessings for me. During my retirement, I enjoyed spending time with my grandchildren, Theopil Henry Halomoan Munthe (10 years old), Tamara Cecilia Munthe (4 years old), Tabita Ria Elisabeth Munthe (3 years old), Stephen (2 years old), and Kevin Kristian (1 year old). They love me so much.

I am blessed with three sons and one daughter. They are John Elisa Munthe, SH who is married to Rebecca Ulibasa Situmeang, Markus Leonhard married to Kurniaty Purba Dasuha, Pastor Paul Ulrich Munthe, M.Th. (the only pastor in my family who was the head of GKPS’ Research and Development Department and is now working for his doctorate in Trinity College, Singapore) married to Darty Ramayanti Purba, SE and my only daughter, Ir. Hanna Ruth Munthe married to Ir. Lamsihar Pasaribu. My children’s visits have always been a joy for me. My wife, Floriana has surely been my friend in joy and sorrow. She is the woman who understands my needs, always comforts and creates a warm atmosphere at home. They are all my blessings.
For my friends who are already retired, let us give more from the talents that we have. Let us say, “My reward is that I am allowed to serve.” It is true in Psalm 23:6 that God’s goodness and mercy will be with me the rest of my life. Let our lives be for God’s glory.


Medan, June 2007