My 500 Words

Kamis, 02 Desember 2010

“What Happen, Aya Naon”, Tinggal Kenangan

Oleh : Jannerson Girsang

 
Sumber foto: kuansing.com 

Dunia peran Indonesia kembali kehilangan seorang tokoh legendarisnya. Sama seperti saya yang sejak remaja sudah sering menonton filmnya, dan belakangan sinetronnya, serta para pencinta sinetron Cinta Fitri di seluruh tanah air kehilangan tokoh Oma, Ida Kusuma. Tak ada lagi Ida dalam seri sinetron itu berikutnya.

Pasalnya, pemilik nama lengkap Siti Endeh Ida Hendarsih Atmadi Kusumah itu telah berpulang Kamis malam 25 Nopember 2010, saat shooting seri sinetron Cinta Fitri di Jakarta.

Aktris berdarah Sunda ini begitu mengesankan bagi para pencinta seni peran Indonesia. Seorang tokoh legendaris seni peran Indonesia yang mampu memberi semangat hidup melalui aktingnya yang khas. Perempuan yang sudah begelut di dunia peran selama 55 tahun itu pernah populer dengan ungkapannya : ”What Happen, Aya Naon”! (Ada apa?). Perempuan yang telah memintangi puluhan film dan sinetron itu lahir di Jakarta 71 tahun lalu, persisnya, 31 Agustus 1939.

Dari Putri Revolusi Hingga Sinetron Fitri

Ida menekuni dunia seni peran sejak usia 16 tahun dan memulai debutnya dalam film pertamanya "Puteri Revolusi" pada 1955, arahan sutradara Ali Yugo. Dalam film itu Ida bermain dengan aktor terkenal pada zaman itu, Sukarno M Noor (ayah aktor Rano Karno) dan Turino Djunaedy.

Suasana perekonomian dan perpolitikan yang belum mendukung dunia film, membuatnya belum bernasib mujur. Di Awal kariernya di dunia akting tak terlalu mulus dan pernah beralih ke bidang tarik suara dan peragawati. Dunia inipun memberinya tempat tersendiri hingga pada tahun 1960, ia di nobatkan sebagai Putri Peragawati I dan Ratu Jakarta III.

Pada tahun 1960-an, Ida Kusuma aktif sebagai penyanyi dan penari, yang bertugas untuk menghibur para prajurit dalam operasi Trikora, Dwikora maupun ketika penupasan G30S/PKI. Pada tahun 1961, ia kembali bermain film dan mendapat peran utama dalam film Malam Tak Berembun bersama aktor AN Alcaff dan disutradarai oleh A.W. Sardjono. Kemudian pada 1967, Ida bermain dalam film Menjusuri Djejak Berdarah.

Menurut catatan www.wikipedia.com, sejak 1970-an sampai akhir delapanpuluhan, hampir setiap tahun Ida Kusuma tidak absen membintangi film. Dia tampil sebagai idola dalam film-film remaja yang ngetop di dekade 70-an-80an. Diantaranya film Duo Kribo (1977), yakni film sang Raja Rock Ahmad Albar. Film ini mengisahkan persaingan dua rocker berambut kribo di blantika musik Indonesia sekitar tahun 1970-an dan Kabut Sutra Ungu (1979), sebuah film percintaan arahan sutradara Sjuman Djaya dengan bintang utama Roy Marten dan Yenny Rahman.

Pada dekade 80-an, Ida juga menjadi idola ketika tampil dalam film remaja Catatan Si Boy II (1988), Catatan Si Boy III (1989), Catatan Si Boy IV (1989), serta berbagai film komedí seperti Godain Kita Dong (1989), Si Kabayan dan Gadis Kota (1989).

Di era 1990-an Ida Kusuma banyak membintangi film layar lebar bertema komedi, seperti Boneka Dari Indiana (1990), Boss Carmad (1990), Cinta Anak Muda (1990),Curi-Curi Kesempatan (1990), Dorce Ketemu Jodoh (1990), Gonta Ganti (1990), Isabella (1990), Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990), Makelar Kodok Untung Besar (1990),
Oom Pasikom (1990), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992).

Ida menyelesaikan film bioskop berjudul CintaPuccino tahun 2007, dan film Bebek Belur (2010) menjadi film layar lebar terakhir yang dibintanginya.

Ida Kusuma adalah sosok yang tidak menyerah dengan perubahan zaman. Memasuki zaman sinetron sejal 1994, perannya di sinetron tidak surut dengan usianya yang makin tua. Bahkan hingga akhir khayatnya Ida membintangi sedikitnya 5 sinetron, sebelum membintangi Cinta Fitri 2 sejak 2008.

Penampilannnya yang senantiasa bersemangat membuat penonton tidak pernah merasa jenuh menonon film atau sinetron yang dibintanginya. Sampai dengan tahun 2007, tercatat, ia telah bermain dalam 62 film. Mulai tahun 1994, ketika dunia sinetron tumbuh menjamur, ia pun ikut terjun didalamnya.

Meski Ida banyak membintangi film komedi, dalam akting dia sering mendapatkan peran antagonis, sebagai ibu yang judes dan bahkan jahat.

Penghargaan 

Ida Kusuma adalah salah seorang diantara artis film Indonesia yang tetap setia dan konsisten terhadap dunia seni peran. Dia adalah sedikit diantara aktris senior yang terus bertahan di film selama 55 tahun saat generasi berganti dan regenerasi terus terjadi.

Atas kesetiaannya pada dunia perfilman, Ida menerima Penghargaan Kesetiaan Profesi dari Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), pada tahun 1996. Dua tahun berikutnya, pada 2008, SCTV memberikan penghargaan Life Time Achievement kepadanya, atas dedikasi tinggi di bidangnya.

Kesetiaannya pada dunia seni peran telah ia buktikan. Ida menghembuskan napas terakhirnya di tengah menjalankan proses shooting untuk sinetron Cinta Fitri. Penggemar Cinta Fitri kehilangan, dunia perfiliman Indonesia berkabung.

Akhirnya, kehidupan memang bukan milik Ida Kusuma. Dia telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Dia akan dikenang sebagai seorang aktris senior legendaris, mampu berjuang dan menempatkan peran dalam dunia peran di segala zaman, setia pada profesinya sampai akhir khayat. “Till The Day I Die”, seperti digambarkan desainer Iwet Ramadhan dalam twitternya. Selamat Jalan Ida Kusuma, We All Love You!

Kini Ida sudah beristirahat di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Semoga pengabdiannya di dunia peran selama ini bersemi di jiwa-jiwa para pencinta seni. Patah tumbuh hilang berganti, kiranya dari tunas-tunas muda tumbuh Ida Kusuma baru!.
(Dimuat di Harian Analisa, 4 Desember 2010)


Rabu, 01 Desember 2010

Mengenal Ponijan Liaw di Dunia Maya : Bermula dari Artikel di Analisa


Oleh: Jannerson Girsang*)

Peran media dan teknologi internet telah membuka mata saya untuk mengenal lebih banyak orang pintar dan memahami pikiran-pikiran dan ajaran mereka. Saya bisa kuliah dari beragam ahli, dari berbagai negara dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tanpa bayar uang kuliah, hanya bermodalkan laptop dan modem!.

Ponijan Liaw adalah salah seorang diantaranya. Hari ini saya mengenal beliau dan pemikirannya melalui dunia maya.

Sebelumnya, saya telah membaca artikel-artikel Ponijan Liaw secara sepintas di Harian Analisa. Namanya juga sepintas, pasti tidak secara cermat mengamatinya. Maklum banyak ahli yang berbicara tentang hal yang sama.

Hari ini saya membaca dengan cermat sebuah artikelnya ”Mengubah Takdir” yang dimuat di harian Analisa, Medan (30 Nopember 2010). Artikel ini sungguh-sungguh menginspirasi dan mengundang saya mengenal penulisnya lebih dekat.

Di awal tulisannya Ponijan mengutip ucapan guru Zen Ryokan tentang pikiran, perkataan, tindakan, kebiasaan, karakter dan takdir. Dengan pembahasan sederhana dan bahasa yang mudah dimengerti, Ponijan mengungkap kenyataan yang terjadi sekarang ini:

”Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat setiap elemen dalam spektrum kehidupannya secara holistik. Begitu muncul sebuah bencana dan ketidaknyamanan hidup, dengan mudah manusia tipe ini menuding dan mengarahkan telunjuknya pada sang pencipta dengan dakwaan sebagai tidak adil dan tidak sayang pada umatnya,”.

Keprihatianan saya, sama dengan Ponijan. Saya menyaksikan banyaknya orang yang hanya mampu bercerita soal ajaran dalam buku suci, tetapi tidak mampu mencerminkannya dalam pikiran dan tindakannya. Tidak sampai menjadikan ajaran tersebut menjadi karakter mereka. Akhirnya, pesan yang mereka komunikasikan atau sampaikan kepada rakyat atau umat yang dipimpinnya adalah pesan kering tanpa makna yang menginspirasi orang berbuat baik!. Ketika mereka merespons sebuah situasi, lebih cenderung saling menyalahkan.

Siapakah Ponijan Liaw?.

Dari namanya, saya pastikan dia seorang Tionghoa. Nama depannya nama yang diberikan karena terpengaruh kekuasaan Soeharto di masa Orde Baru yang tidak membenarkan mereka menggunakan nama Tionghoa dalam nama resmi. Misalnya, nama Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim.

Hal pertama saya lakukan adalah mencarinya di Facebook. Dengan mengetik nama Ponijan Liaw, saya menemukan : http://www.facebook.com/ponijanliaw?ref=ts.

Kemudian, saya ketik Like. Lantas, mata saya terbuka melihat apa yang dipikirkannya dan dikerjakannya sehari-hari. Dia berbicara banyak tentang komunikasi, serta pernyataan-pernyataan yang memberi motivasi.

Di wallnya hari ini (1 Desember 2010) tertulis: ”Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang berhak menilai Anda gagal dan berhasil menurut standar Anda. Karenanya, jangan berkecil hati ketika orang lain menilai menurut kacamata mereka. Bukankah Anda mengukurnya dengan kacamata sendiri? Keep going....”.

Ketika saya menemukannya, lima orang sudah tertera merespons pernyataan yang sungguh-sungguh memotivasi itu.

Tertarik dengan kalimat indah di wallnya itu, saya nimbrung merespons, sekaligus memuji artikelnya yang dimuat di harian Analisa : ”Terima kasih Pak Ponijan. Terima kasih juga atas artikelnya di Harian Analisa Medan, kemaren 30 Nop 2010: Mengubah Takdir. Sungguh mencerahkan”, demikian saya tuliskan untuk memancing reaksi pemiliknya.

Menunggu jawabannya, saya masuk ke Google—sumber pengetahuan dunia. Dengan mengetik nama Ponijan Liaw, saya pertama-tama menemukan situs http://paknewulan.wordpress.com/2007/10/03/nasehat-nasehat-dalam-berkomunikasi/.

Ternyata nama Ponijan Liaw adalah nama besar. Seorang yang mampu memberi nasehat soal komunikasi dan motivasi. Nasehatnya mengingatkan saya artikel sejenis yang ditulis Prof Dr Laurence Manullang: "Yesus Adalah Komunikator yang Maha Sempurna”. (www.kadnet.info/rebuska/2008/Rebuska_Sep1208-a.doc).  Artikel yang sebelumnya banyak menginspirasi saya soal berkomunikasi...

Dalam situs yang memuat pikiran Ponijan itu tercantum 15 nasehat soal berkomunikasi. Hari ini saya tertarik nasehatnya ke-14, Don’t Butt In !. ”Setiap orang memiliki dua telinga dan satu mulut. Artinya, lebih banyaklah mendengar daripada ngomong. Justru dari mendengar kita belajar bukan dari berbicara”.

Meski nasehatnya bukan hal baru dan saya sudah mendengar nasehat ini sejak lama. Bahkan saya terapkan dalam profesi sebagai wartawan, dan sampai kini saat melakukan wawancara dalam penulisan buku-buku biografi. Tetapi penyajiannya dengan kemasan baru menjadikannya menarik.

Luar biasa!. Meski hanya sebuah kutipan, ternyata dalam waktu singkat beberapa teman saya memberi tanggapan. Betapa kuatnya sebuah nasehat yang baik bagi setiap orang.

Lantas, keingintahuan saya lebih besar lagi. Menelusuri kembali namanya melalui Google, akhirnya saya menemukan website pribadinya. http://www.ponijanliaw.com/content/about-dr-ponijan-liaw.

Ponijan Liaw—kerap disapa “Mr. Po”— sekarang "Doktor (DR.) Po", adalah orang Sumatera Utara. Dia dilahirkan di Tebingtinggi, Sumatera Utara, 5 September 1968. Mampu berbahasa Inggris dan Jerman, jauh lebuh pintar dari para pejabat kami yang banyak bengongnya kalau menerima tamu asing. Pasti dia banyak menuai persahabatan positif dan variatif dengan berbagai kalangan dari berbagai negara. Memiliki pandangan yang luas tentang berbagai latar belakang bangsa..

Sekolahnya juga bervariasi. Ini yang menarik. Ponijan menjalani pendidikan SD Muhammadiyah sampai kelas III dilanjutkan ke SD Cinta Kasih Katolik di Medan sampai tamat, dan SMA Negeri di Sei Rampah. Dia bergaul dengan orang-orang dari berbagai ragam agama di Republik ini. Setidaknya merasakan pengalaman hidup bersama dengan sebuah komunitas yang berbeda agama dan suku di masa anak-anak hingga remajanya. .

Lulus SMA, Po memilih kuliah di IKIP Negeri Medan. Kampus yang jarang dimasuki warga Tionghoa di Medan. Dia kemudian ber-gabung dengan program S-2 Magister Pendidikan di Universitas Pelita Harapan, Jakarta, dan lulus dengan predikat sangat memuaskan (2004), lima tahun kemudian meraih gelar Doktor di Bidang Manajemen Pemerintahan dari Universitas Satyagama, Jakarta dengan predikat Cum Laude (September 2009).

Pergaulannya hebat!. Sidang Terbukanya sajapun disaksikan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI, Dr. H. Adhyaksa Dault, M.Si, Motivator No. 1 Indonesia, Andrie Wongso, dan tokoh masyarakat lainnya. Tidak hanya di luar sistem, dalam usia relatif muda, 37 tahun, Po menjadi Tenaga Ahli Menteri Negara Pemuda dan Olahraga sejak 2005 sampai akhir tahun 2009.

Kariernya hebat juga!. Selain menulis, Ponijan menekuni profesi hingga saat ini sebagai presenter radio, pembicara publik, trainer, dosen tamu di beberapa universitas di Jakarta. Menurut situsnya Ponijan telah menulis sekitar 100-an artikel artikel di beberapa koran dengan rentang topik beragam. Dia juga menulis buku-buku seperti Great Motivation, Smart Communication, Success & Joy Talks, Talk to Your Customer This Way, Stories of Zen in Comics, Unleash Your Inner Power with Zen, dan lain-lain.

Saya tertarik kritik Ponijan soal diskusi komunikasi di Indoensia yang terkesan kering dan tidak jelas dalam prakteknya di dunia nyata. ”Yang ada hanyalah kerangka teoretis yang sulit dicerna karena banyak menggunakan contoh-contoh dengan pendekatan budaya yang terjadi di belahan bumi lain (disebabkan banyak bahan yang diambli berasal dari buku-buku terjemahan). Ketika diterapkan di Indonesia, teori tersebut belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.”. Saya setuju pendapatnya!. Tidak banyak ahli komunikasi kita yang mau menggali konten lokal yang sesungguhnya sangat kaya.

Ketika saya hampir menyelesaikan artikel ini, dua jam kemudian Pak Po membalas respons saya di wallnya: ”Terima kasih Pak Jannerson, mudah2an kita selalu menjadi berkat buat sesama ya, Pak... salam untuk kawan2 di komunitas Bpk... terima kasih”.. 

Memang Po adalah komunikator yang baik. Dia melaksanakan salah satu nasehatnya : Your Speech is Your Ads, So, Be Creative.

“Banyak orang tidak menyadari bahwa setiap komunikasi dilakukan dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja, mereka sesungguhnya sedang ‘menjual diri’ mereka kepada orang yang sedang berhadapan dengan mereka,” demikian nasihat komunikasinya ke-8.

Responsnya membuat saya simpatik dan akan menceritakan hal yang baik dan menginspirasi tentang Pak Po. Dia sedang menjual diri, atau saya yang menggunakan dirinya untuk "menjual  diri" saya. Itulah komunikasi. Menyampaikan pesan yang saling memotivasi, menginspirasi, membuat nilai seseorang naik tanpa mengurangi nilai sang komunikatornya. Jauh dari saling melecehkan!. 

Apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca adalah bahwa internet telah menolong saya mengenal dan belajar tentang orang-orang pintar dan pemikiran mereka. Melalui dunia maya, saya mengenal Ponijan Liaw. Saya akan belajar lebih banyak lagi dari beliau. Salam hormatku untuk seorang anak muda Indonesia yang luar biasa!.Beliau akan menjadi "Sumur yang Tak Pernah Kering". Terima kasih guru!.

*)Penulis Buku Biografi: ”Berkarya di Tengah Gelombang” dan beberapa buku biografi tokoh di Sumatera Utara.

Jumat, 26 November 2010

Menyimak Prestasi Andrea Hirata (Harian Analisa, 26 Nopember 2010)

Oleh : Jannerson Girsang

Sejak menerbitkan novel pertamanya Laskar Pelangi (2006), Andrea Hirata melejit bagai meteor. Karya-karyanya Tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan laku keras.

Tiga bukunya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, masing-masing dengan judul Rainbow Troops, Dreamer dan Edensor.
Bahkan awal 2010, Andrea sudah merintis sejarah baru pemasaran buku karya-karyanya melalui global marketing. Novel produksi Indonesia tidak hanya dipasarkan di tanah air tapi juga di manca negara. Andrea Hirata menjadi icon penulis best seller Indonesia awal abad ke-21.

Andrea Hirata baru saja kembali pertengahan Nopember lalu, setelah sejak Agustus 2010 mengikuti International Writing Program, University of Iowa, USA. Selain mengikuti training dia juga mengadakan serangkaian diskusi buku di berbagai tempat di Amerika.

The Jakarta Globe, sebuah harian ibu kota berbahasa Inggeris pada edisinya 19 Nopember 2010 mempublikasikan sebuah interview dengan Andrea Hirata di New York, berjudul Exporting Indonesia’s Written Word. Kepada The Jakarta Global Andrea Hirata mengungkapkan akan meluncurkan dua novel barunya. "Yes, I actually have a new novel, and I’m saying this to the Jakarta Globe for the first time. The book has two titles: "Two Trees" in English and "Ayah" ("Father") in Indonesian,"ujarnya.

Artinya, selama empat tahun, Andrea baru belajar sastra tahun 2010 telah meluncurkan sedikitnya delapan novel best seller. Luar biasa!.

Sukses seorang penulis adalah pada kualitas tulisannya. "Tidak di negeri sendiri, tidak pula di negeri orang. Karya berkualitas selalu akan mendapatkan perhatian yang besar bagi semua kalangan. Laskar Pelangi yang telah di terjemahkan ke banyak bahasa mendapatkan pujian dari Christopher Merril, akademisi sastra di University of Iowa Amerika Serikat serta direktur International Writing Program di University of Iowa Amerika Serikat,". Sebuah pesan berharga dan memotivasi para penulis Indonesia.

Saat mengunjungi beberapa toko buku di sana, Andrea bangga buku-bukunya di pajang di toko-toko buku yang dikunjunginya. "Di toko terkenal Prairie Lights di Midwest, sebagai contoh, novel saya dijual. Di San Francisco, beberapa toko buku menjual buku saya," katanya seperti dikutip The Jakarta Globe.

***

Bagi para pencinta novel Laskar Pelangi serta penonton film dengan judul sama yang diadaptasi dari novel itu pasti kenal nama Andrea Hirata!. Tetapi jangan harap anda menemukan nama Andrea Hirata pada buku pelajaran sastra Indonesia di sekolah. Dia belum terdaftar sebagai penulis dalam khasanah persastraan di Indonesia sebelum tahun 2006, saat pertama kali publik mengenalnya melalui novelnya Laskar Pelangi.

Andrea Hirata termasuk orang yang sangat pelit mengutarakan jati dirinya. Kalau anda melakukan search di internet, anda tidak akan banyak mendapatkan informasi tentang biografi penulis satu ini. Biografinya yang paling lengkap kami temukan pada novel Edensor yang ditulisnya sendiri dan masuk dalam Nominasi Literary Award 2007.

Pria yang memiliki nama lengkap Andrea Hirata Seman Said Harun, lahir di Belitong, Bangka, atau sekarang dikenal Provinsi Bangka Belitung (Babel). Merantau ke Jawa setelah menyelesaikan SMA Negeri di Belitong, Andrea Hirata pernah bekerja sebagai pegawai pos di Bogor. Dalam novelnya Edensor dia sangat terkesan ketika berhasil mengatasi kiriman uang wesel pos anak-anak mahasiswa IPB Bogor yang bermasalah.

Andrea kemudian mengambil mata kuliah ekonomi di salah satu universitas di Indonesia. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains-fisika, kimia, biologi, astronomi-dan tentu saja sastra. Andrea Hirata berpendidikan ekonomi. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Université de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.

Tesis Andrea Hirata di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan lulus cum laude. Tesisnya telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis orang Indonesia. Mungkin tidak banyak yang tau kalau Andrea Hirata yang bertempat tinggal di Bandung itu adalah karyawan kantor pusat PT Telkom.

Itulah Andrea Hirata. Jadi, tak perlu mempersoalkan latar belakang pendidikan untuk menjadi seorang penulis. Andrea Hirata telah membuktikan bahwa siapa saja bisa menjadi penulis terkenal. Dengan pengetahuan sains, kepekaannya terhadap lingkungan sekitarnya, kemampuannya mengkomunikasikannya kepada khalayak melalui tulisan mampu menyajikan karya yang luar biasa.

Andrea Hirata menulis novel sebelum belajar sastra. Latar belakang hidup dan pekerjaannya sulit bagi saya meyakininya sebagai penulis besar. Pasalnya, dia baru belajar sastra setelah menulis buku-buku best seller. Itulah pengakuannya. "Akhirnya, semoga sekolah sastra di Iowa ini-ini merupakan pendidikan sastra pertamaku- membuatku dapat menulis novel-novel yang baik untukmu Kawan. Untukmu, semuanya selalu untukmu," pesannya dalam blog pribadinya.

***

Andrea sedang memasuki kariernya sebagai penulis internasional. Novel-novelnya akan ditangani penerbit dan international agency. Sebagaimana diberitakan di berbagai media, 23 Maret 2010 lalu Penerbit Bentang Pustaka dengan Amer-Asia Books, Inc, Tucson, Arizona, USA. telah menandatangani Publisher Agreement. Peristiwa ini bukan hanya penting bagi Andrea Hirata, namun juga tonggak bagi perkembangan buku Indonesia.

Berbagai penerbit-penerbit luar negeri segera mendistribusikan Tetralogi Laskar Pelangi dalam bahasa masing-masing adalah Yillin Press (China), Nha Nam Publishing (Vietnam), Solo Press (Taiwan), Da Vinci Publishing (Korea), segera disusul kerja sama dengan Uni Agency, sebuah literary agent terkemuka di Jepang, dan penerbit-penerbit di Amerika, Australia, Jerman, Prancis, serta beberapa negara Asia dan Eropa lainnya. Novel The Rainbow Troops (edisi internasional Laskar Pelangi) sendiri mendapat sambutan hangat di berbagai festival di luar negeri (Fukuoka, Vancouver, Singapura, dan Wordstorm-Australia).

Andrea Hirata berhasil menorehkan sejarah, merintis penulis Indonesia direpresentasikan oleh agen buku komersial internasional sehingga karyanya dapat tersedia di luar Indonesia dan berkompetisi dalam industri buku global. Agreement itu sekaligus menempatkan Andrea Hirata di dalam peta novelis dunia.

Bisa dibayangkan berapa besar rupiah akan mengalir ke kocek Andrea Hirata dan betapa besar popularitasnya di masa yang akan datang. Satu hal, Andrea telah mengangkat nama tempat kelahirannya, mengekspor bahasa Indonesia ke kancah dunia.

Semoga kisah Andrea Hirata bisa mengukuhkan keyakinan para penulis di daerah. Menjadi penulis besar adalah keberanian memulai dan ketekunan melanjutkan karya yang sudah dimulai.

Anda masih minder sebagai penulis dari daerah?. Belajarlah dari Andrea Hirata!. Anda yang ingin belajar lebih mendalam kunjungi blognya: http://andrea-hirata.com/

Bisa diakses melalui http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=76991:menyimak-prestasi-andrea-hirata&catid=78:umum&Itemid=131.

Selasa, 23 November 2010

Buku Favorit 10 Pemimpin Terkenal yang Inspiratif

Translated by: Jannerson Girsang

Tidak jadi soal jurusan apa yang diambil, Anda mungkin kurang terinspirasi oleh banyak buku pelajaran teks di kelas Anda. Tapi membaca adalah hal mendasar bagi proses belajar, baik berkaitan maupun tidak berkaitan dengan silabus kuliah Anda. Lihatlah daftar pemimpin inspiratif dan buku-buku yang membantu mereka menemukan kesuksesan dan menjadi guru mereka sendiri.

10 tokoh terkenal dunia memiliki buku bacaan yang berbeda-beda. John F. Kennedy memiliki bacaan favorit: From Russia With Love, karya Ian Fleming, Warren Buffett: Essays in Persuasion, karya John Maynard Keynes, Bill Clinton: One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marquez, Presiden Barack Obama: Song of Solomon (Kidung Agung), karya Toni Morrison: Bill Gates: The Catcher in the Rye, karya  JD Salinger, Laura Bush: The Brothers Karamazov, karya  Fydodor Dostoyevsky, Oprah Winfrey: To Kill a Mockingbird, karya Harper Lee, Ronald Reagan: The Adventures of Tom Sawyer karya Mark Twain, Rudolph Giuliani: Profiles in Courage, karya John F. Kennedy: Donald Trump: The Power of Positive Thinking, karya Norman Vincent Peale.

John F. Kennedy: From Russia With Love, karya Ian Fleming: Selain reputasi politik dan sosialnya yang liberal, Presiden John F. Kennedy dikenal sebagai seorang pria gagah dan digemari digemari wanita, seseorang yang mungkin ya atau mungkin tidak punya urusan dengan perempuan terkenal seperti Marilyn Monroe. Kelemahan hidupnya yang terkenal dengan luar biasa cepat terlihat dari daftar buku favoritnya, juga, yang meliputi ”1957 James Bond”, From Russia with Love, oleh Ian Fleming. Novel ini merupakan yang kelima dalam serial James Bond dan melibatkan kontra intelijen antara Inggris dan Rusia.

Warren Buffett: Essays in Persuasion, karya John Maynard Keynes:Bisnis Amerika dan guru keuangan Warren Buffett dianggap sebagai salah seorang investor yang paling pemberani dan menguntungkan di dunia, tapi ia menemui John Maynard Keynes saat ingin mendapat nasihat. Ekonom Keynes Inggris masih dikenal sebagai salah seorang pemimpin bisnis dan ekonomi modern, dan Essays in Persuasion membahas perlunya intervensi pemerintah dalam ekonomi.

Bill Clinton: One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marquez: novel Gabriel Garcia Marquez ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1967, sering diajarkan di sekolah dan secara luas dianggap sebagai salah satu yang terbaik sastra modern, serta sebagai salah satu yang paling populer. Mantan Presiden Bill Clinton mendaftarkan Solitude sebagai salah satu buku favoritnya, juga, menikmati epik, symbol kisah keluarga Buendia.

Barack Obama: Song of Salomon (Kidung Agung), karya  Toni Morrison: Presiden Barack Obama telah mendaftarkan Song of Salomo sebagai salah satu dari tiga buku teratas yang benar-benar memberinya inspirasi. Novel ini disebut-sebut sebagai novel laris yang menggabungkan puisi dan lagu serta prosa tradisional untuk menceritakan kisah tentang Milkman (Tukang Susu) serta budaya kulit hitam di Amerika Selatan.

Bill Gates: The Catcher in the Rye, karya JD Salinger: Meskipun pernah dilarang setelah publikasi pertamanya pada 1951, Buku Salinger The Catcher in the Rye saat ini merupakan salah satu buku paling banyak dibaca dan sukses secara komersial di seluruh dunia. Pionir perangkat lunak (Software) dan salah satu orang terkaya di dunia Bill Gates juga seperti dikatakan seorang penggemarnya, telah "membacanya berkali-kali bahwa [dia] bisa mengutip sebagian besar isi buku melalui ingatannya"

Laura Bush: The Brothers Karamazov, karya Fydodor Dostoyevsky: Mantan First Lady dan Pustakawan Laura Bush memperjuangkan aksara anak-anak, sementara suaminya di kantor, tapi salah satu buku favoritnya adalah kegegelapan dan kompleksitas buku Brothers Karamazov oleh Dostoyevsky. Karya Rusia adalah potret mengejutkan realitas kehidupan di Rusia dan sifat dan spiritual manusia.

Oprah Winfrey: To Kill a Mockingbird, karya  Harper Lee: Jutaan orang Amerika telah mengikuti klub buku Oprah Winfrey selama bertahun-tahun, namun buku favorit tokoh terkemuka media sepanjang masa itu adalah novel klasik “To Kill a Mockingbird”, dimana siswa banyak membanya saat duduk di bangku SMP. Novel sosial yang signifikan - yang juga diangkat menjadi sebuah film layer lebar pemenang Academy Award yang dibintangi Gregory Peck - bercerita tentang sebuah kota Bagian Selatan dibagi atas kasus pengadilan menghukum orang hitam memperkosa seorang wanita kulit putih.

Ronald Reagan: The Adventures of Tom Sawyer karya Mark Twain: Presiden Ronald Reagan meninggalkan warisan kekuatan ekonomi dan kemajuan diplomatik yang penting, tapi mantan bintang film ini membantu anak-anak—penggemar apresiasi petualangan dan kegembiraan, menyebut The Adventures of Tom Sawyer sebagai salah satu buku favoritnya sepanjang masa. Novel Twain tentunya lebih dari sekedar cerita anak-anak. Buku ini juga merupakan komentar sosial, komentar politik dan budaya yang pintar dalam kehidupan Amerika di Selatan yang mewah.

Rudolph Giuliani: Profiles in Courage, karya  John F. Kennedy: Meskipun John F. Kennedy adalah penggemar Ian Fleming penulis novel James Bond, dia juga adalah seorang penulis yang dihormati. Buku ini menginspirasi pemimpin terkenal dalam politik Amerika, mantan walikota New York City dan calon presiden dari Partai Republik Rudolph Giuliani. Buku ini ditulis ketika Kennedy masih seorang senator, dan biografi itu menceritakan kisah kepahlawanan delapan senator - termasuk John Quincy Adams, Sam Houston dan Lucius Lamar - yang teguh karena keyakinan mereka meskipun kecaman keras dari rekan-rekan mereka serta masyarakat umum. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer.

Donald Trump: The Power of Positive Thinking, karya Norman Vincent Peale: Sulit untuk memperdebatkan pengusaha, bintang realitas TV, dan dan pengusaha properti yang handal seperti Donald Trump menderita karena harga diri yang rendah, dan hal itulah yang menjadi nilai lebih bagi buku Norman Vincent Peale, The Power of Positive Thinking. Terdaftar sebagai salah satu bacaan yang paling inspiratif bagi Trump, buku ini telah terjual lebih dari 7 juta kopi sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2007. Pelajaran yang paling kuat dari buku itu adalah membantu pembaca menemukan kembali iman dalam diri mereka.

Sources: http://www.onlinecollege.org/2010/04/14/10-famous-inspirational-leaders-and-their-favorite-books/. Original Title : 10 Famous, Inspirational Leaders and Their Favorite Books, April 14th, 2010

Sabtu, 13 November 2010

In Memoriam: Edward HP Sinaga (1955-2010) Analis Media dan Fotografer Idealis


Oleh : Jannerson Girsang

 
Karya Foto Edward Sinaga (2003)
Pagi hari, Senin 8 Nopember lalu, tak lama setelah bangkit dari peraduan, sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya. Pengirimnya J.Anto, Direktur Kippas, Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Surat Kabar, sebuah organisasi non profit yang bergerak di bidang penelitian, pendidikan dan penerbitan.

"Telah meninggal dunia kawan kami tercinta Edward HP Sinaga (Edu KIPPAS), hari Minggu Malam sekitar pukul 21.00 WIB". Rasanya bagai disambar petir di siang bolong. Berdoa menenangkan pikiran sejenak, saya berseru dalam hati: "Oh Tuhan mengapa demikian cepat Edu dipanggil?"

Edu yang dikenal luas di kalangan jurnalis, mahasiswa, para fotografer, sebagai fotografer andalan daerah ini serta fasilitator berbagai training di bidang media dan jurnalisitik. Dia pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya secara tiba-tiba akibat serangan jantung di Rumah Sakit Elizabeth 7 Nopember 2010. Karya fotonya menghiasi beberapa buku, dan media yang beredar luas di tengah-tengah masyarakat.

Penyelenggaraan "Seminar Hasil Riset Berita Utama dan Berita Kasus-kasus Korupsi di surat kabar Analisa, Waspada, Sumut Pos, Sinar Indonesia Baru dan Serambi Indonesia" yang digelar KIPPAS di Garuda Plaza, 27 Oktober lalu, adalah pengabdian terakhir baginya. Bagi para peserta, itulah pertemuan mereka yang terakhir kalinya. Seyogianya Senin itu, menurut J.Anto, mereka akan menggelar rapat membahas sebuah rencana penelitan dimana Edward terlibat di dalamnya.

***

Di tempat bekerjanya KIPPAS, pria yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta (1977-1981) ini adalah analis media, serta fotografer andalan. Sebelum bergabung dengan KIPPAS pada 1999, Edu pernah bekerja sebagai wartawan harian ibu kota Pos Kota. Dia juga terlibar di berbagai kegiatan pencita alam dan fotografi.

Keluarga besar KIPPAS, tempatnya berkiprah selama sebelas tahun terakhir dikenal memiliki kemampuan human relation yang baik. J.Anto mengungkapkan, dalam pelaksanaan program seminar atau training yang memakan waktu berhari-hari, Edu selalu ditempatkan sebagai fasilitator. "Edu mampu memperlakukan peserta sebagai anak-anaknya sendiri, sehingga mereka tidak bosan mengikuti program hingga selesai", ujar J.Anto dalam perbincangan di kantor KIPPAS. J. Anto, usai melayat Senin itu, dan menambahkan: "Edu adalah teman yang menyenangkan dan memiliki human relation yang baik".

Edu adalah salah seorang pendiri KIPPAS bersama rekan-rekannya yang lain seperti Ned R Poerba, Sofyan Tan, Stanley Adi Prasetyo, Veven Sp, Wardhana dan Janto, Hasby Ansyori. (http://kippas.wordpress.com/about/). Menurut J. Anto, selama menjadi partnernya sejak 1999, pria yang masih melajang sampai akhir hidupnya itu, terlibat dalam berbagai program KIPPAS di antaranya Workshop Pelatihan Pelaksana Pengawasan Media (Media Watch) yang diadakan LP3Y (1999), Pelatihan Analisis Media Metode Kuantitatif yang diadakan LP3Y (2000); Penanggungjawab workshop Resolusi Konflik Melalui Jurnalisme Damai kerjasama dengan Yayasan TIFA Penanggungjawab workshop Peningkatan Kapasitas Profesionalisme Jurnalis Radio di Aceh dan Sumut kerjasama dengan Internwes cabang Indonesia (2004-2005). Penanggungjawab workshop Jurnalisme Damai untuk Liputan Reintegrasi Aceh kerjasama dengan Uni Eropa (program EIDHR Micro Project) (2006), Riset berita Pilkada Sumut 2008 pada lima surat kabar Medan (2008) dan Asisten Trainer Pelatihan Jurnalisme Radio Dasar dan Lanjutan yang diadakan IOM di Takengon (2009).

J Anto mengatakan bahwa Edu telah berperan besar dalam memperkenalkan KIPPAS ke berbagai kalangan melalui keterlibatannya dalam berbagai organisasi fotografi serta pencita alam, serta kedekatannya dengan kalangan mahasiswa.

"Dia sangat banyak berperan dalam mendorong etnis China mengenal politik, setelah memfasilitasi beberapa pertemuan," ujar J.Anto.

***

Di kalangan fotografer, Edu dikenal sebagai guru dan fotografer kawakan yang banyak mengabadikan berbagai latar belakang kehidupan , budaya dan alam.

Tarmizi Harva, seorang fotografer free lance untuk media asing mengaku Edu sebagai guru fotografinya. Tarmizi Harva adalah pemegang Mention Honorable, World Press Photo, Holland, 2004, Honorable Prize dan berbagai penghargaan internasional lainnya,

"Menjelang akhir 1996, seorang teman Tarmizy menjual kamera Pentax K1000. Harga barang second itu sekitar Rp 250 ribu. Ini salah satu kamera yang direkomendasikan Edu. Namun Tarmizy tak gegabah. Sebelum membelinya, ia mesti memeriksa kualitas barang itu lebih dulu. Apalagi, ia masih awam soal kamera. Tarmizy kembali mendatangi rumah Edu dan menunjukkan kamera bekas itu. Setelah mendengar komentar kamera kaleng cebok, Tarmizy menganggap Edu seperti dokter kamera baginya," seperti dikutip dari http://www.hinamagazine.com/index.php/2008/03/31/profil-tarmizi-harva, situs pribadi Tarmizi Harva,

Meski Edu memiliki kemampuan dalam fotografi, tetapi dia hanya menganggap profesi itu sebagai penyaluran hobby. J.Anto mengaku telah mengusulkan beberapa kali agar Edu menjadi fotografer profesional. Tetapi bagi Edu keahliannya itu hanya diabdikan untuk seni. "Edu adalah fotografer idealis. Menghasilkan foto hanya untuk seni," ujarnya.

Satu hal lain yang perlu ditiru dari Edu menurut Anto adalah kejujurannya. "Edu adalah orang yang sangat jujur, khususnya dalam hal keuangan. Dia tidak pernah mengharapkan lebih dari haknya," ujarnya. Sesuatu yang perlu ditiru para koruptor yang kini marak di Indonesia.

Beberapa foto-foto yang dihasilkannya menghiasi kalender Fund Rising, Lions Club Medan, 2010. Kini beberapa karyanya bisa disaksikan di situs: http://banuafoto.multiply.com/Edward. Berbagai tema dari berbagai tempat menunjukkan perhatiannya atas berbagai kehidupan yang diabadikan melalui foto. Kini anda bisa menyaksikan melalui situs itu sebagian foto-foto pilihannya. Panguni Utiram, Satwa, Chinese Opera, Rawa Singkil, Ikan Asin Desa Patek, Budaya Deli, Sipaha Lima, Kabut Toba, Kuta, Banjir Lumpur di Tamiang, Kerbau di Pantai Manggeng, Kejurnas Spirit-Rally, Operas Danau Toba, Istana Maimoon Medan, Kota Semarang Lama, Bursa Ayam, Sawah, Lansekap, Sejuta Pelita. Berbagai hasi karyanya pernah dimuat di berbagai media lokal maupun dalam publikasi-publikasi internasional.

Edward juga dikenal di kalangan mahasiswa pencinta alam di Sumatera Utara. Berbagai kegiatan pencinta alam diabadikannya dalam beberapa koleksi fotonya.

***

Secara pribadi, kami mengenal Edu sejak awal 1990-an, saat bersama-sama menjadi wartawan. Saat bertemu di loby-loby hotel, kantor-kantor pemerintah, di kedai-kedai atau kantin, Edu suka berdebat soal hal-hal yang diyakininya benar. Terbayang kritikan-kritikannya tentang keadaan atas otoriternya penguasa Orde Baru dalam beberapa pertemuan-pertemuan saat masih sama-sama menjadi wartawan di awal 1990-an. Saat itu dia menjadi wartawan Pos Kota, sebuah harian ibukota.

Sejak 2004, Edu menjadi fotografer beberapa buku biografi yang saya tulis. Terkenang wajahnya yang begitu ceria tatkala mengamati foto tokoh hasil jepretannya dalam buku "Berkarya di Tengah Gelombang", biografi Rudolf Pardede, mantan Gubernur Sumatera Utara. Foto itu menjadi illustrasi di setiap bab buku itu. Saya mengamati foto di sampul buku "Anugerah Tuan yang Tak Terhingga" yang selalu terletak di atas mejaku. Di sana terbayang wajah Edu, ketika suatu siang saya mendampinginya melakukan pemotretan untuk cover sebuah buku enam tahun yang lalu. Dia menghasilkan foto seorang pria gembala rohani berkaca mata yang tersenyum lebar. Edward puas kalau hasil karyanya membuat orang lain senang. Foto-fotonya memiliki karakter yang kuat.

Keindahan adalah kepuasannya, tanpa pernah mempertimbangkan jasa atas atas karya-karyanya. Tarmizi Harva, seorang fotografer free lance untuk media asing mengaku Edward adalah guru fotonya.

***

Bargabung dengan rekan-rekan dari KIPPAS, Pesada, dan beberapa rekan Edu sesama fotografer dalam acara penghiburan terasa kesedihan atas perginya Edu. Air mata dan isak tangis kemudian mewarnai suasana rumah duka.

"Hari Jumat abang Edu masih masuk kantor, dan kami tinggalkan sendirian di kantor," ujar Pily Pardede, yang didampingi Dian Butar-butar dan J.Anto. J Anto sendiri yang beberapa waktu lalu kesehatannya terganggu, dengan terbata-bata mengungkapkan rasa sedih kehilangan teman andalan mereka.

Lagu kesayangan Edu "Tiap Langkahku diatur Oleh Tuhan" yang mengumandang dalam acara, menambah kesedihan hingga J.Anto, Pily Pardede, dan hadirin lainnya tak kuasa menahan linangan air mata. Belasan keluarga hanyut dalam kesedihan.

Berkunjung ke kantor KIPPAS di bilangan Jalan Serayu Medan sepeninggal Edu, rasanya ada yang hilang. Di ruangan itu, biasanya ada Edu yag menyambut dengan hangat dan bau asap rokoknya yang mengepul, kini hanya diisi komputer yang menyimpan ribuan foto hasil jepretannya, bersih tanpa asap rokok. Kursinya sudah kosong. Di dinding ruang kerjanya terpampang sebuah foto besar hasil karyanya. Tidak ada lagi pria yang suka berada di kantor sampai larut malam itu.

"Saya sangat sedih. Edu adalah teman yang baik dan salah seorang staf andalan kami," ujar Muhammad Yazid, mantan ketua PWI Sumut yang juga pembina KIPPAS dalam perbincangan melalui telepon.

Edward telah mengabdikan dirinya sebagai fotografer, sebagai trainer, advisor bagi banyak orang dalam bidangnya. Hidup memang bukan miliknya, tetapi Dia sang Pencipta, yang bisa berakhir kapan dan dimana saja. Selamat jalan Edward, semangat dan karya-karyamu akan menginspirasi kami semua

Dimuat di Harian Analisa Medan, 13 Nopember 2010 hal 29.

(Note: Foto saya yang tampil di blog ini (saya ganti tanggal 23 November 2010) adalah hasil jepretan Edward Sinaga, Desember 2006).

Sabtu, 06 November 2010

Catatan Ringan Pertemuan Penulis Pembaca Sumut: Menulis Sampai Uzur

Oleh: Jannerson Girsang

Sampai kapan dan apa yang mendorong para penulis usia lanjut menulis? Di sela-sela acara pertemuan penulis dan pembaca Sumatera Utara yang diselenggarakan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperasda) Sumatera Utara di Hotel Antares, 26 Oktober 2010 lalu, kami tertarik mengamati dan berbincang dengan tiga penulis Sumatera Utara yang berusia antara 60-78 tahun.

Tiga penulis itu adalah Muhammad TWH dari Medan memasuki usia 78 tahun, St Japiten Saragih dari Desa Pematangraya, Simalungun, berusia 74 tahun dan Haji Arifin 69 tahun dari Kota Tanjung Balai.

Ketiganya menulis dengan hati, berjuang tanpa mengenal lelah, apalagi memikirkan materi dari hasil tulisannya. Mereka menulis dengan tangan di atas kertas, memindahkannya ke mesin tik manual serta dari referensi-referensi yang terbatas.

Visi besar senantiasa membakar semangat mereka: "Jika tidak menulis, maka peradaban kami lama kelamaan akan hilang". Pengalaman dan keteladanan mereka seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia tulis menulis, lebih-lebih di era teknologi informasi yang berkembang pesat. Penulisan sudah menggunakan komputer, referensi yang melimpah luar biasa untuk bahan tulisan.

***

Menjelang acara dimulai usai makan siang, 26 Oktober 2010, kami menemui Muhammad TWH. Duduk di sebuah kursi di ruang tunggu tempat pertemuan, dan sedang asyik membaca buku panduan acara dan sesekali membetulkan letak berkacamata minusnya. Beliau dikejutkan sapaan kami dan pria yang berwibawa dengan safari coklatnya dengan ramah melayani bincang-bincang selama lima belas menit.

Pria yang dikenal sebagai sejarawan veteran Sumut ini, senantiasa bersikap terbuka dan antusias dengan siapa saja, termasuk dengan kami siang itu. Kami merasakan sikap sosok seorang penulis idealis dan sikap kehangatannya seorang teladan yang bulan Nopember mendatang akan memasuki usia 78.

Puluhan tahun, tanpa kenal menyerah beliau konsisten menekuni dunia tulis menulis. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, pria kelahiran Aceh, 15 Nopember 1932 ini telah menghasilkan 23 buku yang membahas sejarah Sumatera Utara, olah raga, sejarah pers. Dalam sebuah kunjungan kami beberapa tahun lalu ke rumahnya di Jl. Sei Alas No. 06, pria ini tak henti-hentinya berkarya dan memelihara buku-buku dan dokumen penting yang dimiliknya.

"Saya baru menerbitkan buku tahun ini," ujar pria yang beberapa tahun lalu berkunjung ke Amerika Serikat itu bersemangat. Buku barunya berjudul Parada Harahap Berjuang dengan Pena, 2010 ini berkisah tentang kehidupan seorang tokoh Pers Nasional yang berasal dari Sumatera Utara.

Dalam pengamatannya, TWH melihat generasi sekarang ini bahkan wartawan-wartawan muda kurang mengenal kisah perjuangan Parada Harahap. Padahal, beliau berpendapat, pemahaman yang baik tentang sejarah perjuangan seseorang, akan membuat masyarakat menghargai perjuangan itu sendiri.

Di lain kesempatan dalam pertemuan itu, saya bertemu Haji Arifin. Saat itu, beliau baru tiba dari kota Tanjung Balai. Meski telah menempuh jarak selama 3-4 jam di atas bus yang ditumpanginya, beliau yang tampil dengan kopiah dan mengenakan baju batik menampilkan wajah yang cerah. Dengan santun dan ramah memperkenalkan dirinya kepada undangan yang sudah lebih dulu hadir dan sedang menikmati makan siang, sebelum acara berkangsung. "Saya senang sekali bertemu dan berdiskusi dengan para penulis," ujarnya.

"Saya sudah memasuki 69 tahun, tapi menulis adalah darah dan jiwa saya," lanjut pria penulis beberapa buku-buku tentang peradaban di daerahnya, antara lain Si Mardan Anak Durhaka, Asal Mula Tari Gebang, Legenda Pulau Pandan, Batu Bertengkar, Memuji Diri Jadi Mala Petaka, Kudopun Tau Lampu Merah dan lain-lain.

Bahkan pria bekas guru dan pernah menjuarai lomba penulisan tingkat nasional ini, juga merasa penting menuliskan pengalaman hidupnya. "Pengalaman hidup saya unik dan berguna bagi anak-anak saya dan para pembaca lainnya," ujarnya. Tahun 2005 lalu, mantan anggota DPRD Kota Tanjung Balai selama tiga periode ini merampungkan Otobiografinya berjudul : Napak Tilas Kehidupan Merintis Jalan Menembus Kegelapan.

Buku sederhana setebal 85 halaman yang dicetak di percetakan lokal itu berkisah tentang perjalanan hidupnya sebagai guru, anggota DPRD tiga periode di Kota Tanjung Balai, serta kiprahnya sebagai penulis.

Dari sudut ruangan lain, mata saya tertuju kepada St Japiten Saragih. Dalam pertemuan itu dia berkali-kali mengacungkan tangannya untuk berbicara. "Jangan sampai, peristiwa di sekitar kita banyak ditulis orang asing dan kita memperoleh informasi tentang daerah kita dari orang lain. Budaya kita lebih dicintai negara lain".

Beliau dengan lantang melancarkan kritik atas sikap bangsa kita yang hanya pintar mengklaim hasil budayanya, tetapi di lapangan tidak memelihara dan menghargainya. Itulah salah satu langkah yang dilakukannya, menuliskan dan mendokumentasikan Adat Simalungun.

St Japiten Saragih adalah penulis buku-buku adat dan budaya Simalungun. Pria kelahiran Pematangraya 74 tahun silam ini selain menulis juga aktif mengembangkan dan memelihara adat Simalungun. Beliau adalah Ketua Bidang Adat Partuha Maujana Simalungun (PMS).

***

Tiga penulis usia lanjut di atas telah menunjukkan keteladanan mengabadikan peradaban melalui tulisan. Mereka menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi dokumentasi peradaban daerah ini.

Dengan keterbatasannya dan semangat tidak mengenal lelah, tanpa banyak berharap imbalan atau penghargaan "Buku-buku sejarah dan dokumentasi yang saya tulis memang masih kurang mendapat apresiasi dari pembaca maupun penerbit di tanah air", ujar Muhammad TWH. Beliau sangat menyayangkan, sementara banyak orang asing yang meminta buku-buku yang ditulisnya sebagai referensi.

Bagi TWH, Haji Arifin, St Japiten, menulis adalah sebuah panggilan jiwa. Sebuah kewajiban untuk memberi pencerahan bagi masyarakat luas soal peristiwa yang disaksikannya.

"Kita tidak berharap apakah tulisan kita laku atau tidak. Yang penting, saya menulis apa yang saya saksikan dan saya anggap bermanfaat bagi masyarakat," ujar Muhammad TWH.

Masalah sulitnya mendapatkan penerbit, salah satu masalah bagi penulis, bukan halangan baginya untuk terus berkarya. Pengalaman Muhammad TWH adalah contoh yang pantas ditiru. Kini, di bawah Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan yang dipimpinnya sendiri, Muhammad TWH menerbitkan sendiri buku-buku yang ditulisnya.

Mereka menghimbau agar pemerintah memperhatikan pengembangan perpustakaan sebagai tempat menyimpan hasil-hasil karya mereka untuk bisa dinikmati masyarakat luas.

Haji Arifin, meski tinggal jauh di kota Tanjung Balai di sela-sela waktunya menulis, juga prihatin atas perhatian pemerintah pada pengembangan perpustakaan. Dengan lantang beliau mengritik ketidak seriusan pemerintah mengurus perpustakaan.

Menurutnya, sudah dua puluh tahun Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam belum juga memiliki Peraturan Pemerintah. "Ini adalah bentuk ketidak seriusan pemerintah mengurus perpustakaan", ujar kakek 8 orang cucu ini.

Himbauan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah untuk menyerahkan hasil Karya ke Perpustakaan diperlihatkan St Japiten Saragih dalam acara itu. St Japiten secara spontan menyerahkan sebuah buku karyanya tentang adat Simalungun ke pihak Baperasda, usai mendengarkan ceramah Majda El Muhtaj menyampaikan makalahnya "Nol Kilometer Peradaban Sumut".

Kerelaan menyerahkan hasil karya seperti ini penting, mengingat catatan Drs Nurjani Msi, Kepala Bidang Pembinaan SDM dan Perpustakaan Baperasda Sumut, masih rendahnya hasil tulisan buku yang diserahkan kepada instansinya, dibanding dengan jumlah penulis di daerah ini.

***

Kiranya tiga sosok pria di atas menjadi inspirasi bagi para penulis-penulis muda dalam memajukan dunia tulis menulis di daerah ini. Semoga pertemuan seperti ini mampu menghasilkan semangat baru bagi penulis dan pembaca. Budaya tulis semakin berkembang dan mendorong meningkatkan minat baca masyarakat.

Penulis adalah penulis beberapa Buku Biografi, tinggal di Medan dan menjadi peserta dalam Pertemuan Penulis dan Pembaca Sumatera Utara, di Hotel Antares Medan, 26 Oktober 2010

Catatan: Artikel ini dimuat di Harian Analisa tanggal 6 Nopember 2010 Halaman 29. Dilengkapi dengan foto  ketiga tokoh.  

Kamis, 28 Oktober 2010

Selamat Jalan Asmara Nababan.

Oleh Jannerson Girsang

 

Kabar memilukan itu kuterima siang ini pukul 12.14, 28 Oktober 2010, persis Peringatan Sumpah Pemuda 2010.

Rekan saya Pendeta Sumurung Samosir—salah seorang rekan dekat Asmara mengirimkan pesan pendek . ”Saya baru dpt kepastian dr Indera N, sdr ktAsmara sdh meninggalkn kita, di RS China. Kpulangan mayatnya blun bs dipastikn kpn. Kt brdoa u klgnya”.

Terbayang wajahnya, cara bicaranya, satu lagi, rokoknya yang tak putus-putus. Asmara Nababan, salah seorang idolaku pergi untuk selamanya.

Saya teringat pertemuan saya di kantor KIPPAS Medan empat tahun lalu. Saat itu dia meminta saya mengantarnya  ke salah satu kantor LSM di Medan. Mobil Feroza butut tahun 1996 bagi seorang Sekjen Komnas HAM, Direktur Demos. Waktu yang pendek di mobil kami manfaatkan bicara soal biografi dan soal demokrasi. Hanya itu yang kuingat dalam pertemuan kami yang terakhir. 

Karena kesibukan masing-masing, selanjutnya, saya dan Asmara  tidak banyak berinteraksi, tetapi saya mengetahui kiprahnya melalui media dan kisahnya dari teman-teman. seperti J.Anto dan lain-lain.

Keteladanan untuk senantiasa memberi pencerahan, semangat dan kesempatan bagi generasi muda untuk berkiprah adalah sebuah contoh yang patut ditiru dari Asrmara.

Saya mengenalnya pada 1987, saat bergabung di KSPPM (Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat), yang ketika itu masih berkantor di Siborongborong. Di mataku, Asmara adalah seorang guru dan teman yang memperhatikan pentingnya kebebasan dan penghargaan kepada Hak Azasi Manusia. Setiap pertemuan beliau senantiasa berbicara soal dua hal itu. Terakhir saya menambahkan soal pentingnya biografi dan otobiografi ditulis. Dia memberi apresiasi. "Itu menarik dan penting kau lanjutkan," katanya dalam pertemuan kami yang terakhir di mobil saya. (Mobil itu sudah saya jual April lalu, karena saya kesulitan keuangan) .  .

Ketika berhenti menjadi wartawan pada 1992, saya sempat bertemu Asmara di kantornya di INGI (International NGO Group on Indonesia), Jakarta. Saat itu saya mengutarakan kekhawatiran saya, karena tidak memiliki pekerjaan, padahal saya memiliki dua orang putri dan satu putra ang masih kecil-kecil. (Kini dua diantara mereka sudah bekerja dan satu sedang kuliah di Jakarta).

Asmara peduli temannya yang sedang dalam kesusahan. Tak berapa lama sesudah itu, Asamara mengutus Setiawaty (salah seorang staf KSPPM) ke rumah saya di Simalingkar. Saat itu Setiawaty Otama membawa pesan dari Asmara bahwa sebuah lowongan tersedia di (INGI). Pasalanya, seorang staf INGI melanjutkan studi di Negeri Belanda. Asmara menominasikan saya untuk mengisi lowongan itu.

Sayangnya, usaha Asmara membantu teman memang tidak saya penuhi saat itu, karena saya keburu mendapat pekerjaan di kantor lain. Saya memberi alasan bahwa pekerjaan yang saya dapat sudah melalui  ”Doa khusuk dan tak mungkin kutinggalkan begitu saja”.

Saya tidak mengetahui perasaan Setiawaty saat itu, tapi sampai hari ini saya masih terus menjalin persahabatan dengannya, Hingga akhir akhir khayatnya, Asmara tetap mengenal saya dan menghargai persahabatan kami.

Saya kehilangan seorang tokoh yang mampu memberi motivasi, semangat juang. Seorang sahabat yang peduli kepada teman. Selamat jalan abang anda semoga karya-karyamu untuk bangsa ini tetap dikenang. Kami generasi penerusmu mampu meningkatkan kiprah yang selama ini sudah abanganda rintis.

Medan, 28 Oktober 2010

Artikel ini dikutip oleh Harian Pos Metro Medan tanggal 29 Oktober 2010.   

Rabu, 27 Oktober 2010

Menyambut Sumpah Pemuda ke 82: ”Hindari Kemacetan Regenerasi”


Oleh : Jannerson Girsang


https://encrypted-tbn3.google.com/images?q=tbn:ANd9GcTR012XEd2h3ptIUK6LrHf5H2MycgUBURPINMJmCoY4lrI7uXBaew
Sumber foto: bocahbancar.wordpress.

Notes : Artikel ini kami tulis pada 2007. Masalah yang aktual sekarang ini, rasanya
masih relevan untuk mempublikasikannya walau tanpa mengubah satu katapun.

Suatu hari menjelang Lebaran 2007 kami mengendarai mobil di Jalan Tol Belawan- Tanjung Morawa (Belmera). Beberapa truk beriringan yang mengangkut berbagai macam barang berjalan sangat lambat. Namun melaju di jalur cepat. Dalam posisi sejajar, pada jalur lambat, sederetan truk dan pick-up tahun 70-an yang bergerak tertatih-tatih bahkan hanya melaju dengan kecepatan 40 kilo meter per jam, kecepatan yang sama dengan truk-truk dan pick up disampingnya. Jalan menjadi tertutup bagi mobil berkecepatan tinggi di belakangnya.

Akibat situasai di atas, di belakangnya berjejer puluhan mobil mulai dari mobil mewah dan mobil-mobil baru—yang berplat putih, berjalan menahan kecepatannya dengan perasaan geram, dan kadang dengan klakson panjang. Mobil-mobil tersebut tidak bisa mendahului truk dan pick up yang menutup kedua jalur jalan. Perjalanan mereka terlambat mencapai tujuannya.

Makin lama, kemacetan makin panjang. Situasi seperti ini berlangsung sekitar 10 menit. Kemacetan seperti ini sudah sering terjadi. Bukan karena kelebihan kenderaan dibanding kapasitas jalan, tetapi karena ketidakpedulian para sopir atas kemampuan kenderaannya. Sampai akhirnya pada saat melewati pemberhentian pembayaran karcis di jalan yang sedikit lebih lebar, sebuah mobil menyalip dengan kencang dan supirnya memperingatkan truk-truk yang berjalan di jalur cepat, supaya melaju di jalur lambat. Setelah itu, jalan kembali normal dan para pengemudi mobil yang antri beberapa menit di belakang menjadi lega.

Banyak truk dan pick up sebenarnya tidak layak lagi masuk jalan tol (tidak memenuhi kecepatan yang ditentukan dan jalur yang ditempuh) apakah karena pembuatannya sudah tahun tinggi ditambah beban muatan yang kadang berlebihan. Faktor lain, si sopir truk dan pick up yang memang ”bandel” tidak mau perduli bahwa dengan melaju di jalur cepat berakibat antrian panjang dibelakangnya. Pengemudi di belakangnya menjadi terhalang menggunakan kemampuan mobilnya untuk mencapai tujuan. Pengelola jalan tol sebenarnya sudah membubuhkan tanda peringatan batas kecepatan minimum dan peringatan : ”jalur lambat dan jalur cepat”, sebagai arahan bagi pengemudi untuk menyesuaikan kemampuan kecepatan mobilnya.


***

Kejadian di atas merupakan analogi--meski tidak sempurna betul, sebuah regenerasi kepemimpinan yang mandek. Akibatnya banyak sumberdaya yang tidak termanfaatkan secara optimal, khususnya generasi muda yang potensial. Mereka ”menganggur” atau ”mengantri”, menahan ”sejuta rasa” menonton para orang-orang tua berlomba-lomba merebut kekuasan.

Kampanye tebar pesona yang mahal untuk merebut kekuasaan, dipertontonkan oleh mereka yang punya ”duit”—pejabat, mantan pejabat, pengusaha, dan sangat sedikit sekali dari kalangan pemuda. Publikasinya luar biasa dan berlangsung sepanjang tahun, mulai dari kampanye presiden, gubernur, bupati. Kegiatan ini mengisi berita yang cukup besar media kita.

Para pemuda kita seolah dibiarkan terpana menonton dan membaca peliputan korupsi dan menjadi headline di seantero tanah air. Ceritanya persis Cerbung, Cerita Bersambung. Silih berganti. Kasus yang satu tenggelam, muncul lagi kasus korupsi lain. Bahkan orang yang tersangka kasus korupsi, juga masih bisa lolos jadi anggota KPU. Berbagai berita yang ”menggeramkan” lainnya menghiasi media kita, seolah menutup karya-karya generasi muda, yang sebenarnya jauh lebih bernilai dalam konteks pemberdayaan dan pencerahan masyarakat. .

Alhasil, kita cukup berpuas diri mendengar dan membaca prestasi bangsa-bangsa lain yang anak-anak mudanya dengan cepat maju dan tampil sebagai pionir bangsanya. Saat pengumuman hadiah Nobel untuk beberapa tokoh internasional, kita hanya bisa menonton tanpa sekalipun nama bangsa ini pernah tertoreh. Malu tokh kita, masyak Nobel yang perna kita terima hanya ketika konflik Timor Timur.

Prestasi olah raga kian tahun kian redup. Kalau kita melongok ke luar negeri, penemu Google, dalam usia mereka yang masih sangat muda menemukan mesin pencari tercanggih itu. Sergey dan Larry dua pemuda Amerika yang memiliki ruang yang kondusif mampu melihat sesuatu yang tak terlihat pakar-pakar tua.

Di usia 34 dan 35 tahun dalam waktu tidak lebih dari sepuluh tahun, mereka bisa menjadi urutan teratas dalam kreativias bahkan mampu menaikkan kekayaannya menjadi papan atas di Amerika Serikat. Google saat ini menjadi perusahaan papan atas di Amerika. Publikasi tentang mereka, justru tidak hanya di negara mereka, bahkan media nasional terbesar di negara inipun tertarik membuat cerita mereka setengah halaman beberapa hari menjelang Hari Sumpah Pemuda.

Miri kita melihatnya, dimana menjelang hari Sumpah Pemuda tahun ini media-media kita cukup berbangga mempublikasikan prestasi Singapura yang pertama kali menerbangkan pesawat Airbus A380. Pun dalam dunia pemerintahan, kita tau persis. Negara-negara maju menghasilkan pemimpin-pemimpin muda yang energik. Dalam usia muda, seorang sudah mampu menjadi presiden. Lihat saja Clinton, dalam usia 44 tahun sudah menjadi presiden, Tony Blair, dalam usia yang lebih muda dari Clinton sudah menjadi perdana menteri Inggeris. Orang-orang tua berdiri di belakang menjadi penasehat-penasehat yang bijaksana. Kita justru melihat, pemimpin kita beranggapan, generasi yang usianya seperti saat Clinton atau Tony Blair, belum saatnya memimpin negara ini.


***

Di era kecepatan (velocity era) ini, kita membutuhkan pemimpin yang mampu mengelola sumberdaya manusia, khususnya para generasi muda. Mampu mengangkat karya-karya besar bangsa. Pemimpin harus tau diri dan memberikan peluang dan apresiasi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih. Sehingga tidak ada sumberdaya yang under used, tidak termanfaatkan sesuai ”kapasitas”nya.

Di era velocity (kecepatan) saat ini para pemimpin dituntut memberikan ruang dan kesempatan bagi generasi muda yang memahami dan mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Seperti tercatat dalam sejarah, generasi muda adalah insan-insan yang memiliki kreativitas, dan kemampuan prima untuk melakukan perubahan dalam mengejar ketertinggalan bangsa, perubahan yang mengeluarkan bangsa ini dari himpitan penjajah. Mereka bergerak di baris terdepan dalam mengambil keputusan-keputusan ”berkecepatan” tinggi. Ini Pada masa-masa kritis, peran pemuda dalam mendobrak perubahan cukup signifikan. Sumpah Pemuda 1928 adalah salah satu diantaranya. Demikian juga perubahan yang terjadi pada 1966 dan 1998.

Perubahan ada ditangan generasi muda dan sangat penting meningkatkan peran dan menghargai karya-karya mereka. Kita perlu kembali merenungkan peringatan Eep Saefullah—pengamat politik Universitas Indonesia dalam bukunya "Provokasi Abad 21". “Perubahan harus dilakukan oleh para pemuda dan jangan berharap bahwa bangsa ini akan berubah hanya mengandalkan pikiran dan usaha para orang tua. Pemuda masa lalu telah melepaskan negeri ini dari penjajahan Belanda. Akan tetapi, ketika para pemuda itu menjadi tua dan tetap memimpin negeri ini yang terjadi adalah sebuah kemunduran moral, material, dan spiritual di sebagian besar manusia Indonesia. Penindasan sistemik terus berlangsung bahkan hanya berganti wajah, kalau dulu dilakukan oleh bangsa asing, maka selama kemerdekaan penindasan dilakukan oleh bangsa sendiri”.

Saya setuju dengan statment di atas. Sejarah memang membuktikannya. Pun, di era informasi ini, karya-karya anak muda sesungguhnya luar biasa. Di dalam negeri terlihat bagaimana generasi muda telah memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan teknologi dan informasi, perubahan-perubahan politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Beberapa politisi muda juga, bahkan di usia 30-an sudah mampu memimpin partai besar.

Tapi aneh. Banyak orang pintar dari kalangan generasi muda kita, lebih nyaman tinggal dan berkarya di luar negeri. Yaya Rukayadi menjadi dosen di Universitas Yonsei, Seoul, seorang professor asal Medan menjadi guru besar di salah satu universitas ternama di Amerika Serikat. Sulit bagi kita untuk mengharapkan mereka kembali ke kampung halamannya. Mereka lebih merasa terhormat di sana. Tidak tertutup kemungkinan para pemenang medali dalam Olimpiade Fisika, Matematika, Biologi, Kimia Indonesia, juga akan mengikuti langkah yang sama, kalau bangsa ini tidak memperdulikan mereka.

Sayangnya, sikap para pemimpin dan masyarakat kita atas prestasi anak-anak muda ini, tampaknya belum bergeser. Meski tidak merupakan analogi yang persis, setidaknya, iklan sebuah merk rokok ”Yang Muda Belum Bisa Bicara”, terus ditayangkan di berbagai stasiun televisi nasional, bisa jadi sebuah realitas sikap di masyarakat kita terhadap generasi mudanya. Dengan semangat mudanya si gadis (diperankan seorang presenter kondang) menjelaskan kondisi sekelilingnya kepada penumpang bus yang membawa penumpang (mungkin bus pariwisata). Sang gadis secara professional sebagai seorang guide menjelaskan kepada penumpangnya informasi tentang daerah yang mereka lalui. Meski demikian dia selalu tidak dihiraukan penumpangnya. Bahkan penumpang tertidur saat dia bicara. Dalam iklan itu, seorang pria beruban dengan mengganti wajah tampilan, namun dengan tetap menggunakan bersuara si guide tadi. Para penumpangnya, kontan memperhatikan penjelasan itu. Barangkali ”persepsi” rakyat kita, entah itu direkayasa atau tidak, memang cenderung lebih percaya pada pria yang beruban dari pada generasi muda (diperankan anak gadis dalam iklan itu). Mengapa?. Wallahu alam!

Ada satu pelajaran yang pantas kita renungkan. Sejarah bangsa kita menunjukkan bukti bahwa di masa lalu para pemimpin yang dulunya ”pemuda” kemudian menjadi ”tua”, tidak mempersiapkan pengganti mereka dengan baik. Pergantian presiden tak luput dari permasalahan.

Bung Karno misalnya. Di tahun 1928 berstatus pemuda, dan kemudian menjadi presiden pertama dan berkuasa selama 20 tahun, lupa mempersiapkan penggantinya, demikian juga presiden Suharto yang sampai berkuasa selama 32 tahun. Bung Karno malah mengukuhkan dirinya menjadi Presiden seumur hidup. Sampai akhirnya turun tahta dengan ”tidak wajar”. Soekarno turun setelah rentetan protes usai pemberontakan G30S PKI, sedangkan Suharto ”mengundurkan diri” bulan Mei 1998, karena tekanan gerakan reformasi. Para pemimpin negara kita di masa lalu bercokol cukup lama sehingga tidak ada regenerasi pemimpin nasional. Pemuda dimasa kepemimpinan mereka tidak pernah menjadi ”tua” atau matang. Malah pengurus di organisasi pemudapun sering didominasi para orang-orang tua. Mereka lupa ini menyebabkan terjadinya ”kemacetan” regenerasi.


***

Sumpah Pemuda ke 79 ini hendaknya dimaknai sebagai sebuah refleksi atas pentingnya mempersiapkan dan memberi ruang kepada generasi muda ke depan untuk mampu menghasilkan karya-karya besar dan selanjutnya membawa mereka menduduki jabatan-jabatan penting dengan proses yang benar. Kita tidak mengharapkan mereka tampil dengan ”karbitan” dan kemudian maju ke puncak kekuasaan karena kecelakaan akibat ”kemacetan”.

Runtuhnya Orde Baru, ternyata menyisakan persoalan pada lemahnya sumberdaya partai, karena muncul secara tiba-tiba. Akibatnya, ada yang hanya lulusan SMP kemudian menjadi ketua partai dan selanjutnya menjadi ketua DPRD. Adalah lebih baik, kalau para pemimpin sekarang ini mempersiapkan penggantinya, ketimbang terlindas karena ”ditabrak” atau ”disalip” karena ”kelebihan energi” dan kemampuan generasi muda yang tidak tersalurkan sesuai porsinya.

Khususnya di era pasca reformasi ini, dalam mempersiapkan para pemimpin yang menduduki jabatan strategis dan politis sifatnya, pemimpin partai politik diharapkan mengoptimalkan partai sebagai mekanisme yang benar sebagai wadah bagi pemuda dalam menjalani proses mematangkan dirinya untuk memimpin.

Seharusnya Partai menjadi sebuah wadah sekaligus fasilitator karya-karya besar anak-anak muda bangsa ini. Sayangnya, Partai politik tidak mau belajar atas begitu besarnya potensi sumberdaya manusia bangsa ini. Ini bisa jadi karena mekanisme pengkaderan tidak jelas dan transparan, sehingga kurang mampu mendorong para generasi muda yang memiliki kemampuan.

Kesan kami, khususnya partai yang memenuhi persyaratan, tidak selamanya ”berani” atau ”mau” mencalonkan kadernya sendiri. Padahal, saat memilih di kotak suara, rakyat tidak hanya memilih partai—faktor profil kader-kader partai juga menjadi salah satu penentu. Mereka mengharapkan kader-kader partai tersebutlah yang akan jadi pemimpin mereka. Hanya melalui proses seperti inilah kaum muda berkesempatan diproses menjadi calon pemimpin yang benar-benar dipilih rakyat. Partai politiklah satu-satunya yang diharapkan mampu secara sistematis dan berkelanjutan menghasilkan pemimpin besar. Karena yang diinginkan rakyat bukanlah seorang pembeli kekuasaan!.

Apalah artinya partai kalau tokh dalam menetapkan pemimpin strategis dan bersifat politis, yang nantinya langsung melayani rakyatnya harus dari luar partai?. Apakah itu tidak mendemotivasi para pemuda yang kebetulan duduk sebagai anggota atau pengurus partai, yang sebenarnya sudah cukup matang menjadi pemimpin?.

Barangkali ketidakberesan proses seleksi pemimpin menjadi salah satu sebab mengapa reformasi yang sudah memasuki usia sepuluh tahun, kemampuan generasi muda yang ”bersih dan berwibawa” untuk maju sebagai calon pemimpin rakyat, belum secara optimal tampak ke permukaan. Perjuangan generasi muda untuk dicalonkan partai sebagai ”kapal” menuju pencalonan tidak cukup bermodalkan ”kemampuan kepemimpinan”, tetapi juga membutuhkan ”ongkos” yang tidak kecil.

Tidak berlebihan kiranya menyarankan agar partai lebih mengamalkan kedaulatan rakyat yang dimilikinya, sehingga potensi pemuda di lingkungan partai secara sistematis dan berkelanjutan dapat memunculkan generasi muda menjadi pemimpin-pemimpin yang tangguh yang nantinya memegang jabatan-jabatan politis.

Di era velocity (kecepatan) yang sedang kita jalani sekarang ini menuntut kepemimpinan yang memiliki kemampuan untuk mengelola sumberdaya manusia yang memiliki energi, dinamika, dan intelektualitas yang tinggi. Krisis yang terjadi sepuluh tahun yang lalu belum recovery sepenuhnya, tidak bisa teratasi dengan cara yang ”biasa-biasa” saja apalagi dengan sikap”inkonsistensi”.

Terobosan kreatif—yang melibatkan para anak-anak muda, generasi muda adalah syarat mutlak. Percepatan yang terjadi dalam segala bidang kehidupan dan krisis yang dialami bangsa ini, jangan sampai mengulangi lagi ”kemacetan-kemacetan” regenerasi yang pernah terjadi, dan membuat kita terus terpuruk. SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA KE 82. (Artikel ini pernah dimuat di Majalah Sauhur, Medan Edisi II Oktober 2007).