My 500 Words

Rabu, 02 Desember 2009

Apa di Balik Gunung: Profil Lermianna Girsang



Oleh: Jannerson Girsang

Pengantar

Beberapa hari yang lalu, saya menerima Undangan Hari Ulang Tahun Bibel Frau Lermianna Girsang, seorang perempuan yang bertahun-tahun merupakan sumber inspirasi kami. Seorang yang memberi perhatian besar pada orang di sekelilingnya. Seorang yang berkeinginan belajar terus menerus, serta menghargai orang lain. Kisah dirinya ini sekaligus juga merupakan bahan refleksi bagi kami sendiri dan semoga bermanfaat bagi pembaca blog ini.

Perempuan bertubuh pendek dan lincah itu, masih energik memasuki usia 60 tahun, 3 Desember 2009, bertepatan dengan Adven Pertama, saat orang Kristen menyambut Hari Natal. Berbicara di kediaman kami di Medan beberapa waktu lalu, dia banyak berkisah tentang kehidupannya, dan mengapa dia harus mengadakan syukuran atas masa pensiun yang akan dia jalani beberapa hari ke depan.




Mantan Ketua Penginjil GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) ini mengaku, Tuhan telah membimbingnya menjawab pertanyaan “Ada Apa di Balik Gunung itu”, satu demi satu dalam perjalanan hidupnya; tiga tahun di Sekolah Penginjil Wanita, dan 38 ahun pelayanannya sebagai Penginjil di GKPS--sebuah gereja dengan lebih dari 200 ribu jemaat dan berkantor pusat di Pematangsiantar itu, hingga memasuki masa pensiun.

Sebuah perjalanan hidup yang menghasilkan pemaknaan darinya sebagai refleksi dari perjalanan itu. Kisah kehidupannya sendiri selama 60 tahun, menurutnya merupakan jawaban pertanyaan seputar “Apa di Balik Gunung”, serta refleksinya atas jawaban pertanyaan itu.

Berikut kisahnya.


Lermianna Girsang, anak kedua dari 10 bersaudara ini, lahir Mardingding, Simalungun, 3 Desember 1949. Mardingding terletak di pinggir jalan besar Kabanjahe-Pematangsiantar. Ke arah Timur dari kampung yang ketika itu berpenduduk tidak lebih dari 40 Kepala Keluarga ini, terletak kota kecil Saribudolok. Di masa anak-anak dan remajanya, itulah satu-satunya pekan yang dikenal penduduk di daerah itu, dan jaraknya hanya 3 kilometer lebih sedikit. Ke sebelah Barat kampung ini terletak gunung Sipisopiso dengan air terjunnya yang terkenal, ”Sipiso-piso Water Fall” atau Air Terjun Sipiso-piso. Di sebelah Utara terdapat pegunungan dengan dua gunung berapi yang menjulang tinggi, Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak, sedangkan di sebelah Barat, terpampang deretan pegunungan.

Kondisi geografi yang demikian membuat Lermianna senantiasa bertanya “Ada apa di Balik Gunung Itu?”. Pasalnya, sampai masa remajanya, Lermianna hanya pernah mengunjungi pekan Saribudolok dan hanya satu kali “naik truk” ke Air Terjun Sipisopiso. Dia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di Tigaraja dan kemudian Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Saribudolok. Praktis, perjalanan yang ditempuhnya kurang dari sepuluh kilometer dari kampungnya. Dalam perjalanannya ke sekolah dan ladang. , pemandangan yang dilihatnya hanya gunung-gunung di sekeliling kampungnya yang senantiasa menghalangi pandangannya.

Selain itu, kondisi ekonomi keluarganya turut menghalangi ruang geraknya. Anak kedua dari sepuluh bersaudara ini melukiskan keadaan ekonomi keluarganya ”kurang mampu”. Kondisi ini memang memaksanya setiap pulang sekolah harus membantu orangtuanya ke ladang. Dia terlibat mengerjakan ladang orang tuanya atau pergi mencari upahan mangomo) di ladang orang lain, kalau dia membutuhkan uang saku. ”Orang tua saya tidak punya uang selain menyediakan makanan dan biaya sekolah,”ujarnya.

Bahkan, sebelum menyelesaikan SMP, Lermianna putus sekolah. Alasannya cukup sepele. Ban sepedanya kempes dan orang tuanya tidak mau memberi uang untuk memperbaikinya. Hingga muncul tindakan bodohnya. Tidak melanjutkan sekolah!.

Keputusan ini, bukannya jadi ”mala petaka” bagi orang tuanya, bahkan dimaknai sebuah ”berkat”, karena dia bisa jadi “aset” mengatasi kesulitan ekonomi keluarga. Pada 1967, saat putus sekolah itu, ayahnya Benyamin Girsang meninggal dunia. Lermianna di usia 18 tahun sangat diharapkan bisa membantu menyokong ekonomi keluarga.

Setiap hari—dari pagi hingga sore, Lermianna bekerja di ladang, meski sebenarnya di dalam hatinya ada tekad untuk menjawab pertanyaan “Ada Apa di Balik Gunung itu”. “Sebenarnya, hati saya terus berontak. Saya tidak mau hidup di kampung, karena hidup di kampung tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu”ujarnya.

Keinginannya keluar dari kampung semakin besar, saat bertemu dengan salah seorang namborunya (saudara sepupu ayahnya) yang ketika itu Sekolah Perawat di Rumah Sakit Cikini Jakarta, yang pulang saat berlibur. Jakarta, sebuah tempat yang sangat asing bagi seorang gadis yang hanya bisa keluar tak lebih sepuluh kilometer dari kampungnya.

Pertemuan itu menambah keinginannya keluar dari kampungnya mencari jawaban “Ada Apa di Balik Gunung”. Bahkan dia bertekad mengumpulkan uang sendiri. “Saya senantiasa menyimpan uang itu di dalam tudung (penutup kepala) saya. Meski sebenarnya uang itu tidak pernah cukup, seandainyapun dikumpul bertahun-tahun,”ujarnya.

Tapi, dari manakah datangnya pertolongan?. “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku?. Pertolonganku ialah dari Tuhan saja”.

Ayahnya Benyamin Girsang dan ibunya Morlinim boru Sinaga, adalah pasangan yang tekun beragama, meski keluarga ini kesulitan ekonomi. Sikap ini diwarisi Lermianna sejak kecil. Orangtuanya menganjurkannya mengikuti Sekolah Minggu dan kemudian sejalan usianya meningkat, dia mengikuti kebaktian di gereja.

Dalam sebuah kebaktian minggu, pada acara ting-ting (pengumuman) di gereja Lermianna mengarahkan perhatiannya. Sebuah berita penting, penerimaan Sekolah Penginjil Wanita di Sondiraya, sebuah sekolah yang baru saja dibuka GKPS. Tingting ini meyakinkannya sebagai “petunjuk” atas jawaban pertanyaannya selama ini. ”Ada Apa di Balik Gunung”.

Hatinya bulat mendaftar ke Sekolah Penginjil Wanita (SPW) di Sondiraya. Meski di awal, dia ragu apakah orang tuanya mengijinkannya mengikuti sekolah itu. Pasalnya, dari segi kemampuan ekonomi, hal itu tidak mungkin. Ayahnya baru saja meninggal, tentu beban ibunya akan bertambah berat menanggung saudara-saudaranya yang ketika itu masih dalam usia sekolah. Apalagi, selama ini, dia sudah “marharoan” dan bisa membantu meringankan beban orang tuanya.

Pulang dari gereja GKPS Nagasaribu di Tigaraja (beberapa desa di Silima Kuta masih mengadakan kebaktian di gereja itu), Lermianna langsung menemui Evangelis GKPS St Nelson Girsang di Mardingding. Pria ini tidak lain adalah adik ayahnya sendiri. Keinginannya mendaftar ke SPW, ternyata disambut baik ”mangudanya” itu. Evangelis Nelson bersedia memberitahu ibunya soal keinginannya ini. Ibunyapun merestui keinginan putrinya itu.

Lantas mereka bertiga, bersama ibunya dan St Nelson menemui Pendeta JM Girsang di Tigaraja, berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari kampung di Mardingding. Pendek cerita, dia memenuhi seluruh persyaratan administrasi.

Bersama siswa lainnya dia menjalani tes dan lulus. Lulus bukan berarti hambatan terlewati. Mereka harus membayar sejumlah kewajiban. “Sungguh luar biasa Tuhan membantu manusia,”ujar Lermianna. Ketika itu, menurutnya, ada seorang warga di Sondiraya yang membantu orang-orang tak mampu seperti dirinya. Jadi, “kami hanya membayar uang membeli sabun dan keperluan kecil sehari-hari,”ujarnya terharu.

Bersama sekitar 15 orang siswa SPW, pada 1968, Lermianna mulai mengikuti SPW yang lama pendidikannya 3 tahun. Sebelum mengikuti pelajaran, guru berkebangsaan Jerman menjelaskan pelajaran-pelajaran yang akan mereka terima dan buku-buku yang harus disiapkan. Setiap pelajaran harus dilengkapi dengan buku tulis dan buku pelajaran. Sang guru bertanya, persiapan apa yang sudah mereka miliki. “Saat itu saya hanya memiliki bibel perjanjian Baru dan buku Haleluya” kata Lermianna lirih, betapa dia sebenarnya tidak mampu memenuhi kebutuhan buku-buku yang dimaksud gurunya itu. Untungnya seseorang bersedia memberikan bantuan kepadanya, bersama dengan beberapa orang temannya, sehingga mereka terbebas dari beberapa kewajiban sekolah.

Kegiatan sekolah di SPW berjalan dan suatu ketika dia berontak dan ingin keluar. Karena ternyata, sekolah baginya terasa sulit, dan lebih enak kembali ke ladang. Keluhan ini diutarakannya kepada St Nelson Girsang yang suatu ketika berkunjung ke Asrama mereka. Lermianna menyaksikan St Nelson berbicara dengan Suster Ursulla, guru mereka. Tetapi setelah itu dia pulang begitu saja, tanpa pernah merespon keluhannya. “Manguda Nelson tidak pernah menanggapi keluhan saya. Hingga saya lulus,”kenang Lermianna yang kemudian memaknainya sebagai sebuah tindakan yang bijaksana. Dengan segala keluhan dan kesulitannya, akhirnya Lermianna lulus dari SPW, bersama sebelas siswa SPW lainnya yang dinyatakan lulus. “Ada tiga orang yang ketika itu belum lulus,”katanya. Menurut Lermianna, sekolah itu hanya satu angkatan, dan setelah itu tidak menerima murid baru lagi.

Minggu, 17 September 1971. Lermianna bersolek dan melengkapi dirinya dengan baju kebaya, memakai sangggul seperti ibu-ibu. Seorang Bibel Frau harus tampil dewasa, meski usia mereka masih muda. Sebab nantinya mereka dituntut melayani orang-orang dewasa di tengah-tengah jemaat.

Hari itu adalah hari yang bersejarah baginya. Gereja GKPS Sondiraya menjadi saksi saat Pimpinan Pusat GKPS (Ephorus Pendeta Lesman Purba dan Sekjen Pendeta Armencius Munthe) menahbiskannya menjadi Bible Frau. Mereka mengucapkan janji Bibel Frau. “Aku sudah resmi menjadi Bibel Frau, bukan lagi murid sekolah Bibel Frau,”ujarnya dalam Buku Penginjil Diutus ke Dunia (2008).

Saat menegangkan kemudian tiba. Dia kaget mendengar pengumuman penempatannya menjadi Ibu Asrama di Asrama Putri Sondiraya merangkap ke GKPS Sondiraya. “Saya harus bekerja dengan orang Jerman? Bahasanya saya tidak mengerti, berpengetahuan luas. Oh Tuhan..”. Saat itu Zr Elizabeth Steinhard (anak pendeta Johannes dari Jerman yang lahir di desa Raya, Berastagi) adalah Pimpinan Asrama dan Zr Ursulla Woerman menangani pelayanan wanita di jemaat.

Pengalamannya selama dua belas tahun di bawah bimbingan dua suster Jerman itu di Asrama Putri Sondiraya memberinya sebuah refleksi kehidupan “Bekerja sambil belajar dan belajar membenahi diri”. Bersinggungan dengan orang Jerman memaksanya belajar bahasa Jerman dan menguasainya dengan baik. Pengelolaan asrama bagi seorang bekas “parharoan” bukan sesuatu yang mudah. Namun tekadnya belajar membuatnya mampu menjalaninya dengan baik.

Sebuah tantangan baru dihadapinya. 1984 Pimpinan Pusat GKPS menugaskannya sebagai Penginjil Wanita pertama di luar Pulau Sumatera. Dia kembali bergumul. “Apakah saya ini dilempar jauh, Tuhan. Apakah saya dihukum?”. Delapan tahun enam bulan melayani di sana, Lermianna memperoleh pengalaman baru. Ternyata jemaat Tuhan yang hidup di kota Metropolitan sarat dengan persolan kehidupan yang membuat mereka memerlukan ketenangan jiwa melalui ibadah-ibadah gerejawi, belajar, mendengar dan memahami Firman Tuhan,” ujarnya. Itulah menurutnya menguatkan mereka menghadapi hidup. Tugas pelayanannya kemudian memasuki kota terbesar di Sumatera, Medan. Pimpinan Pusat menempatkannya di GKPS Resort Medan Timur selama tujuh tahun (1992-1999), lantas ke GKPS Resort Pakam (1999-2001).

Dari penugasannya sebagai Penginjil Wanita di berbagai tempat, Lermianna menyimpulkan : “Ternyata, melayani di desa dan kota, serupa tapi tak sama. Dimanapun kita melayani, ada suka dan tantangannya. Kebersamaan dengan jemaat itu mendorong semangat melayani dan menjadi kekuatan yang tak dapat saya lupakan,” katanya.

Lermianna adalah seorang Penginjil yang di mata Pimpinan Pusat GKPS mampu mengerjakan tugas-tugas baru. Jauh di luar hal yang dipelajarinya sebagai lulusan Sekolah Penginjil Wanita. Delapan tahun menjelang memasuki masa pensiun, Lermianna ditugaskan di kantor Pusat GKPS, menangani Oikumene dan Kemitraan.

Dia kembali bergumul. “Apalah aku ini Tuhan?. Apa yang dapat saya lakukan di kantor Pusat dalam pelayanan oikumene dan kemitraan GKPS?. Saya ini gagap teknologi. Tanganku belum pernah menyentuh key board komputer...... Mungkin aku ini salah tempat,”ujarnya. Keluhan yang wajar.

Mula-mula dia menghadapinya dengan sikap pesimis. “Awalnya, sampai beberapa hari berikutnya saya masuk kantor, saya seperti kanak-kanak. Datang, duduk, diam dan lihat teman-teman tak mau mengerjakan apapun dan tak tau memulai dari mana,” ungkapnya seolah putus asa dengan tugas barunya itu.

Tetapi, seperti di awal kehidupannya, dalam keyakinannya, Tuhan senantiasa menunjukkan pertolongan melalui apa saja. Kamus, teman-teman di sekitarnya menjadi alat Tuhan membuka pikirannya. Namun,menggunakan komputer dan mengirim email, menjadi pergumulannya paling besar. Maklum, usianya sudah di atas 50-an, dan sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa komputer akan menjadi alat vital bagi tugasnya.

Hingga kemudian, “Aku bisa menggunakan komputer, dan mengirim email pertama kepada Suster Elizabeth di Jerman,” ujarnya bangga. Komputer dan e-mail kemudian menjadi alat baginya berhubungan dengan dunia ini. Sebuah kemampuan yang dikaruniakan padanya, jauh dari ilmu yang dipelajarinya di SPW Sondiraya puluhan tahun sebelumnya.

Wawasannya terbuka, dan kemudian dia mampu melaksanakan tugas-tugasnya mengadakan pertemuan, komunikasi, perkenalan, persahabatan, perkunjungan secara timbal balik dengan mitra-mitra di dalam dan luar negeri.

Pertanyaannya tentang “Apa di Balik Gunung” yang digumulinya sejak kecil, ternyata dalam kesaksiannya, Tuhan menjawabnya, melebihi sesuatu yang dibayangkannya ketika masih menganggur di Mardingding.

Perjalanannya yang sampai di usia remaja kurang dari sepuluh kilometer, puluhan tahun kemudian, memasuki usianya 60 tahun, Lermianna yang karena tugasnya atau undangan teman-temannya telah menjelajah dunia ini, terbang puluhan jam mencapai lokasi pertemuan atau rapat di Jerman atau negara lain. Berbagai kunjungannya ke luar negeri, memberinya sebagian jawaban pertanyaan itu.

Kirburg, kota kelahiran bekas gurunya Suster Elizabeth berkali-kali dikunjunginya, bahkan salah seorang anggota keluarganya turut serta dalam sebuah kunjungannya ke Jerman. Dia berhasil membina hubungan dengan rekannya, tidak hanya sekedar hubungan kerja, tetapi apa yang dimaknainya sebagai “persaudaraan di dalam Kristus”.

Memasuki masa pensiun, Lermianna memaknai pertanyaan “Apa di Balik Gunung”, dengan pemahaman baru, berbeda ketika dia masih "marharoan" di Mardingding. “Aku akan belajar tentang banyak hal yang belum saya ketahui dan bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan,”ujarnya mantap.

Memasuki masa pensiun, Lermianna yang karena pilihannya tidak menikah seumur hidupnya, tinggal di Pematangsiantar bersama ibunya Morlinim br Sinaga, perempuan tegar yang kini sudah berusia 86 tahun.

Selamat Ulang Tahun ke-60 dan memasuki pensiun. Tuhan memberkati.

Artikel di atas diramu dari wawancara dan berbagai sumber.

Keterangan Foto: Gunung Singgalang, dekat Saribudolok, Kabupaten Simalungun dengan ketinggian 1865 meter diatas permukaan laut (atas) dan Gunung Sipisopiso, dekat Air Terjun Sipisopiso, Kabupaten Karo dengan ketinggian 2094 meter di atas permukaan laut (Bawah). Kampung Mardingding terletak di atara kedua gunung tersebut.

Sabtu, 28 November 2009

Berkat di Hari Raya Idul Adha (Harian Analisa, 30 Nopember 2009 halaman 24)

Oleh : Jannerson Girsang

27 Nopember 2009 sepanjang hari cuaca begitu cerah di Medan. Secerah suasana hati rekan-rekan saya yang beragama Islam dalam menyambut Hari Raya Idul Adha. Hari Raya Idul Adha, tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi umat Muslim. Tetapi juga bagi tetangga-tetangga mereka yang berbeda agama. Rumah kami bersebelahan dengan pak Halim, seorang Muslim.Sebagai tetangga, kami sekeluarga yang beragama Kristen turut merasakannya.

Warga Muslim berbondong-bondong menuju sejumlah mesjid. Ketika saya keluar rumah, pembagian daging kurban sudah mulai terlihat di beberapa tempat. Arus lalulintas di Kota Medan di Hari Raya Idul Adha 1430H, terlihat sedikit lengang di pagi hari. Warga cukup antusias menyambut dan melaksanakan solat Idul Adha.

Sepulang dari diskusi finalisasi sebuah buku otobiografi, sore hari, ibu Yuli, istri pak Halim menghampiri saya, tidak lama setelah memarkir mobil. Beliau menyapa dengan muka ceria. "Pak Girsang, mana ibu,"ujar ibu Yuli sambil tersenyum, seraya menyerahkan sebuah bungkusan plastik. Saat itu, istri saya sedang tidak berada di rumah. Dia keluar bersama anak bungsu saya memanfaatkan libur hari Raya Idul Adha dengan jalan-jalan. Mungkin beberapa jam sebelumnya, ibu Yuli sudah mencari-cari kami. "Dari tadi rumahnya tutup ya," katanya.

Saya menerima bungkusan plastik itu dengan rasa senang yang luar biasa, karena bungkusan seperti itu, layaknya tahun-tahun sebelumnya, pasti berisi daging sapi. Berkat luar biasa bagi kami di saat tetangga kami merayakan Idul Adha.

Benar saja. Ketika bungkusan ini saya buka, isinya adalah daging sapi yang cukup untuk lauk dua kali makan bagi kami bertiga dengan istri dan anak bungsu saya. Kami ikut merasakan nikmatnya Hari Raya Idul Adha melalui tetangga kami yang luar biasa baiknya. Bukan soal nilai daging sapinya, tetapi perhatiannya.

Tiga anak saya di Jakarta, pernah merasakan pemberian ibu Yuli. Istri saya memberitahukan bahwa kami sudah menerima daging kurban Idul Adha dari ibu Yuli. "Salam sama ibu Yuli ya bu," demikian jawaban mereka kepada istri saya.

Mendengar hal itu, mereka turut memaknai perayaan Idul Adha. Meski mereka tidak ikut menikmati daging pemberian bu Yuli, tetapi anak-anak saya ikut merasakan kebahagiaan yang kami nikmati.

Setiap tahun, pada Hari Raya Idul Adha, ibu Yuli selalu menyisihkan daging sapi bagi kami. Meskipun kami bukan Muslim. Ibu Yuli melakukan hal yang sama, sejak 1996, awal kami mulai bertetangga. Kami merasakan sebuah kedamaian bertetangga sesama umat yang berbeda agama. Kami tidak pernah terkungkung oleh perbedaan, tetapi kami melihatnya sebagai sebuah karunia Tuhan.

Saya teringat pengalaman saya di Ciamis, Jawa Barat di era 1980-an, ketika kami bertugas di sana. Almarhum Haji Badrudin pemilik rumah kos yang kami tempati di Jalan Sudirman 132 di kota itu, senantiasa menyisihkan daging kurban Idul Adha kepada keluarga kami. Begitu indahnya bertetangga andaikata kita memahami persamaan : saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Ibu Yuli dan pak Halim adalah keluarga yang sederhana dan berbahagia. Keduanya telah menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Saat mereka berangkat haji, kami juga diundang dalam acara selamatan. Ibu Yuli bekerja pada sebuah surat kabar dan suaminya pak Halim adalah seorang redaktur senior di salah satu surat kabar lokal berpengaruh di Medan.

Di Hari Raya Idul Adha ini, penting bagi kita semua untuk memikirkan cara-cara sederhana dalam bertetangga dan memelihara kedamaian dengan sesama. Kami merasakan makna dalam perbuatan, tanpa sibuk membahas hal-hal yang terkadang rumit. Mengambil cara sederhana, tetapi menciptakan suasana yang saling tergantung dan saling membutuhkan. Kami mampu melaksanakannya, meski kami tidak mengetahui secara mendalam soal teologis, karena kami memang bukan ahli agama.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai tetangga ibu Yuli dan suaminya menunjukkan sikap saling membutuhkan dan kedamaian yang menyejukkan hati. Hal-hal sederhana sering kami lakukan sesama tetangga. Kalau hujan datang dan kebetulan tidak ada orang yang tinggal di rumah kami, sementara ibu Yuli kebetulan di rumah, maka dengan cekatan dia akan mengamankan kain jemuran kami ke rumahnya. Kalau kebetulan salah seorang anak saya atau istri saya di rumah dan kejadiannya seperti di atas, maka mereka melakukan hal yang sama. Ujung-ujungnya, ibu Yuli pasti memberikan hadiah. Anak-anak saya acapkali menerima kiriman makanan atau apa saja dari ibu Yuli.

Sebagai tetangga, karena kesibukan masing-masing, maka kami hanya memiliki waktu tertentu untuk bersilaturahmi. Khususnya pada Tahun Baru dan Lebaran. Saat merayakan Tahun Baru, mereka berdua selalu berkunjung ke rumah kami. Sebaliknya, kami senantiasa berkunjung ke rumah mereka pada saat Lebaran. Memang, di hari-hari biasa, karena kesibukan masing-masing, kami kadang hanya sempat saling tegor atau "say hello". Tetapi memiliki makna persahabatan dan saling menghargai.

Selamat merayakan Idul Adha bagi rekan-rekan saya yang beragama Islam. Semoga Idul Adha tahun ini menjadi refleksi bagi kita semua, bahwa kita berbeda karena Tuhan menginginkan kita berbeda.

Marilah melakukan tindakan-tindakan sederhana untuk membuahkan kedamaian dengan tetangga kita dan pada akhirnya kedamaian di bumi Indonesia ini.

Semoga kisah-kisah seperti ini bisa dialami oleh rekan-rekan saya sebangsa dan se tanah air.***

Tulisan ini dimuat di : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=36246:berkat-di-hari-idul-adha-&catid=78:umum&Itemid=139 dan harian Analisa Edisi 30 Nopember 2009 halaman 24.

Jumat, 27 November 2009

Si Dul Anak Sekolahan

Oleh : Jannerson Girsang

26 Nopember 2009, saat hati saya geram menonton tayangan rangkaian diskusi kisah kisruh KPK-Polri, kasus Bank Century belakangan ini di berbagai stasion televisi kita, tiba-tiba anak perempuan saya mengirim sms dari Jakarta. ”Pak, ada si Dul di acara Bukan Empat Mata”. Begitu pentingnya sinetron ini bagi keluarga kami, begitu pahamnya dia bapaknya penggemar sinetron yang mampu menarik rating tinggi yang menampilkan kehidupan keluarga Betawi ini.

Terang saja, saya langsung switch ke Trans-7. Untunglah ada acara semacam ini. Kalau tidak, otak saya terus terkontaminasi dengan berita-berita ”kosong” yang justru sangat digemari televisi kita, kadang hanya pertimbangan rating tanpa memperdulikan peran ”pencerahan” bagi pemirsa yang melekat pada dirinya.

Sinetron Si Dul mampu membuat pencerahan, hiburan bagi saya dan jutaan penduduk bangsa ini, sekligus mencintai sinetron Indonesia. Saat masa tayang sinteron ini berlangsung beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah absen menonton setiap episode, dari lebih seratus episode yang ditayangkan. Bahkan pemutaran ulang sekalipun masih kami tonton.

Kalau Bob Tutupoly menjadi penyanyi idola Indonesia saya, Koes Plus jadi band idola, maka sinetron yang paling saya kagumi adalah Si Dul Anak Sekolahan. Di mata saya, belum ada sinetron yang bisa menyaingi mereka, hingga saat ini.

Saya yakin jutaan penduduk Indonesia lainnya, menggemari sinetron yang berbobot ini. Konon, almarhum mantan presiden RI, almarhum Suharto sangat menggemari sinetron ini. Bahkan sempat mengundang berapa pemainnya bersilaturahmi ke rumahnya di Cendana. Pemain-pemainnya juga menjadi icon beberapa lembaga internasional sebagai aktor kampanye program mereka.

Begitu mendalam kesan saya dengan sinetron ini, tampilnya para pemain si Dul Anak Sekolahan dalam acara Bukan Empat Mata Trans-7 malam itu, sungguh-sungguh mengesankan sekaligus melepas rindu melihat Rano, salah seorang bintang remaja yang tidak hanya ganteng tetapi seorang bintang berotak pintar. Di masa saya SMA Rano adalah idola kami. (Usia saya setahun lebih tua dari Dul. Dia sekolah di SMA Bulungan, saya di SMA 22 Utan Kayu, Jakarta).

Saking kagumnya, saya harus menuliskannya dalam blog ini, supaya tidak lupa mereka. Sekaligus mengajak pembaca mampu melihat hal-hal yang bernilai dari bangsa ini.

Lima karakter yang tampil malam itu adalah Mandra, Atun, Si Dul, Yuyun, dan Mak Nyak. Acara Bukan Empat Mata, layaknya menampilkan sinetron si Dul Anak Betawi, episode ”Si Dul di Trans-7”. Kasihan bintang tamu yang lain. Koordinator acara mestinya tidak mengundang tamu lain, karena menjadikan mereka seolah tidak dianggap, he.he.he!

Para pemain layaknya seperti sebuah keluarga. Mereka saling mengasihi dan saling merindukan. Acara malam itu layaknya silaturahmi diantara pemain-pemain. ”Senang ketemu anak-anak. Sudah lama tidak ketemu,”ujar Mak Nyak, tak mampu menahan air matanya meleleh, pertanda rasa haru.

Pada acara santai yang dipandu Tukul ”Arwana”—salah seorang pembawa acara idola saya, didampingi Bella Safira, para pemain si Dul tampil sempurna. Saya seolah menonton si Dul, minus Pak Haji (Benyamin Sueb), Karyo (Basuki) yang sudah meninggal, serta minus kakter lainnya yang mungkin tidak diundang atau berhalangan hadir, seperti Munaroh pacar Mandra, atau Sarah .

Sinetron Si Dul Anak Betawi diambil dari kisah kehidupan warga Betawi itu, syarat dengan kondisi sosial masyarakat Betawi. Benar-benar mengenalkan saya sebuah sinetron yang bermutu. Dia digemari mulai dari anak-anak, pemuda, orang tua, bahkan kakek nenek.

Dari perbincangan santai dan kocak itu, terbetik cerita menarik. Sinetron si Dul Anak Betawi—yang pernah ditolak stasion televisi nasional ini, memang menampilkan hampir semua pemainnya menjadi pemeran utama. ”Di si Dul tidak ada peran utama. Semua menjadi peran utama,” kata Rano Karno. Bahkan Yuyun bilang : ”Saya besar karena main di sinetron ini”

Sinetron yang sarat dengan kondisi sosial masyarakat membuatnya tidak hanya kocak, tetapi lebih berbobot. Dalam acara itu, cuplikan sinetron si Dul sempat ditayangkan. Simak saja dialog Benyamin Sueb dengan si Dul. ”Ngapain gue sekolahin lu ke sekolah tinggi, lebih baek gue pake buat naik haji ame nyak lu,” ujar Benyamin yang meskipun sudah meninggal rasanya masih hidup.

Bisakah sinetron Indonesia menampilkan cerita lokal yang menarik dan bermutu?. Jawabnya bisa. Bisakah cerita lokal menarik pemirsa menonton televisi?. Jawabnya juga bisa. Bisakah sinetron Indonesia dengan cerita lokal menampilkan tontonan mendidik? Jawabnya juga bisa?.

Rano pasti bisa. Tapi apa mungkin ya, dia kan anggota parlemen. Saya lega, karena Rano Karno masih bisa bergurau. ”Kalau udah gini, kayaknya mau bikin sinetron lagi nih,”ujar Rano Karno. Paling tidak dia masih ada keinginan.

Mudah-mudahan gurauannya menjadi kenyataan. Buat sinetron baru dong Dul, pasti laris!. Gantiin tuh sinetron-sinetron kacangan yang hanya menampilkan ”kecantikan”, ”kemewahan” dan ”kekerasan” yang banyak merusak generasi muda kita.

Saya pasti akan promosi kalian melalui Blog ini.


Kamis, 26 November 2009

Ingin Mengenal Penulis Perempuan Terkenal?

Oleh : Jannerson Girsang

Saat mencari referensi untuk penulisan otobiografi seorang perempuan beberapa waktu lalu, saya menemukan website yang cukup menarik, namanya : http://www.womenhistory.about.com. Kalau anda tertarik, klik saja alamat website tersebut. Website ini membahas tentang sejarah perempuan (women history), Biografi (biography), Issu dan Peristiwa (Issues and Events) serta Hak-Hak Perempuan (Women’s Rigths).

Anda bisa kenal dengan seorang penulis perempuan, Jone Johnson Lewis, yang baru saja menyelesaikan Biografi Ratu Victoria. Seorang ratu yang paling banyak dipelajari dan banyak ditulis. Seorang perempuan yang sangat berkuasa dalam sejarah.

Selain itu anda bisa lihat biografi singkat Murasaki Shikibu (penulis novel The Tale of Genji), penulis perempuan terkenal di Eropa (Hrotsvitha von Gandersheim, Hildegard of Bingen) dan banyak lagi.

Untuk menambah pengetahuan bagi rekan-rekan, silakan kunjungi.

Jumat, 20 November 2009

Cerita Profesor Kodok: Semoga Tidak Benar!

Oleh : Jannerson Girsang

Belakangan ini kami acapkali bingung mengikuti pendapat atau komentar para pejabat, intelektual dan tokoh-tokoh kita. Makin menonton atau membaca media, makin bingung. Jangan-jangan memang makin sedikit kita yang memahami persoalan bangsa ini. Cara mengatasi persoalan terasa lamban dan berbelit-belit. Sejak Januari tahun ini, saya sudah hampir mual dengan tontonan yang membingungkan : DPT, kasus KPK, kasus Bank Century dan masalah lain yang sebenarnya sederhana (kalau kita tidak pura-pura bodoh). Tetapi justru berlarut-larut dan belum tau sampai kapan akan mencapai solusi yang menguntungkan rakyat banyak.

Di tengah-tengah rasa bingung itu, saya begitu tersentak membaca sebuah kisah yang dilaporkan Ingrier Dwi Wedhaswary di KOMPAS.com, berjudul: Kwik Kian Gie dan Ceritanya soal "Profesor Kodok"..., Kamis 19 Nopember 2009 (15.27).

Kami tidak hanya tersentak, tetapi sekaligus geli dan tergelitik, dan gamang. Simak ceritanya.

"Di pinggir kali, ada anak berusia 5 tahun, seorang profesor, dan anak jalanan berumur 14 tahun yang setiap hari ada di pinggir kali itu. Anak 5 tahun tanya ke profesor, 'Berapa kali lompatan yang dibutuhkan kodok untuk melompat ke seberang kali?" tuturnya, pada diskusi Membongkar Skandal Bank Century, Kamis (19/11) di Gedung DPR, Jakarta, seperti dikutip Kompas.com.

Ia melanjutkan, "Si profesor kodok menjawab, 'Kita lihat lebar diukur berapa senti kemudian dikalikan dengan panjangnya, baru tahu berapa lompatannya'. Jawaban profesor ini dibantah oleh anak 14 tahun. Anak itu bilang, 'Bapak salah, yang saya lihat hanya dua kali. Karena, setelah melompat sekali dan menyentuh air, kodoknya akan berenang. Kemudian, dia melompat sekali lagi ke daratan," papar Kwik.

Dari cerita tersebut, laporan itu menyebutkan, Kwik ingin menggambarkan bahwa si anak yang berusia 14 tahun lebih mengetahui dari apa yang dilihatnya di lapangan dibandingkan sang profesor.

Bayangkan, kalau hanya menjawab berapa kali katak melompat di sebuah sungai saja, harus dengan penelitian, wah..wah..wah. Betapa mubazirnya!. Tentu ini analogi. Betapa kita sering membuat rumit, sebuah masalah yang, bisa karena ketidaktahuan atau pura-pura tidak tau. Mudah-mudahan pernyatan Kwiek ini hanya rekaannya saja.

Kita begitu akrab dengan feasibility studylah, road maplah, rencana strategislah,padahal tidak didukung data yang akurat dan pemahaman lapangan yang arif bahkan seringkali mengabaikannya. Membentuk tim-tim yang hanya sekedar menunjukkan peka terhadap persoalan, dan acapkali tidak disertai tindakan yang benar-benar menyelesaikan masalah mendadasar. Bahkan yang memalukan, kadang memecahkan persoalan meng ”copy paste” teori, tanpa didasari data aktual dan kearifan.

Begitu banyak cara bertindak pemimpin di negeri ini seperti kisah di atas, seperti yang disinyalir Kwiek, "pura-pura bodoh atau bodoh betul". Betapa negeri ini akan kehilangan momentum di tengah-tengah era globalisasi yang serba cepat dan tepat.

Persoalan sederhana, yang memerlukan tindakan sederhana, justru disikapi dengan melakukan tindakan yang rumit dan berbelit-belit. Padahal, banyak warga bangsa ini yang mengetahui persoalan, seperti anak kecil di pinggir sungai tadi yang tidak dimanfaatkan.

Turunlah ke lapangan, atau gunakanlah staf anda yang memahami lapangan. Jangan bicara tanpa fakta yang didalami secara benar apalagi mengambil keputusan berdasarkan teori belaka. Jangan hanya duduk manis di belakang komputer di ruangan ber AC sambil minum kopi dingin.

Kita berharap, kisah ini menjadi peringatan tidak hanya bagi profesor yang kebetulan menjadi birokrat, tetapi juga bagi para intelektual, pejabat, dan khususnya mereka yang melayani masyarakat banyak, yang cara bertindaknya seperti kisah di atas.

Sekali lagi, mudah-mudahan analogi Kwik ini tidak benar. Kalau ini benar, maka ke depan Indonesia akan memiliki idiom baru yang tidak enak : Profesor kodok!. Padahal professor erat kaitannya dengan kata-kata Nobel, penemuan baru, solusi yang memberi kemaslahatan bagi umat manusia.

Pedas memang, tetapi ”Jangan jawab dengan kata-kata, tetapi jawab dengan tindakan nyata”, sebagaimana diingatkan SBY kepada para menteri pada Pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 beberapa waktu yang lalu.

Selesaikanlah persoalan mendasar bangsa ini dengan tindakan arif, bukan dengan pura-pura bodoh atau bodoh betul, seperti kata Kwiek.

Rabu, 18 November 2009

Feedback Pembaca Buku Biografi dan Otobiografi

Oleh : Jannerson Girsang

Tak terasa kami sudah memasuki tahun ke-8 membantu menulis buku otobiografi dan biografi tokoh atau masyarakat biasa di Sumatera Utara. Sebuah pekerjaan yang kami yakini akan mengangkat harkat manusia, sekaligus mengungkap nilai-nilai positif dari daerah dimana tokoh itu dilahirkan dan berkarya. Mereka berkarya di sini, di masa lalu dan meninggalkan sejumlah sukses yang mampu memotivasi kita saat ini.

Masing-masing memiliki suksesnya sendiri-sendiri. Karena, "Sukses tidak diukur dari capaian (jabatan) seseorang, tetapi dari hambatan-hambatan yang dihadapinya dan bagaimana dia mengatasi hambatan tersebut" (Brooker, T).

Kami mengakui, meski sudah mencoba sekian lama bergelut dalam bidang ini, ternyata tidak pernah mencapai kesempurnaan. Hanya dengan ketekunan, melakukan perbaikan, pembelajaran bersama mampu menghasilkan inovasi, sehingga sebuah karya besar dapat tercipta.

Untuk membuat evaluasi terhadap penulisan yang telah kami lakukan selama ini, kami ingin mengetahui, sejauh mana buku tersebut masuk di hati pembaca, keluarga, masyarakat luas, khususnya di Sumatera Utara.

Untuk itu, silakan luangkan waktu untuk melihat daftar buku di bawah ini.

1.Girsang, Jannerson, 2009. Berdoa dan Menabur Kasih. Pray and Sharing Love. Otobiography of Floriana Tobing. Launched on September 16, 2009. Editor Nursusilo Raharjo.

2.Girsang, Jannerson, 2008. Haholongon, Love of a Real Women. Biography of Johanna br Banjarnahor. Launched 26 April 2008 at Danau Toba Hotel Medan. Editor : J. Anto dan Bersihar Lubis. The launching was covered by local media, Sinar Indonesia Baru (May 4, 2008).

3.Girsang, Jannerson, 2007. Perjuangan Tiada Akhir. Never Ending Struggle. Biography of Sauria br Sitanggang, founder and owner of Sari Mutiara Hospital, Medan. Launched at Sari Mutiara Hospital, December, 15, 2007. Editor : J. Anto.

4.Girsang, Jannerson, 2007. Berkarya di Tengah Gelombang. Run in the Mids of Wave. Biography of Rudolf Pardede, the former North Sumatera Governor (ended his term on June 16, 2008). Launched Desember, 3, 2007 at Convention Hall Danau Toba Hotel Medan. Editor J. Anto and Bersihar Lubis. The launching were covered by almost all local medias, largest national daily (Kompas, Bisnis Indonesia) and local television (TVRI). Bisnis Indonesia, a prominent business daily in Indonesia, published the abstract of the book in its Sunday special edition on December 9, 2007.

Note :

Available in the National Library of Australia collection. Author: Girsang, Jannerson, 1961-; Format: Book; xviii, 301 p. : ill. (chiefly col.) ; 24 cm.

http://nla.gov.au/nla.cat-vn4583779

5.Girsang, Jannerson, 2006. Tuhan Berbicaralah, Hambamu Mendengarkan. Speak to Me Your Slave is Hearing. Biography of Col (ret) JP Silitonga, the former regent of Simalungun. Launched at Balai Kartini Medan, January 2, 2006. Editor : J. Anto.

6.Girsang, Jannerson, 2006. Setia Sampai Akhir. Lifetime Commitment. Biography of Cony Hardiana Putri, Social Workers for Aceh and Nias Tsunami and Earth Quake, who passed away on duty on January 3, 2006. Launched at Sumatra Village Hotel, Medan, February 2006. Editor : J. Anto. Printed in two languages, English and Indonesia.

7.Girsang, Jannerson, 2005. Hanya Oleh Karena Anugerahnya. Simply Under His Grace. Biography of Prof Dr Sutan Hutagalung (the former Secretary General of Indonesian Protestant Christian Church). Launched Agustus 21, 2005 at Siantar Hotel, Pematangsiantar. Editor : J. Anto. The launcing was covered by a local media (Sinar Indonesia Baru and others) and a series of publications in a local newspapers in Pematangsiantar.

8.Girsang, Jannerson, 2005. Ketegaran Seorang Ibu. Obduracy of a Woman. Biography Rosdiana T br Munthe. Editor J. Anto. Launched at Gedung Nasional Sidikalang, 14 Februari 2005. The launcing was covered by local medias.

9.Girsang, Jannerson, 2005. Anugerah Tuhan Yang Tak Terhingga. The Unlimited Grace. Biography of Rev Dr Armencius Munthe MTh, the former Bishop of GKPS, Simalungun Christian Church. Launched at Balai Bolon GKPS February 12, 2004. Editor J. Anto. The launcing of the book was covered by local medias. The summary of the book has been published in several medias dan websites. English version has also been published.

10.Girsang, J. 2003. Dari Penjara ke Legislatif. From Jail to Legislative. Biography of Ronsen Purba, SH, 1994 North Sumatra Labor Activist. Launched in Pematangsiantar at Labor Day Commemoration 2003. Editor : Drh Pittauli br Purba.

11.Girsang, J, 2002. Bukan Harta Duniawi. Not Simply the World Wealth. Biography of Jahodim Saragih. Launched at Balei Bolon GKPS Pematangsiantar, 2002 Editor : Drh Pittauli br Purba. The launcing was covered by local medias.

Pernahkah anda membaca buku-buku tersebut di atas?. Jika pernah, kami memohon kesediaan anda memberikan komentar singkat dan menuliskannya pada kolom komentar yang tersedia dibawah ini.

Have you ever read those books?. If you have, please put your comment on the comment column which is availabe below. Please feel free to express your opinion.

Komentar anda akan menjadi pelajaran berharga bagi kami.

Jumat, 13 November 2009

Selamat Jalan Emailku Sayang: jannerson_girsang@yahoo.com

Oleh : Jannerson Girsang


12 November 2009, sekitar jam 08.00 pagi. Telepon genggam saya berbunyi, ada sms masuk. Teman saya Eliakim Sitorus—seorang sosiolog dari Jakarta menelepon. Saya senang, karena sudah lama kami tidak bertemu. Dia menyuruh saya membuka smsnya. Setelah saya buka, isinya sungguh mengagetkan. ”Ada di internet mencatut namamu, kau di England (UK) mau pinjam duit 2000 Pound Sterling. Tentu aku tidak percaya”, katanya dalam sms itu. Ternyata emailku jannerson_girsang@yahoo.com di hack oleh seseorang yang mengaku bertempat tinggal di Inggeris.

Telepon genggamku berdering beberapa kali pagi itu. Dari Jakarta tulang saya Maruli Situngkir mengirim sms. Bunyinya :”Pagi, kalau ada waktu tlg call”. Saya menduga, pasti soal yang sama. Ketika saya telepon dia bilang : ”Saya terkejut, saya sempat juga berfikir mengirimkannya,” kata tulang saya yang baik hati ini.

Dina Lumbantobing, salah seorang aktivis perempuan di Sumatera Utara juga menelepon saya. ”Lagi dimana?. Saya baca email pagi ini, kok bisa seperti itu. Tapi biasanya itu,” kata menaruh simpati. Teman saya yang lain, Norma Hutagalung, juga menelepon saya dengan nada yang sama. Bahkan Kukun, teman saya di Pramindo yang menikah dengan orang Perancis dan tinggal di Paris juga menerima email yang sama.

Saya sedih, karena email yang biasa kugunakan mengirim berita damai, berita pencerahan, kini digunakan untuk menipu.

Lantas, saya minta Norma dan Eliakim mengirimkan lengkap isi email ”siluman” yang masuk ke email mereka.

Menunggu email mereka tiba, saya mencoba membuka email jannerson_girsang@yahoo.com yang sudah saya gunakan sejak 2001 itu. Setelah memasukkan user name dan password seperti biasa, email saya tidak bisa menyahut lagi dengan ramah. Malah saya menemukan sapaan yang bagiku sangat kasar. Your Account has been expired. Saya langsung panik. Terus terang, sejak 1995 saya menggunakan email, baru kali ini mengalami seperti ini. Saya terpikir, bagaimana dengan link-link saya yang selama ini terhubung dengan email itu?.

Beberapa saat kemudian, email dari Eliakim dan Norma masuk ke email alternatif saya. Ternyata saudara saya Irene Girsang yang tinggal di Wuppertal, juga memforward email itu.

Anda mungkin biasa menerima email seperti itu, dan saya juga. Tetapi, kalau nama anda tercantum sebagai pengirim, sungguh membuat pikiran tidak tenang. Apa lagi saya bukannya melek internet, hanya user saja. Banyak hal yang membuat saya khawatir.

Bayangkan, dalam email itu, saya adalah seorang peneliti di Munchester University yang seolah baru dirampok dan ingin meminjam (loan) 2000 Pound Sterling.

Saya merasa agak aneh, karena email tersebut tidak memberitahukan nomor rekening, alamat yang jelas, bagaimana orang bisa mengirimkan uangnya?. Bodoh juga para hacker. Teman-teman saya itu bukan orang bodoh. Pasti tidak akan ada yang menanggapinya, apalagi menaruh belas kasihan.

Hacker yang mengaku dirinya dari negara maju ternyata masih berfikiran kerdil dengan membabtis saya seolah turut menjadi seorang pengemis ”ala abad internet”.

Memutar kembali memori, saya jadi teringat apa yang saya lakukan dua belas jam sebelumnya. Ke alamat email saya di atas masuk sebuah email seolah-olah berasal dari Yahoo Verification. Isinya meminta saya mengisi user name, password, lokasi dan saya lupa ada satu lagi. Terus ada satu kalimat yang mengatakan kira-kira begini. ”Kalau anda tidak update dalam 72 jam, maka anda akan kehilangan nomor account anda”. Ini yang membuat saya langsung mengisinya dan mengirimkannya.

Saya betul-betul merasa aneh, masih ada orang di dunia ini yang kerjanya jadi pengecut. Dia tidak sadar bahwa dengan berbuat demikian, banyak orang menjadi korban. Termasuk saya sendiri. Bukannya saya takut tercemar, karena bukan seorang yang terkenal seperti Barack Obama. Saya hanya orang kecil yang menginginkan perdamaian, tidak saling merendahkan dan memimpikan banyak orang jujur. Tidak seperti para hacker yang suka menipu.

Yang membuat saya sedih adalah email itu sejak 2001 kugunakan sebagai penyampai berita damai ke seluruh penjuru dunia ini. Tapi, kini harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Email yang telah berjasa mengirim berita gempa dan tsunami di Nias dari 2005-2006, mengirim bahan penulisan biografi dan otobiografi, menjalin hubungan dengan ribuan umat pencinta damai di seluruh dunia.

Tetapi harus lenyap begitu saja oleh orang iseng--hacker gila. Saya harus membuka email baru, mengisi lagi ratusan alamat yang hilang. Mereka yang tidak sempat kuhubungi, akan kehilangan kontak dan bisa sampai mereka meninggal tidak akan bertemu lagi. Betapa kejamnya para hacker ini!

Blog ini www.harangan-sitora.blogspot.com dan blog saya satu lagi memang akan ikut dalam missi gila par ahacker itu. Dua blog saya selalu saya cantumkan di bagian alamat dan nama saya di email itu. Blog ini diciptakan untuk memberikan pencerahan, mudah-mudahan dibaca oleh hacker email saya dan mau dengan sukarela mengembalikannya. Saya berharap, kiranya orang yang mengakhiri nyawa email saya sadar dan bertobat.

Bagi rekan-rekan saya di dalam maupun di luar negeri yang hari ini terganggu dengan email jannerson_girsang@yahoo.com, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Email itu tidak lagi saya cantumkan dalam profil saya di blog ini. Anda juga tidak usah menghubungi saya melalui email itu, karena hacker sudah menguasainya.

Bagi anda yang mengalami seperti sial yang saya alami di atas bisa belajar dan menghubungi http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090927200159AAP8yUv. Di sana anda akan dilayani menjawab agar jangan terkena hacker email dan memberi jawaban mengatasinya. Ingat sandi keamanan anda. Saya lupa sandi keamanan, sehingga tidak bisa mereset lagi pasword.

Para hacker kasihanilah kami, gunakanlah nurani anda, resapilah perasan kami pemilik email yang cinta damai ini. Bagi rekan-rekan saya yang ahli IT dan ingin membantu saya mengembalikan email itu, bisa disampaikan melalui kolom komentar blog ini.

Bagi email kesayanganku, jannerson_girsang@yahoo.com, selamat mengakhiri hidupmu. Semoga kau nyaman di tangan para hacker. Aku tidak akan melupakan sumbanganmu yang besar bagiku selama delapan tahun lebih.








Senin, 02 November 2009

Menuju Golden Marriage




Oleh : Jannerson Girsang

Di kalangan selebriti Indonesia cukup banyak terjadi perceraian, yang berarti mereka gagal memasuki Golden Marriage. Penting menjadi renungan kita bersama, dikaitkan dengan cita-cita awal perkawinan. Sehidup semati, dan hanya dipisahkan dengan kematian. Kali ini saya memaknai kehidupan dan renungan tentang Anang Hermansyah--mantan suami Kris Dayanti dalam lagunya ”Separuh Jiwaku Pergi” dan pengalaman kami menulis kisah 50 tahun perkawinan.

Menyaksikan dan menikmati penampilan Anang yang melantunkan ”Separuh Jiwaku Pergi” dalam acara ”Sinema” di SCTV pagi hari 2 Nopember 2009 memberi kesan tersendiri bagi saya.

Bagi saya, lagu populer yang diciptakan dan dilantunkan Anang Hermansyah begitu menyentuh dan memberikan pemaknaan atas arti sebuah perkawinan.

Kalau ungkapan ini benar dirasakan Anang, betapa pedihnya sebuah perkawinan yang diakhiri dengan perceraian. Kehilangan separuh jiwa. Memang, secara berseloroh pembawa acaranya mengatakan : ”Kehilangan separuh jiwa tapi datang tiga jiwa lagi”. Tapi, menurut saya tidak sesederhana itu.

Sayang memang. Lagu ini tidak lagi bermakna bagi Anang dan Kris untuk merajut kembali keutuhan perkawinan mereka. Alasannya, lagu ini justru ngetop menjelang keputusan pengadilan cerai mereka.

Syair lagu ini mungkin akan berguna bagi mereka kelak ketika keduanya akan menjalani kehidupan dengan pasangan baru mereka masing-masing. (Sebagai salah seorang fans berat pasangan ini, saya mendoakan, semoga Anang dan Kris mendapat pasangan baru yang bisa membuat mereka bahagia).

Lagu ini tambah memberi makna, karena saat ini saya sedang mempersiapkan sebuah buku yang mengisahkan kehidupan pasangan yang akan memasuki Golden Marriage (perkawinan ke-50), April 2010 mendatang. Sebuah kisah yang mengajarkan bagaimana mempertahankan perkawinan.

Pasangan yang saya tulis itu berkisah, perkawinan mereka didasari oleh pengalaman dan rasa cinta, kesetiaan dan kejujuran. Hanya ada satu kata kunci: ”kami tidak dipisahkan kecuali dengan kematian”. Sebuah keputusan yang didasarkan dari rangkaian pengalaman indah, cinta, kesetiaan dan kejujuran. Hingga mereka bisa mengatakan :”Tahi kambingpun serasa coklat,”. Tekad dan rasa cinta yang luhur mampu menembus halangan dari berbagai pihak atas perkawinan mereka di saat awal.

Mengarungi 50 tahun usia perkawinan, kuncinya adalah mempertahankan dasar-dasar keputusan mereka yang begitu kuat saat memutuskan untuk menikah. Pemaknaan arti cinta, simpati, kesetiaan yang muncul ketika masing-masing menjadi sebuah pribadi yang utuh. Belum berlumur dengan glamor kemewahan dan kecukupan dunia. Mereka tidak henti-hentinya mempraktekkan dan memaknai kata-kata yang biasa mereka ucapkan sewaktu pacaran, menghadapi dan memaknai gelombang kehidupan yang pernah melanda kehidupan perkawinan—sama seperti kebanyakan perkawinan pada umumnya.

Pasangan ini mengakui, di dalam perjalanan perkawinan sejalan waktu, pernah mengalami guncangan. Pemaknaan tahi kambing serasa coklat pernah berubah menjadi bau dan tidak enak, Kembali seperti bau tahi kambing yang asli. Kekurangan-kekurangan semakin terlihat dan dimaknai sebagai alat menyerang satu sama lain.

Namun, secara berdua mereka berhasil meyakinkan bahwa bau dan tidak enak itu hanya soal pemaknaan. Jika keduanya mengatakan enak, maka rasanya akan enak, meski orang lain mengatakan sebaliknya. ”Keindahan dan kesusahan dalam perkawinan kami tidak bisa dimaknai orang lain, kecuali oleh kami berdua. Tidak bisa juga secara sepihak”ujar salah seorang pasangan itu.

Mereka tidak menuruti kata-kata dalam lagu ”Separuh Jiwaku Pergi”nya Anang Hermansyah. ”Pernah ku mencintaimu. Tapi tak begini. Kau curangi aku. Pernah kumencintaimu, Tapi tak begini. Kau khianati hati ini. Kau curangi aku”.

Mempertahankan perkawinan ternyata tidak dengan logika ”jika maka”. Tidak dengan logika yang normal atau biasa. Perlu tenggang rasa, kasih sayang dan saling mengampuni secara terus menerus tanpa mengenal waktu dan situasi. Mereka mengatakan sebaliknya : :"Aku tetap mencintaimu, Aku menerima engkau apa adanya, meskipun kau khianati aku. Sekali lagi, aku tetap mencintaimu”. Mereka menggunakan kata-kata ”Meskipun..”

Reaksi terhadap sebuah gelombang perkawinan hanya mampu dilakonkan oleh dua insan yang memiliki pengalaman bersama dengan pemaknaan bersama. Menurut mereka, perkawinan begitu pribadi sifatnya. Tidak bisa dirasakan dan dinilai orang lain.

Masing-masing dalam sebuah pasangan tidak hanya menimbang dengan takaran benar dan salah. Karena kalau demikian, maka Tahi Kambing dalam logika normal, akan terasa bau dan tidak akan pernah berubah menjadi rasa coklat.

Pasangan ini menasehatkan agar masalah rumah tangga atau perkawinan diselesaikan secara pribadi, komunikasi pribadi, diantara pasangan, sama seperti ketika mereka berdua memutuskan untuk melakukan perkawinan. Mereka merasa masing-masing tidak sempurna. Justru ketidaksempurnaan merekalah yang menghasilkan kisah yang unik dari yang lain. Ketidaksempurnaan yang harus menjadi sebuah rasa syukur, bukan alat untuk melemahkan satu dengan yang lain.

Orang luar—orang tua, saudara, teman, pengadilan tidak akan pernah memahami rahasia perkawinan seseorang. Keputusan yang diambil dengan melibatkan orang luar tidak akan memberikan makna yang sama seperti ketika mereka mengambil keputusan dari pacaran ke pelaminan.

Mereka juga menasehatkan : ”Jangan sekali-sekali dinding rumah anda mendengar masalah dalam perkawinan anda”. Orang luar akan menanggapi dengan persepsi mereka sendiri. Bisa berbeda dari sudut dua pasangan yang sedang bertikai, yang mampu memaknai ”tahi kambing serasa coklat”. Tentu ini menjadi peringatan bagi para artis atau selebriti dan banyak pihak yang cenderung atau sedang ngetrend mengumbar masalah perkawinannya di televisi atau media.

Artikel ini sekaligus menghimbau media supaya mencari angle yang memberi pelajaran positif dari sebuah masalah perkawinan, khususnya kalau itu menimpa para artis atau publik figure. Tidak hanya dari sudut sensasi belaka, yang justru tidak menyelamatkan perkawinan. Bahkan dalam banyak kasus justru berakibat fatal!.

Para pasangan yang sedang bermasalah, pertimbangkanlah untuk tidak mengumbar ke media. Pertimbangkan juga tidak sampai bercerai. Bermimpilah mencapai Golden Marriage, bahkan perkawinan yang diakhiri dengan kematian. Simaklah secara mendalam makna ”Separuh Jiwaku Pergi”. Istri atau suami adalah separuh jiwa kita.Saya sendiri sedang berjuang menuju Golden Marriage, baru melewati 25 tahun atau tahun perak September 2009 lalu. Mari sama-sama belajar mencapai Golden Marriage, Sehidup Semati, Sepiring Berdua, mengapa tidak!.

Artikel di atas hanyalah pemaknaan pribadi, dengan maksud menginspirasi pembaca, khususnya para pasangan-pasangan muda. Ini bukan sebuah model.

Kamis, 29 Oktober 2009

HARI SUMPAH PEMUDA KE 81



28 OKTOBER 2009

KAMI PUTRA-PUTRI INDONESIA MENGAKU :


BERTANAH AIR SATU, TANAH AIR INDONESIA

BERBANGSA SATU, BANGSA INDONESIA

BERBAHASA SATU, BAHASA INDONESIA



INILAH TEKS SUMPAH PEMUDA YANG SELALU DIBACAKAN SEJAK KAMI DI SEKOLAH DASAR DAN KINI TERUS BERGAUNG SETIAP PERAYAAN SUMPAH PEMUDA. TEKS ASLINYA TENTU BERBEDA, KARENA EJAANNYA BERBEDA. SEMOGA PEMAKNAANNYA MASIH SAMA. KITA MENDOAKAN AGAR BANGSA KITA SEMAKIN MENGHARGAI DAN MERAWAT TANAH AIR TERCINTA INI, SEMAKIN BERSATU, MENGHARGAI SATU SAMA LAIN DAN TAK LUPA MENCINTAI BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PERSATUAN.

Jumat, 23 Oktober 2009

Belajar Dari Kisah Hidup Pele

Oleh : Jannerson Girsang

Di tengah suasana persepakbolaan nasional yang lesu darah dan menghadapi banyak masalah, ada baiknya kita belajar, dari seorang pemain bola legendaris,Pele, yang hari ini, 23 Oktober, genap berusia 69 Tahun.


Para pengemar atau pemain bola di Indonesia tentu tidak asing dengan nama itu. Mungkin beberapa diantara anda, sama seperti saya. Hanya bisa menyaksikannya melalui televisi atau media cetak. Bahkan menonton pertandingan persahabatannya yang pernah diselenggarakan di Jakarta beberapa tahun lalupun tidak mampu (jauh soalnya dari Medan). Permainan bola Pele tak pernah membosankan untuk ditonton. Orangnya menarik dan tidak banyak kontroversi. Namanya senantiasa membawa keagungan dan tidak pernah lenyap dari persepakbolaan dunia, hingga hari ini.

Terlahir dengan nama Edson Arantes do Nascimento), atlet, pemain sepak bola profesional ini, lahir di Tres Coracoes, Brasil, 23 Oktober 1940. Meskipun ia miskin, Pelé tumbuh menjadi seorang superstar olahraga internasional.

Sepanjang masa kecilnya, ia bermain sepakbola “kapanpun dan dimanapun dia bisa”, kadang-kadang menggunakan kaus kaki boneka untuk bola. Pele pertama kali bergabung dengan tim sepak bola pada usia 12 tahun. Penampilan pertamanya pada piala Dunia 1958, yang berhasil mencetak dua gol membuatnya menjadi sensasi internasional. Saat itu dia masih berusia 17 tahun,

Selama karirnya yang mengagumkan itu--mulai pada tahun 1956 dengan FC Santos dan berakhir pada tahun 1977 dengan New York Cosmos, Pele mencetak gol dalam jumlah yang luar biasa. Dari 1363 pertandingan resmi yang diikutinya, dia mampu mencetak 1281 gol. Saat masih aktif sebagai pemain, Pelé menjadi legenda, mitos dan tugu hidup permainan sepak bola. Bersama dengan pemain-pemain senegaranya, Brazil memenangkan Piala Dunia tiga kali, yakni pada 1958, 1962 dan 1970.

Setelah menggantungkan sepatunya, Pelé menjadi seorang duta besar pertandingan, baik dalam iklan untuk perusahaan-perusahaan besar dan juga atas nama amal, seperti kesejahteraan anak-anak dan organisasi kesehatan. Dia juga aktif dalam permainan itu sendiri. Meskin ketenaran di tangannya, ia tetap rendah hati, simpatik dan cerdas. Dia juga bekerja untuk pemerintah Brasil dan menjadi Menteri Olahraga negara itu pada periode 1994-1998.

Pada tahun 1998 FIFA mendirikan Komite Sepak Bola. Sejak itu Pelé menjadi anggota aktif dari kelompok elite ini dan selalu menjadi tamu terhormat di FIFA House.

Pele bukan hanya pemain sepak bola yang terampil di lapangan, tetapi juga trampil dalam dunia diplomasi olah raga. Keterampilan diplomasinya sebagai duta besar olah raga dunia membantu Brasil memenangkan negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, dan Rio de Janeiro akan menjadi tuan rumah Olimpiade yang diselenggarakan 2016 mendatang.

Pele tentu tidak besar sendiri. Dia dikelilingi orang-orang yang memahami bola dan mampu memfasilitasi dirinya menjadi seorang superstar.

Melihat kondisi persepakbolaan daerahku sekarang ini, saya ingat kembali ke masa anak-anak dan remajaku. Saya percaya, perhatian dan minat masyarakat akan bola, tidak lepas dari pengelolaan bola itu sendiri, sehingga menciptakan idola. Kami mencintai sepakbola, karena pada masa itu persepakbolaan di daerah kami, dan juga di tingkat nasional begitu membanggakan.

Di era akhir enampuluhan-awal 1970-an, Sumut masih memiliki tokoh bola seperti TD Pardede, dengan Pardedetexnya, dan tokoh bola Kamaruddin Panggabean yang piawi mengelola persepakbolaan di daerah dan nasional. Kita punya gubernur, Marah Halim Harahap. Nama gubernur saat itu menjadi icon sepakbola di Sumatera Utara. "Marah Halim Cup", atau lebih dikenal dengan Mahal Cup setiap tahun ditunggu-tunggu dan penontonnya, khususnya pertandingan final akan memenuhi Stadion Teladan yang berkapasitas 40,000 penonton itu. Sungguh membanggakan!.

Stadion Teladan Medan, ketika itu secara rutin menjadi arena pertandingan internasional, karena peserta Mahal Cup terdiri dari kesebelasan-kesebelasan dari luar negeri (kami akrab dengan pemain-pemain dari Burma, Thailand, Malaysia, Singapura dan lain-lain). Kami tidak pernah menyaksikan pertandingan yang rusuh. Pertandingan dikelola oleh orang-orang yang benar-benar tau bola. Gubernurnya, tokoh-tokoh pengelola sepakbolanya, pemain-pemainnya, semua mengerti bola. Nobon, Parlin Siagian, Ronny Pasla, adalah beberapa pemain yang begitu memukau dan menjadi idola.

Sayang, entah sejak kapan dan entah mengapa Marah Halim Cup tidak ada lagi. Saya hanya bisa bertanya pada rumput yang bergoyang. Mudah-mudahan para tokoh sepak bola mau bertanya kepada pak Marah Halim yang masih hidup dan mencari jawabnya.

Itu di daerah. Saya dan masyarakar penggemar bola nasional merindukan persepakbolaan nasional yang menghasilkan pemain sekualitas Pele. Para pengelola sepakbola--paling tidak mendekati pengelola Pele. Yah, setidaknya kita masih bisa meraih prestasi Runner Up Asia Cup di era 1950-an. Barangkali terlalu ideal ya. Apa ya, tidak bisa dipelajari?

Bagi para tokoh-tokoh dan pemain sepakbola di Indonesia, saya mengajak anda menjadikan momen Ulang Tahun Pele 69 ini untuk merenungkan kembali strategi persepakbolaan nasional kita.

Sebagai orang yang sangat menggandrungi olah raga ini, saya dan masyarakat seperti saya rindu pemain idola yang dihasilkan dari permainan fair, pengelolaan yang profesional. Kita tidak ingin terulang lagi pertandingan seperti ”Sriwijaya-Persipura” di Palembang baru-baru ini. Pertandingan yang bikin malu kita semua.

Tentu, jawabannya ada pada Andi Mallarangeng dan tokoh-tokoh bola Tanah Air!Sebuah tantangan berat untuk bung Andi Mallarangeng, Menpora RI yang baru.

”Jangan jawab dengan kata-kata, jawablah dengan tindakan nyata”, mengutip ucapan Presiden SBY pada pelantikan Menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, 22 Oktober 2009 lalu.

Selamat Ulang Tahun Pele!. Kita harus banyak belajarlah dari kisah Pele.

Bahan Referensi :

http://www.timesonline.com
http://www.biography.com
http://www.latinosportslegends.com/Pele_bio.htm