My 500 Words

Jumat, 24 Januari 2014

Orang-orang Terkaya di Tengah Bencana (Harian Analisa, 23 Januari 2014)


Oleh: Jannerson Girsang

Membaca laporan Forbes (Nopember 2013) bahwa lima puluh orang terkaya Indonesia memiliki kekayaan mulai dari US$ 15 miliar hingga US 390 juta, terbayang dalam pikiran, “andaikan mereka tergerak hatinya menyisihkan sedikit kekayaannya membantu derita anak bangsa yang tertimpa bencana di tanah air”. 

Belum lagi kalau dari mereka mau menggalang dana dari para rekan-rekan mereka. Bangsa ini membutuhkan “orang-orang terkaya” yang peduli bencana!. Negeri kita adalah negeri bencana. Indonesia adalah korban erupsi gunung terbesar di dunia dan sangat rentan gempa, banjir dan longsor. Tapi kita bersyukur karena negeri bencana memiliki banyak orang-orang terkaya dunia.

Bencana yang terjadi di tanah air belakangan ini mengakibatkan kerugian cukup besar dan memerlukan biaya yang cukup besar untuk menanggulanginya. Sementara, anggaran pemerintah terbatas. Malu dong, sebagai bangsa yang berdaulat,  kalau sampai turun bantuan asing di tengah negeri yang bertabur “orang-orang terkaya dunia”.
 
Kerugian Besar

Perkiraan sementara menunjukkan bahwa kerusakan dan kerugian akibat bencana yang terjadi beberapa bulan belakangan ini cukup besar.  Rp 1.8 triliun  atau hampir setara dengan nilai proyek Hambalang, lenyap begitu saja, akibat banjir di Manado. Belum lagi bencana akibat letusan Gunung Sinabung yang diperkirakan mendekati  Rp 1 triliun, serta ratusan miliar kerugian dialami akibat banjir di ibu kota Jakarta dan sekitarnya. Kalau kemudian dibuat pehitungan yang detil kerugian materi bisa mencapai angka Rp 3 triliun.

Kerusakan yang terjadi membuat rakyat yang terkena bencana sangat menderita. Selain rusak atau kehilangan harta benda, mereka kehilangan mata pencaharian untuk sementara waktu, dan bisa berdampak panjang kalau tidak segera diatasi. Pedagang kehilangan omzet harian, pembengkakan ongkos transportasi, dan kenaikan biaya logistik. Petani mengalami kerugian karena panenan gagal.

Selain itu bencana juga mengakibatkan munculnya penyakit fisik maupun psikis. Mereka tidak saja membutuhkan bantuan fisik (makanan, pakaian, uang, perumahan) tetapi juga trauma healing (pemulihan dari trauma).

Kemampuan Terbatas

Di depan para wartawan, Senin (20 Januari 2014), Menteri Keuangan Chatib Basri melaporkan bahwa Pemerintah  telah mengalokasikan anggaran dalam APBN 2014 sebesar Rp 3  triliun untuk penanggulangan bencana alam. Separuhnya dapat dicairkan langsung tanpa persetujuan DPR.

Mengandalkan kemampuan anggaran  sebesar itu jelas tidak mampu menanggulangi seluruh persoalan bencana di negeri ini.  Masalahnya, bencana-bencana yang terjadi bukan hanya di Manado, erupsi Sinabung atau Jakarta.

Disamping menanggulangi bencana, Indonesia memerlukan biaya yang besar dalam riset penanggulangan bencana meliputi fase pra, saat dan pascabencana.  Anggaran riset di BNPB lebih banyak digunakan untuk membangun kebijakan. Kedikbud dan Kemristek yang juga mempunyai anggaran riset diharapkan dapat mendukung kebutuhan tersebut dengan menambah anggaran riset kebencanaan yang dilakukan perguruan tinggi dan lembaga riset. Bappenas diharapkan mendukung kebijakan penganggaran riset kebencanaan. (Workshop Nasional Riset dalam Penanggulangan Bencana. http://www.bnpb.go.id)

Hasil-hasil riset tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas informasi bencana di negeri ini. Kualitas informasi lokasi bencana (tepat waktu, akurat, dan diterima orang yang tepat), dari bencana (erupsi gunung, tsunami, bahkan banjir) masih perlu ditingkatkan, karena system informasi bencana serta teknologi yang mendukungnya belum secanggih yang dimiliki Negara-negara maju.

Jepang misalnya, sudah bisa meramalkan terjadinya tsunami. Bahkan dalam siaran langsung di televisi, kita bisa menyaksikan beberapa ratus meter sebelum gelombang tsunami menerjang pantai. Bandingkan misalnya dengan tsunami Aceh dan Nias beberapa tahun lalu. Kita baru berteriak, setelah tsunami terjadi.

Karena bencana tidak dapat diprediksi dengan tepat, antisipasinya sering terlupakan. Penjelasan-penjelasan masih sering tidak bisa dipahami para pengungsi, pengambil keputusan. Contohnya, di kasus Sinabung. Kita kesulitan mencari data praktis di website yang bisa dijadikan acuan. Updating datanya kurang teratur.

Lihat misalnya updating data sewaktu Tsunami Aceh dan Nias terjadi. Kita dengan mudah mengetahui siapa yang terlibat dimana, kapan dan jumlah pengungsi yang mereka tangani. 

Banyak pertanyaan-pertanyaan penting berlalu begitu saja. Para pengungsi Sinabung misalnya. Mereka memerlukan informasi kapan Gunung Sinabung meletus, letusannya sampai kemana, sampai kapan mereka mengungsi, apa langkah-langkah yang mereka lakukan kalau gunung meletus, kepada siapa bantuan harus disalurkan, bagaimana penanganan berlanjut dilaksanakan. Serta banyak pertanyaan-pertanyaan dasar yang tidak masih sulit dijelaskan kepada masyarakat luas.


Selain itu, Suratman, tenaga ahli Komisi VIII DPR-RI mengidentifikasi perlunya revitalisasi pengelolaan bencana di Indonesia, diantaranya koordinasi pengelolaan bencana, seperti implementasi Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, tumpang tindih peraturan dan pengelolaan dana yang bersumber dari masyarakat. 

Bangsa ini adalah bangsa yang besar. Kita memiliki potensi untuk melakukannya, yakni  terus belajar tentang gejala alam, sehingga bisa meramalkannya untuk mengurangi jumlah korban, serta meningkatkan kualitas system dan orang-orang yang mampu menjalankan system itu. Kita seharusnya lebih ahli dari Jepang, atau Negara lain, karena negeri kita lebih rawan bencana.

“Bencana alam yang terus menerus melanda Indonesia harusnya menjadikan Indonesia pakar dalam penanganan bencana. Bencana dapat diminimalisir akibatnya, jika Indonesia mau belajar dan memperbaiki kesalahan-kesalahan dari penanganan bencana alam sebelumnya,”seperti diungkapkan Suratman, Tenaga Ahli Komisi VIII DPR RI, beberapa waktu lalu (Tribune News Com, 28 Nopember 2013).

Semuanya itu membutuhkan butuh biaya dan tenaga-tenaga ahli dan berdedikasi.

Mengetuk Hati Konglomerat di Tengah Bencana

Saatnya pemerintah membuka mata para orang-orang terkaya di negeri ini harus memiliki sense of disaster. Kita semua, bersama-sama pemerintah  perlu menggerakkan peran "orang-orang kaya" Indonesia dalam membantu bencana yang terjadi di negeri ini.

Kemampuan mereka luar biasa. Credit Suisse, Swiss melaporkan dalam Global Wealth Databook 2013, terdapat 22 orang superkaya Indonesia yang memiliki harta di atas 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 12 triliun (kurs Rp 12.000 per dollar AS). Bahkan laporan Forbes Nopember 2013 yang lalu mengatakan ada 29 orang kaya di Indonesia yang memiliki kekayaan di atas 1 miliar dollar AS, bahkan orang terkaya di Indonesia, memiliki kekayaan  sampai 15 miliar dollar AS.

Kalaulah mereka bisa berhemat sedikit biaya makan, hiburan, pengeluaran sogok menyogok, sangat berarti bagi ribuan anak bangsa yang sedang menderita. Mereka seharusnya tidak nyenyak tidur sehabis menyaksikan di televisi, menyaksikan sesama bangsanya yang tidur di tenda-tenda, kedinginan karena kurang selimut, terancam kelaparan karena persediaan bantuan yang makin menipis.

Masih jelas dalam ingatan kita, beberapa tahun lalu orang terkaya Indonesia pernah mendanai kampanye Obama (Ralat: Clinton). Mustahillah mereka tidak mampu menyisihkan sedikit bantuan untuk sesama bangsanya yang mengalami kesulitan, mereka diajak membantu mendanai kekurangan biaya riset-riset untuk antisipasi dan peningkatan system pengelolaan bencana.

Teringat kata-kata W.C. Field, A rich man is nothing but a poor man with money. Sangat tidak berarti, kalau orang-orang terkaya hidup dalam sebuah Negara, menikmati hidup, sementara tidak peduli bahwa di tengah-tengah mereka ada orang yang terkena bencana, tidak punya mata pencaharian dan terancam kelangsungan hidupnya.

Pemerintah yang peduli bencana seharusnya mampu mengetuk hati mereka Orang-orang terkaya yang memiliki rasa solidaritas seharusnya terketuk hatinya. Wacana ini mungkin perlu dikembangkan. Dicoba saja, mana tau ada hasilnya!.

[1] Penulis pernah menjadi Program Manajer sebuah NGO yang menangani Bantuan untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias. 

Senin, 13 Januari 2014

Menjadikan Perpustakaan sebagai Jantung Universitas Kategori berita: (Dimuat di Harian Analisa, 13 Januari 2014)



Oleh: Jannerson Girsang. 

Sebagian besar perguruan tinggi di negeri ini memiliki konsep pembangunan kampus masih lebih menitik beratkan pada gedung perkantoran megah, ruang kuliah yang mewah-ber AC, in focus yang mahal, tetapi lalai membangun perpustakaannya. Padahal, perpustakaan adalah jantung Universitas. Di sanalah mahasiswa terdidik untuk membaca dan melakukan riset kepustakaan. Perpustakaan yang tidak menarik tentu tidak akan kedatangan pengunjung. 

Tak heran dengan kondisi perpustakaan universitas seperti sekarang ini kurang mampu mendidik lulusan perguruan tinggi yang memiliki budaya mengunjungi perpustakaan dan tentunya budaya membaca yang rendah. Masalah besar lulusan perguruan tinggi kita dengan daya saing yang lemah memasuki abad 21.

Gedung Perpustakaan: Jantung Universitas

Ketika mengunjungi perpustakaan Universitas Indonesia (UI) tahun lalu, saya teringat kritik Wakil Presiden Budiono beberapa tahun lalu soal konsep membangun universitas, dengan mencontohkan kisah Thomas. (http://wapresri.go.id/index/preview/berita/1671)

Menurut Budiono, Thomas Jefferson, pendiri Negara Amerika Serikat, 250 tahun yang lalu, membangun bangsa adalah membangun universitas. Hanya konsepnya berbeda dengan konsep kebanyakan perguruan tinggi kita sekarang. 

Dalam kisahnya, Budiono mengatakan Jefferson bercita-cita mencerdaskan bangsa Amerika dengan mendirikan universitas Virginia. Hibah pertama Jefferson adalah sebidang tanah dengan sebuah gedung berdiri di atasnya. Gedung pertama itu adalah perpustakaan.

Inspirasi Jefferson menjalar ke UI, demikian kesimpulan saya kembali dari perpustakaan yang megah itu. Saya terkesan dengan ruang perpustakaan megah ditengah-tengah kampus. Mungkin universitas ini sudah memahami pentingnya perpustakaan.

Sayang, kebanyakan universitas kita sudah bangga memiliki gedung perkuliahan, laboratorium, dosen, sementara perpustakaannya dibiarkan lusuh, berdebu dan anggaran penyediaan buku baru dibiarkan seadanya. Kalau tidak keadaan terpaksa, misalnya kepentingan akreditasi maka perpustakaan seolah kurang penting dari yang lainnya. 

Sekedar mengingatkan, jantung sebuah universitas adalah perpustakaan, "Bukan kantor megah atau ruang kuliah mewah," kritik Budiono.

Staf Perpustakaan: Bukan Setingkat Pesuruh

Pengendali perpustakaan adalah manusia yang bekerja di sana. Selain lalai membangun gedung perpustakaan, universitas-universitas kita masih menganaktirikan petugas perpustakaannya. "Dari 34 institusi perguruan tinggi yang tergabung dalan Forum Perpustakaan PerguruanTinggi Indonesia (FPTI) wilayah Jatim, banyak pustakawannya yang bukan lulusan dari ilmu perpustakaan, "(Surabaya Pos, 27 Desember 2010).

Profesi pustakawan sudah saatnya dipandang tidak sekedar profesi yang sifatnya administratif, tetapi sebuah profesi yang menuntut kemampuan dan kreativitas, sejalan dengan perkembangan teknologi. 

Inti dari profesi pustakawan adalah bagaimana menyediakan informasi bagi seluruh sivitasaka demika di kampusnya. Jika kondisi para staf perpustakaan tidak profesional, tentunya kondisi perpustakaan sebagai gudang ilmu tak lebih dari sebatas gudang debu.

Sangat disayangkan memang, karena di berbagai perpustakaan staf perpustakaan baru dianggap "pesuruh". Pekerjaannya membuat sampul buku, mendata buku, dan menjaga pintu perpustakaan. Padahal seorang pegawai perpustakaan seharusnya mampu mengusulkan jenis buku serta pendataan jurnal ilmiah. Hal ini tentu tidak akan dipahami orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kepustakawanan. 

Tantangan baru perpustakaan adalah menjadikan peran perpustakaan sebagai penyokong utama informasi di sebuah perguruan tinggi dengan tuntutan perkembangan teknologi, khususnya teknologi internet.

Misi perpustakaan untuk mengumpulkan, mengorganisasikan dan menyediakan akses terhadap sumber daya informasi membutuhkan selain sumberdaya manusia adalah kemampuan mengelola dan menyediakan teknologi yang terus berubah.

Memang diakui, hadirnya teknologi internet maka penyediaan sumber daya informasi berbasis cetak tidak lagi memadai, tapi harus dilengkapi dengan sumber daya berbasis elektrik/digital. Para pegawai perpustakaan harus dilengkapi kemampuannya untuk mengembangkan bahan-bahan elektronik.

Fungsi tradisional perpustakaan mulai diambil alih oleh teknologi dan perubahan jaman. Sehingga, Institusional Repositories (IR) atau Perpustakaan Digital penting dipahami dan perlu terus di redefinisi peran dan fungsi perpustakaan.

Pegawai perpustakaan dituntut memiliki kemampuan membimbing para pengunjung untuk menggunakan internet sebagai sumber informasi alternatif, disamping buku yang dimilikinya di perpustakaan.

Mereka yang berkunjung ke perpustakaan mampu mengakses informasi yang mereka butuhkan, bahkan mendidik mereka mengetahui apa yang seharusnya dibutuhkan pengunjung. Mereka juga dituntut menarik pengunjung melalui media online yang dimiliki perpustakaan bersangkutan dan mengadakan komunikasi dengan pengunjung melalui internet.

Universitas harus memperhatikan keahlian para pustakawan mereka. Setidaknya, menurut Aditya Nugraha komposisi pustakawan yang professional dari perpustakaan yang ada minimal di atas 50 persen.

Merangsang Minat Baca dan Menggairahkan Perpustakaan

Salah satu tugas penting lainnya dari pustakawan adalah membuat resensi buku-buku baru yang dimuat di media kampus dan media umum lainnya. Sehingga pengunjung perpustakaan, masyarakat pembaca memiliki minat dan tertarik mencarinya dan tentu saja membacanya.

Perpustakaan seharusnya memberikan insentif kepada para pustakawan yang mampu menulis resensi buku-buku pilihan karena dia melakukan tiga hal, yakni memperkenalkan buku baru-peradaban baru ke tengah-tengah masyarakat, meningkatkan minat baca masyarakat dan minat membeli buku, serta mencerdaskan bangsa melalu peningkatan minat baca. 

Kita menyambut baik, kegiatan Pemprovsu dalam menggairahkan pengelolaan perpustakaan dengan memberikan penghargaan kepada perpustakaan terbaik di Perguruan Tinggi (juga rumah-rumah ibadah, sekolah dan lain-lain). Dukungan Badan Perpustakaan Pemprovsu dalam merangsang gairah mengembangkan perpustakaan hendaknya berlanjut dan terus ditingkatkan dan sesuatu yang harus mendapat apresiasi.

2014 adalah momen yang baik untuk terus melanjutkan dan meningkatkan usaha-usaha pengembangan perpustakaan di perguruan tinggi, sekolah, rumah-rumah ibadah, sehingga minat baca masyarakat kita yang masih cukup rendah bisa sedikit terangkat.***

Penulis adalah staf ahli Yayasan Universitas HKBP Nommensen dan pengguna perpustakaan Universitas. Aktif sebagai juri dalam berbagai kegiatan lomba cerita dan menulis di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Pemprovsu.

Minggu, 05 Januari 2014

Tiga Tahun Kepergian Papa, Tujuh Tahun Kehilangan Mama.

(Artikel tercecer, terlambat masuk blog. June 17, 2013 at 9:27pm)

Oleh : Jannerson Girsang

Coba Anda bayangkan, betapa sedihnya kalau seandainya Anda berhasil  dalam perkuliahan dan ingin mengungkapkan rasa suka kepada orang tua, tetapi keduanya sudah pergi.

Sebuah sms ungkapan rasa suka cita dari seorang yang kehilangan papa dan mama sungguh mengharukan, sekaligus membuat bangga.  

“Halo bapatua. Aku hari ini baru selesai sidang tugas akhir. Nilai belum keluar karna masih ada ujian. Nggak kerasa jg hari ini 3 tahun lewat papa meninggal. Sedih juga sih, tapi merasa luar biasa gak kerasa waktu berjalan semua berjalan dengan baik. Tetap semangat untuk kita semua yah”.

Malam ini, saya menerima sms dengan kata-kata mengharukan dari  Yani Christin Girsang, putri tertua adikku Parker Girsang yang meninggalkan kami untuk selama-lamanya 17 Juni 2010. Rasa haru dan membuat optimis. Semua penderitaan adalah ujian bahwa Tuhan campur tangan dalam kehidupan kita.

Sikap yang membuatku selalu bangga dengan putriku ini. Dia pintar, dan mampu memaknai hidup dengan luar biasa.

Kami terakhir bertemu 8 Juni 2013 yang lalu dalam acara ulang Tahun Junimart Girsang yang ke-50 di Jakarta. Dia dan adik-adiknya pintar menyanyi, hasil didikan  orang tuanya yang bijak. Di Ultah itu Christin berduet dengan Hilda, adiknya.

Kami jarang bertemu. Sebelumnya, enam bulan lalu Christin dan adik-adiknya hadir dalam pernikahan putri saya Clara di Jakarta . Maklum, saya tinggal di Medan, mereka di Jakarta. Untung ada HP, Facebook, jadi bisa update tiap hari.

Setiap bertemu, saya sedih melihat Christin dan kedua adiknya telah ditinggal papa dan mamanya, saat masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Tetapi menyaksikan pertumbuhan dan optimis mereka menghadapi kehidupan ini, saya merasa bangga. Mereka optimis dan selalu melihat ke depan, menjadi inspirasiku dalam menghadapi masalah hidup.

Memutar memori tiga tahun lalu, 17 Juni 2010. Malam itu, ketika baru saja selesai menulis, dan melangkah ke kamar mandi, saya mendapat telepon dari rumah sakit Cikini, Jakarta.

Ayah saya, yang menjaganya beberapa minggu terakhir memberitakan adikku Parker Girsang--ayah Christin telah tiada. Setelah beberapa bulan dirawat di Rumah Sakit Cikini, dia tidak bisa bertahan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, beberapa bulan menjelang usianya genap 48 tahun. Dia lahir 16 Agustus 1962.

Sedihnya luar biasa.  Gelap sekali rasanya. Christin kehilangan ayahnya beberapa saat setelah pengumuman dirinya diterima sebagai mahasiswa di Program D3 Sekretaris Universitas Indonesia.

Meninggalnya ayah yang sangat mereka cintainya, tentu sangat memukul dirinya dan adik-adiknya, serta kami semua. Empat tahun sebelumnya dia kehilangan ibu yang sungguh-sungguh bijaksana.  Andaikan aku Christin, pastilah frustrasi berat. Dua adiknya Hilda Valeria dan Trisha Melani, ketika itu masih duduk di kelas 1 SMA, dan kelas 1 SMP.

Tiga tahun kemudian, tiga putri kami yang cantik-cantik Christin (rencanya kalau lulus meja hijau, Christin akan diwisuda dari Universitas Indonesia, Hilda Valeria (kini kuliah tahun pertama di  Universitas Brawijaya, Malang), Trischa Melani (tahun ini memasuki SMA).

Tuhan memelihara mereka melalui keluarga (terutama ompung, uda, namborunya), dan mereka yang bersimpati. Junimart dan Juniver serta keluarganya sungguh luar biasa memperhatikan mereka.Semoga kebaikan mereka menjadi teladan bagi anak-anak ke depan, pentingnya memperhatikan orang-orang yang lemah.

Sejak adikku meninggal, mereka dititipkan melalui namborunya Masdalinda Girsang di Bekasi. Sekarang hanya Trisha Melani yang tinggal di sana, sementara Christin di Depok dan Hilda di Malang. Christin sekali seminggu pulang ke Bekasi.

Tiga tahun berlalu setelah kesedihan itu, sesuai tekadnya, Christin akan menyelesaikan studinya. SMSnya malam mini, membuatku percaya bahwa ketiganya suatu ketika akan menjadi orang-orang yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan, engkau Maha Kuasa. Melalui tangan-tangan yang Engkau kasihi memelihara putri-putri kami. Terima kasih, Tuhan telah menyentuh hati semua orang yang membantu mereka.

Salam salut untuk putriku Christin, Ai dan Icha!. Salam sayang dari bapatua dan inang tua, abang Bernard, Ompung di Medan.

Gantungkan harapan hanya padaNya!.


Trischa Melani (kiri), Christin (nomor tiga dari kiri) dan Hilda Valeria (nomor empat dari kiri) bersama kakak-kakaknya dan kemanakan saya
Trischa Melani (kiri), Christin (nomor tiga dari kiri) dan Hilda Valeria (nomor empat dari kiri) bersama kakak-kakaknya dan kemanakan saya.

Note: 31 Agustus 2013, Christin telah menyelesaikan D1 Sekretaris dari UI dan sudah bekerja. Kemudian, Agustus 2013, dia lulus testing di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Politik UI (ekstension) dan kuliah sambil bekerja. Semua berjalan didorong kekuatan motivasi mereka untuk berhasil. Doaku selalu untuk kalian bertiga. Selamat berjuang.

Jumat, 03 Januari 2014

Medan, Kota Minim Taman (Harian Medan Bisnis, Rubrik Wacana, 2 Januari 2014)

Oleh: Jannerson Girsang

Kemana istirahat atau rekreasi paling murah dan bersahaja di kota? Mengunjungi taman-taman kota. Semua orang bisa masuk ke sana tanpa membayar, namun bisa menikmati suasana segar, membawa anak bermain bebas - keluar dari suasana sumpek di rumah kecil di perumnas atau kumuh.

Singgahlah sejenak, meluangkan waktu beristirahat di Taman A Yani, dekat Rumah Sakit Elizabeth. Rasakan sejenak udara segar di sana, lepaskan pandangan mata Anda ke taman di bawah pepohonan besar, rumput-rumput hijau yang terpelihara di bawahnya.

Berjalanlah ke pinggir Jalan Sudirman dan tataplah air mancur besar di persimpangan Jalan Sudirman-Jalan Imam Bonjol. Hiruk pikuk kendaraan terhalang batang pohon besar dan dedaunannya yang rindang. Taman itu seolah mampu menyerap asap kendaraan yang lewat - sebagian dari 2.708.511 unit kendaraan yang masih akan bertambah dengan kenaikan rata-rata 23,832% per tahun.

Luasnya taman hijau di lokasi itu membuat perasaan lega, apalagi dalam suasana suhu udara meningkat belakangan ini. Taman seperti ini menjadi alternatif tempat rekreasi gratis bagi penduduk Kota Medan. Sayangnya, selain taman di sekitar Jalan Sudirman itu kita hampir tidak menemukan taman yang sama di lokasi lain di kota ini.

Normalnya, seiring meningkatnya jumlah penduduk, seharusnya taman rekreasi bertambah, karena berkurangnya lahan terbuka akibat kebutuhan bangunan.

Kalau di zaman Belanda, pemerintah kolonial bisa membangun taman seperti Taman A Yani, menjalani abad 21, di kota yang menjalani usia 423 tahun ini, pemko mestinya memiliki political will membangun fasilitas taman yang memadai.

Sayangnya, taman sebagai sarana hiburan dan tempat rekreasi segar bagi masyarakat luas justru hampir dilupakan.

Taman di Perumnas

Pengalaman tinggal di perumnas (penulis tinggal di Perumnas Simalingkar), penduduk memerlukan tempat rekreasi. Namun, kebutuhan itu selalu kalah jika berhadapan dengan desakan kepentingan ekonomi atau kepentingan lain.

Mari kita telusuri beberapa lokasi seperti Perumnas Simalingkar, serta perumnas-perumnas lain seperti Helvetia dan Mandala. Penulis sedikit menyinggung Lapangan Merdeka, karena bagi penduduk seperti penulis lapangan itu punya sejarah tersendiri.

Perumnas Simalingkar, yang dihuni sekitar 8.000 kepala keluarga, adalah contoh minimnya perhatian Pemko Medan memenuhi kebutuhan penduduk akan taman rekerasi. Kompleks ini, kini sama sekali tidak memiliki taman. Jangankan taman, lapangan terbuka pun hampir tidak ada lagi. Perubahan ini terjadi hanya dalam waktu 20 tahun.
Dulu di awal 90-an, sebelum pembangunan perumahan selesai, penduduk sempat menikmati tanah kosong seluas lapangan bola di tengah wilayah perumahan itu, persisnya di atas lahan ruko Simalingkar sekarang.

Saat itu penulis baru pindah ke wilayah tersebut. Sore sehabis pulang kerja, penulis bisa bergabung dengan anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua bermain bola. Keakraban di antara penduduk kampung demikian baik. Dua kesebelasan bisa dibentuk seketika di lapangan. Warga menikmati hiburan murah untuk melepas lelah sekaligus bercengkerama antara satu dengan yang lain.

Sebelum permainan olahraga dimulai, anak-anak kecil menggunakan lokasi itu untuk belajar naik sepeda, main alip cendong dengan memanfaatkan got yang terdapat di sekeliling lapangan. Selain sebagai tempat rekreasi, lapangan itu bisa menjadi tempat olahraga, mengasah bakat anak-anak, serta pertemuan informal bagi penduduk yang bermukim di sekitarnya.

Masa itu, menjelang acara 17 Agustusan dilaksanakan pertandingan-pertandingan antarwarga. Penduduk beramai-ramai di sekeliling lapangan menonton mereka bertanding. Penontonnya penduduk yang datang dari berbagai penjuru kompleks perumnas yang dihuni sekitar 8.000 kepala keluarga itu.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian lapangan itu diubah menjadi kompleks pertokoan. Lokasi hiburan murah bagi penduduk lenyap begitu bunyi buldozer meratakan tanah dan diikuti pembangunan ruko di atasnya.

Kini, di lokasi tempat bermain bagi penduduk kompleks perumahan itu rumah toko (ruko) berdiri megah, ditambah lagi kegiatan pajak sore hingga malam. Tidak ada pengganti tempat bermain anak-anak dan pertemuan informal penduduk perumnas.

Kompleks perumahan yang dihuni puluhan ribu penduduk itu hanya ditutup oleh jalan, bangunan rumah, toko atau rumah ibadah. Hampir tidak ada taman untuk bermain atau rekreasi bagi warganya. Penduduk tinggal di rumah atau hanya bercengkerama dengan tetangga sebelah. Sangat minim ruangan publik di mana ratusan orang bisa saling tegur sapa, berolahraga, atau sekadar bermain bagi anak-anak.

Penduduk tentu tidak berwenang mempersoalkan lapangan seluas lapangan sepak bola yang dulunya dipakai sebagai taman rekreasi, apakah menurut master plan kota memang dulunya direncanakan untuk ruko. Tapi, pernah ada lapangan bola.

Hal yang sama bisa ditemukan di Perumnas Helvetia dan Mandala. Miskin taman. Anehnya, hal ini tidak hanya dijumpai pada lokasi di perumahan-perumahan baru, bahkan di pusat kota. Bersamaan masa kami masih bisa menikmati lapangan terbuka, Lapangan Merdeka jadi sebuah alternatif tempat rekreasi. Tempat ini mengingatkan penulis nyamannya sebuah taman rekreasi seperti di Alun-alun Kota Bandung atau Taman Monas Jakarta.

Pada Minggu pagi, karena lalu lintas masih lancar, dari rumah penulis lapangan ini bisa ditempuh hanya dalam waktu belasan menit. Sebelum mengikuti kebaktian di gereja, penulis biasa membawa anak-anak bercengkerama dan lari pagi, bertemu dan bercengkerama dengan ratusan orang di sana.

Persis seperti pengalaman di Pematangsiantar, menggunakan taman bunga sebagai tempat rekreasi dan olahraga pagi. Tapi, keindahan Lapangan Merdeka pun sudah terusik. Pinggiran lapangan yang dulunya bebas dari bangunan, kini dipagari tempat jualan.

Nuansa taman rekreasi di Lapangan Merdeka menjadi hilang, tertutup dengan restoran dan tempat jualan.

Taman di kota atau pinggiran kota setali tiga uang. Sama dengan lokasi tempat tinggal penulis, beberapa tahun kemudian suasana taman di tengah kota itu pun berubah. Lapangan Merdeka kini sudah disulap jadi Merdeka Walk, sebuah lokasi yang dijejali restoran kecil dan tempat jualan.

Tidak hanya itu, taman margasatwa (kebun binatang) kebanggaan penduduk Medan - taman dengan aneka binatang yang menarik bagi anak-anak sebagai hiburan - turut tergusur ke pinggiran kota yang sulit dijangkau. Tak sedikit mereka yang tinggal di Medan tidak tau lagi lokasi kebun binatang, selain karena minimnya promosi, lokasinya juga sulit dijangkau. Beda ketika masih di Kampung Baru.

Kota Medan, telah kehilangan tempat istirahat di area terbuka bagi orang-orang yang ingin hidup bersahaja. Jangan salahkan kalau tempat-tempat hiburan tertutup (panti pijat dan kamar-kamar yang sewanya dihitung perjam) yang tersedia di segala penjuru kota makin marak dikunjungi penduduk kota.

Andaikata para penguasa penentu kebijakan pengembangan taman kota tidak segera mengubah kebijakannya, bukan tak mungkin dua puluh tahun ke depan Kota Medan memiliki penduduk yang lebih senang mencari hiburan di tempat tertutup. Munculnya hiburan-hiburan di tempat tertutup akan menjerumuskan penduduk kota ini mencari hiburan yang tidak sehat.

Bisa dibayangkan bagaimana nasib penduduk kota ini kelak. Saatnya Pemko Medan memperhatikan pembangunan taman-taman terbuka, sebagai pemersatu rakyat kota ini, hiburan yang sehat bagi penduduk yang bersahaja.

Senin, 30 Desember 2013

Laila Sari: "Saya Jadi Oma Yatim"

Oleh: Jannerson Girsang

Trenyuh, sekaligus salut kala menyaksikan Leila Sari,  artis tiga zaman berusia 78 tahun tampil di sebuah stasion televisi swasta siang ini, 30 Desember 2013. 

Trenyuh, karena memasuki sisa usia tuanya dia hidup sendiri, dan salut karena di usia senjanya masih mampu memberikan kebaikan bagi sesama, menyumbangkan sesuatu menghibur banyak orang, termasuk para manula.

Bulan Nopember 2013, Leila Sari berusia 78 tahun. “Saya jadi oma-oma yatim, bukan anak yatim. Dulu saya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi kini saya sendiri. Saya tidak punya anak, tidak punya apa-apa. Tapi saya tetap harus kuat-harus kuat,”ujarnya berlindang air mata tetapi berusaha tegar dengan mengepalkan tinjunya. 

Sebuah pemandangan yang mengharukan di sebuah stasion televisi yang menayangkan aktivitasnya menghibur para manula di sebuah panti jompo di Jakarta, Senin 30 Desember 2013.
 “Dosa apa ya Tuhan yang membuat orang bisa durhaka. Tanpa orang tua kita, kita tidak bisa melihat dunia ini,” ujarnya dengan linangan air mata. Dia mengaku bahwa dirinya kini ditinggal sendiri setelah tidak berdaya, setelah usianya tua. 

Padahal, dulunya aktris tiga zaman itu dengan tulus membantu keluarganya. Itulah hidup. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang.

Namun sikapnya tetap membanggakan,tetap mampu mensyukuri keberadaan dirinya. “Saya sangat bahagia kalau dapat bertemu dan menghibur para orang-orang tua yang berusia uzur,” katanya.

Pada kesempatan itu terlihat dirinya menyanyi dan bertegur sapa dengan para manula di lokasi itu.Seorang ibu berhidung mancung menyapanya. Lalu mereka terlihat pembicaraan singkat.

“Sudah berapa umur oma sekarang,”Tanya Leila Sari.

“Delapan puluh dua,”ujar wanita yang masih segar dalam usia setua itu.

“Sudah delapan puluhan, tetapi masih cantik,”ujar Leila Sari memuji.

Lantas para krew TV melanjutkan wawancara dengan Leila Sari. Air matanya senantiasa tak dapat dibendungnya bila dia mengucapkan sepatah dua patah kata.

“Udah ya. Jangan ditanyain lagi, nanti saya menangis,”ujar Lelia. Beritapun selesai dan beralih ke topik lain.

Di usianya ke 78 tahun, Leila memang lemah tidak semerbak harumnya ketika masih ngetop di masa lalu. Dia tidak lagi mampu menymbangkan materi kepada keluarganya, bahkan untuk menghidupi dirinya sendiripun kadang sudah tidak mampu.

Tetapi jangan salah. Leila Sari masih memiliki hal yang paling berharga. Dia masih mampu berbuat baik, menghibur sesamanya, membuat sesama yang lemah merasa kuat.

Bukankah Helen Keller, penulis, politikus ulung Amerika Serikat yang tidak bisa melihat dan mendengar sejak usia 19 bulan pernah mengatakan: ”Hal paling indah di dunia tak dapat dilihat dan bahkan tak bisa disentuh, hal tersebut hanya bisa dirasakan dengan hati". 

Leila Sari, wanita kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 4 November 1935, adalah aktris dan penyanyi Indonesia.

Ia mengawali karier sebagai pemain sandiwara dan penyanyi. kariernya dilanjutkan dengan bermain dalam film layar lebar. Ia juga bermain dalam sejumlah sinetron, ketika film layar lebar mengalami kemunduran.

Selama tiga zaman atau enam dekade lebih, Laila Sari telah berkecimpung di panggung hiburan Tanah Air. Namun, wanita berusia 78 tahun itu kini kondisi hidupnya amatlah memprihatinkan. Laila sekarang hidup di rumahnya yang sederhana di Tangkiwood, Jakarta Barat. Daerah itu dulu memang dikenal sebagai penghasil artis berbakat di eranya, diantaranya Aminah Cendrakasih dan (alm) Bing Slamet.
 
Leila Sati memang sudah tua dan lemah, tetapi dia memiliki hal yang paling indah di dunia. Banyak orang bisa merasakan dengan hati, apa yang dilakukannya.

Rabu, 18 Desember 2013

Curriculum Vitae Jannerson Girsang


Born on January, 14 Januari 1961 at Nagasaribu Village, Simalungun District, North Sumatra, Indonesia. 

Four Children: oldest (working on National Television, 28 married with a grand son), second (lawyer at noticed company office in Jakarta, married), third, 22 (technicians at Steam Power Plant Project in North Sumatra), fourth (student of President University in Jakarta). 

Graduated from Bogor Agriculture University (1985)

From 1985-2001. Worked at various offices.   I only mention my experiences, related to writing  and training journalistic for reporters and Christian Youth. 

Writing Experiences

1990-1992. Reporter for Jakarta-based economic magazine PROSPEK. 

2005. Information Officer for Action by Churches Together (ACT International).  I write weekly field report for ACT International  Website. The reports were also posted at Web Relief, Reuter and www.ytbindonesia.org. 

I have written more than ten biographies of North Sumatra church leaders, the governor of North Sumatra, and others.  Followings are biographies and autobiographies  I have written since 2002. 

Bagaikan Rel Kereta Api (2011), Hanya Karena Kasih Kristus (Simply of Christ Love, 2009. Biography of Rev HM Girsang, a former Secretary of VEM, Wuppertal, German), Berdoa dan Menabur Kasih (Pray and Sharing Love, 2009), Haholongon, (Love of a Real Women, 2008), Perjuangan Tiada Akhir (Never Ending Struggle, 2007). Berkarya di Tengah Gelombang (Run in the Mids of Wave, 2007. Biography of Rudolf Pardede, the former North Sumatera Governor, Berbicaralah, Hambamu Mendengarkan (Speak to Me Your Slave, 2006),  Setia Sampai Akhir (Lifetime Commitment, 2006). Hanya Oleh Karena Anugerahnya (Simply Under His Grace, 2005, Biography of Prof Dr Sutan Hutagalung, a former Secretary General of Indonesian Protestant Christian Church), Ketegaran Seorang Ibu (Obduracy of a Woman, 2005), Anugerah Tuhan Yang Tak Terhingga (The Unlimited Grace, 2004, Biography of Rev Dr Armencius Munthe MTh, the former Bishop of GKPS, Simalungun Christian Church). Dari Penjara ke Legislatif (From Jail to Legislative, 2003), Bukan Harta Duniawi (Not Simply the World Wealth, 2002)

Since 2007, I have been free lance writer at main local daily in Medan such  Analisa, Medan Bisnis, Sinar Indonesia Baru, Jurnal Medan (closed 2012). I have published more than 200 articles in the last five years, including pluralism and religion issues.   

Trainer for Writing Experiences

I gave journalistic training for North Sumatra Christian Youth, reporters  of Sinar Indonesia Baru Batak oriented daily (2011),  reporters of a remote area mediaonline of Nias Island, North Sumatra province, Indonesia (www.nias-bangkit.com).

Training Experiences in Journalistic

I have attended  some cources in writing and jusnalistic training i.e: Prosepek Magazine Jurnalistic Training, Jakarta (1992), Journalistic Training at University of Indonesia, Jakarta (2004), Information Management Training (ACT International, 2004). I obtained most of writing knowledge from Books and autodidact.

Award

I was awarded as a biographer and book contributor to library by the Governor of North Sumatra (2007). 

Others

I also one of jury at annual North Sumatran story telling at North Sumatra Library Office.   
Now, I am the head a congregation (voorhanger)  of Simalingkar GKPS church in Medan, with  175 families (approximately 700  people) members in Medan, North Sumatra capital city. Previously, I was a Grand Synod member of my church, Simalungun Christian Protestant Church, GKPS—with a total members of more than 200 people in more than 20 provinces of 33 provinces in Indonesia).  

Concerned.

I am concerned of the lack of ability and will of church youth and others to write. Informally, I taught writing and jurnalistic to youths. I also encourage youth to write at local media through Facebook.  I would like to have more knowledge in motivating people to write.    

Contact: girsangjannerson@gmail.com