Oleh Jannerson Girsang [1]
*Sambil membaca artikel ini bisa mendengarkan lagu karya Hikayat Manaö di video ini.https://www.youtube.com/watch?v=YPKhnGB48L4.
Panglima “Kafalo Zaluaya”: Karisma dan Keteladanan
NBC — Setelah melanglang buana selama
bertahun-tahun di perantauan, akhirnya pada 1986, Hikayat kembali ke
kampung halamannya di Bawömataluo. Tujuannya hanya satu: “Saya ingin
mengembangkan bakat seninya dan mengembangkan budaya desaku,” ujarnya.
Ketekunannya menggeluti budaya dan memimpin di
tengah-tengah masyarakat, para tetua Bawömataluo menobatkannya menjadi
“Kafalo Zaluaya’ (Panglima Perang), sebuah jabatan yang dipilih para
tetua adat dan kaum bangsawan di desanya pada 1992.
Dia dipilih tidak mengacu pada pola sejarah keluarga,
melainkan pada aura dan karisma yang dimilikinya. Tingkah laku dan
tindak-tanduk Hikayat dalam menggeluti hidup bersama warga desa menjadi
parameter penting penunjukannya itu. “Kalau saya tidak memiliki
karisma itu, ya tidak mungkin terpilih,” tegasnya, seperti dikutip
Warisan Indonesia (Desember, 2010).
Sang panglima harus memiliki kemampuan menjadi mediator
dan sekaligus eksekutor yang baik untuk menyelesaikan persoalan yang
timbul di lingkungannya, seperti pengembangan seni budaya,
mempertahankan adat istiadat, juga mengatasi konflik di antara warga.
Di tengah pergulatannya di dunia seni, pria ini beberapa kali memimpin delegasi budaya Nias ke berbagai
event,
baik di tingkat provinsi maupun nasional. Kemampuannya menjadi dirigen
dibuktikannya dengan meraih prestasi/penghargaan sebagai Juara II
Konduktor Pesparawi se-Kabupaten Nias Selatan.
Sang Dinamo: Seni Sumber Kebahagiaan
Memilih profesi sebagai budayawan bukanlah hal mudah di
negeri ini, khususnya di kepulauan Nias, yang jauh dari jangkauan
kehidupan modern. Mengembangkan budaya Nias membutuhkan usaha promosi
yang gencar, pemikiran serta energi, juga materi yang tidak sedikit.
Dalam pandangan umum, terjun ke bidang pengembangan budaya adalah “siap
miskin”, seperti pernah diungkapkan oleh seorang tokoh Nias.
Tari kolosal yang kadang melibatkan 100 orang penari, Hombo Batu yang
membutuhkan pria-pria perkasa dengan kesehatan yang prima, bukanlah
kegiatan yang murah. “Untuk mempersipkan tarian kolosal membutuhkan
biaya yang tidak sedikit,” keluhnya suatu ketika karena sulitnya mencari
donor yang mau membantu pengembangan budaya.
Terjun menjadi pelaku budaya secara penuh selama 28 tahun tentu
mustahil kalau Hikayat tidak memiliki kecintaan serta visi yang kuat.
Keterbatasan bukan penghalang baginya.
Selain itu, Hikayat harus menjaga stamina fisik yang prima karena
merangkap banyak pekerjaan: sebagai pelompat batu (kemudian melatih
banyak pemuda), penari, pencipta lagu, penyanyi,
event organizer, bahkan sekaligus juga menjadi humas.
Saya menyaksikan sendiri ketika Festival Bawömataluo
2011 berlangsung. Hikayat tampil siang, sore, dan malam hari. Tanpa
istirahat yang cukup. Pada acara pembukaan dia memimpin tari kolosal
Faluaya
yang terkenal itu dan melibatkan sekita 100 penari. Kemudian dia juga
bermain dalam berbagai atraksi pada acara lain. Seusai setiap tahapan
pergelaran, para wartawan televisi dan media lainnya mengerubutinya
untuk meminta penjelasan tentang apa saja di balik sebuah pertunjukan
yang baru dilakoninya.
Malam hari, ia tampil dalam acara hiburan, bernyanyi bersama
penduduk dan para tamu. Praktis dalam satu hari dia hanya tidur beberapa
jam. Belum lagi berhari-hari masa latihan.
Hikayat Manaö mengungkapkan kuncinya agar dia terus bersemangat
adalah menjaga suasana hati tetap riang. “Hati yang riang adalah
obat,” ujarnya. Dia juga mengajarkan hal-hal besar untuk untuk
memberikan semangat anak-anak buahnya.
Hikayat cukup bahagia dengan seni yang digelutinya, walau tanpa
penghargaan yang memadai. Beda dengan para artis di era hedonism
sekarang ini, para artis Ibu Kota yang terjun ke dunia seni banyak
meraih gemerlapnya hasil dari profesi ini.
Melakoni seni adalah kebahagiaan baginya. Seni untuk seni, tanpa embel-embel duniawai lainnya. “Ukuran kebahagiaan bukan karena
title,
harta, tapi berakar dari hati,” ujarnya ketika itu. Hikayat
melaksanakan niatnya mengembangkan budaya dengan hati yang bahagia.
Prihatin Budaya Tradisional Nias Hilang
Keprihatinannya atas makin pudarnya minat pemilik budayanya justru
telah menjadi sumber energi bagi Hikayat untuk berjuang atas
kelangsungan dan pewarisannya kepada generasi mendatang. Misalnya, dia
mengeluhkan banyaknya tarian sakral Nias yang sudah tidak dipertontonkan
lagi, seperti Fadolohia. Tarian ini merupakan ucapan syukur yang pada
masa Hikayat sering digelar seusai panen.“Itu sebabnya, setiap
penampilan kami mengikutsertakan tarian ini,” ujarnya.
Hal lain yang belakangan turut menjadi perhatiannya adalah pengukur dada ternak babi Nias Selatan yang khas (
afore). Dia begitu prihatin
afore versi Nias Selatan yang sudah lama tidak terlihat lagi di
Omo Bale.
Tentu banyak lagi karya-karya luhur nenek moyang Nias yang kini sudah
hampir terlupakan. Inilah yang senantiasa membakar dirinya untuk terus
bergerak dan bergerak. Dia ingin semua itu bisa kembali dan diwariskan
kepada generasi sekarang dan masa datang.
Hikayat merasa terbeban melestarikan dan mengembangkan tari dan
budaya Nias. “Saya mempunyai beban moral untuk menurunkan
(mewariskan—penulis) nilai-nilai budaya agar generasi muda memiliki jati
diri sebagai orang Nias,” ujarnya kepada NBC, seusai menggelar tari
kreasi gerakan Faluaya Zanokhe di depan
Omo Sebua, 15 Mei 2011.
Seniman yang Dekat dengan Media
Satu catatan khusus saya. Peristiwa duka ini berlangsung hanya satu minggu sesudah ulang tahun ke-4 media
online Nias-Bangkit.com (NBC). Mengapa saya kaitkan Hikayat Manaö dengan Nias Bangkit?
Sebagai orang yang tinggal di luar Nias, saya mengenal beliau melalui
Nias Bangkit. Media inilah yang memperkenalkanku kepada pria kelahiran
Bawömataluo, 12 Juli 1958, itu.
Di awal penerbitannya, saya beruntung turut serta membantu media
online
itu sebagai fasilitator bagi wartawan-wartawan baru, serta merangkap
koresponden media tersebut, yang memungkinkan saya bertemu beliau.
Media sangat penting bagi publikasi seorang seniman. Melalui media,
seniman mengomunikasikan pemikiran, karya-karyanya kepada publik,
sementara media sendiri mencari inspirasi baru dari para seniman.
Keduanya adalah partner yang harus seiring sejalan dan saling mendukung.
Hikayat Manaö memiliki kemampuan mengomunikasikan ide-ide dan
pemikirannya melalui media. Dia dikenal sangat dekat dengan awak media
dan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara jernih dan bernas.
Hikayat Manaö adalah sumber informasi andal bagi media tentang budaya
Nias. Dia tahu betul peran media dalam mendorong pengenalan budaya
kepada dunia luar sehingga dia akan melayani media, tanpa kenal waktu
dan tempat, melalui telepon atau bertemu langsung.
Sebuah karya media
online untuk sebuah karya seni telah dipertontonkan dalam Festival Bawömataluo Mei 2011, di mana media
online NBC
sebagai sponsor utamanya, juga mengundang berbagai media televisi dan
media lainnya. Pemberitaan pergelaran tersebut turut berperan dalam
mendongkrak publikasi tentang Nias, yang selama ini kurang begitu
dilirik media lokal di Sumatera Utara. Bahkan, kematian Hikayat Manaö
sepi dari pemberitaan harian-harian lokal di provinsi ini.
Satu hal yang perlu menjadi catatan, peristiwa meninggalnya Hikayat
Manaö tidak begitu menarik perhatian bagi media lokal di Sumatera
Utara, tetapi menjadi berita menarik bagi media-media di Jakarta
seperti Nias-Satu, Nias Bangkit, serta Kompas.com.
Hikayat telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak media, elektronik, cetak maupun media
online.
Selain seniman, Hikayat telah menjadi penyuara suara rakyat
Bawömataluo melalui media. Terus terang tanpa peran media saya tidak
mungkin mengenal beliau, tidak mungkin mengetahui Nias seperti saat
sekarang ini.
Catatan Akhir: “Elefu”
Hikayat Manaö menemukan dunianya 28 tahun yang lalu. Dia berbahagia dengan dunia itu, dunia seni Nias.
Selasa pagi, 13 Oktober 2014, saya mendengarkan lagu “Elefu”.
Iramanya begitu menarik dan saya meminta Etis Nehe, seorang teman dari
Nias Selatan menerjemahkannya.Lagu Elefu ini ternyata adalah tentang
satu jenis ikan bernama
elefu.
Biasanya ikan ini ditemukan di sungai-sungai kecil di
Nias, termasuk di beberapa sungai yang mengelilingi separuh desa
Bawömataluo.
Menurut Etis Nehe, yang juga pengelola media
online
Nias Satu, sebuah kegembiraan luar biasa bagi penduduk Bawömataluo
bila berhasil menangkap ikan ini. Ukurannya tidak terlalu besar,
tetapi warnanya mengilap dengan sisik yang relatif besar. Seni, sebuah
keindahan, itulah mungkin daya tarik ikan ini bagi Hikayat Manaö.
Ibarat bahagianya menangkap ikan Elefu, Hikayat telah
menemukan seni sebagai sumber kebahagiaannya. Tiada hari tanpa seni,
meski tidak mendatangkan harta yang banyak, tetapi jiwanya bahagia.
Hikayat menebar kebahagiaan itu kepada banyak orang, ibarat sumur yang
tak pernah kering.
Sebagai seorang seniman, Hikayat Manaö dikenal berhasil
merivitalisasi kesenian leluhurnya yang dimodifikasi dengan budaya
kekinian, sehingga memperkaya perbendaharaan khazanah budaya Nias, baik
dalam ratusan lagu daerah ciptaannya maupun seni tari.
Hikayat Manaö adalah seorang pencipta lagu-lagu Nias yang cukup
produktif. Salah satu lagu yang cukup populer di masyarakat adalah lagu
“Elefu”, lagu mars Nias Selatan juga berjudul “Furai Tanö Raya”.
Karya besar tidak harus dihasilkan dari kemewahan atau kecukupan
materi, tidak harus dihasilkan di sebuah kota besar atau lingkungan
metropolitan. Dalam keterbatasannya dan keterisolasian daerahnya,
kehidupan yang serba prihatin, Hikayat Manaö menapaki menjalani kisah
kecintaannya kepada budaya leluhurnya.
28 tahun yang lalu dia kembali menemukan dan mengembangkan
dirinya dan budayanya dari sebuah desa kecil bernama Bawömataluo, Nias
Selatan. Hikayat Manaö kemudian menjadi “dinamo” yang menggerakkan
dunia seni di Bawömataluo, sebagaimana yang dilukiskan, Kompas.com
dalam artikel kenangan buat Hikayat.
Hikayat meninggalkan seorang istri, Munihati Manaö dan
lima anak. Sejumlah karyanya yang spektakuler di bidang tari, serta
lagu-lagu ciptaannya tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
Selamat jalan Hikayat Manaö, sang Maestro budaya Nias. Pergilah
dengan tenang kawan. Ketulusanmu, kegigihanmu berkarya akan
menginspirasi kami semua dalam menata kehidupan ke depan. Tutur bahasamu
yang apik, ekspresi wajahmu yang mengesankan, keramahan, kehangatanmu
tak pernah lekang dalam ingatan kami semua.
[JANNERSON GIRSANG, Penulis Biografi, Tinggal di Medan; Dia juga menulis Profil Hikayat Manaö yang dimuat di NBC, Maret 2011]
- See more at: http://www.nias-bangkit.com/2014/10/perpustakaan-besar-itu-sudah-hangus-terbakar-bagian-2/#sthash.lWDJ0evQ.dpuf
Oleh Jannerson Girsang [1]
*Sambil membaca artikel ini bisa mendengarkan lagu karya Hikayat Manaö di video ini.
Panglima “Kafalo Zaluaya”: Karisma dan Keteladanan
NBC — Setelah melanglang buana selama bertahun-tahun
di perantauan, akhirnya pada 1986, Hikayat kembali ke kampung
halamannya di Bawömataluo. Tujuannya hanya satu: “Saya ingin
mengembangkan bakat seninya dan mengembangkan budaya desaku,” ujarnya.
Ketekunannya menggeluti budaya dan memimpin di tengah-tengah
masyarakat, para tetua Bawömataluo menobatkannya menjadi “Kafalo
Zaluaya’ (Panglima Perang), sebuah jabatan yang dipilih para tetua adat
dan kaum bangsawan di desanya pada 1992.
Dia dipilih tidak mengacu pada pola sejarah keluarga, melainkan pada
aura dan karisma yang dimilikinya. Tingkah laku dan tindak-tanduk
Hikayat dalam menggeluti hidup bersama warga desa menjadi parameter
penting penunjukannya itu. “Kalau saya tidak memiliki karisma itu, ya
tidak mungkin terpilih,” tegasnya, seperti dikutip
Warisan Indonesia (Desember, 2010).
Sang panglima harus memiliki kemampuan menjadi mediator dan sekaligus
eksekutor yang baik untuk menyelesaikan persoalan yang timbul di
lingkungannya, seperti pengembangan seni budaya, mempertahankan adat
istiadat, juga mengatasi konflik di antara warga.
Di tengah pergulatannya di dunia seni, pria ini beberapa kali memimpin delegasi budaya Nias ke berbagai
event,
baik di tingkat provinsi maupun nasional. Kemampuannya menjadi dirigen
dibuktikannya dengan meraih prestasi/penghargaan sebagai Juara II
Konduktor Pesparawi se-Kabupaten Nias Selatan.
Sang Dinamo: Seni Sumber Kebahagiaan
Memilih profesi sebagai budayawan bukanlah hal mudah di negeri ini,
khususnya di kepulauan Nias, yang jauh dari jangkauan kehidupan modern.
Mengembangkan budaya Nias membutuhkan usaha promosi yang gencar,
pemikiran serta energi, juga materi yang tidak sedikit. Dalam pandangan
umum, terjun ke bidang pengembangan budaya adalah “siap miskin”,
seperti pernah diungkapkan oleh seorang tokoh Nias.
Tari kolosal yang kadang melibatkan 100 orang penari, Hombo Batu yang
membutuhkan pria-pria perkasa dengan kesehatan yang prima, bukanlah
kegiatan yang murah. “Untuk mempersipkan tarian kolosal membutuhkan
biaya yang tidak sedikit,” keluhnya suatu ketika karena sulitnya mencari
donor yang mau membantu pengembangan budaya.
Terjun menjadi pelaku budaya secara penuh selama 28 tahun tentu
mustahil kalau Hikayat tidak memiliki kecintaan serta visi yang kuat.
Keterbatasan bukan penghalang baginya.
Selain itu, Hikayat harus menjaga stamina fisik yang prima karena
merangkap banyak pekerjaan: sebagai pelompat batu (kemudian melatih
banyak pemuda), penari, pencipta lagu, penyanyi,
event organizer, bahkan sekaligus juga menjadi humas.
Saya menyaksikan sendiri ketika Festival Bawömataluo
2011 berlangsung. Hikayat tampil siang, sore, dan malam hari. Tanpa
istirahat yang cukup. Pada acara pembukaan dia memimpin tari kolosal
Faluaya
yang terkenal itu dan melibatkan sekita 100 penari. Kemudian dia juga
bermain dalam berbagai atraksi pada acara lain. Seusai setiap tahapan
pergelaran, para wartawan televisi dan media lainnya mengerubutinya
untuk meminta penjelasan tentang apa saja di balik sebuah pertunjukan
yang baru dilakoninya.
Malam hari, ia tampil dalam acara hiburan, bernyanyi bersama
penduduk dan para tamu. Praktis dalam satu hari dia hanya tidur beberapa
jam. Belum lagi berhari-hari masa latihan.
Hikayat Manaö mengungkapkan kuncinya agar dia terus
bersemangat adalah menjaga suasana hati tetap riang. “Hati yang riang
adalah obat,” ujarnya. Dia juga mengajarkan hal-hal besar untuk untuk
memberikan semangat anak-anak buahnya.
Hikayat cukup bahagia dengan seni yang digelutinya, walau tanpa
penghargaan yang memadai. Beda dengan para artis di era hedonism
sekarang ini, para artis Ibu Kota yang terjun ke dunia seni banyak
meraih gemerlapnya hasil dari profesi ini.
Melakoni seni adalah kebahagiaan baginya. Seni untuk seni, tanpa embel-embel duniawai lainnya. “Ukuran kebahagiaan bukan karena
title,
harta, tapi berakar dari hati,” ujarnya ketika itu. Hikayat
melaksanakan niatnya mengembangkan budaya dengan hati yang bahagia.
Prihatin Budaya Tradisional Nias Hilang
Keprihatinannya atas makin pudarnya minat pemilik budayanya justru
telah menjadi sumber energi bagi Hikayat untuk berjuang atas
kelangsungan dan pewarisannya kepada generasi mendatang. Misalnya, dia
mengeluhkan banyaknya tarian sakral Nias yang sudah tidak dipertontonkan
lagi, seperti Fadolohia. Tarian ini merupakan ucapan syukur yang pada
masa Hikayat sering digelar seusai panen.“Itu sebabnya, setiap
penampilan kami mengikutsertakan tarian ini,” ujarnya.
Hal lain yang belakangan turut menjadi perhatiannya adalah pengukur dada ternak babi Nias Selatan yang khas (
afore). Dia begitu prihatin
afore versi Nias Selatan yang sudah lama tidak terlihat lagi di
Omo Bale.
Tentu banyak lagi karya-karya luhur nenek moyang Nias yang kini sudah
hampir terlupakan. Inilah yang senantiasa membakar dirinya untuk terus
bergerak dan bergerak. Dia ingin semua itu bisa kembali dan diwariskan
kepada generasi sekarang dan masa datang.
Hikayat merasa terbeban melestarikan dan mengembangkan tari dan
budaya Nias. “Saya mempunyai beban moral untuk menurunkan
(mewariskan—penulis) nilai-nilai budaya agar generasi muda memiliki jati
diri sebagai orang Nias,” ujarnya kepada NBC, seusai menggelar tari
kreasi gerakan Faluaya Zanokhe di depan
Omo Sebua, 15 Mei 2011.
Seniman yang Dekat dengan Media
Satu catatan khusus saya. Peristiwa duka ini berlangsung hanya satu minggu sesudah ulang tahun ke-4 media
online Nias-Bangkit.com (NBC). Mengapa saya kaitkan Hikayat Manaö dengan Nias Bangkit?
Sebagai orang yang tinggal di luar Nias, saya mengenal beliau melalui
Nias Bangkit. Media inilah yang memperkenalkanku kepada pria kelahiran
Bawömataluo, 12 Juli 1958, itu.
Di awal penerbitannya, saya beruntung turut serta membantu media
online
itu sebagai fasilitator bagi wartawan-wartawan baru, serta merangkap
koresponden media tersebut, yang memungkinkan saya bertemu beliau.
Media sangat penting bagi publikasi seorang seniman. Melalui media,
seniman mengomunikasikan pemikiran, karya-karyanya kepada publik,
sementara media sendiri mencari inspirasi baru dari para seniman.
Keduanya adalah partner yang harus seiring sejalan dan saling mendukung.
Hikayat Manaö memiliki kemampuan mengomunikasikan ide-ide dan
pemikirannya melalui media. Dia dikenal sangat dekat dengan awak media
dan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara jernih dan bernas.
Hikayat Manaö adalah sumber informasi andal bagi media tentang budaya
Nias. Dia tahu betul peran media dalam mendorong pengenalan budaya
kepada dunia luar sehingga dia akan melayani media, tanpa kenal waktu
dan tempat, melalui telepon atau bertemu langsung.
Sebuah karya media
online untuk sebuah karya seni telah dipertontonkan dalam Festival Bawömataluo Mei 2011, di mana media
online NBC
sebagai sponsor utamanya, juga mengundang berbagai media televisi dan
media lainnya. Pemberitaan pergelaran tersebut turut berperan dalam
mendongkrak publikasi tentang Nias, yang selama ini kurang begitu
dilirik media lokal di Sumatera Utara. Bahkan, kematian Hikayat Manaö
sepi dari pemberitaan harian-harian lokal di provinsi ini.
Satu hal yang perlu menjadi catatan, peristiwa
meninggalnya Hikayat Manaö tidak begitu menarik perhatian bagi media
lokal di Sumatera Utara, tetapi menjadi berita menarik bagi media-media
di Jakarta seperti Nias-Satu, Nias Bangkit, serta Kompas.com.
Hikayat telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak media, elektronik, cetak maupun media
online.
Selain seniman, Hikayat telah menjadi penyuara suara rakyat
Bawömataluo melalui media. Terus terang tanpa peran media saya tidak
mungkin mengenal beliau, tidak mungkin mengetahui Nias seperti saat
sekarang ini.
Catatan Akhir: “Elefu”
Hikayat Manaö menemukan dunianya 28 tahun yang lalu. Dia berbahagia dengan dunia itu, dunia seni Nias.
Selasa pagi, 13 Oktober 2014, saya mendengarkan lagu “Elefu”.
Iramanya begitu menarik dan saya meminta Etis Nehe, seorang teman dari
Nias Selatan menerjemahkannya.Lagu Elefu ini ternyata adalah tentang
satu jenis ikan bernama
elefu.
Biasanya ikan ini ditemukan di sungai-sungai kecil di Nias, termasuk
di beberapa sungai yang mengelilingi separuh desa Bawömataluo.
Menurut Etis Nehe, yang juga pengelola media
online Nias
Satu, sebuah kegembiraan luar biasa bagi penduduk Bawömataluo bila
berhasil menangkap ikan ini. Ukurannya tidak terlalu besar,
tetapi warnanya mengilap dengan sisik yang relatif besar. Seni, sebuah
keindahan, itulah mungkin daya tarik ikan ini bagi Hikayat Manaö.
Ibarat bahagianya menangkap ikan Elefu, Hikayat telah menemukan seni
sebagai sumber kebahagiaannya. Tiada hari tanpa seni, meski tidak
mendatangkan harta yang banyak, tetapi jiwanya bahagia. Hikayat menebar
kebahagiaan itu kepada banyak orang, ibarat sumur yang tak pernah
kering.
Sebagai seorang seniman, Hikayat Manaö dikenal berhasil
merivitalisasi kesenian leluhurnya yang dimodifikasi dengan budaya
kekinian, sehingga memperkaya perbendaharaan khazanah budaya Nias, baik
dalam ratusan lagu daerah ciptaannya maupun seni tari.
Hikayat Manaö adalah seorang pencipta lagu-lagu Nias yang
cukup produktif. Salah satu lagu yang cukup populer di masyarakat
adalah lagu “Elefu”, lagu mars Nias Selatan juga berjudul “Furai Tanö
Raya”. Selama ini,
Karya besar tidak harus dihasilkan dari kemewahan atau kecukupan
materi, tidak harus dihasilkan di sebuah kota besar atau lingkungan
metropolitan. Dalam keterbatasannya dan keterisolasian daerahnya,
kehidupan yang serba prihatin, Hikayat Manaö menapaki menjalani kisah
kecintaannya kepada budaya leluhurnya.
28 tahun yang lalu dia kembali menemukan dan mengembangkan dirinya
dan budayanya dari sebuah desa kecil bernama Bawömataluo, Nias Selatan.
Hikayat Manaö kemudian menjadi “dinamo” yang menggerakkan dunia seni di
Bawömataluo, sebagaimana yang dilukiskan, Kompas.com dalam artikel
kenangan buat Hikayat.
Hikayat meninggalkan seorang istri, Munihati Manaö dan
lima anak. Sejumlah karyanya yang spektakuler di bidang tari, serta
lagu-lagu ciptaannya tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
Selamat jalan Hikayat Manaö, sang Maestro budaya Nias.
Pergilah dengan tenang kawan. Ketulusanmu, kegigihanmu berkarya akan
menginspirasi kami semua dalam menata kehidupan ke depan. Tutur bahasamu
yang apik, ekspresi wajahmu yang mengesankan, keramahan, kehangatanmu
tak pernah lekang dalam ingatan kami semua.
[JANNERSON GIRSANG, Penulis Biografi, Tinggal di Medan; Dia juga menulis Profil Hikayat Manaö yang dimuat di NBC, Maret 2011]
- See more at: http://www.nias-bangkit.com/2014/10/perpustakaan-besar-itu-sudah-hangus-terbakar-bagian-2/#sthash.lWDJ0evQ.dpuf