My 500 Words

Selasa, 08 Juli 2014

Aku Menulis, maka Aku Ada

Pengantar. 

Kebanggaan seorang penulis adalah ketika kata-kata dalam artikelnya menginspirasi orang lain menulis. Eka Azwin Lubis, seorang penulis muda Sumut yang cukup produktif,  menulis sebuah artikel di harian Tribune News, 14 Juni 2014 dan  mengutip artikel saya. Saya sangat berterima kasih, lanjut terus menabur kebaikan!

  
Oleh Eka Azwin Lubis


SEBAGIAN kita tentu familiar dengan kalimat cugito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), yang diungkapkan oleh seorang filsuf Prancis, Descartes. Kalimat tersebut merupakan jawaban bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.

Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja pikiran manusia tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya menjerumuskannya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.

Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat “ketika berpikir, sayalah yang berpikir” salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada (Wikipedia).

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Pramodya Ananta Toer dalam bukunya Bumi Manusia, seorang terpelajar sudah mampu berlaku adil sejak dalam pikiran. Tentu ini menjadi bukti kepada kita bahwa alam pikiran kita sangat memiliki pengaruh terhadap eksistensi keberadaan kita. Menurut Pram (sapaan akrab Pramodya Ananta Toer), orang boleh pintar setinggi langit, tapi selagi tidak menulis dia akan hilang dari sejarah. Selain menjadi sumber rujukan dalam berbagai disiplin ilmu, sebuah tulisan akan memberikan kesan tersendiri bagi setiap penulisnya di mata orang yang membaca.

 Mengubah pola pikir
Saya pernah membaca suatu artikel berjudul Menulis Untuk Keabadian yang ditulis oleh Maruntung Sihombing. Beliau menyatakan jangan salahkan anak cucu kita, jika mereka lebih mengenal Tan Malaka, Pramodya Ananta Toer, Soe Hok Gie, atau Chairil Anwar dan tidak mengenal kita sebagai leluhurnya. Hal itu bukanlah suatu pernyataan yang naif, karena mereka telah menggoreskan nama mereka dengan tinta emas ke dalam setiap hati penggemar melalui tulisan-tulisannya.

Tidak jarang melalui tulisannya mereka mampu mengubah pola pikir masyarakat umum sesuai dengan alur berpikir yang mereka miliki. Malaka memiliki kemampuan untuk mengorganisir massa yang dia tuangkan ke dalam banyak buku seperti Aksi Massa, Dari Penjara ke Penjara, hingga Madilog. Semua buku yang dia tulis bukanlah hasil kebut semalam demi mengejar popularitas, namun melalui berbagai tinjauan filosofis yang dalam, yang hingga kini tetap menjadi konsumsi publik dan kerap menjadikannya sebagai patron dalam menentukan arah suatu gerakan.

Pram memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan Malaka. Beliau lebih cenderung menularkan pemikiran melalui cerita-cerita fiksi yang dituangkan ke dalam novel-novelnya. Wawasan yang luas didukung dengan penggunaan bahasa yang mudah dicerna oleh berbagai elemen masyarakat membuat novel pram begitu digandrungi. Cerita-cerita yang begitu menyentuh hati para pembaca, membuat Pram kerap keluar masuk penjara karena dianggap sebagai antek-antek PKI yang memiliki tujuan menumbangkan pemerintah melalui tulisan-tulisannya. Padahal, melalui tulisannya itu ia menyadarkan banyak orang tentang perihnya sebuah penindasan dan ketidakadilan.

Itulah yang namanya penulis, dia selalu menuangkan ide gagasanya tanpa terikat ruang dan waktu. Pram yang sempat menjalani hukuman penjara di Pulau Buru tetap menulis apa yang menurutnya menjadi suatu keharusan untuk dinikmati generasi penerus peredaban. Di dalam penjara buru pula lahir rangkaian novel yang kemudian dia beri nama Tetralogi Buru karena terdiri dari empat buku yang saling berkaitan, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang telah diterjemahkan ke dalam tidak kurang dari 10 bahasa asing.

Pram seolah paham betul bagaimana cara membangkitkan gairah perlawanan kaum proletar yang senantiasa ditindas oleh para pemodal melalui analogi pada zaman penjajahan ketika Belanda begitu menginjak-injak martabat kaum pribumi. Banyak kecaman yang Pram terima terkait tulisan-tulisannya yang tajam. Sampai suatu ketika dia pernah dinobatkan sebagai penerima penghargaan Magsaysay Award dari Filiphina karena dedikasinya, dan mendapat protes dari banyak pihak yang menganggapnya tidak layak menerima penghargaan tersebut. Terlepas dari berbagai kontroversi yang melakat dalam perjalanan hidup seorang Pram, kita harus akui bahwa hingga hari ini beliaulah satu-satunya putra bangsa ini yang beberapa kali masuk nominasi penerima nobel bidang sastra.

Beberapa tokoh di atas merupakan patron dalam dunia tulis menulis yang pengakuaan atas hasil karyanya tidak hanya berasal dari dalam negeri, namun juga berbagai belahan dunia. Ada satu rasa iri yang selalu menghantui diri saya ketika membaca setiap tulisan-tulisan mereka, sebab meski telah meninggal dunia, semua orang masih dapat menyebut dan mengenal nama mereka dengan fasih, karena warisan tulisan yang mereka tinggalkan selalu melekatkan nama mereka di dalamnya.

 Cerminan karakter
Guru saya, Majda El Muhtaj pernah mengatakan you are what you read. Kata-kata yang beliau adopsi dari sebuah tulisan di angkutan umum Singapura itu, beliau sampaikan untuk mendorong kita agar segera menulis. Menurut beliau, orang yang menulis sudah pasti membaca, sementara orang yang membaca belum tentu menulis. Sehingga apa yang kita tulis merupakan cerminan dari karakter kita yang sedikit banyak terbentuk dari buku-buku yang kita baca.

Melalui sekelumit gagasan yang ada di kepala, saya coba memberanikan diri menuangkannya ke dalam tulisan. Harapan yang dibarengi ambisi ingin menjadi manusia yang terkenang abadi melalui tulisan-tulisannya menjadi penyemangat tunggal untuk terus menuangkan ide ke dalam tulisan agar bisa dikonsumsi oleh banyak orang. Melalui berbagai percobaan yang berakhir kegagagal, akhirnya semua penantian terjawab manakala sebuah media untuk pertama kalinya memuat tulisan saya di kolom opini.

Kebanggaan menjadi seorang penulis senantiasa menyapa manakala ada orang lain yang membahas tulisan kita. Lebih jauh dari itu, meskipun hanya sebatas tulisan di opini surat kabar ternyata hal itu memberi arti tersendiri. Rasa yang sama ternyata dimiliki oleh banyak penulis opini yang hari ini tulisan-tulisannya mewarnai surat kabar. Mulai dari para penulis senior yang memilik reputasi hebat hingga para penulis pemula seperti saya berbaur saling memberi masukan untuk memperbaiki pola penulisan hinggamendiskusikan substansi dan latar belakang apa yang kita tulis.

Jannerson Girsang, seorang penulis senior pernah mengutip pribahasa klasik dalam sebuah tulisannya Verba valent schripta manent, yang berarti apa yang terucap akan lenyap bersama angin dan apa yang tertulis akan terkenang abadi. Kata-kata itu semakin mengukuhkan peran seorang penulis dalam memberikan sumbangsih pemikiran bagi peradaban manusia, karena apa yang pernah kita tuangkan ke dalam tulisan akan selalu terkenang abadi meskipun kita telah tiada. Aku menulis, maka aku ada!

Eka Azwin Lubis, Aktivis HMI dan Staf Pusat Studi HAM pada Universitas Negeri Medan (Unimed), Medan, Sumatera Utara. Email: ekakalubis@yahoo.com

Berita Baik dan Harta Berlimpah

Oleh: Jannerson Girsang

Tidak salah selama hidup Anda memiliki harta kekayaan berlimpah, memegang jabatan setinggi-tingginya. Tetapi itu tidak pernah memberi kekaguman atau teladan, ketika dalam pencapaian itu Anda tidak menabur kebaikan yang tulus.
 

Jarang sekali orang memberitakan hal-hal yang jelek di tengah-tengah orang meninggal. Keharuman, hasil pekerjaan yang baik, itulah yang kebanyakan diungkap.

Belum pernah saya mendengar, orang menyebut-nyebut berapa harta seseorang, berapa jumlah uangnya, di tempat duka!

Hal-hal bersifat fisik, ternyata tidak begitu menarik dan tak banyak memberikan sumbangan pencerahan hati dan pikiran manusia. Berita atau kisah tentang perbuatan baik jauh lebih harum dari dampak harta dan kekayaan seseorang.

Harta dan kekayaan punya daya jangkau ruang dan waktu yang terbatas, tetapi berita kebaikan akan menyebar kemana-mana, serta kekal selamanya.

Ketika seseorang menutup mata untuk selama-lamanya, memasuki peti mati, hal yang bisa dibagikan kepada semua orang hanya tinggal berita, kisah hidup. Seberapa banyak kebaikan yang ditabur dan dirasakan orang lain. 

Jatah bagi yang meninggal hanya sebidang tanah seluas 2X2 meter dan dilobangi, kemudian ditimbun.

"Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran"

Orang pergi ke rumah duka, sangat dihormati, karena tidak perlu diundang dan tuan rumah umumnya tidak perlu mencetak undangan.

Keluarga almarhum tak pernah memilih-milih siapa yang hadir atau tidak boleh hadir dalam acara penghiburan. "Saya hanya mengenal sekitar 50% dari yang hadir melayat ibu saya," ujar seorang yang ibunya baru meninggal, tadi malam

Hati yang tulus, menggerakkan seseorang melayat orang atau teman yang meninggal. Belajar makna kehidupan, karena di sanalah alhir kesudahan setiap manusia!

"Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya".

Orang-orang yang berhati tulus, sederhana lebih tahan tinggal di sekitar persemayaman orang meninggal. Mereka mampu dan gemar merenungkan makna kehidupan, menghibur keluarga yang berduka. Dia bisa menghibur dirinya sendiri dan mereka yang sedang berduka.

"Hidup ibarat bunga yang mekar di pagi hari dan layu di sore hari. Segala yang bersifat kebendaan akan hilang tergerus angin sepoi menjelang malam dan hanya menyisakan kisah keharuman yang kekal".

Di tengah-tengah kehidupan sehari-hari memberitakan hal-hal baik, senang memberi kebaikan, lebih baik ketimbang melakukan "serangan fajar", mempertontonkan kesombongan, kegagahan dan meremehkan teman sebangsa, apalagi dengan kampanye hitam.

"....................Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria".

Selamat jalan para senior kami Prof Dr Ir Sengli J Damanik, MSc, Guru Besar USU dan mantan Rektor Universitas Simalungun dan Dr Firman Siregar, MSAc, mantan Rektor Universitas HKBP Nommensen. Upacara pemakaman kedua tokoh itu akan dilaksanakan hari ini.

Semoga kepergian bapak-bapak mengajarkan kami arti hidup yang sebenarnya.

Kebaikan yang bapak-bapak tabur adalah keharuman yang jauh lebih mahal, lebih kekal dari kekayaan bersifat fisik/materi.

Pengkhotbah 7: 1-4

Medan, 8 Juli 2014

Kamis, 03 Juli 2014

Orang Taat dan Cerdas, Pasti Sopan dan Punya Rasa Hormat

Oleh : Jannerson Girsang

Orang yang taat beragama dan cerdas pasti bicaranya sopan, menghormati saudara-saudara sebangsanya, tidak tega korupsi, tidak tega melancarkan fitnah, kampanye hitam, membuat bingung rakyatnya.

Bicaranya menginspirasi, tindakannya menjadi teladan. Dia memiliki teman-teman, pendukung yang tidak jauh-jauh beda dari karakternya. Terasa sekali suasana lingkungan kalau mereka tampil: damai, kreativitas berkembang.

Tapi, sebagian bangsa kita sekarang menunjukkan jati diri palsunya. Mengaku taat beragama, negarawan, tapi mudah marah, emosi, mudah melancarkan kata-kata "bohong", dengan cara-cara kasar, tak perduli perasaan orang lain.

Ketika tampil di ruang publik, melancarkan kata-kata yang membuat kuping merah mendengarnya, tak layak didengar telinga orang yang waras. Para pendukung di rumah ada yang kerjanya hanya memikirkan konsep-konsep kampanye gelap, menjatuhkan lawan, bukan bersaing dengan kreativitas.

Negeri ini banyak dikendalikan orang yang tidak senang dengan kedamaian, suka mengeluarkan kata-kata "pembunuh karakter". Mengeluarkan dana besar untuk Obor Rakyat, media yang penuh fitnah, membuat gusar.

Kesukaannya senang melihat orang susah, susah melihat orang senang. Tiap hari pikirannya gusar, takut kalah, tidak sehat, tak ada rasa kemanusiaan, walau menyebut dirinya manusiawi.

Yang penting menang. Hanya menang!.

Tak peduli, akibat tindakannya. Generasi damai atau generasi berantakan!. Hanya politisi tulen, memenangkan ambisinya.

James Freman Clarke mengatakan, "Seorang politisi berpikir tentang pemilu berikutnya. Seorang negarawan, berfikir generasi berikutnya". Bisalah diklasifikasikan, kalau seseorang hanya mau menang saja!

Beda memang rasanya!. Saya tidak berbeban moral memilih orang yang taat dan cerdas. Senang mendengar apa yang diucapkannya, bangga dengan prestasinya, hormat kepada sekelilingnya.

Saya merindukan negeri ini dipimpin seorang yang mampu membuat suasana pemerintahan penuh kedamaian, ketenangan, dan saling menghormati sesama. Mendorong kreativitas, bukan ketakutan atau kekhawatiran.

"Tuhan bantulah negeri kami ini agar tau sopan santun, tau apa artinya bersaing sehat, menghargai prestasi, tau membedakan mana yang baik dan buruk, mana tindakan yang benar dan salah.

Kami tau dan sadar Tuhan, Jokowi bukan orang sempurna, bukan malaikat. Sempurnakanlah dia agar mampu menjadi pemimpin kami.

Sama dengan Jokowi, saya hanya rakyar kecil Tuhan. Tidak punya uang triliunan rupiah untuk membuat kampanye besar untuk Jokowi. Hanya doaku yang tulus kupanjatkan kepadaMU.

Hanya satu permintaan kami. Ketuklah hati rakyat kami agar mencintai dan memilihnya. Berilah kemenangan kepada Jokowi menjadi Presiden.kami di Pilpres 9 Juli 2014.

Bukan kehendak kami, tapi kehendakMulah yang jadi. Tuhan yang tau siapa yang terbaik. Manusia hanya mampu mengatakan dirinya yang terbaik" Amin!


Medan, 3 Juli 2014

Kisah Kancil Melawan Singa

Oleh: Jannerson Girsang

Waktu masih kecil, orangtua saya pernah berkali-kali menceritakan kisah Kancil  melumpuhkan Singa. Begitu hebatnya bapak saya bercerita, hingga kini saya masih mengingatnya.

Kisahnya sungguh menginspirasi anak-anak untuk menggunakan akal dan berani. "Jangan anggap remeh orang kecil meski tubuhmu besar, kalau otakmu di dengkul. Orang kecil bisa menjadi kuat, kalau dia pintar dan bijaksana," kata ayah saya ketika menceritakan kisah ini saat saya masih SD di kampung.

Begini kisahnya.

Suatu ketika, di suatu hutan  Kancil bertemu dengan Singa. Sang kancil sudah lama ingin menundukkan raja hutan itu, tapi belum pernah tahu bagaimana cara membunuhnya. .

"Hei kancil, kenapa kamu masuk ke wilayahku. Hanya dengan satu taring ini, perutmu sudah sobek,"ujar Singa dengan sombongnya, sambil menunjukkan taringnya yang putih dan menyeramkan itu.

Sang Kancil cerdik tidak gentar mendengar ancaman Singa. Dia dengan tenang berbicara di depan binatang yang sangat kejam itu.

"Kek!", demikian kancil memanggi Singa. "Tadi ada seekor binatang besar dan katanya dialah raja di hutan ini," sambung Kancil memberanikan diri.

Kancil sudah menduga, Singa akan sangat marah. Berita yang diucapkan Kancil benar saja membangkitkan amarah sang raja hutan. .

"Hei, benar kamu Kancil. Kamu bohong!. Kalau benar, kamu harus membawa saya ke tempat binatang itu. Tidak ada raja di hutan ini selain saya. Saya;ah raja hutan," katanya sambil melangkah mendekati kancil.

Kancil sedikit mundur, karena mulai gentar. Tapi, namanya Kancil, selalu punya akal. Diapun berfikir sejenak dan mengatur kata-katanya.

"Kek! Ada. Tidak jauh dari sini!. Saya akan membawa kakek menemui binatang itu" ujar sang Kancil mantap.

Keduanya berjalan menuju sebuah perigi (sumur) yang berdiameter kira-kira dua meter. Perigi itu dalam dan berisi air kira-kira satu meter ke permukaan. Tidak berapa lama keduanya sudah tiba di perigi itu.

"Dimana binatang itu Kancil?. Saya tidak melihatnya. Kalau tidak ketemu, kamu akan kumakan,"ujar Singa mulai geram.

Di sekelilingnya dia tidak melihat ada tanda-tanda binatang besar, yang disebut Kancil sebagai raja hutan.

"Itu di dalam perigi Kek. Nanti dia akan muncul, kalau Kakek sudah melihatnya ke dalam" kata Kancil.

Kancil kemudian mengajak Singa mendekat ke perigi itu.

"Itu di dalam Kek. Coba lihatlah, kan sudah mulai mau menerkam Kakek" katanya, sambil mengajak Singa lebih dekat ke lobang perigi itu.

Singa melihat bayangannya sendiri di dalam air. Kalau Singa memandang ke dalam, bayangan itu  bergerak mendekatinya seolah mau menerkamnya.

Tanpa pikir panjang, Singa langsung menerkam bayangan binatang yang mirip seperti wajahnya itu. Singa mengira itulah raja hutan yang akan menjadi saingannya, seperti diceritakan Kancil.

"Rush........,"bunyi air memecahkan keheningan di hutan itu, akibat terkaman singa dan air didalam sebagian menyembur Kancil yang berdiri di samping Singa. Kancil sedikit terkejut, dan kemudian bersorak sorai, karena telah berhasil melumpuhkan Singa.

"Hore....Singa bodoh. Percuma saja badanmu besar, taringmu kuat. Kesombongan dan kebodohanmu membuatmu celaka!" ujar Kancil, langsung meninggalkan Singa sendirian menunggu maut.   

Singa yang bodoh itu akhirnya tenggelam di sumur dan tidak mampu mengeluarkan dirinya. Akhirnya sang Raja Hutan mati pelan-pelan, menghirup air sumur tanpa mampu membalikkan tubuhnya lagi.

Kekuatan besar, tanpa memakai otak, bisa dikalahkan kekuatan kecil yang memakai otak dengan bijaksana.

Medan, 3 Juli 2014. 

Dua Capres Gagal Menjaga Ketenangan Kampanye

Oleh: Jannerson Girsang

Balas membalas soal masalah pribadi masih terjadi dalam kampanye Pilpres 2014. Keduanya gagal menjaga ketenangan bangsa selama kampanye. Seharusnya keduanya menjadi pengayom, tetapi justru menjadi sumber keresahan.

Dua Capres yang sedang berlaga memperebutkan kursi Presiden Republik Indonesia belum menunjukkan kepiawiannya menjaga ketenangan rakyat Indonesia menuju Pilpres. Rakyat yang sebelumnya tenang,  layaknya perahu yang aman berlayar di Danau Toba, tiba-tiba diterpa ombak. Penumpangnya mabuk dan hampir kehilangan arah.

Bangsa ini harus banyak belajar. Ke depan, rakyat harus peduli atas perpolitikan di negerinya, pejabat harus tanggap terhadap kasus yang bisa menjadi "bom waktu". Selesaikan persoalan melalui pengadilan, supaya tidak seperti nasib Prabowo, yang diadili di luar pengadilan resmi.

Kubu kedua Capres harus banyak belajar. Kampanye seharusnya mendebat visi dan missi, justru terjebak ke dalam persoalan-persoalan pribadi Capres supaya yang lain "mati" dan yang lain seolah "hidup". Yang satu layak dan yang satu tidak layak. Padahal, dua-duanya sudah diputuskan KPU, layak menjadi Calon Presiden.

Pemimpin, khususnya Presiden harus memiliki wawasan kebangsaan, bukan wawasan sempit soal kepribadian, dan bukan hanya sekedar menang. Capres seharusnya mengajarkan rakyat soal membangun negeri, membangun demokrasi.  Kedua Capres masih setingkat politisi, belum nejadi negarawan. "Seorang politisi berpikir tentang pemilu berikutnya. Seorang negarawan, berfikir generasi berikutnya. (James Freeman Clarke)

Andaikan semua kata-kata, tindakan aneh dari kedua pendukung Capres ini didokumentasikan, maka akan tersimpan jutaan keping video kata-kata yang layaknya diungkapkan "preman-preman" jalanan, atau mereka yang kena narkoba, bukan orang berpendidikan. .

Kata-kata "sinting", "boneka", "PKI", "penculik", "fatwa haram memilih seseorang" dan kelakukan aneh lainnya seperti  'uang bertempel seorang capres". Ada lagi buletin Obor Rakyat mirip koran kuning yang pantas dibaca orang buta huruf. Karena penerbitan sebuah buletin, seharusnya membuat orang melek huruf cerdas, bukan mengundang permusuhan.

Debat di televisipun, acapkali menampilkan kata-kata kotor. Anak SDpun tidak sampai seperti itu berdiskusi. Tadi malam Metro TV menampilkan tiga orang pendukung Capres, tiga-tiganya ngomong serentak. Saling tuding. Padahal titel mereka doktor, anggota DPR, dan tokoh masyarakat. Moderator kerap bingung. Semua mau benar sendiri, berlomba membenarkan diri.

Jangan salahkan penegak hukum. Siapapun polisi, siapapun hakim atau Jaksa, siapapun KPU, atau Bawasu tidak akan mampu menangani begitu banyak pelanggaran.

Kedua kubu Capres mengaku menjadi korban serangan kampanye hitam, dua-duanya menuduh penegak hukum tidak melakukan tugasnya. Sementara keduanya tidak juga memperbaiki penampilannya. Rakyat dibuat bingung.

"Kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan," itu kata Mahatma Gandhi, seorang pejuang perdamaian yang berjuangan melawan penjajah tanpa kekerasan di India.

Yang terjadi di negeri ini adalah "kekerasan dilawan dengan kekerasan". Biarkan kekerasan dilakukan orang-orang bejat, dan mereka akan hancur kerena kebejatannya. Dunia tidak pernah menerima kebejatan. Dunia suka perdamaian.

Semoga setelah hasil Pilpres 9 Juli 2014 nanti diumumkan, tidak terjadi konflik yang lebih besar, setelah selama berkali-kali Pilpres kita berada dalam suasana tenang.

Medan, 3 Juli 2014

Jumat, 27 Juni 2014

Mari Melihat Wajah Kita di Cermin

Oleh: Jannerson Girsang

Di era dimana melek huruf, budaya tulis mulai berkembang, ditambah teknologi internet, maka dokumen peristiwa, tindakan seseorang akan mudah ditemukan.

Dokumentasi tentang apa yang dipikirkan, dilakukan dan dimaknai seseorang tentang sebuah peristiwa tidak bisa ditutupi. Karakter baik dan buruk seseorang bisa dilacak melalui dokumen tertulis itu.

Semua ini mendidik dan melatih kita untuk melakukan hal-hal yang terbaik bagi umat manusia. Percayalah kebaikan selalu menang, meski seolah-olah kalah untuk sementara. Sebaliknya, kejahatan akan selalu kalah, walau untuk sementara terlihat seperti kuat.

Kampanye hitam, kampanye negatif mungkin bisa menang dalam Pilpres, tetapi pemenangnya akan sengsara. Kejahatan itu akan selalu terpatri dalam tulisan yang abadi sepanjang masa. Pelaku-pelakunya akan mengalami penderitaan, karena telah membuat banyak orang menderita.

Koruptor memang untuk sementara, selama kasusnya belum terbongkar, bisa menikmati kenikmatan dunia. Tetapi boleh lihat apa yang dirasakan Akil Mohtar, Angelina Sondakh, Nazaruddin, serta beberapa yang saat ini sedang menghadapi dakwaaan korupsi.

Dia, istri/suami, anak-anak dan keluarga akan tercoreng mukanya di mata dunia, tercatat sebagai pelaku kejahatan di dunia maya yang dokumentasinya akan abadi. Bisa saja memang masih diterima publik, tetapi harus mengalami pertobatan, susah payah untuk merehabilitasi dirinya.

Kejahatan tidak hanya bentuk tindakan korupsi, penipuan atau kekerasan secara fisik. Memfitnah, menjelekkan atau merendahkan sesama, menebar ketakutan, memaksakan kehendak melalui ucapan, tulisan bernada ancaman, adalah kejahatan besar yang sering tidak tercium hukum, tetapi dampak negatifnya luar biasa bagi umat manusia.

Kampanye Pilpres adalah momentum bagi kita semua untuk merenungkan apa yang kita sudah lakukan.

Mungkin melalui FB secara tidak sadar kita pernah menghina, mengejek teman kita yang berbeda pilihan. Tidak ada manusia yang sempurna. Kadang dalam keadaan bersemangat, kita tidak sadar sudah banyak orang yang tersakiti, tersinggung, atau kecewa.

Dalam demokrasi yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatan bersama, prosesnya akan melintasi jalan berliku. Menuju yang baik, kita tidak mengalami hal-hal yang mudah.

Itulah "salib". Kita mengalami hinaan karena melaksanakan, memberitakan sesuatu yang baik. Mari semua berlomba-lomba menabur kebaikan, hindari kampanye hitam, kampanye negatif.

Munculkan karya-karya Capres yang bisa memberikan inspirasi baru untuk berbuat lebih baik. Kebaikan yang dibuat keduanya adalah kebaikan Indonesia, sebaliknya kejelekan mereka adalah kejelekan kita semua.

Dari semua yang jelek tentang Jokowi dan Prabowo masak nggak ada yang baik! Tapi, mungkin sudah kadung rasa hati "cinta" dan "benci", jadi susah melihat sebuah "terang" dari keduanya.

Coba, tanya diri kita masing-masing. Bosan nggak terus-menerus menceritakan yang jelek tentang teman kita?. Saya sendiri sudah mulai bosan. Hasilnya menggembirakan atau mengundang kebencian?. Jelas tidak!

Bagaimana kalau sikap itu kita lanjutkan? Bagaimana kalau sikap itu kita rubah dengan sikap yang lebih elegan?

Kita sudah banyak terjerumus pada jurang kebencian yang dalam dan mungkin akan makin terjerumus lagi lebih dalam kalau kita tidak melakukan refleksi.

Untuk apa sebenarnya kita mendukung seseorang. Apakah untuk saling memusuhi atau untuk membedakan kehebatan negeri ini dipimpin oleh seseorang?.

Jangan-jangan kita nggak tau alasannya kita menjatuhkan pilihan pada Capres tertentu, sementara kita menghakimi yang lain salah pilih.

Tidak ada pilihan yang salah, karena keduanya diakui KPU. Pemilih memiliki preferensi memilih seseorang.

Mari melihat wajah kita di cermin!

Selamat akhir Minggu.

Medan, 27 Juni 2014

Kita Sedang Ditonton Dunia


Oleh: Jannerson Girsang


Kita semua bersaudara. Kita bersaing sehat menuju kebaikan bersama. Jadi, nggak usah terlalu ngototlah dengan pendapat atau pendirian kita, apalagi sampai saling membenci.

Semua sikap, pendapat akan teruji oleh waktu. Semua hasil akan ditentukan 9 Juli 2014.

Hari-hari ke depan kita dalam proses menuju penentuan pemenang. Sikap kita adalah: pemenang di mata rakyat (pengumpul suara terbanyak), kita harus menghormatinya, apapun resikonya.

Semua harus sadar, proses demokrasi kita sedang ditonton, bukan hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Sikap kita, cara-cara berkampanye kita, diamati dengan didukung kemajuan teknologi dan jejaring sosial dunia.

Seluruh dunia dengan mudah mengetahui kebaikan dan kejahatan yang terjadi di seluruh titik di permukaan bumi. Kampanye hitam sangat dibenci dunia, karena merupakan pembunuhan karakter yang luar biasa, dan luka yang ditimbulkannya akan membekas dari generasi ke generasi.

Ingat, dunia sangat membenci kejahatan dan gemar mencari jalan menuju kebaikan. Dunia internasional, termasuk media-media asing, mencermati secara serius bagaimana perkembangan politik Indonesia. Mereka membutuhkan informasi perubahan, kehidupan yang lebih baik, dan cara menuju ke sana.

Yang terbaik memberikan solusi di mata rakyat akan menang. Mereka yang menjanjikan kebaikan, melaksanakan kebaikan yang lebih banyak di mata rakyat akan disenangi dan dipilih. Tindakan-tindakan mereka menginspirasi orang lain berbuat lebih baik, bukan menambah ketakutan atau kekhawatiran.

"Terbaik", bukan hanya definisi baik untuk sekelompok orang, tetapi terbaik bagi Indonesia, terbaik di mata dunia. Proses menghasilkan tindakan yang terbaik, memberikan pembelajaran bagi semua.

Kita sedang menjalani proses demokrasi di negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Masuk akal, jika pengamat dari dalam negeri dan seluruh dunia sangat tertarik mengamati proses ini.

Oleh sebab itu tunjukkanlah yang terbaik, proses yang menjadi pembelajaran tidak hanya menarik bagi rakyat di negeri ini, tetapi juga masyarakat dunia.

Kita berdoa dan terus belajar, bekerja, berharap, presiden RI mendatang mampu membawa kita ke arah yang lebih baik.

Mari bersyukur karena kita mengalami proses demokrasi yang masih dalam batas-batas yang wajar, jauh dari ketakutan dan kekhawatian, bahkan tidak sempat mengalami gangguan adu fisik yang berarti.

Kita baru belajar demokrasi, dan mari merasakan indahnya demokrasi dan memperbaiki prosesnya hari demi hari!


Medan, 26 Juni 2014 

Jumat, 20 Juni 2014

Lebih Senang Menonton Piala Dunia, Ketimbang Kampanye Pilpres

Oleh: Jannerson Girsang

Sejak putaran Piala Dunia dimulai, perhatian saya kepada kampanye Pilpres Jokowi dan Prabowo drastis menurun. Lebih tertarik menyaksikan kompetisi Piala Dunia yang menampilkan keteladanan bersaing yang lebih berkualitas dari kampanye Pilpres.

Kompetisi yang berkualitas adalah jujur, mencerahkan dan menghibur. Manusia pada umumnya, termasuk saya adalah pencinta kompetisi yang berkualitas.

Saya tidak menyukai orang memanfaatkan isu SARA untuk menggapai kekuasaan, tidak menyukai pelecehan karena status sosial manusia.

Dalam pertandingan sepakbola di Piala Dunia, para penonton, oficial, wasit dan pemain tidak diperkenankan mengucap, melakukan hal-hal yang berbau SARA.

Jika ada yang melakukannya, langsung diganjar hukuman. Siapapun tidak boleh mengatakan kamu Negro, agamamu Islam, Kristen, Budha hanya agar seseorang lebih memiliki hak berkuasa.
Di sana tidak ada yang berani melecehkan Negara Pantai Gading yang miskin, atau memuji-muji negeri Jerman atau Amerika Serikat yang kaya.

Setelah mereka masuk Piala Dunia di Brazil, semua memiliki hak yang sama. Tidak ada lagi protes bahwa mereka tidak layak ikut pertandingan 24 besar Piala Dunia.

Mereka dikawal dengan aturan FIFA yang sangat menghormati martabat manusia.
Tontonan kampanye Pilpres, sungguh berbeda. Meskipun KPU sudah menetapkan Jokowi dan Prabowo lolos menjadi Finalis Pemilihan Presiden RI, rakyat masih banyak mempersoalkan kelayakan calon Presiden RI.

Semua bisa bicara seenak udelnya. Mulai dari tukang becak, hingga ke Capresnya sendiri. Dua-duanya mempertontonkan hal yang tidak enak ditonton. Saling mengejek, saling merendahkan.

Rakyat penyebar fitnah juga kebal hukum. Sudah menyebar kampanye hitam dengan menyebar buletin Obor Rakyat, menghina sesama Capres, tidak ada yang berani menghukum.

Wasit Pilpres penakut, tidak berani menindak para pelanggar aturan yang dibuatnya sendiri.

Apa akibatnya?. Menyaksikan Piala Dunia lebih menarik dari menonton kampanye Pilpres.  

Saya sekarang lebih menyukai menonton Piala Dunia dari Kampanye Pilpres. Saya terhibur dengan gaya permainan pemain sepakbola dari berbagai negara. Saya menyaksikan pemberian penghargaan dan hukuman. Penegakan hukum yang adil dan tepat waktu.

Di sana kutemukan keteladanan kejujuran, bertanding dengan aturan dan penegakan aturan yang ketat. Kita memahami kesalahan dan hukuman yang diberikan.

Jangan salahkan saya lebih senang menonton Piala Dunia, ketimbang kampanye Pilpres.

Saya berharap, kedua Capres memperbaiki kualitas kampanye, wasit kampanye lebih berani menegakkan hukum kampanye, agar saya tertarik lagi mengikutinya.

Jadikan Pilpres sebagai "Demokrasi yang Menggembirakan"

Medan, musim Piala Dunia dan Menuju Pilpres. 20 Juni 2014.

Selasa, 17 Juni 2014

"You Are not Here Anymore, but the Flowers Still Bloom"


Oleh: Jannerson Girsang

Tiap tahun, sejak kematian adik saya Parker-usia 49 (empat tahun lalu) dan istrinya--usia 43 (delapan tahun yang lalu), saya secara rutin setiap tahun menulis refleksi penyertaan Tuhan sesudah peristiwa tragis yang menimpa ketiga putri yang mereka tinggalkan.

Sebuah cara berkomunikasi dengan ketiga bunga yang mereka tinggalkan supaya tetap mekar, merajut kembali luka parah yang mereka alami. Luka itu semakin hari terajut kembali menuju kesembuhan, menghasilkan perenungan-perenungan baru tentang kehidupan.

Awalnya, peristiwa duka itu menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga, khususnya ketiga putrinya yang masih berusia belasan tahun dan memerlukan kasih sayang orang tua.

Banyak perkara yang tak dapat dimengerti, kecuali bertanya pada Dia yang paling mengetahui misteri hidup. Kepahitan, kekhawatiran itu, ternyata ada dalam rencanaNya. Allah mengerti, Allah peduli, segala peristiwa yang menimpa kita.

Kami semua menyadari kemudian, bahwa janji Tuhan sama seperti Fajar di Pagi Hari. Pasti dan dapat dirasakan!.


Tuhan itu ada, bekerja dan memelihara kita.  "Luar biasa penyertaan Tuhan sama kita ya," ujar Yani Christin, anak tertua adikku dalam pesan yang ditulisnya di inbox tahun ini.


Inilah renunganku tahun ini!


Malam ini di Medan aku teringat peristiwa empat tahun lalu, 17 Juni 2010. Saya teringat tiga putri-putri almarhum adikku di tempat yang jauh.

Terngiang bunyi telepon maut yang memberitahukan almarhum adikku Parker Girsang berpulang di Rumah Sakit Cikini, Jakarta, dalam usia 49 tahun, karena kanker nasopharing. Menyusul istrinya yang meninggal empat tahun sebelumnya.

Terkenang, malam yang sangat panjang menunggu pesawat berangkat dari Medan ke Jakarta, esok harinya.

Terngiang duka cita, dan kekhawatiran membayangkan ketiga putri yang masih remaja dan anak-anak harus kehilangan ibu dan ayahnya, hanya berselang 4 tahun.

Terkenang, ketiga putri kami berdiri di samping jenazah, meratapi kepergian tumpuan harapan mereka: Papanya pergi, menyusul mamanya!

"Gelap gulita!," demikian pernah diucapkan Christin beberapa waktu sesudah peristiwa itu. Hanya empat tahun berselang, dua kali subuh mereka menyaksikan ambulance parkir di depan rumahnya mengantarkan  jenazah kedua orang tua yang sangat mereka kasihi.


Saat-saat begini saya sedih, sekaligus bangga dengan Tuhan yang bekerja untuk ketiga putri kami yang mereka tinggalkan.

Tadi sore, Christin (putri tertua Parker) mengingatkanku. "Bapatua, hari ini persis 1462 hari (4 tahun) papa meninggal," katanya.

Tak terasa memang, karena ketiga putri kami yang ditinggalkan almarhum, senantiasa berserah kepada Tuhan dan tetap semangat mengejar cita-citanya, bahkan menjadi inspirasi bagiku.

Malam ini, saya membuka inbox FB dari putriku yang luar biasa ini.

"Holabida bapatua tadi aku sms bapatua eh ternyata pulsa ku habis, aku fikir message fb aja deh hehe.

Happy Father's Day bptua. dan hari ini juga ternyata tepat 1462 hari alias 4thn peringatan meninggal papa. tapi hari ini dan 4 thn lalu ceritanya sudah beda ya.

Setahun lalu tepat 3thn tepat aku sidang dan dinyatakan lulus, tahun ini tepat 4 tahun ceritaku sudah beda, sudah kembali masuk babak perkuliahan yg baru.

Luar biasa penyertaan Tuhan sama kita ya. Bapaktua sehat2 terus ya sm inangtua yg penting happy2 aja hehe.

Di kantorku hari ini papanya ada yg meninggal juga karena kecelakaan, dan kebetulan temanku ini mau nikah. dalam hati aku bersyukur, Terimakasih Tuhan kau telah memberikan yg terbaik untuk saya,

Walaupun dulu begitu kecil tapi aku gak kebayang rasanya kalau seandainya aku diposisi temanku itu. ada rasa syukur dan sukacita ya ditengah dukacita. Smangat terus!"

Empat tahun sudah berlalu. Kedua adikku (suami istri) telah meninggalkan kami, tetapi bunga yang mereka tinggalkan Yani Christin Girsang, Hilda Valeria Girsang, Trisha Melanie Girsang, kini tumbuh dan mekar.

Terbayang makam kedua adikku di Pemakaman Perwira Bekasi. "You are not here anymore, but the flowers still bloom".

Kedua adikku (suami istri) memang sudah pergi, tetapi bunga yang mereka tinggalkan tetap semangat, bertumbuh dan menapak masa depan yang semakin gemilang.

Empat tahun lalu, keluarga sangat mengkhawatirkan masa depan ketiganya.

Christin yang tertua saat itu baru berusia 19 tahun dan masih memulai kuliah tahun pertamanya, kini sudah bekerja di siang hari, dan malam hari melanjutkan S1nya di UI, Depok-Jakarta, Hilda (Ai) yang baru memasuki SMA, kini sudah kuliah semester IV di Universitas Brawijaya, Malang, dan Trisha Melani (Icha), baru memasuki SMP, kini kelas I di SMA Negeri I Bekasi. .

Kini semua sadar, kesedihan selalu dinanti suka cita. Penderitaan selalu memunculkan pemahaman baru tentang campur tangan Tuhan dalam kehidupan. Jangan takut menghadapi tantangan seberat apapun.

Tuhan tidak pernah mengijinkan seseorang menanggung beban yang tak mampu dipikulnya. Percaya saja. Dia memiliki cara menyelesaikan masalah kita dengan caraNya sendiri.

Ketiganya memaknai peristiwa menyedihkan  itu sebagai sebuah rencana yang indah.  "Aku baru buka fb bp tua, semoga bunga2 mama dan papa selalu mekar disaat yg tepat. Tetap semangt buat kita semua. Fight! God bless us.." ujar Hilda Valeria Girsang, putri Parker kedua.

"Setelah aku baca ulang semua kira-kira bagaimana ya bapatua Jannerson Girsang kisah 366 hari yang akan datang lagi.. hehehe," tanya Christin mengomentari artikel ini.

"Do the best, let God take the rest!. Lakukan yang terbaik, biarlah Tuhan menyempurnakannya".

Semangat terus putri-putriku. "To live is to suffer, to survive is to find some meaning in the suffering". (Friedrich Nietzsche)

Terima kasih Tuhan, engkau Maha Kuasa dan mampu menggunakan tangan-tangan umatMu memelihara putri-putri kami, menyentuh hati banyak orang bersimpati, bahkan menjadikan mereka inspirasi.

Terima kasih untuk bou Masda, Ompung Nagasaribu, Ompung boru br Sitompul, serta seluruh keluarga, tak lupa buat tante-tantenya Christin (keluarga mamanya), serta seluruh keluarga lainnya yang bersimpati.

"Let us not be satisfied with just giving money. Money is not enough, money can be got, but they need your hearts to love them. So, spread your love everywhere you go"

Salam hangat buat kalian bertiga: Yani Christin, Hilda Valeria, Trisha Melani.



Hilda Valeria Girsang (kiri), Yani Christin Girsang (tengah), Trisha Melani Girsang (kanan), saat Christin diwisuda D3, dari Diploma Sekretaris UI, Agustus 2013Hilda Valeria Girsang (kiri), Yani Christin Girsang (tengah), Trisha Melani Girsang (kanan), saat Christin diwisuda D3, dari Diploma Sekretaris UI, Agustus 2013

Selasa, 10 Juni 2014

Redaktur Media Massa

Saya berterima kasih atas kerja keras temanku Slamat P Sinambela yang sudah menyusun daftar redaktur di berbagai media di Indonesia. Alamat ini bisa Anda gunakan untuk mengirimkan buah pikiran Anda. Sebarlah kebaikan agar kita semua berbahagia. Sumber:  http://lapotta.wordpress.com/redaktur-media-massa/

THE JAKARTA POST
opinion@thejakartapost.com
jktpost2@cbn.net.id
editorial@thejakartapost.com
sundaypos@thejakartapost.com
features@thejakartapost.com
THE JAKARTA GLOBE
newsdesk@thejakartaglobe.com
ben.otto@thejakartaglobe.com
thomas.hogue@thejakartaglobe.com
TEMPO ENGLISH
agustina@mail.tempo.co.id
yismartono@tempo.co.id
tempo_english@yahoo.com
JAWA POS
editor@jawapos.com
cerpen, ruang putih, puisi: dos@jawapos.co.id
resensi buku: ttg@jawapos.co.id
KOMPAS
kompas@kompas.com
opini@kompas.com
opini@kompas.co.id
kcm@kompas.com
KONTAN
red@kontan.co.id
MEDIA INDONESIA
redaksi@mediaindonesia.co.id
webmaster@mediaindonesia.co.id
redaksimedia@yahoo.com, opinimi@yahoo.com
khusus cerpen: 9000 karakter cerpenmi@mediaindonesia.com, cerpenmi@yahoo.co.id
miweekend@mediaindonesia.com
resensi buku red. sica harum: ica@mediaindonesia.com
SEPUTAR INDONESIA
widabdg@seputar-indonesia.com
redaksi@seputar-indonesia.com, khusus resensi buku: donatus@seputar-indonesia.com
JURNAL NASIONAL
redaksi@jurnalnasional.com
SUARA PEMBARUAN
koransp@suarapembaruan.com
opini@suarapembaruan.com
SINAR HARAPAN
redaksi@sinarharapan.co.id
KORAN JAKARTA
redaksi@koran-jakarta.com
REPUBLIKA
rekor@republika.co.id
medika@republika.co.id
sekretariat@republika.co.id
HARIAN IBU
redaktur@harianibu.com
MERDEKA
merdekanews@yahoo.com
HARIAN INDONESIA
redaksi@harian-indonesia.com
RAKYAT MERDEKA
redaksi@rakyatmerdeka.co.id
HARIAN JAKARTA
aristo@harianjakarta.com
RADAR BANDUNG
radarbandung@gmail.com
KORAN SUNDA
koran_sunda@yahoo.co.id
PIKIRAN RAKYAT
redaksi@pikiran-rakyat.com, opini@pikiran-rakyat.com
TRIBUN JABAR
tribunjabar@persda.co.id
tribunjabar@yahoo.com
SUARA KARYA
redaksi@suarakarya-online.com, radaksisk@yahoo.com
SUARA MERDEKA
wacana_nasional@suaramerdeka.info maksimal 7.500CWS, wacana_lokal@suaramerdeka.info maksimal 5.000CWS
KEDAULATAN RAKYAT
naskahkr@gmail.com (maks 4 ribu karakter)
HARIAN JOGLOSEMAR
redaksi@harianjoglosemar.com
SOLO POS
redaksi@solopos.co.id atau redaksi@solopos.com
BERNAS
editor@bernas.co.id
RADAR SURABAYA
radarsurabaya@yahoo.com
RIAU POS
redaksi@riaupos.co.id
BANGKA POS
bangkapos@yahoo.com
BATAM POS
redaksi@batampos.co.id
SRIWIJAYA POST
sriwijayapost@yahoo.com
RIAU TRIBUNE
riautribune@yahoo.com
SERAMBI
serambi@indomedia.com
ANALISA (Medan)
online@analisadaily.com,
khusus untuk rubrik sastra di Harian Analisa emailnya: rajabatak@yahoo.com (redakturnya Bpk. Idris Pasaribu)
MEDAN BISNIS
redaksi@medanbisnisdaily.com
LAMPUNG POST
redaksi@lampungpost.com, redaksilampost@yahoo.com
BALI POST
balipost@indo.net.id
BISNIS BALI
info@bisnisbali.com
DENPASAR POS
denpostbali@yahoo.com
RADAR BANJARMASIN
redaksi@radarbanjarmasin.com
BANJARMASIN POST
banjarmasin_post@yahoo.com, redaksi@banjarmasinpost.co.id
SURYA
surya1@padinet.com
SURABAYA NEWS
surabaya_news@yahoo.com
SURABAYA POST
redaksi@surabayapost.info
DUTA MASYARAKAT
dumas@sby.centrin.net.id
Tabloid Gaul
Jln. Kedoya Duri raya No.36 Kebon Jeruk Jakarta 11520
Majalah Story (Majalah Khusus cerpen)
E-mail : story_magazine@yahoo.com
Majalah Teens
Jln. Guru Mughni No.2 Karet Kuningan
Jakarta Selatan 12940
Majalah Kartika (Majalah Wanita Dewasa)
Jln. Garuda 82-C
Kemayoran Jakarta 10620
e-mail : majalahkartika@yahoo.com
Majalah Says! ( Majalah Khusus cerpen)
Jln. Alaydrus 45 Jakarta
e-mail ; redaksi@majalahsay.com
Majalah Gadis
Jln. HR. Rasuna said Kavling B 32-33
Jakarta 12910
e-mail: Redaksi.GADIS@feminagroup.com
Majalah Chic
e-mail : Chic@gramedia-majalah.com
chicstory@gramedia-majalah.com
Majalah kawanku
e-mail : fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com
cerpenkawanku@gmail.com
Tabloid Nova
NOVA@GRAMEDIA-MAJALAH.COM
Majalah Sekar
e-mail ; Sekar@gramedia-majalah.com
Majalah Hai (Majalah cowok/cerpennya yg cowok banget!)
e-mail : Hai-magazine@gramedia-majalah.com
Majalah Girls (pre teens, anak 12-15 tahunan)
Girls@gramedia-majalah.com
Majalah Horison (majalah sastra)
e-mail : horisonpuisi@gmail.com, horisoncerpen@gmail.com
Majalah Go Girl
Jln. Kebayoran Lama Raya No 236
Jakarta Barat
Majalah Aneka
aneka@indosat.net.id

Kamis, 05 Juni 2014

Pengalaman Wirid dan Kebaktian Rumah-rumah

Oleh: Jannerson Girsang

Memelihara keharmonisan bertetangga dengan umat berbeda agama hanya perlu hati yang tulus mencintai sesama, pelajari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan atau dibicarakan di depan mereka.


Pengalaman ini mungkin bisa bermanfaat untuk menjaga kerukunan yang dimulai dari tetangga. 

Saya hidup bertetangga dengan umat Muslim, di depan, di samping kiri kanan, dan beberapa rumah sekeliling rumah saya. Umat Muslim melaksanakan wirid dan GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun, Sektor) melaksanakan kebaktian rumah-rumah setiap Kamis malam.

Suatu hari saya mendapat giliran partonggoan (kebaktian rumah-rumah) dan tetangga sebelah kiri rumah saya Pak Halim, mendapat giliran wiridan, Kamis malam, dan menggunakan pengeras suara.

Acaranya sama-sama dimulai pukul 20.00. Rumah kami hanya berbatas dinding, jadi kalau ada acara di rumahnya terdengar ke rumah saya, demikian sebaliknya.

Kalau dipikirkan itu rumit. Tapi, kalau dilaksanakan dengan hati yang tulus, semua bisa berlangsung dengan baik dan damai.

Sebenarnya, beberapa jam sebelum acara dimulai, saya sudah memiliki niat membicarakan pelaksanaan teknis acara kebaktian di rumah kami dengan Pak Halim.

Tanpa saya duga, beliau lebih dulu datang ke rumah saya. Itulah kalau batin sudah bicara.

"Pak Girsang, nanti di rumah saya ada wirid, padahal di rumah Bapak juga ada kebaktian, gimana caranya ya?" kata Pak Halim.

Beliau sangat sadar akan mengganggu kebaktian di rumah kami karena mereka menggunakan pengeras suara. Lalu, kami mendapat penyelesaian yang bijak.

"Kami akan mulai lebih cepat, dan sebelum khotbah dari bapak pendeta selesai, Bapak jangan mulai dulu ya Pak Halim," demikian saya usulkan.

Pak Halim setuju. Acara wirid dan partonggoan (kebaktian di rumah) berjalan, tanpa halangan. Pak Kiai, yang rajin menyapa saya setiap berpapasan saat berangkat wirid, memahami situasi itu, demikian juga jamaah yang mengikuti wirid malam itu.

Pak Halim, adalah seorang wartawan senior di sebuah harian terkemuka di Medan. Saya sudah bertetangga dengan beliau sejak 1996, dan kami hidup dalam saling pengertian dan menghormati sesama.

Pak Halim adalah keluarga yang taat beragama, bahkan sudah menunaikan ibadah Haji bersama istrinya yang sangat peduli dan ramah tamah.

Sebelum beliau naik Haji beberapa tahun yang lalu, Pak Halim datang ke rumah saya. 

"Pak Girsang, saya mau naik Haji. Mohon kalau ada kesalahan saya dimaafkan Pak", katanya tulus.

Pak Halim tidak pernah bersalah kepada saya. Beliau adalah tetangga yang baik. Saya mendoakan beliau supaya selamat pulang dari Haji.

Sekembalinya dari Haji, saya menikmati oleh-oleh buah kurma, dan kisah-kisah beliau selama naik haji. Menambah pengetahuan saya tentang makna menunaikan ibadah haji bagi umat Muslim.

Bertetangga dengan umat berbeda agama tak usah dirumit-rumitkan. Kita hanya perlu hati yang tulus mencintai sesama. Pelajarilah kehidupan tetangga Anda. Pahami ajaran mereka, sehingga Anda akan memahami apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan, bicarakan di depan mereka!.

"Kita berbeda karena Tuhan ingin kita berbeda. Tugas kita adalah hidup berdampingan dan rukun," demikian nasihat yang pernah saya terima dari Syekh Ali Akbar Marbun--Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qautsar Al-Akbar, di ruangannya, di Jalan Pelajar Medan, ketika saya mewawancarai beliau untuk penulisan sebuah buku pada 2007. 

Mengapa kita membuat rumit? Sederhanakanlah kehidupan ini.


Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua!.

Medan, 5 Juni 2014

Rabu, 04 Juni 2014

Suarakanlah Suara Anda, Tanpa Menyakiti dan Melecehkan

Oleh: Jannerson Girsang

FB (Facebook)ku adalah ruangan tempatku beristirahat, berbincang, belajar, bukan ngerumpi.

Semua orang bisa baca, semua orang bisa berpendapat untuk konsumsi setiap orang (bukan berlaku untuk sekelompok orang saja, bebas SARA), semua orang bisa menikmatinya sebagai hiburan dan pencerahan.

(Kalau ada yang tidak layak di dengar publik, silakan masuk di inbox)

"Suarakanlah suara Anda sehingga orang lain juga terinspirasi untuk mengeluarkan suaranya, tanpa merasa dihakimi, disakiti apalagi dihina".

Sekarang dalam masa kampanye Pilpres. Silakan pilih Capres yang Anda sukai menurut nurani Anda.

Pendukung kedua Capres bisa masuk di sini, tetapi dengan prinsip: semua pilihan itu emas. Dua-duanya calon itu bagus, karena sudah lolos di KPU, lembaga yang dibentuk dari aspirasi rakyat di masa reformasi dan harus dihormati.

Tetapi kita punya pilihan masing-masing yang sesuai dengan pandangan kita, yang kadang sulit dimengerti pemilih calon lain. Itu sah dan kita berhak. Itulah demokrasi.

Bayangkan, kalau semua sudah pilih Jokowi atau semua pilih Prabowo, maka tidak perlu Pilpres.

Silakan berdiskusi tanpa melecehkan pilihan orang lain. Kita sedang memasuki ujian kedewasaan memilih seseorang pemimpin yang lahir dari kebutuhan kita, tanpa pengaruh orang lain. .

Susah ya. Memang susah untuk menabur kebaikan.

"BERMAINLAH dalam permainan, tetapi jangan main-main. Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi.” (N Driyarkara, Kompas 3 Juni 2014)



Medan, 3 Juni 2014

Jokowi atau Prabowo yang Menang, Nanti Kita Tetap Kawan Ya!H!

Oleh : Jannerson  Girsang

"Sekarang ini, kalau kita bertemu dengan orang yang berbeda pilihan, langsung cemberut mukanya, seolah tidak berteman," kata teman saya, seorang redaktur sebuah media terkenal di Sumatera Utara. '

Mendukung Jokowi atau Prabowo jadi Presiden, saya teringat ketika menonton sepakbola PSMS melawan Persib Bandung perebutan Juara PSSI 1982-1983

Berbagai kata-kata bersemangat bahkan kadang menyinggung pendukung yang lain berseliweran di Stadion berkapasitas 100 ribu lebih penonton itu. Tetapi tidak sampai ada sebuah perkelahian fisikpun.

Usai pertandingan, semua pendukung keluar melalui gerbang yang sama. Masing-masing pendukung mengakui kekalahan bagi yang kalah, dan memuji kehebatan kesebelasan yang menang.

Mereka sadar, bahwa itu adalah sebuah pertandingan yang fair. Siapa yang menang, dialah yang unggul. Jurinya (KPU, Bawaslu) jujur, Kita percaya keputusan mereka.

Selesai pertandingan, yang ada hanya berita kemenangan dan kekalahan, tidak ada berita permusuhan, kita pendukung PSMS, tetap berteman dengan pendukung Persib Bandung.

Semangat pendukung Jokowi dan Prabowo, hendaknya meniru semangat pendukung Persib dan PSMS.

Berbeda pandangan, berbeda dukungan tidak pula harus membuat orang bermusuhan. Pakaian aja ada berwarna merah, hijau, biru. Ada yang suka merah, tidak pula boleh penggemar biru bermusuhan dengan penggemar hijau.

JOKOWI atau PRABOWO yang menang kita berkawan yah!.

Biarkan aku memilih JOKOWI. Aku akan mendukungnya dengan doa dan sedikit usaha kampanye pribadi, sampai dia duduk menggantikan SBY. 


Medan, 3 Juni 2014

Deklarasi Damai Capres Cawapres

Oleh: Jannerson Girsang

Bangsa religius dan mencitai damai. Itulah hakekat menjadi bangsa Indonesia. Setiap memulai sesuatu, bangsa Indonesia selalu melakukan doa bersama yang memohon kedamaian.

Sayangnya, berdoa tiap saat, tetapi masih juga suka melancarkan "kampanye gelap", fitnah, sesudah berdoa, inti doanya, "damai" dilupakan!

Fakta sebelum Deklarasi, di hati masing-masing Capres/Cawapres tersimpan tekad hanya supaya "menang", tidak perduli menempuh cara yang halal atau tidak halal . Tidak heran kalau pikiran, ucapan dan tindakannyapun tidak jauh dari sana.

Sampai-sampai Presiden SBY memperingatkan agar kampanye Pilpres jangan menjadi lautan fitnah. "Selamatkan negara dari Lautan Fitnah". Sebuah ironi di tengah bangsa yang religius dan cinta damai.

Tidak salah orang memiliki motivasi untuk menang, tetapi harus tetap menjaga proses berlangsungnya kampanye yang jujur dan menciptakan suasana damai, supaya hasilnya baik untuk semua.

Garbage in, garbage out. Kalau doa merasuk dalam hati keluarnya adalah damai, Kalau motivasi harus "menang" dan yang masuk niat  "hanya saya yang berhak", dan tercemar dengan kebencian, permusuhan, keluarnya adalah fitnah, kampanye gelap.


Harapan kita Deklarasi Damai tadi malam bisa mengisi hati para Capres/Cawapres dengan damai, sehingga kampanye Pilpres sesudah Deklarasi adalah benar-benar merupakan persaingan atau perebutan kursi nomor 1 di Republik ini, bukan sebuah "perang". .

Para Capres/Cawapres hendaknya memberikan keteladanan berfikir, berbicara, bertindak dan mengambil keputusan seperti karakter yang diharapkan dalam doa-doa dalam deklarasi itu, dimana muara seluruhnya adalah damai.

Rakyat seluruhnya berharap, di hati para Capres/Cawapres adalah damai,  pikiran, ucapan, dan keputusan-keputusannyapun  membawa pencerahan, hiburan dan  susana damai.

Semoga Deklarasi tadi malam mengubah mindset para petarung dalam Pilpres. Semua Capres/Cawapres, para tim sukses dan relawan mengisi hatinya dengan tekad damai, sehingga kita yang mengikutinya tertular dengan kedamaian.

Jokowi dan Prabowo harus membuktikan bahwa mereka adalah pemimpin yang religius dan membawa damai, menginstruksikan dan mengawasi seluruh pendukungnya menjadi teladan dan cerminanan bosnya: Jokowi atau Prabowo.

Suasana kampanye akan diwarnai dua Capres. Karakter mereka akan menentukan. Kalau mereka berdua benar-benar religius dan cinta damai, maka damailah kampanye, damailah kita lima tahun ke depan. 

Tujuan pelaksanaan Pilpres benar-benar memilih pemimpin yang  kelak mampu membawa kedamaian dan kemakmuran bagi bangsa ini.

Semoga!

Medan, 4 Juni 2014

Minggu, 01 Juni 2014

Nomort Urut Prabowo-Hatta No 1 Dan Jokowi-JK No 2



Oleh: Jannerson Girsang, PENDUKUNG JOKOWI

Hari ini Nomor Urut Capres RI di Pilpres sudah ditetapkan. Dua-duanya akan berlaga meraih simpati dari 185 juta lebih pemilih di seluruh Indonesia.

Di depan anggota KPU dan pengunjung, Prabowo menarik tabung yang berisi nomor 1 dan Jokowi mendapat angka 2. JOKOWI langsung mengagkat tangan kirinya dengan kode "VICTORY" (kemenangan), disambut sorak sorai kedua kubu.

Anak-anak remaja GKPS yang ikut Lomba Pidato bertema KESETIAKAWANAN tadi pagi menasehatkan kami agar kita semua menabur "KEBAIKAN", supaya bangsa ini semua bahagia.

Kita memasuki babak baru. Kampanye. Kampanye adalah menyampaikan pesan kepada pemilih tentang "harapan" yang akan diwujudkan supaya pemilih mau memilih. Bukan menang dengan menginjak lawan, atau saling mencerca, apalagi menjelekkan.

Tidak ada seorangpun di Indonesia berhak mengatakan salah satu dari keduanya tidak layak jadi presiden.

Jangan ada lagi kontroversi soal boneka, soal penculikan, soal agama Jokowi, soal agama Prabowo (ibunya Kristen Protestan--tapi tak pernah dipersoalkan dan memang tak perlu dipersoalkan di negeri Pancasila ini), soal macam-macam.

Boleh kritik Capres dengan referensi yang jelas, bukan mematikan atau mengunci seseorang seolah tidak pantas jadi calon Presiden.

Menurut pendapat saya, orang yang masih mau melakukan tindakan jegal menjegal sungguh kurang berpendidikan, dan kalau menang akan sombong. Sebaliknya, kalau kalah akan "berontak" dan macam-macam. Tidak sungguh-sungguh melayani rakyat, hanya mengejar kekuasaan.

Dua-duanya calon layak menjadi Presiden.

Kalau itu dipersoalkan, maka orang yang mempersoalkannya tidak mengerti hukum, atau tidak ada lagi bahan untuk dibincangkan. Karena tidak ada gunanya, kalau tujuannya hanya supaya calon itu tidak maju di Pilpres.

Bayangkan, kalau dua-duanya tidak layak jadi Presiden, kita mau pilih siapa, apa yang akan kita lakukan 9 Juli mendatang?. Soal kualitas, ini adalah kesalahan kita semua. Itulah pilihan kita.

Bersainglah dengan fair, tak usah saling menjegal, karena itu akan sia-sia. PRABOWO dan JOKOWI punya keunggulan masing-masing. Yang perlu dipertanyakan, apa program mereka ke depan, cocokkah dengan kebutuhan kita? Rasionalkan "janji" itu. Itu sajalah issu kita ke depan.

Jadilah bangsa yang besar, berkompetisilah dengan fair! Rakyat sudah punya pilihan masing-masing sesuai dengan hati nurani mereka.

Sayapun sudah punya calon dan tidak akan goyah pada pilihan saya, apapun dikatakan orang tentang calon saya. Saya adalah pemilih fanatik, jadi tidak ada gunanya mempengaruhi saya.

Masih ada sekitar 40 persen pemilih yang belum menentukan pilihan mereka. Itulah sasaran kampanye kedua Capres itu.

"Kami akan hormati keputusan rakyat Indonesia," ujar Prabowo. Pendukung Prabowo yakin dengan memperoleh No 1, maka pasangan Prabowo-Hatta akan menduduki orang No 1 di negeri ini.

"No 2 adalah simbol keseimbangan. Ada tangan kanan, ada tangan kiri, ada telinga kanan dan kiri. Untuk menuju harmony, keseimbangan, pilihlah No 2," kata Jokowi dalam pidato singkatnya.

SAYA ADALAH PENDUKUNG JOKOWI. Tidak perlu malu-malu. Saya tidak perlu dibayar dan tidak ada beban untuk mendukung JOKOWI. Saya akan mendukung PRABOWO, bila rakyat memang menghendakinya memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Medan, Hari Kesaktian Pancasila, 1 Juni 2014

Senin, 26 Mei 2014

Jokowi adalah Kita

Oleh: Jannerson Girsang

Menjelang Pilgub DKI 2012 lalu, dukungan ke saingan Jokowi--ketika itu Foke, petahana gubernur, begitu besar. Didukung banyak partai, elit-elit di ibu kota Indonesia itu, dan termasuk pendanaan tentu saja. 

Belum lagi black campaign (kampanye hitam) yang diarahkan kepada Jokowi. Kadang mengundang "ketakutan". Seram akh!. 


Tapi, black campaign tak begitu berpengaruh. Ini perlu menjadi pelajaran. Rakyat sudah pintar!

Memang banyak orang yang panik, dengan naiknya Jokowi.   Pertarungan ibarat "kancil" dan "gajah". Tapi kancilnya ternyata sangat kuat dan cerdas. Hingga gajahnya sulit bergerak, akhirnya mengaku kalah.

Hingga hasilnya mengejutkan. Jokowi menang telak. Semua pada kaget!. Orang "miskin" harta, penampilan kayak orang kampung, "kurus", tidak punya pengalaman di Jakarta, belum mengenal Jakarta, kok bisa menang? 

Karakter, sekali lagi karakternya baik!. Bangsa ini butuh pemimpin yang berkarakter, bukan yang banyak duit, dan merasa punya "pengalaman" atau pencitraan bohong-bohongan.

Ketika menjadi Gubernur DKI, Jokowi mendapat serangan luar biasa, tetapi Jokowi mampu menangkis semuanya dengan kerendahan hati, kelembutan. Pemda DKI bekerja di seluruh lini. Semua berjalan baik.

Preman ditutup mulutnya dengan kelembutan, pedagang kecil dibujuk pindah ke tempat yang lebih baik.

Yang sering tidak muncul ke permukaan, karena dianggap bukan kelebihan adalah kemampuan Jokowi menggerakkan orang lain secara sukarela (tanpa dibayar, tanpa dipaksa, bukan seperti kebanyakan tokoh saat ini), karena sadar gerakannya akan membawa mereka ke arah yang lebih baik. Kemampuan yang sudah jarang dimiliki pemimpin negeri ini.

Jokowi mampu menggerakkan semua elemen masyarakat untuk bekerja. Rakyat, polisi, tentara, satpol PP semua bekerja sama. Menteri-menteri bahkan Presiden seolah berada dalam "arus" pikiran Jokowi.

Untuk mengusir preman dia mengatakan: "Kita punya ribuan polisi, tentara, satpol PP, masak negara kalah dengan preman?". Polisi, tentara, satpol PP secara sukarela bergerak. Kata "blusukan" menjadi populer di tangan Jokowi.

Pemikiran-pemikiran sederhana yang belum pernah muncul dari tokoh manapun. Jokowi adalah tokoh pembaharu.

Jokowi dicintai rakyat dan dinilai hebat oleh media nasional dan asing. Dalam waktu singkat Majalah bergengsi dunia, Fortune memilihnya menduduki ranking 37, Pemimpin Terhebat di Dunia (The Greatest World Leader's), bahkan mengalahkan Obama, presiden Amerika Serikat.

Tak ada tokoh sehebat dia saat ini di Indonesia. Coba cek di Fortune, The New York Times, The Economist, media-media terbesar dunia!

Kerendahan hati, ketulusan bekerja, tidak melawan kekerasan dengan kekerasan, itulah senjata Jokowi. Itulah pemimpin yang dirindukan masyarakat Indonesia dan dunia yang sebenarnya.

Para pendukung JOKOWI, tidak butuh apapun (uang, jabatan menteri) untuk mendukung Jokowi. Dia akan mengulangi suksesnya di Pilpres, dan yakin akan memenangkan Pilpres, sama ketika beliau memenangkan gubernur DKI.


JOKOWI ADALAH KITA.

Medan, 26 Mei 2014

Rabu, 21 Mei 2014

Merindukan Bung Karno


Oleh: Jannerson Girsang

Bung Karno, sosok yang luar biasa. Beliau meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970, saat saya masih berusia 9 tahun dan masih duduk di kelas tiga SD.

Bahkan berita meninggalnyapun saya tidak tau, karena bacaan atau sumber berita di desa saya hanya dari mulut ke mulut. Berita dari luar desa hanya melalui radio transistor. RRI Medan atau Pekanbaru.  Saya tidak pernah mengingat sesuatu saat meninggalnya Soekarno.

Saat itu saya tidak mengetahui siapa Bung Karno, kecuali cerita-cerita kakek saya. Bung Karno itu luar biasa. Ayah saya juga memuji kehebatan Bung Karno berpidato.

Tapi kisah tentang Soekarno begitu dekat, saya seolah mengenalnya dengan baik. Di masa saya sekolah SMA di Jakarta, saya mulai membaca kisah-kisahnya, mulai dari buku Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid I dan Jilid 2--sekarang tinggal jilid1, karena jilid 2nya pernah dipinjam Radiaman Purba dan tidak kembali hingga saat ini), Soekarno Penyambung Lidah Rakyat, Siapa Menabur Angin Menuai Badai, serta berbagai buku-buku lain tentang Soekarno,

Saat saya SMA (1978-1980), kebetulan teman saya satu rumah adalah beberapa mahasiswa dan aktif di GMNI. Mereka sering diskusi dan memegang buku Di bawah Bendera Revolusi. "Soeharto begitu kejam kepada Bung Karno", ujar seorang mahasiswa itu dalam diskusi mereka.

Saat itu setelah 14 tahun Soeharto berkuasa, hampir semua mahasiswa yang di rumah itu tidak suka Soeharto.  (Saya juga tidak begitu setuju, karena banyak hal baik dilakukan Soeharto)

Saya sering mendengar mereka berbicara tentang Malari, tentang NKK/BKK yang tentu saja saya belum mengerti. Mahasiswa begitu konsern tentang negerinya. Mereka secara teratur berdiskusi tentang politik, tentang kepemimpinan, tentang negara, bahkan mereka juga berdiskusi tentang Band Black Brother yang lari ke Belanda.

Tapi yang sering menarik perhatian saya adalah cerita kehebatan Bung Karno. Para mahasiswa yang sering berdiskusi di tempat kos saya di Cililitan, dekat kantor BAKN itu, berpidato meniru Bung Karno. Mereka kagum sekali dengan apa saja yang dikatakan Bung Karno dan caranya berpidato (tentu mereka lihat dari buku-buku dan rekaman-rekaman suara Bung Karno). .

Bung Karno, meski saya tidak pernah melihatnya, tidak pernah secara langsung bertatap muka, hanya membaca dan mendengar kisahnya, mampu memberi rasa kagum.

Soekarno ada di mana-mana. Mengunjungi Monas, berjalan di sekitar Sudirman Bundaran HI, dan Hotel Indonesia, Sarinah, adalah melihat Bung Karno. Itulah karya-karya fenomenal beliau.

Bahkan kekaguman saya, ketika suatu waktu ada waktu luang ketika mengikuti sebuah kursus di Jakarta, saya mengajak almarhum adik saya menyempatkan diri mengunjungi makamnya di Blitar, pada 1989. Di makam itu, saya membayangkan seorang laki-laki sejati, mencintai bangsanya lebih dari apapun.

Pulang dari makam, saya singgah ke rumahnya yang berjarak hanya beberapa kilometer dari makam, Sejenak saya duduk di bekas tempat tidurnya.

Pulang dari sana, di Jakarta saya membeli beberapa buku tentang Bung Karno. Kisahnya dengan Ibu Inggit, Indonesia Menggugat (buku yang sering dibawa para mahasiswa di tempat kos saya semasa SMA). Bung Karno, adalah kisah yang unik dalam diriku.

32 tahun regim Soeharto membuat cerita yang negatif tentang Bung Karno, tetapi saya tidak terpengaruh. Bung Karno adalah idolaku. Bung Karno belum ada duanya di Indonesia. Dia sangat mencintai Indonesia. Seluruh masa hidupnya dicurahkan untuk Indonesia. Hari-hari hidupnya adalah berjuang memimpin, berpidato menyuarakan suara Indonesia, menulis tentang cita-citanya untuk Indonesia.

Bung Karno, seorang jenius dan mampu mendalami hati rakyatnya, melahirkan Pancasila, filosofi bangsa yang bisa mempersatukan, melindungi Indonesia dalam kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara. Laki-laki pemberani yang memutuskan memproklamasikan Indoensia 17 Agustus 1945, walau dengan resiko "nyawanya sendiri".

Malam ini saya rindu pidatonya dan untung youtube sudah menyediakan rekaman-rekaman yang bisa kudengar. Pidato yang memukau. Jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, pidatonya tentang Super Semar--Sebuah Bab yang hilang.

Jokowi dan Prabowo telah mendaftarkan diri sebagai Capres di KPU. Negeri ini kini berada di tangan kalian berdua. Siapapun yang menang, cintailah negeri ini, cintailah bangsa ini seperti cinta Bung Karno.

Jangan ada lagi money politics, jangan ada lagi saling fitnah hanya untuk menang. Bertarunglah secara jantan. Tunjukkan diri kalian sebagai seorang yang jantan seperti Bung Karno.Kurirndukan Bung Karno di diri Jokowi dan Prabowo!.

Medan 21 Mei 2014

Nya Tegen Arimbi Barapinta. Salam untuk orang-orang di Blitar ya Mbak

Selasa, 20 Mei 2014

Pemimpin yang Kita Butuhkan

Oleh: Jannerson Girsang

Negeri ini tidak perlu diperintah seorang Prof Dr, Jenderal tetapi dipimpin oleh mereka yang berhati tulus bekerja untuk rakyatnya dan mampu memberdayakan Prof Dr dan Jenderal yang brilian.

Bukan pemimpin yang pintar bersilat lidah, tapi "musang berbulu ayam" dan tidak menghargai kebenaran bahkan menyimpan orang-orang pintar di "kerangkeng".

Pemimpin seperti itulah yang menciptakan korupsi selama ini.

Pemimpin adalah orang yang mampu dan berani mengatakan korupsi itu tidak baik dan tidak benar, menghina orang lain tidak baik dan tidak benar, mengeluarkan fitnah itu tidak baik dan tidak benar

Banyak pemimpin yang mengaku pemimpin tidak tau membedakan mana yang baik dan tidak baik, mana yang benar dan tidak benar.

Satu lagi, mereka juga harus menghukum orang yang tidak benar.

Landasan berpijak bangsa ini adalah empat Pilar: Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cita-cita kita adalah menunju masyarakat adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk itu kita butuh pemimpin yang bersih dan mampu membawa bangsa ini ke arah yang benar, memberi kemakmuran bagi seluruh rakyat.

A leader is one who knows the (right) way, goes the (right) way, and shows the (right) way. (John C. Maxwell).


Medan, 20 Mei 2014

20 Mei 1908: Hari Kebangkitan Nasional

Oleh: Jannerson Girsang

"Hari Kebangkitan Nasional apa sih?,", hal ini saya pernah tanyakan kepada remaja dan pemuda di gereja.

Tak sampai separuh yang tau tahunnya, apalagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Belum lagi maknanya.

Jangan-jangan pemahaman yang sama juga menjangkiti banyak orang tua, atau para anggota legislatif sekalipun.

Padahal, Hari Kebangkitan Nasional digaungkan setiap tahun. Perayaannyapun dilaksanakan, kadang besar, kadang kecil sesuai musim.

Kalau lagi kampanye begini, perayaannya "dibesar-besarkan" dan kadang disulap menjadi hanya sekelompok golongan yang peduli merayakannya. Karena pemimpin kita tidak sungguh-sungguh mensosialisasikannya, tentu rakyatnya juga tidak peduli sejarahnya.

Kebangkitan Nasional adalah Masa Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul. Bangsa ini saat itu masih dikungkung kebodohan karena penjajahan Belanda.

Hari Kebangkitan Nasional, ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli (seorang penulis Belanda yang menulis buku: Seandainya saya orang Belanda).

Tokoh-tokoh yang mempelopori Kebangkitan Nasional, antara lain Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat (tau nggak. beliaulah yang berubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara, sejak 1922), dr. Douwes Dekker (seorang turunan Belanda) yang juga dikenal dengan nama Multatuli (makanya ada Jalan Multatuli di Medan), Dr. Tjipto Mangunkusumo, Sutomo, Ir. Soekarno,serta tokoh-tokoh yang lain. 

Sejak itu, bangsa ini mendirikan Partai Politik pertama di Indonesia (Hindia Belanda), Indische Partij (2012). Pada tahun itu juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (di Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (di Yogyakarta), Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.

Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya aku seorang Belanda"), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda.

Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena "boleh memilih", keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda. (Beda tokh dengan tokoh-tokoh kita sekarang: ditahan karena mengisap rakyat: korupsi).

Saat ini 2014, kita berharap muncul tokoh-tokoh yang memiliki semangat Kebangkitan Nasional, yang menyadarkan bangsa ini bahwa Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Pilar Kebangsaan.

Bahwa bangsa ini sedang menghadapi masalah besar: Korupsi, Kolusi dan Nepostisme dan penegakan hukum yang lemah. Hukum adalah milik orang berduit. Pembela, hanya membela yang bayar!   

Bangsa ini tertinggal jauh dari Malaysia, Singapura, bahkan beberapa negara miskin di Afrika.

Bangsa ini diliputi rasa sombong, dan tinggi hati, memiliki banyak mall, walau jalan-jalan rusak, rumah sakit mahal walau tak berkualitas. 

Pemimpinnya mudah tersinggung dan berdebat di media tentang hal-hal yang tidak perlu bagi rakyat. Suka menjelekkan sesamanya dan kurang mampu bersaing dengan sehat.

Hari Kebangkitan Nasional Tahun ini adalah suasana menjelang Pilpres. Mari bangkit, mari memilih Pemimpin yang memiliki semangat Kebangkitan Nasional. Pilihlah pemimpin yang mampu membangkitkan Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan Indonesia Makmur, dan bangsa yang Beradab!

Clara Girsang, Patricia Girsang, Devee Girsang, Bernard Patralison Girsang, Yani Christin Girsang, Hilda Valeria Girsang, Trisha Melanie Girsang

Medan 20 Mei 2014

Jumat, 16 Mei 2014

Indonesia Butuh Para Penulis Mengembangkan Pariwisata

Medan, (Analisa). Pariwisata Indonesia akan lebih maju apabila para penulis aktif mengeluarkan cerita-cerita positif tentang pariwisata dalam negeri.

Cerita tersebut tidak hanya dikemas dalam bentuk sebuah pengalaman pribadi, dapat berupa buku panduan perjalanan, buku yang bisa diadaptasi ke dalam film, biografi, dan sebagainya, ujar Jannerson Girsang, Konsultan perjalanan yang juga penulis biografi terkenal di Sumatera Utara, Selasa (13/5).

Ia menyayangkan banyak penulis di Indonesia yang lebih tertarik membahas dan menulis tentang dunia politik, dan umumnya masyarakat Indonesia lebih senang menceritakan pengalaman berwisata ke luar negeri dibandingkan dalam negeri.

Padahal, belum tentu pariwisata dalam negeri sudah kita ketahui seluruhnya, ungkapnya.

Laskar Pelangi Danau Toba

Girsang menggagas jika saja ada penulis dan buku semujarab Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata yang mengangkat Danau Toba, mungkin citra danau tersebut akan sangat positif di mata masyarakat dan penduduk dunia. “Begitu buku Laskar Pelangi diluncurkan, dan itu diadaptasi ke layar lebar, pariwisata Belitung seketika melambung. Pertanyaannya, kapan kita orang Sumut bisa luncurkan ide seperti itu?” tanyanya.

Alumni IPB yang juga staf Yayasan HKBP Nommensen ini berharap lahir penulis-penulis baru di Indonesia dan Sumut yang dapat memberikan kontribusi tinggi terhadap pariwisata, yang mampu memberikan pencitraan positif, mencerahkan, dan menjelaskan kepada wisatawan keunikan pariwisata Tanah Air. “Lewat tulisan, para wisatawan tadi dipandu, diajak, dan dipikat untuk menyaksikan langsung lokasi itu.

Apalagi orang bule, senang sekali ketika dia hendak berwisata, semuanya sudah tersedia dalam buku panduan,” jelasnya. (dyt).

(Harian Analisa, 16 Mei 2014). Terima kasih Damayanti Sinaga, Wartawan Analisa yang memiliki visi mengembangkan pariwisata Sumut.

Ikuti juga artikel-artikel perjalananku di daerah tujuan wisata Sumut:

Sarapan Pora-pora di Silalahi.

http://www.harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/sarapan-dengan-pora-pora-di-silalahi.html.

Bawomataluo: Keindahan dan Misteri.

http://harangan-sitora.blogspot.com/2013/04/bawomataluo-keindahan-dan-misteri.html

Jalan Silalahi-Tongging “Menikmati 14 Kilometer Pinggir Pantai”

http://www.harangan-sitora.blogspot.com/2012/02/alan-silalahi-tongging-menikmati-14.html

Regenerasi Hombo Batu di Nias

http://harangan-sitora.blogspot.com/2013/04/regenerasi-hombo-batu.html

Suatu Sore di Pantai Silalahi.

http://www.harangan-sitora.blogspot.com/2012/02/suatu-sore-di-pantai-silalahi.html

Melongok Museum Simalungun

http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/03/museum-simalungun.html

Melongok Pengusaha Kemenyan di Era 30-an

http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/03/melongok-pengusaha-kemenyan-era-30.html

Dua Wisatawan Asing Jatuh Cinta Daerah Wisata Indonesia

http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/02/wisatawan-asing-jatuh-cinta-daerah.html

Mengenal Lucy Chriz, Penulis Novel Amang Parsinuan. Kisah Laki-laki Batak yang Kontroversial. mengungkap budaya dan lokasi-lokasi wisata di Danau Toba

http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/mengenal-lucya-chriz-penulis-novel.html

Colek: Onlyhu Ndraha, Noverlist Chandra, Ketjel Parangdjati Zagoto. Penulis Wisata dari Nias, Lucya Chriz, penulis novel berlatar budaya Batak.