My 500 Words

Selasa, 02 September 2014

Kita Semua Salah


Oleh: Jannerson Girsang


Apa guna kau merasa orang benar
Kalau tidak tau apa yang benar

Apa guna kau merasa menang
Kalau  ada orang yang dendam

Menang jadi arang, kalah jadi abu
Dua-duanya sia-sia saja

Jangan buang waktu mencari kesalahan
Bahkan memfitnah supaya orang lain seolah salah
Hidup menderita dalam kecurigaan

Bisa menyeret orang ke pengadilan
Menambah orang yang tersangka kemudian terdakwa
Diadili namun dibela siapa yang bayar
Dihukum hakim nakal
Vonis kontroversi
Jutaan rakyat demo menekan
Menang tapi tidak nyaman, tertekan

Marilah mencari apa yang benar
Memahami kebenaran
Dan melakukan yang benar

Menabur kebaikan
Berbuah kebahagiaan

Hentikan mencari siapa yang salah
Kita semua salah
Kita semua  terdakwa

Puisi Pertama dalam Hidupku
Medan, 21 Januari  2013

"Di atas Langit Masih Ada Langit


Johannes adalah seorang rasul yang penuh kasih. Tapi sebelumnya dia adalah seorang rasul yang arogan.

Dia iri merilhat seorang yang bukan pengikut Yesus mengusir setan, pernah mengajukan permintaan kepasa Yesus, supaya mereka dapat duduk dalam kemuliaanNya kelak, satu di sebelah kiri, satu di sebelah kanan. Seolah hanya dia dan saudaranya saja yang layak di posisi itu.

Johannes juga pernah meminta izin dari Yesus agar mereka dapat menyuruh api turun dari langit sehingga dapat membinasakan orang-orang Samaria.

Dalam kehidupan sehari-hari, beberapa kearoganan berujung dengan malapetaka.

Presiden Brazilia, Tancredo Neves, yang begitu arogannya dengan dukungan rakyatnya dan mengatakan, tidak ada yang bisa menggoyahkannya, bahkan Tuhan sendiri.

Tapi, sebelum peresmian jabatannya, dia sakit dan meninggal.

Kesombongan seorang arsitek kapal terkenal Titanic juga berujung mala petaka. "Tuhanpun tidak bisa menenggelamkannya," ujar arsitek itu angkuh.

Ternyata kapal Titanic menabrak gunung es dalam pelayaran pertamanya, tenggelam dan hanya meninggalkan kisah pilu di atas keangkuhan.

"Di atas langit, masih ada langit".

(Di sarikan dari Manna Sorgawi, 2 September 2014. Hari ini genap 111 tahun Injil di Simalungun. Semoga kearoganan kita makin terkikis dengan Firman yang melembutkan dan menginspirasi. Gereja Kristen Protestan Simalungun, GKPS akan merayakannya sebagai Pesta Olob-olob).

Retreat KPPD LAI Perwakilan Medan


"Datang dengan Kelelahan, Pulang dengan Semangat Baru"

Oleh: Jannerson Girsang

Sebanyak 40 orang keluarga besar KPPD LAI Sumut melaksanakan retreat di Hotel Ambaroba Tuktuk Siadong, Samosir, Sumatera Utara, 30-31 Agustus 2014.

Acara malam retreat diisi dengan kebaktian yang dipimpin Pdt Marisi Uli Panjaitan (Methodis), ceramah dari Sigit Triyono, Managing Director "Sukses Holistik Indonesia" Consulting.

Hari Minggu besoknya acara dilanjutkan dengan Kebaktian Minggu yang dipimpin oleh Pdt Luther Lase (Ketua KPPD LAI), serta Rapat Program KPPD LAI 2014.

Dalam ceramahnya yang berjudul "Meningkatkan Pelayanan Mitra LAI", Sigit Tryono, menjelaskan faktor-faktor yang dapat menyebabkan menurunnya motivasi pelayanan. Dia juga mengingatkan agar KPPD LAI fokus kepada Visi dan Missi LAI, serta mensosialisasikan budaya LAI: Melayani, Inovasi, Terpercaya dan Kerja Sama".

Sigit yang sangat piawi mengajar itu, dalam sebuah kesempatan yang tidak dijadwalkan, mengajarkan Kiat Sosialisasi: 'Sate Super'

"Saya Teringat Suatu Peristiwa". Menurutnya, sosialisasi harus memperhatikan konten yang berisi kisah yang menggugah emosi, sehinga pendengar tertarik dan memahami pesan yang disampaikan.

"Jangan melakukan sosialisasi hanya dengan membaca atau menyampaikan sesuatu tanpa menggugah emosi," katanya. "Mulailah dengan pembukaan: Saya Teringat Sebuah Peristiwa......" tambahnya.

Ketua KPPD Perwakilan Medan, Pdt Luther Lase memaparkan berbagai program KPPD 2014 dan meminta seluruh pengurus dan mitra bekerja bersama-sama mewujudkan cita-cita LAI.

KKPD (Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan) LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) adalah Mitra LAI dari berbagai denominasi gereja yang secara sukarela mendukung LAI di daerah/wilayah tertentu.

Dalam melaksanakan tugasnya LAI KPPD membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, para hamba Tuhan, jemaat, pemerintah dan masyarakat, baik doa, daya/tenaga dan dana dalam mewujudkan Firman Allah hadir untuk semua orang.

VIsi LAI adalah "Firman Allah Hadir bagi semua orang dalam bahasa yang berterima agar mereka dapat bertemu dan berinteraksi dengan Allah, dan mengalami hidup baru".

Acara ini juga diikuti Ketua LAI Perwakilan Sumatera Eurelin Sembiring, SE beserta seluruh staf LAI Medan.

Dalam perjalanan pulang pergi Medan-Samosir, rombongan juga mengunjungi beberapa obyek wisata di sekitar Prapat dan Samosir, seperti Batu Gantung, Makam Raja Sidabutar di Tomok. Tentu, juga berbelanja oleh-oleh dari Samosir.

Sebuah suasana alam yang tak terlupakan adalah makan siang di bawah pohon sawit Perkebunan Marihat.

Pematangsiantar adalah kota yang sejuk dan bersih, serta menyenangkan untuk istirahat dan belanja. Rombongan juga menyempatkan diri belanja oleh-oleh dari Toko Roti Ganda, kerupuk empuk dari penjual di sekitar toko roti terkenal di kota itu.

Sebagian, sambil menunggu yang lain berbelanja, menikmati istirahat di Taman Bunga Pematang Siantar, dengan menikmati makanan dan minuman yang tersedia di sana.

"Datang dengan kelelahan, pulang dengan semangat baru," kata Sigit Tryono menyemangati para peserta Retreat KKPD LAI Perwakilan Medan.

Semoga!

Selasa, 26 Agustus 2014

HANNA: MENGHADAPI MASALAH DENGAN KESABARAN, KEYAKINAN AKAN KUASA TUHAN


Kodrat seorang ibu adalah hamil. Bila suami menderita karena istrinya belum mendapat karunia seorang anak, tentu si istri justru lebih menderita lagi--merasa lebih tertekan batinnya saat ia mendapati para wanita sebayanya atau bahkan yang lebih muda darinya sudah bercanda dengan si kecil yang berceloteh digendongannya.

Penderitaan makin parah, karena hingga saat ini, lingkungan, tetangga sekitar, teman dan yang lainnya memandang sebelah mata terhadap sosok wanita mandul yang tak bisa memberi keturunan.

Syukur masih ada yang memandangnya dengan empati lantaran mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Kesehariannya sering mengalami kesepian dan kerinduan, karena momongan belum kunjung tiba. Sore hari, menyambut suami yang tampak murung karena baru saja melihat tetangganya menggendong anak dan bercanda di halaman rumah.

Setelah bertahun-tahun dalam penderitaan berat, penderitaan berikutnya menimpa seorang wanita mandul, manakala suami memutuskan menikah lagi dengan wanita lain.

Itulah kira-kira penderitaan yang dialami Hanna,  seorang perempuan mandul yang dikisahkan dalam Kitab Samuel,  Perjanjian Lama.

Setelah menikah dalam waktu yang cukup lama, suaminya Elkana, karena alasan keturunan, menikah lagi dengan seorang wanita bernama Penina.

Hanna yang sudah bertahun-tahun merindukan anak, tapi hasilnya nihil, justru madunya Penina yang menikah belakangan dengan suaminya sendiri mampu melahirkan beberapa orang anak.

Hanna masih sedikit bersyukur karena Elkana tetap mengasihinya, meski Hanna tidak memiliki anak.

Sebaliknya, madunya, Penina memperlihatkan sikap yang bertolak belakang. Mengetahui suaminya masih menyayangi Hanna, Penina berusaha membuat hati Hanna gusar dan menyakiti hatinya.

Suasana yang paling disenangi Penina adalah saat ziarah tahunan ke Syilo. Di sana mereka memberikan persembahan kepada Tuhan.

Bagian-bagian korban yang dipersembahkan kepada Tuhan adalah berdasarkan jumlah orang yang ikut ziarah.

Penina yang memiliki anak yang jumlahnya banyak itu—’semua putra-putrinya’—Elkana memberikan bagian dari korban-korban yang dipersembahkan kepada  Tuhan. Sementara Hana, yang tidak punya anak, hanya menerima bagiannya sendiri.

Penina begitu merendahkan Hana dan mengungkit-ungkit kemandulannya sampai-sampai wanita yang malang ini menangis dan bahkan kehilangan selera makan.

Lengkaplah sudah penderitaan Hanna.

Setiap kali disakiti Hana menangis dan tidak mau makan. Elkana hanya bisa menghibur dengan mengatakan:

"Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?".

Dukungan dari manusia, termasuk suaminya tidak mampu menghibur hati Hanna. Kehebatan Hanna, disebutkan bahwa dia menghadapi kepedihan dengan sabar, keyakinan penuh kepada Tuhan dan tidak membalas dendam kepada Penina yang menyakitinya.

Kisah Perjanjian Lama memaparkan bahwa Hana menyampaikan keputusasaannya kepada Tuhan melalui doanya yang khusuk.

Suatu ketika Hanna bernazar, "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."

Ketika Hana terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.

Meminta pertolongan kepada Tuhan dalam keputusasaan seringkali terlihat aneh dan ini pula yang diperlihatkan Imam Eli dengan menegur dan menasehati Hana supaya melepaskan diri dari mabuk-mabukan.

Hanna sesungguhnya tidak mabuk. Meski dituduh demikian, Hanna tidak marah dan tersinggung atas sikap Imam Eli.

Dia menjawabnya seadanya dengan polos.  "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN".

Eli menerima penjelasan ini dan akhirnya memberkatinya: ""Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya"

Hanna lega dan mukanya tidak bersedih lagi.

Tuhan mengabulkan permintaan Hanna. Segera setelah peristiwa itu, Hana hamil dan melahirkan, Samuel, artinya anak yang "Diminta dari TUHAN".

Ketika tiba waktunya Elkana pergi ke Silo melakukan ziarah tahunan, Hana meminta agar dia dan Samuel diizinkan tidak pergi sampai anak itu disapih. Setelah perempuan itu menyapih anaknya, Elkana  membawa Samuel dengan seekor lembu jantan yang berumur 3 tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo.

Hanna menepati nazarnya. Samuel yang masih masih kecil  dipersembahkan untuk melayani. Dia tinggal dan melayani di bait suci TUHAN. Samuel adalah tokoh besar terakhir bangsa Israel pada masa kepemimpinan para pahlawan.

Hana tidak hanya melahirkan Samuel tetapi juga tiga orang anak laki-laki serta dua anak perempuan yang lain.

Hanna datang kepada Tuhan tidak dengan tangan hampa. Dia datang dengan persembahan puji-pujian. Ketika doanya dijawab Tuhan, dia mengucap syukur dengan persembahan terbaik, dan tak lupa menaikkan puji-pujian kepada Tuhan atas kebaikan Tuhan.

Hanna tidak membalas hinaan Penina, tidak mencari pertolongan manusia, Hanna berjanji, kalau Tuhan membalas doanya akan dipergunakan memuliakan Tuhan, berdoa dengan Tekun (sampai dikira mabuk), dan Hanna adalah orang yang mampu berterima kasih, mengucap syukur.

Medan 26 Agustus 2014

KERAGAMAN SEBAGAI KEINDAHAN DAN KEKUATAN


Oleh: Jannerson Girsang

"It is time for parents to teach young people early on that in diversity there is beauty and there is strength". (Maya Angelau)

Waktunya orang tua mengajarkan anak-anak muda sejak dini, bahwa dalam keragaman kita menemukan keindahan dan kekuatan.

Ajarkanlah agama, kearifan budaya suku yang dimiliki negeri ini sebagai teladan untuk mengasihi semua umat manusia, membuat hidup mereka lebih nyaman dan sejahtera. Satu dengan yang lain saling menginspirasi, saling memperkaya..

Bukan sebaliknya: mengajarkan keunggulan yang satu, dan merendahkan yang lain, apalagi menebarkan bibit-bibit kebencian. Bukan membuat satu dengan yang lain merasa terancam dan diliputi rasa takut.

Tidak ada manusia di dunia ini yang suka agamanya atau sukunya dilecehkan.Mereka ingin agamanya, sukunya dihormati. "Hidup berdampingan dalam damai, harmonis" mutlak bagi semua orang.

Saatnya semua kita sadar, bangsa ini hanya akan berada dalam "damai yang semu" selama satu pihak mengumandangkan dirinya lebih hebat, lebih unggul dari yang lain.

Tugas utama kita ke dunia adalah hidup saling menghormati dan menyayangi satu dengan yang lain, bahkan seluruh mahluk ciptaan Tuhan. .

Tuhan memberi kita satu Matahari, satu Bulan, satu Bumi.

Kita tidak perlu bahkan tidak bisa pindah ke matahari lain, bulan yang lain, bumi yang lain hanya karena agama atau suku kita berbeda. Kita semua harus berdampingan, hidup saling ketergantungan, saling membutuhkan.

Agama, suku bukan untuk dibanding-bandingkan, tetapi adalah keindahan dan kekuatan yang mewarnai bangsa, atau dalam skala yang lebih luas, dunia ini. .

Tuhanlah yang menciptakan kita beragam, syukurilah keragaman itu sebagai keindahan dan kekuatan.

Marilah saling belajar dan mempraktekkan pengalaman bersama dalam keragaman, sehinga dapat merasakan indahnya keragaman itu, dan memperoleh kekuatan yang muncul dari keragaman itu.

"Sebagaimana kamu ingin orang lain berbuat kepadamu, perbuatlah demikian kepada mereka"

Gambar bawah. Kebaktian Pemuda GKPS Simalingkar di rumah saya, Minggu sore, 24 Agustus 2014. Makanan mereka dipesan dari ibu Dewi, tetangga saya, seorang Muslim yang baik dan pandai memasak.

Renungan Malam, 25 Agustus 2014. Selamat Malam Mas Bambang Sumaryanto, hidup Sabang Merauke
Jannerson Girsang's photo.
Jannerson Girsang's photo.

Apapun Agamamu, Sukumu, Lakukan yang Terbaik bagi Setiap Orang



"Tidak penting apapun agama atau sukumu. ..Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu" (Gus Dur).

"Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tetapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?"

"Nasionalisme sempit itu yang bahaya. Biar jelek, biar maling yang penting sesuku, satu ras, seagama dengan saya. Itu yang buat negara ini terpuruk" (A Hok)

Mari kita renungkan bersama.

Photo

Senin, 25 Agustus 2014

Baca Aja Nggak!

Oleh: Jannerson Girsang

Seorang mahasiswa aktivis dan sudah menjalani semester 10 dan belum selesai skripsi, tiba-tiba mendatangi sebuah kantor seorang profesor di sebuah perguruan tinggi dan ingin konsultasi.

Dia adalah tokoh demo. Acapkali melakukan demo tentang apa saja yang menurut informasi yang diterimanya pantas didemo.

Tanpa basa basi, dia langsung to the point. .

"Katanya bapak Anu yang pejabat itu pernah menulis tentang paham Komunis yang diajarkan di sekolah-sekolah, Pak Profesor"

"Sudah baca tulisannya?," ujar Professor ingin konfirmasi kebenaran beritanya.

"Belum"

"Lantas, dari mana kamu tau dia menulis tentang paham Komunis mau diajarkan di sekolah-sekolah"

"Kata orang sih"

"Lalu?"

"Kita mau demo nih Pak, Itu kan subversif Pak"

"Udah baca UU Subversi?"

"Belum"

"Oh!," kata Professor, sambil melirik ke kiri mejanya ke tumpukan buku-buku bahan perkuliahannya. .

Profesornya mengangguk-angguk.

Sedih!. Dia tidak mungkin menjelaskan apapun dari referensi yang dia ketahui. Soalnya apapun yang dibicarakannya pasti nggak nyambung. Dan dia juga tau si mahasiswa ini bebal. Dia selalu menganggap dirinya paling benar.

Profesor mengemasi bahan perkuliahan yang akan disajikannya kepada mahasiswa semester V, di jurusan politik.

"Maaf ya dek, saya mau mengajar," ujar Profesor bergegas meninggalkan kantornya menuju ruang kuliah.

Medan, 25 Agustus 2014

Rendah Hati dan Sabar

Oleh: Jannerson Girsang

Rendah hati dan sabar, itulah senjata seorang janda menghadapi gelombang kehidupan setelah ditinggal suaminya. Mereka berjuang mempertahankan keluarga yang ditinggal suami.

"Hanya dengan kerendahan hati, sabar menghadapi masalah kami mampu hidup sendirian tanpa suami," demikian kesaksian Ny Purba br Saragih dalam acara Kebaktian Minggu Namabalu (janda/duda), Lansia, dan Na Tading Maetek (anak yatim) di GKPS Simalingkar, Minggu 24 Agustus 2014.

Beliau adalah seorang janda berusia 76 tahun dan ditinggal suaminya seorang mantan Pengantar Jemaat di Raya Humala, Simalungun, beberapa tahun lalu.

Tentu persekutuan dengan Tuhan tidak juga ditinggalkan dan merupakan kekuatan besar mereka memperoleh pengiburan dan kekuatan.

Di gereja GKPS Simalingkar yang beranggotakan 178 KK itu terdapat 25 janda/duda, 7 orang lansia (berusia 70 tahun ke atas) dan 3 anak yatim (sampai SD).

Acara ini diselenggarakan setiap tahun. Beberapa waktu yang lalu, mereka juga diberikan pelayanan khusus berupa pemutaran film, serta ceramah pencerahan, sehingga mereka tetap bersemangat dalam kesendirian menghadapi permasalah hidup di tengah-tengah keluarga mereka.

Khusus Minggu Namabalu, Lansia dan Na Tading Maetek, kebaktian menggunakan tata ibadah yang dipersiapkan kantor Pusat GKPS yang dipimpin PW Masnarena br Purba.

Sebuah refleksi firman Tuhan Mazmur 1:2-6 (Namabalu), Amsal 3:1-12 (Lansia), Mazmur 23: 1-6 (Natading maetek). Refleksi dibacakan secara berurutan dari Na Mabalu, Lansia dan Na tading Maetek.

Acara diisi Vokal Group dari Namabalu dan Lansia. Sebuah lagu yang menyentuh perasaan berjudul "Anggo Hupingkiri Goluh On". Pembacaan Puisi oleh Pia br Sinaga, seorang Pemuda GKPS yang baru lulus UMPTN 2014.

Khotbah yang disampaikan PW Masnarena br Purba dari nas Roma 12:1-8 mengingatkan mereka agar dalam status bagaimanapun, kita mampu bersyukur dan tidak bersungut-sungut.

"Nikmatilah keberadaan saudara-saudara sebagai Lansia, sebagai janda, sebagai anak na tading maetek bersama Tuhan dengan rasa syukur, dan tidak bersungut-sungut," tandasnya.

Pada kesempatan itu, jemaat memberikan bingkisan berupa sejumlah uang sebagai tanda atau simbol kepedulian seluruh jemaat.

"Bukan nilai yang diberikan tapi bagaimana kami masih di perhatikan dan di perhitungkan, yang menjadi penguatan sekaligus penyemangat kami," ujar Ester br Lubis, janda Pdt Lihardo Purba, STh, seorang pendeta yang meninggal beberapa tahun lalu.

Ester br Lubis, lulusan STT Abdi Sabda itu, kini mengasuh dua putranya yang masih duduk di SD, dan sendirian melanjutkan perjalanan keluarganya, membesarkan kedua putranya yang masih kecil-kecil. Dia aktif mengajar Sekolah Minggu sekaligus membawa dan membimbing keduanya.

Pesan Pimpinan Pusat GKPS dalam Minggu Namabalu, Lansia dan Na tading Maetek menekankan agar jemaat peduli kepada mereka yang menyandang status janda. lansia dan anak yatim. Mereka adalah anggota jemaat yang memerlukan dukungan dan dorongan semangat.

SELAMAT MINGGU NAMABALU, LANSIA DAN NA TADING MAETEK.


Medan, 24 Agustus 2014 
 Photo: Pada Hari ini tata ibadah kebaktian di GKPS Simalingkar adlh Tata Ibadah Pelayanan kepada "Namabalu", Lansia,dan "Natading Maetek". Refleksi firman Tuhan Mazmur 1:2-6 (Namabalu), Amsal 3:1-12 (Lansia), Mazmur 23: 1-6 (Natading maetek). Acara diisi Vokal Group, Puisi dan pemberian tanda kasih dari jemaat GKPS Simalingkar bagi Namabalu, Lansia dan Tading maetek. Kasih Tuhan tetap abadi bagi orang yang percaya pd Tuhan.
 Para Janda, Lansia dan anak Yatim bernyanyi bersama.

Rabu, 20 Agustus 2014

Karen Agustiawan: Mundur dari Pertamina, Memilih Jadi Guru

Oleh: Jannerson Girsang

Langkah Karen Agustiawan mundur sebagai Dirut Pertamina beberapa hari yang lalu, sungguh sebuah kejutan. Di negeri dimana jabatan identik dengan "uang" dan sudah hampir merupakan "dewa", ternyata di mata Karen jabatan Dirut Pertamina sekalipun bukan sesuatu yang dia perlukan. Dia orang yang langka di negeri ini. .

Karen adalah perempuan profesional dan menghargai nilai kebaikan. Karen lebih memilih mengajar, dari pada jadi Dirut Pertamina, "lumbung uang". Mungkin orang materialistis akan menilainya bodoh, atau tak tau diuntung!.

Biasanya seorang Dirut manggut-manggut kepada Menteri BUMN. Beda dengan Karen. Menteri malah membujuk dia supaya tetap mau jadi Dirut perusahan yang memiliki laba Rp35,77 triliun tahun 2013 . Gaji dan bonusnya berapa tuh ya!

"Saya sudah berkali-kali membujuknya, tetapi terus saja mengajukan mundur, jadi tidak bisa saya tahan" kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

Beberapa koleganya menilai Dirut Pertamina wanita pertama itu sebagai seorang profesional yang tak tergiur dengan materi, seperti kebanyakan pejabat Indonesia saat ini. Sikapnya konsisten sejak awal menjadi Dirut.

Selepas mundur dari Dirut Pertamina itu adalah lulusan Teknik Fisika ITB Bandung 1983 itu akan mengajar di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Sebuah Perguruan Tinggi kelas wahid di negeri Paman Sam. Dia akan berangkat 1 Oktober 2014 mendatang.

Menurut harian Kompas, sebelumnya ibu dari tiga anak itu, telah bergabung dengan lembaga yang bernaung di bawah Universitas Harvard, yakni The Belfer Center for Science and International Affairs. Lembaga tersebut merupakan hub penelitian, pengajaran, dan pelatihan dalam keamanan internasional dan diplomasi, isu-isu lingkungan dan sumber daya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi kebijakan di Harvard Kennedy School.

Tak heran kalau Karen--mulai menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) pada 5 Maret 2008 itu menoreh berbagai prestasi gemilang.

Dalam catatan mediaonline Okezone, putri Dr. Sumiyatno, utusan pertama Indonesia di World Health Organization (WHO) itu masuk dalam jajaran pengusaha wanita paling berpengaruh di Asia. Pada tahun 2012 Forbes menempatkannya di peringkat 53. Dia juga masuk dalam daftar wanita paling berpengaruh di Asia, Forbes menempatkanya di peringkat 55 pada 2014. .

Selain itu istri Hermawan Agustiawan--bekerja di Dewan Energi Nasional.itu, juga berhasil membawa Pertamina masuk dalam jajaran perusahaan Fortune Global 500 di tahun 2013, peringkat 122. Di tahun 2014, Pertamina juga berhasil bertahan di daftar Fortune Global 500, yakni di peringkat 123

Wanita pertama yang menjadi Dirut di Pertamina itu juga berhasil membuat Pertamina jauh lebih untung, yakni dengan mengalami kenaikan laba sebesar 107,6 persen dari Rp17,1 triliun (2007) menjadi Rp 35,77 triliun (2013) .

Sebelum masuk di lingkungan Pertamina, wanita yang memiliki nama lengkap Galaila Karen Agustiwan ini memulai kariernya di perusahaan minyak Mobil Oil Indonesia hingga 1996 atau ketika perusahaan tersebut diakuisisi oleh Exxon Mobil.

Rumor selalu muncul apapun yang terjadi di Indonesia.Sulit sekali kita membedakan orang baik dan perampok. Saya tidak pernah langsung percaya kalau alasan Karen politis!. "Kita suka mempolitisasi apa saja" kata Habibie.

Yang jelas para pejabat seperti Menteri BUMN, Dahlan Iskan, Menko Ekuin, Khairul Tanjung menepis semua rumor itu dan mengatakan alasan mundurnya Karen tidak ada alasan politis. Kata Dahlan mundurnya Karen murni alasan pribadi: Mau Mengajar, menebar kebaikan.

Wanita kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 itu akan menambah perempuan Indonesia yang berkiprah di luar negeri menyusul Sri Mulyani yang kini menjadi seorang pejabat di Bank Dunia.

Hebat kan Perempuan Indonesia!.

Karen tidak mendewakan uang dan jabatan. Jabatan adalah amanah, bukan kekuatan untuk mendapat kekuasaan atau kekayaan pribadi. Karen berhasil menaikkan laba Pertamina lebih dari seratus persen selama menjabat Dirut.

Mengapa Karen mundur dari Pertamina, mengapa Sri Mulyani mundur dari Menteri Keuangan? Mengapa mereka mendapat tempat terhormat di negeri orang? Mereka adalah tokoh-tokoh kaliber dunia.

Mari bangsa Indonesia bertanya kepada rumput yang bergoyang. Mungkinkah sebuah anomali tengah berlangsung di negeri gemah ripah lho jinawi ini.

Medan, 20 Agustus 2014

 

Keterbatasab Bukan Halangan Berhasil

Oleh: Jannerson Girsang

Mengeluhkan keterbatasan adalah pekerjan sia-sia, menyalahkan orang lain dan keadaan menambah musuh.

Tapi, tiap hari kita menemukannya di mana-mana. Padahal, "Keterbatasan bukan halangan berhasil," seperti seringkali diungkapkan dalam acara Kick Andy, Metro TV.

Andaikan saya tinggal di Jakarta, maka saya sudah bisa berhubungan dengan para produser, karya-karya saya sudah bisa diterbitkan percetakan besar.

Cuma, orang yang menggerutu itu masih tinggal di Medan, tidak ada usaha untuk pindah ke Jakarta, atau membina hubungan dengan para penerbit di Jakarta. .

Bahkan melakukan kampanye: "Jakarta hanya memikirkan para penulis yang tinggal di Jakarta. Tak pernah memikirkan para penulis di daerah. Bagaimana kami bisa maju"

Kemudian ada seorang ahli menemukan sebuah produk yang menurutnya cukup bagus.

"Seandainya saya punya uang Rp 1 miliar, maka saya sudah bisa bangun pabrik dan menyerap banyak tenaga-tenaga muda,".

Lantas orang yang mengucapkan kalimat itu hanya diam saja, tidak melakukan apa-apa, kecuali menggerutu.

"Tidak ada yang menghargai karya saya. Inilah negeriku hanya memikirkan koruptor. Usaha saya, tidak ada yang mau membantu".

Kemudian ke sana kemari menyalahkan pemerintah, menyalahkan lingkungannya. .

Siapapun bisa melakukan sesuatu kalau semua sudah tersedia.

Kalau sudah ada uang Rp 1 miliar, tinggal panggil tukang beri uang yang dibutuhkan, tunggu tiga bulan, maka bangunan pabrik akan selesai.

Tidak ada usaha, tidak ada pembelajaran, tidak ada inspirasi yang muncul.

Tidak demikian halnya dengan para anak muda pendiri Google Sergey Brins dan Larry Page.

Saat awal mendirikan perusahaan mesin pencari terbesar dunia itu mereka membutuhkan USD 1 juta. Sementara mereka hanya punya USD 100 ribu.

Mereka tidak hanya mengatakan, "kalau kami punya USD 1 juta". Keduanya tidak pernah mengeluh dan menyalahkan siapapun.

Lantas, keduanya berusaha mendapatkan USD 1 juta dengan cara yang sangat kreative. Secara terus menerus mereka mencari kesempatan untuk bisa mempresentasikan rencananya di depan para pengusaha terkemuka di Amerika.

Hasilnya, mereka memperoleh keyakinan dan dari seorang pengusaha besar Mordechai memberi mereka pinjaman sebesar USD 100 ribu.

Tindakan Mordechai ini mengundang kepercayaan pengusaha terkemuka Amerika lainnya. Mereka juga memberikan pinjaman dan memenuhi kebutuhan awal Google.

Google terus berkembang dan kini memperoleh penghasilan USD 38,6 miliar dari iklan online dan menguasai 33 persen iklan online global.

"Jangan mengeluhkan keterbatasan, tetapi lakukan kegiatan kreatif sehingga keterbatasan itu menumbuhkan kepercayan orang untuk membantu".

Medan, 20 Agustus 2014

Menjadi Mahasiswa di Usia 14 Tahun, 6 Bulan dan 9 Hari


Oleh: Jannerson Girsang

Prestasi Arya Bagus, pria kelahiran Solo, 23 Pebruari 2000 cukup istimewa!.

Di usia 14 tahun, 6 bulan dan 9 hari dia berhasil melewati ujian tertulis dan menjadi mahasiswa termuda Universitas Gajah Mada. Pada usia yang sama umumnya anak-anak Indonesia masih duduk di bangku SMP.

Dia juga bercita-cita sudah meraih gelar Master pada usia 19 tahun.

"Meski termuda harus menjadi yang terdepan, itu pesan ibu. Saya bertekad ingin ikut program Fastrack UGM, S1 sampai S2 ditempuh 5 tahun," tandasnya.

Arya memang berbeda dari anak-anak seusianya.

Arya sudah memasuki SD pada usia 4 tahun. Istimewanya lagi, Arya ikut kelas akselerasi mulai dari SD hingga SMA. Dia hanya butuh waktu menyelesaikan SD hingga SMA dalam waktu 10 tahun. Enam tahun di SD, 2 tahun di SMP dan dua tahun di SMA.

Luar biasa ya!.

Tentu, prestasi itu tidak begitu saja berlangsung. Orang tuanya mendorongnya ikut program akselerasi dan memilih kuliah di Jurusan Teknik Sipil UGM Arya juga termotivasi oleh pekerjaan ayahnya, Aris Murtopo yang bekerja sebagai PNS di Dinas Pekerjaan Umum di Karanganyar.

Arya sendiri melihat teknik sipil masih akan terus digunakan,karena selama negeri ini terus membangun akan membutuhkan jurusan yang dipilihnya.

Guna meraih cita-cita itu, Arya mengaku akan berusaha lulus S1 dengan target kurang dari 3,5 tahun. Jika ada kesempatan, anak kedua dari dua bersaudara ini ingin melanjutkan studi ke jenjang S2.

Kalau cita-citanya itu terkabul, maka di usia 19 tahun, Arya sudah meraih gelar Master. Selamat buat Arya.

"The revolution has always been in the hands of the young. The young always inherit the revolution".(Huey Newton). Revolusi mental, jadikan bangsa kita menjadi bangsa yang besar, mampu menghasilkan karya, bukan hanya jadi "pecundang-pecundang". 

Diramu dari berbagai sumber.

Medan, 20 Agustus 2014

 Photo: MENJADI MAHASISWA DI USIA 14 TAHUN, 6 BULAN DAN 9 HARI

Prestasi Arya Bagus, pria kelahiran Solo, 23 Pebruari 2000 cukup istimewa!.  

Di usia 14 tahun, 6 bulan dan 9 hari dia berhasil melewati ujian tertulis dan menjadi mahasiswa termuda Universitas Gajah Mada. Pada usia yang sama umumnya anak-anak Indonesia masih duduk di bangku SMP. 

Dia juga bercita-cita sudah meraih gelar Master pada usia 19 tahun. 

"Meski termuda harus menjadi yang terdepan, itu pesan ibu. Saya bertekad ingin ikut program Fastrack UGM, S1 sampai S2 ditempuh 5 tahun," tandasnya. 

Arya memang berbeda dari anak-anak seusianya. 

Arya sudah memasuki SD pada usia 4 tahun. Istimewanya lagi, Arya ikut kelas akselerasi mulai dari SD hingga SMA. Dia hanya butuh waktu menyelesaikan SD hingga SMA dalam waktu 10 tahun. Enam tahun di SD, 2 tahun di SMP dan dua tahun di SMA. 

Luar biasa ya!. 

Tentu, prestasi itu tidak begitu saja berlangsung. Orang tuanya mendorongnya ikut program akselerasi dan memilih kuliah di Jurusan Teknik Sipil UGM Arya juga termotivasi oleh pekerjaan ayahnya, Aris Murtopo yang bekerja sebagai PNS di Dinas Pekerjaan Umum di Karanganyar. 

Arya sendiri melihat teknik sipil masih akan terus digunakan,karena selama negeri ini terus membangun akan membutuhkan jurusan yang dipilihnya. 

Guna meraih cita-cita itu, Arya mengaku akan berusaha lulus S1 dengan target kurang dari 3,5 tahun. Jika ada kesempatan, anak kedua dari dua bersaudara ini ingin melanjutkan studi ke jenjang S2.

Kalau cita-citanya itu terkabul, maka di usia 19 tahun, Arya sudah meraih gelar Master. Selamat buat Arya. 

"The revolution has always been in the hands of the young. The young always inherit the revolution".(Huey Newton). Revolusi mental, jadikan bangsa kita menjadi bangsa yang besar, mampu menghasilkan karya, bukan hanya jadi "pecundang-pecundang".   

Diramu dari berbagai sumber.
Devee Girsang, Trisha Melanie Girsang

Medan, 20 Agustus 2014

Doa Seorang Janda

Oleh: Jannerson Girsang

"Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam". (1 Tim 4-6).

Malam ini, saya menerima telepon dari ayah saya yang mengabarkan kabar duka cita, dari kampung yang berjarak sekitar 106 kilometer dari tempat saya menulis kisah ini.

Ompung Morlinim br Sinaga meninggal dunia dalam usia 93 tahun, malam ini. Beliau adalah adik dari ibu ayah saya.

Sebuah renungan kutuliskan sebagai wujud kekaguman dan sayangku untuk Ompung, sebelum aku bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Jarak dan pekerjan membuatku belum bisa melayatmu saat ini.

Ompung Morlinim yang tidak lulus SD adalah potret seorang perempuan yang tangguh tetapi lembut, tak berpendidikan tapi cerdas dan bijak.

Seorang ibu yang selalu memberi rasa optimis, penebar kasih sayang. Saya jadi sadar, menebar kebaikan memang tidak harus memiliki ijazah S1, S2, S3, atau Professor. Cukup menguasai satu satu bahasa: "Bahasa Kasih".

Penderitaan adalah jalan Tuhan mendekatkan umatNya diri kepadaNya. Itulah yang kuyakini berlaku bagi almarhumah. Almarhumah sudah menjanda setelah suaminya Ompung Benyamin Girsang meninggal dunia pada 1967.

Sepeninggal ompung laki-laki, putrinya, si Bungsu, Reny Girsang, SH masih dalam gendongan. Anak tertuanya Ruslan Girsang saat itu berusia sekitar 20 tahun dan belum menikah.

Kehidupan pahit seorang ibu dengan sepuluh anak tanpa suami mampu dilaluinya dengan penuh pengharapan dan suka cita. Misalnya, Lermianna yang sempat putus sekolah setelah lulus SMP karena ketiadan biaya, akhirnya menjadi seorang Penginjil Wanita di GKPS, si Bungsu, Reny Girsang,lulus dari Fakultas Hukum, Universitas Lampung. Almarhum Pdt Josep Girsang, STh, pendeta GKPS yang meninggal pada 1988.

Cucunya Shemaria EvhIta Girsang berhasil meraih gelar S2 dari Universitas HKBP Nommensen tahun ini.

Ompung ini tidak pernah sakit, meski hampir "tidak pernah berhenti bekerja". Beberapa tahun terakhir, karena usia tuanya mengharuskannya hanya tinggal di rumah.

Penampilannya selalu ceria, tampak lebih muda dari usianya dan memberi inspirasi bagi kami cucu-cucunya. Tak pernah marah dan penuh kasih sayang.

Beliau adalah pemersatu keluarga kami, rajin mengunjungi famili. Ayah saya yang bersaudara ibu, seperti bersaudara kandung dengan anak-anaknya. Orang selalu salah mengira bahwa ayahku dengan Lermianna saudara ayah, padahal sebenarnya saudara ibu.

Beliau berhasil mewariskan kebaikan kepada keturunannya, sehingga kami merasa satu sama lain dekat, dan hidup saling merindukan satu dengan yang lain.

Sebuah misi yang tak sepenuhnya bisa dilakukan semua orang tua. Mewariskan "damai" bagi keturunannya.

Peristiwa paling berkesan bagiku dengan almarhum adalah ketika beliau bisa mengikuti acara wisudaku sebagai Sarjana Pertanian dari IPB, pada Mei 1985. Tanpa sebuah rencana, dia memiliki kesempatan yang langka bagi seorang janda, petani kampung, menikmati Jagorawi dan bisa bertemu tokoh pertanian negeri ini.

Entah bagimana saat itu, beliau bersama dua orang "ompung" lain kebetulan berada di Jakarta. Mereka bertiga begitu bersemangat dan suka cita bisa berada di auditorium salah satu Universitas terkemuka di negeri ini. Kesempatan yang tidak pernah dimimpikanya sebelumnya.

"Aih, jenges tumang dalan i Jawa on (Bagus sekali Jalan di Jawa ini" katanya, menggambarkan Jagorawi yang mereka lintasi dari Jakarta ke Bogor. Dia terkesan sekali jalan itu dibandingkanya dengan jalan Mardingding-Pematangsiantar yang ketika itu masih berlubang-lubang.

"Sonang tumang au. Boi dihut bani wisuda ni pahompungku (aku sangat senang bisa menghadiri wisuda cucuku)," katanya ketika itu.

Saat itu Ompung Morlinim, seorang janda, petani miskin merasa bangga bisa bersalaman dengan almarhum Prof Dr Andi Hakim Nasution, Rektor Institut Pertanian Bogor.

Dia juga senang karena saat itu cicitnya, putri pertamaku Clara Girsang sudah berusia 3 bulan. (29 tahun sesudah peristiwa itu, kini Clara sudah memberiku seorang cucu berusia 1 tahun)

Ompung yang saya kasihi. Malam ini saya teringat saat aku membawa semua cicitmu Clara, Patricia Girsang , Bernard Patralison Girsang Devee Girsang di Pematangsiantar beberapa tahun lalu. Kita bercanda bersama. Ompung membuat semangat cicit-cicitnya.

Mungkin itulah pertemuan kita yang terakhir secara lengkap bersama keluarga cucumu ini, karena kemudian cicit-cicitmu berangkat ke kota tempat studi mereka, bahkan menikah tanpa Ompung saksikan lagi.

Semua memang berakhir. Usia tuamu melemahkan tubuhmu. Tubuhmu yang lemah dan hanya tinggal di rumah beberapa tahun terakhir. Tapi kuyakin lemahnya tubuhmu masih memiliki kekuatan melalui doa-doamu.

Cucu-cucu dan cicit-cicitmu meraih cita-cita mereka, buah kekuatan doa-doamu.

Malam ini aku terkenang saat perayaan Ulang Tahun Putrimu Lermianna Girsang ke-60, di Balei Bolon, Desember 2009, saat dia memasuki pensiun. Aku menuliskan cukilan kisah putrimu dan tentunya kisahmu juga. Begitu menginspirasi kami semua.

Membaca artikel yang kutuilis pada 2009, mengingatkanku pada ketegaranmu, kesabaranmu, kelembutan dan halusnya tutur bahasamu. Bertemu Ompung terasa damai, tenang, merasa dihargai!

Aku senantiasa terharu dan terinspirasi setiap kali membaca kisah putrimu Lermianna dan kisahmu: "Apa di Balik Gunung", sebuah perjalanan hidup yang memberi keyakinan bahwa masa depan kita ada di tanganNya. Kita hanya perlu percaya dan lakukan perintah-perintahNya.

Kini semuanya hanya kenangan. Keteladanan yang tak akan pernah sirna dari kehidupanku. Ompung dan namboru Lermianna, dua wanita yang sungguh menginspirasi hidupku.

You are the great peace maker, great inspirator!

http://www.harangan-sitora.blogspot.com/2009/12/apa-di-balik-gunung.html

Selamat Jalan Ompung. Hidupmu adalah Imanmu. Doa seorang janda memang luar biasa!



Medan, 19 Agustus 2014

Menjelekkan untuk Naik Daum, Ogah Ah!

Haruskah melukai, menjelekkan dan memfitnah orang lain supaya kita kelihat hebat, benar?. Ogah Akh!

Menjelekkan, memfitnah orang lain supaya kita dianggap baik, menyalahkan orang lain supaya kita terlihat benar, tidak pernah mencapai kemenangan yang membahagiakan semua orang.

Situasi seperti ini akan terus menerus terjadi dimanapun kita berada. Kalau Anda menghadapi teman-teman seperti itu, kuncinya hanya satu.

"Teruskan berbuat yang Anda yakini baik, seperti kata Mother Theresia. . Jangan lawan rumor dengan rumor, karena akan turut menebar kebencian. Jangan lawan menyakiti membalas dengan menyakiti, karena makin banyak orang tersakiti. Kalau ada orang di FB seperti itu, delete aja. Dia buat lagi, delete lagi. Jangan kasi komentar".

Pendukung orang yang menyakiti, membuat fitnah juga banyak. Dia tidak sendiri. Bahkan ada yang tidak bersalah, tiada tau apa-apa bisa terkena dampaknya.

Kadang, diam itu emas. Pada saatnya, yang busuk, akan keluar dari sarangnya!

27 tahun Nelson Mandela di penjara, bukan karena kesalahannya. Nelson Mandela hanya ingin agar manusia kulit hitam diperlakukan sama dengan kulit putih.

Penguasa apartheid hanya mencari alasan supaya dia bersalah. Para sipir penjara memperlakukan dirinya tidak manusiawi.

Salahkah mimpinya?. Tidak kawan-kawan. Dia akhirnya, setelah 27 tahun dituduh bersalah, difitnah, orang lain membuktikan dirinya benar, tanpa menyakiti siapapun. Hebat yah!


Medan, 18 Agustus 2014 

Pemuda GKPS Simalingkat Sponsori Perayaan 17 Agustus

Oleh: Jannerson Girsang

Di tengah-tengah lesunya peringatan Hari Kemerdekaan di lingkungan masing-masing, pemuda gereja GKPS Simalingkar, menyadarkan kami semua warga untuk secara bersama-sama merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 di lingkungan gereja.

Perayaan seperti ini baru pertama kali diselenggarakan sejak gereja ini berdiri pada 1988.

Para pemuda gereja di GKPS Simalingkar memulai acara Perayaan sejak kemaren sore, 16 Agustus 2014. Mereka merias gereja dan menyajikan beberapa permainan, mulai dari pertandingan olah raga antar sektor.

Acara ini diikuti oleh semua warga. Anak-anak, remaja, pemuda, serta para orang tua sangat menikmati acara ini. "Kita tidak bisa ikut perayaan di instansi-instansi, tapi bisa merasakan gema 17 Agustus di gereja."ujar seorang warga.

Ada pertandingan-pertandingan menarik, seperti panjat pinang, lomba makan kerupuk dll.    Sore ini akan dimulai pukul 15.00 dan ditutup nanti dengan penurunan bendera

Mari kita sambut ide-ide  pemuda yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme.

Pengamatan di lingkungan tempat tinggal di Perumnas Simalingkar yang dihuni sekitar 8000 keluarga itu, kurang dari 30 persen yang memasang bendera di depan rumahnya. Di lingkungan kami tidak ada Perayaan 17 Agustusan. Sungguh menyedihkan memang. Beruntunglah kami diingatkan pemuda-pemuda yang masih memiliki penghargaan atas arti kemerdekaan.

Semoga bangsa ini makin sadar akan cita-cita kemerdekaan yang dicanangkan 17 Agustus 1945.Kita harus hidup berdampingan dengan damai, menerima perbedaan sebagai sebuah berkat Tuhan.

Terima kasih kepada pemuda dengan ide brilian.

Medan, 17 Agustus 2014

Aksi dan Suka Cita

Oleh: Jannerson Girsang

Analisa situasi (contextual analysis) yang lemah akan menghasilkan perencanaan AKSI yang tidak membumi, memberikan dampak yang tidak diharapkan, tidak dirasakan positif baik oleh pelaksananya maupun sekitarnya.

Para ahli menasehatkan merencanakan sesuatu adalah merancang sebuah aksi untuk kebutuhan manusia, baik yang melaksanakannya, maupun orang yang terkena langsung atau tidak langsung dampak aksi tersebut.

Tidak ada aksi di ruang hampa yang hanya aksi an sich.

Setiap aksi akan menghasilkan reaksi selalu mendapat respon positif maupun negatif. Tidak ada aksi yang sempurna. Yang ada adalah bahwa setiap proses aksi akan menjadi pembelajaran baru bagi semua yang terlibat.

Libatkanlah mereka semua, mereka yang terkena dampaknya, dalam semua tahapan hingga sebuah program selesai, agar perencanaan tersebut berjalan secara berkesinambungan.

Libatkan juga mereka memaknai sebuah aksi, agar mereka menikmatinya dan mampu mengucapkan syukur.

Itulah hakekat sebuah aksi, meski kecil, tapi bermanfaat dan mampu menghadirkan suka cita.

Mari terus menerus belajar bersama, aksi yang menghasilkan sukacita. Bukan aksi yang mendatangkan kesombongan di satu pihak, duka cita di pihak lain karena merasa terlecehkan atau terabaikan.

Berikan motivasi kepada mereka yang sedang melaksanakan sebuah aksi, jangan menghakimi. Menghakimi tidak baik bagi yang menghakimi dan juga yang dihakimi, tidak berguna bagi semua.

Kesalahan melaksanakan sebuah aksi adalah pembelajaran! Manusia belajar dari kesalahan, tetapi "jangan ulangi kesalahan yang sama".

Lakukan analisa situasi secara berkesinambungan, sehingga mampu menyempurnakan setiap kesalahan menjadi pembelajaran.

Medan 15 Agustus 2014

Perpustakaan Gereja: Mendorong Minat Baca dan Suka Menuturkan yang Benar

Oleh: Jannerson Girsang

Hari ini (25 Juli 2014 )GKPS Simalingkar menerima visitasi tiga orang Tim Survey Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperasda), Pemprovsu  untuk Lomba Perpustakaan Rumah Ibadah se-Sumatera Utara 2014, di ruang Perpustakaan, GKPS Simalingkar.

Sebuah kegiatan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Pemprovsu dalam rangka memacu gereja turut memasyarakatkan minat baca jemaat, serta mendorong minat jemaat atau gereja dalam mengembangkan perpustakaan.

Semoga pekerjaan kecil ini memberi manfaat. Kami hanya orang kecil yang hanya bisa berbuat kecil. Memang tak terlihat dampaknya secara jangka pendek, tetapi kami berharap dengan mengenal perpustakaan sejak dini, maka anak-anak, remaja dan pemuda gereja diharapkan memiliki budaya baca, yang lebih baik dari orang tuanya.

Jemaat Simalingkar bersyukur karena kini sudah memiliki gedung perpustakaan khusus, dan memiliki pengurusnya yang selalu setia mengurusi perpustakaan dan memonitor perkembangannya. Demikian juga Pengurus Pemeliharaan dan Pengembangan Gereja yang telah membangun fasilitas bagi kenyamanan penyimpanan buku dan ruang baca.

Pepustakaan ini beridiri 10 April 2010, dan kini memiliki sekitar 2500 koleksi buku-buku rohani dan bacaan umum. dan anak-anak. 1000 eksemplar diantaranya adalah bantuan Pemprovsu pada 2010. Selain itu Perpustakaan ini juga menerima bantuan dari Lembaga Alkitab Indonesia, perseorangan, baik jemaat GKPS maupun di luar GKPS Simalingkar.

2012, Perpustakaan ini memperoleh kehormatan menjadi Juara II Perpustakaan Gereja se-Sumatera Utara. Semoga dengan pengembangan yang sudah dilaksanakan selama dua tahun ini mendapat penghargaan yang lebih baik.

Dua wanita yang dibantu seorang tenaga tidak tetap mengurus perpustakaan ini dengan tanpa pamrih, pantas diberikan acungan jempol. Mereka adalah Prof Dr Erika Saragih, Hilderia Saragih, Ny Samjus Damanik, serta para pengurus lainnya yang tak dapat disebut satu per satu.

Selain melakukan perawatan, mereka juga melaksanakan kegiatan lomba pidato, menulis cerita dan kegiatan lain yang berkaitan dengan meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak dan Remaja. Mudah-mudahan Pengurus Perpustakaan terus secara kreatif melakukan kegiatan meningkatkan minat baca bagi seluruh jemaat.

Kondisi minat baca bangsa ini yang sangat rendah dibanding bangsa-bangsa lain, memerlukan perhatian dari semua pihak, gereja pada khususnya. Jangan biarkan jemaat hanya terbiasa mendengar sesuatu dengan pendengaran, mereka harus membaca buku, membaca hal-hal yang sudah teruji kebenarannya, sehingga mereka mampu dan terbiasa berkata benar dan mempercayai yang benar. Mereka suka menuturkan cerita yang benar. 

Semoga dengan terus dikembangkannya Perpustakaan Gereja, jemaat semakin pintar, tidak percaya kabar burung, dan dalam kehidupannya mampu mencerminkan sikap-sikap yang benar: sopan, mencintai kebenaran, tidak suka bertengkar atau menyebabkan orang lain bertengkar karena kabar yang tidak benar.


.


Prof Dr Erika Saragih dan  Hilderia Saragih adalah dua wanita yang tak kenal lelah mengembangkan perpustakaan ini.Prof Dr Erika Saragih dan Hilderia Saragih adalah dua wanita yang tak kenal lelah mengembangkan perpustakaan ini.
Perpustakaan Gereja GKPS Simalingkar meraih penghargaan Juara II Peprustakaan Gereja Terbaik di Sumatera Utara, 2012.Perpustakaan Gereja GKPS Simalingkar meraih penghargaan Juara II Peprustakaan Gereja Terbaik di Sumatera Utara, 2012.
Gedung Perpustakaan GKPS Simalingkar yang baru dan diresmikan 15 Juni 2014.Gedung Perpustakaan GKPS Simalingkar yang baru dan diresmikan 15 Juni 2014.

Sabtu, 26 Juli 2014

Jauhnya Jarak Elit dengan Rakyat

Oleh: Jannerson Girsang

Dengan kasat mata, kita menyaksikan jarak yang begitu jauh antara rakyat dengan elit kita. Cara pandang sebagian elit kita tentang Pilpres ibarat langit dan bumi.

130 juta lebih rakyat pemilih sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Menerima hasil Pilpres, menerima Presiden terpilih Jokowi memimpin negeri ini untuk lima tahun ke depan. Para pemimpin dunia sudah mengucapkan selamat.

Tetapi segelintir elit masih mempersoalkannya. Mereka memandang PIlpres dengan cara yang jauh berbeda. Jangankan mengucapkan selamat, di hati mereka masih ada harapan "menang".

Pemikiran yang jauh berbeda dengan suara rakyat, suara dunia ini.

Tujuan rakyat memilih agar negara ini memiliki pemimpin yang mereka idam-idamkan dan segera mengisi kehidupan mereka yang lebih baik. Sebagian elit terjun ke Pilpres, hanya "untuk menang".

Rakyat cuma berfikir sederhana. Pemenangnya satu, tapi sebagian elit percaya ada bahwa ada "dua pemenang". Satu yang ditetapkan KPU, satu yang mereka tetapkan sendiri.

Suara rakyat yang jujur, ingin dicederai. Suara itu sudah melalui proses panjang dengan saksi-saksi dari partai politik dan juga rakyat sendiri di TPS. Rakyat percaya hasil hasil coblosan Pilpres dihitung oleh KPU dengan transparan dan jujur.

Ternyata sebagian elit masih belum percaya dan menuduh KPU curang. Anehnya, elit pengadunya pernah menyebut hasl KPU harus dihormati. "Saya akan mengakui hasil Pilpres yang dikeluarkan KPU". Tetapi tak berapa lama, orang yangsama mengatakan KPU tidak jujur.

Sungguh berbeda dengan pandangan rakyat kebanyakan, yang pikirannya tulus dan jernih. . .
Mengadu adalah hak konstitusi. Entah siapa yang memanipulasi. Nanti akan terlihat di MK. Kita tunggu pengaduan Prabowo-Hatta di MK, dan keputusan MK.

Sebagai rakyat pemilih saya terus menonton sandiwara, tapi beda dengan sandiwara radio "Butir-butir Pasir di Laut" yang menghibur, mencerdaskan.

Sandiwara beberapa hari ke depan hanya akan membuat rakyat dan sebagian elit sport jantung. membuat rakyat bodoh.

Tapi bagi yang punya keyakinan sebagai pemilih yang baik, adegan ini hanya sandiwara kampungan. Sebuah sensasi sia-sia bagi rakyat.

Pemenang adalah mereka yang jaraknya dekat dengan rakyat. Itu sudah hukum alam, tak seorangpun bisa menantang hukum itu.

Silakan juga gunakan haknya dengan "kalem" tidak melakukan provokasi dan intimidasi.

Jangan buat langit Indonesia seperti neraka, sementara alam kita indah bagai juwita ratna manikam!.

Para elit, silakan mendekat dengan rakyat, supaya disukai rakyat.

Medan, 25 Juli 2014

Rabu, 23 Juli 2014

Pilpres Selesai, Kita Memasuki Alam Baru

Oleh: Jannerson Girsang

KPU sudah mengumumkan hasil Pilpres. Mari kita nikmati alam baru, alam bebas fitnah, bebas kampanye hitam, bebas survey abal-abal.

Kita memasuki alam Indonesia yang gemah ripah loh jinawi.

Para penegak hukum, gunakan hukum, jangan perasaan, untuk menindak pelanggaran apapun yang terjadi. Silakan ketidakpuasan, dugaan pelanggaran dibawa ke MK, pengadilan.

Tapi, jangan lagi bawa-bawa rakyat untuk berbohong. Rakyat Indonesia sudah bosan dengan kebohongan.

Suasana tegang, kata-kata kasar, pernyataan-pernyataan yang mem buat hati cemas, kita rasakan setahun terakhir, dan lebih tidak nyaman dalam beberapa bulan terakhir.

Begitu banyaknya kebohongan mulai dari quick count, kampanye gelap, serta provokasi-provokasi yang kadang membuat langit Indonesia seolah menjadi neraka, padahal alam kita adalah alam yang indah, gemah ripah loh Jinawi, adil, makmur dan mencintai kedamaian.  

Mari kita masuki suasana baru, bangkitkan persatuan, hidup harmonis diantara masyarakat, agar alam yang indah ini tersenyum, dan kita menikmatinya.

Hilangkan rasa ego agama, ego suku, ego kuasa, ego kepentingan/kelompok, agar kita menjadi manusia bebas, manusia berdaulat dan mampu mengolah Indonesia Raya menjadi kaya raya, menjadi berkat bagi dunia ini.

"Nelayan kembali ke laut, petani kembali ke sawah, pedagang kembali ke pasar, buruh kembali ke pabrik,...".

Pengusaha kembali pikirkan usahanya, para profesional kembali ke kantor, para politisi perjuangkan persatuan Indonesial atur agar bangsa ini harmonis, jauh dari permusuhan, hindarkan pernyataan-pernyataan yang hanya membela kepentingan sesaat, birokrat, kembali bekerja dengan "jujur, tidak korupsi",

TNI/Polri pertahankan dan lindungi NKRI, pelihara keamanan dan kenyamanan negeri ini, berikan kenyamanan bagi kami rakyat Indonesia, tindak para pelanggar hukum. Ciptakan suasana warga bebas menggunakan haknya, tetapi jangan mengganggu hak orang lain..

Rakyat jangan lagi mendengar berita-berita yang berisi provokasi, bertindak di luar hukum yang berlaku, berita-berita fitnah dan tidak bernilai apa-apa untuk rakyat kebanyakan. .

Mari wujudkan negara hebat. Indonesia Raya!.

Medan 23 Juli 2014

Salam Persatuan Indonesia

Oleh: Jannerson Girsang

KPU sudah menetapkan pemenang Pilpres, 22 Juli 2014, malam. 


Tak bisa dipungkiri, malam ini mungkin sebagian warga bangsa ini masih merasa terluka, atau kurang puas. Sebuah hal yang wajar dalam sebuah kompetisi.

Semuanya dapat diselesaikan melalui proses hukum, atau dengan jalan musyawarah mufakat, sebuah prinsip hidup bangsa Ini yang kesaktiannya sudah teruji.

Kalau ada perasaan tidak puas, ada dugaan pelanggaran selama Pilpres, silakan menggunakan haknya sesuai prosedur menurut hukum negeri ini dan tidak perlu lagi membuat polemik yang berkepanjangan. Sudah capek, capek sekali.....!

Marilah melihat ke depan, jangan ke belakang melulu. Mata diciptakan lebih banyak melihat ke depan, bukan lebih banyak ke belakang. Tengkuk bisa tegang. 
 

Cepat selesaikan persoalan hukum dan sembuhkan kalau ada yang terluka. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyembuhkan luka-lukanya sendiri, mampu melakukan konsolidasi diantara sesamanya. .

Kita kini meninggalkan kampanye, meninggalkan polemik Pilpres.

Kalau selama ini pendukung Jokowi bilang Salam No 2, Jokowi, maka mulai hari ini pendukung Jokowi harus mengucapkan Salam Persatuan Indonesia.

Tidak ada lagi pendukung Jokowi, tidak ada lagi pendukung Prabowo (kalau masih ke MK, silakan. Tapi kata Mahfud, sudah tak banyak menolong lagi).

"Lupakanlah No 1, Lupakanlah No 2, Marilah kita ke Indonesia yang Satu, Indonesia Raya. Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kuat. Salam 3 Jari. Persatuan Indonesia." kata Jokowi dalam pidatonya malam ini.

FB saya tidak lagi pendukung Jokowi, tetapi Pendukung Persatuan Indonesia.

Kata yang ada dalam hati sabubaru kita, tetapi sudah hampir-hampir kita lupakan dalam kehidupan berbangsa danbernegara. Jangan biarkan diri kita terkotak-kotak dalam lingkup-lingkup kecil yang mengungkung kreativitas dan kebebasab berfikir. dan bertindak kita.

Kita harus memulai kehidupan yang lebih membuka diri satu dengan yang lainnya.

Setiap individu bangsa Indonesia memiliki identitas agama, suku, tidak salah mereka melaksanakan agamanya dan memelihara dan mengembangkan budayanya. Tapi harus diingat, kita hidup dan tumbuh di Indonesia, dengan alam dan lingkungan Indonesia, bukan satu agama, bukan satu suku, tapi beragam agama dan beragam suku.

Negeri ini beruntung, karena memiliki empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di sanalah kita bersandar, itulah yang melindungi kita dalam kehiduoan berbangsa dan bernegara. . .

Bangsa-bangsa lain sangat salut terhadap Pancasilanya Indonesia, salut melihat demokrasi yang sedang berlangsung, salut melihat toleransi bersamanya. Mari kita semua mengembangkan dan memeliharanya dengan baik.

Jangan sampai pilar emas itu kita lupakan, identitas kita hilang dan kita kehilangan arah, lalu dengan mudah diombang ambingkan pengaruh-pengaruh luar.

Kita jangan sampai terjebak!. Agama, suku bukan sebagai pemisah, tetapi adalah alat perekat agar bangsa ini semakin kuat.

Itulah harapanku ketika memilih Jokowi sebagai presiden. Semoga Jokowi mampu mengembalikan identitas Indonesia lima tahun ke depan.

Bangsa yang toleran, bangsa yang memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan baik, menghormati pemeluk-pemeluk agama yang berbeda, memahami budaya sukunya dan menghormati budaya suku-suku yang ada di Indonesia.

Marilah mencari kesamaan-kesamaan yang bisa membuat hidup lebih harmonis, jangan terjebak dalam perbedaan yang memisahkan kita satu dengan yang lain. Perbedaan itu Indah, kelolalah perbedaan, menjadi sebuah kekuatan perekat bangsa.

Mencari-cari kesalahan, kelemahan dan menjadikan itu senjata pamungkas menundukkan lawan, bukan budaya Indonesia.

Menutup artikel ini, saya menyajikan pepatah yang sangat populer di Indonesia. "Gajah di pelupuk mata tidak tampak, jarum di seberang lautan kelihatan".

Sebuah kritik untuk orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap yang bukan menggambarkan budaya orang Indonesia, karena Indonesia memiliki prinsip Musyawarah untuk Mufakat dalam menyelesaikan konflik, mencari titik temu perbedaan pendapat. . .

Sudah terbukti juga, bahwa orang-orang yang suka mencari kesalahan, dan menggunakan kesalahan itu alat menjatuhkan lawan, kurang mampu melihat kesalahannya sendiri.

Jadikan kelemahan, kesalahan sebagai berkat. Sehingga kita akan menjadi bangsa yang besar dan bersatu.

Hayo, sama-sama mengucapkan. "SALAM PERSATUAN INDONESIA!"


Medan, tengah malam, 22 Juli 2014 

Selasa, 22 Juli 2014

Prabowo-Hatta Penjaga Roh Pasangan Jokowi-JK

Oleh: Jannerson Girsang

Indonesia akan memiliki Presiden baru. Pasangan JOKOWI-JK diprediksi akan memenangkan Pilpres 2014.

KPU hari ini akan mengumumkan hasil Pilpres 2014. Hingga tadi malam KPU sudah menyelesaikan rekapitulasi sebanyak 28 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia.

Pasangan Jokowi-JK unggul sementara dan banyak pihak memperkirakan pasangan ini muncul sebagai pemenang Pilpres 2014.

Angkanya tidak jauh dari hasil empat lembaga survey yang memenangkan kedua pasangan ini.

Bagi Jokowi, kalau kemenangan ini benar-benar terjadi membuat karier politiknya sungguh-sungguh cemerlang. Karier Jokowi mencapai puncak hanya dalam waktu tidak sampai 10 tahun.

Jokowi mengawali kariernya sebagai Walikota Solo (2005), saat dia berusia 43 tahun, Gubernur DKI (2012), saat berusia 51 tahun dan kemungkinan akan terpilih menjadi Presiden ke-7 Indonesia sore ini, saat usianya 53 tahun.

Menjadi orang nomor 1 di Indonesia adalah mimpi puncak seorang tokoh politik di negeri ini. Jokowi akan meraihnya hanya dalam hitungan jam ke depan.

Pelajaran berharga bagi warga Indonesia secara keseluruhan, bahwa menjadi RI1, tidak perlu harus korupsi dan berbuat curang, dan tak perlu adu harta atau status ekonomi.

Prestasi Jokowi akan memotivasi seluruh warga bahwa siapapun berhak menjadi Presiden RI kalau rakyat menginginkannya. Menjadi pemimpin mendengar suara rakyat, berbuat baik di tengah-tengah masyarakat, membuat mereka merasa aman, terlindungi dan tercerahkan, sehingga mereka mampu megembangkan potensinya. .

Kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Indonesia. Kesederhanaan, kepedulian dan kedekatan kehidupan seorang tokoh sangat menentukan pilihan rakyat bagi pememimpinnya.

Kemenangan ini bukan hanya karena Timsesnya Jokowi, tetapi termasuk kontribusi Prabowo-Hatta. Apa yang dilakukan Timsesnya Prabowo-Hatta turut memberikan kemenangan bagi Jokowi.

Pasangan Prabowo-Hatta adalah Penjaga Roh Timsesnya Jokowi. Mereka membuat pasangan Jokowi-JK bersemangat dan bersatu, termasuk para relawan dan pendukungnya di akar rumput.

Jokowi harus berterima kasih pada Prabowo. Dia harus mampu mengobati luka dirinya yang mungkin terjadi selama ini. Jokowi harus mampu memaafkan semuanya.

Itulah kehebatan Jokowi, kalau nanti menjadi Presiden baru Indonesia. "Kembali kepada Indonesia Raya".

Apapun perlakuan dari pihak Prabowo-Hatta, baik itu positif maupun negatif, kampanye hitam adalah sebuah berkat bagi Jokowi.

Oleh sebab itu, Jokowi harus bersyukur, merangkul semua elemen masyarakat dan bersama-sama membangun Indonesia baru, Indonesia Raya.

Setelah pengumuman pemenang Pilpres yang dijadwalkan pukul 16.00 sore nanti, maka rakyat Indonesia seluruhnya harus menerima keputusan itu dan pendukung Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, kembali bersalaman, bersahabat.

Semua harus keluar dari Stadion Pertandingan dan melepas atribut Jokowi-JK maupun atribut Prabowo-Hatta.

Atribut kita sesudah Pengumuman pemenang Pilpres sore ini hanya bendera Merah Putih, Lambang Garuda Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mari kita mendoakan agar pengumuman Pilpres berjalan lancar, dan kita segera dapat kembali mengisi republik ini dengan nilai-nilai baik, dan menjadi berkat bagi seluruh rakyat dan umat manusia.

Medan, 22 Juli 2014 (8.00)

Penipuan Melalui http://ptmkios-tbk.blogspot.com/

Oleh: Jannerson Girsang

Di tengah-tengah elitnya yang kebanyakan penipu, maka tidak heran, kalau di abad 21, di negeri tercinta ini masih berkeliaran orang yang 24 jam kerjanya menipu, membuat blog dan tidak pernah ditangkap!

Teleponnya terbuka 24 jam untuk mencari mangsa untuk ditipu!. Tapi, polisi tidak bisa menemukannya. Mereka beroperasi bertahun-tahun dan memakan korban banyak warga.

Setelah teman saya pulang, sebelum tidur, saya menerima sebuah sms dari 0822114812958. Bunyinya sebagai berikut:

"Berkat isi ulang Pulsa No Anda trpilih sebagai pemenang ke-4. Cek tunai Rp 100 juta dari PT M-Kios-Pin: (ijh76k79). U/info klik: www.ptmkios-tbk.blogspot.com)".

Tentu, saya pertama membuka blog dimaksud. Saya menemukan no telepon yang bisa dihubungi. 082361233369. Nama kontak personnya Ir Marzuki Budiman, seperti yang tertera di blog itu. Bisa dihubungi 24 jam.

Sangat meyakinkan, karena ketika saya menelepon, orang yang mengaku Ir Marzuki Budiman langsung menjawab.

Pembicaraan berlangsung baik, orang yang saya telepon sangat sopan dan memang memberi harapan. Saya melihat pemenang hadiah ke empat dan kedua belum ada nama dan gambarnya. Sementara pemenang hadiah lainnya sudah ada.

Kemudian dia menanyakan. "Pak Girsang mau uangnya dikirim melalui rekening atau diantar langsung ke rumah?".

Saya jawab diantar langsung saja, karena sudah mulai curiga.

"Nanti bapak kirim nama dan kemudian dihubungi lagi ya pak'" katanya.

Kemudian saya searching di internet untuk memastikan, ternyata di Kompasiana, ada sebuah artikel yang mengatakan bahwa ini penipuan.

Jelas, saya tidak akan menghubunginya lagi!

Teman-teman, kisah ini saya sampaikan agar jangan langsung percaya sesuatu yang menawarkan hal yang menggiurkan. Harus pakai otak dan menggunakan teknologi internet untuk menguji keabsahannya.

Tentang penipuan yang satu ini, anda bisa juga membaca artikel di Kompasiana dan saya tag di bawah.

Di abad 21, masih saja ada orang yang 24 jam kerjanya menipu!. Telepon terbuka 24 jam untuk sebuah penipuan!.

Pihak kepolisian kita seharusnya bisa melacak pelaku-pelakunya. Jangan biarkan penipu berkeliaran di internet. Kalau bukan polisi yang menangkap mereka siapa lagi? 


Medan, 16 Juli 2014

Padi dan Ilalang

Oleh: Jannerson Girsang

Pagi ini, saya kembali tertarik membaca bahan ini, sebuah perumpamaan yang sangat populer dalam Kitab Perjanjian Baru, yakni Perumpaan Padi dan Ilalang.

Saya suka saja dan sering muncul di hati!. Saya bersyukur, pagi ini menemukan karya seorang penulis terkenal, Richard TGR. Dia menjelaskannya lebih baik dari yang saya tau sebelumnya. Mengingatkan saya kembali!.

Mungkin berguna bagi Anda juga!, Kalau tidak bermanfaat, jangan lanjutkan membacanya!

"Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi". (Bacaan : Matius 13 : 36 – 43)

Menumbuhkan yang baik butuh usaha besar, tetapi menumbuhkan hal-hal negatif, mencelakakan yang lain, sangat mudah, bahkan tanpa usaha.

Tahukah Anda perbedaan menanam padi dan ilalang atau lalang?

Kalau kita menanam padi, kita harus memperhatikan pertumbuhannya mulai dari menanam benih, kemudian perawatan selama bertumbuh sampai kemudian berbuah.

Kita harus rutin memberikan pupuk, memberikan air yang cukup, dan menjaga padi kita saat mulai menguning agar tidak di makan burung dengan menggunakan orang-orangan sawah.

Kita harus menunggu beberapa bulan untuk mendapatkan bulir-bulir padi terbaik dan siap menanggung resiko kerugian akibat bencana banjir atau serangan hama.

Bertolak belakang dengan menanam padi, untuk menumbuhkan lalang kita tak perlu menaburkan benih dan merawatnya.

Lalang tumbuh dengan luar biasa cepat tanpa perlu perawatan, namun lalang bukanlah tumbuhan yang berguna. Lalang hanyalah menjadi tumbuhan penganggu sehingga pasti dibabat dan kemudian di bakar.

Sama seperti lalang dan padi, kebiasaan-kebiasaan kita yang positif dan negatif sangat tergantung dari bagaimana cara kita menumbuhkannya.

Untuk memiliki kebiasaan baik kita membutuhkan waktu yang lama dan perawatan yang tak mudah, namun untuk memiliki kebiasaan buruk kita hanya membutuhkan waktu singkat dan tak perlu perawatan.

Contoh sederhananya adalah kebiasaan bangun pukul lima pagi. Kita butuh penyangkalan diri yang luar biasa kalau biasanya asal-asalan bangun. Setiap hari kita harus rela mendisiplin diri untuk tetap bangun kemudian melakukan aktifitas yang produktif.

Untuk malas-malasan, kita tak perlu menyangkal diri. Namun, efeknya kita tidak menjadi produktif sehingga merugikan Tuhan, diri sendiri dan orang lain.

Hari ini bagaimana dengan Anda? Kebiasaan seperti apa yang Anda tabur dalam hidup Anda?

Apa yang Anda tabur, itulah yang kelak Anda tuai.

Kalau kita menabur dan merawat benih-benih berkualitas seperti disiplin, kerja cerdas, sabar, bersahabat atau jujur, kebaikan hidup yang akan kita tuai.

Kalau kita biarkan benih kebiasaan buruk tumbuh seperti malas-malasan, iri hati, atau memendam amarah, dukacitalah yang akan kita tuai kelak.

Mari kita tanam dan rawat benih-benih kebaikan sehingga kebaikan pula yang akan kita tuai kelak.

(Richard T.G.R, Dikutip dari Renungan Breaktrough).


Medan, 16 Juli 2014

Selamat Menikmati Luka

Oleh: Jannerson Girsang

Pagi ini, saya membaca status temanku yang baik Remon Pakpahan, mantan teman se kantor di Perusahaan Telekomunikasi, PRAMINDO--joint venture France Telecom dan Astra International. Dia kini bekerja di perusahaan lain dan tinggal di Jakarta..

Dia menulis tentang filosofi pohon karet. Dilukai, tetapi malah mengeluarkan getah yang berharga. Tulisan singkatnya menginspirasi saya menuliskan artikel ini. Terima kasih lae Remon!

Setiap kali bepergian ke Siantar dari Medan, saya melintasi perkebunan karet Good Year, seluas 17,000 hektar.

Good Year--sebuah perusahaan perkebunan asal Amerika itu, tidak akan membangun perkebunan karet seluas itu, seandainya pohon karet--tanaman hutan, tidak tahan dilukai.

Perkebunan besar ini ternyata menyimpan pelajaran penting bagi saya sendiri, tentang arti sebuah luka!.

Tanpa getah, karet hanya bernilai pohon. Paling-paling bisa dijadikan kayu api, atau lebih kerennya, sebagai perabot.

Pohon Karet menjadi sangat terkenal, karena setiap hari kulitnya dilukai untuk mendapatkan getah. Getahnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan umat manusia. Yang paling banyak kita saksikan digunakan untuk ban kenderaan,

Seluruh dunia akhirnya tau, manfaat karet dan setiap hari tidak bisa telepas dari bahan yang terbuat dari karet. Penduduk dunia sangat tergantung kepada karet, yang setiap hari terluka. Mereka berguna karena tahan dilukai.

Saling mendukung dan menyayangi, itu baik. Tetapi jangan salah. Meskipun kadang kita terluka oleh seseorang, jangan langsung menilai jelek, dan memusuhinya. Sebab, mereka adalah tangan Tuhan menguji ketahanan mental kita.

"Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?"

Makian, cercaan, bahkan ancaman dalam sejarah umat manusia, bukan sesuatu yang pernah membuat manusia punah.

Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, terluka selama 27 tahun di penjara. Beliau mendoakan para sipir penjara yang pernah menyiksanya, bahkan mengencinginya.

Dalam sejarah umat manusia, mereka yang tahan terluka, menjadi orang besar, menjadi pemimpin besar. Dilukai adalah kodrat manusia yang ingin berbuat baik, dan menghasilkan sesuatu yang baik. Tak ada pemimpin besar, tanpa mengalami luka, tahan dan mampu menyembuhkan sendiri luka-luka yang dialaminya!

Mereka, para pemimpin besar umumnya memaknai mereka yang melukai dirinya sebagai "guru" yang baik bagi ketahanan mentalnya.

Maka, sikap kita, "Ketika dimaki, memberkati; ketika dianiaya, sabar; ketika difitnah, menjawab dengan ramah," tulis teman saya Remon di Facebooknya hari ini..

Menutup artikel ini, sebuah surat untuk Prabowo mengingatkan saya akan filosofi karet. Kita beruntung kalau seseorang melukai kita, ketika kita melakukan sesuatu dengan niat yang baik dan benar.

"Pak Bowo yang saya hormati, saya melihat ujian yang anda berikan kepada presiden saya adalah ujian yang terbaik untuk menjadikan presiden pilihan saya siap memimpin indonesia, ujian yang terbaik untuk kami pendukung bapak Joko Widodo mengerti arti kerja sama dan gotong royong memberikan perlawanan terhadap ujian bapak dan tentunya ujian terbaik untuk rakyat indonesia secara keseluruhan mengerti arti kata persatuan Indonesia" tulis salah seorang pengirim surat ke Prabowo. .

Selamat menikmati luka! .

Medan, 17 Juli 2014

Malang Tak Dapat Ditolak

Oleh: Jannerson Girsang

Manusia tak pernah mampu menghindar dari malang (kapan, bagaimana, dimana dia meninggal), dan tak pernah mampu menentukan nasib baik (kapan dia akan kaya, selamat dll).!

Beberapa media melaporkan kisah sepasang suami istri yang bertugas sebagai pramugara dan pramugari Malaysian Airline.

Suatu ketika mereka menghadapi nasib, tetapi suatu ketika juga tak bisa menghindari sial atau malang.

Dalam peristiwa jatuhnya Malaysian Airline Service (MAS) MH 17 di perbatasan Ukraina-Rusia kemaren, sang suami jadi korban

Sementara dalam peristiwa jatuhnya MAS MH 370 Maret lalu, sang istri selamat.

Sang suami tidak dalam jadwal yang seharusnya bertugas, tetapi menggantikan tugas temannya. Sementara sang istri selamat karena tugasnya digantikan orang lain.

Pramugara Malaysia bernama Sanjid Singh (41 tahun), korban kecelakaan MAS MH 17 itu seharusnya tidak bertugas di penerbangan tersebut, tetapi malang baginya dia bertukar tugas dengan seorang pramugari.

Manusia mengatakan: Nasib bagi pramugari yang digantikannya dan malang bagi Sanjid Singh.

Dalam peristiwa jatuhnya pesawat Malaysian Airline MH370, Maret lalu, istri Sanjit Singh bertukar tugas dengan temannya dan selamat dari peristiwa naas itu.

Manusia mengatakan: nasib bagi istri Sanjid dan malang bagi teman yang digantikannya.

Nasib tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak!.

Ayah Sanjit, begitu terpukul mendengar kematian anak laki-laki satu-satunya itu.

“I have undergone two heart bypasses. Our daughter waited until 4am to tell us. She dare not tell us earlier. I am 71 and she (Sanjid’s mother) is 73. We are in such a state. My whole body is shivering.

“We are heartbroken because he was our only son. What to do? What has happened, has happened,” kata ayahnya.

Manusia tak pernah mengetahui kapan dia akan beroleh nasib atau malang, hanya bisa berserah kepada yang Maha Kuasa.

Turut berduka atas pasangan ini, serta seluruh keluarga penumpang dan crew yang korban. .

Pernikahan: Siap Dillukai dan Mampu Menyembuhkan Luka

Oleh: Jannerson Girsang

18 Juli 2014, pukul 10.00. Kebaktian persiapan pernikahan (Martumpol) pasangan yang lahir 1964 dan 1966.

Tadi malam saya mengingatkan pasangan itu bahwa menikah adalah siap untuk dilukai. Kekuatan pernikahan adalah ketika kedua pasangan mampu menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari pasangannya, mampu saling mengampuni..

Tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini. Yang merasa dirinya sempurna banyak, Sehingga ada suami yang sombong kepada istrinya atau sebaliknya.

Pasangan yang awet adalah pasangan-pasangan yang sadar penuh dengan luka, dan mampu menyembuhkan lukanya sendiri, serta dari luka itu mereka belajar bertahan.

Inilah pengalaman pasangan-pasangan pernikahan yang awet. "Kocoba bertahan, mendampingi dirimu. Walau kadangkala tak seiring jalan. Kucari dan kucari jalan terbaik. Agar tiada penyesalan dan air mata," kata Pance Pondaag, dalam lagunya "Kucari Jalan Terbaik"

Ingat filosofi karet. Karet menjadi tanaman yang berbeda dari pohon yang lain, karena dia mampu terus tumbuh, walau kulitnya dilukai setiap hari.

Sama seperti karet yang dilukai kulitnya, akan mengeluarkan getah yang bermanfaat bagi umat manusia. Pernikahan yang mampu menyembuhkan luka-lukanya sendiri akan bertahan dan setia sampai akhir dan hanya dipisahkan oleh kematian. .

Pernikahan yang awet akan menjadi inspirasi bagi pernikahan yang kini banyak "terguncang". Pernikahan yang hanya mampu membayangkan mimpi, bukan kenyatan.

Jadilah pasangan-pasangan yang awet, sehingga mewariskan keluarga-keluarga sejahtera, dan kita akan mewariskan bangsa yang sejahtera. .

Medan, 18 Juli 2014

Kamis, 10 Juli 2014

Lembaga Survey dan Kisah Enam Buta Menggambarkan Gajah

Oleh: Jannerson Girsang

Lembaga survey yang sengaja melakukan tafsiran yang salah dari data yang tersedia, bukan saja buta matanya, tetapi juga hatinya. Berbohong!

Yang jelas, dari sekian lembaga survey dalam Pilpres kemaren, pasti ada yang berbohong dalam menerapkan metode, proses pengumpulan data dan menarik kesimpulan.

Sayangnya, negeri ini tidak mampu mengujinya, secepat melakukan Quick Count, hingga membuat rakyat bingung!.

Hebatnya lagi, menggunakan data Quick Count, dua Capres mengklaim diri sebagai pemenang Pilpres 2014. Akibat kebutaannya, rakyat pendukung kedua Capres, ikut-ikutan saja. "Hidup Jokowi, hidup Prabowo". "Hidup Presidenku".

Wah! Untuk sementara, kita punya dua Capres mengklaim diri sebagai pemenang. Kalau Pilgub DKI, disitu Quick Count mengumumkan hasil di atas 80%, maka Poke langsung mengucapkan selamat kepada Jokowi. Demikian juga Pilpres lima tahun lalu. Quick Count diakui sebagai referensi menentukan pemenangKali ini memang beda! 


Melihat hasil survey yang dikeluarkan lembaga survey Quick Count dalam Pilpres kemaren, saya teringat cerita enam orang buta menggambarkan gajah.

Saya mengutip kisahnya dari sebuah blog. (http://resourceful-parenting.blogspot.com/2011/09/kisah-enam-orang-buta-melihat-gajah.html). Begini kisahnya.

Dahulu kala hiduplah enam orang buta. Mereka sering mendengar tentang gajah. Namun karena mereka semua belum pernah melihatnya, mereka ingin sekali tahu seperti apa gajah itu. Maka mereka beramai-ramai pergi melihat gajah.

Orang buta pertama mendekati gajah. Ia tersandung dan ketika terjatuh, ia menabrak sisi tubuh gajah yang kokoh. “Oh, sekarang aku tahu!” katanya, “Gajah itu seperti tembok.”

Orang buta kedua meraba gading gajah. “Mari kita lihat...,” katanya, “Gajah ini bulat, licin dan tajam. Jelaslah gajah lebih mirip sebuah tombak.”

Yang ketiga kebetulan memegang belalai gajah yang bergerak menggeliat-geliat. “Kalian salah!” jeritnya, “Gajah ini seperti ular!”

Berikutnya, orang buta keempat melompat penuh semangat dan jatuh menimpa lutut gajah. “Ah!” katanya, “Bagaimana kalian ini, sudah jelas binatang ini mirip sebatang pohon.”

Yang kelima memegang telinga gajah. “Kipas!” teriaknya, “Bahkan orang yang paling buta pun tahu, gajah itu mirip kipas.”

Orang buta keenam, segera mendekati sang gajah, ia menggapai dan memegang ekor gajah yang berayun-ayun. “Aku tahu, kalian semua salah.” Katanya. Gajah mirip dengan tali.”

Demikianlah keenam orang buta itu bertengkar. Masing-masing tidak mau mengalah. Semua teguh dengan pendapatnya sendiri, yang sebagian benar, namun semuanya salah.

Mereka semua hanya meraba bagian tubuh gajah yang berlainan, mereka tidak melihat keseluruhan hewan gajah itu sendiri. Dia bisa mengatakan gajah itu seperti ular, karena hanya memegang ekornya. Atau gajah itu seperti meja, karena yang dipegangnya hanya punggungnya.

Di negeri ini sudah terbiasa seseorang melihat sesuatu seperti orang buta melihat gajah. Kalau orang-orang yang seperti ini masih tidak apa-apa. Mereka bisa diajar semakin pintar, karena kemampuan pengetahuan dan nalarnya yang rendah,

Orang buta salah menafsirkan gambaran gajah, karena mereka buta, kurang mampu melihat. Mereka bukan berbohong

Tetapi kalau lembaga survey berbohong menafsirkan data, maka bukan matanya yang buta, tetapi hatinya sudah buta. Mereka mampu menjelaskan hasil yang sebenarnya, tetapi karena hatinya buta, maka yang keluar adalah hasil pengamatan orang buta.

Yang susah adalah orang itu tidak buta, tetapi hatinya yang buta. Mereka berbohong! Jadi sulit menjelasakan secara ilmiah, metodenya dan proses pengumpulan data serta cara pengambilan kesimpulan.

Bisa pula dua-duanya Capres dan Cawapres jadi pemenang.

Quick Count atau hitung cepat adalah sebuah metode ilmiah, tetapi harus dijalankan oleh mereka yang hatinya tidak buta. Ketika hati sudah buta, maka hasilnya akan muncul seperti dalam Pilpres 2014.

Semoga pihak yang berwenang kiranya dapat segera mengungkap kebutaan hati para pegawai atau pemilik lembaga-lembaga survey quick count di negeri ini, agar rakyat tidak ikut-ikutan jadi buta.

"Karena setitik nila rusak susu sebelanga". Segelintir orang berbuat kebohongan, bangsa ini bisa dicap sebagai pembohong. Lembaga survey kita diragukan kredibilitasnya, kita kehilangan peluang untuk melakukan survey di dunia ini.

Jadi agar cap itu tidak melekat, dan ketahuan siapa pembohong yang sebenarnya, maka perlu dilakukan penyelidikan, menyusul perbedaan hasil hitung cepat Quick Count

Medan 10 Juli 2014